Program diskusi bulanan Audio Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, kembali hadir dengan diskusi inspiratif lintas negara. Dipandu oleh Anna, host Podcast yang menetap di Jerman, episode kali ini mengangkat tema yang semakin relevan di era global: dunia hospitality, kepemimpinan, dan entrepreneurship.
Seperti biasa, Anna didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, Griska Gunara, yang saat ini berdomisili di Inggris (UK). Pengalaman panjang Griska di dunia kerja internasional membuat diskusi terasa lebih kaya dan kontekstual.
Griska membuka diskusi dengan refleksi pengalamannya di industri hospitality sejak pertengahan 2000-an. Menurutnya, hospitality memang berakar pada pelayanan, namun praktiknya sangat bergantung pada budaya, regulasi, dan standar di masing-masing negara.
Diskusi pun semakin menarik ketika Anna memperkenalkan tamu spesial dari Swiss, sosok muda Indonesia yang tengah menekuni dunia hospitality secara akademik dan praktis.
Informan yang diundang adalah Diva Arya Saskia Putri, mahasiswa Magister Hospitality, Entrepreneurship, and Innovation di Glion Institute of Higher Education, Swiss. Diva merupakan penerima Beasiswa LPDP, alumni Bandung, sekaligus Ketua PPI Swiss–Liechtenstein periode 2024–2025.
Tak hanya aktif secara akademik dan organisasi, Diva juga dikenal sebagai figur muda inspiratif yang memadukan dunia studi, kepemimpinan, dan bisnis digital.
Dalam diskusi, Diva membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak instan. Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak SMA. Ia akhirnya memilih International Class di ITB, dengan satu tahun masa studi di Inggris. Latar belakang akademiknya adalah business school, yang sama sekali belum bersinggungan langsung dengan hospitality.
Meski begitu, ketertarikannya pada dunia kuliner, traveling, dan pariwisata terus terpendam. Setelah lulus S1 di usia yang sangat muda, sekitar 19 tahun, Diva memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, sesuai arahan orang tua, demi memahami dunia profesional sebelum benar-benar terjun membangun bisnis sendiri. Ia menghabiskan hampir lima tahun bekerja di dunia startup dan e-commerce di Jakarta sebelum akhirnya kembali mengejar mimpi lamanya: menempuh pendidikan hospitality di Swiss.
Sebagai mahasiswa magister, ketua organisasi pelajar, sekaligus pebisnis, Diva mengakui pentingnya manajemen waktu. Ia membagikan prinsip sederhana namun konsisten yang ia pegang. Menurutnya, semua orang memiliki 24 jam yang sama. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola. Ia membagi hari menjadi tiga bagian besar: waktu tanggung jawab (belajar atau bekerja), waktu istirahat, dan waktu personal yang menentukan kualitas hidup.
“Lima jam sisa itu yang bikin perbedaan. Mau dipakai untuk berkembang atau habis untuk scrolling,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya to-do list harian, kalender digital, dan evaluasi rutin sebelum tidur untuk menjaga produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan hidup.
Pengalaman lintas negara memberi Diva perspektif baru tentang hospitality. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memberikan layanan. Swiss, yang kerap disebut sebagai “jantung hospitality dunia”, memberikan kesan mendalam baginya.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungan ke sebuah vila retreat di Swiss yang menerapkan konsep disconnect from technology. Para tamu diajak kembali menyatu dengan alam, tanpa internet, tanpa distraksi digital.
“Di situ aku sadar, hospitality bukan cuma soal profit, tapi juga sustainability, lingkungan, dan memberi dampak ke masyarakat,” tuturnya dengan emosional.
Menutup diskusi, Diva menyoroti tren besar di industri hospitality dan bisnis: AI, big data, dan personalisasi layanan. Menurutnya, hospitality modern menuntut empati yang didukung teknologi, mengenal tamu lebih dalam bahkan sebelum mereka datang.
Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu berarti langsung membangun bisnis besar. Entrepreneur adalah mindset: berani mengambil risiko, memahami diri sendiri, dan terus belajar.
“Sebelum melangkah, kenali diri kita. Lakukan assessment, pahami kekuatan dan kelemahan. Dari situ baru tentukan strategi,” pungkasnya.
Simak selengkapnya diskusi berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.
Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.
Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.
Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.
Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.
Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.
Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.
Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.
Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.
Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.
Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.
Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.
Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.
Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.
Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.
Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.
Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.
Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.
Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.
Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.
Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.
Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.
Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.
Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.
Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.
Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.
Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.
Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.
Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.
Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.
Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.
Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.
Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.
Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.
Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.
Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.
Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.
Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.
Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.
“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.
“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.
Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.
Halo, sahabat Ruanita! Saya sudah hampir 14 tahun, tinggal di Dubai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota yang megah sekaligus ramah ini. Saya datang sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengikuti suami bekerja di luar negeri.
Awalnya, kehidupan di tanah rantau tentu penuh penyesuaian. Namun, pelan-pelan saya belajar bahwa kunci untuk bertahan bukan hanya soal mengurus rumah atau keluarga, tetapi juga bagaimana saya bisa menemukan ruang untuk diri sendiri, tempat untuk berkembang, sehat, bahagia, sekaligus menjalin persahabatan.
Saya, Utari Giri, akhirnya menemukan ruang itu melalui bulutangkis. Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal, tetapi kini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Lebih dari sekadar olahraga, bulutangkis telah membawa saya pada perjalanan yang penuh makna, membentuk komunitas yang kini saya sebut keluarga kedua: Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai.
Ceritanya sederhana. Dulu, di akhir pekan, kami sering bermain bulutangkis bersama keluarga. Para suami libur kerja, anak-anak ikut berlarian, sementara para istri mencoba ikut memukul kok sekadar untuk mengisi waktu. Lama-kelamaan, muncul ide dalam hati saya: kenapa tidak dibuat lebih rutin? Kenapa tidak ada wadah khusus bagi perempuan Indonesia di Dubai yang ingin bermain bulutangkis di luar akhir pekan?
Saya pun mengajak beberapa ibu untuk berlatih bersama. Ternyata sambutannya sangat positif. Banyak yang ingin ikut, bahkan ada yang baru pertama kali mencoba olahraga ini. Dari situlah, pada tanggal 26 Mei 2022, lahirlah Indonesian Ladies Badminton (ILB).
Sejak saat itu, bulutangkis bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan menjadi rutinitas yang saya dan teman-teman nantikan setiap minggu. Lucunya, saya sendiri baru benar-benar mengenal olahraga ini setelah ILB berdiri. Namun, entah kenapa, saya langsung jatuh cinta.
Sebelum ada ILB, kebersamaan perempuan Indonesia di Dubai sering terwujud dalam kegiatan arisan atau makan-makan. Menyenangkan, tentu saja, tetapi ada rasa yang kurang. Kami butuh aktivitas yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran.
Bulutangkis ternyata menjawab semua itu. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, cepat membakar kalori, dan tidak semahal olahraga lain yang membutuhkan perlengkapan khusus. Namun, lebih dari itu, bulutangkis membuat kami bergerak, tertawa, berteriak bersama di lapangan. Menurut saya, ini sebuah kombinasi yang luar biasa untuk melepas stres.
Pada awalnya, kami berlatih hanya sekali seminggu, setiap hari Kamis. Namun, semakin hari semakin banyak yang ketagihan. “Kok rasanya kurang kalau hanya seminggu sekali,” begitu komentar beberapa teman. Akhirnya, sejak dua tahun terakhir, jadwal bertambah menjadi dua kali seminggu: Selasa dan Kamis.
Tempat latihan pertama kami adalah Zabeel Sport District, tepat di seberang Dubai Mall. Tempat itu punya kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saya sering menyebutnya sebagai “rumah pertama” ILB. Sayangnya, satu minggu sebelum ulang tahun ILB yang ketiga, tempat itu tutup. Kami sempat sedih, tetapi latihan harus jalan terus. Kini, kami berlatih di Danube Sport World, semacam “rumah baru” ILB yang tak kalah hangat.
ILB terbuka untuk semua perempuan Indonesia di Dubai. Tidak ada syarat khusus selain niat untuk sehat dan semangat untuk konsisten. Hingga kini, anggota aktif kami lebih dari 30 orang, semuanya perempuan dengan rentang usia antara 25 hingga 50 tahun lebih. Mayoritas ibu rumah tangga, tetapi ada juga yang bekerja, bahkan beberapa masih lajang.
Yang membuat saya bangga, meskipun latar belakang berbeda-beda, semangat kami sama: ingin sehat, ingin punya teman, dan ingin bahagia.
Bagi saya pribadi, bulutangkis punya makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga. Dari sini, saya belajar banyak hal: bagaimana bekerja sama dengan pasangan bermain di lapangan, bagaimana menahan ego, bagaimana berpikir cepat untuk mengembalikan kok agar lawan sulit menerima.
Setiap pertandingan, entah menang atau kalah, selalu ada pelajaran tentang sportifitas. Menang tidak boleh membuat sombong, kalah pun tidak boleh membuat putus asa. Pelajaran ini ternyata juga berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bersosialisasi dengan teman-teman.
Namun, yang paling berharga adalah bagaimana ILB menjadi tempat untuk melepas penat. Saat rutinitas rumah tangga terasa melelahkan, bermain bulutangkis bersama teman-teman seperti mengisi ulang baterai. Tertawa bersama di lapangan adalah terapi yang tidak bisa digantikan. ILB bagi saya dan teman-teman bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga. Tiga tahun bersama, bertemu dua kali seminggu, sudah cukup untuk menumbuhkan ikatan yang dalam.
Tentu saja, tidak selalu mulus. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat atau ketegangan kecil. Namun, ketika kami ingat bahwa ILB adalah keluarga, semua bisa diredakan. Justru dari situlah kami belajar saling memahami. Solidaritas kami juga teruji di luar lapangan. Ketika ada anggota yang sakit atau keluarganya berpulang, selalu ada perwakilan yang hadir untuk memberi dukungan. Kalau ada kesulitan, biasanya teman-teman cerita langsung ke saya. Kadang saya simpan, kadang saya bagikan ke grup agar kita bisa mencari solusi bersama.
Selain itu, kami punya kebiasaan kecil yang ternyata sangat berarti: setelah latihan, biasanya kami makan siang bersama di rumah makan Indonesia. Di sanalah muncul diskusi ringan tentang anak, keluarga, pertemanan, bahkan pekerjaan. Dari obrolan santai itu, sering muncul ide-ide baru yang memperkaya kami.
Dubai, menurut saya, adalah kota yang ramah perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada tantangan besar untuk perempuan Indonesia tinggal di sini. Justru komunitas-komunitas seperti ILB membuat hidup semakin mudah.
Mungkin kendala yang ada hanya soal waktu. Sebagian besar anggota adalah ibu rumah tangga dengan rutinitas antar jemput anak sekolah. Itulah kenapa jam latihan kami dipilih pukul 10.00 hingga 12.00, agar tetap ada waktu menjemput anak pulang. Kadang saat musim ujian, anak-anak pulang lebih awal, sehingga beberapa teman harus rela absen.
Namun, dukungan keluarga sangat besar. Tidak pernah ada cerita suami yang melarang istrinya bermain bulutangkis. Malah banyak yang mendorong. Saya percaya, melihat istri sehat dan bahagia juga membuat suami dan anak-anak ikut senang.
Ada begitu banyak momen indah bersama ILB. Setiap tahun, kami punya agenda rutin: tukar kado di awal tahun, buka puasa bersama, halal bihalal, ulang tahun ILB, hingga perayaan hari kemerdekaan. Semua acara itu selalu penuh tawa dan meninggalkan kenangan manis.
Kami juga sering mengikuti turnamen. Dua kali kami bertanding persahabatan dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di Abu Dhabi. Kami juga rutin ikut turnamen KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai setiap perayaan hari kemerdekaan. Puncaknya, pada Februari 2025, kami berangkat ke Muscat, Oman, untuk mengikuti Indonesian GCC Tournament. Itu adalah turnamen persahabatan antara orang Indonesia di Timur Tengah. Kami bangga sekali bisa mewakili tim perempuan dari Uni Emirat Arab.
Saya selalu berharap ILB bisa terus menjadi wadah yang menginspirasi perempuan Indonesia di Dubai untuk peduli kesehatan, bergerak, berolahraga, dan tentu saja, menjalin persahabatan.
Saya ingin semakin banyak perempuan bergabung, tetapi dengan niat yang tulus. “Jangan hanya untuk eksis,” begitu pesan saya. Datanglah karena memang ingin berlatih, ingin sehat, ingin bahagia.
Moto kami sederhana: Health – Friendships – Happiness. Dari tiga kata ini saja sudah terlihat bahwa ILB adalah tempat yang tepat untuk siapa pun yang baru datang ke Dubai dan ingin menemukan keseimbangan hidup.
Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya ajaib bagaimana bulutangkis bisa membawa perubahan besar dalam hidup saya. Dari sekadar iseng bermain di akhir pekan, kini saya menjadi bagian dari komunitas yang berisi lebih dari 30 perempuan hebat.
Kami tidak hanya memukul kok di lapangan. Kami saling mendukung, saling menguatkan, dan saling menjaga. Di tanah rantau, jauh dari keluarga, kami menemukan rumah kedua.
Bagi saya, ILB bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang persahabatan, solidaritas, dan kebahagiaan yang tumbuh dari hati.
Dan, bagi siapa pun perempuan Indonesia yang datang ke Dubai, pintu ILB selalu terbuka. Mari bergabung, mari bergerak, mari sehat bersama. Karena di sini, setiap pukulan kok adalah energi, setiap tawa adalah obat, dan setiap pertemuan adalah berkah.
Penulis: Utari Giri, founder Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Tinggal di Uni Emirat Arab. Dapat dihubungi melalui Instagram:@utarigiri.
Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.
Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.
Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.
Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.
Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.
Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.
Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.
Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.
Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.
Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.
Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.
Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.
Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.
Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.
Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.
Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dalam program diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia kali ini, berhasil mempertemukan Indonesia dan Italia. Suara sederhana yang selama puluhan tahun akrab di telinga masyarakat Indonesia mendadak menjadi bahan diskusi lintas budaya. Diskusi antarbudaya yang melibatkan antarabudaya Indonesia-Italia berbicara bukan tentang politik, bukan pula tentang ekonomi, melainkan tentang bunyi.
Tiga ketukan sederhana itu kini terdengar jauh melampaui gang-gang kecil di Indonesia. Tung. Tung. Tung. Sahur. Bunyi yang selama puluhan tahun menjadi penanda waktu sahur di bulan Ramadan tiba-tiba melompat ke ruang digital global, muncul dalam ribuan meme, video, dan percakapan lintas negara. Dari Jakarta hingga Roma, dari TikTok hingga Instagram, bunyi itu tidak lagi hanya milik masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari percakapan dunia.
Fenomena inilah yang menjadi topik diskusi IG Live Antarbudaya Indonesia–Italia yang diselenggarakan Ruanita Indonesia. Dipandu oleh Rieska Wulandari, jurnalis sekaligus relawan Ruanita Indonesia di Italia, diskusi menghadirkan Luigi Monteranni, peneliti asal Italia yang tengah menempuh studi doktoral dan meneliti musik Nusantara. Bagi Luigi, fenomena Tung Tung Sahur menarik bukan semata karena viralitasnya, melainkan karena ia menunjukkan bagaimana sebuah bunyi dapat bergerak melintasi batas budaya dan bahasa.
Menurut Luigi, daya tarik Tung Tung Sahur justru terletak pada kesederhanaannya. Banyak orang yang ikut membagikan, menirukan, atau membuat meme tentangnya tanpa benar-benar memahami konteks Ramadan di Indonesia. Mereka tidak mengenal tradisi membangunkan sahur, tidak mengetahui sejarahnya, bahkan mungkin tidak memahami arti kata yang mereka ucapkan. Namun mereka mengingat bunyinya. Dan dalam dunia digital hari ini, sering kali itu sudah cukup untuk membuat sesuatu menjadi viral.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut memiliki kekuatan sensorik yang sangat kuat. Bunyi yang sederhana, ritmis, dan mudah diingat akan lebih cepat menempel di kepala seseorang dibandingkan penjelasan panjang tentang asal-usulnya. Ketika seseorang mendengar “Tung Tung Sahur”, ada pengalaman mendengar yang langsung bekerja sebelum logika sempat mencari makna. Bunyi itu menjadi semacam pengait yang membuat orang ingin terus mengulanginya.
Bagi Luigi, hal ini mengingatkannya pada fenomena Om Telolet Om beberapa tahun lalu. Saat itu, dunia internet dibuat penasaran oleh ribuan komentar berisi kalimat yang terdengar asing bagi orang luar Indonesia. Banyak orang Eropa bertanya-tanya apa arti “telolet” dan mengapa kata itu memenuhi akun media sosial musisi internasional. Namun pada akhirnya, bukan makna katanya yang pertama kali menarik perhatian dunia, melainkan bunyi khas klakson bus yang menjadi inti dari fenomena tersebut.
Persamaan antara Om Telolet Om dan Tung Tung Sahur, menurut Luigi, adalah hadirnya unsur misteri. Internet menyukai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah fenomena datang dari budaya yang tidak familiar, rasa penasaran menjadi semakin besar. Orang ingin tahu apa artinya, dari mana asalnya, dan mengapa begitu banyak orang membicarakannya. Dalam konteks ini, Indonesia menawarkan sesuatu yang menarik bagi dunia: ruang misteri yang belum seluruhnya terjelaskan.
Luigi menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak elemen budaya yang belum terlalu dikenal secara global. Berbeda dengan Italia yang identik dengan pizza, pasta, atau Colosseum, Indonesia sering kali hadir sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga bagi banyak orang. Justru karena belum sepenuhnya dikenali, berbagai ekspresi budaya Indonesia kerap memunculkan rasa ingin tahu yang kuat di kalangan pengguna internet internasional.
Namun di balik viralitas itu, Luigi mengingatkan bahwa Tung Tung Sahur sesungguhnya bukan sekadar bunyi lucu atau bahan meme. Di Indonesia, bunyi tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat. Ia lahir dari tradisi sosial yang telah hidup lama di berbagai daerah selama bulan Ramadan. Ada kebersamaan warga, semangat gotong royong, dan pengalaman budaya yang melekat di dalamnya. Bunyi tersebut mengandung cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren media sosial.
Ketika tradisi lokal memasuki ruang digital global, selalu ada dua kemungkinan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, makna budaya yang mendalam bisa menyusut menjadi sekadar hiburan. Namun di sisi lain, viralitas juga membuka pintu bagi orang-orang untuk mengenal budaya yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Mereka mungkin datang karena meme, tetapi bisa saja bertahan karena rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap Indonesia.
Dalam pandangan Luigi, fenomena seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hiburan sesaat. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia dengan cara yang organik. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyebarkan pengaruh budaya, baik melalui musik, batik, kuliner, maupun tradisi-tradisi keseharian yang unik. Kini, di era algoritma, salah satu jalannya bisa jadi melalui bunyi.
Diskusi malam itu akhirnya membawa satu kesimpulan menarik. Di tengah banjir informasi yang terus bergerak cepat, dunia ternyata masih bisa terhubung oleh sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah suara. Sebuah ritme. Sebuah bunyi yang berasal dari tradisi lokal di Indonesia. Dan mungkin, itulah kekuatan budaya yang sesungguhnya: mampu menciptakan ingatan bersama, bahkan bagi orang-orang yang belum pernah bertemu dan hidup di belahan dunia yang berbeda.
Ketika Tung Tung Sahur terus bergema di ruang digital, yang sedang terjadi bukan sekadar tren internet. Ada sebuah memori kolektif yang sedang melakukan perjalanan. Berangkat dari gang-gang kecil Indonesia, melintasi layar ponsel jutaan orang, lalu menemukan makna baru di berbagai sudut dunia. Ingin tahun lebih banyak, silakan simak diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia yang akan membahas fenomena budaya dari dua sisi.
Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.
Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.
Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.
Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.
Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.
“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.
Dalam rangka memperingati Bulan Indonesia di Jerman selama sebulan penuh yang diselenggarakan oleh DIG Hamburg e.V., Ruanita Indonesia berkesempatan untuk berbagi dan berdiskusi dengan warga Indonesia di Hamburg. Acara berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 5-6 Juni 2026. Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia memanfaatkan untuk menayangkan film “Dua Kali” sebagai media diskusi dan refleksi tentang tema kesehatan mental dan layanan kesehatan jiwa di Jerman. Selain itu, ada juga kesempatan untuk berdiskusi Hybrid bersama para kontributor buku ketiga “Gema dari Ruang Hening” dari berbagai lokasi negara dengan para peserta Bulan Indonesia yang datang di Hamburg. Kredit foto: Dyah Narang-Huth (DIG Hamburg e.V.)
Di episode audio podcast PMI Stories ketiga, Dewi Lubis yang menjadi host mengundang Irmawati, perempuan Indonesia yang hampir lima tahun bekerja di Korea Selatan. Sejak 2017, Irma mulai bolak-balik, hingga akhirnya menetap pada 2019 dengan visa kerja E-7. Irma bekerja di sektor otomotif, di sebuah pabrik suku cadang mobil. Pekerjaan tersebut menuntut fisik yang kuat dan kedisiplinan waktu yang ketat.
Sebagai pekerja migran, Irma kerap merasa rindu sering datang pelan-pelan. Rindu pada keluarga, pada rumah, pada suara yang terasa dekat meski jarak memisahkan ribuan kilometer. Di tengah hari kerja yang padat, keinginan untuk menelepon keluarga kerap muncul, namun tidak selalu terjawab. Di seberang sana, setiap orang juga memiliki kesibukannya sendiri.
Di titik-titik seperti itulah perasaan sendiri kerap hadir. Ketika pekerjaan terasa berat, saat mendapat teguran dari atasan, ketika melakukan kesalahan, atau saat gaji dipotong. Keinginan untuk bercerita ada, tetapi tidak selalu aman. Salah bicara bisa berujung salah paham. Akhirnya, yang tersisa hanya tangisan singkat dan usaha untuk menenangkan diri sendiri. Tutur Irma kepada Dewi secara jujur saat bercerita tantangan di negeri Gingseng tersebut.
Tantangan lain yang dihadapi adalah penyesuaian musim. Empat musim di Korea terasa ekstrem bagi tubuh yang terbiasa dengan iklim tropis. Musim dingin dengan suhu di bawah nol dan musim panas yang sangat terik sempat membuatnya jatuh sakit selama sebulan. Selain cuaca, budaya kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Ritme kerja yang cepat, target yang tinggi, dan cara komunikasi atasan yang keras menuntut kesiapan mental yang besar.
Di tempat kerja, ia berbaur dengan pekerja dari berbagai negara. Sistem kerja rolling mengharuskan setiap pekerja memahami berbagai jenis tugas. Hambatan bahasa kerap memicu kesalahpahaman, terutama ketika tidak semua rekan kerja menggunakan bahasa yang sama. Dalam situasi seperti ini, ketahanan mental menjadi penopang utama. Tanpa itu, keinginan untuk menyerah bisa muncul kapan saja.
Sebagai perempuan, pengalaman migrasi menghadirkan lapisan tantangan tambahan. Hidup mandiri di negeri orang berarti menghadapi banyak hal sendiri, tanpa keluarga, tanpa lingkar dukungan yang akrab seperti di tanah air. Namun dari situ pula tumbuh kemandirian dan keberanian. Pelan-pelan, ketangguhan dibangun dari pengalaman sehari-hari.
Dukungan sosial tidak hadir secara instan. Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya menemukan relasi yang terasa aman. Rekan kerja dari berbagai latar belakang perlahan berubah menjadi keluarga baru di perantauan. Mereka saling menguatkan, meski harus melewati proses panjang untuk saling memahami bahasa dan cara berkomunikasi.
Salah satu hal yang membuatnya bertahan adalah rasa keadilan dalam sistem kerja. Upah yang diterima sebanding dengan jam dan tenaga yang dikeluarkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dirasakan ketika bekerja di Indonesia dulu. Meski bukan satu-satunya alasan, hal ini memberi rasa aman dan kepastian.
Tentang masa depan, harapannya sederhana: pulang, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hasil perjuangan. Semua kerja keras hari ini dipandang sebagai tabungan untuk masa tua—agar suatu hari bisa beristirahat dengan tenang dan hidup lebih mandiri secara finansial.
Pesan yang ingin disampaikan kepada perempuan lain jelas: berani bermimpi, berani melangkah, dan percaya bahwa rezeki bisa datang dari berbagai arah. Keberanian sering kali hadir bersama pengorbanan, tetapi juga membuka kemungkinan baru.
Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.
Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Isu lingkungan hidup kembali menjadi topik hangat dalam program Audio Podcast Diskusi RUMPITA (Rumpi Bersama Ruanita) yang tayang bulanan di kanal Spotify Rumpita. Dalam edisi spesial memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, diskusi kali ini menghadirkan perspektif lintas negara sekaligus suara anak muda Indonesia yang bergerak nyata di bidang keberlanjutan. Dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang berdomisili di Jerman, podcast ini dibuka dengan sapaan hangat khas RUMPITA. Anna tidak sendiri dan ditemani oleh Rieska, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Milan, Italia. Percakapan ringan pun berkembang menjadi diskusi mendalam tentang tantangan dan harapan lingkungan hidup, khususnya dari sudut pandang global.
Untuk memperkaya diskusi, Anna dan Rieska mengundang sosok yang dinilai sangat relevan dengan tema. Dia adalah Aurelia Aranti Vinton, yang pernah menyandang Putri Bumi Indonesia Anti Pencemaran Udara, sekaligus aktivis lingkungan dan pendiri komunitas Sebentala. Aurelia, yang akrab disapa Aurel, saat ini tengah menempuh studi S2 Sustainable Technology di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Aurelia juga telah menamatkan studi S1 Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
“Sejak kecil saya sudah cukup aware dengan isu perubahan iklim. Lingkungan hidup itu terasa seperti passion,” ungkap Aurel dalam diskusi.
Perjalanan akademik Aurel membawanya pada kesadaran bahwa isu lingkungan tidak bisa dilihat dari satu sektor saja. Menurutnya, target global seperti net zero emission membutuhkan pendekatan lintas disiplin, mulai dari kehutanan, energi, hingga pengelolaan sampah. Ia menyoroti peran gas metana dari sampah yang bahkan berdampak lebih besar terhadap pemanasan global dibandingkan karbon dioksida. Ketertarikannya pada Swedia pun tak lepas dari komitmen negara tersebut terhadap keberlanjutan, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi melalui insinerator.
Aurel juga berbagi bahwa ia dapat melanjutkan studi berkat dukungan beasiswa LPDP. Menurut Rieska, hal ini menunjukkan meningkatnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap isu keberlanjutan. Diskusi kemudian mengarah pada komunitas Sebentala yang didirikan Aurel sejak 2023. Nama Sebentala berasal dari bahasa Sanskerta: Se berarti satu, dan Bentala berarti bumi atau tanah. Filosofinya sederhana namun kuat, manusia hanya memiliki satu bumi untuk dijaga bersama.
Inspirasi Sebentala lahir dari pengalaman Aurel saat melakukan penelitian skripsi di Kalimantan Barat. Ia menyaksikan langsung bagaimana pengetahuan lokal yang kaya belum selalu terhubung dengan pemahaman tentang dampak teknologi modern, seperti plastik yang sulit terurai.
“Hal-hal yang kita anggap sederhana di kota, ternyata belum tentu diketahui di desa,” ujarnya.
Sebentala kini memiliki sekitar 40 pionir (relawan) yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, dengan mayoritas berada di Jabodetabek. Menariknya, sebagian besar pionir adalah perempuan.
Menurut Aurel, perempuan memegang peran penting dalam perubahan perilaku sehari-hari, mulai dari pengelolaan rumah tangga hingga kebiasaan memilah sampah. “Keputusan kecil di rumah bisa berdampak besar,” katanya.
Tantangan terbesar dalam mengelola komunitas berbasis relawan, lanjutnya, adalah menjaga konsistensi dan semangat. Namun, dengan manajemen waktu dan komunikasi yang baik, Sebentala terus berkembang. Bahkan, pada 2025 mendatang, Aurel dan tim Sebentala akan mengimplementasikan proyek Youth for Climate bersama UNDP di Kalimantan Barat, fokus pada pemberdayaan pemuda dan komunitas adat Dayak di Ketapang. Rieska kemudian berbagi pengalamannya di Milan, Italia. Ia menuturkan bagaimana pemilahan sampah yang dimulai dari rumah, yang sering kali dimotori para ibu, sehingga berujung pada sistem energi terintegrasi untuk transportasi publik.
“Dua juta penduduk Milan, sampah organiknya kembali ke kami sebagai energi. Transportasi publik jadi murah, bersih, dan bisa diandalkan,” jelas Rieska menambahkan pengalaman kesehariannya di Milan, Italia.
Aurel menambahkan pengamatannya dari berbagai negara, termasuk Jepang, Tiongkok, Jerman, dan Swedia. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda, namun benang merahnya adalah keseriusan kebijakan dan pemanfaatan teknologi. Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa peran individu tetap krusial. Mulai dari mengurangi konsumsi barang impor, menggunakan transportasi publik, membawa tumbler, hingga menanam pangan sendiri, yang merupakan adalah langkah kecil yang berdampak besar dalam menurunkan jejak karbon.
“Generasi kita adalah penentu,” tegas Aurel. “Kalau bukan kita yang bergerak sekarang, maka risiko bencana akan semakin besar di masa depan, terutama bagi Indonesia yang rawan bencana.”
Podcast audio Diskusi RUMPITA kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja kolektif lintas generasi, lintas negara, dan dimulai dari keseharian. Dari Eropa hingga Indonesia, harapan itu tetap ada, selama masih ada anak muda yang peduli dan mau menjadi pionir. Simak selengkapnya berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW agar dapat mendukung kami.
Jakarta, 31 Mei – Kegiatan psikoedukasi bertajuk “Trauma Masa Kecil: Mengenali, Memahami, dan Menyikapi dengan Sehat” telah sukses dilaksanakan secara daring melalui Zoom dengan melibatkan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dan masyarakat Indonesia lainnya. Kegiatan ini menjadi wadah edukatif sekaligus reflektif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami dampak pengalaman masa kecil terhadap kehidupan dewasa.
Selama dua jam pelaksanaan, peserta memperoleh pemaparan mengenai konsep trauma masa kecil, bentuk-bentuknya, serta bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi relasi interpersonal, regulasi emosi, hingga cara individu menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Materi disampaikan secara komprehensif dengan pendekatan yang sensitif dan berbasis ilmu psikologi.
Salah satu hal yang menonjol dari kegiatan ini adalah terjadinya interaksi yang hangat dan bermakna antara pemateri dan peserta. Dalam sesi diskusi, peserta secara aktif membagikan pengalaman, pertanyaan, serta refleksi pribadi terkait dinamika trauma yang mereka rasakan atau sadari dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi ini memperlihatkan besarnya kebutuhan akan ruang dialog yang aman, suportif, dan bebas stigma.
Kegiatan difasilitasi oleh Lovely Christi Zega, Psikologi Klinis di Jerman, dan berharap ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga menghadirkan safe space yang mendorong peserta untuk lebih bijak dalam memandang pengalaman masa lalu. Peserta diajak memahami bahwa mengenali respons emosional diri merupakan langkah awal yang penting, sekaligus menyadari bahwa proses pemulihan membutuhkan pendekatan yang tepat dan tidak selalu dapat dijalani sendiri.
Melalui sesi ini, peserta juga didorong untuk mengambil langkah profesional dalam memahami status situasi pengalamannya terkait trauma. Kesadaran untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental yang kompeten ditegaskan sebagai bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan sebagai tanda kelemahan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai kesehatan mental, serta berani membangun langkah-langkah sehat dalam menghadapi pengalaman emosional yang kompleks. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa proses mengenali luka masa lalu bukan untuk terjebak di dalamnya, melainkan sebagai jalan menuju pertumbuhan yang lebih sehat, sadar, dan berdaya.
Sebagai catatan penting, tujuan dari Psikoedukasi online ini sebagai bagian dari program Knowledge Sharing yang diinisiasi Anna Knöbl. Yakni program untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.
Bila Anda memerlukan materi tertulis sebagai rangkuman acara ini, silakan mengisi permohonan formulir elektronik materi informasi, sebagaimana Link yang ditautkan. Setelah mengisi formulir elektronik tersebut, kirimkan email permohonan ke info@ruanita.com ya.
Sabtu, 23 Mei 2026 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Online bertajuk “Youth Diplomacy and Digital Empowerment” melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang yang antusias mempelajari diplomasi praktis dan pemanfaatan media digital untuk gerakan sosial.
Seminar daring ini diselenggarakan sebagai ruang belajar interaktif bagi generasi muda dan komunitas untuk memahami pentingnya diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi digital dalam memperkuat advokasi sosial.
Acara dibuka dengan salam pembuka dari Aurelia Vinton, PPI Amerop, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan. Harapannya, ruang-ruang digital seperti ini akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman terkait tema-teman pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan, seperti yang baru saja dilaksanakan.
Pada sesi pertama, Hernita Oktarini, Relawan Ruanita Indonesia sekaligus lulusan Development Studies di Jerman dan peneliti independen isu pesisir serta sustainability, membawakan materi mengenai konsep diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan. Hernita menjelaskan bagaimana individu dan komunitas dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk melalui kolaborasi internasional dan penguatan isu masyarakat pesisir serta nelayan.
Peserta juga diajak memahami tantangan dan peluang dalam membangun kemitraan global untuk mendukung komunitas lokal. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan terkait strategi membangun jejaring internasional dan praktik diplomasi di tingkat komunitas. Sesi kedua menghadirkan Veronica Christamia, dosen di Tiongkok sekaligus founder Komunitas Netra dan Nasi Bungkus Gratis Jogja. Veronica membagikan pengalaman mengenai pentingnya literasi digital untuk gerakan sosial dan strategi membangun narasi yang impactful di media sosial.
Dalam paparannya, Veronica menjelaskan berbagai pendekatan sederhana namun efektif dalam membuat konten advokasi, mulai dari storytelling, reels, hingga kampanye digital berbasis komunitas. Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai penggunaan platform digital untuk memperluas awareness terhadap isu sosial. Salah satu bagian yang paling menarik dalam workshop ini adalah sesi mini workshop, di mana peserta diminta menyusun konsep kampanye sosial berbasis digital. Peserta merancang ide kampanye dengan menentukan isu yang diangkat, target audiens, strategi kolaborasi, platform digital yang digunakan, hingga contoh caption dan ide konten kampanye.
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam merancang kampanye sosial yang relevan dan aplikatif. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, foto bersama, serta harapan agar workshop ini dapat menjadi awal lahirnya berbagai ide kolaborasi dan gerakan sosial yang lebih kreatif, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat.
Ruanita Indonesia berharap kegiatan ini dapat terus mendorong generasi muda untuk aktif membangun perubahan sosial melalui diplomasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak dan berkelanjutan. Lebih lanjut, rekaman pemaparan materi dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut:
Notifikasi yang terus berbunyi, kebiasaan membuka media sosial tanpa sadar, grup percakapan yang tidak ada habisnya, hingga tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di tengah derasnya arus digital tersebut, ruang untuk benar-benar tenang sering kali semakin sempit.
Fenomena inilah yang diangkat dalam program bulanan Diskusi IG LIVE yang dikelola akun Instagram Ruanita Indonesia pada episode Mei 2026 bertajuk Digital Declutter. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber Indonesia yang tinggal di Eropa, yakni Aghata Yasmin, mahasiswa Informatika di Slovenia, serta Fransisca Hapsari, peneliti teknologi pendidikan dan mahasiswa doktoral di Jerman.
Diselenggarakan menjelang peringatan World Telecommunication and Information Society Day pada 17 Mei, diskusi tersebut membahas bagaimana kehidupan digital yang semakin padat tidak hanya memengaruhi fokus dan kesehatan mental, tetapi juga keamanan data pribadi.
Dalam percakapan tersebut, Yasmin menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah cognitive load atau beban mental akibat terlalu banyak informasi yang masuk setiap hari. Menurutnya, meskipun notifikasi atau informasi digital tidak tampak secara fisik, otak manusia tetap memproses semuanya secara terus-menerus.
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti meja kerja yang terlalu penuh. Ketika terlalu banyak hal menumpuk secara bersamaan, seseorang menjadi sulit fokus dan lebih cepat merasa lelah. Hal serupa terjadi dalam kehidupan digital ketika seseorang terus-menerus menerima notifikasi media sosial, pesan instan, atau konten baru tanpa jeda.
Pengalaman tinggal di Slovenia juga membuat Yasmin melihat perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Jika di Indonesia banyak aktivitas sehari-hari cenderung langsung dibagikan ke dunia digital, ia merasa kehidupan di Slovenia lebih memberi ruang untuk hadir secara utuh dalam interaksi nyata.
Ia mulai membiasakan diri menikmati aktivitas tanpa harus terus mendokumentasikan semuanya. Saat pergi hiking bersama teman, misalnya, ia memilih menyimpan telepon genggam di tas agar dapat benar-benar menikmati percakapan dan suasana sekitar.
Selain membatasi paparan digital, Yasmin juga menerapkan kebiasaan sederhana seperti mematikan data internet selama beberapa waktu setiap hari, mengatur ulang galeri foto agar lebih terorganisasi, hingga menyimpan dokumen pribadi di penyimpanan digital yang lebih aman dan terkontrol.
Sementara itu, Fransisca Hapsari menyoroti sisi lain dari kehidupan digital yang sering diabaikan, yakni keamanan data pribadi. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir tidak hanya membuka peluang positif, tetapi juga meningkatkan risiko kejahatan siber.
Ia menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan teknologi secara tidak sadar, mulai dari memberikan data pribadi secara sembarangan hingga menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai aplikasi. Kebiasaan tersebut membuat pengguna lebih rentan terhadap penipuan digital, peretasan, maupun pencurian identitas.
Fransisca membagikan pengalamannya ketika menerima ancaman digital setelah terjadi kebocoran data dari sebuah platform belanja daring di Indonesia. Saat itu ia sempat panik karena menerima pesan yang mengklaim mengetahui kata sandinya dan meminta sejumlah uang. Pengalaman tersebut membuatnya lebih sadar pentingnya keamanan digital dan pengelolaan data pribadi.
Menurutnya, digital declutter bukan hanya soal membersihkan file atau mengurangi penggunaan media sosial, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap teknologi yang digunakan setiap hari. Ia mengajak pengguna untuk lebih kritis terhadap aplikasi yang diunduh, izin akses yang diberikan, serta kebiasaan digital yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.
Diskusi tersebut juga menyinggung bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental, terutama munculnya rasa lelah, FOMO (fear of missing out), hingga kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain. Yasmin memperkenalkan konsep JOMO atau joy of missing out, yakni kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti semua informasi dan tren yang beredar. Menurutnya, ketika seseorang mulai membatasi paparan digital, fokus dan kejernihan berpikir perlahan kembali terbentuk.
Fransisca menambahkan bahwa penggunaan media sosial tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat seseorang masuk dalam pola mindless scrolling yang menguras energi mental tanpa disadari. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan digital yang lebih sadar, termasuk membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan mengurangi paparan cahaya layar yang dapat mengganggu kualitas istirahat.
Selain berbicara tentang individu, diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Yasmin menekankan pentingnya menciptakan momen bersama tanpa gawai, seperti makan bersama, memasak, atau berbincang tanpa gangguan layar. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya mengendalikan manusia. Karena itu, kesadaran untuk memilih apa yang dikonsumsi secara digital menjadi semakin penting di tengah banjir informasi saat ini.
Melalui Diskusi IG LIVE bulanan, Ruanita Indonesia menghadirkan ruang percakapan lintas negara yang membahas berbagai isu keseharian perempuan Indonesia secara reflektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Episode tentang digital declutter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, menjaga ketenangan pikiran dan batas sehat dengan dunia digital merupakan bentuk perawatan diri yang juga penting dilakukan.
Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Dalam rangka memperingati Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day), Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Suaka Insan menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Global Nurse Migration: Opportunity, Protection, and Ethics” atau “Perawat Indonesia di Panggung Global: Pengalaman, Etika, dan Kesehatan Mental.”
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa keperawatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua DPK PPNI Rumah Sakit Suaka Insan, Sutikno Ners., M.Kes.; Rektor IKES Suaka Insan, Sr. Imelda Ingir, PhD; Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Sesilia Susi.
Diskusi ini menghadirkan para perawat Indonesia yang telah berkarier di berbagai negara, seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab, serta akademisi keperawatan di Taiwan. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait praktik kerja di luar negeri, tantangan adaptasi, hingga pembelajaran yang mereka dapatkan selama berkarier secara global.
Dalam diskusi ini, dibahas bagaimana kebutuhan tenaga perawat dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia. Dengan jumlah tenaga keperawatan yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi strategis untuk berkontribusi di tingkat global.
Namun demikian, para pembicara menekankan bahwa migrasi perawat tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga kesiapan kompetensi, pemahaman etika, serta perlindungan hukum. Peserta diajak untuk melihat migrasi sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan, di mana pengalaman internasional dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.
Selain peluang karier, isu perlindungan dan etika menjadi sorotan utama dalam diskusi. Para narasumber mengangkat berbagai tantangan yang sering dihadapi perawat di luar negeri, seperti perbedaan budaya kerja, hambatan komunikasi, hingga tekanan psikologis.
Kesehatan mental perawat menjadi topik penting yang dibahas secara terbuka. Para pembicara membagikan pengalaman dalam menghadapi culture shock, beban kerja, serta cara menjaga keseimbangan emosional di lingkungan kerja yang baru. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dukungan sistem, baik dari institusi pendidikan, organisasi profesi, maupun lingkungan kerja, untuk membantu perawat tetap sehat secara mental dan profesional.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, sharing pengalaman, serta sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antarperawat dan calon tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.
Melalui kegiatan ini, Anna Knöbl sebagai penyelenggara berharap para perawat Indonesia semakin siap menghadapi tantangan global dengan bekal kompetensi, pemahaman etika, serta ketahanan mental yang lebih baik. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesehatan global yang terus berkembang.
Simak rekaman diskusi daring peringatan Hari Perawat Internasional di Kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Melanjutkan program bulanan diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi Bersama Ruanita, dimaksudkan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Podcast pada episode ini dipandu oleh Anna yang tinggal di Jerman dan Dianita yang tinggal di India. Selain menjadi relawan Ruanita, Dianita juga pengajar di sebuah TK (Taman Kanak-kanak) di India.
Sementara informan yang diundang dalam episode ini adalah seorang dosen, podcaster, sekaligus kandidat PhD di University of Vienna, Austria. Sebagai informasi, rekaman dilakukan pada saat informan masih menyelesaikan studi PhD di Wina, Austria. Beliau adalah Adityo Darmawan Sudagung, yang juga dosen tetap di Universitas Tanjungpura, Pontianak.Dalam wawancara ini, Adityo berbagi pandangan terkait kondisi dosen di Indonesia. Menurutnya, masih ada jurang ketimpangan kesejahteraan antara dosen senior dan dosen yang baru memulai karier.
Meskipun masyarakat sering beranggapan dosen adalah profesi yang mapan, kenyataannya tidak sedikit yang masih berjuang, bahkan harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan. “Image dosen itu kaya, tapi faktanya banyak yang belum sejahtera,” ungkapnya.
Isu ini semakin ramai sejak munculnya tagar #JanganJadiDosen pada Februari 2024, yang membuka realitas gaji dan beban kerja dosen di media sosial. Menurut Adityo, tagar tersebut sebenarnya bukan hanya peringatan, melainkan juga bentuk kritik sosial agar pemerintah lebih serius memperhatikan kesejahteraan tenaga pengajar. Selain kesejahteraan, Adityo menekankan bahwa manajemen waktu adalah tantangan utama seorang dosen. Mengajar bukan hanya soal masuk kelas, tetapi juga menyiapkan materi, memberi tugas, memeriksa hasil kerja mahasiswa, membimbing skripsi, menulis penelitian, melakukan pengabdian masyarakat, hingga menyelesaikan tumpukan administrasi.
“Kalau restoran ada yang buka 24 jam, dosen mungkin lebih dari itu,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dari sisi lain, Dianita yang saat ini menjadi guru TK di India juga membagikan pengalamannya. Meski berbeda jenjang pendidikan, ia merasakan kesamaan: tugas administrasi yang menyita banyak waktu di luar jam mengajar.
“Kadang bisa 2 jam sendiri hanya untuk persiapan dan ambil materi ke head office,” ceritanya.
Di India, ada standarisasi tertentu untuk guru, tetapi masalah gaji tetap menjadi isu klasik. Hal ini membuat kita melihat benang merah bahwa baik dosen maupun guru, sama-sama menghadapi tantangan kesejahteraan dan beban kerja administratif yang tinggi. Diskusi semakin menarik ketika menyentuh isu besar: bagaimana komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan.
Menurut Adityo, meskipun Indonesia sudah mengalokasikan 20% anggaran pendidikan, pemerataan kesejahteraan guru dan dosen masih jauh dari maksimal. Selain itu, ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah-daerah juga sangat terasa, terlebih saat pandemi.
“Bayangkan, ada sekolah yang siswanya kelas 3 tapi belum bisa baca tulis karena selama pandemi hanya diberi tugas tanpa interaksi belajar mengajar,” tuturnya.
Meski berat, baik Adityo maupun Dianita sepakat bahwa passion menjadi bahan bakar utama mereka untuk tetap mengajar. Namun, mereka berharap passion tersebut tidak lagi dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap isu kesejahteraan tenaga pendidik. Seperti yang ditekankan Adityo, “Kalau benar-benar ingin pendidikan Indonesia maju, jangan ada yang tertinggal. Bukan hanya soal gaji, tapi juga dukungan fasilitas, literatur, dan akses yang adil untuk semua pengajar.”
Episode kali ini menjadi refleksi penting di Hari Pendidikan Nasional. Diskusi bersama Adityo dan Dianita menunjukkan bahwa perjuangan guru dan dosen masih panjang. Namun, dengan semangat, advokasi, dan kesadaran bersama, semoga dunia pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut di kanal Spotify dan pastikan untuk FOLLOW ya!