Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.
Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.
Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.
Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.
Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.
Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.
Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini:
Jerman, 2024 – PERINMA (Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju) bekerja sama dengan Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar Workshop Online Produksi Konten Video Digital. Program ini bertujuan untuk membekali warga Indonesia di Eropa yang tergabung sebagai anggota PERINMA untuk memproduksi konten video yang menarik dan efektif untuk promosi usaha, kegiatan organisasi, dan komunikasi digital.
Seiring dengan semakin luasnya akses internet dan penggunaan smartphone, video telah menjadi media penting dalam pemasaran digital. Namun, masih banyak warga Indonesia yang tergabung sebagai anggota dan simpatisan PERINMA yang belum terampil, dalam memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung bisnis atau kegiatan mereka. Menanggapi kebutuhan tersebut, workshop ini dirancang untuk memberikan pelatihan praktis yang aplikatif dan mudah diikuti.
Ada pun workshop online ini dilakukan melalui saluran media zoom meeting, dengan sebelumnya mendaftar lewat formulir elektronik yang terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA. Peserta yang ikut serta harus membayar kontribusi yang rencananya akan didonasikan bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Flores Timur NTT saat ini, yang terdampak bencana erupsi Gunung Lewotobi.
Acara Workshop berlangsung selama tiga kali pertemuan, yakni 16 dan 23 November 2024, yang mana peserta akan mendapatkan penguatan kapasitas seperti teknik dasar membuat konten video lewat aplikasi non berbayar dan membuat storyboard. Selanjutnya, peserta juga akan mendapatkan keterampilan seputar menggunakan aplikasi video editing untuk membuat video yang edukatif dan sesuai kebutuhan peserta.
Pada pertemuan terakhir, 7 Desember 2024 peserta akan menampilkan produk video kontennya sebagai produk akhir workshop online, yang diselenggarakan PERINMA bersama Ruanita. Pemateri dalam workshop ini adalah Cindy Guchi, yang adalah Digital Content Creator sekaligus Relawan Ruanita Indonesia yang kini menetap di Vietnam. Workshop ini terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA.
Ruanita Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mendukung warga Indonesia di luar negeri, khususnya perempuan. Sejak 2021, Ruanita telah menjadi social support system untuk orang Indonesia di luar Indonesia melalui pendekatan berbasis komunitas, platforma digital, pengelolaan berbasis nilai, yang berfokus pada isu kesetaraan gender dan kesehatan mental. Workshop ini mencerminkan komitmen Ruanita Indonesia untuk meningkatkan peran dan partisipasi orang Indonesia di luar Indonesia lewat platforma digital.
Halo, sahabat Ruanita! Saya Utari Giri, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang puteri yang sudah beranjak dewasa. Kami sekeluarga sudah hampir tiga belas tahun tinggal di kota Dubai, United Arab Emirates.
Selama tinggal di Dubai, saya aktif dalam segala kegiatan bersama teman-teman perantau dari Indonesia. Hingga saat ini, saya mengelola dua komunitas, yaitu Indonesia Ladies Badminton (Komunitas ibu-ibu Indonesia penggemar olah raga badminton) dan Banjar Dubai (Komunitas orang Bali yang tinggal di Dubai).
Dari dua komunitas ini saja sudah bisa dibayangkan, bagaimana beragamnya individu-individu yang saya hadapi. Di sinilah tempat saya untuk belajar sekaligus menjalankan toleransi yang sesungguhnya telah kita pelajari sejak kecil di lingkungan keluarga kita. Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami selama saya tinggal di Dubai, tentang toleransi beragama.
Setiap merayakan hari raya Idul Fitri, KJRI Dubai selalu mengadakan shalat Idul Fitri bersama bagi WNI di Dubai dan sekitarnya. Biasanya acara ini dihadiri sekitar seribu WNI yang ikut beribadah. Dan, inilah praktik toleransi yang sesungguhnya.
Kami, WNI non Islam yang tergabung dalam komunitas Piladelpia (Kristen dan Katolik) dan banjar Dubai (Hindu) hadir menjadi volunteer sebagai tim keamanan, mempersiapkan tempat shalat, hingga menyajikan makanan setelah shalat Idul fitri selesai.
Jadi, khusus di Dubai, Idul fitri tidak saja dinantikan oleh sahabat WNI muslim, tetapi sahabat non muslim pun selalu menantikan datangnya Idul Fitri. Inilah saatnya kita berpartisipasi melancarkan jalannya perayaan hari Idul fitri.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, toleransi berarti menghargai orang lain dengan segala perbedaannya melalui pengertian. Toleransi tidak hanya tentang masalah keyakinan dan suku. Bahkan, dalam diskusi sehari-hari, berteman, atau di lingkungan kerja pun sikap toleransi harus dijunjung tinggi. Tidak memaksakan kehendak dan pendapat adalah bentuk toleransi paling dasar.
Contoh lainnya, sebagai non muslim yang memiliki banyak sahabat muslim, saya sengaja membeli dan menyediakan perlengkapan shalat untuk sahabat yang berkunjung ke rumah saya.
Bahkan, saya sengaja mengunduh arah kiblat di hape, karena sahabat saya selalu bertanya kepada saya arah kiblat, saat kita berada di luar rumah. Selain itu, saya juga ikut sebagai volunteer di beberapa komunitas sosial di Dubai, sebagai upaya saya untuk terus mengasah sikap toleransi saya.
Dalam menjalankan sikap toleransi, kita perlu aspek saling menghormati dan hidup berdampingan satu sama lain. Namun, pada kenyataannya kadang kita melihat ada orang yang sulit untuk bersikap toleransi.
Hal ini terjadi bisa karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perbedaan atau tingginya rasa ego dan menganggap pribadi atau golongannya yang paling benar.
Padahal, sebenarnya setiap manusia harus dan memerlukan toleransi di dunia yang beragam ini. Contoh yang paling mudah adalah toleransi di lingkungan tempat tinggal kita. Kita tidak mungkin tinggal di lingkungan yang semua orangnya sama seperti kita, baik agama, suku, profesi, pendidikan, maupun aspek lainnya. Bayangkan jika kita tidak bisa bersikap toleransi terhadap tetangga di lingkungan rumah kita, maka pertengkaran dan perselisihanlah yang pasti akan terjadi.
Dalam mengembangkan sikap toleransi, kita perlu mendorong inklusivitas, tetapi praktiknya menjadi sulit. Inklusivitas pada dasarnya adalah sikap yang bisa memosisikan diri kita sebagai orang lain. Ada beberapa faktor yang membuat orang sulit menerima inklusivitas sebagai bagian toleransi, antara lain tidak peduli dengan orang lain, merasa tidak membutuhkan orang lain, atau merasa hebat dan lebih dari yang lain.
Sementara, untuk sebagian orang mungkin sulit untuk bersikap toleransi karena, merasa pribadi atau golongannya lebih baik dari yang lain, kurangnya pengalaman pergaulan dengan orang di luar golongannya, atau bisa juga karena pendidikan yang kurang tentang toleransi. Pendidikan toleransi yang paling mudah sebenarnya adalah kebiasaan yang harus ditanamkan sejak kecil dari rumah atau keluarga.
Ada satu lesson learned atau pembelajaran hidup yang pernah saya alami berkenaan dengan sikap toleransi ini. Saya adalah orang yang sangat terbuka dengan siapa saja, tidak peduli agama, suku atau siapa dia. Semuanya saya ajak berteman selama mereka mau berteman dengan saya. Tidak jarang, saya diundang ke rumah teman yang di rumahnya sedang ada pengajian atau teman-teman Kristiani yang sedang merayakan Natal.
Saya selalu menghormati undangan tersebut dan berusaha untuk hadir tanpa memikirkan yang lainnya. Mungkin ini yang tidak semua orang di Dubai mendapatkannya. Akibatnya, saya memiliki teman yang beragam di Dubai. Tidak jarang, jika ada teman yang baru datang ke Dubai selalu bertanya, sebenarnya apa agama saya? Tidak apa-apa, yang pasti saya selalu memandang indah setiap perbedaan yang terbalut dalam kata toleransi.
Banyak manfaat yang bisa kita petik dalam bersikap toleransi. Bahkan, manfaat ini ternyata bisa kita rasakan terutama untuk kesehatan mental kita. Rasa bahagia karena memiliki banyak teman, rasa nyaman saat berinteraksi dengan semua teman adalah manfaat besar bagi saya. Sebagai minoritas, penerimaan dari yang lain dengan tangan terbuka dan pelukan hangat adalah manfaat toleransi yang tidak ternilai harganya. Seperti yang kita ketahui, rasa aman, nyaman, dan bahagia adalah kunci utama bagi kesehatan mental manusia.
Jadi, untuk sahabat Ruanita yang masih sulit untuk bersikap toleransi, saatnya untuk membuang jauh sikap intoleransi. Bersikap toleransi ternyata lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Di Bali, ada ilmu toleransi yang dikenal dengan “Tat Twam Asi”, artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku.
Jangan kita menyakiti, baik fisik maupun perasaan orang lain, jika tidak ingin disakiti. Cobalah untuk berada di posisi orang lain, sebelum berbicara atau mengeluarkan pernyataan terhadap orang. Dengan modal ini saja, kita bisa, lho, menjadi agen perdamaian global.
Selain dari diri sendiri, sikap toleransi harusnya selalu dimulai dari rumah atau keluarga. Memasuki zaman yang semakin maju seperti saat ini, sebaiknya pendidikan budi pekerti dan toleransi lebih digalakkan lagi di sekolah-sekolah mulai dari paling bawah. Citra Indonesia sebagai negara dengan masyarakatnya yang penuh sopan santun dan cinta perdamaian harus tetap ditegakkan sampai kapanpun.
Penulis: Utari Giri, perempuan yang hobi menulis, saat ini tinggal di Dubai, dan dapat di kontak di akun IG: @utarigiri
Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.
Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.
Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.
Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.
Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.
Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.
Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.
Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.
Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini:
Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.
Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI FrankfurtAntonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.
Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.
Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.
Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.
Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.
Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.
Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:
Halo, sahabat RUANITA. Perkenalkan nama saya Rita, yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 16 tahun. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Florist. Saya senang membicarakan seputar nutrisi makanan dan gaya hidup, seperti tentang tema vegan, yang sekarang sedang menjadi trend tersendiri di dunia.
Berbicara tentang gaya hidup vegan dan vegetarian, bisa jadi tak banyak orang Indonesia paham tentang kedua istilah tersebut atau membedakannya. Amat sangat disayangkan bahwa masih banyak yang mengira bahwa vegan itu Lifestyle miskin.
Mereka yang memilih menjadi vegan atau vegetarian masih dibilang miskin, terutama di Indonesia. Banyak orang Indonesia yang awam berpikir bahwa orang tidak mampu membeli daging yang harganya begitu mahal, sehingga mereka menggantinya dengan tempe atau tahu. Menurut saya, hal ini mungkin dipicu dengan persepsi bahwa kalau dulu di Indonesia muncul pengganti protein daging, yakni tahu dan tempe.
Pemikiran tersebut masih melekat di orang Indonesia dari generasi ke generasi. Meskipun sekarang persepsi tersebut tergantikan dan lebih baik, mengingat teknologi komunikasi yang cepat dan mudah diakses, karena tempe dan tahu ternyata baik juga untuk nutrisi tubuh.
Hal tersebut menunjukkan ada peningkatan informasi nutrisi yang membaik. Informasi lainnya juga menunjukkan betapa pentingnya, kita menjaga lingkungan terutama dari segi konsumsi makan kita juga.
Berbicara segi konsumsi, pandangan orang awam juga tampak dari kekhawatiran bahwa menikmati makanan tanpa daging itu berarti kurang nutrisi dalam hidupnya. Padahal, hidup vegan bukan berarti kekurangan nutrisi loh. Banyak sumber protein yang bisa diperoleh dari sayuran hijau atau kacang-kacangan, mushrooms atau tahu/tempe, dll.
Lainnya, seperti produk makanan laut bisa menjadi sumber makanan juga. Misalnya, seaweed yang sekarang menjadi alternatif sumber omega dan dijadikan produk makanan yang dijual di pasaran. Atau, rumput laut sendiri sedang banyak diteliti dan dimanfaatkan di industri makanan. Ini semua dimaksudkan untuk memberikan informasi nutrisi bahwa makanan tidak hanya dari daging semata.
Kembali ke soal pilihan hidup menjadi vegan dan vegetarian, itu semua tergantung pada alasan pribadi. Ada anggapan bahwa mereka memilih hidup vegan atau vegetarian karena ingin menurunkan berat badan. Sejauh ini, belum ada teman-teman di sekitar saya yang memilih hidup vegan karena mereka ingin turun berat badan.
Kebanyakan dari mereka yang memilih hidup vegan, lebih disebabkan oleh alasan perlakuan buruk terhadap hewan. Lebih tepatnya, mereka merupakan penyayang binatang. Menurut saya, ada juga yang berpendapat mereka memilih vegan karena produksi daging itu membutuhkan banyak air, sehingga tidak ramah lingkungan.
Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? apakah gaya hidup vegan dan vegetarian juga dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia? Menurut saya, belum banyak masyarakat luas di Indonesia memahami vegan dan vegetarian. Kalau pun mereka paham soal vegan dan vegetarian, saya pikir pengetahuan tentang vegan dan vegetarian masih minim dan belum merata.
Saya pikir orang-orang di Indonesia perlu lebih banyak informasi dan edukasi soal nutrisi sehat, tidak melulu soal daging saja. Masyarakat perlu diperkenalkan tentang sumber makanan alternatif, tidak hanya beras saja tetapi ada banyak pilihan makanan pengganti beras saja.
Lainnya, kita bisa juga beralih untuk memanfaatkan pangan lokal dengan mulai menanam kebutuhan pangan keluarga di perkarangan rumah, misalnya cabai, tomat, dan lainnya seperti orang-orang di Jerman.
Dengan begitu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat bernutrisi dari kebun sendiri, yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya makan sayur misalnya. Bukankah aneka warna makanan dengan sayuran dapat memikat selera makan?
Sebenarnya, di Indonesia banyak juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging. Namun, alasan mereka tidak makan daging lebih disebabkan kepada ketidaksanggupan mereka membeli daging. Harga daging itu mahal sekali di pasaran Indonesia. Kesadaran orang di Indonesia untuk tidak makan daging, kebanyakan bukan karena peduli lingkungan.
Contohnya, kerabat terdekat saya di Indonesia yakni nenek dan sepupu saya. Mereka benar-benar vegan. Saya pun bertanya, apa alasan yang membuat mereka memilih hidup vegan. Mereka pun menjawab bahwa mereka merasa trauma dengan bau amis dari darah hewan. Selain itu, mereka juga takut akan hewan.
Di sisi lain, mereka berdua tidak menyadari bahwa pilihan hidup vegan sekarang sedang menjadi trend gaya hidup di dunia sebagai akibat kesadaran akan promosi isu lingkungan hidup dan pengurangan polusi.
Hal menarik lainnya adalah ketika kita berbicara soal vegan dan vegetarian, kita harus berhadapan dengan isu praktik hidup yang sulit. Padahal, memilih hidup makan vegan dan vegetarian itu tidak sulit loh. Di Indonesia, konsumsi daging tidak seperti di Jerman.
Kita juga bisa memanfaatkan makanan asal Indonesia yang sudah mendunia, seperti tahu dan tempe misalnya. Kita punya makanan sejenis salad, mulai dari gado-gado, lotek, ketoprak, asinan, hingga rujak, dan lainnya yang bisa dinikmati tanpa konsumsi daging sama sekali. Kita punya lalapan dan aneka tumisan yang begitu nikmat dengan aneka rempah-rempah.
Di Jerman, tempat tinggal saya sekarang, mereka telah membuat klasifikasi untuk kelompok makanan vegan dan vegetarian. Kita juga bisa dengan mudah menemukan tahu di setiap supermarket di Jerman. Produk makanan vegan tidak hanya ditemukan di supermarket khusus, tetapi sekarang tersedia hampir di setiap supermarket.
Di Indonesia, justru sebenarnya jauh lebih mudah karena kita dikenal sebagai negara agraris yang punya banyak sayuran yang melimpah ruah. Sayuran di Indonesia bisa tumbuh dengan mudah setiap waktu, sementara di Jerman sayuran tentu tidak tumbuh ketika musim dingin.
Di Indonesia, kita punya sajian makanan vegan yang tidak membosankan seperti yang saya sebutkan di atas. Di Indonesia, kita bisa membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional atau kita bisa dengan mudahnya datang ke kebun tetangga dan membelinya dengan mudah.
Di Jerman, produk lokal seperti pasar tradisional dijajakan tidak setiap waktu. Ada yang mingguan (Wochenmarkt), atau hanya hari-hari tertentu saja. Harga pangan yang dijual di pasar produk lokal bisa empat kali lipat lebih mahal, ketimbang di supermarket biasa.
Biasanya ini disebabkan oleh perawatan sayuran dan pangan yang berbeda dari yang dijual di supermarket. Si penjual mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan pestisida misalnya. Perawatan tanpa pestisida membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan alternatif ramah lingkungan lain untuk membasmi hama.
Seperti ekosistem natural di alam, ulat dimakan oleh ayam. Dengan kata lain, mencari musuh alami hama lain agar mengurangi populasi hama jahat. Kehadiran pasar lokal di Jerman juga didukung oleh masyarakat setempat untuk mendukung ekonomi lokal para petani yang telah bekerja.
Berbicara tentang vegan, kadang ada juga anggapan bahwa itu semua perlu biaya yang tak murah. Berkaca dengan kehidupan di Jerman, menurut saya, apa pun pilihan hidup yang dipilih seperti vegan, vegetarian atau pemakan daging juga memiliki biaya konsumsi yang sama-sama mahal.
Di Jerman, harga daging tidak jauh berbeda dengan sayuran dan itu bergantung pada di mana mereka membelinya. Di Wochenmarkt atau pasar “kaget” tradisional itu harga daging terbilang lebih mahal lagi, dibandingkan di supermarket.
Daging diklasifikasikan mulai dari biasa, bio, hingga daging regional misalnya. Serupa dengan daging, membeli sayuran dan buah di pasar tradisional semacam “Wochenmarkt” di Jerman pun jauh lebih mahal. Penjualan sayuran di Jerman bergantung musim. Misalnya, kita bisa menemukan spargel atau asparagus yang dijual pada waktu tertentu saja.
Di Indonesia, harga sayuran dan daging begitu berbeda jauh. Kemungkinan hidup vegan di Indonesia atau tanpa daging mungkin jauh lebih hemat. Apalagi kalau kita bisa berkebun sendiri, tentu jauh lebih berhemat untuk mengonsumsi tanpa daging.
Berkebun juga menjadi pilihan banyak orang-orang di Jerman. Selain lebih hemat, berkebun di Jerman juga bisa menjadi lebih sehat dan lebih terjamin kualitas pangan yang ingin dikelola. Kita bisa mulai memilih benih bibit sayuran atau buah usai musim dingin, yang semuanya begitu mudah didapat di supermarket.
Kalau tentang resep mengolah makanan vegan, saya pikir itu kembali kepada preferensi masing-masing individu. Jika kita ingin berhemat, kita bisa praktik masak sendiri di rumah. Kini tersedia berbagai kemudahan untuk mencontek resep di internet. Bila kita bisa masak sendiri di rumah, tentu kita bisa menyantapnya berkali-kali.
Memasak di rumah juga jauh lebih sehat, ketimbang membeli makanan di restoran. Di Jerman, kita perlu berpikir ulang untuk jajan atau makan di restoran. Untuk tips dari saya, kita bisa mulai dengan resep berbagai menu tempe dicampur sayuran. Jika suka sayur atau berkuah, coba memasak sayur lodeh, mie Ramen atau mie Udon. Biasanya mi tersebut sangat cocok untuk dibuat vegan. Kita bisa menggantikan menu daging dengan mushroom atau jamur sebagai alternatif daging.
Oh ya, sebagai informasi nih kalau kalian ingin punya peluang usaha di industri makanan, sahabat Ruanita bisa mencoba industri makanan vegan. Pertama kali datang ke Jerman, gaya hidup vegan tidak sepopuler seperti sekarang loh. Kini semakin banyak orang beralih ke gaya hidup vegan karena alasan lingkungan hidup, sebagaimana minat terbesar orang-orang di Jerman.
Banyak juga restoran yang kini mengusung tema vegan dan vegetarian juga loh. Mungkin di Indonesia, industri makanan vegan dan vegetarian bisa berpotensi untuk menjadi pasar tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak ingin mengonsumsi makanan daging. Misalnya, orang tidak mengonsumsi daging karena alasan agama, alasan kesehatan hingga alasan gaya hidup.
Terakhir nih buat sahabat Ruanita, jangan pernah berpikir bahwa menjadi vegan atau vegetarian akan menjadi kekurangan nutrisi. Untuk berubah haluan konsumsi harian, kalian bisa perlahan-lahan mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.
Selain itu, kalian perlu juga berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, sebelum kalian secara total menjadi seorang vegan. Bagaimana pun kondisi tubuh setiap orang ‘kan berbeda-beda ya! Bagaimana menurut kalian semua?
Penulis: Rita, yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram lavendula_rita.
Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif.
Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.
Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.
Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.
Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak. Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.
Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip.
Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.
Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.
Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan.
Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.
Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.
Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang.
Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya.
Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?
Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.
Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.
Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.
Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.
Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.
Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.
Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.
Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.
Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.
RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.
RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.
Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.
Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.
Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.
Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.
Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.
Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.
Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.
Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigmaterhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.
Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.
Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.
Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.
Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.
Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.
Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.
Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.
Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?
Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami:
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Maria Frani Ayu Andari Dias atau biasa dipanggil Ayu dan saat ini bekerja sebagai perawat jiwa di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, perawat jiwa adalah perawat yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidang kesehatan jiwa atau keperawatan jiwa di Indonesia. Perawat jiwa bekerja di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit jiwa, bagian psikiatri di rumah sakit umum, klinik kesehatan mental, dan layanan kesehatan komunitas.
Berbicara tentang Avoidant Personality Disorder (AvPD), saya ingin berbagi pengalaman saya. Sebelum saya membagikan cerita berikut, saya telah meminta consent dari yang bersangkutan. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, tujuan saya berbagi cerita adalah agar kita dapat meningkatkan literasi di bidang kesehatan mental dan mendorong kesadaran diri untuk mengecek status kesehatan mental kepada tenaga profesional. Terdapat 1.5% sampai 2.5% ditemukan kasus AvPD pada populasi warga Amerika Serikat. Ini bukan berarti bahwa AvPD dapat dianggap biasa saja oleh kebanyakan dari kita.
Dia adalah Dian (bukan nama yang sebenarnya) yang selalu menarik perhatian saya. Saat pertama kali bertemu, kesan pertama yang saya dapatkan adalah Dian sangat pendiam dan cenderung menghindari interaksi sosial. Matanya selalu menunduk dan dia jarang sekali terlibat dalam percakapan dengan yang lain. Setelah beberapa sesi konsultasi, saya mulai mencurigai bahwa dia menunjukkan gejala yang konsisten dengan Avoidant Personality Disorder (AvPD). Psikiater dan psikolog pun memiliki satu suara, Dian memang menunjukkan tanda-tanda Avoidant Personality Disorder (AvPD).
AvPD adalah gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan dan kritik dari orang lain. Dian hidup dalam ketakutan akan penolakan sehingga lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang mungkin mempermalukannya. Sebagai seorang Perawat Jiwa, tugas saya adalah membantu dia mengidentifikasi dan mengatasi ketakutannya ini, dengan cara yang aman dan efektif.
AvPD berbeda dengan Social Anxiety Disorder (SAD), meskipun keduanya menunjukkan tanda dan gejala yang hampir sama, yaitu sama-sama menghindari atau menjauhi hubungan sosial dengan orang lain. Meskipun demikian, ada perbedaan yang sangat signifikan antara AvPD dan SAD. Orang dengan SAD menjauhi interaksi sosial karena adanya ketakutan untuk dinilai atau diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan orang dengan AvPD memiliki motivasi untuk menghindari interaksi sosial atau bahkan hubungan dengan orang lain, yang terjadi karena rendahnya harga diri yang dimiliki dan disertai kecemasan. Orang dengan SAD pasti memiliki masalah kecemasan, sedangkan orang dengan AvPD tidak selalu memiliki masalah kecemasan.
Dian menunjukkan tanda dan gejala yang sangat jelas mengarah pada AvPD. Dia memiliki pemikiran-pemikiran negatif tentang dirinya sendiri dan sangat sensitif akan kritik dari orang lain. Ketika orang lain menilai dirinya, termasuk penilaian tergolong positif, Dian tetap tidak mampu menerimanya. Dian akan menganalisis setiap pernyataan yang dilemparkan kepadanya, langsung sangat terbebani akan pernyataan tersebut, dan kemudian menghindari interaksi dengan orang lain. Dalam dialog, Dian pun tidak mampu menyebutkan satu hal positif tentang dirinya. Ia menolak untuk bercermin. Dian selalu mengatakan bahwa, “Rambut saya tidak rapi, pakaian saya jelek, suara saya tidak merdu, jadi lebih baik saya diam saja,” dan masih banyak lagi.
Dalam beberapa pertemuan, Dian mengatakan ia sering ditinggal sendiri ketika masih kecil, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika Dian meminta perhatian dari orang tuanya, terutama dari ibunya, Dian langsung dibentak dan dimarahi. Hal ini membuat Dian memilih untuk menjadi mandiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, perlahan menjauhkan diri dari berbagai interaksi sosial, dan bahkan enggan menjalin hubungan dengan orang lain.
Pada dasarnya, Dian adalah seorang perempuan yang cantik dan menawan. Dian mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Namun, ia menolak untuk kontak dengan orang lain, lebih memilih untuk diam, menghindar, dan mengisolasikan diri secara sadar. Dian merasa tidak nyaman dengan orang lain yang mendekatinya, apalagi yang “penasaran” dengan dirinya. Dian sering tidak hadir dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Dian sungguh tidak merasa ada yang salah dengan tingkah lakunya ini.
Ketika ditanya mengenai alasannya, Dian mengatakan bahwa dia takut dengan penolakan-penolakan yang mungkin akan muncul dari pertemuannya dengan orang lain. Dian merasa dirinya tidak cukup. Dian telah menilai bahwa orang lain tidak akan bisa menerima dirinya. Dian juga mengatakan bahwa dia tidak ingin merepotkan orang lain dengan berinteraksi dengan dirinya.
Dalam kasus seperti ini, pendekatan pertama yang saya lakukan adalah membangun rasa percaya, dalam bahasa yang sering kami – Perawat Jiwa – gunakan adalah membina hubungan saling percaya. Ya, kepercayaan adalah dasar dari hubungan terapeutik yang dapat menyembuhkan dan memulihkan. Dalam kasus AvPD, sangat penting bagi klien untuk merasa aman dan diterima, sebelum mereka dapat membuka diri. Saya selalu berusaha menciptakan suasana yang tenang dan mendukung, setiap kali kami bertemu. Saya tidak pernah memaksanya untuk berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak nyaman baginya. Sebaliknya, saya memberinya ruang untuk menyampaikan perasaannya secara perlahan.
Setelah hubungan yang lebih terbuka terbentuk, saya mulai mengajaknyauntuk berbicara tentang perasaannya, khususnya mengenai ketakutannya terhadap interaksi sosial. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencoba memahami sudut pandangnya, tanpa memberikan penilaian. Saya ingin dia tahu bahwa perasaannya valid dan dapat dipahami, meskipun kita berdua tahu bahwa rasa takutnya sering kali berlebihan.
Salah satu bagian penting dari perawatan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Saya menjelaskan kepada Dian tentang AvPD, termasuk apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya. Saya juga memperkenalkan berbagai strategi coping yang dapat membantunya mengelola rasa cemas, seperti teknik relaksasi dan terapi kognitif perilaku. Saya yakin, dia dapat mulai merasa lebih terkendali terhadap situasinya dengan bekal pengetahuan yang cukup.
Selain itu, saya juga mendorong Dian untuk mengambil langkah-langkah kecil dalam menghadapi ketakutannya. Misalnya, saya mengajaknya untuk mencoba berinteraksi dengan satu atau dua orang secara perlahan. Awalnya, dia sangat enggan. Namun, dukungan dan dorongan yang tepat telah membuat Dian mulai mengambil risiko-risiko kecil dalam situasi sosial. Setiap langkah kecil yang diambil adalah sebuah pencapaian besar. Saya selalu memastikan untuk mengakui kemajuannya.
Saya juga bekerja sama dengan tim multidisiplin, termasuk psikolog dan psikiater, untuk memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang komprehensif. Terapis memberikan dukungan tambahan melalui sesi terapi yang lebih mendalam, sementara saya fokus pada aspek perawatan sehari-hari dan pemantauan perkembangan emosionalnya. Kolaborasi ini sangat penting untuk memberikan pendekatan holistik bagi kemajuan Dian.
Namun, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Ada saat-saat di mana dia kembali mundur ke dalam cangkangnya, merasa putus asa, dan kembali menutup diri. Dalam momen-momen seperti ini, saya harus bersabar dan memberikan dukungan tanpa henti. Saya menyadari bahwa proses ini bukanlah instan; ini adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan pengertian.
Seiring waktu, saya mulai melihat perubahan positif pada dirinya. Dia menjadi lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain, meskipun masih dalam lingkup yang sangat terbatas. Keberanian yang mulai tumbuh ini adalah hasil dari dukungan berkelanjutan dan usaha kerasnya untuk melawan ketakutannya. Saya merasa bangga melihat dia mulai menemukan kepercayaan diri yang sebelumnya hilang.
Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa merawat orang dengan AvPD memerlukan pendekatan yang hati-hati dan penuh empati. Setiap klien memiliki tempo pemulihan yang beragam. Sebagai perawat jiwa, saya harus siap untuk mendukungnya sepanjang perjalanan tersebut. Saya juga menyadari betapa pentingnya peran saya dalam memberikan rasa aman dan dukungan emosional, yang sering kali menjadi pondasi utama bagi proses pemulihan.
Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa krisis kepercayaan atau trust issues dapat menjadi bagian dari AvPD, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab. Orang dengan AvPD sering mengalami kesulitan mempercayai orang lain, tetapi ini lebih karena rasa takut akan penolakan dan kritik daripada sekedar ketidakpercayaan.
Krisis kepercayaan biasanya berkembang karena pengalaman negatif di masa lalu yang membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, tetapi dalam AvPD, masalah ini lebih terkait dengan perasaan inferioritas dan kecemasan sosial. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia, saya ingin berbagi dukungan dan apresiasi kepada para perawat jiwa yang telah melayani para klien selama ini.
Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024!
Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat Jiwa dan tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.
Tentunya, ada banyak pertimbangan mengapa orang harus meninggalkan karier demi mengejar passion. Ada yang berhasil dalam menekuni satu karier dalam hidup mereka, tetapi ada pula yang telah berganti karier dan belum mendapatkan passion yang dicarinya.
Lewat program diskusi IG Live tiap bulan, Ruanita Indonesia lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi. Dia adalah relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Jerman, memandu obrolan seputar karier dan passion selama 30 menit. Rufi juga merupakan lulusan Master Governance and Public Policy dari University of Passau, Jerman.
Diskusi ini berhasil mengundang Tyka Karunia, perempuan Indonesia yang tinggal di Spanyol. Dia membagikan pengalamannya dalam membangun startup di bidang pariwisata yang bertujuan untuk menjembatani pengusaha UMKM Indonesia dengan pasar internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengejar passion yang sejalan dengan minat pribadi dan tanggung jawab yang dimiliki.
Karena masalah teknis, diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Putri Trapsiloningrum, seorang konsultan e-commerce di Jerman, pada kesempatan ini. Topik mengenai tantangan berkarier di Eropa turut dibahas. Tyka mengakui adanya perbedaan budaya, lingkungan, serta hambatan psikologis yang mempengaruhi proses adaptasi dan keberhasilan di lingkungan kerja.
Pada akhirnya, diskusi IG Live ini sepakat bahwa komitmen dan dukungan lingkungan, baik dari keluarga maupun rekan kerja, menjadi faktor penting dalam keberhasilan karier. Diskusi ini berlangsung selama 40 menit, di mana para peserta diajak untuk berinteraksi melalui kolom komentar dan bertanya seputar cara menemukan passion dalam karir mereka sendiri.
Acara diskusi ini juga menjadi ajang promosi untuk program mentoring karier perempuan di Eropa Barat yang akan diselenggaraka Ruanita dalam waktu dekat. Program ini akan mendorong peserta dapat belajar tentang pembuatan CV dan surat lamaran, khususnya untuk berkarier di Eropa.
Simak selengkapnya diskusi IG Live episode Eropa ini di kanal YouTube kami:
Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius.
Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun. Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang.
Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.
Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary yang kami kirimkan.
Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia. Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.
Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang.
Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.
Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya.
Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.
Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay.
Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya. Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe.
Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha.
Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya.
Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.
Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan.
Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora.
Cantik itu relatif. Mungkin kalimat ini sering kita dengar di masyarakat pada umumnya. Namun, bagaimana standar kecantikan di negeri matahari terbit? Bagaimana masyarakat menilai dan menentukan standar kecantikan untuk seorang perempuan?
Dalam episode pertama SWG, Sharing with Guchi, Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita di Jepang. Dia adalah Chiharu Ooshiro, perempuan Jepang yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Jepang.
Menurut Chiharu, standar kecantikan adalah bagaimana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri dan menerima diri mereka. Namun, standar kecantikan yang diinginkan oleh Chiharu nyatanya berbeda dari kebanyakan masyarakat di Jepang umumnya.
Contohnya, perempuan digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan berwajah kecil. Bahkan perempuan banyak melakukan massage agar wajah mereka lebih kecil. Selain berwajah kecil, perempuan digambarkan cantik dengan kulit yang cerah.
Tak jarang, perempuan tidak makan makanan banyak agar tidak mengalami kelebihan berat badan dan bisa diterima sebagai standar kecantikan.
Perempuan di Jepang mendapatkan tantangan tentang bagaimana mereka perlu berpenampilan sempurna untuk lingkungan di mana mereka berada. Mereka tak ragu untuk memakai make-up setiap hari, karena masyarakat pun memandang hal itu sebagai perempuan yang menarik.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Simak selengkapnya rekaman diskusi Cindy Guchi, perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam dan Chiharu Ooshiro:
Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati tiap 21 September, Ruanita Indonesia mengundang dua sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda dan di Australia.
Tema yang diskusi IG LIVE yang diangkat adalah kenali dan sadari Alzheimer sedini mungkin, yang masih dipandang awam oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.
Diskusi IG Live lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Jerman.
Sebagai awalan, Rida bertanya tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya.
Seiring dengan kemajuan zaman, risiko Alzheimer pun sudah mulai ditunjukkan di usia sekitar 30 – 40 tahun. Resiko Alzheimer semakin tinggi ketika seseorang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Di Belanda sendiri, menurut Manik, telah ada 15 ribu orang yang didiagnosa Alzheimer.
Menurut Yacinta, kita perlu mengetahui riwayat keluarga apakah anggota keluarga punya risiko Alzheimer, agar kita bisa mengetahui sedini mungkin.
Sebagaimana tema tahun ini, yang dijelaskan oleh Manik, yakni Time to Act yang menjadi aksi bersama untuk mencegah Alzheimer sedini mungkin.
ALZI NEDERLAND punya tiga pilar antara lain: komunikasi, edukasi, dan juga outreach, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan demensia dan Alzheimer.
Selain memperkuat kesadaran akan Alzheimer, ALZI NED juga menjadi jembatan dengan keluarga kita di Indonesia dan situasi di Belanda.
Hal yang penting diingat adalah Alzheimer itu berkaitan dengan culture yang membantu orang dengan Alzheimer dapat memulihkan kondisinya.
Itu sebab, pentingnya kesadaran akan Alzheimer ini ditingkatkan agar menjadi aksi gerak bersama untuk keluarga yang memiliki orang dengan Alzheimer dan pemerintah.
Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita episode September 2024 berikut ini di kanal YouTube kami:
Subscribe kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.