(CERITA SAHABAT) Jaga Balita dan Anak Sakit di Swedia, Dibayar Pemerintah. Apa Iya?

Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sih vabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?

Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barn atau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya. 

Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit. 

Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya. 

Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan). 

Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun. 

Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu? 

Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home

Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter. 

Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se

Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit. 

Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan. 

Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.

Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua? 

Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe

(IG LIVE) Membedah Mitos dan Fakta Imunisasi pada Anak

Pada Sabtu (26/4) telah berlangsung diskusi IG LIVE yang dilakukan setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui akun Instagramnya (@ruanitacom) kembali menggelar diskusi IG Live bertema “Imunisasi Anak, Mitos atau Fakta?.

Diskusi ini diadakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia, dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi di tengah maraknya misinformasi.

Acara dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, dan menghadirkan dua sahabat Ruanita yang inspiratif: Kak Azizah, seorang ibu beranak satu sekaligus Ketua Departemen Sosial dan Kemanusiaan Perinma yang kini menetap di Austria, serta Kak Tiwi, seorang dokter yang berbagi pengalamannya dari Jerman.

Kak Azizah memulai sesi dengan berbagi pengalaman sistem imunisasi di Austria, termasuk penggunaan buku Mutterkindpass yang mencatat semua riwayat kesehatan ibu dan anak, serta rekomendasi vaksinasi yang difasilitasi oleh pemerintah secara gratis.

Ia juga menekankan pentingnya mencari informasi valid untuk menangkal hoaks tentang vaksin.

Dilanjutkan oleh Kak Tiwi, yang menjelaskan secara ilmiah tentang imunisasi sebagai perlindungan aktif terhadap penyakit infeksi berat seperti polio, campak, dan hepatitis.

Ia membantah mitos yang masih berkembang, seperti klaim tidak berdasar tentang hubungan vaksin dengan autisme. Data penelitian besar-besaran menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan vaksin dengan gangguan perkembangan otak.

Diskusi juga menyoroti pentingnya edukasi berbasis bukti di tengah gempuran informasi tidak valid di media sosial.

Pesan kuat disampaikan oleh Kak Azizah dan Kak Tiwi kepada para orang tua: buatlah keputusan imunisasi atas dasar kasih sayang dan informasi terpercaya, bukan ketakutan atau tekanan sosial.

Acara ini menginspirasi banyak sahabat Ruanita untuk lebih kritis dan aktif mencari informasi kesehatan anak dari sumber yang sahih.

Ruanita Indonesia kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung keluarga Indonesia menjadi lebih sehat dan berdaya melalui edukasi berbasis komunitas.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami berjalan terus:

(CERITA SAHABAT) Melindungi Anak dengan Imunisasi – Fakta dan Harapan

Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.

Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune

Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.

Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Follow us

Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.

Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya. 

Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”

Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia

Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).

Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya. 

Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter. 

Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.

Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.

Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.

Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia 

Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.

Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.

Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.

Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.

Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia. 

“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.

Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.

Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.

Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.

Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.

“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya. 

Harapan Untuk Masa Depan

Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.

Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.

Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”

—-

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.

(CERITA SAHABAT) Jadikan Kakek-Nenek Sebagai Support System Untuk Anak-anak, Begini Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini. 

Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik  apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.

Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.

Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa  berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.

Follow us

Kami  menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.

Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.

Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.

Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan  sampai selesai pemakaman.

Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.

Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.

Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.

Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.

Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.

Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.

Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.

Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.

Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.

Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.

Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.

Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.

Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu  kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-

Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri  masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.

Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.

Sebagai penutup, saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu yang Punya Anak dengan Pitt Hopkins Syndrom

Tak banyak orang yang memahami dengan baik, bagaimana resiliensi yang dihadapi oleh ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Perjuangan dan tantangan ini yang kemudian ingin dibagikan oleh Vinna Nidia, yang saat diwawancarai sedang tinggal di Belanda, sejak tahun 2013.

Vinna, begitu disapa, telah menikah dengan pria berkewarganegaraan asing dan kini telah memiliki empat orang. Salah satu anak Vinna adalah anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.

Vinna mengakui bahwa dia tidak mendapati berbagai gejala yang berbeda dari kehamilannya pada anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.

Justru Vinna mendapatinya ketika anaknya lahir dan mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang anak.

Follow us

Tak banyak orang mengenal dengan baik, apa itu Pitt Hopkins Syndrom, apalagi kasus ini sangat jarang di dunia. Vinna mengakui di Indonesia pun baru bisa dihitung dengan jari.

Sehari-hari, Vinna di Belanda pun memiliki kesibukan lainnya seperti mengelola usaha rumahan dan komunitas Pitt Hopkins khusus Indonesia.

Vinna terdorong untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya tentang Pitt Hopkins kepada banyak orang Indonesia, terutama karena kasusnya sangat langka di Indonesia.

Menurut Vinna, sudah banyak negara yang membentuk kelompok dukungan sosial untuk orang tua yang memiliki anak dengan Pitt Hopkins.

Oleh karena itu, Vinna pun menceritakan bagaimana kegigihannya untuk melawan stigma sosial yang biasanya melekat pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti dirinya.

Apa itu Pitt Hopkins Syndrom? Bagaimana awal mula diagnosa itu muncul pada anak Vinna? Apa saja perjuangan dan tantangan yang dihadapi Vinna dalam membesarkan anak berkebutuhan khusus? Apa pesan Vinna untuk orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial dari Belanda berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami, agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT) Pitt Hopkins Syndrome, Resiliensi Ibu, Cahaya Kecilku

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.

Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana. 

Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.

Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.

Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.

Follow us

Aku pun harus mengalami induksi.  Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.  

Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja. 

Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat. 

Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.” 

Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan. 

Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku. 

Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.

Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.

Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual. 

Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”. 

Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.

Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.

Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.

Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Dokter Gigi Sambil Berwirausaha di Sela Waktu Lowong di Belgia yang Menantang

Melanjutkan program Cerita Sahabat Spesial Episode Maret 2025, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan berprofesi sebagai dokter gigi.

Dia adalah Drg. Asti Sutanto yang tinggal di Belgia sudah lebih dari 10 tahun untuk bercerita bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapinya sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2025.

Dokter gigi Asti berasal dari Surabaya, kemudian pindah ke Belgia tahun 2006 untuk memulai studi lanjutan. Sehari-hari, dokter gigi Asti bekerja 4 hari dalam seminggu dan aktif untuk berbisnis produk-produk Indonesia di Belgia.

Follow us

Drg. Asti pernah menempuh studi kedokteran gigi di Indonesia selama lima tahun. Keputusannya untuk pindah ke Belgia, didasari oleh keinginannya untuk menempuh pendidikan lanjutan di Belanda. Menurutnya, praktik bekerja sebagai dokter gigi di Belgia bukan hal yang mudah di awal kariernya.

Menurut dokter gigi Asti, dia harus menghadapi berbagai perangai pasien dan mentalitas orang lokal, yang kadang disertai dialek dalam berkomunikasi dengannya. Meski begitu, Asti pun perlu memiliki asuransi untuk menjamin keamanan finansialnya selama tinggal di Belgia.

Dokter gigi Asti juga menjelaskan perbedaan sistem asuransi kesehatan di Belanda dengan di Belgia yang berbeda. Selama bekerja menjadi dokter gigi, dia tidak mengalami perlakuan diskriminasi dari pasien-pasien yang ditangani mengingat tak banyak dokter gigi yang praktik di area tersebut.

Apa saja pengalaman dan tantangan yang dialami Asti sebagai dokter gigi di Belgia lebih dari 10 tahun? Mengapa dia perlu ke Belanda dulu? Apa maksudnya sistem undian ketika mau studi kedokteran gigi di Belanda? Apa benar biaya kuliah kedokteran gigi lebih murah di Belgia dibandingkan pengalaman dokter gigi Asti sewaktu di Indonesia dulu?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(WARGA MENULIS) Puisi – Atas Nama Kemanusiaan

Atas Nama Kemanusiaan

Atas nama kemanusiaan,
seorang aktivis renta berbicara lirih,
sepanjang hidupnya ia mengukur jalan
mendampingi mereka yang terusir
dari gang-gang sempit yang kini berdinding beton.

Follow us



Atas nama kemanusiaan,
wajah seorang pengusaha terpampang di poster,
senyumnya tak pernah absen dari beragam kajian,
sambil menghitung laba dari proyek bantuan
yang menjual air mata anak-anak yatim.

Atas nama kemanusiaan,
seorang politikus berjanji dengan heroik
sekuat tenaga memulangkan sang pemangsa,
yang memperkosa puluhan lelaki di negeri seberang

Atas nama kemanusiaan,
sekarang giliran siapa? 

(oleh Yunita Tan, IG:yun.ita.tan)

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan, si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan diberikan kelembutan,
Diberikan kekuatan,
dan diberikan kemampuan penyembuh dari Ibu Bumi

Perempuan, menahan sakit 9 sembilan bulan demi kebaikan
Mampu meredam kemarahan saat terpinggirkan
Mampu merusak saat ditindas
Menjadi si bijak kala dilupakan

Follow us



Perempuan dihadirkan dari doa Karema yang Agung
Kami kuat, karena ditatar Maria Maramis
Tak pamrih, karena ajaran Kartini

Tahun 1919, 1000 Perempuan hadir menyuarakan HAK politik Indonesia
Tapi kini, perempuan dibatasi angka 30 persen
Tapi, kami tak gentar
Karena, kami Perempuan yang dijaga Ibu Bumi, adalah yang Terbaik.

Oleh: Gracey Wakary (IG : @ndutghe)

(WARGA MENULIS) Puisi – Namaku Perempuan

Namaku Perempuan

Namaku Perempuan
Si Empu akan apa yang ada dan yang akan ada dalam diriku sendiri.

Namaku Perempuan
Si Tuan akan apa yang aku jalankan dan inginkan tanpa perkecualian.

Namaku Perempuan
Pemimpin dari setiap mimpiku yang kujadikan kenyataan.

Namaku Perempuan
Musuh besar yang tegar akan semua gagasan dan tindakan yang melawan perempuan!.

Follow us



Ibu Bumi

Ibu Bumi memberiku Rahim
Dan tak seorangpun berhak menjadi hakim!
Tugasku……………….
Membela semua keturunan Ibu Bumi
Anakku
Anakmu
Anak mereka
Anak kita semua
Anak-anak keturunan Ibu Bumi.


Yacinta Kurniasih
@yacintakurniasih (Instragram)
Yacinta Kurniasih (LinkedIn)
Yacinta Kurniasih (FB)

(WARGA MENULIS) Puisi – Mau Kapan Lagi

Mau Kapan Lagi?

Oleh: Keket Kape

Utas medsos rame dengan puan yang tinggal puing raga
Femisida menyeruak satu demi satu terkuak
Peluh dan pilu membasahi anak, ibu, bapak, dan saudara
Di meja hijau ketok palu bebas menggelegar

Sementara di kampung seberang sungai
Puan terdiam saat terima beda tunai
Meski datang lebih awal, keringat lebih mengucur
Bahkan saat haid pun susah minta libur

Di ruang-ruang kerja di kota
Kaki puan terikat tanpa bisa lari kencang
Posisi ini, itu … mustahil
Perjuangan dikalikan nol … jadi nihil

Follow us



Dalam ladang politik, puan seringkali gigit jari
Penyelenggara lima, hanya satu yang boleh terisi
Bagaimana bisa mengisi kursi
Sudah ditentukan jumlah sebelum seleksi

Ada banyak karena …
Pujian ayah yang berbeda atas prestasi yang sama
Pun mbalung sumsumnya “Surga nunut, neraka katut”
Puan hanyalah “kanca wingking” yang mesti nurut

Tidak bisa menunggu lagi …

Sebab menunggu untuk apa?
Untuk siapa?
Setiap detik dan intervalnya adalah anugerah Sang Pemberi Waktu
yang mestinya puan merekahkan senyum

*Keket KaPe adalah nama pena Chatarina Pancer Istiyani
FB: Chatarina Pancer Istiyani
IG: Chatarina Pancer Istiyani
YT: Chapaist Channel

(WARGA MENULIS) Puisi – Nyi Rambut Kasih

Nyi Rambut Kasih

Wajah penuh pesona
Setiap tanah rasanya bernyawa
Para rakyat seperti tersihir warna
Oleh rambut mengurasi yang maha asih

Follow us



Ia berkebaya menjuntai panjang
Terus mencari-cari ketenangan pada sebuah legenda
Meski kadang menjadi propaganda
Tetapi tentu yang terjadi bukan risalah semata

Kadang aku tak paham mengapa perempuan dianggap mistis
Mengapa tak pernah diberi ruang realitis?
Apakah kita hanya hidup pada dunia magis?
Atau sengaja dibiarkan guna-guna dan menangis?

Note : Nyi Rambut Kasih merupakan tokoh perempuan asal majalengka yang memiliki kemampuan ngahiyang (menghilang) ia terkenal cantik, sakti, dan berambut panjang menjuntai.

Oleh: Noviyanti (akun sosial media novii.yp)

(WARGA MENULIS) PUISI – Lorong

Lorong

Marah!
Kenong seperti sudah habis kesabaran,
mengeluh tubuhnya dibentur kayu
Gema monoton minta tolong, susup di bawah sadar.
Kalau gini terus lama-lama aku bisa kesambet.

Rahimku dipenuhi janji kepalsuan
Membesar, menyesak anyir bau nafas lelaki birahi.

Follow us



Dia tak mungkin tau bagaimana menjadi bapak,
kencing saja belum lurus.
Apalagi aku, masa depanku petang.
Bagaimana mau jadi ibu?
dari sekolahpun aku ditendang.

“Cetarrrr!!”
Angin yang dari tadi diam, mengumpat ditampar pecut
Tubuh liuk, hilang ditelan ketidakadilan
Tak ada menu lain, memang hanya beling yang bisa kumakan.

Aku perempuan ditikam takdir,
menebus dosa syair jahanam rayuan setan.

Rena (@renananina)

(WARGA MENULIS) Puisi – Mahina

Mahina*

Mahina tak lelah bergulat dengan zaman
Ketika pencakar langit bersaing dengan puncak Binaiya
Mahina ingin tetap pegang dayung dalam pesawat

Mahina masih bergulat dengan zaman
Keluar dari bumi Nunusaku dengan kebaya
Mahina ingin sagu dan kelapa berderajat dunia

Mahina bergulat dengan zaman
Saat pasar riuh dengan bahasa saudagar
Mahina ingin bahasa tana lantang terdengar

Mahina takkan lelah bergulat dengan zaman
Mahina menarik tali rotan dengan kuat
Sengit semangatnya sekeras ombak musim barat

Mahina selalu bergulat dengan zaman
Mengandung dan melahirkan saja ia kalahkan
Tanah, gunung, dan pulau ia buahkan

Mahina tetap berdaya karena percaya
Walaupun perubahan terbit di ufuk barat
Matahari tak pernah terbenam di gunung timur


Ambon, 31 Januari 2025
*) Berarti ‘perempuan’ dalam salah satu bahasa daerah di Maluku

Nama Penulis: Eka Julianty Saimima

Nama Akun Media Sosial: eskhy_s

(WARGA MENULIS) Puisi – Aku yang Tak Utuh

Aku yang Tak Utuh

Di antara riuhnya suara bising
pandanganku kabur jauh tenggelam dalam diri yang asing
Layaknya deru kehidupan yang selalu riuh
Mengoyak gejolak isi kepalaku yang terasa penuh

Entah berapa kali aku berseru “Apakah aku masih utuh?”
Jeritan batin menukik diantara hening malam yang gaduh
Menerima takdir semesta dengan menggerutu “Bisakah KAU segera menjemputku?”
Ucapku merayu sembari derai air menggenangi ujung kelopak mata yang sayu

Follow us

Hingga aku tersadar bahwa diriku tak pernah utuh
Bahkan untuk hidup yang katanya milikku
Nyatanya kakiku lebam membiru dan mulutkupun membisu kaku
Tidak selayaknya merpati yang kedua sayapnya terbang bebas jauh

Kata orang aku pasti mampu, ucap mereka dengan angkuh
Yang pada kenyataannya aku hanya manusia yang rapuh
Tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih hidupku
Karena bagi mereka, aku hanya seorang Perempuan yang wajib patuh untuk mendapatkan surga Itu

Oleh: Ayu Erviana (akun Instagram: ayu_erviana)