(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu di Belgia yang Memiliki Anak dengan Autisme

Dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April agar publik mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang Autisme, termasuk mengadvokasi anak dengan Autisme yang masih mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia mengundang Alda Trisda yang tinggal di Belgia untuk berbagi pengalaman dan perjuangannya sebagai ibu dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Alda mengakui di awal ketika anaknya didiagnosa sebagai anak dengan Autisme, dia tidak berkoordinasi dengan suami dalam mendapatkan penanganan yang tepat untuk anaknya. Alda berpesan agar orang tua yang memiliki anak dengan Autisme dapat bekerja sama antara ayah dan ibunya dalam merawat anak dengan Autisme. Alda menyebut istilahnya adalah ayah dan ibu punya level pengetahuan yang sama dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Follow us

Di Belgia sendiri, Alda menyadari bahwa pemerintahnya sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun diakui Alda, fasilitas dan sarananya tidak sebaik seperti negara-negara Eropa lainnya yang ada di sekitar Belgia.

Alda mendapatkan tunjangan finansial yang cukup baik dari Pemerintah Belgia, dalam membesarkan anak dengan Autisme, seperti menyediakan sarana belajar di rumah. Bahkan Alda mengambil kelas khusus sebagai orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autisme. Alda sering mendapatkan kunjungan dari institusi perlindungan anak berkebutuhan khusus di Belgia untuk memastikan kebutuhan yang tepat untuk anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia juga menyediakan lokasi khusus yang membantu anak dengan Autisme tumbuh secara mandiri sosial yang mulai dari usia anak di bawah 18 tahun dan mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

Alda lebih memilih untuk merawat dan membesarkan anaknya di rumah, sambil dia banyak mencari tahu bagaimana menangani anak dengan Autisme di rumah. Alda merasakan berbagai tantangan yang tak mudah sebagai ibu yang memiliki anak dengan Autisme.

Resiliensi sebagai ibu itu dirasakannya lebih sulit, dibandingkan membesarkan anak dengan Autisme. Hal terpenting ketika ada anak dengan Autisme di keluarga, adalah bagaimana kita menerima apa adanya dan kesabaran yang tinggi.

Bagaimana cara Alda dalam menyiapkan sarana belajar di rumah sehingga anak dengan Autisme dapat tumbuh mandiri? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika memiliki anak dengan Autisme? Apa saja kebijakan yang berlaku di Belgia dan negara-negara sekitarnya di Eropa terhadpa kebijakan anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autisme? Apa pesan Alda di Hari Peduli Autisme Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program-program kami ya!

(CERITA SAHABAT) Living with my Bipolar: The Long Journey of Dealing with my Emotions

Disclaimer:

Sebelum kalian membaca cerita saya panjang lebar, saya ingin kalian tahu bahwa I don’t speak on behalf of every ODBs. Apa yang saya bagikan di sini adalah pure dari pengalaman dan perasaan saya pribadi. Saya menuliskannya per akhir Oktober 2023 yang mungkin saja minat dan aktivitas saya berbeda ketika kalian membacanya sekarang. Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang memberikan saya ruang untuk berbagi.

***

Halo sahabat Ruanita, nama saya lumayan panjang tetapi saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dinda Mahadewi. Beberapa waktu lalu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa rantauan dan akhirnya balik ke kampung halaman, Bali. Saat ini, saya merupakan relawan sebuah lembaga bantuan hukum. Kesibukan saya akhir-akhir ini adalah saya sedang mendampingi sebuah kasus yang masih berlangsung di suatu daerah di Bali.

Saya ingin bercerita apa yang saya alami sebagai orang dengan bipolar. Awalnya saya sama sekali tidak ‘ngeh’ bahwa ada yang salah dari diri saya sendiri, sampai akhirnya saya duduk di bangku kuliah. Suatu hari, saat sedang berlangsung materi pengantar ilmu hukum, badan saya bergetar, keringat dingin, jantung berdebar keras, tidak bisa bernapas dengan baik, rasa ingin lari dari bangku menuju pintu ruang kelas terus menderu, saya memegang erat teman yang duduk di bangku sebelah saya. 

Kejadian ini berlangsung kira-kira 5 hingga 10 menit. Setelah kejadian tersebut, saya merasakan lelah yang luar biasa. Itu kejadian pertama, dan beberapa kejadian yang sama terus mengikuti dengan gejala dan durasi yang sama. Mulai saat itu, saya berpikir bahwa ada yang salah dengan diri saya dan saya mencoba menarik benang merah dari kejadian tersebut. 

Saya bukanlah orang yang memiliki penilaian buruk terhadap psikolog ataupun psikiater. Saya netral saja, bila terjadi, terjadilah. Saya merasa ada yang salah dengan kondisi psikologis saya karena rentetan kejadian tersebut. Saya baru tahu kalau itu dinamakan panic attack. Apabila ditarik lebih jauh lagi, mungkin ada hubungannya dengan masa kecil saya yang kemudian memicu saya. Namun, saya akan menceritakan hal-hal yang saya ingat dengan jelas saja. 

Pada masa SMP, saya menggores-goreskan cutter ke tangan kiri saya. Alasannya, saya tidak ingat sama sekali. Namun, saya merasa lega setelah melakukan hal tersebut. Teman-teman saya sadar akan luka di tangan saya dan menyuruh untuk berhenti. Namun, saya tetap tidak berhenti. 

Teman-teman sekelas saya juga menilai bahwa mood saya kerap kali tidak terkendali dan ‘sensian’ bahasa kerennya waktu itu. Beberapa waktu berselang, saya akhirnya berhenti ‘sejenak’ dari aktivitas tersebut dan membuang seluruh cutter yang ada di rumah. 

Pada suatu hari, entah apa yang memicu saya, saya memecahkan piring dan belingnya kembali saya goreskan ke tangan kiri saya. Sampai kini, luka tersebut masih berbekas dan saya juga seolah bisa melihat goretan-goretan ‘hasil karya’ saya yang sudah memudar. 

Masa SMA saya bisa dibilang tidak seindah yang dikatakan orang-orang. Saya mengalami krisis kepercayaan diri dan cenderung menjauh dan enggan untuk berinteraksi dengan orang baru. Selama masa SMA ini, saya sudah ‘taubat’ dari self harming dalam bentuk ‘lukisan di tangan’. 

Selama tiga tahun saya duduk di bangku SMA, beberapa teman sekelas saya menyadari mood saya yang naik turun. Kembali saya menerima narasi dan asumsi, “Dinda, mood kamu naik turun terus ya, kamu Bipolar ya?”. Saat itu, saya sama sekali tidak mengetahui akan buta akan hal menyangkut kesehatan mental.

Setelah mengalami panic attack beberapa kali, saya anggap kehidupan kuliah saya agak mengenaskan, karena adanya krisis kepercayaan diri yang masih mengakar entah sejak kapan. Lalu 2020 pandemi hadir dan saya terpaksa harus menjalani kelas secara daring, yang mana menurut saya ini lebih menegangkan dari pada kelas secara luring. 

Saya beberapa kali panik dan tidak bisa menghadapi dosen dan teman-teman sekelas. Zoom Meeting terasa menyeramkan. Saya sempat akan mengikuti sebuah kompetisi tetapi saya memutuskan bail-out, karena keadaan saya waktu itu tidak cukup kuat lagi.

Desember 2020 merupakan puncak emosi saya yang terpendam muncul kembali. Bisa dikatakan itu semacam relapse. Saya membanting barang, merusak lukisan sendiri, tidur dalam keadaan kamar seperti kapal pecah, dan kepala rasanya penuh akan suara-suara.

Follow us

Februari 2021, saya memutuskan untuk pergi ke psikiater. Seminggu sekali saya kontrol untuk diobservasi dan diberi obat yang katanya “obat tidur”. Pada 5 Maret 2021, saya menerima diagnosa final, F31 Bipolar Affective Disorder. Awalnya saya merasa fine-fine saja karena dari awal psikiater pertama juga membicarakan tentang gangguan bipolar. Saya berasumsi  bahwa hasil observasi saya akan ditulis bipolar. Setelah saya mendapatkan final diagnosa, beberapa minggu setelahnya saya merasakan perasaan tidak terima dengan kondisi tersebut. Saya mempertanyakan apakah benar hasil observasi tersebut. Saya denial.

Dua tahun lamanya, saya berobat ke psikiater pertama tetapi saya merasa masih ada yang mengganjal. Sejak Agustus hingga September 2023, saya merasa sudah tidak “sreg” lagi dengan psikiater saya tersebut. Saya menganggap dia hanya memberikan saran-saran kosong dan hanya sekadar lewat telinga. Saya memutuskan untuk ganti psikiater. Di psikiater baru, saya merasa didengarkan dan diperhatikan, walaupun baru beberapa kali pertemuan. 

Pada pertemuan pertama, saya meminta psikiater baru tersebut untuk merujuk saya untuk menjalani test kejiwaan. Hasilnya menunjukkan bahwa memang saya memiliki spektrum bipolar dengan generalized anxiety yang skornya sangat tinggi. Saya juga merupakan tipe orang yang avoidant. Psikiater baru saya ini masih mengobservasi saya. Selain bipolar, dia mengatakan dengan gamblang bahwa saya juga memiliki indikasi Borderline Personality Disorder. Saya jujur kaget mengetahui fakta bahwa gangguan mental bisa campuran layaknya gado-gado.

Awalnya dalam keluarga, hanya ibu dan adik yang tahu akan gangguan mental saya tersebut. Semenjak ibu tahu, saya merasa ibu cenderung takut untuk melepas saya ke mana-mana sendiri karena ibu takut saya akan hilang kendali. Ibu saya terus menerus menyuruh saya minum obat secara rutin, karena terkadang saya bandel. Adik saya ya tetap begitu, tidak ada perubahan selain menjadi pengamat naik turunnya emosi saya. 

Untuk teman-teman sendiri, saya tidak menceritakan ke banyak orang. Semula saya khawatir, dianggap mengada-ngada, tetapi respon teman-teman saya justru melegakan saya. Mereka tetap menganggap diri saya seperti kebanyakan orang lainnya. Mereka tidak membedakan saya dengan status gangguan mental yang saya miliki.

Bagaimana pun, ada mitos di luar sana tentang gangguan bipolar, seperti orang yang moody dan suka berganti suasana hati. Saya rasa moody/mood swing itu wajar terjadi pada kebanyakan orang lainnya. Bedanya, pada orang dengan bipolar seperti saya yakni,  perubahan mood ekstrem yang terjadi dalam fase waktu tertentu. 

Sepanjang pengetahuan saya, untuk dibilang ‘mudah berganti suasana hati’ sebenarnya, mungkin benar atau mungkin tidak. Kembali lagi, bipolar itu tentang rentang waktu tertentu yang dialami oleh ODB (Orang Dengan Bipolar). Ini hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya saja. Bisa jadi pengalaman dan pendapat ODB lainnya berbeda.

Menurut saya, ODB itu bisa tetap beraktivitas seperti umumnya dan bekerja seperti yang saya lakukan. Saya adalah bukti nyata bahwa seseorang dengan gangguan mental, masih dan tetap bisa bekerja dengan baik, asalkan ditangani dengan baik pula. Hambatan dan gangguan mungkin ada, tetapi hal itu bukan berarti ODB tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti umumnya. 

Aktivitas yang sering saya lakukan dan menenangkan hati saya adalah membaca dan menulis. Itu adalah hobi saya, yang membuat saya tetap berada di zona stabil saya. Selama dan setelah pengobatan/terapi berkelanjutan, saya mulai menemukan ketenangan dalam diri saya sendiri. Saya juga mengenal lebih jauh diri sendiri. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, meskipun itu kadang susah tapi harus tetap dijalani. 

Selain itu, saya banyak belajar tentang ikhlas dan bersyukur terhadap hal-hal kecil yang saya alami. Akhir-akhir ini, saya mulai memberanikan diri untuk bertemu orang-orang baru dari berbagai komunitas, tidak ragu lagi untuk menyapa, dan memulai obrolan duluan. Saya juga sudah berani berbicara di telepon untuk waktu yang lumayan panjang. Sebelumnya, saya agak kurang nyaman melakukannya.

Saya tahu itu tidak mudah untuk mendapatkan dukungan sosial dari orang sekitar saya. Saya tidak menuntut orang terdekat saya, untuk selalu ada di setiap menit, jam, dan hari. Namun, hal yang saya hargai adalah bentuk dukungan secara lisan atau tulisan. Bahwa mereka di sini, kapanpun saya butuh berkeluh kesah. Itu yang membuat hati saya tergugah. Selain itu, saya ingin dianggap seperti orang-orang pada umumnya. Tidak ada stigma ini dan itu. Bagi saya, itu merupakan suatu bentuk dukungan. Saya ingin, orang-orang memperlakukan saya, seperti layaknya mereka memperlakukan orang lainnya juga.

Ada kalanya saya mengungkapkan ke seseorang bahwa saya bipolar, lalu mereka menanggapinya: “Oh begitu? Cepat sembuh ya!”. Hal ini kadang membuat saya jengkel. Sebenarnya I have accepted that I have mental disorders and I’m living with it, with my bipolar and possibly BPD. It can not be gone completely but it can be healed and stabilized as time goes by.

Ada rasa jengkel saat orang dengan sembarangan bilang: “Aduh, aku mood-nya naik-turun nih hari ini. Aku bipolar banget”. Padahal nyatanya mereka sama sekali belum pernah pergi ke tenaga profesional untuk mendiagnosis bipolar tersebut. Hal ini memunculkan stigma buruk terhadap ODB yang mengakui secara publik bahwa mereka sebetulnya adalah ODB, bukan dibuat-buat.

Untuk sahabat Ruanita yang membaca cerita saya ini, tolong tidak berpikir bahwa ODB tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai ODB. Sebagai catatan, bipolar bisa disebabkan karena neurotransmitter di otak tidak seimbang, genetik, kejadian traumatis, pola asuh dan lingkungan, dsb.

Dalam rangka World Bipolar Day, saya berharap besar bahwa kualitas layanan kesehatan seperti psikiater dalam menangani kliennya dapat lebih mendalam dan komprehensif. Untuk dunia kesehatan sendiri, saya berharap masyarakat mulai membangun kesadarannya akan adanya status kesehatan mental. Kesehatan mental itu pun sama pentingnya dengan kesehatan fisik. 

Penulis: Saya ingin dikenal sebagai orang biasa, yang melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Saya tertarik dengan isu bantuan hukum struktural dan bantuan sosial. Selain itu, saya juga tertarik dengan buku dan dunia literasi. Bisa connect dengan handle Instagram @dibacadinda ataupun @dindamhdw.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Naisen Komannossa: Di Bawah Komando Perempuan

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Maret 2024 mengangkat tema tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi satu rangkaian perayaan Hari Perempuan Internasional seperti tahun lalu, yakni mempromosikan isu kepemimpinan perempuan Indonesia. Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Finlandia dan bekerja di industri tambang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa angka partisipasi perempuan yang bekerja di dunia STEM (=Science, Technology, Engineering, and Math) masih sangat rendah. Namun hal ini berbeda seperti yang dialami oleh Selvie yang sudah bekerja di industri tambang sejak dia menyelesaikan kuliah pertambangan di Jakarta, Indonesia.

Follow us

Setelah lama bekerja di dunia pertambangan di Indonesia, Selvie mencoba peruntungan bekerja di pertambangan di luar Indonesia.

Sejak enam tahun lalu, Selvie bekerja dan menetap di Finlandia. Selvie pun mengakui sangat sedikit yang bekerja di dunia pertambangan. Bahkan pada saat Selvie masih studi, hanya 9 mahasiswa perempuan dari 50-an mahasiswa yang studi pertambangan.

Selvie melamar pekerjaan di Finlandia dengan sistem bekerja dua minggu on-side dan dua minggu harus berada di rumah.

Selvie mengakui bahwa perusahaan tambang di Finlandia telah menggalakkan kampanye “Women in Minning”. Selvie berpendapat bisa saja perempuan tidak tertarik bekerja di dunia tambang itu identik dengan pekerjaan yang kotor atau pekerjaan yang berbahaya.

Padahal menurut Selvie, perusahaan pastinya sudah melakukan uji keamanan yang memastikan keselamatan setiap perempuan. Finlandia pun telah menetapkan aturan kesetaraan gender dalam hal profesi pekerjaan.

Selvie pun bangga akan pekerjaannya, termasuk sebagai perempuan Asia yang bekerja di dunia pertambangan yang tidak mudah. Selvie pun pernah diwawancara oleh wartawan Finlandia dan kisahnya dimuat di surat kabar lokal berbahasa Finlandia yang berjudul: Di bawah Komando Perempuan.

Bagaimana Selvie bisa bekerja di dunia tambang? Mengapa tidak banyak perempuan bekerja di dunia tambang? Apa saja faktor-faktor yang membuat perempuan bisa bekerja di dunia tambang di luar Indonesia? Apa saja syarat bekerja di dunia tambang di Finlandia, terutama perempuan? Apa pesan Selvie di Hari Perempuan Internasional.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Jangan lupa subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi!

(IG LIVE) Kepemimpinan Perempuan

Hari Perempuan Internasional yang dirayakan tiap 8 Maret menjadi kesempatan bagi Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia untuk bersuara tentang bagaimana partisipasi perempuan Indonesia, terutama di wilayah global. Ruanita menggelar berbagai program online selama tiga minggu berturut-turut, termasuk di antaranya melakukan diskusi IG Live yang memanfaatkan platform instagram untuk berdiskusi selama 30-40 menit.

Pada episode spesial ini, Ruanita mengangkat tema kepemimpinan perempuan yang menjadi kaitan dengan Workshop Warga Menulis dan Hari Perempuan Internasional di tahun lalu. Ruanita sendiri telah berhasil menerbitkan buku kedua bersama APPIBIPA Jerman, yakni “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang ditulis oleh 13 warga Indonesia di Eropa.

Untuk membahas lebih dalam tentang kepemimpinan perempuan, kami mengundang Dyah Kartika Ayu, seorang mahasiswi S3 di The University Australian National University, Monash University, dan tinggal di Australia dan juga Aini Hanafiah, seorang kontributor buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang tinggal di Norwegia.

Follow us

Dyah Kartika Ayu, atau yang biasa disapa Katy menjelaskan bagaimana dinamika gerakan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Hanya saja potret gerakan perempuan ini tidak banyak dipublikasikan dan lebih banyak menyorot patriotisme kaum laki-laki.

Gerakan perempuan di masa kini sudah banyak di bidang profesionalitas, seperti menjadi pemimpin di perusahaan atau industri usaha kecil/menengah. Katy mengakui sudah terjadi perubahan dinamika kelompok perempuan sesuai ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Memang diakui bahwa angka partisipasi perempuan di bidang politik dan pemerintahan terbilang rendah. Berdasarkan penelitian, Katy menyatakan ada kesulitan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi sebagai caleg. Misalnya, faktor personal perempuan yang punya kapabilitas sebagai caleg hanya saja terbentur biaya yang tidak murah.

Perempuan yang menjadi caleg kebanyakan adalah mereka yang punya modal cukup besar. Selain itu, masih ada diskriminasi dan bias stigma terhadap caleg perempuan. Diskriminasi dan bias stigma juga masih terjadi di antara sesama perempuan, semisal bagaimana kita masih melihat cara pandang terhadap Bos perempuan.

Pendapat berbeda tentang kepemimpinan perempuan disampaikan oleh Aini Hanafiah yang berfokus bagaimana peran perempuan di area privat atau keluarga. Bahwa masih banyak pandangan bahwa peran ibu adalah pelengkapnya ayah, kenyataannya tidak demikian. Menjalani peran sebagai ibu, Aini memberi pandangan berbeda terutama saat Aini harus menetap di mancanegara dengan berbagai tantangan yang berbeda saat berada di Indonesia.

Bagaimana dinamika perempuan memimipin yang sudah ada dalam sejarah bangsa Indonesia? Bagaimana pandangan Dyah Kartika Ayu tentang kepemimpinan perempuan di bidang legislatif di Indonesia? Apa saja yang membuat perempuan sulit mendapatkan kesempatan memimpin di bidang politik dan pemerintahan? Apakah mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin dalam keluarga atau area privat? Tantangan seperti apa yang dihadapi perempuan Indonesia dalam memimpin kehidupannya saat mereka berada di mancanegara?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami berbagi lebih banyak lagi.

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring Perayaan Hari Perempuan Internasional dan Peluncuran Buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan”

Denmark/Jerman – Menjadi pemimpin merupakan bagian dari hak asasi manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Hak asasi merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia. Sebagai hak asasi, akses menjadi pemimpin tidak bisa diabaikan karena alasan gender atau alasan penyerta lainnya, seperti ras, suku, agama, atau kondisi fisik. Urgensi perempuan menjadi pemimpin berpijak pada pentingnya suara perempuan diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam proses-proses pembangunan. Jumlah perempuan yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia membutuhkan kehadiran perempuan sebagai representasi suara perempuan dalam setiap pengambilan keputusan.

Secara bertahap kepemimpinan perempuan semakin diperhitungkan seiring dengan pengakuan terhadap kualitas perempuan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki, baik di bidang professional, sosial, maupun pribadi, termasuk dalam hal kepemimpinan. Namun sayangnya, kepemimpinan perempuan juga masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan laki-laki.

Follow us

Negara Republik Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan di segala bidang, baik di tingkat nasional, kawasan, maupun global. Sebagai warga Indonesia di mancanegara, Rumah Aman Kita (RUANITA) di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, DWP KJRI Frankfurt, yang didukung oleh Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman, Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V. (BUGI), dan Persatuan Masyarakat Indonesia – Frankfurt e.V. (Permif), bermaksud menggelar diskusi daring pada Jumat, 8 Maret 2024. Acara yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku kedua RUANITA yang berjudul „Warna-warni Kepemimpinan Perempuan“ yang ditulis oleh 13 warga Indonesia yang tinggal di Eropa, sebagai bagian dari program Warga Menulis di tahun 2023 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut dan perayaan Hari Perempuan Internasional ini akan diselenggarakan melalui kanal Zoom pada pukul 16.00-17.45 WIB atau 10.00-11.45 CET, dan terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini akan dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, relawan Ruanita dan dibuka secara resmi oleh Tensi Triantoro, ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Peluncuran buku akan dilakukan oleh Andi Nurhaina sebagai ketua APPBIPA Jerman. Narasumber acara perayaan Hari Perempuan 2024 adalah Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania, Dewi Savitri Wahab, yang akan menjelaskan peran KBRI/KJRI dalam mendukung partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Narasumber selanjutnya adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, yang adalah penerima beasiswa LPDP, seorang dosen di Indonesia, dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Dia akan menyampaikan materi tentang bagaimana dinamika kepemimpinan perempuan Indonesia dalam dunia digital. Sebagai penutup, Wendy A. Prajuli, yang adalah dosen di Universitas Bina Nusantara Indonesia, akan memberikan tanggapan dalam diskusi daring tersebut. Tersedia juga sesi tanya jawab dalam diskusi daring ini.

Diskusi daring ini diharapkan dapat mempromosikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pembangunan dan berbagi informasi tentang peran perempuan Indonesia sebagai individu yang berdaya, punya potensi dan prestasi, sebagaimana yang menjadi tujuan proyek Ruanita, yakni mencapai kesetaraan gender.

Materi informasi dapat diunduh dengan mengisi formulir ini yang ditautkan.

Rekaman acara tersebut dapat dilihat pada kanal YouTube yang kami tautkan berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Perjalanan Studi S3 dan Keluarga ke Inggris

Diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-23 mengangkat tema yang berkaitan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diperingati tiap 8 Maret. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Inggris dan sedang menempuh studi S3 di University of Birmingham.

Dia adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad yang bekerja sebagai dosen di salah satu provinsi di Indonesia dan juga seorang ibu dari tiga orang putra.

Zakiya, begitu dia disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan juga membawa serta keluarganya untuk mendampingi beliau menjalani studi S3 di Inggris.

Dalam kesempatan diskusi podcast, Zakiya mengaku bahwa dia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama anak-anaknya, terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan non formal yang tidak diterimanya di sekolah.

Pendidikan non formal menurut Zakiya pun sama pentingnya melalui keterlibatan peran orang tua dalam keseharian bersama anak-anak.

Zakiya ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang sama baiknya seperti dirinya yang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di Inggris dan dia tidak ingin menelantarkan anak-anak, terutama pendidikan non formal bersama orang tua.

Follow us

Zakiya pun berbagi peran bersama suami untuk mengurus keperluan dan kebutuhan pendidikan anak-anak selama tinggal studi S3. Zakiya mengakui anak-anak tidak mudah beradaptasi dengan situasi di Inggris, apalagi anak-anak dulu di Indonesia tinggal di wilayah rural.

Anak-anak Zakiya pun mengaku mengalami perubahan adaptasi sosial dan budaya, terutama bagaimana anak-anak dipersiapkan untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.

Apa saja strategi yang dipersiapkan Zakiya agar peran sebagai mahasiswi S3 dengan ibu bisa dapat berjalan seimbang? Apa saja persiapan yang dilakukan Zakiya agar anak-anak dapat beradaptasi sosial dan budaya untuk sekolah baru mereka di Inggris? Tantangan apa yang dihadapi Zakiya dalam menjalani peran tersebut di Inggris? Apa pesan Zakiya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Brain Fog Bisa Muncul Dalam Fase Hidup Perempuan?

Secara harafiah istilah brain fog menggambarkan kondisi di mana isi kepala terasa seperti diselimuti kabut tebal, yang membuat kita kesulitan fokus dan mencerna informasi. Bentuk brain fog bisa berupa sulit berkonsentrasi, mengingat ulang dan mengorganisir sesuatu, kelelahan yang memperlambat keseharian, bingung dan pelupa, tidak teratur atau ceroboh, atau sulit mengungkapkan pikiran ke dalam kata-kata. Namun, apakah brain fog adalah penyakit atau kondisi medis yang harus diwaspadai?

Dari informasi yang saya baca, brain fog lebih condong ke kumpulan gejala psikologis yang memengaruhi kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Namanya gejala, pasti ada penyebabnya.

Saya masih ingat jelas kala menjalani musim panas pertama di Tromsø, Norwegia. Mind you, empat bulan musim panas di Tromsø, tidak ada malam hari yang gelap, atau kondisi yang dikenal sebagai midnight sun. Alih-alih feeling refreshed menikmati hangatnya sinar matahari, isi kepala saya malah terasa berat, dan badan lesu sepanjang waktu. Aneh ya? Padahal musim panas harusnya terasa menyenangkan.

Ketika berkonsultasi ke dokter, usut punya usut ternyata saya kurang tidur. Jadi, paparan sinar matahari panjang di musim panas membuat tubuh saya alert terus sepanjang hari, sehingga siklus tidur saya terganggu. Parahnya lagi, saya ‘menuruti’ kondisi tubuh yang ogah tidur ini dengan netflix marathon. Ya, makinlah kurang tidur. Inilah yang bermanifestasi sebagai brain fog dalam bentuk grogginess, jadi pelupa dan ceroboh, serta badan kerap terasa lesu.

Apakah brain fog hanya terjadi karena kurang tidur? Ternyata tidak. Kelamaan tidur juga bikin brain fog muncul, lho. Ketika kepala dan badan terasa sluggish -lesu dan berat- setelah kelamaan tidur, nah itu juga termasuk brain fog.

The constant darkness ketika musim dingin di kutub utara justru membuat tubuh bawaannya selalu mengantuk. Rasanya seperti zombie tatkala menjalani hari-hari musim dingin, sulit rasanya untuk fully awake dan 100% awas.

Jadi kualitas siklus tidur memang sangat berpengaruh terhadap kemampuan fokus. Ketika siklus tidur terganggu -mau itu kekurangan atau kelamaan tidur- efeknya akan muncul dalam bentuk brain fog. Jangka panjangnya, brain fog juga dapat menurunkan kualitas hidup. Membiasakan cukup tidur 7-8 jam itu penting sekali.

Follow us

Biasakan pula punya sleep hygiene yang baik, seperti bangun dan tidur di jam yang sama setiap hari, menjauhkan televisi, komputer dan ponsel dari area kamar tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, serta menghindari kebiasaan bergadang semalam suntuk.

Nah yang terakhir itu kerap dialami mahasiswa dan pekerja kantoran ya, apalagi kala dipepet deadline. Iya sih, tugas-tugas beres semua tetapi keesokan harinya sulit fokus karena tubuh menagih istirahat. 

Ada lagi kondisi lain yang membuat brain fog ini muncul kembali di kehidupan saya. Yaitu, ketika saya hamil dan usai melahirkan. Di trimester akhir kehamilan, ada masa-masa di mana saya sulit sekali rasanya recalling things atau mengingat sesuatu.

Ini membuat saya agak kesal karena saya jadi pelupa dan ceroboh, ditambah lagi tidak segesit biasanya karena pegal-pegal dan perut semakin membesar. Ketika berkonsultasi ke jordmor (bidan), beliau menjelaskan bahwa kondisi hormonal selama kehamilan dan usai melahirkan memang dapat menyebabkan brain fog. ‘’I’m feeling slow and useless,’’ ucap saya mengadu ke Bu Bidan.

Beliau hanya tersenyum dan bilang, ‘’Yes, it must be frustrating to find yourself slowing, especially when you are an active person. Think about it as your body’s way to protect you and your baby. Listen to your body when it tells you to slow down, then try to rest.’’

Usai melahirkan, wah, jangan ditanya lagi. Yang namanya kelelahan dan kurang tidur, sudah sepaket datang dengan lahirnya si bayi ke dunia. Namun ketika sampai enam bulan kemudian brain fog tersebut masih muncul terus, saya mulai curiga ada sesuatu yang salah. Saat itu kesulitan fokus, jadi ceroboh dan kelelahan yang saya alami tidak lagi terasa ‘mengesalkan’, namun justru seperti sedih dan kosong.

Keseharian saya mengurus si kecil, rasanya seperti berlalu begitu saja, tanpa ada momen-momen khusus yang saya bisa ingat-ingat ulang. Saya kehilangan motivasi untuk menikmati hal-hal di sekitar saya dan tubuh seperti tidak bertenaga. Dalam kelelahan tersebut, emosi yang saya rasakan antara kosong saja, atau sedih nyaris sepanjang waktu.

Kali berikutnya datang ke posyandu, saya menceritakan kondisi ini ke helsesøster. Ternyata keputusan saya untuk menceritakan hal tersebut adalah keputusan yang tepat. Menurut suster, saya terkena post-partum depression dan butuh segera ditangani.

Di tahun 2021 usai terkena covid-19, saya berada dalam kondisi di mana banyak sekali hal yang sulit saya ingat ulang, seperti mengingat istilah atau kata-kata dalam Bahasa Norwegia atau Bahasa Inggris. Saya juga mengalami berkurangnya daya konsentrasi, terutama ketika harus multitasking, apalagi ketika menulis dan menyunting tulisan.

Tubuh dan otak saya seperti melambat dan ini membuat saya frustrasi, tetapi mau dilawan seperti apapun rasanya ya tetap melambat. Dokter menjelaskan bahwa inilah salah satu bentuk brain fog yang banyak dialami mereka yang terkena covid-19.

Belum diketahui apa penjelasannya, namun ada yang berteori bahwa brain fog bagian dari mekanisme tubuh untuk slowing down selama masa pemulihan sampai benar-benar sehat kembali. 

Berbagai penjelasan yang saya dapatkan dari para tenaga kesehatan, serta pengalaman pribadi membuat saya melihat brain fog ini sebagai sinyal dari tubuh.

Ketika mulai sulit fokus, lesu, mulai pelupa atau ceroboh, saya berusaha mengingat-ingat: apa yang terjadi atau saya pikirkan akhir-akhir ini, yang membuat tubuh saya mengirimkan sinyal tersebut? Apa yang tubuh saya berusaha sampaikan ke saya? Kalaupun tidak, ya sesimpel mungkin memang saya butuh istirahat saja, because rest is not a reward. 

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Memahami Perjuangan Single Mom Setelah Bercerai di Jepang

Dalam program Cerita Sahabat Spesial, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jepang untuk berbagi pengalamannya dalam berjuang sebagai Single Mom.

Dia adalah Erna Tabitha, yang telah menikah selama 8 tahun dan memiliki dua orang anak. Tabitha kini bekerja dan memiliki kehidupan yang lebih baik setelah bercerai dari suaminya.

Tabitha telah menetap di Jepang selama lebih dari 10 tahun. Selama menikah, Tabitha mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari suami. Puncaknya adalah Tabitha memutuskan pernikahan dengan suami setelah suaminya memukul sang anak kedua, hanya karena suami tidak bisa tidur.

Tabitha kemudian melarikan diri bersama anak-anaknya dan ditampung di sebuah wisma milik Gereja di Jepang.

Follow us

Selama 8 tahun pernikahan, Tabitha hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Tentunya tidak terbayang bagi Tabitha untuk bercerai dari suaminya tentang keamanan finansialnya, terutama menafkahi anak-anaknya.

Tabitha mengakui dia tidak punya tabungan selama dia menikah, sehingga kekhawatiran ini yang membuat dia dan mungkin banyak perempuan lain sulit dari hubungan pernikahan yang penuh kekerasan.

Pernikahan itu begitu mudah di Jepang, asalkan laki-laki dan perempuan sama-sama setuju. Tabitha bersyukur bahwa suaminya mau menyetujui perceraian, karena sang suaminya bersifat keras.

Tabitha pun perlahan berhasil bertahan tinggal di Jepang dengan bantuan pemerintah Jepang. Kini Tabitha bekerja paruh waktu di rumah sakit di Jepang.

Apa yang mendasari Tabitha memutuskan bercerai dari suaminya, meski tidak punya tabungan? Apa yang terjadi setelah Tabitha berpisah dari suaminya? Bagaimana Tabitha akhirnya bisa berhasil keluar dari situasi keuangan yang menyulitkan setelah berpisah dari suaminya? Bagaimana proses perceraian di Jepang? Apa pesan Tabitha untuk Sahabat Ruanita yang tinggal di Jepang dan dalam situasi seperti Tabitha?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami

(PODCAST RUMPITA) Berkuliah Sambil Berwirausaha di Jerman

Dalam episode ke-22 diskusi Podcast Rumpita mengambil tema kehidupan pelajar di Jerman sambil berwirausaha. Sebagai pelajar di Jerman, kita dibatasi oleh aturan untuk bekerja yang terbatas dalam hitungan gaji/pendapatan yang tidak melebihi batas dikenakan pajak.

Di Jerman, pelajar yang ingin bekerja terhitung dalam penghasilan mini jobs. Tentunya, perjuangan untuk bertahan hidup di Jerman dengan segala kesukarannya memenuhi kehidupan sehari-hari dialami juga oleh Cynthia Utami, yang mengelola usaha masakan padang (lewat akun Instagram: kualiangek). Cynthia kini studi di Sosiologi di salah satu universitas di Jerman.

Rupanya aktivitas Cynthia pun tak hanya berwirausaha, dia pernah terlibat menjadi pengurus PPI. Lainnya, Cynthia juga founder dari Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI). Untuk Ikatan IPMI ini, dapat dikontak via akun Instagram ipmi.internasional dan akun Instagram Cynthia dapat dikontak ke akun cynthiautami12.

Follow us

Tentunya Cynthia perlu membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha. Cynthia mengambil di sela-sela kesibukan kuliah untuk berdagang, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketika masa ujian datang, Cynthia pun membatasi usaha wirausahanya. Cynthia pun berjualan hanya berdasarkan pesanan dan kebutuhan untuk berdagang sesuai acara.

Cynthia akan menjual dagangan masakan padangnya hanya pada saat musim dingin, sehingga pelanggan tetap menerima masakan dalam kondisi fresh dan pesanan dalam jumlah terbatas. Cynthia pun benar-benar mendapatkan rempah-rempah fresh yang dijual di toko Asia di Jerman dan bumbu rempah yang tidak ada di Jerman, benar-benar didatangkan langsung dari Indonesia.

Cynthia sendiri mengaku tidak berpengalaman dalam memasak di Indonesia. Cynthia pun menjelaskan teknik dan cara memasak masakan Padang yang memiliki bervariasi, termasuk rempah-rempah Indonesia yang sangat kaya yang bisa dikatakan menjadi rahasia racikan masakan Padang. Cynthia pun bangga dengan kultur orang Padang, yang mahir dalam berdagang dan bisa survive di tanah rantau.

Bagaimana Cynthia membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha? Apa rahasia masakan Padang sebenarnya? Apa saja tantangan Cynthia sebagai mahasiswa untuk berwirausaha di Jerman? Apa yang mendasari Cynthia untuk berwirausaha masakan padang seperti nasi kapau di Jerman? Bagaimana Cynthia mendapatkan bumbu orisinal, meracik masakan hingga memasarkannya di Jerman? Sebagai orang Minang, apa yang membuat Cynthia mendirikan IPMI?

Simak selengkapnya diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Meski Orang Tua Berpisah, Anak dengan Orang Tua Tidak Berpisah

Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.

Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya. 

Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.

Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.

Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.

Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali. 

Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)

Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.

follow us

Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.

Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.

Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Berbagi Pengalaman Kerja Tentang Empat Orang dengan Epilepsi

Halo Sahabat Ruanita, kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja bersama Orang Dengan Epilepsi (ODE) atau ada juga yang menyebutnya ayan. Saya pernah bekerja lebih dari 10 tahun di panti sosial untuk orang dengan disabilitas. Semua klien, begitu kami menyebut mereka, adalah orang dengan disabilitas mental, yang memiliki keterbatasan intelegensi dan fisik. Beberapa dari mereka juga mempunyai epilepsi.

Ada yang sering kejang (seizure), tapi ada juga yang tidak pernah. Karena banyaknya klien dengan epilepsi, yayasan kami juga menyediakan seminar sehari tentang epilepsi untuk karyawannya yang membutuhkan. Saya pernah mengikuti seminar ini, sayangnya sekarang sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Satu-satunya hal yang saya ingat dari seminar itu adalah video tentang semut yang dianalogikan sebagai sel saraf di otak manusia, sebagai penjelasan tentang kejang. Video berbahasa Jerman ini bisa ditonton ulang di YouTube.

Saat masih kecil, saya sering dengar orang dengan epilepsi akan kambuh saat maghrib atau menjelang malam dengan ciri-ciri seperti tubuh yang kejang dan mulut berbusa. Stigma lain, yang pernah saya dengar adalah tubuh orang yang sedang mengalami kejang harus ditahan, untuk menghentikan kejang. Setelah bekerja di panti sosial, saya tahu stigma tersebut tidak 100% benar. Kejang tidak hanya terjadi saat maghrib atau menjelang malam, tapi kapan saja dan di mana saja. Tubuh orang yang sedang kejang juga tidak boleh ditahan, tapi dibiarkan saja sampai kejang berhenti dengan sendirinya.

Dulu di panti sosial kami, tinggal seorang klien laki-laki kelahiran tahun 60an. Beberapa tahun lalu, dia pindah ke panti jompo di kota tempat adik perempuannya tinggal. Kita sebut dia dengan klien pertama, karena saya akan menceritakan tiga klien lainnya. Dia adalah orang dengan autisme dan orang dengan epilepsi juga. Kejang epilepsinya sering kambuh tidak hanya ketika di panti, tapi juga di luar, misalnya ketika dia sedang jalan-jalan sendiri. Jika hal ini terjadi di luar, pejalan kaki yang kebetulan melihat akan menelepon ambulans yang membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Tidak heran, kami akan mendapatkan telepon dari UGD yang mengabarkan keadaan dia. 

Walau sering mengalami kejang, beruntung hal ini tidak membahayakan. Kami hanya perlu memastikan, bahwa tempat sekitar dia aman untuknya. Misalnya, kita perlu menyingkirkan bangku dan meja, jika dia mengalami kejang di dapur, dan terjatuh ke lantai. Hal ini untuk menghindari dia agar tidak terluka. Saat sedang mengalami kejang, dia tidak sadarkan diri, tubuhnya akan kaku juga, kejang berulang kali, dan mulutnya mengeluarkan busa. Setelah beberapa detik atau menit, dia akan kembali sadar dan kami akan membantunya untuk kembali berdiri dan duduk di kursinya. Kejang dia tidak berbahaya, karena dia akan kembali sadar setelah 1-3 menit dan tidak berulang. Hal itu akan menjadi berbahaya, jika kejang berulang dengan interval dekat dan/atau lebih dari tiga menit. Jika ini terjadi, kita harus menghubungi ambulans.

Kejang yang dia alami tidak selalu dengan dengan tubuh kaku dan kejang-kejang, sehingga membuat dia terjatuh, tapi bisa juga hanya kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seperti orang sedang menggeleng dan matanya tertutup, atau pandangannya kosong. Jika ini terjadi, dia masih bisa duduk dengan stabil di kursinya. Kesadarannya akan datang, setelah beberapa detik, dan dia bisa melanjutkan aktivitasnya lagi dengan biasa.

Kalau tidak salah, pertama kali saya melihat dia kejang, adalah saat dia sedang di kamar mandi dan saya kebetulan ada di sana. Beruntungnya, saya tidak bekerja sendirian di hari itu. Jadi, saya berteriak memanggil rekan kerja saya, yang sudah lebih lama bekerja di panti kami. Kejang selanjutnya yang saya lihat, saat klien tersebut di dapur. Saya sudah lebih santai dan tahu itu tidak berbahaya. Saya dan rekan kerja hanya memberikannya ruang dengan menyingkirkan barang-barang di sekitarnya, agar dia tidak terluka. 

Pernah juga saya pergi berjalan-jalan dengan dia dan beberapa klien lainnya, tiba-tiba klien pertama mendadak kejang dan terjatuh di trotoar. Beruntung, ada pejalan kaki yang datang membantu melakukan pertolongan pertama ke dia, sementara saya menelepon ke panti untuk memberi kabar. Kami tidak memanggil ambulans, tetapi bos saya datang dengan mobil untuk menjemputnya. Oh iya, baru-baru ini bos saya bilang, klien pertama sudah bisa merasakan jika ia akan mengalami kejang. Tandanya, adalah jika ia menggosok-gosokkan tangannya di atas pahanya. 

Setelah dia pindah ke panti wredha, tidak ada lagi klien di panti kami yang mengalami kejang. Mungkin saja klien-klien adalah orang dengan epilepsi tanpa kejang atau terbantu dengan obat dari dokter. Singkat cerita, di tahun 2020 kami mempunyai klien baru yang juga orang dengan epilepsi. Sebelumnya, dia tinggal di panti di kota lain. Kita sebut dia sebagai klien kedua.

Saya sendiri tidak mengerti bagaimana ciri-ciri dia saat sedang kejang. Dia sering tertidur di atas sofa, di koridor utama di depan ruangan kerja kami. Informasi dari rekan kerja saya, saat itu dia sedang mengalami kejang. Menurut saya, dia hanya terlihat seperti tidur normal.

Di kasur tempat dia tinggal sebelumnya, selalu ada baby phone yang dinyalakan setiap malam untuk mengetahui, ketika dia mengalami kejang saat tidur. Menurut ibunya, dia akan mengeluarkan bunyi-bunyian jika itu terjadi. Baby phone tersebut hanya digunakan di bulan pertama dia tinggal di panti kami. Klien kedua ternyata memang tidak bisa tidur dengan tenang dan itu mengganggu karyawan yang sedang melakukan shift malam. Di panti kami, memang shift malam diperbolehkan tidur, bahkan tidak dibayar jika dia terjaga sepanjang malam. Baby phone tidak lagi digunakan atas persetujuan ibunya. 

Alternatif untuk dia, adalah alat sensor kejang yang dipasang di kasurnya. Alat ini akan mengirimkan peringatan surel ke alamat surel yang penggunanya telah terdaftar, jika dia mendeteksi kejang. Tidak hanya itu, aktivitas tidur juga terdokumentasi di alat, dan bisa dikirim ke surel dalam bentuk grafik gelombang. Dalam grafik tersebut, bisa dibaca kapan kejang terjadi dan berapa parah. Dengan data ini juga, ibu klien kedua berkonsultasi ke dokter neurologi. Waktu itu, alat ini masih prototipe, saya tidak tahu kelanjutan dari proyek tersebut. Namun, jika kita cari di Google, ada juga beberapa produk serupa, dan peringatan dikirim tidak hanya lewat surel, tapi juga lewat telepon.

Follow us

Pertengahan tahun lalu, satu bulan setelah ulang tahunnya ke-30, klien kedua meninggal dunia dalam tidur. Rekan kerja saya menemukan tubuhnya sudah dingin dan kaku, saat pagi-pagi dia ingin membangunkannya. Sesuai dengan prosedur, polisi mengirimkan jenazahnya ke dokter forensik untuk mengetahui penyebab kematian. Hasilnya, adalah apnea atau keadaan berhenti bernafas saat tidur. Sayangnya, tidak ada orang atau keluarganya yang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kami, apakah epilepsi anfal adalah penyebabnya. Sayangnya lagi, beberapa bulan sebelum dia meninggal, alat deteksi kejang dicopot dari kasurnya, karena dia lebih sering tidur di sofa di kamarnya. Ironisnya, pada malam kejadian itu, dia tidur di kasurnya. Kasur tersebut baru saja dipasang oleh bapaknya sehari sebelumnya.

Kematian mendadak pada orang dengan epilepsi, dikenal sebagai SUDEP (Sudden Unexpected Death in Epilepsy) adalah komplikasi terberat yang bisa terjadi saat kejang terjadi. Menurut website sudep.de, setiap tahunnya sekitar 700 orang meninggal karena SUDEP di Jerman dan 50.000 orang di dunia. SUDEP terjadi saat tidur dan 70% kasusnya terjadi pada malam hari atau waktu subuh. Untuk teman-teman yang bisa berbahasa Jerman, silakan buka website yayasan sudep.de untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang SUDEP dan bagaimana pencegahannya.

Selain klien kedua, ada satu orang klien kami yang sejak tahun 2022, mulai mengalami kejang. Kita sebut dia sebagai klien ketiga. Sebelumnya, dia tidak punya sejarah epilepsi dan tidak pernah mengalami kejang. Dia berumur awal 50an dan orang dengan Down Syndrom. Dia tidak bisa berbicara dan tidak mengerti hampir semua hal.  

Pertama kali, dia kejang terjadi di meja makan. Dia “tertidur” di meja makan saat sedang sarapan. Saya melihat bagaimana kepalanya, semakin lama semakin turun, sampai akhirnya menyentuh meja. Dia terlihat lemas, mukanya pucat, dan tidak bisa dibangunkan, seperti tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, dia sadar dengan sendirinya. Saat kembali sadar, dia seperti baru bangun dari tidurnya saja. Sayangnya, dia tidak bisa berbicara. Jadi, dia tidak bisa bercerita apa yang dialami. 

Tahun lalu, dia semakin sering mengalami kejang. Entah mengapa, itu terjadi selalu ketika saya sedang bekerja, dan saya menyaksikannya langsung. Kejang pertama yang membuatnya terluka terjadi di kamar mandi, di depan kamarnya. Waktu itu, saya sedang berjalan menuju ruangan cuci melewati kamar mandi tersebut. Saya lihat, dia sedang berdiri di tengah kamar mandi. Tidak lama kemudian, saya mendengar suara kencang, seperti sesuatu terjatuh. Saya lari menuju kamar mandi dan dia terbaring di sana, dengan muka menyentuh lantai. Tubuhnya kaku dan tidak sadarkan diri.  Saat kembali sadar, dia duduk bersila, dan mengeluarkan bunyi yang biasa keluar dari mulutnya. Satu gigi seri dia patah karena kejang tersebut, padahal dia hanya memiliki lima gigi.

Kejang selanjutnya terjadi lagi, saat saya kerja. Kali ini kejang berulang. Dua kejang pertama, terjadi pagi hari, saat saya belum datang. Rekan kerja pada shift malam melihat dia bagaimana terjatuh dari kursi di kamarnya, dengan kening duluan. Keningnya sobek. Saat saya datang, klien kami duduk di kursi rodanya di dalam kamarnya. Rekan kerja saya mendorongnya ke depan dan ke belakang, agar dia diam duduk di sana sampai ambulans datang. Petugas ambulans yang kemudian datang, membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD), untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau saya tidak salah, hari itu dia mengalami 4-5 kali kejang. 

Kejang selanjutnya terjadi, ketika saya juga bekerja. Saat saya datang pagi itu, rekan kerja pada shift malam bilang klien kami sempat kejang sebentar di kursi di ruang makan saat sarapan, karena itu dia tidak dikirim ke layanan daycare, tempat dia biasanya beraktivitas di siang hari. Saya tidak terpikir, dia akan mengalami kejang berulang seperti sebelumnya, sampai rekan kerja saya lainnya memanggil saya dari koridor, ke arah kamar klien-klien kami. 

Klien ketiga terbaring kaku di atas lantai. Kali ini dengan posisi punggung di bawah. Badannya kaku, disertai kejang, dan tidak sadarkan diri. Seperti yang terjadi sebelumnya, rekan kerja saya duduk di sampingnya sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, agar tidak langsung menyentuh lantai, sedangkan saya berusaha tenang sambil menghubungi ambulans. Sayangnya, saya terlalu gugup dan menyerahkan telepon ke rekan kerja saya. 

Saat dia terbangun, kami menuntunnya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya di kursi rodanya. Ketika petugas ambulans datang beberapa menit kemudian dan memeriksa dia, dia kembali mengalami kejang. Mukanya pucat dan badannya lemas, ketika dia kembali sadar. Petugas ambulans menganalogikannya kejang seperti melakukan maraton. Menurutnya, lelahnya setelah kejang sama seperti, lelah setelah selesai maraton. Pagi itu, dia seperti melakukan tiga maraton, karena tiga kali mengalami kejang. 

Hari itu, dia kembali menghabiskan siang di UGD untuk pemeriksaan. Di sana juga dia mengalami kejang untuk keempat kalinya. Dokter UGD menulis di laporan, bahwa dari tes darah yang dilakukan setelah kejang, tidak ditemukan ada tanda-tanda epilepsi. Menurut dia, ada juga kejang yang bernama syncope. Dokter neurologi yang menanganinya dan mendapatkan semua laporan medis dari rumah sakit tetap mendiagnosanya sebagai epilepsi, dan memberinya pengobatan untuk orang dengan epilepsi. Saya sendiri tidak mengerti, apakah pengobatan epilepsi dan syncope, berbeda atau sama.

Saya juga sempat satu kali menemani klien lainnya di UGD, karena dia diduga mengalami kejang di tempat kerjanya. Kita sebut dia sebagai klien keempat. Selama saya bekerja di sana, tidak pernah sekalipun dia mengalami kejang, walau ia adalah orang dengan epilepsi. Selama di UGD, keadaan dia baik-baik saja dan tidak ada kejang ulang. Pemeriksaan yang dilakukan, juga menunjukan semua normal dan baik. Beruntungnya, klien saya yang ini bisa berkomunikasi, paling tidak dengan saya sebagai orang yang mengenal dia lebih dari 10 tahun, dan bisa menerjemahkannya ke dokter UGD yang menanganinya.

Satu minggu setelah saya mengantar klien terakhir ini ke UGD, saya mengajukan surat pengunduran diri. Kebetulan saat itu, saya mendapatkan tawaran pekerjaan lain. Saya juga beruntung, bos saya mengerti keadaan saya, dan bersedia melepaskan saya tiga bulan lebih cepat dari peraturan. 

Saya mengalami beban yang besar, setelah meninggalnya klien kedua dan kejang berulang yang dialami klien ketiga. Ditambah lagi, setiap kali ada klien yang kejang, selalu saya yang kebetulan sedang bekerja sehingga harus menyaksikannya. Padahal, saya hanya bekerja 2-3 hari dalam seminggu. Dalam perjalanan menuju ke UGD untuk menyusul klien keempat, saya menangis karena beban saya rasa terlalu berat. Cukup sekali itu saja, saya mengantarkan klien ke UGD. Saya juga tidak ingin suatu pagi nanti, saya menemukan klien meninggal di kasurnya.

Penulis: Anonim

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia di Mancanegara dalam Pemilu 2024

Sebagaimana kita ketahui Indonesia akan menggelar pemilihan umum pada 14 Februari 2024. Tidak semua negara memberlakukan peraturan dan kebijakan yang sama, di mana warga negaranya yang berada di luar negeri, memiliki kesempatan untuk tetap ikut memilih meski tinggal di luar negeri.

Untuk warga Indonesia di luar negeri, dianggap masuk dalam dapil yang mengikuti lokasi Kementerian Luar Negeri di Jakarta, yang membawahi KBRI/KJRI tempat di mana warga Indonesia tercatat di luar negeri.

Untuk membahas lebih dalam tentang proses pemilihan umum yang berlangsung di luar negeri dan bagaimana perempuan Indonesia dapat tetap terlibat dalam pemilihan umum, meski di luar negeri, Ruanita Indonesia mengundang narasumber.

Narasumber berikut ini adalah dua perempuan yang telah terpilih menjadi panitia pemilihan umum di luar negeri. Adalah Etty P Theresia yang didapuk sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri Frankfrut 2024 dan tinggal di Jerman, yang kemudian narasumber berikutnya adalah Utari Giri, yang terpilih sebagai Ketua PPLN Dubai 2024 dan tinggal di Uni Emirat Arab.

Follow kami ya @ruanita.indonesia

Karena kondisi teknis dan permasalahan lokasi yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Utari Giri, maka diskusi IG Live mengalami permasalahan, di mana Utari Giri tidak sepenuhnya bisa hadir dan terlibat. Beliau sedang mendapatkan tugas Bimbingan Teknis dan secara kebetulan ada kendala internet sehingga membuat diskusi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pemilihan umum di luar negeri memiliki tiga metode, menurut Etty menjelaskan. Rida, Mahasiswi S2 di Universitas Passau, Jerman mengakui bahwa dia mendapatkan kertas suara melalui pos dan perlu dikirimkan untuk memenuhi hak pilihnya. Selain dikirimkan via pos, bentuk pemilihan umum lainnya adalah datang ke lokasi yang disediakan oleh KBRI/KJRI di negara lokasi tinggal.

Di Jerman, menurut Etty, pemilihan umum serempak dilaksanakan pada Sabtu, 10 Februari 2024 sesuai lokasi yang dipilih oleh KBRI/KJRI setempat. Metode lainnya yang tidak dipergunakan di Jerman adalah metode keliling yang dilakukan petugas pemilu.

Etty mengaku penasaran dengan metode ini, yang mungkin bisa diceritakan oleh Utari Giri yang menjadi Ketua PPLN di Dubai. Sayangnya, kendala teknis telah membuat Utari tidak bisa hadir dalam diskusi IG Live.

Etty pun menjelaskan bagaimana perempuan Indonesia di mancanegara dapat terlibat untuk mendukung perhelatan akbar ini. Tidak menyebarkan hoaks/berita bohong atau memantau bagaimana pelaksanaan pemilu di lokasi tinggalnya, pun bisa dilakukan.

Siapapun bisa melaporkan kalau ada pelaksanaan yang tidak benar, tidak tepat, atau berpotensi kecurangan. Perempuan perlu memerhatikan apabila ada potensi kekerasan berbasis gender yang ditujukan kepada perempuan, yang memilih atau bertugas sebagai panitia pemilihan umum.

Apa saja tugas-tugas panitia pemilihan umum di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Etty? Apa saja pengalaman menarik selama mempersiapkan perhelatan akbar di Jerman, yang dilakukan oleh Etty dan kawan-kawan yang terlibat?

Selain menjadi panitia pelaksana pemilu, apa saja yang bisa dilakukan perempuan Indonesia di mancanegara untuk mendukung terselenggaranya pemilihan umum? Apa pesan Etty sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri di Frankfurt?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut:

Dukung kami dengan subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Ini Semua Pendapat dan Pengalaman Saya Soal Amarah

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Utari Giri. Saya tinggal di Dubai sejak 2011 hingga saat ini. Saya adalah ibu rumah tangga yang senang melakukan kegiatan volunteer dan bersosialisasi. Bersama teman-teman Indonesia, saya mendirikan Komunitas Gelas Kosong yang bergerak di bidang sosial, dengan melakukan aktivitas sosial dan berdonasi. Selain itu, saya juga mengumpulkan orang-orang Bali yang tinggal di Dubai dan membentuk komunitas dengan nama Banjar Dubai. 

Tak hanya itu saja, bersama beberapa teman, saya juga membentuk grup Indonesia Ladies Badminton, yaitu suatu wadah untuk mengajak ibu-ibu Indonesia di Dubai agar mau berolahraga, bergerak, berkumpul, dan bersilaturahmi. Di samping itu, beberapa kali saya juga membagikan ketrampilan craft  ke ibu-ibu di Dubai dan juga ilmu menulis. Saat ini, saya sedang bekerja untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menjadi Ketua PPLN (Panitia Penyelenggara Pemilu Luar Negeri) di Dubai hingga Pemilu 2024 selesai.

Berbicara tentang marah, tentu Sahabat Ruanita sudah mulai berpikir dari orang yang pemarah hingga bagaimana mengelola kemarahan. Menurut saya, marah adalah emosi yang ditunjukkan seseorang karena dia merasa dirugikan. Seseorang pun bisa marah apabila keadaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atas situasi tersebut.

Saya sendiri secara pribadi, tidak mempunyai cerita yang bersinggungan dengan pemarah. Mengapa? Karena, saya termasuk orang yang jarang marah. Saya selalu merasa takut dan gemetar  jika mendapati orang marah. Oleh karena itu, saya selalu menjauhi orang yang menurut saya mempunyai sifat pemarah.

Bagaimanapun, kemarahan dapat merusak relasi dengan orang lain, loh. Contohnya adalah saya sendiri. Jika saya sudah tahu bahwa seseorang itu pemarah, maka pelan-pelan saya pasti akan menghindari berhubungan dekat dengan yang bersangkutan. Mengapa? Ya, menurut saya tidak ada untungnya. Saya menjadi tidak nyaman dengan relasi seperti itu. Kalau Sahabat Ruanita, bagaimana menghadapi orang pemarah?

Tentunya, ada banyak faktor mengapa seseorang menjadi marah atau meluapkan amarahnya. Menurut saya, pertama,  itu bisa disebabkan karena karakter orang tersebut memang  pemarah. Jadi, hanya dengan pemicu yang kecil saja, sudah bisa membuat dia marah.  Kedua, bukan orang yang mudah terpancing marah, tetapi karena memang pemicu amarahnya yang sudah sangat parah sehingga dia sudah tidak bisa memakluminya. Bahkan orang tersebut tidak dapat mengendalikan emosinya.

Bagi saya, setiap orang berhak marah. Marah itu wajar, jika memang pada tempat, waktu, dan ekspresinya. Misalnya, kita sebagai perempuan dilecehkan, sudah sewajarnya jika kita marah terhadap pelaku. Marah pun menjadi tidak wajar kalau emosi yang meledak-ledak dan susah untuk dikendalikan sehingga bisa merugikan orang lain. Contohnya, seseorang yang sedang marah dan merasa emosi lalu melakukan kekerasan kepada orang lain.

Marah bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, sewaktu anak-anak saya masih kecil, saya sebagai ibu pada saat itu tidak luput dari emosi dan marah menghadapi kenakalan anak-anak. Namun, saya selalu berusaha untuk mengontrol diri saya saat marah, khususnya kepada anak-anak. Trik saya adalah menarik nafas pelan-pelan untuk mengendalikan marah. Pantang bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata kurang baik kepada anak saya, meskipun saya sedang marah. Jangankan sumpah serapah, sambil marah saya justru selalu mengatakan, ”Semoga nanti kamu jadi orang sukses, ya, Nak”. 

Kemarahan dengan anak tentu berbeda bila marah dengan teman. Cara yang selalu saya tempuh adalah segera minta maaf dan memaafkan, kemudian menjauh/menghindar. Menjauh bukan berarti memutuskan silaturahmi, melainkan saya tidak ingin dekat lagi dan merasakan energi negatifnya. Namun, saya masih berteman, loh.  

Ada pendapat yang bilang kalau kurang tidur, orang cenderung suka marah-marah. Menurut saya, itu pasti ada hubungannya. Kita sebaiknya punya cukup waktu untuk tidur, karena bangun tidur dengan segar adalah kunci menjalani hari-hari yang indah. Jika kita kurang tidur, maka orang menjadi kurang fit, pusing dan lainnya sehingga mood-nya juga kurang baik. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan orang tersebut menjadi mudah marah. 

Apakah ada kaitan antara pemarah dengan sakit jantung? Jujur, saya belum pernah mengamati secara khusus hubungan marah dengan sakit jantung. Mungkin hal ini bisa dijelaskan secara medis. Pesan saya untuk menghadapi pemarah, kita lebih baik menghindari pemarah jika tidak ingin bermasalah. 

Sebagai penutup, ini pesan saya untuk bisa mengelola rasa amarah dalam diri.  Tundukkan kepala, ambil nafas pelan-pelan dan teratur beberapa saat. Setelah itu, kita perlu berpikir jernih tentang baik dan buruknya apabila kita melepas kemarahan. Itu tips saya dan semoga bermanfaat untuk Sahabat Ruanita semua.

Penulis: Utari Giri, biasa dipanggil Utari, lahir di kota Kediri, dan kini tinggal di Dubai. Dia adalah seorang lulusan sarjana teknik sipil ITS dan punya hobi menulis. Dari kegiatan menulisnya, dia sudah menghasilkan dua buku solo, yaitu “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknis Jurusan Teknis Sipil” (Gramedia) dan “Amazing Dubai” (Elex Media). Selain itu, dia punya puluhan karya dalam bentuk artikel dan buku antologi.

(CERITA SAHABAT) Mudik dan Kematian Senyap

Setiap tahun banyak keluarga Indonesia di mancanegara yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.

Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah. 

Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga Indonesia di mancanegara, termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali. 

Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.

Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

Follow us @ruanita.indonesia

Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.

Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget

Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona. 

Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa. 

Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita. 

Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu. 

Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.

Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai. 

Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis. 

Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan. 

Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air. 

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher.