(CERITA SAHABAT) Bijak Berinternet Melalui Edukasi dan Literasi Digital yang Tepat

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku, Zakiyatul Mufidah, yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Saat ini, aku sedang menjalani tahun ketiga studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Berada di luar negeri membuka banyak perspektif baru bagiku, terutama tentang bagaimana dunia digital dipandang dan diatur dengan lebih ketat dibandingkan di Indonesia.

Di Inggris, kesadaran akan keamanan dan privasi digital begitu tinggi. Contohnya, penggunaan gambar di internet benar-benar dikontrol. Di sekolah anakku, misalnya, memiliki aturan ketat tentang pemakaian foto anak-anak di media sosial. Setiap orang tua harus memberikan izin tertulis jika foto anak mereka ingin digunakan di situs web atau akun media sosial sekolah. Ini berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana masih banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya menjaga privasi di dunia maya.

Sebagai seorang yang sedang meneliti aktivitas perempuan di dunia digital, aku menyadari betapa pentingnya menjaga akun kita dari ancaman siber. Salah satu cara paling dasar adalah menggunakan Double Authentication atau bahkan Multiple Authentication saat masuk ke akun digital. Pernah suatu kali, aku gagal mengakses akun emailku, karena dianggap akses ilegal ke emailku. Beruntung, aku menerapkan sistem keamanan ganda, sehingga menyelamatkanku dari peretasan.

Sahabat Ruanita, ini bukan hanya tentang melindungi akun, kesadaran digital juga berarti memahami ancaman seperti phishing dan pemakaian WiFi publik yang tidak aman. Dulu, aku pernah meremehkan ancaman ini hingga akhirnya menyadari bahwa akses WiFi publik bisa menjadi celah bagi peretas untuk masuk ke akun pribadi kita. Pengalaman ini mengajarkanku untuk selalu berpikir dua kali sebelum mengklik tautan atau menggunakan jaringan internet yang tidak terpercaya.

Budaya Digital di Indonesia dan Tantangannya

Oh ya, selain perlindungan teknis, kita perlu perhatikan juga aspek budaya digital yang juga menjadi tantangan, khususnya di Indonesia. Kultur online kita masih mentoleransi tindakan seperti cyberbullying, pencurian data, hingga penyalahgunaan informasi. Berbeda dengan di Inggris, di mana ada sanksi sosial dan hukum yang jelas bagi pelaku kejahatan digital, di Indonesia masih banyak kasus yang tidak mendapat perhatian serius.

Cyberbullying misalnya, masih dianggap sebagai hal yang wajar di Indonesia. Banyak kasus di mana korban justru disalahkan atau dianggap “berlebihan” saat melaporkan kejadian tersebut. Di Inggris, bahkan tindakan sekecil mengunggah foto seseorang tanpa izin bisa menimbulkan konsekuensi serius, baik secara hukum maupun sosial. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran tentang hak privasi dan etika digital yang perlu lebih diperhatikan di Indonesia.

Sahabat Ruanita juga perlu tahu bahwa banyak orang masih abai terhadap keamanan akun digital mereka. Banyak yang menggunakan kata sandi yang lemah atau tidak menerapkan sistem keamanan tambahan. Padahal, dengan maraknya kejahatan siber, langkah-langkah perlindungan ini sangatlah penting. Di Indonesia, juga masih banyak orang yang tidak sadar akan bahaya phishing dan serangan siber lainnya, yang sering kali datang dalam bentuk email atau tautan mencurigakan.

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak tentang Internet

Sebagai orang tua, aku merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi anak-anakku tentang cara berinternet yang aman dan bertanggung jawab. Aku sering berbincang dengan mereka tentang digital literacy—yang mencakup keterampilan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Sebab, internet bukan hanya soal hiburan, tetapi juga ruang yang harus dipahami dan dikelola dengan bijak.

Di sekolah anakku, di Inggris pun aktif dalam mengajarkan keamanan digital kepada murid-muridnya. Misalnya, sebelum mengambil atau menyebarkan foto teman sekelas, mereka harus meminta izin terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, di mana masih banyak anak yang dengan mudahnya mengambil foto teman dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang. Apakah ini juga dialami sahabat Ruanita lainnya?

Selain itu, sekolah juga memberikan aturan ketat mengenai penggunaan media sosial. Anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak diperbolehkan memiliki akun di platform seperti TikTok atau Instagram. Para orang tua juga diminta untuk menandatangani surat persetujuan terkait penggunaan gambar anak mereka di acara sekolah. Ini adalah contoh bagaimana regulasi yang jelas bisa membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Regulasi dan Penegakan Hukum di Indonesia

Bagaimana pun, salah satu faktor yang membuat internet di Indonesia masih terasa kurang aman adalah lemahnya penegakan hukum terkait kejahatan siber. Di Inggris, regulasi mengenai keamanan digital diterapkan dengan sangat ketat. Namun, di Indonesia, masih ada banyak celah dalam sistem hukum yang membuat para pelaku kejahatan digital bisa lolos tanpa konsekuensi yang berarti.

Misalnya, ada kasus di mana seorang guru melaporkan tindakan tidak etis di sekolahnya, tetapi malah justru ia yang terkena sanksi hukum. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan dalam penerapan hukum, di mana yang memiliki kekuasaan sering kali lebih dilindungi dibandingkan rakyat biasa.

Selain itu, ada juga permasalahan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang sering kali digunakan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah atau pihak berkuasa. Banyak pasal dalam UU ITE yang ambigu dan bisa diinterpretasikan secara berbeda-beda, sehingga justru seringkali merugikan masyarakat biasa.

Pentingnya Edukasi dan Literasi Digital

Oleh karena itu, aku semakin yakin bahwa literasi digital bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab bersama—antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Edukasi adalah kunci untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang bagaimana menggunakan internet dengan aman dan bertanggung jawab.

Menurut sahabat Ruanita, bagaimana dengan di Indonesia? Menurutku, masih banyak orang yang menggunakan internet tanpa benar-benar memahami risiko dan etika dalam dunia digital. Banyak yang asal berbagi informasi tanpa mengecek kebenarannya, atau bahkan ikut menyebarkan ujaran kebencian tanpa menyadari dampak negatifnya. Oleh karena itu, kampanye literasi digital harus lebih digencarkan, baik melalui media sosial, sekolah, maupun komunitas lokal.

Selain itu, orang tua juga harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet anak-anak mereka. Ada banyak alat dan aplikasi yang bisa membantu memfilter konten yang tidak pantas untuk anak-anak. Dengan pengawasan yang baik, anak-anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinternet dengan aman.

Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memiliki ekosistem digital yang lebih aman, di mana setiap orang merasa terlindungi dan bisa memanfaatkan teknologi dengan maksimal tanpa harus takut akan ancaman siber. Karena pada akhirnya, dunia maya adalah bagian dari kehidupan kita, dan sudah seharusnya kita menjaganya seperti kita menjaga dunia nyata.

Penulis: Zakiyatul Mufidah yang kini sedang menempuh studi PhD, akademisi, dan relawan Ruanita di Inggris. Cerita ini juga ditulis ulang berdasarkan program cerita sahabat spesial yang rilis bulan Februari 2025 lalu.

(PODCAST RUMPITA) Statistik dalam Kehidupan Sehari-hari dan Pembangunan Dunia

Dalam rangka memperingati World Statistic Day, Podcast Rumpita menghadirkan Yoga Dwi Nugroho, seorang mahasiswa S2 di University of Edinburgh yang tengah menempuh studi di bidang Statistik Web Data Science.

Diskusi yang dipandu oleh Daya, yang tinggal di Belanda, dan Anna yang membahas pentingnya statistik dalam berbagai aspek kehidupan, terutama bagi perempuan dan masyarakat luas.

Menurut Yoga, statistik bukan sekadar angka, tetapi juga alat penting dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.

Dengan memahami data, masyarakat dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan membuat keputusan yang lebih tepat.

Follow us

Yoga juga berbagi pengalamannya selama sembilan tahun berkecimpung di dunia statistik, baik dalam pendidikan maupun di Badan Pusat Statistik (BPS).

Banyak orang merasa takut dengan statistik karena identik dengan angka dan perhitungan rumit. Namun, Yoga menekankan bahwa memahami konsep dasar, seperti mean, median, dan modus, dapat membantu siapa saja lebih akrab dengan dunia statistik.

Selain itu, kemampuan berpikir kritis, komunikasi data, serta pemahaman alat analisis seperti Python menjadi keterampilan penting dalam era digital.

Diskusi juga menyinggung peran statistik dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, riset ilmiah, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Yoga menjelaskan bahwa AI sendiri dibangun berdasarkan prinsip statistik, sehingga pemahaman statistik tetap relevan meskipun teknologi semakin canggih.

Sebagai penutup, Yoga mengajak pendengar untuk lebih sadar akan pentingnya statistik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berbelanja online hingga memahami tren sosial, statistik membantu kita membuat keputusan lebih rasional dan berbasis data.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-42 berikut ini dan pastikan FOLLOW akun spotify kami ya:

(SIARAN BERITA) Film “Dua Kali” Dorong Kesadaran Kesehatan Mental dan Berani Patahkan Stigma Sosial

BERLIN, 18 Oktober 2025 – Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial yang kuat, khususnya dalam isu kesehatan mental. Mengusung tema “Berani Bicara akan Kesehatan Mental”, acara Diskusi & Nonton Bareng Film “Dua Kali” berhasil diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2025, di Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Ruanita Indonesia, KBRI Berlin, Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin, dan Kesmenesia, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka percakapan publik tentang kesehatan mental, meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia di Jerman terkait stigma sosial, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya relawan Ruanita di Jerman, sebagai kreator lokal yang berani mengangkat isu kesehatan mental.

Acara dimulai pukul 16.00 dengan registrasi dan ramah tamah, diikuti pengantar dari Rensi, dilanjutkan sambutan dari Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Dimas Wisudawan.

Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter “Dua Kali” yang disutradarai oleh Ullil Azmi dan diperankan oleh Mariska Ajeng, keduanya tinggal di Hamburg.

Follow us

Film ini menampilkan pengalaman hidup individu dengan gangguan mental dalam konteks transnasional, sekaligus menjadi medium untuk membangun empati dan membuka dialog publik.

Sesi diskusi panel menghadirkan perspektif bagaimana kehidupan lintas budaya Indonesia-Jerman yang dimoderasi oleh Rensy Kireyne, mahasiswi di Jerman. Penanggap adalah Walter Ng, yang juga seorang mahasiswa di Jerman dengan lugas menceritakan pengalaman dan tantangan tinggal di Jerman, termasuk bagaimana menghadapi isu kesehatan mental.

Tim film berbagi proses kreatif pembuatan film dan refleksi tentang keberanian mematahkan stigma sosial. Firman Tambunan, Co-founder Kesmenesia dan Psikolog Klinis di Jerman, ikut memberikan pandangan profesional mengenai prosedur mengakses layanan kesehatan mental di Jerman, serta perspektif budaya Indonesia terkait stigma mental. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta, yang berlangsung hingga malam hari.

Acara ini dihadiri oleh komunitas Indonesia di Berlin dan sekitarnya, serta individu yang tertarik pada kesehatan mental, psikologi, dan budaya Indonesia. Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta dapat melihat bagaimana film dapat menjadi alat advokasi sosial, mendorong kesadaran baru, serta memperkuat solidaritas komunitas terhadap isu kesehatan mental.

Dalam kesempatan ini, Kesmenesia juga diperkenalkan sebagai organisasi yang berfokus pada layanan komunitas Indonesia di Eropa secara profesional dan inklusif, dalam menyediakan pendampingan kesehatan mental yang berbasis empati dan keterbukaan.

Acara Diskusi dan Nonton Bareng Film “Dua Kali” menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat bersinergi untuk menciptakan ruang dialog yang aman, mematahkan stigma, dan mendorong masyarakat lebih berani membicarakan isu kesehatan mental.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Usaha Kuliner Indonesia di Prancis ke Pesan di Hari World Food Day

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya bernama Dena yang sekarang bermukim di Prancis. Saya senang ditawari untuk berkontribusi dalam program cerita sahabat, terkait program pangan karena saya dulu berkuliah di jurusan teknologi pangan di salah satu universitas ternama di Indonesia. Bagaimana saya tiba di Prancis? Berawal tahun 2017, saya bertemu dengan suami saya yang berkewarganegaraan Prancis di Jakarta.

Saat itu, saya masih bekerja di salah satu perusahaan asal Jerman. Tidak selang berapa lama dari perkenalan tersebut, kami memutuskan menikah sehingga saya pun berhenti kerja dan mempersiapkan diri untuk tinggal bersama suami di Prancis.

Saya menetap di Prancis bersama suami dan putra kami. Selain mengurus keperluan di rumah, sehari-hari saya juga menyalurkan hobi memasak dengan membuat aneka jajanan kaki lima favorit saya seperti bakso halal, pempek dan otak-otak untuk orang-orang Indonesia di Eropa yang rindu dengan jajanan kaki lima.

Tentunya, latar belakang studi di bidang teknologi pangan di Indonesia dan aktivitas saya mengelola usaha rumahan tersebut – membuat saya sangat tertarik untuk membagikan pengalaman dan pendapat saya terkait World Food Day.

Saya bahagia, jika orang-orang menikmati masakan yang saya buat dan mengapresiasi apa yang saya masak. Memasak tidak hanya hobi buat saya, tetapi bagaimana menciptakan kreasi makanan dan memasarkannya – yang saya pelajari sewaktu di bangku kuliah dan dunia pekerjaan di Indonesia, membuat saya semakin tertantang untuk menekuninya. 

Follow us

Berkenalan dengan Usaha Kuliner Rumahan

Usaha rumahan ini dimulai dari kecintaan saya pada jajanan kaki lima favorit saya yang begitu sulit ditemukan di Utara Prancis. Saya pun mencoba membuatnya sendiri di rumah, dengan konsep Halal dan cita rasa otentik seperti kita membeli jajanan bakso di kaki lima. Ketika saya membagikannya di media sosial, teman-teman yang melihat pun ingin mencobanya.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang sangat positif. Saya berpikir, mengapa tidak mencoba untuk berjualan kecil-kecilan. Setidaknya, saya dapat memberikan kemudahan kepada orang-orang Indonesia di Eropa yang kesulitan memasak atau mendapatkan jajanan kaki lima favorit mereka. 

Berdasarkan testimoni pelanggan saya – sebagian besar adalah orang Indonesia – mereka sangat senang dengan bakso dan pempek buatan saya. Buat orang-orang Prancis atau orang asing lainnya, yang mencicipi kuliner saya, rasa bakso terbilang unik.

Sedangkan untuk pempek, orang Prancis belum terlalu familiar dengan pempek, kecuali mereka pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Mereka senang dapat menikmati variasi olahan lain dari ikan.

Karena saya mengelola usaha rumahan berdasarkan pesanan, dengan target pasar saya adalah orang-orang Indonesia yang kangen makan bakso dan pempek selama tinggal di Eropa khususnya di Prancis, mungkin tantangan saya adalah soal otentifikasi cita rasa makanan tersebut.

Maksud saya, bagaimana mempertahankan masakan dengan cita rasa dan tekstur yang autentik, seperti halnya cita rasa bakso dan pempek yang dijual di Indonesia. Dalam hal ini, tantangan dimulai dari membuat resep, ketersediaan bahan baku dan bumbu-bumbu yang digunakan, hingga soal pemasaran dan pengiriman pesanan. 

Mengenai regulasi atau standar keamanan pangan antara Indonesia dan Prancis, pada dasarnya hampir sama, seperti pelatihan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) serta pelatihan lainnya yang terkait dengan keamanan pangan.

Meskipun jualan kuliner saya berkonsep masakan Indonesia ala rumahan, tetapi saya sudah menerapkan hal-hal yang terkait dengan standar keamanan pangan, agar masakan rumahan yang saya masak adalah masakan yang halal, aman, bersih, sehat dan layak untuk dikonsumsi.

Sejak awal membuat resep adonan bakso dan pempek ini, saya memutuskan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat di Prancis untuk mempermudah saya berikutnya, dalam menjaga kualitas dan cita rasa bakso dan pempek agar tetap konsisten.

Adapun bahan baku yang saya gunakan sangat mudah ditemukan di Prancis. Saya biasanya membelinya dari orang Indonesia yang berjualan produk-produk Indonesia di Prancis, di toko Asia, maupun di supermarket di Prancis. Sedangkan untuk bahan baku daging, saya berbelanja di toko daging halal di kota saya.

Berbicara strategi pemasaran yang digunakan, saya menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Menurut saya, keduanya sangat ampuh dan efektif untuk menjangkau orang-orang Indonesia di Eropa, yang tersebar di Prancis maupun wilayah eropa lainnya. Selain itu, media sosial tersebut sangat memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan calon pelanggan dan pelanggan lainnya untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Calon pelanggan juga dapat dengan mudah mempelajari produk saya, sebelum membeli. Mereka bisa melihat foto dan video dari produk kuliner rumahan saya, serta testimoni-testimoni dari pelanggan lain yang sudah membeli produk saya.

Keilmuan dan Aspek Kesehatan dalam Makanan 

Sahabat Ruanita, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa saya mempelajari tentang teknologi pangan. Itu sebab, saya menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk mengolah pangan dengan aman dan sesuai standar higienitas, seperti: masalah kebersihan diri, kebersihan peralatan memasak, kebersihan area pengolahan, penanganan bahan baku mentah, serta proses pengolahan, pemasakan dan pengemasan. 

Di awal, tantangan saya membuat resep adonan bakso dan adonan pempek adalah pemilihan bahan baku, yang sesuai dengan ketersediaannya di supermarket di Prancis.

Misalnya, penggunaan ikan tenggiri untuk pempek, sesuai resep originalnya, yang ternyata sangat sulit ditemukan di Prancis atau negara Eropa lainnya. Saya pun melakukan banyak riset untuk memilih dan mengetahui jenis ikan lainnya. 

Pada dasarnya, saya menggunakan bahan dan bumbu-bumbu dasar sederhana, tanpa bahan pengawet dan tanpa tambahan bahan untuk mengenyalkan bakso.

Ketika ada order pesanan, saya selalu memasaknya di akhir pekan, supaya kualitas produk masih bagus saat pengiriman produk ke pelanggan di hari Senin.

Perspektif tentang World Food Day & Industri Makanan 

Sahabat Ruanita, apakah mungkin usaha rumahan kaki lima seperti yang saya lakukan dapat berkontribusi untuk sustainability? Menurut saya, usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini sudah berkontribusi dalam sustainability pangan loh.

Usaha saya ini dibuat berdasarkan pesanan, supaya tidak ada makanan yang terbuang. Saya juga tidak menggunakan bahan pengawet untuk mempertahankan kualitas selama proses distribusi dan pengiriman produk ke pelanggan. Namun, saya menerapkan teknik-teknik dalam ilmu teknologi pangan seperti dalam proses pengolahan dan pengemasannya, sehingga produk bisa bertahan baik ke tangan pelanggan.

Saya selalu menyarankan ke pelanggan, agar produk disimpan dalam freezer (keadaan beku) untuk menambah umur penyimpanan, bila tidak langsung dimasak pada hari penerimaan paket produk dari ekspedisi. 

Karena saya menggunakan bahan baku yang masih segar, tanpa pengawet, dan berkualitas, tentu tantangan terbesar adalah bagaimana produk saya bisa bertahan kualitasnya, masih aman dan layak dikonsumsi saat pelanggan menerima produk. 

Sahabat Ruanita, sebagai informasi untuk proses pengiriman ke pelanggan biasanya memerlukan jangka waktu minimal tiga hingga tujuh hari kerja. Belum lagi, biaya pengiriman satu hari di Prancis maupun ke negara lain di Eropa sangat mahal. Dalam mengatasi proses pengiriman yang lebih dari 24 jam ini, maka saya menerapkan ilmu yang saya dapatkan saat dibangku kuliah jurusan teknologi pangan dengan melakukan riset dan percobaan agar produk tetap dapat bertahan kualitasnya dan aman dikonsumsi, walau tanpa menggunakan mesin pendingin selama proses pengiriman oleh ekspedisi. 

Pesan saya buat sahabat Ruanita yang ingin menekuni usaha kuliner rumahan, maka lakukan dan jalani apa yang disukai, terutama bisa dimulai dari hal-hal yang berhubungan dengan kuliner favorit.

Dari hal ini, kalian akan mudah mengembangkannya lebih luas lagi. Tidak perlu fokus ke kesulitannya dulu, melainkan fokuslah ke proses dan solusinya terlebih dahulu.

Harapan saya melalui usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini, Insya Allah bisa berkembang menjadi kedai bakso dan jajanan kaki lima di Paris atau di kota-kota besar lainnya di Prancis, bahkan bisa ekspansi ke negara-negara Uni Eropa lainnya.

Saya juga berharap penggemar bakso dan jajanan kaki lima, tidak hanya orang Indonesia yang berada di Eropa saja, tetapi juga warga lokal Eropa lainnya.

Di hari World Food Day, marilah kita ikut berkontribusi dengan cara melakukan hal-hal yang sederhana di rumah, seperti mengurangi pemborosan makanan dan mengurang limbah pangan.

Hari Pangan Sedunia juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa masih ada masyarakat dunia lainnya yang mengalami kelaparan atau mereka yang kesulitan untuk mendapatkan akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi.

Dengan adanya Hari Pangan Dunia, kita juga dapat mendukung upaya untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan serta memberantas kelaparan bagi generasi mendatang.

Penulis: Dena T. Djajadisastra, tinggal di Prancis dan mengelola usaha rumahan yang dapat dihubungi via akun instagram @baksokaki5eropa.

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Ruanita dan KBRI New Delhi Gelar Diskusi Daring dan Hadirkan Wawasan Lintas Budaya untuk Keluarga Indonesia–India

NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.

Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.

Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.

Follow us

Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.

Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.

Follow us

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.

Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.

Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)

Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Diskusi Online Untuk Perkuat Solidaritas Orang Indonesia di Finlandia dan Estonia

HELSINKI, 28 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki menyelenggarakan diskusi online bertajuk “Resiliensi Bermigrasi di Finlandia” yang dihadiri sejumlah warga Indonesia di Finlandia dan di Estonia serta berbagai warga Indonesia lainnya yang tertarik dengan tema psikologi dan budaya.

Kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi inspirasi, tantangan, serta strategi adaptasi bagi warga Indonesia yang merantau di Finlandia maupun masyarakat yang tertarik dengan isu migrasi.

Migrasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan penyesuaian sosial, budaya, dan psikologis. Bagi orang Indonesia di Finlandia, keberhasilan dalam studi, karier, maupun kehidupan sosial kerap ditentukan oleh resiliensi, strategi coping, dan pemahaman budaya lokal.

Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menghadirkan ruang reflektif dan interaktif, sekaligus memberikan inspirasi nyata dari pengalaman para perantau yang telah sukses membangun kehidupan di negeri rantau.

Acara ini dibuka oleh Dubes RI untuk Finlandia dan Estonia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari Evita Haapavaara, seorang wiraswasta asal Indonesia yang berhasil membangun usaha di Helsinki. Diskusi juga menghadirkan Desiree Luhulima, praktisi pendidikan dasar di Finlandia yang menguraikan nilai-nilai pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun resiliensi dan keterampilan sosial di lingkungan baru.

Selain itu, Yuniar Paramita Sari, peneliti di bidang migran di Hong Kong, yang memaparkan perspektif sosial dan budaya tentang tantangan migrasi yang aman dan bijak, serta pentingnya dukungan komunitas dalam proses adaptasi.

Diskusi ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Helsinki, dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta penarikan benang merah dari keseluruhan pembahasan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh dinamika kehidupan perantau di Finlandia dan Estonia.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis, inspirasi, serta memperluas jejaring komunitas yang dapat memperkuat solidaritas sesama orang Indonesia di negeri rantau. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Ruanita Indonesia di www.ruanita.com.

Simak rekaman acara berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Emotional Attachment: Bucin, Manja, Tidak Mandiri, Hingga Relasi yang Toksik

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Adelia Putri, yang kini menjadi mahasiswi, sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana di Indonesia. Saya tertarik pada isu kesehatan mental, termasuk tema emotional attachment yang ingin dibagikan berikut ini. Menurut saya, emotional attachment begitu penting dalam relasi antar manusia. Sahabat Ruanita, apa yang terlintas dalam benak kalian, jika mendengar emotional attachment? Dalam pikiran saya pertama kali, terlintas fase pasca mengakhiri hubungan. Bisa jadi ini adalah momen, di mana seseorang masih  merasa terikat secara emosional dengan mantan pasangan, meskipun hubungan  sudah berakhir. Perasaan ini bisa muncul dalam bentuk rindu, kesulitan melupakan  kenangan, atau bahkan ketergantungan emosional. Bisa jadi, mantan pasangannya dulu adalah orang yang menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-harinya. Apakah sahabat Ruanita pernah mengalami pengalaman ini juga?

Jika menilik secara harafiah, emotional attachment adalah keterikatan emosional yang membuat seseorang merasa dekat,  nyaman, dan bergantung secara psikologis pada seseorang, benda, atau situasi tertentu.  Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa terlihat dalam bentuk seseorang yang selalu ingin  bersama orang terdekatnya, sulit melepaskan barang yang memiliki kenangan, atau bahkan  perasaan nostalgia terhadap tempat tertentu. 

Saya bukan seorang psikolog atau ahli kesehatan mental, tetapi ternyata ada hubungan antara emotional attachment dengan kesehatan mental. Emotional attachment bisa berdampak positif atau pun negatif terhadap kesehatan mental.  Jika keterikatan emosional bersifat sehat atau disebut sebagai secure attachment, tentu relasi tersebut bisa memberikan rasa  aman, kenyamanan, dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Namun, jika terlalu kuat  dan tidak seimbang (insecure attachment), bisa menyebabkan kecemasan, depresi, dan  kesulitan dalam menghadapi perubahan atau kehilangan. Misalnya, seseorang yang terlalu  bergantung pada pasangan bisa mengalami stres berlebihan, saat menghadapi perpisahan. 

Pengalaman perpisahan dengan orang terkasih nyatanya bisa berdampak signifikan juga loh dalam kehidupan. Ini pengalaman saya dulu menjadi konselor sebaya bagi teman-teman saya di usia remaja. Saya adalah remaja, yang berpartisipasi dalam program Generasi Berencana (GenRe). Bisa dijelaskan, ini seperti suatu komunitas yang berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan remaja. Salah satu  program utama dalam GenRe adalah konselor sebaya, di mana para remaja yang terpilih, telah  mendapatkan pelatihan sebagai konselor bagi remaja lainnya. 

Dalam sesi konseling, permasalahan yang paling sering ditemui adalah seputar romansa.  Banyak remaja mengalami emotional attachment yang cukup dalam terhadap pasangan  mereka. Jika keterikatan ini terlalu kuat dan tidak seimbang, remaja mengalami  kesulitan, seperti terjebak dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) atau  merasakan kesedihan yang berlebihan, setelah perpisahan. Sebagai bagian dari Generasi Berencana (GenRe), saya sering bertemu dengan  berbagai remaja yang mengalami keterikatan emosional dalam hubungan mereka. Hal  ini membuat saya lebih peka dalam memahami dinamika perasaan seseorang dan lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan orang lain. Saya belajar bahwa  emotional attachment yang sehat bisa memberikan kenyamanan, tetapi jika terlalu kuat  dan tidak seimbang, bisa menyebabkan ketergantungan berlebihan atau bahkan  hubungan yang tidak sehat (toxic relationship). 

Karena pengalaman ini, saya cenderung lebih sadar akan batasan dalam hubungan,  baik dalam pertemanan maupun romansa. Saya berusaha untuk menciptakan hubungan  yang saling mendukung, tanpa menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Selain itu,  saya juga lebih terbuka dalam membahas perasaan dengan orang-orang di sekitar saya, agar keterikatan emosional yang saya alami tetap sehat dan positif. Tentunya, saya juga pernah merasa terlalu terikat atau takut kehilangan seseorang. Perasaan ini bisa sangat menguras emosi, terutama ketika  hubungan mengalami masalah atau harus berakhir. 

Dampak Emotional Attachment pada Kesehatan Mental

Menurut saya, ada hubungan yang cukup erat antara emotional attachment dan gangguan  kesehatan mental, seperti kecemasan atau depresi. Ketika seseorang memiliki keterikatan  emosional yang sangat kuat terhadap seseorang atau sesuatu, perasaan kehilangan atau  perubahan dalam hubungan dapat memicu stres berlebihan. Misalnya, seseorang yang  terlalu bergantung secara emosional pada pasangannya mungkin akan mengalami  kecemasan yang intens ketika hubungan itu berakhir. Jika perasaan ini tidak terkelola  dengan baik, bisa berkembang menjadi kesedihan yang berkepanjangan, bahkan depresi.  Selain itu, keterikatan emosional yang tidak sehat, seperti dalam hubungan yang toksik, juga  bisa menyebabkan tekanan psikologis yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang,  terutama remaja. 

Saya sendiri maupun beberapa orang di sekitar saya pernah mengalami kesulitan dalam  melepaskan keterikatan emosional dari seseorang atau sesuatu. Salah satu contoh yang  sering terjadi adalah ketika seseorang mengalami perpisahan dalam hubungan, baik itu  dengan pasangan, sahabat, atau bahkan kehilangan anggota keluarga. Proses  melepaskan keterikatan ini tidak mudah dan bisa memakan waktu lama. Biasanya, tahap awal dipenuhi dengan perasaan sedih, kehilangan, dan kebingungan. Namun, seiring  berjalannya waktu, melalui dukungan sosial, refleksi diri, dan menyibukkan diri dengan  hal-hal positif, keterikatan tersebut perlahan mulai mereda. Beberapa orang juga  menemukan bantuan melalui konseling atau berbicara dengan orang yang mereka  percaya untuk mendapatkan perspektif baru dan dukungan emosional. 

Dalam menghadapi kehilangan atau perubahan dalam hubungan yang sangat berarti bagi  saya, saya mencoba untuk menerima kenyataan dengan perlahan. Saya menyadari bahwa  kehilangan adalah bagian dari kehidupan dan setiap hubungan, baik yang bertahan maupun  yang berakhir, memiliki pelajaran berharga. Saya biasanya memberi waktu bagi diri sendiri  untuk merasakan emosi yang ada tanpa menekannya. Selain itu, saya berusaha menjaga  keseimbangan dengan tetap fokus pada hal-hal yang membuat saya berkembang, seperti  mengikuti kegiatan komunitas, menulis jurnal, atau melakukan refleksi diri. Yang terpenting,  saya belajar untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atau terjebak dalam perasaan  kehilangan, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membantu  saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. 

Tentu saya sendiri pernah mengalami dampak yang negatif. Saya  sering merasa murung, kehilangan semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari,  merasa sesak, dan sering melamun. Hal ini terjadi ketika saya terlalu terikat secara  emosional pada seseorang, sehingga ketika terjadi konflik atau perpisahan, saya  mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Perasaan kehilangan yang mendalam membuat  saya sulit fokus dan terkadang memengaruhi keseharian saya. 

Namun, dari pengalaman ini, saya menyadari pentingnya membangun keseimbangan  dalam keterikatan emosional, agar tidak terlalu bergantung pada seseorang untuk  kebahagiaan dan ketenangan diri. Pada akhirnya, saya perlu membangun keseimbangan antara keterikatan emosional yang sehat dan hubungan yang mungkin toksik. Saya belajar memahami kapan sebuah hubungan masih sehat dan kapan mulai mengarah  ke sesuatu yang tidak baik. Jika hubungan membuat saya merasa terkekang, cemas, atau  kehilangan diri sendiri, maka saya mulai mengevaluasi, apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan. Selain itu, saya juga berusaha menghargai diri sendiri dan menjaga harga  diri. Saya menyadari bahwa saya tetap berharga, dengan atau tanpa kehadiran seseorang dalam hidup saya. 

Cara Mengatasinya

Berdasarkan pengalaman dan  pembelajaran saya di komunitas GenRe, saya menemukan beberapa cara untuk  mengatasinya: 

  1. Membangun Kemandirian Emosional

Saya berusaha untuk tidak menggantungkan  kebahagiaan saya sepenuhnya pada satu orang. Saya belajar untuk menikmati waktu  sendiri, mengejar hobi, dan fokus pada pertumbuhan pribadi. 

  1. Mendukung Diri dengan Lingkungan Positif

Saya menyadari bahwa memiliki jaringan  pertemanan yang sehat sangat membantu. Ketika saya merasa terlalu terikat atau takut  kehilangan seseorang, saya berbagi cerita dengan teman yang bisa dipercaya untuk  mendapatkan perspektif baru. 

  1. Memahami bahwa Kehilangan adalah Bagian dari Hidup

Saya mencoba menerima  bahwa tidak semua hubungan akan bertahan selamanya. Itu bukan berarti kita tidak bisa bahagia atau berkembang setelahnya. People come and People Go, begitu  katanya. 

  1. Menerapkan Teknik Mindfulness dan Self-Reflection 

Saya sering melakukan refleksi  diri untuk mengenali, apakah keterikatan saya terhadap seseorang masih dalam batas yang sehat atau sudah berlebihan. Jika merasa sudah terlalu bergantung, saya  mencoba untuk menarik diri sejenak dan menata ulang emosi saya. 

Saya juga memperluas dukungan sosial dengan tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi juga memperkuat hubungan dengan teman, keluarga, dan komunitas, seperti di  Generasi Berencana (GenRe). Dengan begitu, saya tidak merasa sendirian saat  menghadapi tantangan emosional. Saya pun lebih sering mendengarkan intuisi dan melakukan refleksi diri. Pertanyaannya ke diri sendiri seperti: “Apakah hubungan ini membuat saya lebih  bahagia atau justru lebih sering merasa cemas dan tertekan?” Jika jawabannya cenderung  negatif, saya tahu bahwa saya perlu menetapkan batas, atau bahkan melepaskan  hubungan tersebut. 

Untuk mengelola keterikatan emosional dengan lebih baik, saya mencoba menjalani  aktivitas yang membuat saya berkembang, seperti belajar keterampilan baru, mengikuti  kegiatan komunitas, atau mengejar hobi, agar kebahagiaan saya tidak hanya bergantung  pada satu orang. Saya juga sering menulis jurnal atau melakukan refleksi diri, yang  membantu saya memahami emosi dengan lebih baik dan menemukan pola pikir yang lebih  sehat. 

Selain itu, saya berlatih mindfulness dan meditasi untuk melatih kesadaran diri serta lebih  menikmati momen saat ini, sehingga saya menjadi lebih stabil secara emosional dan tidak  mudah terjebak dalam pikiran negatif tentang masa lalu atau ketakutan akan kehilangan.  Berbicara dengan orang yang dipercaya juga menjadi salah satu cara saya untuk  mendapatkan perspektif yang lebih objektif, saat saya merasa terlalu terikat atau kesulitan  mengelola perasaan. Hal paling penting, saya berusaha mengembangkan kemandirian emosional dengan tidak  menjadikan kebahagiaan saya bergantung pada satu orang. Saya merawat kesehatan  fisik, mental, dan emosional saya agar bisa menjalani hidup dengan lebih seimbang dan  bahagia, baik dengan atau tanpa keterikatan emosional yang mendalam terhadap  seseorang. 

Norma Sosial di Indonesia dan Penutup

Dalam masyarakat Indonesia, emotional attachment seringkali dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan diharapkan dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun  hubungan romantis. Keterikatan emosional dalam keluarga dianggap sebagai bagian penting dari nilai kebersamaan dan gotong royong, di mana hubungan antar anggota keluarga sangat erat. Ketergantungan emosional dianggap sebagai tanda kasih sayang serta kepedulian.  Dalam pertemanan, ikatan emosional juga cenderung kuat, terutama dalam lingkup  pergaulan yang sudah terjalin lama, seperti sahabat sejak kecil atau rekan dalam komunitas  tertentu. Sementara itu, dalam hubungan romantis, emotional attachment sering kali dilihat  sebagai hal yang positif. Namun, dalam beberapa kasus, bisa menjadi problematik jika keterikatan tersebut berubah menjadi ketergantungan berlebihan atau hubungan yang tidak  sehat. 

Saya pernah melihat stigma terhadap seseorang yang dianggap terlalu bergantung  secara emosional, terutama dalam hubungan romantis. Orang yang terlalu lekat dengan  pasangannya sering kali dicap sebagai “bucin” (budak cinta), yang memiliki konotasi  negatif karena dianggap tidak memiliki kemandirian atau terlalu mengorbankan diri demi  pasangan. Stigma ini dapat berdampak buruk, terutama jika seseorang yang mengalami  keterikatan emosional yang dalam dan justru membutuhkan dukungan, daripada sekadar  dihakimi. Selain dalam hubungan romantis, seseorang yang terlalu bergantung secara  emosional pada keluarga juga, kadang mendapatkan penilaian negatif, misalnya  dianggap kurang mandiri jika terlalu mengandalkan orang tua dalam mengambil  keputusan. 

Norma sosial di Indonesia juga memengaruhi cara perempuan mengekspresikan dan  mengelola emotional attachment. Secara budaya, perempuan sering diajarkan untuk lebih  ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang dan kepedulian, baik dalam keluarga,  pertemanan, maupun hubungan romantis. Namun, di sisi lain, ketika perempuan menunjukkan keterikatan emosional yang dianggap berlebihan, mereka bisa mendapat  kritik atau dianggap “lemah” dan “terlalu sensitif.” Tekanan sosial ini membuat banyak  perempuan harus menemukan keseimbangan antara mengekspresikan emosi secara alami dan menjaga citra, agar tidak dianggap tidak mandiri atau manja. Selain itu,  dalam banyak kasus, perempuan lebih dibebani dengan ekspektasi untuk menjaga  keharmonisan hubungan, baik dalam keluarga maupun dalam percintaan, yang bisa  membuat mereka lebih sulit untuk melepaskan keterikatan emosional yang tidak sehat. 

Saya berharap masyarakat Indonesia dapat lebih memahami bahwa emotional  attachment adalah bagian alami dari kehidupan manusia dan bukan sesuatu yang  harus distigmatisasi, terutama ketika seseorang mengalami keterikatan emosional yang  mendalam. Akan lebih baik jika masyarakat bisa lebih terbuka dalam memberikan  dukungan emosional, alih-alih menghakimi atau melabeli seseorang sebagai “lemah”, hanya karena mereka memiliki ketergantungan emosional dalam suatu hubungan.  Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga perlu ditingkatkan, agar orang-orang yang mengalami kesulitan dalam mengelola keterikatan emosional bisa merasa  lebih nyaman untuk mencari bantuan dan tidak merasa sendirian dalam perjuangan  mereka. 

Jika saya bisa memberikan saran kepada perempuan lain tentang membangun emotional  attachment yang sehat, saya ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk memiliki  keterikatan emosional dengan seseorang, tetapi pastikan bahwa hubungan tersebut  tetap memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Jangan pernah  mengorbankan kebahagiaan dan kesejahteraan diri demi mempertahankan keterikatan  yang sudah tidak sehat! Penting untuk mengenali tanda-tanda ketika hubungan mulai  menjadi tidak seimbang, seperti ketika seseorang mulai kehilangan identitas diri, merasa  terus-menerus cemas, atau kesulitan berpisah meskipun tahu bahwa hubungan tersebut  tidak lagi baik. Bangun jaringan dukungan yang luas, baik dari keluarga, sahabat,  maupun komunitas, sehingga keterikatan emosional tidak hanya terfokus pada satu  individu. 

Untuk mengadvokasi isu emotional attachment di Indonesia agar lebih banyak  perempuan merasa didengar dan dipahami, saya ingin mendorong lebih banyak diskusi  terbuka mengenai kesehatan emosional dan mental, terutama di kalangan remaja dan  perempuan muda. Salah satu caranya adalah melalui komunitas seperti Generasi  Berencana (GenRe), yang sudah memiliki platform untuk mendukung remaja dalam  mengelola hubungan secara sehat. Selain itu, saya ingin melihat lebih banyak kampanye  atau edukasi melalui media sosial, seminar, atau forum diskusi yang membahas  pentingnya membangun keterikatan emosional yang sehat. Dengan berbagi pengalaman  dan membuka ruang aman untuk berdiskusi, perempuan bisa lebih percaya diri dalam  mengelola emosinya tanpa takut dihakimi. Saya juga berharap lebih banyak perempuan  menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mencintai tanpa kehilangan diri sendiri  dalam prosesnya.


Penulis: Adelia Putri yang dapat dihubungi lewat akun Instagram @adeliaputrii__, mahasiswa sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana (GenRe). Dia tertarik pada berbagai isu, terutama yang berkaitan dengan remaja, kesehatan mental, iklim, dan isu perempuan. Menulis adalah  salah satu cara Adelia mengekspresikan pemikiran, dan selalu terbuka untuk diskusi tentang  berbagai hal. Ayo berbagi cerita dan bertukar perspektif!

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Workshop Online Craft Therapy “Berdamai dengan Diri Sendiri”

JAKARTA, September 2025 – Sebagai bagian dari kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia menghadirkan program AISIYU – AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU 2025 yang dijalankan tiap tahun sejak 2021 lalu. Tahun ini berupa kegiatan utama Workshop Online berbentuk Craft Therapy.

Workshop ini difokuskan pada produk: Affirmation Cards – Berdamai dengan Diri Sendiri, yang diikuti perempuan Indonesia di berbagai lokasi.

Kegiatan ini telah berlangsung dalam dua sesi pada 13 September dan akan dilakukan lagi pada 27 September 2025 secara online melalui Zoom Meeting.

Untuk memperluas jangkauan penerima manfaat dari workshop ini, acara ini didukung oleh komunitas perempuan Indonesia, antara lain: For.Mujeres (Front Santri Melawan Kekerasan Seksual) dan Puan Floresta Bicara. 

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya dukungan emosional bagi penyintas kekerasan berbasis gender.

Dengan mengangkat tema “Berdamai dengan Diri Sendiri”, workshop ini mengajak peserta untuk menciptakan affirmation cards yang sarat pesan positif dan memberdayakan, menggunakan media seni kolase dan journaling dari bahan daur ulang.

Dua fasilitator inspiratif, Fransiska Orris-Beding (pembuat kartu handmade di Makau) dan Maria Nelden (praktisi Psikologi Budaya di Jerman) yang memandu peserta menggali afirmasi diri melalui refleksi kreatif.

Workshop ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dan presentasi karya, dengan dukungan moderator Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita di Islandia.

“Melalui AISIYU, kami ingin menunjukkan bahwa proses pemulihan bagi penyintas kekerasan dimulai dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Setiap kartu afirmasi yang dihasilkan adalah suara perlawanan dan simbol penyembuhan,” ujar tim Asti selaku perwakilan Ruanita Indonesia.

Sebagai penutup, karya para peserta akan dikurasi dan dipamerkan secara digital pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November – 10 Desember 2025) di saluran media sosial Ruanita.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perdamaian Lewat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Ruanita Indonesia melalui program Cerita Sahabat Spesial (CSS) terus mengukuhkan diri sebagai penggerak perubahan positif di masyarakat dengan mengangkat tema-tema yang inspiratif dan relevan setiap bulannya.

Untuk edisi September 2025, CSS menghadirkan sosok Maria Regina Jaga, seorang praktisi dan aktivis pendidikan anak usia dini asal Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk membangun pendidikan berbasis kearifan lokal.

Dalam percakapan hangat dan mendalam ini, Maria mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan, tidak sekadar sebagai upaya mentransfer ilmu pengetahuan, namun sebagai sarana menanamkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.


Maria membuka ceritanya dengan sebuah pernyataan kuat: “Kearifan lokal adalah kekuatan.” Ia meyakini bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter yang sejati justru tumbuh dari pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan sendiri, bukan dari adopsi mentah-mentah model pendidikan luar.


Sebagai seorang master pendidikan anak usia dini, Maria telah lama menerapkan pendekatan ini dalam praktik. Ia memanfaatkan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna.

Melalui cerita-cerita lokal, anak-anak belajar memahami nilai persatuan dalam keberagaman, pentingnya kontribusi individu dalam komunitas, dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan sosial-budaya mereka.

Gotong Royong sebagai Nilai Universal

Maria menyoroti pentingnya gotong royong, sebuah nilai yang ia temukan masih sangat kuat dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya saat membangun rumah adat.

Dalam proses ini, semua elemen masyarakat, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, berpartisipasi tanpa merasa lebih dominan satu sama lain.

Nilai gotong royong ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter bisa muncul dari praktik budaya.

“Setiap individu dihargai atas kontribusinya. Tidak ada yang lebih menonjol,” katanya.

Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pendekatan inklusif yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.

Pendidikan Damai dalam Praktik Sehari-hari

Salah satu poin paling menyentuh dalam cerita Maria adalah pengalamannya menyaksikan harmoni lintas agama dalam perayaan keagamaan.

Saat umat Katolik merayakan Natal dan Paskah, komunitas Muslim dan penganut agama lain turut serta menjaga keamanan dan membantu pelaksanaan acara.

Bagi Maria, inilah contoh nyata bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadir dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan dan kerjasama antarkomunitas.

Ini adalah jenis pendidikan damai yang tidak hanya diajarkan lewat buku teks, tetapi melalui pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Inklusif dan Relevan Budaya

Maria juga mengkritisi bagaimana kurikulum nasional saat ini masih terlalu berat sebelah, dengan banyak referensi yang hanya mewakili budaya Indonesia bagian barat.

Ia menekankan pentingnya pemerataan representasi budaya dalam materi pelajaran agar anak-anak dari Indonesia Timur pun merasa diwakili dan dihargai.

Ia menyarankan agar lokal konten seperti legenda daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat lokal dimasukkan secara sistematis dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap budaya lain.

Teknologi dan Tradisi: Bukan Pilihan, tapi Harmoni

Maria tidak menolak kemajuan teknologi. Ia menyadari bahwa dunia saat ini menuntut generasi muda untuk melek digital dan siap bersaing di era global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sumber pembelajaran,” ujarnya. Ia mengajak para pendidik untuk tetap mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses digitalisasi pendidikan, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Pendidikan untuk Perdamaian Lintas Generasi

Salah satu visi besar Maria adalah menciptakan pendidikan yang mampu menjembatani generasi tua dan muda dalam membangun perdamaian.

Pendidikan yang baik menurutnya adalah yang memungkinkan interaksi lintas usia dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan melibatkan para tetua adat atau pengrajin tradisional dalam kelas-kelas tematik.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pembelajaran semacam ini menjadi oase yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan antar generasi.

Harapan dan Seruan kepada Pemerintah

Di akhir sesi, Maria menyampaikan harapannya kepada pemerintah Indonesia agar lebih membuka ruang bagi para pendidik, terutama dari wilayah timur Indonesia, untuk terlibat dalam perumusan dan implementasi kebijakan pendidikan.

Ia meminta agar suara dari daerah tidak hanya dijadikan formalitas dalam dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam praktik lapangan.

Kurikulum nasional, menurutnya, harus lebih dari sekadar dokumen teknis. Ia harus menjadi cerminan dari identitas kolektif bangsa, yang menghormati dan merayakan keragaman budaya sebagai kekayaan yang memperkuat, bukan memecah.

Ruanita Indonesia dan CSS: Mengangkat Suara Pinggiran

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) adalah program bulanan, diprakarsai oleh Ruanita Indonesia memang dikenal sebagai ruang yang memberi panggung bagi cerita-cerita yang jarang terdengar di media arus utama.

Melalui CSS, Ruanita menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Maria yang membagikan pengalaman dan gagasannya demi membangun Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan damai.

Dalam konteks ini, CSS edisi September 2025 bukan sekadar sesi berbagi, melainkan seruan kuat agar pendidikan di Indonesia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan perdamaian.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(PODCAST IN ENGLISH) Merantau demi Mimpi: Cerita Perjuangan Usai Studi di Jerman

Apa yang terjadi setelah lulus kuliah di luar negeri? Apakah karier langsung melesat, atau justru penuh tantangan yang tak terduga?

Pertanyaan ini menjadi benang merah dari perbincangan hangat antara Aini, host Jibber-Jabber dari Norwegia, dan Atika, seorang perempuan Indonesia yang baru menyelesaikan studi magisternya di Jerman.

Di episode keempat ini, Atika membagikan kisahnya yang jujur, inspiratif, dan penuh pembelajaran, tentang berani keluar dari zona nyaman, meniti pendidikan di negeri orang, hingga realita keras dunia kerja internasional.

“Merantau” adalah kata kunci yang mengawali perjalanan Atika. Lahir dan besar di Yogyakarta, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Jerman untuk mengejar pertumbuhan pribadi dan profesional.

“Aku ingin keluar dari zona nyaman,” katanya. Alasan lainnya? Jerman menawarkan banyak program magister tanpa biaya kuliah dan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding negara Eropa Barat lainnya.

Atika mengambil program Development Studies di Universitas Passau, sebuah bidang interdisipliner yang mencakup ekonomi, politik, sosiologi, hingga isu-isu keberlanjutan global.

Tujuannya jelas: membangun karier di bidang kerja sama pembangunan internasional (international development cooperation), sebuah bidang yang sejalan dengan pengalamannya bekerja sebelum S2.

Namun, seperti banyak dari kita, arah karier ini tidak langsung terbentuk sejak awal kuliah. Justru pengalaman kerja di lapanganlah yang memperkuat keinginannya melanjutkan pendidikan dan memperluas jejaring global.

Meski lulus dengan semangat dan rencana, Atika menghadapi realita pasar kerja di Jerman yang kompetitif dan tidak selalu ramah pada internasional.

“Lingkungan kerja di sini masih banyak yang mensyaratkan bahasa Jerman bisnis,” ujarnya. Belum lagi kompleksitas visa, preferensi terhadap kewarganegaraan tertentu, serta dinamika politik global yang memengaruhi proyek-proyek pembangunan internasional.

Bahkan di bidang yang identik dengan kerja sama antarnegara seperti international development, Atika tetap merasakan tantangan tinggi sebagai warga negara asing. Kompetisi tidak hanya datang dari sesama mahasiswa internasional, tetapi juga dari lulusan lokal dan global lainnya.

Dari semua strategi pencarian kerja yang ia coba—magang, career fair, dan LinkedIn, Atika menekankan satu hal: jaringan (networking).

“Dulu aku nggak punya network di Jerman sama sekali. Sekarang, aku sudah punya beberapa orang yang bisa aku hubungi, minta feedback, atau sekadar diskusi,” ujarnya.

Prosesnya memang lambat, penuh keraguan, dan terkadang menyulitkan mental. Tapi justru dari langkah-langkah kecil inilah peluang besar muncul.

“Yang penting mulai dulu. Satu langkah membawa ke langkah berikutnya. Jangan tunggu semuanya siap.”

Bagi Atika, merantau bukan hanya tentang pencapaian profesional, tapi juga perjalanan menuju versi terbaik dirinya.

“Kadang kita gagal dan merasa belum berhasil. Tapi sebenarnya kegagalan itu adalah pencapaian juga, karena kita belajar dari situ,” katanya menutup obrolan dengan refleksi yang menyentuh hati.

Baby steps. One step at a time. Karena sering kali kita terlalu keras sama diri sendiri, padahal kita sedang tumbuh.”

Podcast audio Jibber-Jabber berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui audio podcast Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.