JAKARTA, 22 Agustus 2026 – Organisasi nirlaba berbasis digital, Ruanita Indonesia (ruanita.com), sukses menyelenggarakan diskusi daring Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Dekolonisasi Psikologi di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Implikasi Praktis bagi Kesehatan Mental” pada Sabtu (22/8). Acara yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi peserta dari berbagai belahan dunia untuk mengkritisi dan merefleksikan kembali penerapan ilmu psikologi yang lebih kontekstual di Indonesia.
Kegiatan ilmiah ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Lahir ke-5 Ruanita Indonesia yang diperingati setiap tanggal 24 Agustus. Sebagai organisasi yang fokus pada isu psikologis, sosial, dan budaya dalam konteks transnasional, Ruanita Indonesia terus berkomitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam sektor kesehatan yang baik dan kesetaraan gender melalui penguatan kapasitas berbasis komunitas.
Hadir sebagai narasumber utama, Ayu Prabasari, seorang konselor Ruanita Indonesia dan mahasiswa Master Program dari Australian Institute of Professional Counsellors. Dalam pemaparannya, Ayu menyoroti bagaimana perkembangan ilmu psikologi modern saat ini masih sangat didominasi oleh paradigma, teori, dan praktik yang berasal dari negara-negara Barat. Menurutnya, pendekatan tersebut sering kali tidak sepenuhnya selaras dengan konteks sosial, budaya, bahasa, nilai, serta pengalaman hidup masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.
“Gerakan dekolonisasi psikologi ini bukan bertujuan untuk menolak mentah-mentah psikologi modern Barat,” tegas Ayu dalam sesi penyampaian materi. “Melainkan, gerakan ini mendorong adanya integrasi yang kuat antara bukti-bukti ilmiah universal dengan realitas budaya lokal di tempat praktik psikologi itu dijalankan, seperti nilai kekeluargaan, norma sosial, komunitas, hingga aspek spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.”
Acara yang berlangsung selama dua jam dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB ini mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari berbagai kalangan. Mereka adalah mahasiswa, psikolog, konselor, tenaga kesehatan, pendidik, pekerja sosial, hingga pegiat komunitas aktif terlibat dalam diskusi interaktif dan sesi tanya jawab mengenai peluang pengembangan layanan kesehatan mental yang lebih peka budaya.
Program strategis ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Anna Knöbl selaku Founder Ruanita Indonesia. Beliau menegaskan bahwa forum seperti Knowledge Sharing Meeting ini memegang peranan krusial sebagai wadah untuk bertukar pengetahuan serta meninjau praktik psikologi sehari-hari agar tetap berjalan beriringan dengan konteks riil dan value asli yang dianut oleh masyarakat Indonesia.
Melalui penyelenggaraan acara ini, Ruanita Indonesia berharap dapat terus memperluas jejaring pembelajaran inklusif antara akademisi, praktisi, dan masyarakat awam. Selain itu, luaran dari diskusi ini diharapkan mampu mendongkrak literasi global mengenai pentingnya sudut pandang budaya dalam intervensi serta praktik kesehatan mental di tanah air.
Simak selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE ya mendukung kami.
Namaku Asti Tyas Nurhidayati, perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal dan bekerja sebagai guru sekolah dasar di Islandia. Aku lahir dan besar di Jogja, menyelesaikan studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada.
Saat kuliah, aku aktif menjadi relawan di Griya Lentera PKBI Yogyakarta, memberikan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi, termasuk kepada para pekerja seks dan pelanggannya di Pasar Kembang. Dari pengalaman ini, aku mulai tertarik pada pekerjaan sosial yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Setelah lulus sebagai Sarjana Teknik, aku memilih jalur karir yang berbeda dari pendidikanku. Aku bekerja di Jakarta sebagai staf Behavior Change Intervention untuk pencegahan HIV/AIDS di bawah Program Aksi Stop AIDS Family Health International (FHI) dari tahun 2002 hingga 2009.
Di sana, aku menjadi fasilitator pelatihan bagi pekerja lapangan yang melakukan penyuluhan kepada kelompok risiko tinggi. Karena merasa perlu dukungan akademik yang lebih sesuai, aku melanjutkan kuliah S2 Komunikasi Pemasaran di FISIP Universitas Indonesia.
Lulus dari UI, aku bergabung dengan Rare Conservation Indonesia sebagai Communication Manager, fokus pada konservasi lingkungan dan perikanan berkelanjutan. Selain mengelola komunikasi organisasi, aku juga melatih staf lembaga pemerintah dan organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste.
Aku bekerja sama dengan tim Rare dari Asia, Mikronesia, Afrika, hingga Amerika Latin. Aku sangat menikmati pekerjaan ini dari tahun 2009 hingga 2016, sampai akhirnya aku menikah dengan pria Islandia dan pindah ke Reykjavík pada pertengahan Ramadan, Juni 2016.
Di Islandia, aku memulai semuanya dari nol. Aku belajar Bahasa Islandia, yang rumit karena setiap kata berubah tergantung gender, fungsi, dan waktu. Aku mulai bekerja sebagai staf frístundaheimili, program after school untuk murid kelas 1 dan 2 SD, lalu lanjut kursus bahasa.
Aku sempat putus asa karena keterbatasan bahasa. Aku pernah bekerja di Kedutaan Besar India di Reykjavík tapi merasa tidak cocok dengan lingkungan kerja yang kaku.
Aku kembali bekerja sebagai asisten guru TK, tetapi lagi-lagi terbentur kemampuan bahasa. Anak-anak pernah bilang, “Ég skil ekki hvað þú talar (Aku tidak ngerti kamu ngomong apa)” atau “Þú talar íslensku mjög léleg (Kamu ngomong Bahasa Islandia jelek banget)”.
Aku akhirnya memutuskan kuliah S1 Bahasa Islandia secara formal di University of Iceland agar bisa belajar dengan terstruktur.
Setiap pagi dan siang aku kuliah, lalu sore kerja di frístundaheimili. Teori kuliah langsung kupakai dalam pekerjaan dan obrolan dengan anak-anak. Setelah lulus, aku lanjut ke program S2 Pendidikan Guru SD untuk mendapatkan surat izin mengajar dari pemerintah Islandia.
Alasan terbesar aku memilih jadi guru adalah karena kondisi kesehatan reproduksi tidak memungkinkan aku untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Tapi dari situ, aku merasa bahwa Allah memberiku jalan lain yaitu mendidik anak-anak orang lain.
Lapangan kerja di sektor pendidikan di Islandia terbuka, terutama karena kekurangan guru TK dan SD. Saat ini banyak anak berusia 2 tahun harus menunggu antrian tersedianya tempat di TK.
Ini karena proporsi jumlah anak yang lebih besar daripada jumlah kursi di TK berikut jumlah guru dan staf TK. Orang tua sampai harus berhenti kerja atau bahkan jadi guru dan staf TK agar anak mereka diprioritaskan.
Menurutku, menjadi guru adalah proses belajar tanpa akhir. Selain sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator, seorang guru harus bisa jadi psikolog, motivator, entertainer, perawat, bahkan detektif untuk menangani beragam hal yang terjadi pada anak-anak di sekolah setiap harinya. Bagaimana pun, pekerjaan ini juga sangat menguras fisik dan mental.
Tantangan utamaku sebagai guru di Islandia adalah Bahasa Islandia. Meskipun aku sudah kuliah S1 jurusan ini, aku masih sering salah grammar dan pengucapan. Kadang masih minder kalau harus bicara dengan orang tua murid asli Islandia.
Tapi suamiku dan teman-teman Islandia juga sering salah, bahkan aku pernah mengoreksi mereka, dan itu sedikit banyak membuatku percaya diri.
Sistem pendidikan inklusif di Islandia juga menantang. Semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, berhak masuk SD umum terdekat di lingkungan tempat tinggalnya.
Saat ini aku mengajar di kelas 2 SD dimana murid-muridku kebanyakan berusia 7-8 tahun. Namun di kelasku tersebut aku juga punya murid yang baru pindah dari Vietnam dengan diagnosa cerebral palsy, tak bisa bicara, terbatas gerak fisik dan secara kognitif setara anak usia dua tahun. Meski didampingi asisten, aku harus menyesuaikan bahan ajar dan strategi untuk semua murid di kelas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Islandia merupakan negara kecil, hanya sekitar 400.000 jiwa dengan sekitar 20% adalah imigran. Lonjakan jumlah imigran belum diimbangi infrastruktur pendidikan yang memadai, termasuk sekolah khusus. Anak berkebutuhan khusus bisa menunggu satu tahun untuk masuk sekolah khusus, dan selama itu mereka tetap belajar di sekolah umum.
Anak-anak lain juga beragam: ada yang ADHD, autis, punya gangguan belajar, gangguan bahasa, gangguan pengendalian mental dan lainnya. Tahun pertamaku mengajar profesional sangat menantang. Suamiku pernah protes karena aku terlalu banyak waktu untuk kerja dan sedikit waktu untuk keluarga. Aku terus belajar membagi waktu dan menjaga keseimbangan.
Sebagai imigran, aku ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa berkontribusi positif bagi masyarakat setempat sebagai tenaga kerja profesional berpendidikan tinggi dan bersertifikat yang bisa menaiki jenjang karir. Bukan hanya pekerja kasar yang mengandalkan otot dan waktu dan dihargai dengan upah minimum.
Sistem pendidikan di Islandia tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Anak tetap naik kelas sesuai usia. Tes hanya untuk mengukur dan mengevaluasi pengajaran, bukan menentukan kelulusan. Sistem ini ramah anak, tapi bisa jadi tantangan jika murid dengan kemampuan rendah tetap naik kelas.
Yang paling kusukai dari profesiku adalah aku bisa jadi contoh bahwa imigran juga bisa jadi guru. Sekitar 70% murid dan orang tua muridku adalah imigran dari berbagai negara. Saat wawancara dengan orang tua, aku kadang perlu bantuan penerjemah. Tapi itu juga membuatku merasa terhubung.
Aku suka budaya sekolah di sini yang flat dan casual. Semua dipanggil nama depan, termasuk kepala sekolah. Anak-anak pun memanggilku “Asti” atau “Kennari (Guru)”.
Filosofi hidup orang Islandia adalah “þetta reddast” (semua akan baik-baik saja). Mereka bekerja sesuai jam kerja dan tak bawa pekerjaan ke rumah. Aku masih belajar untuk menerapkan ini karena aku sering belum bisa lepas dari urusan kerja setelah jam pulang. Bahkan di rumah pun, aku masih sering mencari berbagai ide untuk menyiapkan bahan ajar bagi murid-muridku di sekolah.
Sebagai guru kelas, aku harus membuat laporan harian online tentang perilaku murid, terutama jika ada insiden. Aku juga harus menghubungi orang tua jika ada anak terluka atau melukai anak lain. Ini menguras energi karena aku harus mengingat insiden yang terjadi dan menuliskannya dalam Bahasa Islandia, yang aturannya kompleks.
Aku mengajar di lingkungan multikultural, banyak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Menurut pengamatanku, banyak murid-muridku yang kurang pengawasan, pendidikan, dukungan bahkan kasih sayang dari orang tua mereka di rumah karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah dan melalaikan peran penting mereka dalam mendidik anak. Akibatnya, aku harus bekerja ekstra dalam manajemen kelas.
Sering aku kehilangan suara akibat radang tenggorokan, apalagi saat musim dingin atau Ramadan, karena kerap berteriak untuk menertibkan kelas. Itu sebabnya aku banyak menggunakan alat bantu dan berbagai teknik manajemen kelas. Classroom Screen misalnya, efektif membantuku untuk menulis instruksi di laptop dan menayangkannya di whiteboard supaya murid-murid bisa membacanya dan guru tidak perlu selalu bicara keras.
Pernah juga aku diprotes beberapa orang tua, dilaporkan ke kepala sekolah dan meminta anaknya dipindah ke kelas lain. Namun, manajemen sekolah selalu mendukungku dan mencarikan solusi tanpa harus memindahkan anak ke kelas lain.
Sebagai guru di Islandia, aku merasa punya peran dalam perkembangan akademik dan emosional anak-anak. Kami mengajarkan mereka bersosialisasi, mengelola emosi, dan belajar mandiri. Anak-anak diajak belajar lewat bermain, berpikir kritis, eksplorasi dan mencari solusi.
Sekolah memberi ruang untuk kreativitas dan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi dengan orang tua dan komunitas juga penting, termasuk menyediakan penerjemah saat rapat jika orang tua tidak bisa Bahasa Islandia atau Inggris.
Sebagai perempuan Indonesia, aku membawa nilai gotong royong, sopan santun, dan menghargai keanekaragaman. Rekan kerja dan orang tua murid menghargai latar belakangku. Bahkan, beberapa murid Muslim dari negara lain merasa lebih nyaman karena tahu aku juga Muslim.
Menurut pengamatanku, orang tua di Islandia memberi banyak kebebasan dan kepercayaan pada anak. Mereka tidak terlalu menuntut prestasi akademik, tapi lebih fokus pada karakter, kemandirian dan berpikir kritis. Aku belajar bahwa keseimbangan hidup sangat penting.
Masyarakat Islandia juga sangat mengedepankan kesetaraan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan, supaya kelak dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Anak perempuan punya kesempatan belajar di sekolah menjadi ahli mesin, ahli listrik atau tukang batu misalnya; sedangkan anak lak-laki juga punya kesempatan belajar menjadi koki, perias, penata rambut, penjahit atau perawat. Islandia secara konsisten menjadi negara paling unggul dalam kesetaraan gender di dunia, dengan 90% perempuan usia produktif bekerja, 50% anggota parlemen adalah perempuan.
Islandia merupakan negara pertama di dunia dengan presiden wanita. Saat ini, presiden dan perdana menteri Islandia juga wanita.
Pesanku untuk perempuan Indonesia yang ingin jadi guru di luar negeri: jangan takut mulai dari nol, terus belajar, dan percaya diri. Pengalaman pendidikan di Islandia bisa diterapkan di Indonesia, terutama soal ramah anak dan keberagaman. Gaya pengasuhan di Islandia yang menekankan kemandirian dan berpikir kritis layak dicontoh.
Untuk para orang tua, ayo terlibat dalam pendidikan anak, jalin komunikasi dengan guru, dan hargai setiap proses belajar sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak kita. Guru dan orang tua adalah tim. Tanpa kerja sama, anak akan kehilangan arah dalam proses belajarnya. Mari tumbuh bersama, demi anak-anak kita.
Penulis: Asti Tyas Nurhidayati, Guru SD di Islandia, relawan Ruanita di Islandia, dan dapat dikontak via akun instagram @asti.tyas.nurhidayati
Di balik hiruk pikuk Dubai yang penuh gemerlap, tersimpan kisah seorang perempuan Indonesia yang tengah membangun hidupnya kembali. Pelan namun pasti, dengan keberanian dan keyakinan. Namanya Yuni, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sukabumi, yang menjadikan dapur kecil di negeri orang sebagai jalan untuk menemukan jati diri dan mewujudkan impian. Dalam PMI Stories Episode #4, Yuni berbagi kisah tentang bagaimana ia memulai perjalanan sebagai PMI, melewati pergantian majikan, jatuh bangun dalam bekerja, hingga akhirnya menemukan kekuatan baru lewat usaha kuliner Indonesia yang ia bangun sendiri di Dubai.
Motivasi pertama Yuni ketika memutuskan menjadi PMI sederhana namun penuh makna. Yuni ingin membantu orang tua yang sudah lanjut usia. Baginya, keluarga adalah tanggung jawab yang tak bisa ditawar, dan menjadi PMI adalah cara yang ia pilih untuk memastikan mereka tetap sejahtera. Namun di balik itu, ada sesuatu yang Yuni simpan jauh di dalam hati. Yuni bermimpi membuka toko kue, baik di Dubai maupun di Indonesia.
“Saya ingin punya usaha nantinya, usaha di kue,” tuturnya.
Mimpi itu tidak pernah padam, bahkan ketika hidup sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri menguji kesabarannya. Dari kontrak dua tahun tanpa libur hingga berpindah dari satu majikan ke majikan lain, Yuni tetap mempertahankan tekadnya untuk menjadi perempuan yang mandiri. Pertama kali tiba di Dubai pada 2019 lewat agen penyalur, Yuni bekerja dengan keluarga Emirati yang memiliki enam anak. Tidak ada hari libur, namun ia bersyukur mendapat majikan yang baik. Meski demikian, kerinduan untuk merasakan kebebasan membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidupnya.
Setelah kontrak berakhir, Yuni memutuskan mencoba cara lain. Yuni bekerja secara mandiri, yakni mencari majikan langsung lewat situs, grup Facebook, hingga Instagram. Cara ini memberi ruang gerak lebih besar, dan perlahan, Yuni merasakan Dubai bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat ia menemukan dirinya.
“This is me. This is my life.” kata Yuni sekali lagi.
Dubai menjadi cermin yang memperlihatkan siapa Yuni sebenarnya. Ketika kesempatan bazar KJRI Dubai datang, Yuni bersiap menjual roti unyil, spesialisasinya di dunia baking. Tetapi tiga hari sebelum acara, oven satu-satunya rusak. Alih-alih menyerah, seorang teman menyarankan ia mencoba martabak.
Belum pernah membuatnya, Yuni belajar dari YouTube, mencoba sekali, dan berhasil. Di hari bazar, martabaknya laku keras. Ternyata, baru Yuni yang menjual martabak live on the spot. Kini ia berjualan secara online dari rumah majikan, menerima pesanan, mengatur kurir, menulis alamat pelanggan, dan tetap bekerja sebagai PMI. Semua dilakukan dengan satu tantangan terbesar, bagaimana Yuni bisa membagi waktu.
Jika Yuni menengok ke belakang, ia melihat dirinya yang dulu hanya bekerja tanpa tujuan. Hari ini, ia melihat perempuan yang mandiri, percaya diri, bahagia, dan tahu apa yang ingin ia capai.
“This is Yuni. Inilah Yuni yang saya cari.” katanya menutup rekaman podcast.
Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Yuni bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.
PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.
Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Di bulan Agustus ini, program video podcast cerita sahabat spesial yang hadir setiap bulan menayangkan tema yang spesial dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia, setiap 19 Agustus. upaya menjaga alam sering kali identik dengan kerja lapangan yang berat dan didominasi oleh laki-laki. Namun, di balik itu semua, ada pendekatan yang pelan namun kuat, tumbuh dari ruang yang selama ini kerap terabaikan, yakni ruang perempuan. Bagi Francisca Ariantiningsih, perubahan besar dalam konservasi justru berakar dari dalam rumah.
Francisca lahir dan besar di Manokwari, Papua. Ketertarikannya pada dunia satwa liar sudah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia mulai melakukan penelitian terkait kehidupan satwa dan habitatnya. Ketertarikan itu membawanya melanjutkan studi hingga ke Australia, dan kini ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Rutgers University, Amerika Serikat. Di sela studinya, ia tetap aktif bekerja di sebuah lembaga konservasi yang berfokus pada penyelamatan orangutan dan habitatnya di Sumatera.
Baginya, konservasi tidak pernah sesederhana melindungi satu spesies. Orangutan memang sering dijadikan simbol atau pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran publik, tetapi sesungguhnya yang dijaga adalah keseluruhan keanekaragaman hayati di dalam suatu ekosistem. Hutan, satwa, dan manusia adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Karena itu, pendekatan konservasi tidak bisa hanya berhenti pada perlindungan satwa, tetapi harus menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Pengalaman Francisca bekerja bersama lembaga konservasi lokal di Sumatera memperkuat keyakinannya akan pentingnya peran masyarakat setempat. Lembaga tersebut lahir dari inisiatif anak-anak muda lokal sejak awal tahun 2000-an, dan hingga kini tetap bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia setempat. Mereka percaya bahwa masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan yang seharusnya menjadi aktor utama dalam upaya pelestarian. Tradisi, pengetahuan lokal, dan hubungan turun-temurun dengan alam menjadi fondasi yang tidak tergantikan.
Di tengah perjalanan itu, muncul satu pertanyaan penting yang kemudian mengubah arah pendekatan program: mengapa perempuan? Dalam banyak komunitas di Indonesia, ruang perempuan untuk terlibat dalam kegiatan konservasi sering kali terbatas oleh norma dan budaya. Namun di sisi lain, perempuan memegang peran yang sangat besar di dalam keluarga. Mereka bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga pendidik pertama bagi anak-anaknya. Ketika pengetahuan tentang konservasi diberikan kepada perempuan, nilai-nilai itu tidak berhenti pada satu individu, melainkan mengalir ke generasi berikutnya.
Dari pemahaman inilah lahir berbagai inisiatif yang secara khusus melibatkan perempuan. Salah satunya adalah pembentukan kelompok restorasi ekosistem berbasis perempuan. Dalam program ini, perempuan desa dilibatkan secara langsung dalam proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Mereka bahkan menggunakan gedebok pisang sebagai media tanam, menggantikan polybag plastik yang selama ini umum digunakan. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dekat dengan keseharian mereka.
Seiring waktu, dampak dari program ini melampaui tujuan awalnya. Keterlibatan perempuan dalam kegiatan restorasi ternyata juga membuka peluang ekonomi baru. Bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang kehilangan suami sebagai tulang punggung keluarga, program ini menjadi jalan untuk bertahan dan bangkit. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga penghasilan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menyekolahkan anak hingga jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang ke pendekatan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu pengembangan kebun rumah atau home garden. Melalui program ini, perempuan didorong untuk memanfaatkan lahan kecil di sekitar rumah guna menanam kebutuhan pangan keluarga. Hasilnya tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga bisa dijual jika ada kelebihan. Dalam konteks masyarakat yang ruang geraknya terbatas, pendekatan ini menjadi solusi yang relevan sekaligus memberdayakan.
Bagi Francisca, pendekatan terhadap perempuan bukan sekadar strategi alternatif, melainkan kunci penting dalam keberhasilan konservasi jangka panjang. Ia melihat bahwa ketika perempuan diberi ruang yang tepat, mereka mampu menjadi penggerak perubahan yang efektif. Di tengah dominasi laki-laki dalam isu perlindungan kawasan dan satwa, pendekatan berbasis perempuan justru membuka pintu baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan kehidupan manusia dalam berbagai dimensinya. Apa yang dilakukan setiap hari, sekecil apa pun, memiliki dampak terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik atau membawa tas belanja sendiri menjadi bagian dari upaya menjaga alam yang lebih besar.
Cerita Francisca mengingatkan bahwa harapan untuk masa depan lingkungan tidak selalu datang dari langkah besar atau kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari halaman kecil, dari tangan perempuan yang dengan sabar menanam, merawat, dan mengajarkan. Di sanalah, masa depan konservasi perlahan dibangun dengan cara yang mungkin sederhana, tetapi penuh makna.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Agustus 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.
Halo, Sahabat Ruanita. Aku Aini Hanafiah. Saat ini aku tinggal di kota Bergen, Norwegia, bersama suami dan dua anak perempuan kami. Si sulung berusia 15 tahun, si bungsu 5 tahun. Kami sudah berpindah-pindah negara: mulai dari Malaysia, Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Norwegia. Di sini, aku sedang menempuh pendidikan S2. Sebelumnya, aku bekerja sebagai perawat dan asisten guru TK.
Perjalanan keluarga kami bermula ketika aku ikut suami merantau ke Malaysia setelah menikah. Anak pertama kami lahir di sana. Setelah lima tahun, kami pindah ke Tromsø, sebuah kota kecil di lingkar Kutub Utara. Kami juga sempat tinggal di New Brunswick, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Norwegia dan menetap di Bergen.
Saat pindah ke Tromsø, si sulung baru berusia 2,5 tahun. Sebelumnya kami tinggal berpindah-pindah antara Penang dan Jakarta. Karena belum pernah masuk daycare atau playgroup, dia tidak terlalu memiliki keterikatan sosial. Jadi, tidak banyak reaksi ketika berpindah tempat. Tapi pindah ke Tromsø berbeda. Kami datang dari lingkungan hangat dan ramai, ke tempat yang dingin, sepi, dan gelap. Saat itu Februari, puncak musim dingin. Termometer menunjukkan -20℃, dan kami terkurung di rumah selama tiga hari karena badai salju.
Si sulung sering mengamuk. Kami kelelahan. Dua hari perjalanan dari Jakarta dengan empat kali transit cukup membuat kami, orang dewasa, limbung. Apalagi si kecil. Setibanya di Oslo, dia berteriak, melempar semua jaket dan sweater karena kedinginan. Kami harus berlari-lari mengejar penerbangan terakhir sambil menggendong anak yang menangis, dua ransel, dan jaket-jaket berserakan.
Aku pikir, dua minggu saja cukup untuk adaptasi. Ternyata salah besar. Anak-anak butuh waktu lebih lama. Untuk orang dewasa, bisa saja melihat salju dan aurora itu menyenangkan. Tapi untuk anak balita? Yang dia tahu hanya dingin, sepi, dan tidak ada nenek-kakek yang biasa dia temui.
Selain tantangan cuaca, tantangan terbesar adalah aku sendiri. Aku mengira karena sudah terbiasa merantau sejak kecil, aku bisa membawa anak merantau dengan mudah. Aku salah. Dulu aku hanya bertanggung jawab atas diriku. Kini, ada anak kecil yang sangat bergantung pada kondisi psikologisku. Anak-anak menyerap energi orang tua. Ketika aku berusaha terlihat tegar, tapi sebenarnya lelah dan kesepian, si sulung ikut merasakannya.
Hari-hari kami di Tromsø diisi dengan videocall ke keluarga di Indonesia, main di dalam rumah, dan kelelahan emosional. Setelah dua bulan, barulah si sulung mulai terbiasa dengan udara dingin. Kami mulai keluar rumah ke taman, danau, atau jalan kaki ke kampus. Begitu cuaca menghangat, ia mulai masuk barnehage (TK) di bulan Agustus. TK-nya adalah friluftsliv barnehage, dengan banyak kegiatan luar ruang. Ini sangat membantu, karena ia mulai terbiasa bertemu teman sebaya dan guru yang ramah.
Guru-guru TK-nya membuatkan buku bergambar berisi kosakata bahasa Norsk dan Inggris untuk membantunya belajar bahasa. Kami masih menyimpan buku itu sampai sekarang, dan digunakan lagi saat si bungsu masuk TK.
Pengalaman si bungsu berbeda. Ia lahir di Bergen saat keluarga kami lebih stabil. Tapi ia lahir beberapa bulan sebelum pandemi COVID-19. Ketika masuk TK di usia dua tahun, dia sangat takut bertemu orang. Ia hanya mengenal ayah, ibu, dan kakaknya. Butuh waktu empat bulan untuk beradaptasi. Di enam minggu pertama, sering kali aku harus menjemputnya lebih awal karena ia menangis terus. Untung guru-guru sangat suportif dan meyakinkan bahwa ini sementara.
Kini, si bungsu akan masuk SD. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut, gemar hiking, dan menyukai ketenangan. Beda anak, beda tantangan, beda pula bentuk resiliensinya.
Salah satu pengalaman yang paling mengena adalah ketika aku harus belanja di tengah musim dingin. Si sulung tidak mau dipakaikan jaket. Ia meraung-raung. Aku kelelahan. Akhirnya, aku duduk saja di tepi jalan bersalju, membiarkan dia menangis. Aku tahu, memarahinya tidak akan membantu. Aku hanya duduk diam, menikmati sedikit sinar matahari yang muncul setelah musim dingin panjang.
Setelah tangisnya reda, dia tertidur di stroller. Sejak saat itu, aku mulai menyadari pentingnya self-soothing. Saat anak mengamuk, aku belajar menenangkan diri dulu. Kadang aku ke balkon, duduk sebentar. Tidak meninggalkan anak, tapi menjauh agar bisa lebih tenang. Lama-lama, si sulung mulai mengikuti, bahkan berusaha memakai jaketnya sendiri untuk ikut ke luar.
Langkah konkret lainnya adalah menciptakan rutinitas yang stabil. Bangun tidur, bereskan selimut, makan, mandi, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, makan, istirahat, lalu boleh bermain. Tidak ada screentime di hari biasa. Kami juga membiasakan ngobrol saat makan malam. Obrolan ini jadi ruang untuk berbagi cerita, masalah, atau sekadar bercanda. Kami ajarkan bahwa semua emosi boleh, tapi tidak semua perilaku diperbolehkan.
Aku juga menjaga identitas budaya Indonesia lewat makanan. Akhir pekan, kami isi dengan memasak makanan Indonesia. Si sulung bahkan bangga bisa makan sambal korek, katanya itu prestasi. Kami juga rajin membaca buku berbahasa Indonesia, videocall dengan keluarga, dan ikut pengajian bulanan dengan komunitas Indonesia di Bergen.
Kami percaya, identitas budaya anak bisa ditanam lewat rasa, cerita, dan koneksi emosional. Meski tinggal di negara barat, kami ajarkan batasan dan nilai-nilai lewat kebiasaan dan contoh sehari-hari.
Soal kesehatan mental, aku pernah konsultasi ke psikolog Indonesia secara online. Di Norwegia sempat mencoba, tapi tidak cocok karena kendala bahasa dan biaya. Untuk si sulung, sekolah membantu mengakses layanan psikolog remaja. Suatu hari ia bilang, “I think I need help.” Kami langsung bantu. Saat itu aku merasa, semua table talk selama ini ternyata tidak sia-sia.
Aku belajar bahwa kebutuhan emosional anak saat migrasi adalah rasa aman. Dan rasa aman itu tidak bisa muncul kalau orang tuanya sendiri belum merasa aman.
Makna resiliensi buat anak-anak kami bukan soal “baik-baik saja,” tapi tentang bisa mengelola emosi, merasa cukup, dan tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan.
Akhirnya, aku sadar bahwa menjadi orang tua di perantauan tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang membangun ulang diri. Unlearning itu sama pentingnya dengan learning.
Untuk orang tua yang akan merantau, siapkan diri secara sadar. Jangan hanya tergoda citra di media sosial. Hidup di luar negeri memang banyak peluang, tapi juga penuh tantangan. Pelajari sistem negara tujuan, cari tahu jalur bantuan, dan bangun komunitas sehat. Jangan lupa, punya batasan yang sehat juga penting.
Karena saat kita sudah merasa cukup, kita bisa hadir penuh untuk anak-anak. Dan saat itulah, resiliensi mulai tumbuh, perlahan, tapi pasti.
Penulis: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak via akun instagram @aini_hanafiah.
Program audio bulanan Podcast RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) kembali hadir dengan diskusi inspiratif yang membuka wawasan tentang pendidikan, karier internasional, dan dunia konten digital. Episode kali ini dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang menetap di Jerman, bersama Griska Gunara, relawan Ruanita Indonesia yang berdomisili di Inggris (UK). Dalam diskusi santai namun penuh makna, Podcast RUMPITA menghadirkan tamu spesial, Boy Tri Rizky. Dia adalah seorang konten kreator sekaligus edukator asal Indonesia yang kini menetap di Jerman. Boy dikenal aktif membagikan wawasan seputar studi, bahasa, dan kehidupan di Eropa melalui berbagai platform digital.
Griska membuka diskusi dengan memperkenalkan latar belakang akademik Boy yang mengesankan. Boy merupakan lulusan Master of Arts Intercultural German Studies (German as a Foreign Language) dari Universität Göttingen. Tak berhenti di situ, Boy mengungkapkan bahwa saat ini ia tengah menempuh studi doktoral (S3) di Berlin, dengan rencana jangka panjang untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia. Perjalanan Boy ke Jerman berawal dari profesinya sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Latar pendidikan S1-nya adalah pendidikan Bahasa Jerman. Setelah lulus, ia mengikuti seleksi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan terpilih sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penugasan luar negeri.
“Saya ditempatkan di KBRI Copenhagen, Denmark. Dari sana kemudian lanjut kuliah ke Jerman, dan setelah lulus saya mengajar di KBRI Berlin dan Rumah Budaya Indonesia,” tutur Boy.
Ia menjelaskan bahwa program pengiriman pengajar BIPA luar negeri merupakan program resmi pemerintah, meski saat ini belum kembali dibuka setelah pandemi COVID-19. Dalam studi doktoralnya, Boy meneliti penilaian bahasa dalam masyarakat, dengan mengambil contoh perbandingan antara Jakarta dan Berlin. Ia menyoroti bagaimana bahasa sering kali menjadi simbol status sosial.
“Di Jakarta, orang yang berbicara bahasa Inggris sering dianggap lebih berpendidikan. Sementara bahasa Indonesia dianggap biasa saja, dan bahasa daerah kadang dipandang rendah,” jelasnya.
Penelitian ini menjadi salah satu fondasi konten edukatif yang juga ia bagikan melalui media sosial. Ketertarikan Boy pada dunia konten digital bermula ketika ia kembali ke Indonesia setelah lulus S2. Ia mulai membagikan pengalaman hidup, studi, dan gegar budaya di Jerman. Tak disangka, konten-konten tersebut mendapatkan respons tinggi dari audiens.
“Saat aku konsisten upload, terutama tentang gegar budaya dan kuliah di Jerman, engagement-nya naik drastis,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, Boy menyimpulkan bahwa konsistensi adalah kunci utama menjadi konten kreator. Ia menargetkan unggahan minimal tiga kali seminggu agar tetap relevan di algoritma media sosial. Kini, kontennya tak hanya membahas kehidupan di Jerman, tetapi juga fenomena bahasa, riset akademik, serta isu-isu sosial yang jarang diangkat. Dalam diskusi, Boy membedakan peran antara konten kreator dan edukator. Menurutnya, konten kreator berfokus pada engagement dan daya tarik visual, sementara edukator menitikberatkan pada isi dan nilai pembelajaran.
“Aku selalu berusaha supaya orang bukan cuma terhibur, tapi juga belajar sesuatu dari kontenku,” katanya.
Ia pun menekankan pentingnya personal branding. Sejak awal, Boy memosisikan dirinya sebagai pendidik. Ia menghindari konten yang berpotensi memicu perundungan dan selalu menjaga etika, terutama terkait privasi, yang sangat dijunjung tinggi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Menutup perbincangan, Boy menyampaikan pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: jangan takut mencoba hal baru. Menurutnya, pengalaman hidup di luar negeri membuka cara pandang yang lebih luas tentang dunia dan diri sendiri.
“Kesuksesan itu bukan buat orang paling pintar, tapi buat orang yang mau berjuang sampai akhir,” ujarnya. Ia mengaku bahwa nilai akademiknya dulu tidak selalu menonjol. Namun, keberanian mencoba, melangkah, dan tidak takut gagal menjadi pembeda dalam hidupnya.
“Selama ada kesempatan, kenapa nggak dicoba?” pungkasnya.
Melalui Podcast Diskusi RUMPITA, Ruanita kembali menghadirkan ruang diskusi yang jujur, reflektif, dan inspiratif, sehingga menjadi jembatan cerita perempuan dan laki-laki Indonesia lintas negara untuk saling belajar dan menguatkan. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.
Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.
Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!
Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan.
Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.
Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak.
Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.
Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.
Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.
Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.
Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal.
Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.
Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.
Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.
Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.
Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.
Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.
Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.
Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.
Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.
Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.
Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.
Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby
Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.
Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.
“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.
Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.
“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.
Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.
Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.
“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.
Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.
Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.
Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:
Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.
Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.
“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.
Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.
Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.
Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.
Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.
Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.
Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.
Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.
Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.
Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.
Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.
Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.
Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.
Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.
Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.
Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.
Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.
Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.
Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.
Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.
Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.
Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.
Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.
Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.
Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.
Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”
Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.
Pesan saya sederhana: kuatkan diri.
Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.
Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.
Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.
Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.
Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.
Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.
“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.
Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.
Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.
Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.
Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.
Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ecie yang tinggal di Hamburg, Jerman. Sebagai seorang karyawati di sebuah institusi bahasa yang terdiri atas orang-orang berbagai bangsa di Jerman, istilah generation gap bukan hal asing. Ketika saya mendengar istilah “generation gap” di tempat kerja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah perbedaan pandangan, nilai, dan pendekatan kerja di antara generasi yang berbeda.
Menurut saya, kadang-kadang ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau tantangan dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Di tempat kerja, saya dapat mengamati perbedaan paling mencolok antara generasi yang berbeda. Biasanya ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi dan pendekatan terhadap teknologi.
Generasi yang lebih tua atau mereka yang senior cenderung lebih formal, misalnya mereka lebih memilih komunikasi tatap muka atau melalui telepon. Ini mungkin disebabkan dengan faktor kenyamanan, menurut saya. Sementara generasi yang lebih muda, mereka lebih mengandalkan komunikasi digital, seperti email, pesan instan, atau platform kolaborasi online.
Generation gap tidak hanya sampai di situ saja. Saya melihat bahwa generasi yang lebih tua mungkin lebih fokus pada stabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan, sementara generasi yang lebih muda seringkali lebih menekankan pada fleksibilitas, Work-life-balance, dan peluang untuk perkembangan pribadi. Tentunya, generation gap juga menciptakan perbedaan dalam prioritas dan pendekatan terhadap pekerjaan, sehingga bukan tidak mungkin timbul percikan-percikan dalam dunia pekerjaan yang saya amati.
Saya pernah menyaksikan konflik antar generasi di tempat kerja. Biasanya, konflik tersebut muncul dari perbedaan cara pandang atau metode kerja. Dalam salah satu kasus, situasi tersebut ditangani dengan mengadakan diskusi terbuka di mana setiap generasi diberikan kesempatan untuk berbagi pandangan mereka dan mencari solusi bersama. Kalau menurut kalian, sahabat Ruanita begitu jugakah kalau terjadi generation gap?
Dalam tempat kerja saya, saya tidak hanya dihadapkan dengan perbedaan latar belakang budaya atau yang berbeda saja, tetapi juga usia di antara kami. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai generasi, tentunya memberikan keuntungan tersendiri. Saya jadi memiliki perspektif beragam, terutama dalam bekerja yang memerlukan kreativitas dan solusi.
Namun, tentunya bekerja dengan berbagai generasi yang kemudian memunculkan kesenjangan pun menimbulkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau ketegangan, akibat perbedaan nilai dan cara kerja. Menurut saya, cara yang paling efektif untuk menjembatani perbedaan pandangan dan gaya kerja antar generasi di tempat kerja adalah dengan mengadakan sesi pelatihan lintas generasi sehingga menciptakan budaya kerja yang inklusif. Maksud saya, kita perlu menghargai dan mendengarkan setiap orang, terlepas dari usia atau latar belakang mereka.
Saya menilai posisi saya berada di antara keduanya. Demikian pula saya merasa bahwa setiap generasi mungkin saja bisa diuntungkan atau dirugikan dalam lingkungan kerja, tergantung konteksnya. Artinya, ini bergantung pada seberapa baik perusahaan mengakomodasi kebutuhan dan gaya kerja mereka.
Misalnya, generasi yang lebih muda mungkin merasa diuntungkan dalam hal adaptasi teknologi, sementara generasi yang lebih tua mungkin merasa dirugikan jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti perkembangan ini.
Perbedaan dalam penggunaan teknologi seringkali memengaruhi hubungan antar generasi di tempat kerja. Generasi yang lebih muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru, sementara generasi yang lebih tua mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam efisiensi kerja dan komunikasi.
Contohnya saja, saya merasa tidak sabar ketika mereka yang berasal dari generasi senior begitu lamban dalam merespon. Mereka bisa mengetik lama sekali karena mereka perlu berpikir lama untuk menjawab email. Contoh lainnya, mereka (generasi senior) ingin sekali belajar Microsoft Excel, tetapi mereka sering “ngeyel” dan ingin lebih cepat selesai. Padahal hasil mereka belum tentu bisa akurat.
Dalam kaitan tema generation gap, saya percaya kita bisa menjembatani kesenjangan antar generasi ini dengan melakukan program mentoring. Program tersebut bisa berupa pelatihan teknologi bagi generasi yang lebih tua atau mentoring dari generasi yang lebih senior kepada yang lebih muda dalam hal pengembangan karier dan etika kerja.
Pemberi kerja atau perusahaan juga perlu menyediakan waktu staff meeting untuk saling berbagi perspektif cara kerja masing-masing. Pembekalan cara berkomunikasi dengan rekan kerja juga penting, apalagi saya yang bekerja di tempat kerja dari berbagai latar belakang budaya dan negara.
Dalam kehidupan digitalisasi seperti sekarang, tentu saya berharap kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan harmonis. Kita perlu menciptakan suasana kerja yang saling menghormati satu sama lain, terlepas dari usia atau latar belakang budayanya. Dengan begitu, kita dapat bekerja sama dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing. Bukankah itu maksudnya bekerja tim?
Lewat tema generation gap, saya rasa kita perlu menghasilkan tim yang kuat dan dinamis. Kita perlu menghormati generasi senior dan mengajak mereka agar tidak akan merasa tertinggal dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.
Penulis: Ecie, relawan Ruanita yang tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun IG: ciesa.
ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.
Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.
Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.
Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.
Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.
Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.
Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.
Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.
Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.
Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami
“Saya pikir memindahkan ijazah ke Amerika Serikat akan mudah. Ternyata tidak.”
Kalimat itu diucapkan Eka Nilawati tanpa dramatisasi. Setelah lebih dari satu dekade berkarier sebagai perawat di Indonesia, termasuk menjadi kepala perawat ICU dan ia membayangkan pengalamannya akan menjadi modal untuk melanjutkan profesi yang sama di Amerika Serikat. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika pindah ke Amerika Serikat pada 2016 melalui visa keluarga setelah menikah dengan warga negara Amerika, Eka mendapati bahwa pengalaman profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun tidak otomatis diakui. Di balik statusnya sebagai tenaga kesehatan berpengalaman, ia kembali menjadi seseorang yang harus memulai semuanya dari awal. Perjalanan itu bukan sekadar soal administrasi atau penyetaraan ijazah. Ia adalah kisah tentang identitas, migrasi, menjadi ibu, menjadi mahasiswa lagi, hingga belajar menerima bahwa memulai dari nol bukan berarti gagal.
Banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi berharap dapat melanjutkan profesinya di negara tujuan. Namun, bagi tenaga kesehatan, proses tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan ijazah. Eka menjelaskan bahwa setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki regulasi berbeda terkait pengakuan profesi keperawatan. Proses verifikasi pendidikan, pengalaman kerja, hingga lisensi harus dilakukan melalui lembaga resmi, dan sering kali membutuhkan komunikasi langsung antara institusi di Indonesia dengan otoritas di Amerika. Ketika ia menjalani proses tersebut, Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem administrasi manual menuju digital. Tidak adanya titik kontak yang jelas untuk proses verifikasi membuat langkahnya terhambat selama bertahun-tahun.
“Yang saya bayangkan sederhana, ternyata membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran yang luar biasa.”
Alih-alih menyerah, Eka memilih jalan lain. Karena belum dapat bekerja sebagai perawat, ia menerima pekerjaan sebagai caregiver di panti lansia. Pekerjaan yang secara administratif hanya membutuhkan ijazah sekolah menengah itu menjadi pintu masuknya kembali ke dunia pelayanan kesehatan. Dari sana, ia mengikuti pelatihan menjadi Certified Nursing Assistant (CNA), kemudian meningkatkan sertifikasinya agar dapat bekerja di rumah sakit.
Lima tahun bekerja sebagai CNA memberinya pengalaman baru mengenai sistem kesehatan Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu bergerak lurus. Kadang seseorang harus mundur beberapa langkah agar dapat melangkah lebih jauh. Di balik perjalanan profesional tersebut, ada kehidupan lain yang terus berjalan. Eka juga menjalani peran sebagai ibu dari dua anak, bekerja, sekaligus kembali menjadi mahasiswa. Setelah kelahiran anak keduanya, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk menentukan arah karier berikutnya.
“Target saya bukan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Target saya adalah menyelesaikan pendidikan.”
Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang dialami banyak perempuan setelah bermigrasi. Standar kesempurnaan yang selama ini melekat sering kali harus dinegosiasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika buku kuliah harus ditutup karena anak membutuhkan perhatian. Ada saat ketika tugas kuliah dikerjakan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Dan ada hari-hari ketika keberhasilan diukur bukan dari nilai A, melainkan dari kemampuan bertahan menjalani semuanya.
Awalnya, Eka berencana kembali menjadi perawat. Namun pandemi mengubah segalanya. Ibunya di Indonesia mengalami stroke. Tidak adanya sistem layanan darurat seperti 911 menyebabkan penanganan medis terlambat diberikan. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat komplikasi diabetes setelah mengalami keterlambatan mendapatkan pertolongan. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Alih-alih kembali menempuh jalur keperawatan, Eka memilih menjadi paramedis. Baginya, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan cara untuk memahami sistem layanan darurat yang suatu hari nanti ingin ia bawa pulang ke Indonesia. Mimpi itu mungkin masih jauh. Namun justru dari pengalaman personal itulah lahir gagasan tentang perubahan.
Bagi perempuan Indonesia yang ingin melanjutkan karier tenaga kesehatan di Amerika Serikat, Eka memiliki satu pesan utama: persiapan harus dimulai bahkan sebelum meninggalkan Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris, sertifikasi seperti IELTS atau TOEFL, memahami persyaratan lisensi di negara bagian tujuan, hingga membangun komunikasi dengan universitas asal merupakan langkah yang dapat menghemat banyak waktu dan biaya. Menurutnya, proses tersebut tidak murah. Namun biaya terbesar justru datang ketika seseorang berangkat tanpa informasi yang memadai.
Di luar seluruh proses administrasi dan pendidikan, ada satu hal yang menurut Eka jauh lebih penting. Bekerja di sektor kesehatan tidak bisa hanya didorong oleh alasan ekonomi. Merawat seseorang pada masa paling rentan dalam hidupnya membutuhkan empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan privasi pasien di Amerika Serikat melalui regulasi seperti HIPAA. Bagi tenaga kesehatan, menjaga kerahasiaan informasi pasien bukan sekadar etika, melainkan kewajiban hukum yang dapat menentukan keberlangsungan profesi.
Baginya, budaya menghormati privasi pasien merupakan salah satu pelajaran penting yang layak terus diperkuat di berbagai sistem kesehatan, termasuk di Indonesia. Perjalanan Eka menunjukkan bahwa migrasi bukan hanya perpindahan geografis. Ia adalah proses menegosiasikan ulang identitas profesional, membangun kembali rasa percaya diri, dan menerima bahwa pengalaman panjang sekalipun kadang tidak langsung diakui di tempat baru. Namun, memulai dari awal tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang justru dari titik nol itulah seseorang menemukan alasan baru untuk terus melangkah. Dan bagi banyak perempuan Indonesia di perantauan, keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru mungkin menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan lintas negara.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini merupakan inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.
Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.
Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.
Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.
Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.
Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.
Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.
Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.
Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.
Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.
Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.
Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.
Dalam rangka memperingati International ADHD Awareness Day yang diperingati setiap 13 Juli, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi digital melalui program Instagram Live. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk memahami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara lebih utuh, baik dari perspektif profesional maupun pengalaman langsung keluarga yang mendampingi anak dengan ADHD.
Diskusi yang berlangsung selama sekitar 30–40 menit tersebut menghadirkan Lovely Christy Zega, seorang psikolog klinis yang tinggal di Jerman, serta Lena, seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD dan saat ini tinggal di Austria. Keduanya berbagi perspektif mengenai ADHD, mulai dari tantangan mengenali gejala, proses mendapatkan dukungan profesional, hingga pentingnya membangun lingkungan yang menerima dan mendukung individu neurodivergen.
Dalam diskusi tersebut, Lovely menjelaskan bahwa ADHD kerap dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang langsung mengaitkan ADHD dengan anak yang aktif atau sulit diam. Padahal, ADHD memiliki spektrum gejala yang lebih luas, termasuk kesulitan dalam mempertahankan perhatian, impulsivitas, serta tantangan dalam mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.
Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan ADHD dari kondisi lain yang juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kesulitan fokus, misalnya, juga dapat muncul ketika seseorang mengalami depresi atau berada dalam kondisi psikologis tertentu. Perbedaannya, ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berlangsung secara menetap dan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.
Seseorang dengan ADHD mungkin memiliki kemampuan intelektual yang baik, bahkan mampu berprestasi dan memiliki kompetensi tinggi di bidang tertentu. Namun, untuk menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sederhana, mereka bisa membutuhkan energi, waktu, dan usaha yang jauh lebih besar.
Tantangan tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memiliki banyak minat dan ide, tetapi kesulitan menyelesaikan satu tugas hingga tuntas. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan hal yang benar-benar diminati, seseorang dengan ADHD bahkan dapat mengalami hyperfocus, fokus yang sangat intens terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka.
Pengalaman Lena sebagai seorang ibu menunjukkan bahwa proses mengenali ADHD tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia lebih memperhatikan sensitivitas anaknya terhadap suara dan lingkungan sekitar dibandingkan tingkat aktivitasnya.
Menurut Lena, anak-anak pada umumnya memang aktif. Karena itu, anak yang banyak bergerak tidak serta-merta dapat disebut mengalami ADHD. Dalam pengalaman keluarganya, tantangan menjadi lebih terlihat ketika anak harus berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan tugas yang tidak menarik baginya.
Sebelumnya, anak Lena mengikuti lingkungan belajar yang sangat fleksibel dan berpusat pada anak. Ia dapat belajar melalui permainan, memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya, serta mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan sensoriknya. Dalam lingkungan seperti itu, tidak tampak masalah besar. Namun, ketika memasuki jenjang pendidikan yang menuntut lebih banyak struktur, tantangan mulai muncul. Anak Lena mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya mampu ia kerjakan. Situasi tersebut kemudian menimbulkan frustrasi, baik bagi sang anak maupun ibunya.
“Dia tahu bahwa dia bisa melakukannya, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya sederhana,” menjadi salah satu pengalaman yang menggambarkan tantangan tersebut.
Bagi Lena, situasi itu tidak hanya melelahkan secara praktis, tetapi juga emosional. Ia melihat anaknya merasa takut dan bingung karena tidak mampu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya ia pahami. Dari sinilah komunikasi dengan sekolah menjadi sangat penting. Lena berdiskusi dengan guru untuk memahami apa yang terjadi dan mencari bentuk dukungan yang sesuai. Sekolah kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam diskusi, Lovely menjelaskan bahwa proses mengenali dan mendiagnosis ADHD tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk riwayat perkembangan, kondisi psikologis, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, prosesnya dapat melibatkan berbagai profesional. Pemeriksaan medis dan diagnosis dapat melibatkan dokter atau neurolog, sementara dukungan psikologis dan terapi dapat diberikan oleh psikolog sesuai kebutuhan individu.
Penanganan ADHD juga tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan terapi, ada yang memerlukan dukungan medis, dan ada pula yang sangat terbantu oleh perubahan lingkungan. Dalam konteks anak, lingkungan sekolah dan keluarga memiliki peran besar. Dukungan sederhana, seperti memberikan ruang belajar yang lebih sesuai, mengurangi distraksi suara, menyediakan waktu tambahan, atau menyesuaikan cara belajar, dapat memberikan dampak yang besar.
Ketika ditanya mengenai berapa lama terapi ADHD perlu dilakukan, Lovely menekankan bahwa tidak ada jawaban tunggal. Durasi dan bentuk dukungan sangat bergantung pada kondisi individu serta lingkungan tempat ia berada. Lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang mengembangkan strategi untuk mengelola tantangan ADHD. Sebaliknya, lingkungan yang tidak memahami kebutuhan neurodivergen dapat membuat tantangan menjadi semakin berat. Dengan demikian, dukungan tidak hanya berfokus pada individu dengan ADHD. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai.
Bagi Lena, salah satu bentuk dukungan terbesar yang dapat diberikan kepada anak dengan ADHD adalah apresiasi. Anak-anak neurodivergen sering kali menerima lebih banyak koreksi, label, dan kritik dibandingkan apresiasi. Mereka mungkin lebih sering mendengar bahwa dirinya “nakal”, “tidak bisa diatur”, “malas”, atau “tidak berusaha cukup keras”. Padahal, banyak hal yang tampak sederhana bagi orang lain dapat membutuhkan usaha yang sangat besar bagi seseorang dengan ADHD.
Karena itu, orang tua perlu melihat anak sebagai manusia secara utuh, bukan hanya berdasarkan apa yang mampu atau tidak mampu mereka lakukan. Apresiasi tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Usaha kecil, keberanian mencoba, kemampuan bertahan, dan proses belajar juga layak dihargai. Ketika seorang anak hanya menerima apresiasi setelah mencapai sesuatu, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil. Sebaliknya, apresiasi yang konsisten dapat membantu anak mengenali kekuatan dan potensinya.
Diskusi Ruanita Indonesia ini juga menjadi pengingat bahwa ADHD bukanlah sebuah label untuk menentukan nilai seseorang. Memiliki ADHD tidak berarti seseorang tidak cerdas, tidak mampu berprestasi, atau tidak memiliki masa depan. Banyak individu dengan ADHD memiliki kemampuan, kreativitas, minat, dan keunggulan yang kuat di bidang tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap cara kerja mereka, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang tidak buru-buru menghakimi.
Mengenali ADHD dengan lebih baik berarti memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Dengan memperluas pengetahuan dan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi individu neurodivergen untuk berkembang. Melalui ruang diskusi seperti Instagram Live, Ruanita Indonesia terus menghadirkan percakapan penting mengenai kesehatan mental, pengalaman hidup orang Indonesia di perantauan, serta isu-isu yang relevan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!