(CERITA SAHABAT) Antara Cinta, Stigma, dan Identitas: Perjalanan Saya sebagai Perempuan Indonesia di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Fina Regina Weber, lahir dan besar di Jakarta. Saya pertama kali datang ke Jerman pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya resmi menetap di sini setelah menikah. Awalnya, saya bekerja di perusahaan engineering dan konstruksi di bidang Oil & Gas. Dunia kerja yang keras, maskulin, dan penuh tekanan bukanlah hal baru bagi saya. Namun, siapa sangka, perjalanan hidup membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda: menjadi ibu rumah tangga di Jerman.

Saat ini, fokus utama saya adalah keluarga, yakni mengurus dua anak perempuan dan mendampingi mereka tumbuh di lingkungan yang jauh dari tempat saya dibesarkan. Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan kegiatan sekolah anak-anak. Mungkin dari luar, kehidupan saya tampak tenang dan mapan, tapi di balik itu semua, ada dinamika batin dan tantangan yang tidak selalu terlihat.

Sejak awal menetap di Jerman, saya sudah sering mendengar berbagai stigma tentang perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu pandangan yang paling sering muncul adalah: “Perempuan Indonesia menikah dengan orang asing supaya bisa hidup enak di luar negeri.”

Jujur, mendengar hal seperti itu tidak mudah. Saya tahu stigma itu muncul karena memang ada sebagian kasus yang sesuai dengan narasi tersebut. Namun, yang menyedihkan adalah ketika orang mulai menggeneralisasi, seolah-olah semua perempuan Indonesia di luar negeri punya motif yang sama.

Saya pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap “punya kasta visa paling rendah”. Kadang saya merasa seolah identitas saya sebagai perempuan Indonesia di mata orang lain selalu dihubungkan dengan status pernikahan saya. Padahal setiap orang punya cerita dan perjuangan yang berbeda.

Dalam kasus saya, saya bertemu suami di lingkungan kerja profesional di Jakarta, bukan dari aplikasi kencan, bukan juga karena ingin “kabur” ke luar negeri. Kami bertemu secara alami, bekerja bersama, bertukar ide, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi stigma tidak pernah memilih korbannya. Sekali seseorang diberi label, sulit untuk menghapusnya, meski kenyataannya berbeda jauh.

Saya menyadari bahwa stigma terhadap perempuan Indonesia di luar negeri muncul baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun dari luar negeri.

Dari sesama WNI, kadang muncul komentar atau cibiran halus, “Wah, enak ya hidup di luar negeri, pasti serba mudah.” Ada pula yang menilai bahwa menikah dengan orang asing adalah cara cepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, yang mereka tidak tahu, hidup di luar negeri justru sering lebih berat, terutama karena kita jauh dari keluarga besar, harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Sementara dari masyarakat Jerman, saya merasakan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu ikut menilai. Orang Jerman pada umumnya lebih santai, cenderung menilai seseorang dari perilakunya sehari-hari, bukan dari asal negara atau latar belakang pernikahannya. Jadi, beban stigma itu justru sering datang dari komunitas sendiri, bukan dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Di era media sosial seperti sekarang, persepsi orang bisa terbentuk hanya dari potongan kecil kehidupan yang mereka lihat. Banyak orang mengenal saya hanya dari reels, story, atau postingan media sosial. Dari situ, mereka sering berasumsi. Saya sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya tahu apa yang tampak di layar ponsel hanyalah satu sisi kecil dari kehidupan seseorang.

Dulu saya sempat merasa perlu untuk menjelaskan dan meluruskan semua pandangan miring yang muncul. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melepaskan beban penjelasan itu. Sekarang, fokus saya lebih pada keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya apa adanya. Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri kepada mereka yang sudah memilih untuk menilai tanpa mengenal.

Di Jerman, kehidupan saya kini banyak berputar di sekitar sekolah anak-anak. Di sana, para ibu lebih banyak berbicara tentang kegiatan sekolah, makanan sehat, atau kegiatan akhir pekan. Mereka tidak bicara tentang status sosial atau dari mana kami berasal. Itu membuat saya merasa lebih diterima.

Suami saya juga sangat mendukung. Setiap kali kami bertemu koleganya, dia selalu memperkenalkan saya dengan bangga, mengatakan bahwa kami dulu bekerja di perusahaan yang sama di Jakarta. Hal kecil seperti itu ternyata membantu mengubah persepsi orang lain.

Saya juga sadar bahwa dunia sudah berubah. Dengan maraknya online dating dan Tinder, banyak orang kini mengira semua pernikahan campuran bermula dari sana. Padahal tidak selalu. Ada banyak cerita seperti saya, yang dimulai dari pertemuan profesional, tatap muka langsung, lalu jatuh cinta secara alami—face to face and fall in love, seperti kata saya kepada teman-teman yang bertanya.

Sebagai ibu dari dua anak perempuan berdarah Indonesia-Jerman, saya sangat bangga melihat bagaimana mereka mencintai dua budaya yang mereka miliki. Mereka menyukai rambut hitam dan kulit sawo matang mereka, dua hal yang kadang justru menjadi sumber rasa minder bagi anak-anak imigran lain.

Saya selalu menanamkan nilai bahwa memiliki dua budaya berarti memiliki dua rumah, dua cara pandang, dan dua kekuatan. Sejauh ini, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap asal-usulnya. Saya berharap mereka akan terus membawa identitas itu dengan kepala tegak, tanpa merasa perlu memilih salah satu.

Salah satu hal yang saya pelajari selama tinggal di luar negeri adalah pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Saya tidak menutup diri, tapi saya juga tidak ikut dalam kumpul-kumpul yang hanya menjadi ajang gosip atau perbandingan hidup.

Saya lebih memilih untuk aktif di kegiatan yang punya makna positif, seperti acara yang diadakan oleh konsulat, sekolah, atau komunitas budaya. Di situlah saya bisa menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya pandai menyesuaikan diri, tetapi juga bisa berkontribusi dan mengharumkan nama bangsa.

Saya sering ikut serta dalam acara seperti Indonesia Frankfurt Festival, Indonesia Street Festival, dan Learn and Batik Expo. Melalui kegiatan semacam itu, kami bisa memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri adalah duta kecil yang tangguh dan berprestasi.

Saya percaya perempuan Indonesia punya daya tahan luar biasa. Kami dikenal tangguh, ramah, dan cepat beradaptasi. Nilai-nilai itu adalah modal besar untuk mengubah stigma negatif menjadi kekuatan positif.

Saya sendiri mencoba melakukannya dalam hal-hal kecil: bersikap sopan, bekerja keras, membantu sesama, dan menjaga nama baik bangsa. Perlahan tapi pasti, orang-orang di sekitar mulai melihat bahwa perempuan Indonesia bukan hanya “istri orang asing”, tetapi juga individu yang berharga dan mampu memberi kontribusi nyata.

Hidup di luar negeri mengajarkan saya banyak hal. Salah satu pelajaran terbesar adalah belajar selektif dalam memilih teman. Dulu, saya selalu berpikir semua orang bisa menjadi teman, tapi sekarang saya tahu tidak semua layak disebut teman.

Saya pernah merasa kecewa oleh orang yang saya anggap dekat, tapi kemudian saya sadar, tidak semua orang akan senang melihat kita bahagia. Dari situ saya belajar makna kalimat sederhana yang kini menjadi pegangan saya: “Friends are what you are.” Teman sejati adalah mereka yang tulus, bukan yang datang hanya ketika butuh sesuatu atau ingin tahu kabar terbaru.

Kepada perempuan Indonesia lain yang mungkin menghadapi stigma atau kesalahpahaman di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada hal-hal yang membuatmu berkembang. Jalani hidup dengan niat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap semangat.

Yang penting bukan apa yang orang katakan tentang kita, tapi apa yang kita lakukan setiap hari. Dunia mungkin tidak selalu adil, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponsnya. Jangan biarkan penilaian orang lain merampas kebahagiaan kita.

Saya punya harapan besar, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Saya ingin melihat hari di mana perempuan Indonesia di mancanegara tidak lagi dipandang dengan curiga atau sinis. Saya ingin orang-orang percaya bahwa setiap pernikahan campuran, setiap perjalanan ke luar negeri, memiliki cerita dan alasan yang berbeda.

Persepsi negatif tidak akan hilang dalam semalam, tapi saya yakin, melalui sikap positif, kerja keras, dan kontribusi nyata, kita bisa mengubah cara dunia memandang kita. Semua tergantung pada bagaimana kita memposisikan diri.

Kalau kita menunjukkan nilai, dedikasi, dan kontribusi yang baik, masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri akan menilai kita dengan lebih positif. Pada akhirnya, yang membedakan bukan paspor yang kita pegang, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dan membawa nama Indonesia dalam setiap langkah.

Lebih dari satu dekade saya tinggal di Jerman. Dalam kurun waktu itu, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hanya tentang beradaptasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda.

Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai “istri warga Jerman”, tetapi sebagai Fina, perempuan Indonesia yang berani, tangguh, dan tetap bangga pada akarnya. Saya percaya, selama kita terus melakukan hal yang benar dan membawa niat baik, stigma akan perlahan memudar, berganti dengan penghormatan.

Karena di manapun saya tinggal, satu hal tidak akan pernah berubah: hati saya tetap Indonesia.

Penulis: Fina Regina Weber, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram misssaucyfoxy.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Membangun Sikap Toleransi dalam Perkawinan Campuran?

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa  dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya  Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah  seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di  Jerman.

Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai  freelancer social media management.  Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati  alam bersama suami.  Saya juga suka berkreasi membuat konten  video untuk kanal YouTube saya.  

Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat,  untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan  campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online,  sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak  memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan  kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.

Saya telah  berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di  waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa  tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang  sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di  luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.  

Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online.  Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa  online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa  dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang  membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe,  yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.  

Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum  pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja,  tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami  memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami  tinggal berbeda kota.

Selama enam tahun berpacaran, saya sudah  pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu  dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal  budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami  semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya  masing-masing.  

Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah  karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan  terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu  agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang  sangat religius.

Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah  dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di  Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara  pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam  tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai  perbedaan tersebut.  

Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan  Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan  terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan  keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup  saya sendiri. Saya  juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga  mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.  

Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang  yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan  mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara  kami, sebagai hal yang bermakna.

Bagaimanapun, karakter dan sifat  masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal  itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga  melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan 

perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau  perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu  hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru  sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih 

berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang  cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini,  disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami  itu berbeda.  

Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak  berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi  diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga  perbedaan sifat dan karakter di antara kami.

Oleh karena itu, kami  berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan.  Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama  lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa  tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara  personal, bukan komunal.

Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga  atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak  untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur  dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu. 

Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya  selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa  mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi  budaya kolektif.  

Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur.  Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan  nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum  menikah. Saya memegang  prinsip kemurnian sebelum menikah.

Prinsip ini menjadi hal yang  menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman).  Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran  adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang  normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu  adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya. 

Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia  mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi  mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak  ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri.  Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih  masing-masing.  

Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman,  agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang  membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari  keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.

Tapi karena  sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari  kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku  beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi  terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.

Suami  juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama.  Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan  dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya  dengan tulus. 

Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak  kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya  yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang  berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada  budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku  untuk kami sebagai orang tua nanti.

Kami akan berusaha  memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak  dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda.  Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau,  mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk  membentuk cara pandang baru mereka sendiri.  

Menurut saya, kunci perkawinan campur adalah komunikasi,  toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan  kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya  sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia 

memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau  belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa  menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita  dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu  bisa dikompromi.

Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus,  pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan  perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah!  Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami  dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.  

Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk  sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda  yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam  perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.

Jika tidak ada  toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu  sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada  toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi  menemukan jalan keluar dari masalah.  

Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba  berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan.  Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu  alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.

Solusi berpisah  menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak  lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai  merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk  mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak,  bukan satu pihak. It takes two Tango! 

Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya  pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang  pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan  kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup. 

Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa  depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal  mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu  semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂 

Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.