(SIARAN BERITA) Ruanita Kerja Sama dengan KemenPPPA dan KBRI Berlin Gelar Diskusi Daring Interaktif Bertema Program Au Pair di Eropa Barat & Skandinavia

JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daring www.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.

Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.

Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.

Follow us

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.

Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.

Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.

Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.

Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.

Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:

  • Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
  • Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.

Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.

Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.

Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.

Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.

“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.

Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.

Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.

Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.

Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.

Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com

Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:

(CERITA SAHABAT) Dari Au Pair ke Mahasiswi: Pertukaran Budaya dan Tantangan Tinggal di Finlandia

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Lina Herliana. Aku perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Finlandia dan sedang menjadi mahasiswi di tingkat akhir. Perjalananku ke sini bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang kualami—kegagalan, penolakan, kesepian, musim dingin yang tak mudah, dan juga berbagai tantangan yang muncul ketika aku berani mencoba lagi hingga di titik ini sekarang. 

Kali ini ini, aku ingin bercerita pada sahabat Ruanita semua tentang bagaimana aku bisa menjadi peserta program Au Pair di usia 27 tahun, yang mana pada saat ini batas usia program Au Pair adalah 26 tahun, lalu akhirnya aku bisa berstatus sebagai mahasiswi di negeri yang jauh dari tanah air.

Semuanya bermula dari satu keinginan: aku ingin tinggal di Belanda. Alasan utamanya karena aku ingin bisa lebih sering bertemu nenekku yang tinggal di sana. Namun, waktu itu usiaku sudah 27 tahun, dan banyak program tinggal di luar negeri—termasuk program au pair—yang memiliki batasan usia maksimal 26 tahun. Aku sempat bingung, sehingga aku mulai mencari cara lain agar bisa tetap ke Eropa, terutama ke Belanda.

Dari hasil berselancar di Google dan nonton beberapa channel YouTube, aku mengenal program Au Pair. Aku mulai mencari tahu lebih dalam dan akhirnya mendaftar di situs aupairworld.com. Aku sempat beberapa kali wawancara dengan calon host family di Belanda, tapi sayangnya tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Belanda menggunakan visa schengen dan mendaftarkan diri sebagai relawan di organisasi migran dan multikultural di sana.

Follow us

Aku sempat tinggal di Belanda selama lebih dari sebulan, menjadi volunteer, dan dari situ temanku menyarankan untuk mencoba lagi untuk mendaftar Au Pair. Aku kembali membuka akun lamaku di situs Au Pair, dan tanpa ekspektasi besar, aku mengubah lokasi ke Finlandia. “Siapa tahu beruntung,” pikirku waktu itu.

Ternyata benar. Dalam waktu 24 jam, aku langsung mendapat balasan dari salah satu keluarga di Finlandia. Kami berdiskusi dan dalam satu hari kami sudah sepakat. Bulan berikutnya, aku pun berangkat ke Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia menerapkan batas maksimal apply program Au Pair adalah 30 tahun. Beruntungnya, saat aku apply di Finlandia, usiaku masih belum sampai 30 tahun. 

Awalnya aku masuk Finlandia masih dengan visa schengen dari Belanda. Baru kemudian aku mengajukan visa au pair dari Finlandia langsung. Prosesnya tidak mudah. Pengajuanku sempat ditolak oleh imigrasi Finlandia karena sertifikat bahasa yang aku lampirkan dianggap kurang resmi.

Untungnya, host family-ku sangat mendukung. Mereka sampai menyewa pengacara untuk mengajukan banding. Kami harus menunggu hampir dua tahun sampai visa itu akhirnya keluar. Aku mengajukan permohonan pada Maret 2019, dan baru mendapat visa pada Januari 2021. Proses panjang itu benar-benar menguji kesabaran, tapi aku bersyukur, host family-ku tetap percaya dan memperjuangkan aku.

Setelah beberapa waktu tinggal di kota Tampere, aku pindah ke Helsinki. Di sana aku bekerja penuh waktu di sebuah restoran cepat saji. Restoran itu juga yang membantu proses perpanjangan izin tinggalku. Sambil aku menunggu perpanjangan visa, ibuku wafat di Indonesia. Aku benar-benar sedih saat itu, karena aku tidak bisa pulang untuk menunggu proses pengajuan perpanjangan visa yang belum selesai.

Selain itu, pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi, di mana aku ditolak lagi oleh imigrasi. Namun, aku berhasil mendapat bantuan dari pengacara publik (yang di sini gratis), dan akhirnya berhasil mendapatkan keputusan positif. Saat itu, aku bekerja selama enam bulan sambil mencoba mendaftar kuliah—sekadar mencoba keberuntungan saja.

Aku memang sejak dulu tertarik dengan dunia kuliner. Suatu hari, iklan pendaftaran kuliah muncul di timeline Instagram-ku. Padahal waktu itu pendaftaran sebenarnya sudah tutup. Aku tetap coba apply, dan tiga bulan kemudian aku mendapat undangan wawancara. Ternyata, aku diterima!

Katanya, karena ada mahasiswa yang keluar, dan mereka kekurangan orang. Rasanya seperti tidak dapat dipercaya, aku bisa berkuliah di Finlandia. Aku akhirnya menjadi mahasiswi di bidang culinary di Finlandia.

Salah satu hal yang membuatku bersyukur bisa belajar di sini adalah karena sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik. Untuk pemegang izin tinggal tipe A seperti aku, kami bisa mengakses pendidikan secara gratis, bahkan mendapat bantuan dari pemerintah. Aku menerima housing allowance dan study support yang cukup untuk membantuku bertahan hidup di sini. Tentu, aku tetap harus mandiri dalam hal makan dan transportasi, tapi dukungan itu sangat berarti—terutama bila dibandingkan dengan apa yang aku bisa akses di negara sendiri.

Budaya Finlandia juga sangat berbeda. Salah satu culture shock paling besar adalah soal sauna. Di sini, sauna adalah bagian penting dari kehidupan. Mereka biasa beramai-ramai masuk sauna tanpa busana. Aku tidak bisa dan sampai sekarang belum pernah ikut sauna bareng orang lain. Buatku, aku bisa memiliki batas pribadi yang tetap aku jaga karena aku adalah orang Indonesia.

Soal bahasa, aku justru senang. Aku memang suka belajar bahasa baru, jadi tidak kesulitan berkomunikasi. Namun, hal yang sulit justru datang dari musim dingin yang panjang dan ekstrem. Di bulan November dan Desember, Finlandia sangat gelap dan dingin—matahari hampir tidak muncul. Rasanya sangat sepi dan menekan. Tahun-tahun pertama aku tidak terlalu terpengaruh, tapi setelah 3-4 tahun tinggal di sini, dampak musim dingin itu mulai terasa secara mental.

Untuk menjaga kewarasan, aku biasanya mencoba menghibur diri. Anak-anak di keluarga – tempat aku tinggal – mereka suka sekali bermain salju. Jadi, kami sering bermain bersama. Kadang juga kami pergi ke Lapland, ke tempat Santa Claus, dan mencoba olahraga musim dingin. Itu lumayan mengangkat suasana hatiku karena musim dingin di Finlandia.

Sahabat Ruanita, aku pernah juga mengalami hal yang menyakitkan sebagai Au Pair. Pengalaman paling menyakitkan selama menjadi Au Pair, terjadi di bulan terakhir masa tugasku. Hanya karena aku menolak ikut ke summer cottage untuk mengasuh anak-anak, host family-ku tiba-tiba memintaku keluar dari rumah. Aku bahkan tidak menerima uang saku di bulan itu. Rasanya seperti ditendang tanpa peringatan.

Untungnya, aku sudah punya keluarga baru yang siap menerima aku dua minggu kemudian. Sambil menunggu mereka yang sedang liburan, aku kembali ke Belanda untuk sementara. Setelah itu, aku kembali ke Finlandia dan langsung pindah ke rumah host family yang baru.

Pengalaman itu sangat memengaruhi kondisi psikologisku. Namun, di sisi lain, itu juga membuatku lebih kuat dan lebih sadar bahwa hidup di perantauan membutuhkan ketegasan dalam membangun batas diri. Aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus siap dengan segala kemungkinan.

Sebagai mahasiswi kuliner yang juga seorang muslim, aku pernah khawatir akan diminta memasak makanan yang bertentangan dengan prinsipku. Tapi ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di sini, para pengajar sangat menghormati pilihan pribadi. Aku selalu terbuka dan jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan, dan mereka justru mencari pengganti bahan yang sesuai.

Toleransi di Finlandia cukup tinggi. Selama kita jujur dan terbuka, mereka tidak akan memaksa. Itu hal yang membuatku semakin nyaman belajar di sini.

Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun, kalau aku tanya langsung ke orang Finlandia, mereka sendiri sering merasa tidak selalu bahagia. Tingkat depresi di sini juga cukup tinggi. Tapi yang membuat Finlandia layak disebut negara bahagia adalah karena kesejahteraan warganya sangat terjamin, sistem pendidikannya bagus, dan mereka sangat mencintai alam.

Dan aku pun merasa bahagia di sini. Aku merasa disupport secara nyata—sesuatu yang tidak aku dapatkan di negara sendiri.

Kalau kamu ingin datang ke Finlandia sebagai Au Pair atau mahasiswa, ada dua hal yang harus kamu siapkan: fisik dan mental menghadapi musim dingin, serta kesiapan menghadapi masyarakat yang sangat introvert. Orang Finlandia tidak suka basa-basi. Mereka tidak mudah tersenyum atau memulai percakapan. Jadi, jangan cepat merasa ditolak.

Selain itu, kamu juga harus open-minded, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya dan agama. Jangan terlalu kaku dengan aturan pribadi yang tidak fleksibel, karena justru itu yang bisa membuatmu kesulitan beradaptasi.

Dan yang tak kalah penting, dukungan keluarga juga sangat berarti. Tidak semua orang tua Indonesia rela melepas anaknya tinggal di luar negeri, apalagi ikut program au pair yang belum terlalu umum.

Aku berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan para Au Pair di luar negeri, terutama di negara-negara seperti Finlandia yang belum punya badan perlindungan resmi. Kalau terjadi sesuatu seperti yang kualami dulu—diusir tanpa alasan yang jelas—tidak ada tempat bagi kami untuk mengadu.

Kalau bisa, dibuatlah kerja sama bilateral agar ada sistem pengawasan dan perlindungan yang jelas. Program Au Pair ini sebenarnya positif. Banyak orang Indonesia yang mendapat pengalaman dan peluang hidup baru dari sini. Sayang sekali kalau potensi itu tidak dimaksimalkan atau malah membiarkan risiko-risiko tanpa perlindungan hukum.

Sahabat Ruanita, itulah sepotong perjalanan hidupku yang penuh putaran, dari Indonesia ke Belanda, lalu akhirnya ke Finlandia. Dari relawan, menjadi Au Pair, hingga kini menjalani hidup sebagai mahasiswi di negara yang memberiku ruang untuk tumbuh dan belajar.

Mungkin sahabat Ruanita yang membaca ini juga sedang mencari jalan. Kalau iya, semoga kisahku bisa jadi pengingat: jalan itu mungkin panjang dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditempuh.

Penulis: Lina Herliana, yang tinggal di Finlandia dan dapat dikontak via akun instagram linaherl_

(CERITA SAHABAT) Baru Injak 6 Bulan, Begini Caraku Atasi Kesepian di Luar Indonesia

Namaku Stevany. Setelah lulus SMA di Medan, aku bertekad ingin mencari pengalaman di negeri orang. Pilihanku jatuh ke Jerman, yang letaknya ribuan kilometer dari Indonesia.

Program yang aku ikuti untuk tinggal di Jerman adalah Au Pair. Program Au Pair adalah program pertukaran budaya di mana aku tinggal bersama keluarga orang Jerman.

Lebih tepatnya aku tinggal di Bavaria, Jerman bagian Selatan. Program Au Pair ini berlaku selama setahun. Di sini aku belajar bahasa, budaya dan kebiasaan orang Jerman.

Aku belajar lebih mudah bahasa Jerman melalui kehidupanku sehari-hari bersama mereka. Aku juga mendapatkan kesempatan belajar bahasa Jerman lewat kursus daring yang dibiayai keluargaku yang aku tempati.

Aku sudah menginjak bulan keenam tinggal di Jerman. Tak mudah rasanya hidup jauh dari orangtua. Aku pun kadang merasa kesepian, bila aku ingat kehidupanku di Indonesia dulu.

Jika kesepian melanda, aku biasanya menelpon keluargaku yang ada di Indonesia. Aku senang mendengar suara dan kabar orangtua dan kedua adikku.

Cara lainnya untuk atasi kesepian adalah membaca buku. Kegemaranku membaca buku sangat menolongku buat mengusir sepi di negeri roti dan sosis ini.

Cara berikutnya yang aku lakukan adalah menonton film dan video tak berbayar yang mudah kudapatkan di sini. Internet di sini punya koneksi yang baik dan memudahkan aku mencari apa yang aku mau.

Terakhir, aku menyiasati kesepian dengan pergi berjalan-jalan ke taman. Di tiap kota di Jerman tersedia Taman sebagai ruang publik yang gratis.

Berjalan kaki juga menjadi kebiasaan orang Jerman yang aku tiru selama aku tinggal di Jerman. Jika aku sudah berjalan kaki, aku merasa rileks kembali.

Semoga ceritaku menginspirasi kalian semua yang sedang berjuang dan tinggal di luar Indonesia ya. Videonya bisa dilihat di sini.

Penulis: Stevany Hutabarat, seorang perempuan milenial yang sedang tinggal di Bavaria, Jerman.