(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.

(DISKUSI ONLINE) Awali Tahun 2025, Ruanita dan Komunitas Indonesia di Eropa Gelar Diskusi Inspiratif

Frankfurt, JERMAN – Memulai tahun baru dengan semangat positif, Ruanita Indonesia bekerja sama KJRI FRANKFURT, ALZI Nederland, komunitas ALZI Jerman, dan SELINDO mengadakan diskusi bauran/hybrid bertema “Awali Tahun Agar Aktif dan Produktif Sejak Usia Emas”.

Acara ini dirancang untuk menginspirasi warga Indonesia di Eropa, agar tetap sehat, produktif, dan terhubung secara sosial. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 11.00–13.00 CET (17.00–19.00 WIB) melalui platform Zoom Meeting.

Banyak warga Indonesia yang tinggal di Eropa menghadapi tantangan khas, seperti keterbatasan dukungan sosial dan perubahan gaya hidup. Dalam diskusi ini, peserta akan diajak untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan fisik dan mental serta mempererat solidaritas dalam komunitas.

Konjen RI untuk Frankfurt, Antonius Yudi Triantoro berkesempatan membuka acara diskusi ini dan menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan ruang berbagi dan belajar. “Kami berharap diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru bagi warga senior untuk menjalani hidup lebih bermakna dan terhubung,” ujarnya.

Diskusi ini akan menghadirkan pemateri terkemuka, di antaranya:

  • Antonius Yudi Triantor (Konjen RI Frankfurt), yang akan memberikan sambutan pembuka.
  • Danny Yatim, penulis buku Tetap Aktif di Usia Emas dan psikolog.
  • dr. Dara R. Pabittei, Elderly Care Physician dan penggiat Alzheimer Demensia dari ALZI Nederland, yang akan berbagi wawasan tentang kesehatan otak.
  • Rusdin Sumbajak, perwakilan SELINDO (Senior Lansia Indonesia di Jerman), yang akan menjadi penanggap diskusi.

Diskusi ini mencakup sesi inspiratif dan interaktif, termasuk pembahasan tentang:

  • Menjaga produktivitas di usia emas oleh Danny Yatim.
  • Kesehatan otak dan cara mencegah demensia oleh dr. Dara R. Pabittei.
  • Sesi tanya jawab interaktif untuk berbagi pengalaman hidup di usia lanjut.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai tahun baru dengan semangat aktif dan produktif. “Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, kami ingin memperkuat solidaritas dan dukungan sosial bagi warga Indonesia di Eropa,” tambah Teti Arndt, komunitas ALZI Jerman.

Untuk materi informasi diskusi, silakan simak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi:

(IG LIVE) Literasi Ibu Untuk Persiapan Kelahiran Bayi Prematur

Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.

Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.

Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.

Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.

Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.

Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.

Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Melahirkan dan Merawat Bayi Lahir Prematur BBLR

Salam kenal, Sahabat Ruanita. Saya adalah Mosi Retnani  dan dapat dikontak via akun instagram @mosiretnani. Saya, suami, dan anak kami yang saat ini masih balita, tinggal di Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Tahun ini masuk tahun keempat kami tinggal di desa, sebuah wilayah yang dari segi budaya, bahasa, ritme harian, bahkan makanannya berbeda dengan Jakarta, tempat kami tinggal sebelumnya. Ya, meski perbedaannya tidak sampai 180 derajat sih. 

Kalau semua berjalan aman sentosa, saya dan suami sudah memiliki tiga anak. Namun kami kehilangan janin-janin di dua kehamilan pertama, yang umurnya berakhir hanya sampai di minggu kedelapan. Kehilangan tersebut terjadi pada tahun pertama pernikahan kami. Jangan ditanya bagaimana rasanya, setelah diberi bahagia, lalu diambil, dan diganti dengan kesedihan, dikali dua. 

Setelah dua peristiwa tersebut, kami memutuskan untuk menjeda sejenak dari semua hal yang berkaitan dengan ‘hamil’. Masuk tahun kedua pernikahan, kami mulai mempertimbangkan ikut program hamil. Kami mendatangi tiga dokter kandungan untuk konsultasi. Namun tak dipungkiri, jenuh pun melanda kami karena merasa program hamil berjalan begitu-begitu saja. Minum suplemen, konsultasi dokter, jaga makanan dan sebagainya, rasanya berlangsung monoton, bahkan jadi sering muncul pikiran paranoia seperti bila jajan di kaki-lima akan membuat program kami gagal. Di sisi lain, saya akui sebenarnya program hamil ini baik karena mendorong perbaikan gaya hidup, tetapi bagi kami, jadi malah tidak bahagia dalam menjalaninya. Yang seharusnya dijalani dengan sukacita, tetapi malah terasa monoton dan membebani. Ini bukan contoh yang baik untuk dijadikan acuan pasangan promil, ya.

Saya lupa di tahun keberapa tepatnya, kami memutuskan untuk berhenti mengikuti promil. Kami memutuskan untuk tidak lagi fokus soal keturunan. Fokus ke membangun rumah tangga bahagia meski semisal Allah SWT memang tidak menghendaki kami memiliki keturunan. Saya masih ingat malam sebelum kami memutuskan untuk berhenti promil, saya mengambil wudhu lalu sholat tahajud. Dalam doa, saya berucap: Ya Rabb, bila Engkau memang tidak berkehendak kami memiliki keturunan, kami ikhlas, insyaallah. Karena Engkau lah yang lebih tahu tentang hidup kami. Lapangkan hati hamba dan suami dalam menerima setiap kehendak-Mu. Setelahnya, saya merasa lebih plong dalam menjalani kehidupan rumah tangga, lebih tangguh, dan legowo menghadapi setiap pertemuan keluarga besar atau sekedar menjawab ujaran tetangga sekitar rumah. Kala itu, kami tidak memilih program IVF, karena anggaran tidak menyokong ke arah sana.

Di suatu pagi di tahun keenam pernikahan kami, alat testpack yang biasanya membuat kami merespon datar usai melihat hasilnya, pagi itu membuat saya bengong sejenak. Dua garis. Saya lalu membangunkan suami,“Be, ih bangun ini lihat. Masa aku hamil, kata testpack. Beneran gak sih??”. Suami hanya merespon dengan gumaman di bawah pengaruh alam bawah sadar. Usai salat subuh berjamaah, kami masih tidak percaya melihat hasilnya namun memutuskan tidur lagi. Saya pikir kalau memang beneran hamil, toh tinggal pergi konsul ke obgyn, tidak perlu yang harus gimana-gimana. 

Sekitar pukul sembilan pagi, saya bangun dan kembali mengecek testpack. Ternyata betul, dua garis biru, nyata. Saya Kembali membangunkan suami, “Be ini beneran, aku hamil!” Dan dia hanya merespon,”Alhamdulillah. Tapi aku lanjut bobo dulu ya, sejam lagi deh,” ujarnya. Saya tidak marah, malah mengiyakan ikhlas, karena malamnya dia habis lembur. 

Sorenya kami konsultasi ke dokter kandungan yang ketiga. Alasannya standar, dekat dari rumah dan kami sudah nyaman dengan dokter itu. Ketika melihat layar mesin USG, sekilas trauma kegagalan hamil menyeruak di pikiran saya. Saya coba tangkis dengan berpikir positif. Hanya sepenggal kalimat “Selamat ya bu,” dari dokter itu saja yang saya ingat usai keluar dari ruang konsultasi. Sampai di rumah pun, kami tidak langsung bersukacita mengabari para orang tua tentang kehamilan yang menahun dinanti mereka. Mungkin karena kala itu trauma dua kali kehilangan janin masih mendominasi pikiran kami. Kata suami, saya tak usah banyak kepikiran, dia yang akan mengabari orang tua kami. 

Hari-hari kehamilan yang kami jalani terasa biasa saja, hanya perut saya saja yang perlahan melendung. Saya yang kala itu masih terikat kontrak dengan salah satu media online untuk mengelola konten media sosialnya bersama teman, malah merasa terhibur dengan kesibukan kerjaan, di sela nafsu makan yang menguap. Setiap hari suami membawa oleh-oleh air kelapa dan air jahe sepulang kerja. Air jahe mempan mengatasi mual saya, sementara air kelapa mengikuti saran dokter. Selain itu, saya disarankan mengkonsumsi susu yang dipasteurisasi, alih-alih susu khusus kehamilan atau UHT. Alasan dokter karena susu pasteurisasi tidak mengalami proses pengolahan yang panjang untuk bisa dikonsumsi. Kami juga selalu diresepkan suplemen asam folat organik dan lainnya. 

Masuk pekan ke-35 kehamilan, kehamilan saya ternyata disimpulkan bermasalah karena beberapa hal terlihat tidak wajar. Bengkak di kedua kaki saya terlihat janggal dan berlebihan, menurut bidan pendamping di kelas senam hamil. “Kita tensi dulu ya Bu, saya biar bisa memastikan apakah ini wajar atau tidak,” ujar bidan. Ternyata hasil tensi saya tinggi, sekitar 120-an. Bidan kembali bertanya, ”Bu, apa merasa pusing?”. Saya menggeleng. Lalu bidan meminta saya menunggu sejam untuk kembali ditensi, sementara ia menghubungi dokter kandungan kami. “Kita tunggu dulu ya Bu, khawatirnya tensi ibu tinggi karena habis senam hamil,” ujar bidan setelah mengecek riwayat tensi saya selama kehamilan selalu berada di posisi normal. 

Ternyata tensi saya tidak kunjung turun, memang betulan tinggi. Bidan kembali menghubungi dokter untuk kembali mengobservasi saya. Saya diminta datang keesokan harinya tanpa perlu membuat janji temu lagi, karena hari itu dokternya sedang persiapan penanganan operasi lahiran. 

Setelah cek laboratorium berjenjang atas anjuran dokter, kehamilan saya disimpulkan masuk kategori preeklamsia. Artinya, janin harus segera dikeluarkan karena akan membahayakan ibu dan janin. Setiap hari sampai hari persalinan, saya harus kembali menjalani beberapa prosedur seperti pemantauan detak jantung bayi, penyuntikan pematang paru-paru janin sebanyak dua kali karena dia akan lahir prematur, pemantauan tensi saya, dan lainnya. Dokter pun segera menjadwalkan operasi caesar, “Bu, jadwal caesar-nya Sabtu ini ya. Pagi. Tapi kalau ternyata ibu merasa tidak fit atau kenapa-kenapa, ibu harus langsung saja datang ke IGD sini. Sampai ketemu Sabtu insyaallah ya bu,” kata dokter dengan raut wajah tenangnya. 

Jujur saya sempat panik karena baju-baju bayi dan peralatan lainnya belum semua disiapkan. “Nanti adek tidak ada baju habis lahir, terus gimana?”. Paniknya sebatas itu, bukan yang cemas takut perut harus dibuka tujuh lapis atau kepanikan lainnya. Namun alhamdulillah emosi kami berdua terbilang stabil. Kakak-kakak dan ibu saya memberi dukungan penuh, sehingga sampai hari persalinan membuat kami merasa cukup tenang. 

Bayi premature BBLR kami lahir dengan berat 1,9 kilogram pada tahun 2019 lalu. Usai persalinan yang jatuh di usia kehamilan 35 minggu, bayi saya harus masuk inkubator di ruang perinatologi. Setelah mendapat kabar bahwa bayi kami sehat dan organnya berfungsi dengan baik meski prematur, kami lega dan bersyukur. Selama masa pemulihan, suamilah yang bolak-balik antara ruang perinatologi dan kamar inap saya. Dua kakak saya dan ibu bergantian menjenguk saat suami harus ngantor. Oleh dokter anak, bayi kami dianjurkan diberi susu khusus tinggi lemak agar bobot badannya yang tergolong rendah (1,9 kg) bisa cepat naik sekaligus tandem dengan ASI saya. “Nanti setelah bobotnya cukup di angka aman, susu suplemennya dihentikan ya bu. Cukup ASI saja,” kata dokter anak yang ikut mendampingi dokter kandungan dalam persalinan.

Susu impor yang dimaksud ternyata harganya ‘wow’ dan sulit dicari di sekitaran rumah sakit. Setelah konsultasi dengan dokter anak, boleh memakai merek lokal yang fungsi dan kandungannya mirip, meskipun harganya yang juga cukup tinggi haha! 

Di ruang perinatologi tiap menunggui bayi kami, saya diajari lagi cara perlekatan yang tepat untuk mulut anak ke payudara meski sebelumnya saya sudah tiga kali mengikuti kelas laktasi di rumah sakit yang sama atas rekomendasi dokter kandungan. 

Setelah tiga hari dirawat inap, dokter menyatakan jahitan tidak bermasalah serta fisik saya sudah cukup pulih, saya dibolehkan pulang. Namun bayi kami masih harus menetap di perinatologi karena dinilai belum cukup kuat untuk hidup di luar inkubator. Sedih dan pilu kembali merayapi ruang emosi. Bagaimana tidak, selama di rumah sakit pun kami tidak bisa berdampingan dalam satu ruang seperti pasien bersalin lainnya, momen yang sangat kami dambakan. Malah setelah pulang pun masih terpisah atap. Hal yang sama juga dirasakan suami. Dia yang paling semangat usai melihat bayi kami lahir di dunia, jadi gundah saat tahu kabar tersebut. “Bapak dan ibu tidak perlu kawatir atau sedih ya, karena ini kan untuk kebaikan adik bayi,” ujar perawat di ruang perinatologi usai kami berpamitan. Sesampainya di rumah, saya tidak bisa tidur tenang, teringat bayi kami. Belum ada 24 jam saja saya sudah rindu. “Aku aja yang antar ASI ke rumah sakit. Kamu istirahat, biar luka operasi cepat kering,” kata suami keesokan paginya. Meski rindu dan gusar, saya harus realistis karena kalau tidak cepat pulih, saya tidak akan bisa optimal merawat bayi bila waktunya ia dibolehkan pulang nanti. Menjelang sore, telepon seluler suami berdering. Ternyata bayi kami sudah dibolehkan pulang usai diobservasi dokter anak, salah satunya karena bobotnya dinilai cukup untuk tidak lagi dirawat di perinatologi. Rasanya senang luar biasa. 

Rumah sakit jaraknya tak sampai 2 kilometer dari rumah kami. Usai ashar, kami menjemput bayi kami ke rumah sakit. Sebelumnya, ibu menyarankan untuk tinggal sementara di rumahnya agar kami ada yang membantu merawat bayi. Dan kami pun menurut. “Ibu ini baju-baju bayinya masih pada kebesaran ya, tapi enggak apa-apa malah jadi awet dan hemat ya nak ya,” ujar bidan dengan nada bercanda sambil menyerahkan bayi kami. Kami tertawa kecil menanggapinya, karena baju tidur model wearpack ukuran bayi baru lahir yang kami siapkan untuk si bayi pulang, terlihat longgar di tubuhnya. Perawat sampai menggulung bagian lengan dan kakinya beberapa kali agar tidak mengganggu geraknya karena kepanjangan. 

Baik bidan atau dokter tidak menyarankan menyediakan alat pendukung khusus bagi bayi kami, namun ada beberapa hal penting yang wajib dilakukan di rumah. Pertama, memperbanyak kontak kulit dengan kulit (skin to skin) dengan metode kanguru (kangaroo care). Metode ini dinilai mampu mengurangi stres bayi prematur terutama bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dalam merespon lingkungan luarnya yang baru. Suara dan detak jantung orang tuanya akan menenangkan si bayi, selain memberi kehangatan di tubuhnya. Kangaroo care juga membantu menstimulasi produksi ASI di badan ibu agar membantu bobot bayi prematur cepat naik. 

Kedua, jaga suhu tubuh bayi BBLR ini dengan cara membedong dan rajin mengecek suhu tubuhnya. Bayi prematur, terutama dengan kondisi BBLR, belum mempunyai cukup lemak untuk membantu tubuhnya beradaptasi dengan suhu lingkungannya yang baru. Karena itu saya selalu meletakkan thermometer digital di sisi bantal bayi karena suatu hari usai beberapa hari kepulangannya, saya pernah panik ketika memegang kaki dan tangannya yang mendadak dingin. Hal ini sempat kami konsultasikan ke dokter anak dan jawabannya demikian yang dijelaskan sebelumnya. 

Ketiga, bayi prematur bisa dibilang gemar tidur sehingga kami harus membuat jadwal minum susu yang konsisten yang ketika tiba waktu menyusu. Kalau bayi masih tidur, maka wajib dibangunkan untuk disusui. Ini adalah saran dari perawat bayi di ruang perinatologi, yang diberikan sebelum kami pulang. Bagian ini yang cukup menantang bagi kami karena selalu ada pergulatan rasa tidak tega dan realita yang harus kami jalani untuk menopang kebutuhan susunya. 

Keempat, pemberian suplemen zat besi yang dosisnya disesuaikan dengan bobot bayi. Berdasarkan literasi yang saya baca kala itu dan dokter anak yang membersamai komunitas Prematur Indonesia, pemberian suplemen zat besi sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh bayi prematur/ prematur BBLR yang sangat rentan mengalami defisiensi zat besi. Menurut dokter, suplemen zat besi ini sebaiknya mulai diberikan pada bayi prematur pada usia 1 bulan. 

Kelima, kami juga disarankan memeriksa mata bayi -terutama pemeriksaan retina, bila memungkinkan- secara rutin ke dokter mata anak. Hal ini karena beberapa bayi prematur memiliki potensi penyakit mata yang disebut retinopati prematuritas (ROP), sebuah kondisi dimana penglihatan mata anak akan terganggu bila tidak sejak dini ditangani.  Selain itu, bayi premature juga lebih sering mengalami risiko mata juling dibanding bayi tipikal. 

Karena banyak kondisi yang harus kami jaga, maka kami memutuskan keluar rumah hanya untuk keperluan ke rumah sakit saja, sampai bayi kami cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Di sisi lain, kami sangat bersyukur karena keluarga di lingkaran utama memberi dukungan penuh dan mau memahami kondisi bayi yang berbeda dari para sepupunya kala masih bayi. Ibu dan kakak-kakak saya terus kami informasikan apa saja yang wajib mereka ketahui dalam membantu merawat bayi kami. Selain memberi dukungan moral dalam merawat bayi, mereka juga mendukung dalam mengurus pekerjaan rumah seperti membantu menjemur dan menyetrika pakaian dan mengirim makanan setiap hari ke rumah setelah kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sampai kami dinilai cukup mandiri untuk melakukan rutinitas harian seperti sebelum ada bayi. 

Harapan saya, teman-teman perempuan yang harus merasakan persalinan awal dan melahirkan bayi prematur menjadi tidak merasa sendiri dan berani untuk meminta tolong kepada suami, saudara, orang tua dan teman akrab kita, juga jangan segan meminta pertolongan kepada tenaga medis saat memang membutuhkannya. Bagi para ibu yang mengalami kondisi serupa, jangan ragu untuk bergabung dalam komunitas prematur yang ada di lingkungan sekitar atau secara daring, karena saya akui dampaknya cukup signifikan terutama dari segi literasi dan pengalaman yang dibagikan sesama anggota komunitas, sehingga menghapus “rasa sendiri” dalam merawat dan membesarkan bayi prematur berbagai kondisi, termasuk bayi prematur BBLR. 

Untuk pemerintah, saya berharap semakin giat dalam mensosialisasikan dan membagi literasi persalinan dini dari segi pemicu, risiko pada ibu dan bayi, serta cara menangani bayi pasca persalinan. Peran pemerintah juga penting dalam meningkatkan keterampilan tenaga medis dan menyediakan tenaga ahli psikologi di berbagai pelosok agar mendukung tumbuh kembang bayi prematur dan menjaga kondisi emosi ibu. Demikian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk para Sahabat Ruanita. 

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia, dikontak via akun instagram: aini_hanafiah, dan menulis berdasarkan wawancara dengan Mosi Retnani.

(AISIYU) Dijalani Bersama

Nama pembuat foto: Aini Hanafiah

Lokasi negara tinggal: Norwegia

Judul foto: Dijalani Bersama

Keterangan foto: Ruang aman terbangun dari assurance akan hadirnya rasa aman dalam hubungan atau dalam dinamika sebuah kelompok. Namun beda kultur, bisa beda pula konsep ruang amannya. Salah satu kultur nordic percaya bahwa interaksi dengan alam bisa menurunkan kadar stress dan membuat orang semakin rileks, sehingga kegiatan bonding yang dilakukan di alam terbuka dipercaya dapat membantu terbentuknya hubungan yang sehat dan menjadi ruang aman untuk sesama.

Di banyak kelompok support group untuk perempuan imigran di Norwegia, kegiatan hiking bersama sering diadakan untuk bonding sekaligus mengenalkan salah satu konsep lokal tentang ruang aman: bahwa alam di Norwegia itu aman dan inklusif untuk semua orang. Selain itu, biasanya orang Norwegia baru bisa rileks dan mengobrol banyak justru ketika hiking.

Lucunya, kegiatan hiking ini dinilai cukup menantang secara fisik bagi banyak perempuan imigran yang mengikuti support group lokal. 

Mereka terbiasa membangun safe space lewat acara memasak dan makan bersama (kitchen table talk). Akhirnya hiking dan kitchen table talk dibuat berselang-seling dalam program support group lokal, untuk mengakomodir kebutuhan menghadirkan ruang aman dalam proses integrasi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hak Asasi Manusia

Menutup kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan yang menjadi bagian dari program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nyatamU) tahun 2024, Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh studi S3 di Belanda. Dia adalah Widya Tuslian yang memiliki latar belakang sebagai socio-legal studies, dengan fokus penelitian di bidang social welfare dan social justice.

Dalam penelitian yang sedang dilakukan, Widya berfokus pada bagaimana tata kelola sumber daya air di masyarakat miskin Urban Jakarta dalam perspektif socio-legal. Meskipun sumber daya air di Indonesia berlimpah, tetapi masalahnya bukan pada ketiadaan air, tetapi bagaimana air bisa dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.

Jakarta terkenal dengan infrastruktur development yang paling maju dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, di sudut-sudut kota Jakarta, permasalahan air masih sangat pelik, yang terkait dengan tata kelola air. Bagaimana pun aliran air yang keluar itu untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Air seharusnya adalah hak dasar semua orang yang menyangkut human dignity, terpaksa menjadi begitu sulit di area poor urban Jakarta karena kebijakan dan tata kelola yang tidak tepat. Selain policy makers, hal ini dipersulit oleh para pebisnis yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, dibandingkan hajat hidup orang banyak.

Di Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, kita diingatkan lagi bagaimana keadilan sosial bagi seluruh warga Indonesia lewat distribusi air. Air bersih menjadi impian banyak orang, yang seharusnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Kenyataannya, air bersih begitu sulit diakses bagi mereka yang tinggal di Poor Urban Jakarta.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

(AISIYU) Ruang Aman Wanita

Nama pembuat foto: Helena Siwi

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Ruang Aman Wanita

Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda. 

Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.

(AISIYU) Fragile Dreams in Broken Horizon

Nama pembuat foto: Devi Aulia Nofitri Umada

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Fragile Dreams in Broken Horizon

Keterangan foto: In classrooms and playgrounds, laughter should be the only sound. But under the cruel shadow of colonialism, Palestinian children’s laughter was silenced by the deafening roar of war. 

Their schools, once sanctuaries of learning, became battlefields. Amidst the ruins of their cities, a haunting question lingers: can these children ever feel safe, truly human, in their own land, where their only good memories are lost?

(AISIYU) Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya

Nama pembuat foto: Go Suan Ny

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)

Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster. 

Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.

Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.

(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.

Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.

(AISIYU) Sudut Ruang Wanita

Nama pembuat foto: Ayushillaby

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Malam Ibu Kota Selalu Sama (kiri) dan Sudut Ruang Wanita (kanan)

Keterangan foto: (kiri): Ibu kota menjadi tempat berkumpulnya pencari nafkah, dengan segala bentuk lelah terlihat dari ramainya transportasi.

(kanan): Perempuan masuk ke dalam prioritas transportasi umum, namun rasa mana masih menjadi kekhawatiran.

(AISIYU) Pizza vs Volcano

Nama pembuat foto: Asti Tyas Nurhidayati

Lokasi negara tinggal: Islandia

Judul foto: Pizza vs Volcano

Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang. 

Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan. 

Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini: