(PODCAST RUMPITA) Memahami Psikologi dan Dunia Parenting di Prancis

Dalam episode kali ini, RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) menghadirkan narasumber spesial: Ranindra Anandita seorang psikolog yang tinggal dan praktik di Bordeaux, Prancis.

Bersama host Anna (dari Jerman) dan Rena (dari Swiss), obrolan kali ini berfokus pada isu parenting, pengalaman studi psikologi, serta tantangan menjadi psikolog Indonesia di luar negeri.

Ranindra memulai kehidupannya di Prancis sejak tahun 2015 untuk melanjutkan SMA. Ia kini memiliki praktik psikologi pribadi dan juga bekerja di sebuah institusi pendidikan setara sekolah dasar.

Praktiknya berfokus pada remaja dan keluarga, serta menangani anak-anak atau dewasa dengan kebutuhan khusus. Ia juga menggunakan pendekatan schema therapy dalam proses terapinya.

Ranindra memilih studi psikologi di Prancis karena ketertarikannya pada isu parenting, terutama dalam konteks pernikahan campuran antara warga Indonesia dan Prancis.

Topik yang juga ia angkat dalam skripsi S1-nya. Ia menempuh kursus bahasa Prancis intensif selama 8 bulan untuk mencapai level B2, yang menjadi syarat masuk studi S2 di sana.

Namun, ia mengakui tahun pertamanya sangat berat. Kurangnya kemampuan bahasa dan sistem kuliah dalam bahasa Prancis membuatnya menangis setiap hari.

Di Prancis, sistem pendidikan pascasarjana lebih berfokus pada observasi di institusi atau rumah sakit, berbeda dengan di Indonesia di mana mahasiswa lebih cepat mendapat pengalaman langsung dengan klien.

Dalam praktiknya, Ranindra banyak menemui tantangan ketika kliennya berasal dari budaya Indonesia. Salah satu contoh kasus adalah ibu asal Indonesia yang menikah dengan pria Prancis. Dalam kasus seperti ini, Ranindra mengaku kesulitan menjembatani perbedaan nilai budaya terkait peran orang tua dan anak, seperti:

  • Di Indonesia, orang tua dianggap selalu benar dan anak tidak boleh membantah.
  • Di Prancis, suara anak lebih dihargai dalam pengambilan keputusan keluarga.

Ketika klien berharap Ranindra bisa “memahami” karena sama-sama orang Indonesia, justru ia merasa lebih “berjarak” karena kini terbiasa dengan pendekatan budaya Prancis. Sebaliknya, ia tidak mengalami kendala berarti saat menangani klien berbahasa Prancis karena sistem dan latar belakang studinya sudah sesuai.

Follow us

Untuk klien pertamanya di klinik, ia menangani anak pemalu yang baru saja mengalami perceraian orang tua. Ibunya, yang juga seorang psikolog, menjadi support penting dan membuat Ranindra merasa lebih nyaman memulai praktik profesional.

Ranindra menggunakan pendekatan Schema Therapy, yang menurutnya berasal dari pemikiran Carl Jung. Pendekatan ini melihat pola pikir atau thinking patterns yang terbentuk sejak kecil akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi, baik secara emosional maupun fisik.

Ada 13 pola pikir atau schema, salah satunya adalah “abandonment”, perasaan bahwa semua orang akan meninggalkan kita. Hal ini bisa timbul dari pengalaman traumatis kecil yang berulang, seperti sering dicap bodoh oleh guru atau ditolak.

Untuk mengenali dan menyembuhkan schema ini, pasien dibimbing membuat life calendar, merefleksikan pengalaman penting dalam hidup, dan membayangkan kembali respons ideal yang mereka harapkan saat itu.

Namun, Ranindra menekankan bahwa semua analisis dan diagnosis yang ia berikan adalah hipotesis yang akan dieksplorasi bersama klien.

Menutup obrolan, Anna dan Rena bertanya tentang akses layanan psikologi bagi warga Indonesia yang tinggal di Prancis.

Meski tidak dijelaskan rinci dalam episode ini, pengalaman Ranindra memberi gambaran bahwa ada jalur profesional yang tersedia, baik melalui institusi pendidikan, rumah sakit, maupun praktik pribadi seperti miliknya.

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancangara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.ruanita.com atau hubungi info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Bijak Berinternet Melalui Edukasi dan Literasi Digital yang Tepat

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku, Zakiyatul Mufidah, yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Saat ini, aku sedang menjalani tahun ketiga studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Berada di luar negeri membuka banyak perspektif baru bagiku, terutama tentang bagaimana dunia digital dipandang dan diatur dengan lebih ketat dibandingkan di Indonesia.

Di Inggris, kesadaran akan keamanan dan privasi digital begitu tinggi. Contohnya, penggunaan gambar di internet benar-benar dikontrol. Di sekolah anakku, misalnya, memiliki aturan ketat tentang pemakaian foto anak-anak di media sosial. Setiap orang tua harus memberikan izin tertulis jika foto anak mereka ingin digunakan di situs web atau akun media sosial sekolah. Ini berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana masih banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya menjaga privasi di dunia maya.

Sebagai seorang yang sedang meneliti aktivitas perempuan di dunia digital, aku menyadari betapa pentingnya menjaga akun kita dari ancaman siber. Salah satu cara paling dasar adalah menggunakan Double Authentication atau bahkan Multiple Authentication saat masuk ke akun digital. Pernah suatu kali, aku gagal mengakses akun emailku, karena dianggap akses ilegal ke emailku. Beruntung, aku menerapkan sistem keamanan ganda, sehingga menyelamatkanku dari peretasan.

Sahabat Ruanita, ini bukan hanya tentang melindungi akun, kesadaran digital juga berarti memahami ancaman seperti phishing dan pemakaian WiFi publik yang tidak aman. Dulu, aku pernah meremehkan ancaman ini hingga akhirnya menyadari bahwa akses WiFi publik bisa menjadi celah bagi peretas untuk masuk ke akun pribadi kita. Pengalaman ini mengajarkanku untuk selalu berpikir dua kali sebelum mengklik tautan atau menggunakan jaringan internet yang tidak terpercaya.

Budaya Digital di Indonesia dan Tantangannya

Oh ya, selain perlindungan teknis, kita perlu perhatikan juga aspek budaya digital yang juga menjadi tantangan, khususnya di Indonesia. Kultur online kita masih mentoleransi tindakan seperti cyberbullying, pencurian data, hingga penyalahgunaan informasi. Berbeda dengan di Inggris, di mana ada sanksi sosial dan hukum yang jelas bagi pelaku kejahatan digital, di Indonesia masih banyak kasus yang tidak mendapat perhatian serius.

Cyberbullying misalnya, masih dianggap sebagai hal yang wajar di Indonesia. Banyak kasus di mana korban justru disalahkan atau dianggap “berlebihan” saat melaporkan kejadian tersebut. Di Inggris, bahkan tindakan sekecil mengunggah foto seseorang tanpa izin bisa menimbulkan konsekuensi serius, baik secara hukum maupun sosial. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran tentang hak privasi dan etika digital yang perlu lebih diperhatikan di Indonesia.

Sahabat Ruanita juga perlu tahu bahwa banyak orang masih abai terhadap keamanan akun digital mereka. Banyak yang menggunakan kata sandi yang lemah atau tidak menerapkan sistem keamanan tambahan. Padahal, dengan maraknya kejahatan siber, langkah-langkah perlindungan ini sangatlah penting. Di Indonesia, juga masih banyak orang yang tidak sadar akan bahaya phishing dan serangan siber lainnya, yang sering kali datang dalam bentuk email atau tautan mencurigakan.

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak tentang Internet

Sebagai orang tua, aku merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi anak-anakku tentang cara berinternet yang aman dan bertanggung jawab. Aku sering berbincang dengan mereka tentang digital literacy—yang mencakup keterampilan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Sebab, internet bukan hanya soal hiburan, tetapi juga ruang yang harus dipahami dan dikelola dengan bijak.

Di sekolah anakku, di Inggris pun aktif dalam mengajarkan keamanan digital kepada murid-muridnya. Misalnya, sebelum mengambil atau menyebarkan foto teman sekelas, mereka harus meminta izin terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, di mana masih banyak anak yang dengan mudahnya mengambil foto teman dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang. Apakah ini juga dialami sahabat Ruanita lainnya?

Selain itu, sekolah juga memberikan aturan ketat mengenai penggunaan media sosial. Anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak diperbolehkan memiliki akun di platform seperti TikTok atau Instagram. Para orang tua juga diminta untuk menandatangani surat persetujuan terkait penggunaan gambar anak mereka di acara sekolah. Ini adalah contoh bagaimana regulasi yang jelas bisa membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Regulasi dan Penegakan Hukum di Indonesia

Bagaimana pun, salah satu faktor yang membuat internet di Indonesia masih terasa kurang aman adalah lemahnya penegakan hukum terkait kejahatan siber. Di Inggris, regulasi mengenai keamanan digital diterapkan dengan sangat ketat. Namun, di Indonesia, masih ada banyak celah dalam sistem hukum yang membuat para pelaku kejahatan digital bisa lolos tanpa konsekuensi yang berarti.

Misalnya, ada kasus di mana seorang guru melaporkan tindakan tidak etis di sekolahnya, tetapi malah justru ia yang terkena sanksi hukum. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan dalam penerapan hukum, di mana yang memiliki kekuasaan sering kali lebih dilindungi dibandingkan rakyat biasa.

Selain itu, ada juga permasalahan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang sering kali digunakan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah atau pihak berkuasa. Banyak pasal dalam UU ITE yang ambigu dan bisa diinterpretasikan secara berbeda-beda, sehingga justru seringkali merugikan masyarakat biasa.

Pentingnya Edukasi dan Literasi Digital

Oleh karena itu, aku semakin yakin bahwa literasi digital bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab bersama—antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Edukasi adalah kunci untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang bagaimana menggunakan internet dengan aman dan bertanggung jawab.

Menurut sahabat Ruanita, bagaimana dengan di Indonesia? Menurutku, masih banyak orang yang menggunakan internet tanpa benar-benar memahami risiko dan etika dalam dunia digital. Banyak yang asal berbagi informasi tanpa mengecek kebenarannya, atau bahkan ikut menyebarkan ujaran kebencian tanpa menyadari dampak negatifnya. Oleh karena itu, kampanye literasi digital harus lebih digencarkan, baik melalui media sosial, sekolah, maupun komunitas lokal.

Selain itu, orang tua juga harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet anak-anak mereka. Ada banyak alat dan aplikasi yang bisa membantu memfilter konten yang tidak pantas untuk anak-anak. Dengan pengawasan yang baik, anak-anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinternet dengan aman.

Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memiliki ekosistem digital yang lebih aman, di mana setiap orang merasa terlindungi dan bisa memanfaatkan teknologi dengan maksimal tanpa harus takut akan ancaman siber. Karena pada akhirnya, dunia maya adalah bagian dari kehidupan kita, dan sudah seharusnya kita menjaganya seperti kita menjaga dunia nyata.

Penulis: Zakiyatul Mufidah yang kini sedang menempuh studi PhD, akademisi, dan relawan Ruanita di Inggris. Cerita ini juga ditulis ulang berdasarkan program cerita sahabat spesial yang rilis bulan Februari 2025 lalu.

(PODCAST RUMPITA) Statistik dalam Kehidupan Sehari-hari dan Pembangunan Dunia

Dalam rangka memperingati World Statistic Day, Podcast Rumpita menghadirkan Yoga Dwi Nugroho, seorang mahasiswa S2 di University of Edinburgh yang tengah menempuh studi di bidang Statistik Web Data Science.

Diskusi yang dipandu oleh Daya, yang tinggal di Belanda, dan Anna yang membahas pentingnya statistik dalam berbagai aspek kehidupan, terutama bagi perempuan dan masyarakat luas.

Menurut Yoga, statistik bukan sekadar angka, tetapi juga alat penting dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.

Dengan memahami data, masyarakat dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan membuat keputusan yang lebih tepat.

Follow us

Yoga juga berbagi pengalamannya selama sembilan tahun berkecimpung di dunia statistik, baik dalam pendidikan maupun di Badan Pusat Statistik (BPS).

Banyak orang merasa takut dengan statistik karena identik dengan angka dan perhitungan rumit. Namun, Yoga menekankan bahwa memahami konsep dasar, seperti mean, median, dan modus, dapat membantu siapa saja lebih akrab dengan dunia statistik.

Selain itu, kemampuan berpikir kritis, komunikasi data, serta pemahaman alat analisis seperti Python menjadi keterampilan penting dalam era digital.

Diskusi juga menyinggung peran statistik dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, riset ilmiah, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Yoga menjelaskan bahwa AI sendiri dibangun berdasarkan prinsip statistik, sehingga pemahaman statistik tetap relevan meskipun teknologi semakin canggih.

Sebagai penutup, Yoga mengajak pendengar untuk lebih sadar akan pentingnya statistik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berbelanja online hingga memahami tren sosial, statistik membantu kita membuat keputusan lebih rasional dan berbasis data.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-42 berikut ini dan pastikan FOLLOW akun spotify kami ya:

(SIARAN BERITA) Film “Dua Kali” Dorong Kesadaran Kesehatan Mental dan Berani Patahkan Stigma Sosial

BERLIN, 18 Oktober 2025 – Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial yang kuat, khususnya dalam isu kesehatan mental. Mengusung tema “Berani Bicara akan Kesehatan Mental”, acara Diskusi & Nonton Bareng Film “Dua Kali” berhasil diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2025, di Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Ruanita Indonesia, KBRI Berlin, Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin, dan Kesmenesia, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka percakapan publik tentang kesehatan mental, meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia di Jerman terkait stigma sosial, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya relawan Ruanita di Jerman, sebagai kreator lokal yang berani mengangkat isu kesehatan mental.

Acara dimulai pukul 16.00 dengan registrasi dan ramah tamah, diikuti pengantar dari Rensi, dilanjutkan sambutan dari Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Dimas Wisudawan.

Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter “Dua Kali” yang disutradarai oleh Ullil Azmi dan diperankan oleh Mariska Ajeng, keduanya tinggal di Hamburg.

Follow us

Film ini menampilkan pengalaman hidup individu dengan gangguan mental dalam konteks transnasional, sekaligus menjadi medium untuk membangun empati dan membuka dialog publik.

Sesi diskusi panel menghadirkan perspektif bagaimana kehidupan lintas budaya Indonesia-Jerman yang dimoderasi oleh Rensy Kireyne, mahasiswi di Jerman. Penanggap adalah Walter Ng, yang juga seorang mahasiswa di Jerman dengan lugas menceritakan pengalaman dan tantangan tinggal di Jerman, termasuk bagaimana menghadapi isu kesehatan mental.

Tim film berbagi proses kreatif pembuatan film dan refleksi tentang keberanian mematahkan stigma sosial. Firman Tambunan, Co-founder Kesmenesia dan Psikolog Klinis di Jerman, ikut memberikan pandangan profesional mengenai prosedur mengakses layanan kesehatan mental di Jerman, serta perspektif budaya Indonesia terkait stigma mental. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta, yang berlangsung hingga malam hari.

Acara ini dihadiri oleh komunitas Indonesia di Berlin dan sekitarnya, serta individu yang tertarik pada kesehatan mental, psikologi, dan budaya Indonesia. Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta dapat melihat bagaimana film dapat menjadi alat advokasi sosial, mendorong kesadaran baru, serta memperkuat solidaritas komunitas terhadap isu kesehatan mental.

Dalam kesempatan ini, Kesmenesia juga diperkenalkan sebagai organisasi yang berfokus pada layanan komunitas Indonesia di Eropa secara profesional dan inklusif, dalam menyediakan pendampingan kesehatan mental yang berbasis empati dan keterbukaan.

Acara Diskusi dan Nonton Bareng Film “Dua Kali” menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat bersinergi untuk menciptakan ruang dialog yang aman, mematahkan stigma, dan mendorong masyarakat lebih berani membicarakan isu kesehatan mental.

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Ruanita dan KBRI New Delhi Gelar Diskusi Daring dan Hadirkan Wawasan Lintas Budaya untuk Keluarga Indonesia–India

NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.

Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.

Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.

Follow us

Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.

Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.

Follow us

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.

Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.

Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)

Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Diskusi Online Untuk Perkuat Solidaritas Orang Indonesia di Finlandia dan Estonia

HELSINKI, 28 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki menyelenggarakan diskusi online bertajuk “Resiliensi Bermigrasi di Finlandia” yang dihadiri sejumlah warga Indonesia di Finlandia dan di Estonia serta berbagai warga Indonesia lainnya yang tertarik dengan tema psikologi dan budaya.

Kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi inspirasi, tantangan, serta strategi adaptasi bagi warga Indonesia yang merantau di Finlandia maupun masyarakat yang tertarik dengan isu migrasi.

Migrasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan penyesuaian sosial, budaya, dan psikologis. Bagi orang Indonesia di Finlandia, keberhasilan dalam studi, karier, maupun kehidupan sosial kerap ditentukan oleh resiliensi, strategi coping, dan pemahaman budaya lokal.

Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menghadirkan ruang reflektif dan interaktif, sekaligus memberikan inspirasi nyata dari pengalaman para perantau yang telah sukses membangun kehidupan di negeri rantau.

Acara ini dibuka oleh Dubes RI untuk Finlandia dan Estonia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari Evita Haapavaara, seorang wiraswasta asal Indonesia yang berhasil membangun usaha di Helsinki. Diskusi juga menghadirkan Desiree Luhulima, praktisi pendidikan dasar di Finlandia yang menguraikan nilai-nilai pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun resiliensi dan keterampilan sosial di lingkungan baru.

Selain itu, Yuniar Paramita Sari, peneliti di bidang migran di Hong Kong, yang memaparkan perspektif sosial dan budaya tentang tantangan migrasi yang aman dan bijak, serta pentingnya dukungan komunitas dalam proses adaptasi.

Diskusi ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Helsinki, dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta penarikan benang merah dari keseluruhan pembahasan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh dinamika kehidupan perantau di Finlandia dan Estonia.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis, inspirasi, serta memperluas jejaring komunitas yang dapat memperkuat solidaritas sesama orang Indonesia di negeri rantau. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Ruanita Indonesia di www.ruanita.com.

Simak rekaman acara berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perdamaian Lewat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Ruanita Indonesia melalui program Cerita Sahabat Spesial (CSS) terus mengukuhkan diri sebagai penggerak perubahan positif di masyarakat dengan mengangkat tema-tema yang inspiratif dan relevan setiap bulannya.

Untuk edisi September 2025, CSS menghadirkan sosok Maria Regina Jaga, seorang praktisi dan aktivis pendidikan anak usia dini asal Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk membangun pendidikan berbasis kearifan lokal.

Dalam percakapan hangat dan mendalam ini, Maria mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan, tidak sekadar sebagai upaya mentransfer ilmu pengetahuan, namun sebagai sarana menanamkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.


Maria membuka ceritanya dengan sebuah pernyataan kuat: “Kearifan lokal adalah kekuatan.” Ia meyakini bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter yang sejati justru tumbuh dari pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan sendiri, bukan dari adopsi mentah-mentah model pendidikan luar.


Sebagai seorang master pendidikan anak usia dini, Maria telah lama menerapkan pendekatan ini dalam praktik. Ia memanfaatkan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna.

Melalui cerita-cerita lokal, anak-anak belajar memahami nilai persatuan dalam keberagaman, pentingnya kontribusi individu dalam komunitas, dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan sosial-budaya mereka.

Gotong Royong sebagai Nilai Universal

Maria menyoroti pentingnya gotong royong, sebuah nilai yang ia temukan masih sangat kuat dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya saat membangun rumah adat.

Dalam proses ini, semua elemen masyarakat, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, berpartisipasi tanpa merasa lebih dominan satu sama lain.

Nilai gotong royong ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter bisa muncul dari praktik budaya.

“Setiap individu dihargai atas kontribusinya. Tidak ada yang lebih menonjol,” katanya.

Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pendekatan inklusif yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.

Pendidikan Damai dalam Praktik Sehari-hari

Salah satu poin paling menyentuh dalam cerita Maria adalah pengalamannya menyaksikan harmoni lintas agama dalam perayaan keagamaan.

Saat umat Katolik merayakan Natal dan Paskah, komunitas Muslim dan penganut agama lain turut serta menjaga keamanan dan membantu pelaksanaan acara.

Bagi Maria, inilah contoh nyata bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadir dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan dan kerjasama antarkomunitas.

Ini adalah jenis pendidikan damai yang tidak hanya diajarkan lewat buku teks, tetapi melalui pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Inklusif dan Relevan Budaya

Maria juga mengkritisi bagaimana kurikulum nasional saat ini masih terlalu berat sebelah, dengan banyak referensi yang hanya mewakili budaya Indonesia bagian barat.

Ia menekankan pentingnya pemerataan representasi budaya dalam materi pelajaran agar anak-anak dari Indonesia Timur pun merasa diwakili dan dihargai.

Ia menyarankan agar lokal konten seperti legenda daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat lokal dimasukkan secara sistematis dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap budaya lain.

Teknologi dan Tradisi: Bukan Pilihan, tapi Harmoni

Maria tidak menolak kemajuan teknologi. Ia menyadari bahwa dunia saat ini menuntut generasi muda untuk melek digital dan siap bersaing di era global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sumber pembelajaran,” ujarnya. Ia mengajak para pendidik untuk tetap mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses digitalisasi pendidikan, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Pendidikan untuk Perdamaian Lintas Generasi

Salah satu visi besar Maria adalah menciptakan pendidikan yang mampu menjembatani generasi tua dan muda dalam membangun perdamaian.

Pendidikan yang baik menurutnya adalah yang memungkinkan interaksi lintas usia dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan melibatkan para tetua adat atau pengrajin tradisional dalam kelas-kelas tematik.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pembelajaran semacam ini menjadi oase yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan antar generasi.

Harapan dan Seruan kepada Pemerintah

Di akhir sesi, Maria menyampaikan harapannya kepada pemerintah Indonesia agar lebih membuka ruang bagi para pendidik, terutama dari wilayah timur Indonesia, untuk terlibat dalam perumusan dan implementasi kebijakan pendidikan.

Ia meminta agar suara dari daerah tidak hanya dijadikan formalitas dalam dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam praktik lapangan.

Kurikulum nasional, menurutnya, harus lebih dari sekadar dokumen teknis. Ia harus menjadi cerminan dari identitas kolektif bangsa, yang menghormati dan merayakan keragaman budaya sebagai kekayaan yang memperkuat, bukan memecah.

Ruanita Indonesia dan CSS: Mengangkat Suara Pinggiran

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) adalah program bulanan, diprakarsai oleh Ruanita Indonesia memang dikenal sebagai ruang yang memberi panggung bagi cerita-cerita yang jarang terdengar di media arus utama.

Melalui CSS, Ruanita menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Maria yang membagikan pengalaman dan gagasannya demi membangun Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan damai.

Dalam konteks ini, CSS edisi September 2025 bukan sekadar sesi berbagi, melainkan seruan kuat agar pendidikan di Indonesia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan perdamaian.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami: