(SWG) Bagaimana Standar Kecantikan di Jepang?

Cantik itu relatif. Mungkin kalimat ini sering kita dengar di masyarakat pada umumnya. Namun, bagaimana standar kecantikan di negeri matahari terbit? Bagaimana masyarakat menilai dan menentukan standar kecantikan untuk seorang perempuan?

Dalam episode pertama SWG, Sharing with Guchi, Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita di Jepang. Dia adalah Chiharu Ooshiro, perempuan Jepang yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Jepang.

Menurut Chiharu, standar kecantikan adalah bagaimana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri dan menerima diri mereka. Namun, standar kecantikan yang diinginkan oleh Chiharu nyatanya berbeda dari kebanyakan masyarakat di Jepang umumnya.

Contohnya, perempuan digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan berwajah kecil. Bahkan perempuan banyak melakukan massage agar wajah mereka lebih kecil. Selain berwajah kecil, perempuan digambarkan cantik dengan kulit yang cerah.

Tak jarang, perempuan tidak makan makanan banyak agar tidak mengalami kelebihan berat badan dan bisa diterima sebagai standar kecantikan.

Perempuan di Jepang mendapatkan tantangan tentang bagaimana mereka perlu berpenampilan sempurna untuk lingkungan di mana mereka berada. Mereka tak ragu untuk memakai make-up setiap hari, karena masyarakat pun memandang hal itu sebagai perempuan yang menarik.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

Simak selengkapnya rekaman diskusi Cindy Guchi, perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam dan Chiharu Ooshiro:

(RUMPITA) Cerita WNI di Singapura yang Setia pada Indonesia

Pada episode 16 di bulan Agustus 2023, Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA mengundang Influencer asal Singapura, Virda Lestari yang dapat dikontak via akun Instagram: chuplayavirda dan telah menetap lebih dari 5 tahun di negeri tetangga Indonesia tersebut.

Virda, begitu disapa, sempat meneruskan studi S2 di Singapura dan menikah dengan pria berkebangsaan Rusia. Virda pun memutuskan untuk tinggal di Singapura. Dalam episode ini, Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Jerman didampingi oleh Anna untuk sementara waktu.

Fadni membaca baru-baru ini hampir 4.000 WNI yang berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dan sempat menjadi pemberitaan di harian Indonesia. Berdasarkan fenomena tersebut, RUANITA mengundang Virda untuk berbagi pendapat dan pengalaman selama tinggal di Singapura.

Menurut Virda, pemerintah Singapura tidak menjanjikan apa-apa untuk menjadi warga negaranya. Virda berpendapat bahwa alasan orang memilih menjadi warga negara Singapura lebih pada kekuatan paspor Singapura untuk bisa berpergian dan mengunjungi berbagai negara di dunia.

Follow us ruanita.indonesia

Alasan selanjutnya menurut Virda, orang memilih menjadi warga negara Singapura dikarenakan benefits yang diperoleh oleh WNA Singapura dibandingkan mereka yang telah memiliki permanent resident di Singapura.

Benefits yang menjanjikan mulai dari tunjangan pekerjaan, pendidikan, properti, hingga kesehatan pada akhirnya membuat banyak orang tergiur untuk WNA Singapura, meskipun Anna menjelaskan kalau fenomena ini sudah ada dari sepuluh tahun lalu. Fadni mengamini kalau tiap tahun angka permintaan kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dari Indonesia menjadi semakin bertambah.

Virda pun sempat terpikir untuk berganti kewarganegaraan, apalagi suami Virda pun sudah tinggal di Singapura lebih dari 20 tahun. Alasan yang mendominasi ingin berganti kewarganegaraan lebih pada kemudahan untuk traveling.

Virda berpendapat tidak mudah juga untuk mengajukan pergantian kewarganegaraan menjadi WNA Singapura, sama seperti mengajukan ijin tinggal di Singapura. Contohnya suami Virda yang berasal dari Rusia pun pernah ditolak menjadi WNA Singapura.

Diskusi ini juga membahas tentang nasionalisme sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Apakah ada terpikir oleh Virda yang masih WNI untuk berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura atau WNA Rusia seperti suami?

Apa saja yang diperlukan kalau mau tinggal di Singapura? Bagaimana Virda memandang sesama WNI yang sudah berganti WNA Singapura? Apa pesan Virda sebagai WNI yang tinggal di Singapura dalam rangka Hari Kemerdekaan ke-78 Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Simak diskusi Podcast RUMPITA episode 16 selengkapnya berikut ini:

Follow us di RUMPITA by RUANITA.