(WARGA MENULIS)  Lelaki Redflag dan Dukungan Orang Tua

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Beruntung Hande punya orang tua yang selalu mendukungnya. Undangan resepsi pernikahannya sudah disebar, besok resepsi akan dilaksanakan. Tapi, siapa yang menyangka akan kejadian seperti ini. Orang tua Hande mendukungnya untuk bercerai. Tidak memaksanya untuk melanjutkan pernikahan yang tidak sehat ini. Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, jika mereka tetap menikah.

Ditulis oleh Dian Akbas di Turki.

(WARGA MENULIS) Episode Madrid

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Kuingat  serunya perkenalan kami. Pertama aku salah mengucapkan namanya. Huruf “j” dibaca seperti huruh “kh”, dan kedua, awalnya aku pikir José Maria adalah nama perempuan. Hari itu aku jadi mengerti bahwa kalau perempuan maka akan bernama Maria José, bukan José Maria.  Terkait tema nama, kuingat juga Jóse tertawa mendengar namaku yang mirip dengan kata bahasa Spanyol: Ella, pronomina untuk orang ketiga, perempuan.

Belum sempat kuteruskan ingatan itu, dari belakang kurasakan ada sentuhan tangan di bahuku, dan sapaan pemuda  yang kutunggu: „Hello… Ella!.

Ditulis oleh Dyah Narang-Huth di Jerman.

(WARGA MENULIS) Dressing room self-talk

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”

Ditulis oleh Griska Gunara Keating di UK.

(WARGA MENULIS) Pisau

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perempuan itu menyuruhku untuk menggenggam pisau itu di tanganku. Aku lakukan dengan mudah, walau berisik sekali kepalaku saat aku melakukan permintaannya itu. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Sekarang saya mau Anda, masih sambil menggenggam pisau itu, menaruh pisau ini tepat di samping jari-jari saya”.

Ditulis oleh Mariska Ajeng Harini di Jerman.

(WARGA MENULIS) Tetangga Misterius!

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Pers release dari kepolisian dan pemberitaan surat kabar, membuat kami semua disusupi rasa bersalah. Kami pernah menganggap aneh perempuan paruh baya itu. Sesungguhnya dia hanya ingin menjaga, melindungi, dan merawat anak semata wayangnya dengan segenap jiwa raganya. Karena perasaan bersalahnya, menjadi sebab putrinya lumpuh dan suaminya meninggal saat terjadi kecelakaan mobil tujuh tahun sebelumnya.

Ditulis oleh Risti Handayani di Belanda.

(WARGA MENULIS) Jarak dan Kesetiaan dari Lebanon

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perjalanan rumah tangga yang mereka lalui bagi sebagian orang mungkin sulit. Ini yang pertama bagi Terre, jauh dari Dirman. Hal ini membuat Terre terus dihantui rasa takut. Sebenarnya Dirman tak mau menambah rasa kekhawatiran Terre dengan cerita yang sebenarnya. Bahwa setiap hari dia mendengar dentuman bom dan lintasan suara roket Israel yang sering terdengar baik siang maupun malam melalui langit Lebanon. Terlebih mendengar berita pagi ini dari rekan Dirman kepada Terre, dia sangat tersentak dan terkejut apa yang telah terjadi kepada Dirman.

Ditulis oleh Milla Septilia di Bangladesh.

(WARGA MENULIS) Hening yang Kupilih

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Jam dinding masih berdetak sampai hari ini. Setiap detiknya mengingatkanku pada rumah yang jarang ribut. Rumah yang mengajarkanku bahwa stabil adalah segalanya. Dan sebagai anak perempuan pertama, aku harus menjadi dinding tambahan agar tidak ada suara yang keluar dari batas yang sudah ditentukan. Dan di dalam diriku tumbuh pertanyaan yang terus berulang. Mengapa menjadi kuat berarti tidak boleh rapuh? Mengapa menjadi anak perempuan pertama berarti harus menjadi penenang selamanya?

Ditulis oleh bbluesaturnn di Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Mitos dan Magis di antara Generasi Tua dan Generasi Muda di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Apa kabar? Senang sekali bisa menyapa kamu lagi dari Turki, negara yang selalu memikat dengan pesona budaya dan sejarahnya. Pada tulisan terakhir, saya sempat berbagi tentang pengalaman mistis yang saya alami di sini. Nah, kali ini, saya ingin mengajakmu berjalan-jalan menyusuri dunia mitos dan kepercayaan magis masyarakat Turki. Ada banyak hal unik yang saya temui, mulai dari benda-benda jimat, ramalan kopi, hingga mitos tentang ibu hamil dan bayi.

Sedikit cerita tentang diri saya. Saya lahir dan besar di tanah Sunda, tepatnya di Bogor. Di Indonesia, saya sudah akrab dengan mitos sejak kecil. Misalnya, orang tua dulu sering bilang, “Kalau menyapu lantai jangan setengah-setengah, nanti dapat suami yang jorok atau brewokan,” atau “Jangan duduk di atas meja, nanti banyak hutang.”

Hal-hal semacam ini terasa biasa saja bagi saya. Ketika saya pindah ke Turki, saya menemukan dimensi baru dari dunia mitos dan kepercayaan. Ada rasa penasaran sekaligus kagum, karena setiap budaya punya cara unik dalam memandang dunia gaib dan hal-hal yang tidak terlihat.

Sudah hampir lima tahun saya tinggal di Turki, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Lüleburgaz. Letaknya tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan Bulgaria. Awalnya, tentu ada rasa canggung. Saya tinggal di kompleks yang sama dengan kakak ipar, sementara rumah mertua hanya berjarak sekitar 15 km dari tempat kami.

Untuk beradaptasi, saya memutuskan ikut kursus bahasa Turki. Dari sana, saya mulai punya teman-teman lokal yang kemudian mengenalkan saya pada kebudayaan, tradisi, dan mitos-mitos khas negeri ini. Ada banyak kejutan budaya yang membuat saya berpikir, “Oh, ternyata di sini juga ada mitos yang mirip dengan Indonesia!”

Pengalaman pertama saya yang cukup membekas terjadi di sebuah toko roti. Waktu itu, saya hanya ingin memutar plastik kantong roti agar roti di dalamnya tidak keras terkena angin. Eh, ternyata, suami kakak ipar melihatnya dan langsung menegur dengan nada serius. Katanya, saya “memainkan” roti, dan itu dianggap dosa.

Di Turki, roti bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan. Roti harus dihormati, tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi sampai terinjak. Bahkan ada cerita bahwa roti yang jatuh ke lantai harus segera diambil, dibersihkan, dan dicium sebagai tanda penghormatan. Saya sempat kaget, karena di Indonesia kita jarang mendengar mitos tentang roti. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai roti setiap kali menyentuhnya.

Di Turki, nazar boncuğu atau jimat mata biru adalah benda yang sangat populer. Bentuknya mirip mata berwarna biru yang dipercaya mampu menangkal energi jahat dan melindungi pemiliknya dari bala. Saya sering melihat jimat ini tergantung di pintu rumah, dipasang di mobil, atau dijadikan perhiasan.

Kakak ipar saya termasuk orang yang sangat percaya pada kekuatan jimat ini. Saat anaknya sakit, dia menempelkan peniti bermata biru pada baju anaknya sebagai “perlindungan.” Walaupun anaknya sembuh setelah minum obat dari dokter, kakak ipar tetap yakin jimat ini punya peran.

Selain mata biru, ada juga kalung dan gelang dari batu alam. Kakak ipar saya membelikan perhiasan batu untuk anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa batu tersebut bisa membawa energi positif, membuat anak lebih rajin belajar, dan disayang guru. Uniknya, kalung dan gelang ini tidak bisa langsung dipakai. Harus dikubur selama 10 hari di halaman rumah sebelum digunakan. Rasanya seperti ritual yang penuh makna, sekaligus magis.

Salah satu pengalaman paling seru adalah saat pertama kali saya diramal dengan kopi Turki. Bagi orang Turki, ampas kopi bisa “membisikkan” masa depan. Caranya sederhana: setelah kopi diminum, cangkir kecilnya dibalik ke tatakan, diputar tiga kali ke kiri, lalu dibiarkan sebentar. Ketika cangkir diangkat, pola ampas kopi di dalamnya dibaca sebagai ramalan.

Saya masih ingat suasananya waktu itu. Kami duduk di ruang tamu yang hangat, ditemani semerbak aroma kopi yang kental. Seorang nenek mulai mengangkat cangkir saya dengan pelan, memandangnya seolah membaca sebuah peta rahasia. “Kamu akan mendapat kabar dari orang jauh,” katanya dengan nada yakin. Beberapa hari kemudian, memang ada satu keluarga Indonesia yang datang berkunjung ke rumah!

Ramalan kopi bukan hanya sekadar hiburan. Dalam budaya Turki, ritual ini juga jadi cara untuk mempererat hubungan sosial. Seringkali, sesi meramal diakhiri dengan tawa, cerita masa lalu, dan harapan-harapan baru. Bagi saya, ada sesuatu yang magis saat seseorang membaca ampas kopi dan menghubungkannya dengan kisah hidup kita.

Follow us

Cerita lain datang dari teman saya yang juga orang Indonesia. Saat hamil, dia pernah menyembunyikan kue di kantong celana karena kuenya tidak cukup untuk tamu yang datang. Ibu mertua menegurnya dengan serius. Katanya, itu bisa membuat bayi lahir dengan tanda lahir di tempat yang sama.

Awalnya, teman saya menganggap itu takhayul. Ternyata, setelah melahirkan, bayinya memang punya tanda lahir di paha kiri, sebesar kue yang disembunyikan!

Selain itu, ada kepercayaan bahwa foto bayi di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak ditampilkan jelas di media sosial. Orang percaya bahwa wajah bayi perlu “dilindungi” dari energi negatif. Hal ini mirip dengan kepercayaan di beberapa daerah di Indonesia.

Di kota kecil seperti Lüleburgaz, jimat dan ramalan masih jadi bagian dari keseharian beberapa orang. Ada yang menggantung bawang putih dan cabai kering di rumah untuk mengusir jin. Ada juga yang menulis ayat suci di kertas lalu menyimpannya di dompet agar rezeki lancar.

Saya pernah melihat langsung tetangga yang sangat percaya pada ramalan. Mereka mengundang peramal kopi untuk acara keluarga, seperti ulang tahun atau syukuran. Di sana, satu per satu tamu diminta untuk menunjukkan cangkirnya. Lucunya, suasana jadi penuh tawa ketika ramalan “unik” muncul, seperti prediksi jodoh atau rezeki mendadak.

Walaupun suami saya dan keluarganya lebih rasional, mereka tidak pernah mengejek atau merendahkan orang yang percaya pada hal-hal ini. Lingkungan pertemanan saya pun begitu. Ada yang percaya, ada yang skeptis, tapi semua saling menghargai. Menurut saya, sikap toleransi inilah yang membuat budaya Turki terasa hangat dan inklusif.

Salah satu tradisi yang saya anggap menarik adalah malam Kına. Ini adalah perayaan khusus calon pengantin perempuan sebelum menikah. Ia akan mengenakan gaun merah, dihias dengan emas, dan tangannya digambar dengan tinta henna. Malam itu, para perempuan seperti ibu, calon mertua, dan teman-teman dekat—akan menari bersama mengelilingi pengantin.

Saya pernah menghadiri malam Kına dan merasa seperti melihat adegan dari film sejarah. Lampu-lampu redup berpadu dengan musik tradisional yang menggema, menciptakan suasana haru sekaligus sakral. Ada momen ketika calon pengantin menangis, diiringi nyanyian lembut dari para perempuan yang hadir. Rasanya, tradisi ini bukan hanya tentang pesta, tapi juga doa dan restu untuk memulai hidup baru.

Bagaimana dengan anak-anak muda Turki? Apakah mereka masih percaya mitos? Jawabannya beragam. Beberapa teman muda saya sangat skeptis dan menganggap mitos hanyalah warisan masa lalu. Namun, ada juga yang percaya, bahkan bisa meramal dengan kopi atau tarot.

Di kota besar seperti Istanbul, generasi muda cenderung lebih rasional. Namun di kota kecil seperti Lüleburgaz, mitos masih hidup sebagai bagian dari identitas lokal. Hal ini mirip dengan Indonesia, di mana masyarakat kota besar mulai melupakan mitos, sementara daerah kecil masih melestarikannya.

Saya pernah mengalami momen unik dengan teman muda Turki. Saat kami sedang memasak bersama, saya hendak memberikan pisau langsung dari tangan saya. Dia tiba-tiba menghentikan saya, “Karin, letakkan saja pisau itu. Jangan diberikan langsung, nanti kita bertengkar.” Saya tersenyum kecil, karena mitos ini mengingatkan saya pada larangan-larangan di kampung halaman.

Saya pribadi tidak terlalu percaya pada mitos, tapi saya menghormati tradisi dan kepercayaan orang lain. Bagi saya, mitos adalah bagian dari kekayaan budaya.

Pengalaman paling mengesankan tentu saja saat diramal dengan kopi Turki. Ramalan itu menyentuh sisi terdalam hidup saya. Teman yang meramal bahkan menyebut tentang ayah saya yang sudah tiada, padahal saya tidak pernah menceritakan hal itu. Rasanya campur aduk—antara terharu, heran, dan percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak kasat mata.

Saya jadi belajar bahwa kepercayaan magis seringkali hadir sebagai cara manusia mencari pegangan, terutama di saat mereka merasa tak berdaya atau butuh jawaban.

Ternyata, ada beberapa mitos di Turki yang mirip dengan budaya kita. Misalnya, kuping panas atau berdenging pertanda ada yang membicarakan kita. Atau tangan gatal sebagai tanda akan mendapat uang. Ada juga kepercayaan bahwa makanan sisa pengajian membawa berkah jika dimakan.

Hal-hal semacam ini membuat saya merasa ada benang merah antara budaya Indonesia dan Turki. Mungkin karena keduanya sama-sama punya tradisi lisan yang kuat, di mana cerita diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari semua kisah ini, saya belajar bahwa mitos dan magis bukan hanya soal benar atau salah. Ini adalah cerita yang mengikat manusia dengan sejarah, keluarga, dan identitasnya.

Jika ada satu hal dari budaya mistis Turki yang ingin saya bagikan kepada sahabat Ruanita, itu adalah ramalan kopi Turki. Percaya atau tidak, ritual sederhana ini mampu membuka percakapan, menyatukan orang, bahkan memberi kita semacam harapan tentang masa depan.

Terima kasih sudah membaca cerita saya kali ini. Semoga kisah ini bisa menjadi jendela kecil untuk melihat keajaiban budaya Turki. Jangan ragu untuk berbagi pendapat atau cerita serupa di kolom komentar ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Penulis: Karin, relawan Ruanita di Turki. Bisa dihubungi melalui Instagram: @noviakarina19.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(PODCAST RUMPITA) Meraih Mimpi dari Melbourne: Perjalanan Anindya Zahra di Dunia Farmasi

Di program diskusi Podcat Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – episode Februari 2026 mempersembahkan diskusi inspiratif bersama Anindya Zahra Nugrahningrum, atau akrab disapa Anin atau Anne, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia, dalam bidang Pharmaceutical Science.

Bersama Anna di Jerman dan Rieska di Italia, host Podcast RUMPITA, Anin berbagi cerita tentang perjuangan, adaptasi, serta visinya membangun industri farmasi dan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.

Anin memulai pendidikannya di Melbourne sejak Februari 2024. Dengan usia yang masih muda, ia langsung menempuh kuliah S1 di luar negeri. Tantangan adaptasi menjadi bagian besar dari perjalanannya, namun dukungan penuh dari pihak kampus dan komunitas internasional membantunya untuk terus maju.

“Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari Monash, mulai dari layanan konseling gratis, bantuan akademik, hingga lingkungan pertemanan yang suportif,” ujar Anin.

Di Australia, sistem pendidikan farmasi berbeda dari Indonesia. Mahasiswa hanya fokus pada empat mata kuliah utama setiap semester agar pembelajaran lebih efektif.

Anin menyoroti pentingnya fokus akademik, serta bagaimana mahasiswa internasional diberikan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun mental.

Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam konteks akademik yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Namun, keberagaman mahasiswa dari berbagai negara membuatnya merasa tidak sendiri.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita Anin adalah visinya membangun industri skincare dan kosmetik berbahan alami dari Kalimantan.

Sebagai putri daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan potensi alam Indonesia, khususnya bahan organik yang dapat dikembangkan secara global.

“Saya ingin menimba ilmu selama dua sampai tiga tahun di Australia, lalu kembali ke Indonesia untuk mengembangkan produk skincare berbasis bahan lokal dari Kalimantan,” kata Anin penuh semangat.

Ia juga menyadari pentingnya kesadaran nasional terhadap kekayaan sumber daya alam, terutama untuk keperluan farmasi dan kosmetik alami, yang saat ini menjadi tren di berbagai negara, termasuk Eropa.

Melalui diskusi bersama Rieska dan Anna, podcast ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana industri farmasi berkembang di Italia dan Jerman.

Di Eropa, tren kembali ke bahan-bahan organik terus menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap efek samping bahan kimia.

Pengalaman pribadi para host dalam mengakses obat-obatan juga memperlihatkan perbedaan sistem kesehatan antar negara.

Di akhir sesi, Anin memberikan pesan yang menyentuh bagi perempuan Indonesia yang ingin terjun di dunia farmasi dan kecantikan:

“Kita perlu sadar akan potensi negeri sendiri. Jangan ragu bermimpi besar dan belajar ke luar negeri, tapi jangan lupa kembali untuk berkontribusi. Indonesia kaya, dan kita bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk membantu lebih banyak orang.”

Podcast ini bukan hanya tentang farmasi, tapi juga tentang semangat perempuan muda Indonesia dalam berkarya untuk tanah air.

Dengarkan program diskusi Podcast Rumpita: Rumpi bersama Ruanita. Pastikan FOLLOW akun podcast RUMPITA di kanal Spotify berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Bekerja sebagai Nanny di Dubai, Pengalaman dan Tantangannya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Yuni yang kini bekerja dan menetap di Dubai, Uni Emirat Arab. Sejak lama aku sudah terbiasa merantau. Tahun 2004, setelah musibah tsunami Aceh, aku mulai mengadu nasib di luar daerah, hingga akhirnya berani melangkah lebih jauh ke luar negeri. Enam tahun terakhir aku menetap di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan berbagai pengalaman pahit manis yang menempa diriku.

Alasan awalku sederhana: ingin membantu orang tua. Namun seiring waktu, alasan itu berkembang menjadi tekad untuk memutus rantai generasi sandwich di keluarga kami. Aku ingin memperbaiki kehidupan, menyekolahkan anak-anak dengan baik, dan memastikan di masa depan aku tidak bergantung pada mereka.

Awal kedatanganku ke Dubai adalah melalui sebuah agen penyalur, dan aku bekerja sebagai nanny di sebuah keluarga lokal/Emirati. Keluarga ini sangat baik, tetapi budaya kerja mereka berbeda. Selama dua tahun kontrak, aku tidak mendapatkan libur sama sekali. Gajiku saat itu hanya 1200 dirham per bulan. Aku membaginya dengan disiplin: 600 dirham kukirim ke keluarga di kampung, sisanya kutabung dengan harapan suatu hari bisa mandiri dan mencari pekerjaan sendiri tanpa agen.

Setelah kontrak berakhir, aku sempat pulang ke Indonesia, lalu kembali lagi ke Dubai dengan visa kerja legal. Selama satu setengah tahun aku bekerja serabutan, tetap di bidang ART dan nanny, namun kontraknya tidak pernah lama—paling hanya tiga bulan di satu keluarga. Di masa itu aku juga mulai berjualan kue-kue Indonesia. Dari situlah lahir “Yuni Martabak,” yang sampai sekarang masih dikenal.

Suatu hari, dengan iseng aku mengunggah CV di situs pencari nanny. Tak kusangka, dari situlah aku bertemu dengan majikan Belanda yang kemudian menjadi tempatku bekerja hingga sekarang. Jadi, sebenarnya aku baru satu setengah tahun bersama keluarga Belanda ini, tetapi pengalaman enam tahun di Dubai itulah yang membentukku menjadi lebih kuat dan mandiri.

Menyesuaikan diri dengan mereka tidak sulit. Justru aku merasa dihargai. Sang “Sir” sering turun tangan membantu pekerjaan rumah dan aku diberi ruang untuk tetap menjalankan budaya Indonesia, termasuk memasak makanan khas seperti sate, nasi goreng, soto ayam, hingga bakwan.

Budaya kerja mereka berbeda dengan orang Indonesia. Mereka tegas dan jujur. Pujian hanya keluar ketika benar-benar tulus, bukan sekadar basa-basi. Sementara di Indonesia, kita terbiasa ramah, penuh “sungkan,” dan kadang tidak begitu tegas.

Kesalahpahaman tentu pernah terjadi, tetapi kuncinya adalah berkomunikasi langsung dan saling meminta maaf. Syukurlah, keluargaku di Dubai sangat pengertian. Mereka memberiku kebebasan untuk tetap menjalankan nilai-nilai budaya Indonesia, mulai dari ibadah, makanan, hingga pakaian. Bahkan, mereka menyukai masakan Indonesia favorit seperti sate, nasi goreng, soto ayam, kerupuk, bakwan, hingga pisang goreng!

Dalam pola asuh anak, aku melihat perbedaan yang cukup jelas. Mereka sangat disiplin dalam hal waktu: tidur, makan, dan bermain memiliki jadwal ketat. Meski ada pengasuh, orang tua tetap membagi waktu dan terlibat langsung dalam pengasuhan. Sedangkan di Indonesia, pola asuh biasanya lebih fleksibel, santai, dan mengalir.

Meski begitu, tantangan sebagai pekerja migran tetap berat. Rindu keluarga sering kali menjadi ujian terbesar, ditambah rasa lelah dan kadang tekanan mental. Aku mengatasinya dengan menangis untuk melepaskan emosi, belajar dari video YouTube, dan bersandar pada teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia). 

Di sisi lain, aku juga berusaha menjaga keseimbangan hidup: bermain badminton bersama komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB), ikut bazar KJRI untuk menjual kue, bahkan sempat berkesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Mimpiku sederhana namun kuat: suatu saat aku ingin punya toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin punya rumah di kota besar, dekat bandara, agar lebih mudah bila harus bepergian.

Cara yang kulakukan sederhana: aku menangis untuk meluapkan emosi, lalu belajar melepaskannya. Kadang aku belajar dari video YouTube untuk menenangkan diri. Teman-teman sesama PMI menjadi tempatku bersandar secara emosional di sini.

Yang membuatku tetap kuat adalah mimpi-mimpiku dan orang tua yang masih membutuhkan dukungan, juga anakku yang sedang bersekolah. Itu semua menjadi semangatku.

Pekerjaanku sehari-hari dimulai dengan mengajak jalan anjing pomeranian keluarga, lalu menyiapkan sarapan untuk Julien, anak yang aku asuh. Menunya biasanya telur orak-arik, tomat cherry, mentimun, dan roti. Setelah itu, aku menemaninya bermain, baik di play hall saat musim panas, maupun di taman saat musim dingin.

Siang hari aku menyiapkan makan siang, kemudian membereskan rumah saat Julien tidur siang. Sore harinya, aku memasak makan malam sesuai permintaan majikan.

Hari Minggu adalah hari liburku. Biasanya aku berkumpul dengan teman-teman PMI, dan malamnya bermain badminton. Aku juga bergabung dengan komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Dari sanalah aku banyak mendapat energi positif.

Soal keuangan, aku berusaha bijak: mengirim secukupnya untuk keluarga, sedangkan sisanya ditabung. Majikanku pun sangat menghargai pekerja, bahkan memberiku waktu bebas tambahan dua kali seminggu untuk bermain badminton sejak sore hingga tengah malam. Aku juga pernah ikut pelatihan pertolongan pertama, yang menjadi pengalaman berharga.

Momen paling berkesan selama di Dubai adalah ketika bisa berjualan di bazaar KJRI, bermain badminton bersama komunitas, dan kesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Pengalaman enam tahun ini membuatku lebih tangguh sebagai perempuan Indonesia. Aku tetap bangga dengan identitasku, dan pengalaman ini semakin menguatkanku untuk meraih mimpi.

Impian terbesarku adalah memiliki toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin memiliki rumah di kota besar agar dekat dengan bandara, supaya lebih mudah bila harus bepergian atau kembali ke tanah air.

Bekerja di luar negeri memang penuh tantangan, baik secara budaya, fisik, maupun emosional. Namun dengan niat yang kuat, komunikasi yang baik, dan dukungan dari sahabat-sahabat seperjuangan, semua itu bisa dijalani.

Aku percaya, setiap perantau membawa cerita, dan setiap cerita adalah kekuatan. Semoga mimpiku dan juga mimpi sahabat-sahabat Ruanita juga bisa tercapai.

Penulis: Yuni, tinggal di Dubai Uni Emirat Arab dan dapat dikontak via akun instagram yunninuranii.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Bijak Bersosial Media Menurut Saya?

Halo, sahabat Ruanita! Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya biasa dipanggil Tyka dan saat ini saya tinggal di salah satu provinsi  di negara Spanyol, yaitu Barcelona. Saya tinggal sekitar 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang lumayan cukup panjang saya memberanikan diri untuk berwirausaha di sini.  Tentunya, itu membutuhkan sebuah keberanian dan mental yang lumayan cukup berat.  Mungkin ada beberapa pertanyaan dari sahabat Ruanita, apa yang menjadi inspirasi saya.  

Menurut saya, Barcelona adalah salah satu provinsi di Spanyol yang memberikan ruang  untuk kita lebih mudah membangun komunikasi, berelasi, dan berwiraswasta. Saya mengamati, kebanyakan  perempuan-perempuan lokalnya begitu mandiri dan punya integritas tinggi untuk menciptakan peluang. 

Banyak perempuan di sini gigih, tangguh, dan bisa membaca serta menangkap sebuah peluang. Secara tidak langsung, daya tarik mereka menumbuhkan hasrat besar bagi saya untuk  berwiraswasta dibandingkan menjadi karyawan. Tentunya, lingkungan dan relasi saya dengan  perempuan-perempuan di sini menjadi inspirasi saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu, sayangnya.  

Saat ini, saya lebih fokus mengembangkan diri di bidang pariwisata yang mencakup  Hospitality, Event and Travel secara global.  

Untuk traveling, memang menjadi salah satu usaha kami. Bagi saya, traveling itu sangat  perlu ya. Secara tidak langsung, traveling memberikan wawasan dan  kesempatan serta ruang yang lebih untuk upgrade diri dan masih banyak Benefit lainnya. Saya yakin, jika sahabat Ruanita mencoba melakukan traveling bagi yang belum pernah, maka pasti akan merasakan perubahan yang luar biasa.

MEDIA SOSIAL DAN TINGGAL DI LUAR NEGERI

Media sosial itu bagi kami sangat menguntungkan, asalkan dalam penggunaan secara betul dan  memang dibutuhkan. Contohnya, media sosial akan  menguntungkan bagi kita yang sedang membangun usaha, untuk sarana membangun komunikasi, relasi, promosi (marketing) ataupun  bisa jadi untuk personal branding. Mungkin ini pendapat saya pribadi, tergantung  penggunaannya, bila kita gunakan secara positif. Tentunya, ini akan mengundang reaksi yang positif, tetapi kalau digunakan secara negatif, hasilnya akan menjadi negatif juga.  

Peran media sosial bagi saya 70% bisa untuk menjangkau komunikasi global dan relasi dibandingkan dilakukan secara  offline, yang mana tentunya sangat mempermudah dan dengan budget, yang lebih minus untuk bidang  marketing.  

Kami menggunakan media sosial untuk menciptakan aplikasi, branding, dan kampanye serta kolaborasi di Instagram, TikTok, dan ini sangat membantu kami.  

Kami membagikan pengalaman yang tujuannya untuk promosi, demi perkembangan bisnis kami di travel. Andaikan kami tidak memiliki bisnis di pariwisata, mungkin saya secara pribadi jarang melakukan update. Jadi, kami menggunakan media sosial untuk suatu kebutuhan. Itu salah satu kebijakan yang saya ambil juga.  

Selama ini, tantangan jarang sekali kami temukan karena kami hidup di sebuah tempat yang  penghasilanya 80% di bidang pariwisata di mana secara tidak langsung kami berperan  mengkampanyekan destinasi-destinasi mereka di bidang apapun. Sebelumnya, kami selalu  membangun komunikasi dengan yang bersangkutan ataupun atas permintaan mereka untuk  berkolaborasi.  

BIJAK DALAM BERSOSIAL MEDIA 

Terkait bijak bersosial media, berdasarkan pengalaman, kami sangat berhati-hati dan memahami  apa yang kita lempar atau melakukan update di media sosial, flexing, update status yang mengkritik, bicara  uang, politik, atau agama, maka saya sangat menghindarinya.  Hanya fokus untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai profesi pekerjaan dan produk kami. Selama ini, kami belum pernah menemukan hal negatif, seperti cyberbullying, kritik, dan hal negatif lainnya.  Mungkin apa yang kita dapat, mungkin akan menyesuaikan apa yang kita lempar di media sosial. 

Kembali beralih tentang pendapat netizen Indonesia ya. Mungkin hanya sekilas kadang kami  membaca tetapi  tidak ditujukan ke kami. Saya pribadi begitu sulit berkomentar, cukup kami  mengerti situasi mereka dan kami lebih cenderung mencari solusi saja.

Setiap individu berhak bicara  apapun, tetapi kalau kita bisa mengerti mereka. Itu tidak akan menjadi beban yang mengganggu, apalagi  menjadi masalah buat kita. Ambil nilai positifnya saja, seburuk apapun komentar netizen, setidaknya ada segi positifnya yang bisa diambil.  

Budaya berkomentar di Spanyol jauh sangat beda ya dengan netizen Indonesia. Namun, maaf jangan  dijadikan perbandingan! Orang Spanyol akan lebih berkomentar membangun! Mereka berkomentar untuk membutuhkan informasi atau mereka ingin membangun untuk relasi. Jadi, itu salah satu hal yang menguntungkan kami.  

Kami sangat menjaga privasi dan data kami, dengan tidak menggunakan sosial media untuk  privasi kami seperti: keadaan keluarga, kondisi keluarga, atau kegiatan-kegiatan yang tidak bersangkutan dengan marketing kami, yang pastinya akan kami hindari untuk update di sosial media.  

Bagi sahabat Ruanita semua, media sosial akan menjadi bagian jembatan menuju  kesuksesan atau mencapai impian dalam bisnis apapun, asalkan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakannya.

Bijak bermedia sosial diperlukan agar media sosial tidak menjerumuskan kita ke banyak hal negatif, yang kadang kita tidak menyadarinya. Pada akhirnya, tidak bisa bersikap bijak bermedia sosial akan membawa ke arus ke kehidupan, yang bisa  dibilang sulit, bila kita salah menggunakannya.  

Harapan saya kepada pemerintah Indonesia adalah pentingnya memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan media sosial, agar masyarakat memahami batasan dan etika dalam menggunakannya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

Regulasi yang dibuat pemerintah tidak akan efektif jika sumber daya manusianya tidak dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendidikan tentang literasi digital perlu dimulai sejak usia dini, dari anak-anak hingga generasi muda.

Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam membimbing anak memilih dan menggunakan media sosial secara bijak. Jika setiap orang tua di Indonesia melakukan ini, maka akan terjadi perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital. Dengan sinergi antara individu dan kebijakan pemerintah, media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan produktif untuk semua.

PENUTUP DAN INSPIRASI 

Sejauh ini, pengalaman bersosial media bagi kami sangat bermanfaat bagi saya pribadi dan tim  kami, serta bisa mempermudah klien kami untuk menggunakan sebagai sarana informasi yang  mereka butuhkan, terutama di bidang pariwisata dan Hospitality yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, media sosial kami anggap sebagai rasa penghargaan bagi konsumen kami atas apresiasi kami, yang telah memberi  kepercayaan ke kami dalam event mereka.  

Untuk seluruh sahabat Ruanita, yang menjadi pengguna sosial media dan ingin atau sedang berkarya di luar  negeri, ini pesan saya. Pertama, pahami apa Rule dalam menggunakan media sosial di tempat tersebut. Pasti setiap tempat memiliki Rule masing-masing yang berbeda dengan Indonesia. Bila sahabat Ruanita sudah paham benefit-nya, maka akan banyak perilaku bijak dalam membangun media sosial, seperti: memberi atau  mencari informasi positif.  

Sejauh ini, saya tetap akan menggunakan media sosial, baik Instagram, TikTok, dan evaluasi  aplikasi kami untuk di teknologi pariwisata. Tentunya, ini akan menjadi sebuah alat atau produk  yang bisa bermanfaat bagi orang banyak ke depan. Prinsip saya, media sosial merupakan salah satu bagian dari nyawa bisnis kami.  

Selebihnya tulisan ini semata-mata saya petik berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mungkin  sahabat Ruanita bisa memetik hal positif untuk membantu Anda semua untuk terus  bertumbuh dan berkembang dalam membangun bisnis di luar negeri. Sebaiknya, kita tidak ragu dan tidak salah untuk menentukan pilihan dalam menggunakan media sosial. Sekian dari saya. Bila ada kekurangan, harap dimengerti dan dimaafkan.  

Penulis: Tyka Karunia, perempuan Indonesia berwirausaha di Barcelona, Spanyol, yang dapat dikontak melalui akun Instagram @tykakarunia.

(SIARAN BERITA) Winter Depression: Tantangan Mental Pelajar Indonesia di Negara Bersalju

Jakarta, 31 Januari – Bagi banyak pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, hidup di negara dengan empat musim bukan sekadar menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin atau salju yang menumpuk. Ada tantangan yang lebih halus, tetapi berdampak signifikan terhadap keseharian mereka: Winter Depression atau yang juga dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Kondisi ini muncul akibat berkurangnya paparan cahaya matahari, perubahan ritme biologis tubuh, hingga tekanan adaptasi sosial dan budaya. Gejalanya bisa muncul dalam bentuk perasaan sedih yang berkepanjangan, penurunan energi, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Winter Depression kerap membuat pelajar terlambat mendapatkan penanganan, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental, performa akademik, dan kualitas hidup mereka.

Menyadari hal ini, Ruanita menggandeng Kesmenesia berkolaborasi dengan PPI Dunia untuk menyelenggarakan psikoedukasi daring bertajuk “Winter Depression: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Lebih Sehat”. Acara ini dijadwalkan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 CET atau 16.00 WIB, melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk pelajar Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri, serta pengurus dan anggota PPI.

Acara akan diawali oleh salam pembuka dan pengantar dari Ashlee Quissa, anggota PPI Dunia di Malaysia, yang memperkenalkan tujuan dan alur kegiatan. Selanjutnya, Aulia Farsi, pemateri ahli dalam bidang kesehatan mental, akan membimbing peserta untuk memahami Winter Depression secara mendalam. Mulai dari definisi, perbedaan dengan depresi biasa, hingga gejala emosional, fisik, dan perilaku yang dapat memengaruhi kehidupan akademik dan sosial pelajar.

Lebih dari sekadar teori, sesi ini juga membahas faktor risiko yang spesifik dialami pelajar Indonesia, seperti adaptasi budaya, homesickness, tekanan akademik, serta minimnya paparan sinar matahari di negara empat musim. Peserta akan diajak mengeksplorasi strategi koping praktis, termasuk perubahan gaya hidup, pentingnya dukungan sosial, hingga kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional.

Tak ketinggalan, sesi tanya jawab interaktif memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan baik secara tertulis di kolom Chat maupun formulir elektronik yang disediakan oleh Ruanita Indonesia sejak pendaftaran.

Menurut Aulia Farsi, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang kontekstual dan relevan bagi pelajar Indonesia. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenali gejala, tetapi juga siap menghadapi Winter Depression dengan strategi yang nyata dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Ruanita bersama Kesmenesia dan PPI Dunia berharap pelajar Indonesia dapat lebih sadar akan tantangan kesehatan mental yang mungkin muncul selama studi di luar negeri dan mampu menjaga kesejahteraan mereka secara lebih efektif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(CERITA SAHABAT) Membesarkan Anak di Latvia dan Bagaimana Menemukan “Rumah” di Negeri Baltik

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Soca Indriya, biasa dipanggil Soca. Saya tinggal di Latvia bersama suami dan ketiga anak kami. Perjalanan ini awalnya bukan rencana besar yang kami buat jauh-jauh hari. Kami pindah ke sini karena saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Latvia. Dari situlah kehidupan baru kami dimulai, jauh dari tanah air dan keluarga besar.

Jika dulu ada yang bertanya pada saya, “Apakah kamu akan menetap di Latvia?” mungkin saya hanya akan tersenyum bingung. Latvia bukan negara yang sering masuk dalam daftar destinasi impian. Tapi takdir membawa kami ke sini. Dengan tiga anak kecil, yakni si sulung usia 9 tahun, si anak tengah perempuan 8 tahun, dan si bungsu laki-laki 4 tahun, yang kemudian membuat kami berani mencoba hidup di negeri Baltik.

Awalnya penuh tanda tanya. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan cuaca yang katanya ekstrem? Bagaimana dengan bahasa yang terdengar asing di telinga? Semua itu jadi bagian dari petualangan pertama kami.

Dan ternyata, setelah dijalani, Latvia menyimpan kenyamanan tersendiri. Fasilitas umum untuk anak-anak sangat mendukung. Kota terasa tenang, tidak bising. Ada ruang untuk keluarga menikmati waktu bersama, sesuatu yang sebelumnya agak sulit kami dapatkan ketika masih di Indonesia karena kesibukan pekerjaan.

Perbedaan pertama yang paling terasa adalah soal cuaca. Latvia hanya punya musim panas sekitar tiga bulan. Sisanya adalah musim gugur, musim dingin, dan musim semi, di mana saya merasakan suhu yang jauh lebih dingin dari yang pernah saya bayangkan.

Di Indonesia, saya terbiasa bertemu orang di jalan, tersenyum, atau sekadar berbasa-basi dengan tetangga. Di Latvia, semua itu hampir tidak ada. Orang keluar rumah biasanya karena ada urusan. Senyum pada orang asing bahkan bisa dianggap mencurigakan.

Awalnya aneh, bahkan terasa dingin bukan hanya di udara, tetapi juga soal interaksi satu sama lain. Namun lama-kelamaan saya belajar, inilah budaya mereka. Dan sedikit demi sedikit, saya juga ikut berubah. Saya mulai terbiasa hidup dengan cara yang lebih “Latvian”, meski tetap menjaga jati diri sebagai orang Indonesia.

Salah satu perbedaan besar membesarkan anak di Latvia adalah ketiadaan dukungan keluarga besar. Tidak ada nenek, kakek, atau kerabat yang bisa ikut membantu. Akibatnya, anak-anak jadi lebih dekat kepada kami sebagai orang tua.

Saya merasakan ini sebagai hal yang sangat berharga. Hubungan emosional kami terasa lebih kuat. Tapi tentu saja, ada tanggung jawab tambahan. Di Indonesia, banyak orang tua bisa “menitipkan” urusan belajar anak kepada guru les atau kursus tambahan. Di sini, kami harus benar-benar mengambil peran penuh.

Saya dan suami menjadi guru untuk anak-anak kami. Dari pelajaran sekolah, hingga nilai-nilai kehidupan. Dan jujur saja, saya merasa banyak belajar juga dari proses ini.

Latvia memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Uni Soviet. Salah satu dampaknya adalah, masyarakat di sini tidak begitu religius. Agama ada, tetapi tidak begitu kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai muslim, saya harus ekstra berjuang menanamkan nilai agama pada anak-anak. Kami mengajarkan mengaji di rumah, melatih berpuasa meski teman-teman mereka tidak berpuasa, dan menjaga ibadah harian sebisa mungkin. Rasanya seperti mendaki perlahan, tapi saya percaya inilah investasi terbesar bagi masa depan anak-anak.

Syukurlah ada komunitas masjid di kota kami. Sesekali mereka mengadakan acara khusus anak-anak. Itu sangat berarti, karena membuat anak-anak merasa tidak sendirian dalam menjalani identitas keislamannya.

Bahasa adalah dunia baru bagi anak-anak saya. Di rumah, kami tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Saya ingin mereka tidak kehilangan bahasa ibu. Tapi di luar rumah, anak-anak harus berbahasa Latvia.

Follow for more

Hal menarik, mereka juga otomatis bisa berbahasa Inggris. Teman-teman di sekolah datang dari berbagai negara, sehingga bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi. Tanpa kursus khusus, anak-anak bisa menguasai tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Latvia, dan Inggris.

Ada pengalaman yang sampai sekarang membuat saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Anak kedua saya, ketika baru masuk sekolah, memilih diam total. Ia tidak berbicara sama sekali dalam bahasa Latvia. Ternyata, itu caranya belajar. Ia mengamati, menyerap, mencatat dalam ingatan. Setelah tiga bulan, ia tiba-tiba bisa berbahasa Latvia dengan lancar. Wali kelasnya sampai terkejut, dan seluruh teman sekelas bertepuk tangan menyambut “aksi diam” yang akhirnya berakhir.

Saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan di Latvia. Sekolah menerima anak-anak kami dengan tangan terbuka. Guru wali kelas baik dan sabar.

Ketika bulan Ramadhan tiba, saya memberi tahu guru bahwa anak-anak tidak akan makan siang selama sebulan. Mereka tidak sepenuhnya mengerti konsep puasa, tapi mereka menghormati keputusan itu. Rasanya hangat sekali ketika melihat anak-anak tetap didukung meski berbeda dengan mayoritas.

Secara sosial, keluarga kami cukup diterima di Latvia. Jumlah imigran memang tidak banyak, sehingga wajah Asia masih terbilang jarang. Generasi muda Latvia relatif terbuka. Namun generasi tua masih sering memperlihatkan rasa asing, misalnya dengan tatapan penuh selidik di transportasi umum.

Awalnya, hal itu membuat saya kurang nyaman. Tapi lama-kelamaan, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan. Saya lebih memilih fokus pada hal-hal positif: anak-anak punya teman, sekolah mendukung, dan kehidupan berjalan baik.

Di rumah, kami berusaha sekuat tenaga menjaga budaya Indonesia. Kami tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetap memasak makanan Indonesia, dan tetap menceritakan kisah-kisah tentang tanah air.

Setiap 17 Agustus dan Idul Fitri, komunitas Indonesia di Latvia mengadakan perayaan sederhana. Kami membawa makanan masing-masing, berbagi cerita, dan melepas rindu akan suasana tanah air. Itu jadi momen penting untuk mengingatkan anak-anak: bahwa mereka berasal dari negeri kaya budaya bernama Indonesia.

Tantangan terbesar adalah soal tradisi. Bahasa dan makanan masih bisa dijaga. Tapi suasana perayaan kampung, tarian daerah, atau upacara bendera di sekolah tentu sulit tergantikan.

Hidup di lingkungan yang berbeda tentu memberi dampak psikologis bagi anak-anak. Saya dan suami berusaha mendukung perkembangan emosional mereka. Kami mendorong anak-anak ikut dalam kegiatan sekolah, berteman dengan siapa saja, dan berani menghadapi perbedaan.

Kadang ada miskomunikasi dengan teman-teman. Saya mencoba menjembatani, tapi tidak mengambil alih. Saya ingin anak-anak belajar menyelesaikan masalah sendiri. Saya percaya, itu akan membuat mereka lebih dewasa.

Sejauh ini, anak-anak cukup kuat. Tidak ada rasa minder atau merasa berbeda. Justru mereka lebih percaya diri karena bisa menguasai bahasa lebih dari satu.

Saya menyadari bahwa kelak, ketika anak-anak menginjak remaja, mungkin akan ada benturan budaya. Remaja Latvia cenderung lebih bebas, dengan pola pergaulan yang berbeda dari nilai yang kami anut sebagai keluarga Indonesia muslim.

Itu menjadi tantangan besar bagi kami. Kami hanya bisa menyiapkan pondasi sejak dini, agar mereka kuat memegang nilai yang kami tanamkan, sekaligus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungannya.

Dari semua perjalanan ini, saya belajar bahwa hidup di luar negeri membuat keluarga kecil kami semakin solid. Dulu, ketika masih di Indonesia, saya dan suami sibuk bekerja. Waktu berkualitas bersama anak-anak hanya tersedia di akhir pekan. Itu pun kadang terganggu urusan pekerjaan.

Di Latvia, meski jauh dari keluarga besar, justru kami lebih banyak waktu bersama. Anak-anak lebih dekat dengan kami. Hubungan terasa lebih hangat. Saya benar-benar menikmati fase ini.

Harapan saya sederhana tapi besar: saya ingin anak-anak menyelesaikan pendidikan dengan baik, tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bisa beradaptasi dengan dunia global, tapi tetap mencintai Indonesia.

Saya ingin mereka tetap fasih berbahasa Indonesia, tetap bangga dengan identitasnya, dan kelak, dari manapun mereka berada, bisa memberi kontribusi untuk negeri asal.

Untuk para orang tua Indonesia yang juga menjalani kehidupan di negeri orang, saya ingin menyampaikan: Tetap semangat. Syukuri hal-hal kecil setiap hari. Situasi di luar negeri mungkin tidak selalu ideal, tapi selalu ada sisi yang layak dijalani, dinikmati, dan diperjuangkan.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang beradaptasi di tempat baru, tetapi juga tentang menemukan kembali arti keluarga, kebersamaan, dan cinta pada tanah air meski dari jauh.

Penulis: Soca Indriya, tinggal di Latvia dan dapat dikontak via akun instagram @socasoci.