(RUMPITA) Tantangan Ibu Pekerja di Jerman Tanpa Asisten Rumah Tangga

Pada episode bulan Juni 2023, program Podcast RUMPITA atau Rumpita bersama RUANITA kali ini mengangkat tema tentang tantangan perempuan sebagai ibu pekerja di Jerman dalam membagi waktu dan peran. Untuk membahas diskusi lebih lanjut, Nadia yang menjadi host mengundang Euginia Putri Stederi Martenelli yang bekerja di salah satu institusi pemerintahan di Jerman setelah Utte, begitu beliau disapa, menyelesaikan studi Bachelor di Jerman.

Sejak 2021 Utte mendapatkan peran baru sebagai ibu dari seorang putri. Utte memahami bahwa peran sebagai pekerja dan ibu tidak mudah terutama dalam membagikan waktu dan peran, tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga besar. Utte mengakui bahwa pemberi kerja di tempatnya telah memberikan dukungan sosial bagi para ayah atau ibu baru dalam membagikan perannya sebagai orang tua. Utte bekerja hanya 4-5 jam saja dalam sehari.

Follow us: @ruanita.indonesia

Utte mengakui bahwa biaya untuk mengeluarkan asisten rumah tangga sangat mahal di Jerman. Selama Utte bekerja di kantor, anak dititipkan di Daycare yang memang menjadi salah satu program pemerintah Jerman. Semakin besar gaji orang tuanya, maka semakin besar pula biaya pengeluarannya di Daycare. Misalnya, suami Utte bekerja fulltime sedangkan Utte bekerja sebagai paruh waktu sehingga dia mendapatkan level ke-4 dalam pembiayaan Daycare.

Bagaimana pengalaman Utte untuk mengakses waktu cuti menjadi orang tua di Jerman? Simak juga bagaimana Utte mendapatkan tunjangan pemerintah di Jerman dalam mengasuh anak? Apa saja kiat-kiat Utte untuk mengatasi tantangan sebagai pekerja dan ibu di Jerman? Apa saja strategi yang diperlukan pekerja dan ibu apabila kita ingin tinggal di Jerman?

Simak penjelasan lebih lanjut dalam diskusi Podcast berikut ini:

(RUMPITA) Menembus Batas: Perjalanan Karir Menjadi Perancang Perhiasan Internasional

Di episode ke-13 kali ini, Podcast Rumpita yang dipandu oleh Nadia dan Fadni kedatangan narasumber seorang perancang perhiasan Indonesia yang sedang bermukim di Italia, Amelia Rachim.

Amelia Rachim memutuskan menjadi seorang perancang perhiasan ketika dirinya bekerja praktek di Bali setelah lulus dari jurusan Desain Produk FSRD ITB, dan pada tahun 2008 ia mendapat beasiswa Master di bidang Jewellery Engineering di Politecnico di Torino Italia.

Pada tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan sebagai pemenang termuda kompetisi perhiasan yang diadakan oleh Breil, sebuah merk Italia terkemuka untuk jam dan perhiasan. Tidak hanya menang beberapa kompetisi Internasional. Perhiasan rancangan Amelia juga dipakai oleh artis ternama internasional seperti Anggun C. Sasmi dan juga Kristin Chenoweth.

Menjalani kuliah master di Italia, Amelia mengalami tantangan terbesar ketika dirinya juga harus mempelajari sifat dan daya lebur logam dari sisi kimia dan fisika, dan tidak semata-mata hanya dari sudut pandang seninya saja.

Amelia juga menjelaskan tentang karakteristik emas sebagai logam dan tingkat karatnya, dimana semakin tinggi tingkat karat emas maka kemungkinan emas mudah bengkok akan tinggi.

Ketika berbicara tentang desain, desain perhiasan Amelia sendiri terinspirasi oleh filosofi Indonesia dan itu menjadi ciri khas Amelia yang telah dikenal oleh para kliennya.

Follow us: ruanita.indonesia

Ia menambahkan bahwa market internasional sangat menyukai cerita atau makna filosofis dibalik sebuah perhiasan, oleh karena itu yang akan membuat desainer semakin dihargai dan desainnya dihargai lebih tinggi.

Dalam podcast ini Amelia berbagi tips untuk meraih kesuksesan sebagai perancang perhiasan. Menurutnya untuk menjadi seorang perancang perhiasan sangat dibutuhkan persistensi, kesabaran yang tinggi, dan selalu mengasah jiwa kreatif dengan bersekolah di sekolah seni. Rajin mengikuti lomba juga akan menambah wawasan tentang trend masa kini yang ditunjukkan oleh para peserta desain lainnya.

Tidak hanya kesuksesan, Amelia juga berbagi tentang jatuh bangunnya sebagai seorang perancang perhiasan Indonesia yang bermukim di Italia.

Jika Sahabat Rumpita ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut dan topik seru lainnya dengan Amelia, silahkan putar podcast episode kali ini.

(RUMPITA) Menghidupkan Nilai-Nilai Kartini di Perantauan

Melanjutkan episode di bulan April, Nadia dan Fadni sebagai Host RUMPITA mengundang salah satu sahabat RUANITA yang tinggal di Norwegia. Tema yang dibahas kali ini bertepatan dengan Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April di Indonesia.

Hari Kartini yang dulu di Indonesia dirayakan ternyata masih dikenang oleh kebanyakan perempuan Indonesia yang kini telah tinggal di perantauan, di luar Indonesia. Menurut Aini, dahulu selebrasi perayaan Kartini lebih pada penempatan perempuan pada sektor domestik seperti lomba memasak atau berbusana.

Follow us ruanita.indonesia

Aini berpendapat bahwa sosok Ibu Kartini di masanya adalah tokoh visioner yang mampu menginspirasi perempuan lainnya dengan menggerakkan konsep sisterhood. Justru Ibu Kartini telah menanamkan nilai-nilai agar perempuan membebaskan dari nilai-nilai tradisional agar tidak terkekang.

Aini juga heran mengapa hanya Ibu Kartini yang lebih banyak diunggulkan sebagai tokoh pahlawan perempuan. Dia menyebutkan ada banyak tokoh pahlawan perempuan lainnya yang juga menorehkan sejarah bangsa Indonesia, tetapi mengapa hanya Ibu Kartini yang tampak ketika kita masih di Indonesia untuk merayakannya.

Nilai-nilai Ibu Kartini di masa kini justru semakin menguatkan peran perempuan dalam tantangan masa kini. Perempuan tidak meninggalkan peran domestik tetapi perempuan berhasil mengambil peran ganda atau multitasking. Namun perempuan sendiri masih dihadapkan dilema untuk mandiri seperti mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Pengasuhan pun sangat berdampak untuk menghidupkan nilai-nilai Ibu Kartini di perantauan. Untuk perempuan yang berperan sebagai ibu seperti Aini atau bakal ibu seperti Nadia dan Fadni tentu tantangannya berbeda lagi. Apalagi anak-anak mereka dihadapkan pada values yang berbeda sekali dengan Indonesia, termasuk tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Aini mencontohkan bagaimana peran ibu bisa tetap mengajarkan ke anak-anak tentang values dan sejarah bangsa Indonesia lewat berbagai media kekinian. Selain itu perempuan Indonesia di perantauan tetap bisa menjadi role model untuk mengambil bagian dari peran masing-masing di perantauan seperti mahasiswi, akademisi, ibu, karyawati atau apapun peran yang disematkan ke kita.

Simak keseruan obrolan mereka dalam diskusi Podcast berikut ini

(RUMPITA) Perempuan, Konsumtifitas, dan Lingkungan

RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA yang menjadi program Podcast di Episode 11 ini membahas tema yang berkaitan dengan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret tiap tahunnya. Untuk membahas lebih detil, Tim RUMPITA yang terdiri atas Nadia, Fadni, dan Alvina mengundang seorang Sahabat RUANITA yang tinggal di Berlin, Jerman yakni Vina Aulia.

Perempuan dihadapkan pada berbagai pilihan dalam hidupnya untuk memenuhi tuntutan sosial seperti gaya hidup, tekanan peer-groups, mode fashion, dan lainnya. Vina Aulia bercerita tentang bagaimana perempuan di Indonesia mendapatkan tawaran mencoba produk baru dari lingkungan pertemanan, yang kadang belum tentu mudah untuk menerima perubahan gaya hidup tersebut. Misalnya, kelompok arisan yang memberikan iming-iming produk elektronik terbaru sehingga membuat perempuan “terpaksa” mengikutinya

Tim RUMPITA dan Vina Aulia menyetujui kalau mereka tinggal di Jerman masih berpikir tanggung jawab sosial dan moral ketika mereka harus mengikuti tren gaya hidup. Contoh yang dimaksud Vina Aulia seperti Fast Fashion yang bergerak cepat untuk memenuhi gaya hidup. Sementara Vina berpikir tentang bagaimana upah yang diberikan kepada pekerja dengan pakaian yang murah tersebut. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkan dari akibat perilaku konsumtif sebagai akibat tidak langsung dari Fast Fashion.

Follow us ruanita.indonesia

Nadia mengamini kalau harga murah memang memikat orang berperilaku konsumtif, tetapi tanggung jawab sosial dan moral harus menjadi pertimbangan demi keberlanjutan dunia yang lebih layak. Seperti yang disampaikan Nadia, Fadni juga menyetujui tentang pertimbangan lingkungan, sosial, dan moral dalam memenuhi tuntutan gaya hidup apalagi Fadni memang memiliki usaha yang bergerak di bidang fesyen.

Saran Vina Aulia untuk mengurangi perilaku konsumtif, kita perlu mengedukasi diri sendiri agar dapat memahami pentingnya tanggung jawab sosial dan moral dalam mengikuti gaya hidup. Kita perlu berpikir ulang tentang prioritas barang ketika ingin dibeli sehingga tidak sekedar memenuhi tuntutan gaya hidup saja. Kedua, kita cari tahu lebih banyak tentang produk ini termasuk apakah perusahaan yang memproduksinya benar-benar memperhatikan tanggung jawab sosial, moral, dan lingkungan.

Lebih lanjut tentang RUMPITA Episode 11 ini, silakan mendengarkan diskusi seru mereka berikut ini:

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini:

(RUMPITA) Suasana Natal dan Liburan Telah Tiba

Pada episode Podcast – RUMPITA – bulan Desember 2022 membahas tentang liburan yang mulai terasa di Jerman karena sudah memasuki akhir tahun. Suasana akhir tahun di negeri empat musim memang terasa romantis, apalagi cuaca di Jerman kali ini memang sedang dihujani salju dan suhu yang dingin sekali.

Celoteh Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa di Jerman diawali dari pengalaman mereka membayangkan liburan di negeri empat musim seperti film dan buku yang mereka baca saat masih di Indonesia. Fadni menceritakan bagaimana orang-orang Jerman merayakan Advent sebagai tradisi jelang Natal.

Meskipun Nadia dan Fadni tidak merayakan Natal tetapi mereka berdua mampu menceritakan dengan baik pengalaman mereka tentang keseharian orang Jerman mempersiapkan hari raya tersebut. Bahkan Nadia bisa membedakan bahwa tiap region di Jerman punya kebiasaan berbeda saat memikmati momen makan malam 24 Desember tersebut.

Nadia yang tinggal di Jerman belahan utara berpendapat masyarakat di sekitarnya biasa menyiapkan ikan. Fadni berpendapat di Berlin biasanya menyiapkan bebek untuk keluarganya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Selain merayakan Advent, dekorasi Natal seperti pohon Natal mulai dijajakan di supermarket. Nadia dan Fadni yang memulai tinggal di Jerman saat di Studienkollege, merasakan bagaimana suasana gembira dirayakan orang-orang di Jerman di sekitarnya. Natal di Jerman.

Cerita Nadia dan Fadni yang menceritakan bagaimana mereka beradaptasi dengan tradisi orang-orang Jerman seperti Adventkalender, Nikolaustag, Sinterklas, Pohon Natal dan Tukar Kado. Fadni pun menjelaskan bagaimana budaya anak-anak di Jerman menantikan Sinterklas jelang Natal.

Bagaimana cerita mereka berdua mengamati tradisi orang-orang Jerman? Simak yuk dalam Podcast berikut ini:

(RUMPITA) Jauh Di Mata, Susah Di Dompet

Episode ke-6 Podcast Rumpita ini – Nadia dan Fadni – dimulai dari nostalgia jelang persiapan acara Tujuhbelasan yang dulu mereka ikuti saat masih di Indonesia. Kini mereka menetap di Jerman selama satu dekade yang berawal dari studi sarjana mereka. Suka duka sebagai mahasiswa di tanah rantau dibahas oleh Fadni dan Nadia.

Cerita nostalgia, rindu tanah air mereka berawal dari bagaimana mereka menghias sekitar rumah tinggal, perlombaan Tujuhbelasan dan kemeriahan yang tak dijumpai di luar Indonesia. Namun apakah kemeriahan itu juga diperoleh saat mereka di negeri perantauan?

Mereka bertutur perasaan jauh dari kehidupan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Jarak yang terbentang antara Jerman – Indonesia terkadang membuat kesepian, kerinduan dan kesedihan yang dialami oleh Nadia dan Fadni. Nadia perlu juga pertimbangkan bahwa biaya yang tak mudah dan murah untuk pulang-pergi Indonesia untuk melepas perasaan-perasaan tersebut.

Follow akun Instagram: ruanita.indonesia

Indonesia yang letaknya di ribuan kilometer terasa jauh saat kita berada di perantauan, seperti yang dirasakan Nadia dan Fadni, apalagi mereka adalah mahasiswa. Tahun-tahun perjuangan di Jerman begitu sulit dan panjang saat kita begitu kesulitan untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi hanya untuk melepas kerinduan pada keluarga.

Sebagai orang yang dekat dengan keluarga, Nadia dan Fadni merasa iri melihat kebersamaan orang-orang sekitar yang bisa berkumpul bersama keluarga. Membangun impian di negeri orang terkadang membuat kita merindukan tanah air. Bagaimana kelanjutan celoteh Nadia dan Fadni pada episode ke-6?

Simak selengkapnya di saluran berikut:

Follow podcast kami ya!