(AISIYU) Fragile Dreams in Broken Horizon

Nama pembuat foto: Devi Aulia Nofitri Umada

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Fragile Dreams in Broken Horizon

Keterangan foto: In classrooms and playgrounds, laughter should be the only sound. But under the cruel shadow of colonialism, Palestinian children’s laughter was silenced by the deafening roar of war. 

Their schools, once sanctuaries of learning, became battlefields. Amidst the ruins of their cities, a haunting question lingers: can these children ever feel safe, truly human, in their own land, where their only good memories are lost?

(AISIYU) Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya

Nama pembuat foto: Go Suan Ny

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)

Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster. 

Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.

Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.

(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.

Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.

(AISIYU) Sudut Ruang Wanita

Nama pembuat foto: Ayushillaby

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Malam Ibu Kota Selalu Sama (kiri) dan Sudut Ruang Wanita (kanan)

Keterangan foto: (kiri): Ibu kota menjadi tempat berkumpulnya pencari nafkah, dengan segala bentuk lelah terlihat dari ramainya transportasi.

(kanan): Perempuan masuk ke dalam prioritas transportasi umum, namun rasa mana masih menjadi kekhawatiran.

(AISIYU) Lampu di Jalan

Nama pembuat foto: Mariska Ajeng Harini

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Lampu di Jalan

Keterangan foto:

Tidak bisa dipungkiri malam hari bukan waktu yang tepat untuk perempuan berada di luar rumah, salah satu alasannya adalah kurangnya lampu penerangan di jalan.

Lampu-lampu di jalanan bukan hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadikan jalanan sebagai ruang aman untuk perempuan di malam hari.

(AISIYU) Pizza vs Volcano

Nama pembuat foto: Asti Tyas Nurhidayati

Lokasi negara tinggal: Islandia

Judul foto: Pizza vs Volcano

Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang. 

Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan. 

Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.

(AISIYU) Meniti Harapan

Nama pembuat foto: Aisyah Gozali

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Meniti Harapan: Ruang Aman Perempuan dalam Keseharian

Keterangan foto: Foto ini menampilkan seorang perempuan yang sedang bekerja di sebuah dapur produksi tahu di Bogor, Jawa Barat. 

Meskipun terlihat sederhana, ruangan ini mencerminkan lingkungan kerja yang mendukung perempuan untuk merasa aman, produktif, dan nyaman dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. 

Ini merupakan gambaran nyata bagaimana ruang kerja bisa menjadi aman bagi perempuan, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(AISIYU) Butuh Teman Bercerita

Nama pembuat foto: Anna

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: “Butuh Teman Bercerita: Program Konseling Online Ruanita”

Keterangan foto: Per Agustus 2024, Ruanita Indonesia telah melayani sesi konseling online berbahasa Indonesia kepada lebih dari 60 orang yang tinggal di berbagai lokasi negara, sejak 2021. Program ini diselenggarakan secara gratis dan sukarela oleh Anna Knöbl, setiap Selasa dan Kamis pukul 18.00-20.00 waktu Eropa Tengah. Mayoritas peserta konseling online adalah perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Niksen dari Belanda?

Hai, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ristiyanti Handayani, atau yang biasa dipanggil Risti. Saya sudah menetap sekitar 10 tahun di kota Utrecht, Belanda. Aktivitas sehari-hari saya adalah karyawan swasta dan juga ibu rumah tangga. Saya senang dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat, terutama menceritakan pengamatan dan pengalaman saya seputar praktik baik tinggal di Belanda.

Saat ini, saya akan bercerita tentang Niksen yang (mungkin) sudah diketahui oleh sebagian sahabat Ruanita. Apa itu Niksen sebenarnya? Memang banyak orang akhir-akhir ini, membicarakan tentang Niksen, yakni salah satu filosofi yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Belanda. Ketika saya pulang kampung di Indonesia beberapa waktu lalu, ada juga orang yang bertanya tentang Niksen ini.

Sebetulnya, Niksen itu konsep filosofi yang diyakini orang-orang Belanda untuk tidak melakukan apa pun dalam jangka waktu yang tidak lama, hanya sekitar beberapa menit saja. Niksen berasal dari kata „Niks“, yakni tidak ada apa-apa.

Salah satu contoh Niksen, yang sering saya amati dari kebiasaan suami sebagai orang Belanda melakukan Niksen, yakni dia duduk santai di halaman belakang rumah atau di balkon rumah kami. Dia hanya duduk saja, melihat sekitar, seperti pohon-pohon, atau beragam binatang kecil seperti kupu-kupu, lebah dll, terutama ketika dia melakukan work from home, nah, dia akan keluar dari ruang kerja dan pergi duduk santai di kebun belakang. Kadang dia memperhatikan kucing tetangga yang sedang bermain, sekitar 5-10 menit. Dia melakukan Niksen tidak lebih dari 15 menit, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Menurut suami, dia menjadi lebih fresh dan aktif bekerja kembali di belakang komputer.

Ibu mertua saya melakukan kebiasaan Niksen itu biasanya untuk sekitar 5-10 menit saja dengan berbaring. Berbaring saja, itu kebiasaannya yang masih dilakukan sampai sekarang. Sementara saya melakukan Niksen hanya duduk di ruang tamu sambil memperhatikan setiap benda yang ada, karena saya senang sekali menata interior rumah. Meskipun itu dalam kondisi diam, tetapi saya pada akhirnya punya ide untuk memindahkan ini dan itu. Contoh lainnya, saya berdiri di depan jendela saja. Mungkin orang akan bertanya: „Ngapain begitu?“.

Contoh Niksen di tempat kerja, biasanya saya akan berjalan keluar ruangan atau sedikit ngobrol dengan sesama rekan kerja lainnya sambil duduk menikmati cahaya matahari, saat saya betul-betul lelah bekerja. Biasanya orang-orang di sini sudah tahu, mereka melakukan Niksen. Meskipun itu cuma 15 menit saja, tetapi itu sangat membantu di situasi kerja. Saya dan suami biasanya juga suka jalan bersama menuju taman kota dekat rumah, lalu meski hanya sebentar duduk di bangku taman.

Niksen itu adalah aktivitas yang sangat sederhana sekali, yang bisa membuat kita merasa lebih bugar, lebih fresh, dan lebih fokus pada akhirnya. Niksen itu dilakukan dalam waktu yang tidak lama, hanya sebentar saja.  Menurut saya, Niksen adalah perilaku seseorang  tidak melakukan apa-apa atau  tidak melakukan sesuatu kegiatan ragawi yang aktif untuk beberapa saat. 

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin menuangkan berbagai gagasan dan pengalaman seputar Niksen. Seperti anggapan bahwa Niksen itu adalah kemalasan dalam tanda kutip, karena bila kata „Niksen“ diterjemahkan dari kata Bahasa Inggris menjadi kemalasan. Namun, saya berpendapat bahwa Niksen itu bukan berarti kita malas, karena kita tidak melakukan apa-apa. Kemalasan dan Niksen itu jelas berbeda. Kemalasan dalam bahasa Belanda berarti „Luiheid“.

Niksen tidak bisa diartikan sebagai sebuah kemalasan. Niksen merupakan suatu aktivitas untuk mengalihkan sesaat dari rutinitas produktif, terutama yang menguras energi dan perhatian. Itu sebab, seseorang perlu waktu sesaat untuk relaks atau rehat sejenak. Itu disebut Niksen. Sedangkan, kemalasan itu cenderung pada seseorang yang memang tidak melakukan kegiatan produktif. Sementara, Niksen adalah mereka benar-benar melakukan kegiatan produktif, tetapi mereka membutuhkan sedikit rehat untuk kembali fokus. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa Niksen itu bukan kemalasan.

Oh ya, praktik Niksen itu dalam waktu pendek pun bisa dilakukan di sela-sela bekerja. Misalnya, orang bisa duduk-duduk sambil minum yang disukainya. Praktik Niksen ini membantu agar waktu kerja menjadi lebih efektif dan efesien, karena saat ini di Belanda tidak dianjurkan „bekerja lembur“. Selain bayaran upah lembur itu besar, orang yang bekerja lembur berarti mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka, sehingga itu membuat mereka lebih stres akan pekerjaan mereka. Bekerjalah secara normal dan efesien dibarengi praktik Niksen, agar hidup lebih seimbang.

Anggapan lainnya juga menyebutkan bahwa Niksen itu seperti stress release atau praktik mindfulness. Apakah benar demikian, sahabat Ruanita? Kalau menurut saya, Niksen boleh saja dianggap demikian. Niksen memungkinkan otak kita rehat atau beristirahat sejenak. Hal ini membantu kita kembali  untuk fokus dan berpikir lebih segar. Itu menurut saya. Setelah melakukan Niksen, kita menjadi refresh untuk pikiran dan jiwa raga kita.

Itu sebab, ada banyak manfaat untuk jiwa dan raga terkait praktik Niksen. Mental kita merasa lebih tenang. Pikiran kita menjadi lebih jernih. Tentu, tubuh merasa lebih segar atau bugar kembali. Itu yang saya rasakan, sehingga kita bisa lebih fokus untuk melanjutkan apa yang sedang kita lakukan.

Menurut saya, praktik Niksen itu menjadi booming sekitar 15 tahun belakangan ini yang berkaitan dengan gaya hidup dan pola kerja yang tidak berimbang (work and life balance) sehingga berakibat pada problema kesehatan mental. Pada akhirnya, orang pun berpikir bahwa bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk pekerjaan. Sejak itu, banyak orang melakukan sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya tetap terjaga, salah satunya dengan praktik Niksen ini.

Bagi orang Belanda sendiri, praktik Niksen bisa jelas terlihat masif misalnya saat weekend. Saat weekend dan cuaca cerah, orang-orang Belanda itu paling senang duduk-duduk di taman kota atau bangku-bangku yang tersedia di area publik. Mereka juga suka memenuhi teras-teras atau kafe-kafe ketika cuaca cerah selama weekend. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa, kesannya kehidupan orang-orang Belanda begitu santai, padahal mereka sudah bekerja keras di hari-hari weekdays. Di saat weekend, mereka biasanya betul-betul melupakan semua itu sesaat.

Kehadiran Niksen bisa dilihat dari sejarahnya, kemungkinan berawal dari rutinitas kehidupan moderen, seperti tekanan kerja. Sementara, orang-orang Belanda sendiri memiliki istilah menikmati hidup, yang dikenal Lekker-genieten. Niksen tidak bisa disamakan dengan konsep healing. Pada prinsipnya, Niksen adalah cara untuk mencegah agar tidak terjadi masalah-masalah seperti stres atau beban kerja. Sedangkan healing berarti penyembuhan, karena sudah terjadi. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Terakhir, saya sependapat tentang studi yang menyatakan bahwa Niksen ini memang membantu orang memunculkan ide-ide baru, sehingga orang-orang menjadi lebih kreatif atau produktif lagi. Meskipun kita sedang „Niks“ atau tidak melakukan apapun, otak kita tetap masih memproses informasi, termasuk untuk memecahkan masalah yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya „Niks“, justru saya menemukan gagasan yang melintas dalam kepala saya.

Pesan saya kepada sahabat Ruanita, kalau kalian bekerja, manfaatkan waktu secara efesien. Jika kalian sudah mencapai batas ambang kelelahan, selingi sesuatu seperti praktik Niksen sesuai dengan kemampuan masing-masing agar tidak stres. Lakukan Niksen agar kerja lebih efektif dan produktif, asalkan target kerja tercapai. Kira-kira seperti itu gambaran Niksen yang saya ketahui. Artinya, kita meluangkan waktu, meskipun itu dalam waktu durasi singkat untuk tidak melakukan apa pun atau Niks, kata orang Belanda. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap dapat rileks, sehingga pikiran menjadi kembali fokus dan hidup kita menjadi seimbang.

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda.

(IG LIVE) Memotret Ruang Aman Perempuan

Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.

Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.

Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.

Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.

Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.

Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini:

(SIARAN BERITA) Ruanita dan PERINMA Gelar Workshop Online Produksi Konten Video Digital Untuk Warga Indonesia di Eropa

Jerman, 2024 – PERINMA (Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju) bekerja sama dengan Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar Workshop Online Produksi Konten Video Digital. Program ini bertujuan untuk membekali warga Indonesia di Eropa yang tergabung sebagai anggota PERINMA untuk memproduksi konten video yang menarik dan efektif untuk promosi usaha, kegiatan organisasi, dan komunikasi digital.

Seiring dengan semakin luasnya akses internet dan penggunaan smartphone, video telah menjadi media penting dalam pemasaran digital. Namun, masih banyak warga Indonesia yang tergabung sebagai anggota dan simpatisan PERINMA yang belum terampil, dalam memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung bisnis atau kegiatan mereka. Menanggapi kebutuhan tersebut, workshop ini dirancang untuk memberikan pelatihan praktis yang aplikatif dan mudah diikuti.

Ada pun workshop online ini dilakukan melalui saluran media zoom meeting, dengan sebelumnya mendaftar lewat formulir elektronik yang terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA. Peserta yang ikut serta harus membayar kontribusi yang rencananya akan didonasikan bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Flores Timur NTT saat ini, yang terdampak bencana erupsi Gunung Lewotobi.

Acara Workshop berlangsung selama tiga kali pertemuan, yakni 16 dan 23 November 2024, yang mana peserta akan mendapatkan penguatan kapasitas seperti teknik dasar membuat konten video lewat aplikasi non berbayar dan membuat storyboard. Selanjutnya, peserta juga akan mendapatkan keterampilan seputar menggunakan aplikasi video editing untuk membuat video yang edukatif dan sesuai kebutuhan peserta.

Pada pertemuan terakhir, 7 Desember 2024 peserta akan menampilkan produk video kontennya sebagai produk akhir workshop online, yang diselenggarakan PERINMA bersama Ruanita. Pemateri dalam workshop ini adalah Cindy Guchi, yang adalah Digital Content Creator sekaligus Relawan Ruanita Indonesia yang kini menetap di Vietnam. Workshop ini terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA.

Ruanita Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mendukung warga Indonesia di luar negeri, khususnya perempuan. Sejak 2021, Ruanita telah menjadi social support system untuk orang Indonesia di luar Indonesia melalui pendekatan berbasis komunitas, platforma digital, pengelolaan berbasis nilai, yang berfokus pada isu kesetaraan gender dan kesehatan mental. Workshop ini mencerminkan komitmen Ruanita Indonesia untuk meningkatkan peran dan partisipasi orang Indonesia di luar Indonesia lewat platforma digital.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ruanita.com atau hubungi info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Mengenal Toleransi dari Istilah Tat Twam Asi

Halo, sahabat Ruanita! Saya Utari Giri, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang puteri yang sudah beranjak dewasa. Kami sekeluarga sudah hampir tiga belas tahun tinggal di kota Dubai, United Arab Emirates.

Selama tinggal di Dubai, saya aktif dalam segala kegiatan bersama teman-teman perantau dari Indonesia. Hingga saat ini, saya mengelola dua komunitas, yaitu Indonesia Ladies Badminton (Komunitas ibu-ibu Indonesia penggemar olah raga badminton) dan Banjar Dubai (Komunitas orang Bali yang tinggal di Dubai). 

Dari dua komunitas ini saja sudah bisa dibayangkan, bagaimana beragamnya individu-individu yang saya hadapi. Di sinilah tempat saya untuk belajar sekaligus menjalankan toleransi yang sesungguhnya telah kita pelajari sejak kecil di lingkungan keluarga kita. Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami selama saya tinggal di Dubai, tentang toleransi beragama.

Setiap merayakan hari raya Idul Fitri, KJRI Dubai selalu mengadakan shalat Idul Fitri bersama bagi WNI di Dubai dan sekitarnya. Biasanya acara ini dihadiri sekitar seribu WNI yang ikut beribadah. Dan, inilah praktik toleransi yang sesungguhnya.

Kami, WNI non Islam yang tergabung dalam komunitas Piladelpia (Kristen dan Katolik) dan banjar Dubai (Hindu) hadir menjadi volunteer sebagai tim keamanan, mempersiapkan tempat shalat, hingga menyajikan makanan setelah shalat Idul fitri selesai.

Jadi, khusus di Dubai, Idul fitri tidak saja dinantikan oleh sahabat WNI muslim, tetapi sahabat non muslim pun selalu menantikan datangnya Idul Fitri. Inilah saatnya kita berpartisipasi melancarkan jalannya perayaan hari Idul fitri.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, toleransi berarti menghargai orang lain dengan segala perbedaannya melalui pengertian. Toleransi tidak hanya tentang masalah keyakinan dan suku. Bahkan, dalam diskusi sehari-hari, berteman, atau di lingkungan kerja pun sikap toleransi harus dijunjung tinggi. Tidak memaksakan kehendak dan pendapat adalah bentuk toleransi paling dasar.

Contoh lainnya, sebagai non muslim yang memiliki banyak sahabat muslim, saya sengaja membeli dan  menyediakan perlengkapan shalat untuk sahabat yang berkunjung ke rumah saya.

Bahkan, saya sengaja mengunduh arah kiblat di hape, karena sahabat saya selalu bertanya kepada saya arah kiblat, saat kita berada di luar rumah. Selain itu, saya juga ikut sebagai volunteer di beberapa komunitas sosial di Dubai, sebagai upaya saya untuk terus mengasah sikap toleransi saya.

Dalam menjalankan sikap toleransi, kita perlu aspek saling menghormati dan hidup berdampingan satu sama lain. Namun, pada kenyataannya kadang kita melihat ada orang yang sulit untuk bersikap toleransi.

Hal ini terjadi bisa karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perbedaan atau tingginya rasa ego dan menganggap pribadi atau golongannya yang paling benar.

Padahal, sebenarnya setiap manusia harus dan memerlukan toleransi di dunia yang beragam ini. Contoh yang paling mudah adalah toleransi di lingkungan tempat tinggal kita. Kita tidak mungkin tinggal di lingkungan yang semua orangnya sama seperti kita, baik agama, suku, profesi, pendidikan, maupun aspek lainnya. Bayangkan jika kita tidak bisa bersikap toleransi terhadap tetangga di lingkungan rumah kita, maka pertengkaran dan perselisihanlah yang pasti akan terjadi.

Dalam mengembangkan sikap toleransi, kita perlu mendorong inklusivitas, tetapi praktiknya menjadi sulit. Inklusivitas pada dasarnya adalah sikap yang bisa memosisikan diri kita sebagai orang lain. Ada beberapa faktor yang membuat orang sulit menerima inklusivitas sebagai bagian toleransi, antara lain tidak peduli dengan orang lain, merasa tidak membutuhkan orang lain, atau merasa hebat dan lebih dari yang lain.

Sementara, untuk sebagian orang mungkin sulit untuk bersikap toleransi karena, merasa pribadi atau golongannya lebih baik dari yang lain, kurangnya pengalaman pergaulan dengan orang di luar golongannya, atau bisa juga karena pendidikan yang kurang tentang toleransi. Pendidikan toleransi yang paling mudah sebenarnya adalah kebiasaan yang harus ditanamkan sejak kecil dari rumah atau keluarga.

Ada satu lesson learned atau pembelajaran hidup yang pernah saya alami berkenaan dengan sikap toleransi ini. Saya adalah orang yang sangat terbuka dengan siapa saja, tidak peduli agama, suku atau siapa dia. Semuanya saya ajak berteman selama mereka mau berteman dengan saya. Tidak jarang, saya diundang ke rumah teman yang di rumahnya sedang ada pengajian atau teman-teman Kristiani yang sedang merayakan Natal.

Saya selalu menghormati undangan tersebut dan berusaha untuk hadir tanpa memikirkan yang lainnya. Mungkin ini yang tidak semua orang di Dubai mendapatkannya. Akibatnya, saya memiliki teman yang beragam di Dubai. Tidak jarang, jika ada teman yang baru datang ke Dubai selalu bertanya, sebenarnya apa agama saya? Tidak apa-apa, yang pasti saya selalu memandang indah setiap perbedaan yang terbalut dalam kata toleransi.

Banyak manfaat yang bisa kita petik dalam bersikap toleransi. Bahkan, manfaat ini ternyata bisa kita rasakan terutama untuk kesehatan mental kita. Rasa bahagia karena memiliki banyak teman, rasa nyaman saat berinteraksi dengan semua teman adalah manfaat besar bagi saya. Sebagai minoritas, penerimaan dari yang lain dengan tangan terbuka dan pelukan hangat adalah manfaat toleransi yang tidak ternilai harganya. Seperti yang kita ketahui, rasa aman, nyaman, dan bahagia adalah kunci utama bagi kesehatan mental manusia.

Jadi, untuk sahabat Ruanita yang masih sulit untuk bersikap toleransi, saatnya untuk membuang jauh sikap intoleransi. Bersikap toleransi ternyata lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Di Bali, ada ilmu toleransi yang dikenal dengan “Tat Twam Asi”, artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Jangan kita menyakiti, baik fisik maupun perasaan orang lain, jika tidak ingin disakiti. Cobalah untuk berada di posisi orang lain, sebelum berbicara atau mengeluarkan pernyataan terhadap orang. Dengan modal ini saja, kita bisa, lho, menjadi agen perdamaian global.

Selain dari diri sendiri, sikap toleransi harusnya selalu dimulai dari rumah atau keluarga. Memasuki zaman yang semakin maju seperti saat ini, sebaiknya pendidikan budi pekerti dan toleransi lebih digalakkan lagi di sekolah-sekolah mulai dari paling bawah. Citra Indonesia sebagai negara dengan masyarakatnya yang penuh sopan santun dan cinta perdamaian harus tetap ditegakkan sampai kapanpun.

Penulis: Utari Giri, perempuan yang hobi menulis, saat ini tinggal di Dubai, dan dapat di kontak di akun IG: @utarigiri