(SIARAN BERITA) Bagaimana Membangun Ruang Aman bagi “Ibu Baru” di Negeri Rantau?

PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.

Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional. 

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.

Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan. 

Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.

Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.

Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.

Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya. 

Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.

Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.

Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.

Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.

Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) “Ratu Rendang” dan Diplomasi Kuliner Indonesia ke Amerika Latin

Agustus menjadi bulan yang istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia, ketika semangat kemerdekaan digaungkan di berbagai penjuru dunia.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Agustus 2025 mempersembahkan kisah inspiratif dari belahan dunia yang jauh: Rio de Janeiro, Brasil, tempat seorang perempuan Indonesia mengharumkan nama bangsa lewat kekuatan rasa kuliner Indonesia.

Dialah Sinta Stepani Surento, perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai “Ratu Rendang” di Amerika Latin.

Dari Rantepao, Toraja ke Rio de Jainero, Brasil

Sinta menapaki jejak panjang dari tanah kelahirannya di Rantepao hingga menetap di Brasil sejak tahun 2003.

Ia memulai perjalanannya sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, lalu hijrah ke negeri Samba untuk memulai hidup baru.

Awalnya, Sinta hanya memasak untuk kebutuhan pribadi dan kerabat.

Namun pada 15 April 2003, langkah kecil itu bertransformasi menjadi lompatan besar ketika ia memulai usaha katering makanan Indonesia.

Lambat laun, usahanya berkembang menjadi layanan pengantaran makanan khas Indonesia yang dikenal luas di Rio de Janeiro.

Kini, Sinta melayani sekitar 3.000 klien dari berbagai latar belakang.

Tak hanya komunitas orang Indonesia saja, tapi juga warga lokal Brasil yang penasaran dan jatuh cinta pada cita rasa Nusantara.

Makanan sebagai Jembatan Budaya

Perjalanan Sinta bukan sekadar tentang memasak.

Di balik setiap bumbu dan rempah yang ia racik, terdapat misi kebudayaan yang mendalam: memperkenalkan Indonesia kepada dunia. “Karena makanan itu, orang jadi ingin pergi ke Indonesia,” ujarnya.

Baginya, kuliner adalah salah satu bentuk diplomasi paling efektif.

Ketika orang Brasil mencicipi rendangnya, bukan hanya rasa yang mereka ingat, tapi juga keramahan, kehangatan, dan semangat Indonesia.

Tak jarang, pertemuan bisnis yang buntu akhirnya terselesaikan hanya karena semangkuk rendang.

Sinta bahkan pernah membantu seorang pebisnis Indonesia melobi mitra lokalnya dan negosiasi berhasi, berkat sajian masakan khas Indonesia yang ia buat.

“Saya sempat dijuluki Ratu Rendang di Rio de Janeiro,” kisahnya sambil tertawa.

Tantangan dan Adaptasi Rasa

Namun memperkenalkan kuliner Indonesia di luar negeri tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar yang Sinta hadapi adalah soal rasa.

“Masakan kita itu kan cukup pedas ya, dan orang Brazil itu kebanyakan 90 persen dari observasi saya tidak suka pedas,” katanya.

Mau tak mau, Sinta harus melakukan modifikasi terhadap resep agar lebih sesuai dengan lidah lokal.

Ia memisahkan sambal dari masakan utama, menyesuaikan kadar manis dan asin, bahkan mengakali bahan-bahan yang sulit ditemukan seperti kencur atau lengkuas.

“Menurut saya sebagai orang Indonesia tidak sesuai rasanya seperti di Indonesia” katanya, “Tapi bagi orang Brazil, itu sudah enak sekali.”

Adaptasi rasa menjadi bentuk kompromi kreatif agar cita rasa Indonesia tetap bisa dinikmati tanpa kehilangan karakter aslinya.

Dari Dapur ke Media Massa

Popularitas Sinta melesat bukan hanya dari dapur ke dapur, tapi juga merambah ke media massa.

Beberapa media digital dan radio ternama di Brazil seperti CBN Rio de Jeneiro mewawancarainya secara khusus untuk membahas makanan Indonesia.

Bahkan, ia kerap diminta membagikan resep-resep seperti nasi goreng dan mi goreng oleh berbagai majalah gaya hidup.

Jejaring sosial seperti Instagram dan WhatsApp menjadi alat penting dalam mempromosikan bisnis dan budaya Indonesia.

“Dari mulut ke mulut, grup WhatsApp, dan Instagram itu akhirnya saya dibantu teman-teman untuk mempromosikan masakan Indonesia,” jelasnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa promosi personal semacam itu tak akan pernah cukup untuk menjangkau skala lebih besar tanpa dukungan institusional yang memadai.

Harapan akan Peran Negara

Meski berhasil membangun usaha dari nol dan mempopulerkan makanan Indonesia di Brazil, Sinta menyimpan harapan besar kepada pemerintah Indonesia agar lebih proaktif dalam mendata dan mendukung duta kuliner informal seperti dirinya.

Menurutnya, negara perlu memetakan siapa saja orang-orang Indonesia di mancanegara yang berpotensi mempromosikan kebudayaan nasional melalui jalur kuliner, serta menyediakan dukungan yang nyata, baik dalam bentuk promosi, pelatihan, maupun pembukaan restoran resmi di luar negeri.

“Kalau benar-benar ingin kuliner Indonesia mendunia’, ya jadikan program ini sesuatu yang tidak tergantikan,” tegasnya.

Sinta sendiri sudah berkali-kali mendapatkan pertanyaan dari klien, orang-orang Brazil soal kapan ia akan membuka restoran sungguhan.

Keinginannya ada, tapi untuk merealisasikannya, ia butuh lebih dari sekadar semangat, ia butuh sistem pendukung.

Diplomasi Kuliner: Aset Strategis Bangsa

Cerita Sinta adalah contoh nyata bahwa diplomasi tak harus dilakukan lewat meja perundingan. Ada bentuk diplomasi yang lebih halus, lebih personal, dan tak kalah ampuh: diplomasi kuliner.

Lewat makanan, Indonesia hadir di meja makan orang-orang asing.

Rendang, sate, dan opor, membuat cinta tumbuh. Rasa penasaran terhadap makanan membuka jalan menuju ketertarikan pada budaya, bahasa, bahkan pariwisata Indonesia.

Bagi orang Brazil yang mengenal Indonesia lewat masakan Sinta, Indonesia bukan lagi negara asing. Ia menjadi rumah rasa yang menyenangkan, penuh kehangatan, dan penuh cerita.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan dari Ruanita Indonesia yang menyoroti perjuangan, kisah, dan inspirasi perempuan-perempuan Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Setiap bulan, satu sosok istimewa dipilih untuk membagikan kisahnya, tentang bagaimana ia menyebarkan nilai, budaya, dan semangat Indonesia, baik secara formal maupun personal.

Melalui kisah Sinta Stepani Surento, kita belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang terus menghidupkan identitas bangsa di panggung dunia.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami agar berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(PODCAST RUMPITA) Membangun Desa, Usai Studi di Mancanegara

Dalam episode spesial RUMPITA kali ini, Ruanita Indonesia mengajak kamu mengenal lebih dekat sosok Muhammad Shahinshah Kafiul Khuluq, atau yang akrab disapa Kafi, mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Tiongkok setelah sebelumnya pernah belajar di Turki.

Bersama Eci dan Anna, yang tinggal di Jerman, perbincangan Podcaster RUMPITA dengan Kafi mengalir ringan namun sarat makna: tentang pendidikan lintas negara, tantangan bahasa dan budaya, hingga impian besar untuk berkontribusi kembali ke tanah air.

Follow us

Perjalanan akademik Kafi bukan kisah instan. Ia tumbuh dan belajar di pesantren, yang menurutnya memberikan bekal penting berupa kedisiplinan, etika, dan nilai tanggung jawab. Dari lingkungan yang kental dengan nilai-nilai tradisional, ia melangkah keluar untuk mengecap pengalaman global.

Kini, ia menempuh studi di jurusan International Economics and Trade di Nanjing University of Information Science and Technology, Tiongkok. Sebelumnya, ia juga sempat mengenyam pendidikan di Turki.

“Belajar di Tiongkok memberi saya akses langsung pada praktik perdagangan global dan teknologi,” ujar Kafi. “Sedangkan di Turki, saya lebih banyak dibekali fondasi teori dan suasana yang hangat dari masyarakatnya.”

Banyak orang menganggap bahasa Mandarin sulit, namun tidak bagi Kafi. “Saya justru merasa bahasa Cina lebih mudah daripada bahasa Turki,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, meski Mandarin menggunakan karakter, struktur kalimatnya lebih sederhana. “Kuncinya hanya dua: hafalan kosa kata dan menulis.”

Sistem perkuliahan di Tiongkok juga mendukung pelajar internasional—kelas disampaikan dalam bahasa Inggris, meski tetap ada kelas bahasa Cina untuk menunjang interaksi sehari-hari.

Dalam menghadapi perbedaan budaya, Kafi juga berbagi kisah lucu dan reflektif. Salah satunya, saat ia tidak menghabiskan teh dan roti yang disuguhkan oleh tuan rumah Turki—hal yang ternyata dianggap kurang sopan di sana. “Ternyata cukup dicicipi saja untuk menghormati,” kenangnya.

Menurut Kafi, gaya pendidikan di Turki dan Tiongkok sangat berbeda. Di Turki, fokus lebih pada teori dan pemahaman konseptual. Sementara di Tiongkok, pendekatannya praktis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

“Kedua pengalaman ini sangat melengkapi. Saya jadi bisa melihat ekonomi dari dua sudut yang berbeda—yang analitis dan yang aplikatif,” jelasnya.

Pengalaman lintas budaya ini memperkaya perspektifnya, terutama dalam memahami perdagangan internasional secara lebih kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan.

Tidak lengkap rasanya membahas kehidupan di luar negeri tanpa menyentuh soal makanan. Kafi mengaku menyukai berbagai hidangan dari kedua negara. Dari zurna kebap yang panjangnya bisa dibagi tiga orang di Turki, hingga baklava yang super manis dan cocok disandingkan dengan teh pahit khas sana.

Di Tiongkok, ia menemukan banyak cita rasa yang lebih dekat dengan lidah Asia Tenggara. Meski begitu, ia menyarankan untuk tetap berhati-hati karena beberapa makanan sangat pedas atau penuh minyak cabai.

“Di Turki, saya belajar membangun jaringan sosial dalam masyarakat multikultural. Di Tiongkok, saya belajar beradaptasi cepat dan memanfaatkan teknologi,” ujar Kafi. Kedua pelajaran ini menurutnya sangat penting dalam membentuk pribadi yang fleksibel, berwawasan global, dan tahan banting.

Ia juga terinspirasi untuk terus menimba ilmu, dengan rencana melanjutkan studi S2 di Kanada di bidang bisnis dan ekonomi. Tapi impian utamanya tidak berhenti di sana.

Kafi berasal dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur. Ia punya cita-cita besar: mendirikan perusahaan ekspor-impor yang bisa memberdayakan masyarakat lokal, khususnya para petani.

“Saya ingin masyarakat desa tidak hanya menjual hasil panen mentah, tapi bisa mengolahnya agar nilai jualnya lebih tinggi,” katanya. Ia percaya bahwa Indonesia kaya akan sumber daya—yang dibutuhkan adalah sistem dan pengetahuan agar kekayaan itu bisa dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Bagi para pendengar RUMPITA yang bermimpi untuk studi ke luar negeri, Kafi punya pesan sederhana namun kuat: “Beranilah mencoba dan siapkan diri sebaik mungkin.”

Ia menekankan pentingnya riset, kepercayaan diri, dan ketekunan. “Persaingan itu ada, tapi peluang juga ada. Jangan takut memulai dari titik nol,” katanya.

Simak selengkapnya di saluran PODCAST RUMPITA dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) KBRI Dhaka dan Ruanita Indonesia Sukses Gelar Diskusi Daring “Cerdas & Bijak Bersama Teknologi”

Dhaka, 15 Agustus 2025 – KBRI Dhaka bersama Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertema “Cerdas dan Bijak Bersama Teknologi” pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Acara ini diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) di Bangladesh dengan tujuan meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap maraknya hoaks serta penipuan berbasis teknologi.

Acara dibuka oleh Perwakilan KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang menekankan pentingnya membekali diri dengan keterampilan digital di era teknologi yang berkembang pesat. Diskusi dipandu oleh Elia Qudo, relawan Ruanita Indonesia di Bangladesh.

Follow us

Dua narasumber utama hadir berbagi wawasan. Anggy Eka Pratiwi, relawan Ruanita Indonesia dan mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, India, membahas cara mengenali hoaks serta modus penipuan yang melibatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Sementara itu, Octanty Mulianingtyas, dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Indonesia, memberikan tips praktis agar WNI dapat menggunakan teknologi secara aman dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Diskusi ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menguatkan solidaritas komunitas WNI di Bangladesh agar mampu melawan hoaks dan menciptakan lingkungan digital yang sehat,” ungkap Sahid Nurkarim, perwakilan KBRI Dhaka.

Informasi lebih lanjut: Elia Qudo, Relawan Ruanita Indonesia di Dhaka (info@ruanita.com)

Rekaman acara diskusi dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlanjutan kami.

(CERITA SAHABAT) Perjuangan Ibu akan Hak Asuh Anak yang Berpaspor Indonesia di India

Halo, sahabat Ruanita! Aku bernama Sasa  merupakan perempuan Indonesia yang tertarik untuk membahas bagaimana perjuanganku sebagai ibu dalam mendapatkan hak asuh anak. Bagaimanapun, aku berhak mendapatkan hak asuh anak karena anak-anakku berpaspor Indonesia, meski mereka tinggal di India.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidup akan membawa aku menetap di India, sebuah negara dengan warna-warni budaya dan kehidupan yang begitu berbeda dari Indonesia. Aku telah menetap di sini selama lebih dari sepuluh tahun, yang berjuang untuk hak asuh anak-anakku dan berharap bisa membangun mimpi indah di Indonesia bersama anak-anakku nanti.

Ini semua berawal dari perkenalanku dengan seorang pria asal India melalui internet, yang kemudian menjadi awal kisah hidupku. Pernikahan, kelahiran putra, perceraian, hingga proses hukum yang panjang, semuanya aku lalui dengan keteguhan hati di negeri yang kini menjadi rumah keduaku sekarang.

Setelah perkenalan dengan ayah dari anak-anakku, aku menikah dengan seorang pria India yang kukenal di dunia maya. Awalnya, semua terasa indah. Aku memutuskan mengikuti suamiku ke India dan membangun keluarga di sini. Namun, di balik senyum dan kebahagiaan semu, aku harus menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang datang dari pihak keluarga mantan suamiku. Bertahun-tahun aku hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berjuang demi anak-anakku dan diriku sendiri.

Mantan suamiku juga memutuskan memilih perempuan lain untuk membangun bahtera kehidupan rumah tangganya. Aku tetap memilih tinggal di India agar aku bisa mendapatkan hak asuh anak-anakku yang selama ini tinggal bersama keluarga mantan suamiku. Proses perceraian di India bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa selesai dalam beberapa bulan, di sini aku harus bertahan selama bertahun-tahun. Namun, aku tak sendiri.

Dalam perjuangan itu, aku bertemu dengan suamiku yang sekarang yang banyak mendukung dan membantuku untuk bertahan di negeri Bollywood ini. Tak hanya suamiku, keluarga suamiku yang sekarang juga hadir memberikan dukungan tanpa syarat. Kakak ipar dan keluarganya menjadi sandaran emosional yang nyata, di tengah badai hidupku. Mereka membantuku memahami hukum setempat, mendampingiku di persidangan, dan menjaga anak-anakku ketika aku harus menghadiri sidang pengadilan.

Aku bersyukur karena akhirnya peringatan dilarang berpergian ke luar India, yang sempat menjeratku sebelumnya, telah dibuka oleh pengadilan di India. Proses mendapatkan hak asuh anak-anakku masih berjalan, tapi harapan mulai tampak di ujung jalan. 

Sahabat Ruanita, akhirnya aku kini berhasil mendapatkan anak-anakku. Meskipun mereka besar di India, tetapi kami memperkenalkan mereka pada identitas Indonesia. Kami berbicara tentang budaya Jawa, tentang Indonesia yang ramah, dan hangat serta indah. Anak-anakku memiliki paspor Indonesia dan aku tetap berkomunikasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di India, untuk memastikan semua dokumen mereka terurus dengan baik.

Adaptasi anak-anakku di sekolah cukup lancar. Mereka bersekolah di lingkungan berbahasa Inggris dan tumbuh menjadi anak-anak yang ceria dan percaya diri. Kadang aku terharu melihat mereka tetap menghormati budaya Indonesia, meski tinggal jauh dari tanah air.

Tinggal di India memberikanku banyak pelajaran hidup. Aku pernah dipandang sebelah mata hanya karena aku berasal dari Indonesia. Namun, aku memilih bersikap rendah hati dan membuktikan bahwa integritas dan kepribadian seseorang, tidak ditentukan oleh profesi atau asal negara.

Follow us

Masa depan? Aku memimpikan pulang ke Indonesia suatu hari nanti, membawa anak-anakku mengenal lebih dekat budaya tanah air mereka, dan mungkin kembali mengajar di institusi pendidikan. Saat ini, aku bekerja sebagai guru di India. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar pengacara untuk memperjuangkan hak hukumku di pengadilan.

Untuk para perempuan Indonesia yang mungkin mengalami situasi serupa di negeri asing, aku ingin berkata: kamu tidak sendiri. Carilah dukungan, baik dari komunitas Indonesia maupun orang-orang lokal yang dapat dipercaya. Laporkan situasi kamu ke perwakilan pemerintah Indonesia terdekat. Tetaplah berdoa dan berpikir positif. Percayalah, badai pasti berlalu dan pertolongan sering datang dari arah yang tak terduga.

Hari ini, aku berdiri lebih kuat. Semua ini tidak lepas dari dukungan keluarga suamiku yang kedua, anak-anakku yang menjadi sumber semangatku, dan tentunya keyakinanku. Saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai langkahku. Ini adalah kisahku, dan aku harap dapat menjadi kekuatan bagi perempuan lain yang tengah berjuang dalam sunyi.

Penulis: Sasa, tinggal di India.

(IG LIVE) Melahirkan di Mancanegara Bukan Hanya Sekedar Biaya, Simak Berikut Ini

Ruanita Indonesia melalui akun instagram ruanita.indonesia, kembali menggelar diskusi IG LIVE bersama para sahabat Ruanita melalui program IG LIVE. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Melahirkan di Mancanegara: Pelajaran dan Tantangan”.

Tema ini sarat cerita personal, penuh makna, dan kaya pembelajaran bagi perempuan Indonesia di berbagai belahan dunia.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, yang disapa Rufi, dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber perempuan yang membagikan pengalaman mereka menjalani proses kelahiran di luar negeri.

Meski jarak memisahkan dari tanah air, semangat dan kekuatan mereka sebagai ibu menjadi sumber inspirasi.

Dalam cerita para informan, terungkap berbagai pelajaran berharga yang diperoleh dari pengalaman melahirkan di negara lain.

Mereka berbagi tentang bagaimana sistem pelayanan kesehatan di luar negeri dapat berbeda secara signifikan dari Indonesia, baik dalam prosedur medis, budaya komunikasi, hingga dukungan pasca-persalinan.

Keberagaman ini menjadi kesempatan bagi para ibu untuk belajar beradaptasi, memahami perbedaan, dan mengambil yang terbaik dari setiap sistem.

Tak bisa dipungkiri, melahirkan jauh dari keluarga besar membawa tantangan tersendiri. Mulai dari kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga rasa rindu kampung halaman. Namun, setiap tantangan yang dihadapi justru memperkuat mental dan membangun rasa percaya diri.

Follow us

Para informan menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan, baik dari pasangan, komunitas lokal, maupun sesama ibu di perantauan, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama proses menjadi orang tua baru.

Dari pengalaman mereka, satu pesan yang ingin disampaikan kepada para perempuan Indonesia adalah: setiap perjalanan menjadi ibu itu unik dan berharga, terlepas dari di mana proses itu berlangsung.

Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, menerima dukungan, dan merayakan setiap momen, baik suka maupun duka.

Diskusi ini bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga menegaskan bahwa pengalaman melahirkan di mancanegara bukan sekadar cerita tentang jarak dan perbedaan, melainkan tentang keberanian, ketangguhan, dan cinta yang tanpa batas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Agustus 2025 berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Melahirkan Anak Pertama di Amerika Serikat

Nama saya Fajar. Saya adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat dan pindah ke Amerika pada Desember 2023, saat usia kehamilan saya memasuki lima bulan. Keputusan untuk pindah tidaklah mudah, mengingat saya harus meninggalkan tanah air dan memulai kehidupan baru di negeri yang serba asing. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung sepanjang perjalanan ini.

Saat pertama kali tiba di Colorado, saya merasa sangat sendirian. Di Brighton, tempat tinggal kami, hampir tidak ada orang Indonesia. Untungnya, saya kemudian bertemu komunitas ibu-ibu Indonesia di sebuah bazar masjid, yang membuat saya merasa lebih diterima dan memiliki teman untuk berbagi cerita.

Kehamilan pertama saya penuh dengan tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat. Sebelum pindah, saya rutin memeriksakan diri di Indonesia, termasuk mendapatkan buku kesehatan ibu dan anak dari Puskesmas. Dokter kandungan di Indonesia juga membekali saya dengan surat izin terbang dan obat penguat kandungan agar perjalanan panjang ke Amerika Serikat aman.

Sesampainya di Amerika Serikat, saya langsung mendaftar di Women’s Health Center di Colorado. Di sana, saya bertemu dengan bidan yang membantu saya selama masa kehamilan hingga persalinan. Setiap bulan, saya menjalani pemeriksaan rutin. Meskipun awalnya saya khawatir dengan kendala bahasa, ternyata para tenaga medis di sini sangat ramah dan selalu menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Hal ini membuat saya merasa nyaman dan percaya diri.

Melahirkan di Amerika Serikat menjadi pengalaman yang luar biasa. Saya memilih metode persalinan sesar karena alasan medis. Prosesnya sangat berbeda dibandingkan dengan cerita teman-teman saya di Indonesia. Di sini, perhatian dokter dan perawat begitu detail. Setelah operasi, mereka memastikan saya tidak merasa sakit dan memantau kondisi saya dengan cermat sebelum mengizinkan saya pulang.

Hal yang membuat saya terkesan adalah kunjungan dokter laktasi pasca-persalinan. Dokter membantu memastikan saya dan bayi saya bisa menjalani proses menyusui dengan benar. Jika ada masalah, saya bisa langsung menghubungi dokter tersebut, bahkan setelah saya pulang ke rumah. Sistem ini benar-benar membuat saya merasa didukung.

Follow us

Sebagai ibu baru di negeri orang, tentu saya tidak terlepas dari tantangan emosional. Ada saat-saat di mana saya merasa kesepian, terutama ketika suami saya harus bekerja. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung. Ia membantu saya merawat bayi, dari mengganti popok hingga menenangkan bayi yang menangis.

Meski sempat merasa overwhelmed, untungnya saya tidak mengalami baby blues yang ekstrem. Saya banyak belajar untuk menerima perubahan ini dengan perlahan dan terus berkomunikasi dengan suami. Membaca cerita-cerita sahabat di Ruanita juga membantu saya merasa terhubung dengan pengalaman para ibu lainnya.

Budaya di Amerika dan Indonesia sangat berbeda, terutama dalam cara mendukung ibu baru. Di Amerika Serikat, saya melakukan tradisi baby shower, di mana keluarga besar datang sebelum bayi lahir untuk merayakan kehadiran anggota keluarga baru. Setelah melahirkan, tidak ada tradisi kunjungan seperti di Indonesia, tetapi perhatian yang diberikan melalui sistem kesehatan sangat luar biasa.

Selain itu, saya bertekad untuk membesarkan anak saya dengan nilai-nilai budaya Indonesia, seperti sopan santun kepada orang tua. Meski tinggal di Amerika, saya ingin anak saya tetap mengenal akar budayanya dan memiliki nilai-nilai yang kuat.

Melahirkan di negeri orang adalah pengalaman yang penuh dengan pelajaran. Bagi para ibu Indonesia yang menjalani perjalanan serupa, saya ingin berbagi pesan ini: persiapkan diri dengan baik, cari komunitas yang mendukung, dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan. Tidak ada ibu yang sempurna, tetapi setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bentuk cinta terbesar untuk anak kita.

Tentang Penulis: Fajar adalah seorang ibu muda yang saat ini tinggal di Colorado, Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun instagram @thomasandfajar.

(SWG) Perlindungan Hak Pekerja Migran Perempuan – Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia

Pada episode keempat program berbahasa Inggris Sharing With Guchi (SWG), Cindy Guchi tidak dapat hadir karena sedang menjalani cuti melahirkan. Kami turut mendoakan kesehatan dan kebahagiaan bagi Cindy dan bayinya. Sebagai pengganti, episode kali ini dipandu oleh Natasha Hartanto, relawan dari Ruanita Indonesia.

Dalam episode ini, Natasha mewawancarai Koreeyor Manuchae, seorang pengacara dari Thailand yang telah lama mengadvokasi hak-hak pekerja migran, khususnya perempuan.

Pekerja migran perempuan memegang peranan penting dalam ekonomi global. Namun, mereka kerap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap eksploitasi, diskriminasi, dan minimnya akses terhadap perlindungan hukum.

Di Thailand, terdapat sekitar 1,4 juta pekerja migran perempuan dari negara tetangga seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja. Mereka bekerja di berbagai sektor seperti pekerjaan domestik, pertanian, konstruksi, hingga pengolahan hasil laut. Namun sayangnya, pekerjaan mereka masih dipandang sebagai pekerjaan tidak terampil, yang membuat mereka sulit mengakses pelatihan atau perlindungan kerja yang lebih baik.

Menurut Koreeyor, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan migran adalah kurangnya kepekaan gender dalam sistem hukum, terutama di pengadilan tenaga kerja. Misalnya, tidak ada ketentuan yang menjamin keterwakilan jender dalam proses mediasi maupun persidangan. Hal ini dapat membuat perempuan migran merasa tidak nyaman, terintimidasi, dan enggan menyuarakan keluhannya.

Di sisi hukum pidana, Thailand memang memiliki polisi perempuan untuk menangani kasus kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga. Namun jumlah mereka masih sangat terbatas, terutama dalam menangani kasus perdagangan orang yang korbannya mayoritas adalah perempuan.

Koreeyor juga menyoroti pentingnya pelatihan pra-keberangkatan (pre-departure training) bagi para calon pekerja migran. Saat ini, pelatihan yang diberikan seringkali dilakukan dengan cepat, menggunakan video satu arah, tanpa ada komunikasi dua arah yang memungkinkan peserta benar-benar memahami hak dan kewajiban mereka.

Kualitas pelatihan ini sangat penting agar pekerja migran—khususnya perempuan—mengetahui hak-haknya, memahami mekanisme pengaduan, dan menyadari bentuk-bentuk kekerasan seperti pelecehan seksual.

Meskipun Thailand memiliki undang-undang yang melarang diskriminasi gender dan memberikan cuti melahirkan, masih banyak celah dalam perlindungan hak perempuan pekerja migran. Saat ini, cuti melahirkan hanya dibayar selama 45 dari 90 hari, dan belum ada insentif kebijakan untuk mendukung perempuan yang ingin punya anak—padahal Thailand sedang menghadapi krisis populasi akibat penuaan.

Lebih jauh lagi, kesadaran tentang pentingnya consent atau persetujuan dalam relasi seksual masih minim, baik di kalangan masyarakat umum maupun dalam sistem hukum. Koreeyor menekankan bahwa perempuan perlu dididik tentang hak-hak mereka, termasuk memahami arti dan pentingnya persetujuan secara sadar.

Koreeyor menyampaikan bahwa salah satu cara untuk memberdayakan pekerja migran perempuan adalah melalui asosiasi informal, di mana mereka dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, dan belajar tentang hak-hak hukum mereka. Walaupun undang-undang Thailand belum mengizinkan pekerja migran membentuk serikat, mereka tetap bisa membentuk asosiasi untuk saling mendukung.

Ruanita Indonesia meyakini bahwa perjuangan ini bukan hanya soal pekerja migran semata, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang adil dan inklusif. Perlindungan terhadap pekerja migran perempuan adalah investasi bagi masa depan bersama.

Dalam memperingati Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia, mari kita semua—baik individu, komunitas, hingga pembuat kebijakan—turut ambil bagian dalam memperjuangkan hak dan martabat para pekerja migran, khususnya perempuan. Perubahan bisa dimulai dari memahami, menghormati, dan menyuarakan hak-hak mereka.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi, dapat disimak di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Perjalanan Ketidakpastian Didiagnosa Sakit Autoimun dan Membangun Resiliensi Setelah Sakit di Austria

Halo Sahabat Ruanita, aku senang sekali bisa berbagi pengalaman dan kisahku lewat program cerita sahabat, apalagi yang kurasakan adalah sakit autoimun yang tidak mudah dipahami oleh orang awam. Perkenalkan aku, Zee atau biasa dipanggil Azizah, ibu seorang putri yang kini menetap di Austria lebih dari 10 tahun. Aku senang sekali melakukan aktivitas bertualang seperti hiking dan kegiatan outdoor lainnya. Namun, suatu ketika aku mengalami sakit yang tidak pasti dan hampir membuat duniaku runtuh seketika. 

Awalnya, aku hanya merasa sakit seperti influenza. Gejalanya ringan, tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Namun, semakin lama, kondisiku semakin memburuk. Dokter pun tidak bisa langsung memberikan diagnosa pasti. Beberapa dugaan muncul: Morbus Bechet atau Granulomatosis dengan Poliangiitis (GPA). Kedua penyakit ini termasuk dalam kategori autoimun, dan lebih spesifik lagi, Bechet masuk dalam kategori autoinflammatory disease yang memengaruhi pembuluh darah atau disebut Blutgefäßerkrankung dalam bahasa Jerman.

Gejalaku semakin kompleks: pembuluh darah di paru-paru pecah, kaki mulai lumpuh, dan rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mengalami serangkaian pemeriksaan dan diagnosa yang terus berubah-ubah. Mulai dari dugaan lupus hingga berbagai penyakit autoimun lainnya, semuanya diperiksa dan hasilnya selalu negatif.

Pada Desember 2023, aku mulai sering sakit-sakitan. Awalnya terasa seperti flu biasa tanpa demam, hanya badan yang ngilu dan sinusitis yang tak kunjung sembuh. Namun, pada Maret, gejalanya semakin aneh. Muncul luka di mulut seperti sariawan yang tak kunjung hilang, kaki tiba-tiba lebam tanpa sebab, dan luka yang terus muncul di berbagai bagian tubuh.

Follow us

Aku bahkan mengalami luka di area genital yang pada awalnya kupikir hanya iritasi biasa. Rasa sakitnya semakin parah hingga aku harus memberanikan diri melihat kondisiku dengan kaca. Ternyata, luka-luka itu sudah sangat besar.

Aku dan suami akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis ginekologi. Dokter langsung membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku sempat dicek untuk kemungkinan terkena penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Aku sempat merasa takut dan khawatir akan stigma sosial jika hasilnya positif. Namun, semua hasil tes menunjukkan negatif. Tak ada jawaban pasti mengenai penyakitku.

Kondisiku semakin memburuk. Pada April 2024, aku tiba-tiba bangun tidur dan tidak bisa bergerak. Badanku terasa nyeri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku semakin sering keluar masuk rumah sakit, menjalani serangkaian tes dan operasi kecil hingga lima kali dalam waktu sebelas bulan. Aku pun dirawat untuk pemeriksaan organ secara menyeluruh: dari paru-paru, otak, hingga bagian tubuh lainnya. Para dokter kebingungan dan sering kali hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku sempat merasa sangat putus asa. Bahkan, dalam satu titik, aku berpikir bahwa lebih baik jika aku terkena kanker saja. Setidaknya, dengan kanker, ada diagnosa yang jelas dan pengobatan yang terarah. Namun, aku harus terus menjalani ketidakpastian ini.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang, pada akhir Juni, dokter mulai mencurigai bahwa aku mengidap Morbus Bechet. Aku pun mulai mendapatkan pengobatan. Sayangnya, obat yang diberikan sangat keras hingga sistem pencernaanku kolaps, dan aku kembali harus dirawat di rumah sakit.

Di tengah semua ini, aku merasakan dampak besar pada keluargaku. Suamiku harus berhenti bekerja selama beberapa bulan untuk merawatku. Anak kami yang masih berusia dua tahun pun lebih banyak diasuh oleh neneknya karena aku hampir tidak bisa bergerak. Aku merasa begitu bersalah dan terpuruk karena tidak bisa menjalankan peranku sebagai ibu.

Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Perjalanan ini masih panjang, tetapi aku terus berjuang untuk mendapatkan jawaban dan harapan akan kesembuhan.

Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Dengan dorongan suami, aku mencoba berpikir lebih positif dan menerapkan afirmasi dalam keseharianku. Aku belajar bahwa menerima kenyataan adalah langkah pertama dalam menghadapi penyakit ini.

Berbulan-bulan aku hanya bisa berbaring, bahkan menggunakan alat bantu untuk berjalan (Krücken dalam Bahasa Jerman) pun tidak membantu. Suami selalu membawaku langsung ke pintu rumah sakit. Pada satu titik, aku merasa kehilangan kendali atas hidupku sendiri. Namun, suamiku terus mengingatkan bahwa ini bukan salahku. Aku berusaha mencari cara untuk mengalihkan pikiranku dari sakit yang terus menghantui, akhirnya aku menemukan distraksi dalam permainan video. Selama berbulan-bulan, game menjadi pelarian dari rasa sakit yang tak berkesudahan.

Aku juga sempat mengalami pertarungan batin yang berat. Dalam budaya Indonesia, sakit sering kali dikaitkan dengan karma atau azab. Bahkan ada yang menyarankan agar aku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, komentar seperti itu justru membuatku semakin terpuruk. Aku menyadari bahwa aku harus menemukan kekuatan dari dalam diriku sendiri.

Seiring waktu, kondisi fisikku mulai membaik. Meski masih ada tantangan, aku mulai bisa melakukan hal-hal kecil seperti duduk bersama anakku, menonton TV bersamanya, dan merasakan kehangatan keluargaku. Motivasi terbesarku adalah anakku. Aku ingin bisa berjalan lagi, bermain dengannya, dan kembali menjalani kehidupan normal.

Kini, setelah perjalanan panjang, aku telah belajar banyak tentang kesabaran, penerimaan, dan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Aku masih dalam proses pemulihan, tetapi aku lebih siap menghadapi masa depan dengan semangat baru.

Satu hal yang aku pelajari, ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membawa kekecewaan. Aku mencoba untuk tidak menetapkan tenggat waktu bagi kesembuhanku. Aku fokus untuk menikmati setiap perkembangan kecil dan menghargai kehidupan yang masih kumiliki. Aku juga memahami bahwa tidak semua orang akan mengerti perjuanganku, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, aku sendiri tahu apa yang harus kulakukan untuk bertahan.

Aku berharap kisahku bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mengalami hal serupa. Aku senang sekarang aku mulai sedikit percaya diri dan berkontak dengan banyak orang. Aku tetap aktif menjadi co-founder Klub Membaca untuk anak-anak di Indonesia dan aku juga menjadi ketua departemen sosial di organisasi Perinma. Aku bahkan senang secara sukarela membantu di program Ruanita, seperti berbagi kisahku ini. Tidak mudah hidup dengan kondisi autoimun, tetapi dengan menerima keadaan dan tetap mencari kebahagiaan dalam hal-hal kecil, kita bisa terus melangkah ke depan.

Penulis: Azizah Seiger, tinggal di Austria dan dapat dikontak via akun instagram: wondering.zee.

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(SIARAN BERITA) Ruanita Selenggarakan Workshop Online Digital Konten Marketing bagi Pemula

Juli 2025 — Dalam rangka mendorong penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha di era digital, Ruanita menyelenggarakan Workshop Konten Digital Marketing bagi pemula secara daring pada bulan Juli 2025.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan literasi digital di kalangan pelaku usaha mikro, khususnya perempuan, yang belum sepenuhnya mampu memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok secara strategis untuk pemasaran produk.

Konten digital yang relevan dan menarik kini menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kehadiran bisnis secara online. Pemateri adalah Puput Cibro, seorang profesional marketing dan Brand Strategist yang tinggal di Singapura dan Ceko. Pemateri lainnya adalah Putri Trapsiloningrum, yang banyak dikenal sebagai konsulatan Business & Technology Integration yang bermukim di Jerman.

Workshop ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam membuat konten marketing, memahami tren dan algoritma media sosial, serta mengasah kepercayaan diri dalam menampilkan produk secara digital.

Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diharapkan dapat menghasilkan 1–2 konten siap tayang yang sesuai dengan karakter usaha masing-masing. Peserta adalah perempuan Indonesia yang bermukim di Indonesia, Jerman, Austria, Inggris, Prancis, dan India.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan kreatif. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diperoleh melalui kanal resmi Ruanita.

(CERITA SAHABAT) Begini Cara Saya Berpikir Positif Untuk Hidup Lebih Baik di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Risti, yang menetap di Belanda karena saya menikah dengan  suami, yang berkewarganegaraan Belanda. Masa-masa awal saya tinggal di Belanda, saya sempat  mengalami gegar budaya, mulai dari faktor cuaca, makanan, bahasa, gaya hidup sekaligus interaksi  sosial dengan berbagai kalangan.

Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi dan filterisasi aspek sosial  budaya tersebut, perlahan saya bisa melewati dengan beragam tahapan usaha. Mengapa saya bisa  melaluinya dengan baik? karena saya berpikiran positif dalam menyikapi berbagai tantangan yang  dihadapi di negeri rantau. Berkaca dari pengalaman pribadi itu saya termotivasi untuk menuangkannya  dalam sebuah tulisan, dengan tema berpikir positif.  

Masa-masa Adaptasi 

Ada beberapa kebiasaan orang Belanda yang bagi saya cukup menarik dan sedikit berbeda dengan  kebiasaan kita di Indonesia, seperti kebiasaan untuk membuat janji terlebih dahulu untuk segala urusan.  Meskipun itu sekedar janji untuk minum teh atau kopi, kita harus memperhatikan waktu kita berkunjung  atau janji temu. Bila kita sepakat siang hari berkunjung ke rumah salah satu kenalan atau kerabat, maka  biasanya batas waktu tak tertulis untuk bertamu menjelang waktu makan malam sekitar jam 6 sore. 

Menariknya, bila tuan rumah sudah mengatakan “nou we gaan zo eten”, atau diterjemahkan “Sekarang  kami akan makan malam!”, itu berarti kita harus segera pergi! Namun, bila kita diundang untuk makan  siang sekaligus makan malam, maka sebelumnya tuan rumah akan menanyakan makanan apa yang  boleh dan tidak boleh dimakan oleh tamu, supaya mereka tidak menyajikannya.  

Salah satu keunikan lainnya di Belanda adalah menjadikan sepeda sebagai salah satu sarana  transportasi utama warga di sini. Jangan heran bila jumlah sepeda melebihi populasi jumlah penduduk.  Kebiasaan lainnya adalah pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan dan mengucap salam  dengan orang yang berpapasan, meski kita tidak mengenalnya. Ketika saya dan suami melakukannya  di Indonesia, orang-orang melihat kami seperti orang yang aneh.

Satu lagi yang cukup berbeda dengan  budaya di Indonesia, laki-laki di Belanda juga terbiasa turun ke dapur memasak dan urusan rumah  tangga lainnya. Ada juga yang punya anak untuk menjaga dan mengasuh anak-anak mereka. Jadi  jangan heran, bila seorang bayi lahir maka ada cuti khusus untuk sang ibu dan untuk sang ayah.  

Sejak saya tinggal di Belanda, saya bersyukur dapat menyelaraskan ritme kehidupan dan rutinitas  dengan berbagai kegiatan yang menunjang proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Tahun pertama  sampai tahun kedua, saya disibukkan dengan segala formalitas untuk menjadi penduduk Belanda, mulai  dari belajar Bahasa Belanda dan beragam ujian yang menyertainya, termasuk berbagai tes kesehatan  yang wajib dan sukarela dan urusan-urusan lainnya.

Menginjak tahun ketiga, saya baru memberanikan  diri memasuki dunia kerja. Saya bersyukur sampai saat ini, saya masih dimampukan untuk berkiprah di  dunia kerja. Saya menjadikan rutinitas harian sebagai aktivitas yang menyenangkan. Saya senantiasa  menekankan prinsip: jalani segala proses hidup dengan rasa syukur dan penuh rasa bahagia.  

Berlanjut ke masa awal memasuki dunia kerja, saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami gegar  budaya dengan sistem dan etos kerja di sini, selama kita menjalaninya sesuai dengan pedoman kerja  yang ditetapkan perusahaan untuk semua karyawan. Kerja di sini harus tepat waktu, semua kinerja kita  terpantau dan terukur. Supervisor juga tidak akan segan memberikan pujian atau kritik kepada kita. 

Selain itu, setiap 3 atau 6 bulan sekali kinerja kita dievaluasi, sistem upah sangat jelas dan transparan.  Sebagai pekerja, tidak ada alasan mendadak bahwa kita tidak datang kerja karena hujan misalnya.  Umumnya, karyawan yang tiga kali tidak datang dengan alasan yang tidak jelas, maka diberi peringatan keras. Jika pekerja masih juga melakukan pelanggaran kerja, maka otomatis hubungan kerja berakhir  dan perusahaan tidak akan memberikan surat referensi kerja.  

Saya bersyukur sampai saat ini saya dimampukan untuk mengemban tanggung jawab kerja sesuai  harapan perusahaan, pemberi kerja. Satu lagi yang membuat saya menjalani pekerjaan dengan rasa  bahagia, karena saya mendapati tidak ada halangan untuk kami – kaum muslim – dalam menjalankan  shalat di tempat kerja, bahkan perusahaan menyediakan ruangan khusus shalat.

Selain itu, saya juga  menjalin hubungan yang baik dan hangat dengan sesama rekan kerja. Dari pengalaman saya, tekanan  kerja seberat apapun, tentu terasa ringan dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama, dengan semangat  gotong royong. Seperti pepatah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  

Mengelola rasa, jiwa, raga dan pikiran dalam menjalani hidup yang tentram 

Seiring dengan era digital, menjalin hubungan kemasyarakatan memang telah mengalami pergeseran  di hampir seluruh bagian bumi, termasuk di sini. Di Belanda, lazimnya pertemuan, baik yang bersifat  formal maupun nonformal, diawali temu janji yang dibuat lewat media sosial, seperti: e-mail, whatsapp,  facebook, instagram, dll. Bahkan, pertemuan dengan keluarga, sahabat atau bahkan tetangga tidak bisa  serta merta langsung datang, kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Saya dan suami berkala setiap  dua minggu sekali untuk mengunjungi ibu di kota lain. Setidaknya, sekali dalam sebulan bertemu  sahabat-sahabat orang Belanda, menjalin silaturahmi dengan komunitas orang Indonesia di sini dengan  berbagai grup yang ada. Apalagi saat Ramadan, biasanya kami iftar dengan komunitas muslim Indonesia  atau para mualaf di Belanda. Saat Idul Fitri, biasanya kami mengirim hantaran lebaran ke tetangga 

tetangga di lingkungan rumah, yang kebetulan non muslim semua. Biasanya kami terlibat pembicaraan  hangat dengan para tetangga. Satu yang menjadi catatan saya, bahwa relasi sosial yang kita bangun  itu berpulang kembali kepada diri kita.

Bila kita menjalaninya penuh toleransi atas segala perbedaan,  selalu berbaik sangka, serta saling menjaga dan menolong, maka hati dan jiwa kita pun bahagia dan  tentram. Namun, bila relasi itu mulai toksik maka lebih baik kita menjaga jarak, karena hal itu  berpengaruh negatif pada diri dan jiwa kita.  

Ada banyak Perempuan yang menjadi inspirasi saya, setelah saya tinggal di sini. Dua di antaranya  adalah politikus Khadidja Arib dan pelari Sifan Hassan. Mereka begitu menginspirasi saya. Kiprah mereka  begitu luar biasa dalam pandangan saya dan sebagian warga Belanda. Mereka terlihat begitu energik  dan senantiasa optimis melewati beragam fase dalam proses kehidupannya.

Begitupun saya terus  belajar berproses untuk senantiasa optimis dan berpikir positif atas setiap fase kehidupan yang saya  jalani di negeri kincir ini. Ketika saya melewati satu fase yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya  tetap berbaik sangka dan berpikir positif, bahwa ada rencana lain dari Allah SWT yang lebih baik. Hal  itu saya alami, ketika saya dan suami menjalani proses bayi tabung yang tidak berhasil. Saya dan suami  pada akhirnya menerima takdir itu dan berbuat lebih banyak untuk mendukung anak-anak yang kurang  beruntung dengan cara kami.  

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Salah satu hikmah bagi saya adalah tersedia cukup ruang dan  waktu untuk menuangkan beragam peristiwa yang terjadi dalam bentuk tulisan, apalagi di saat suami  pergi ke kantor dan saya sedang berlibur kerja. Saat seperti itu, pikiran saya mengembara dan berkreasi.  Satu lagi bahwa bacaan pun mampu memengaruhi sikap positif kita.  

Ketika saya mengalami situasi sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah berdo’a kepada Allah SWT.  Setelah saya berpikir jernih, kemudian saya merenungkan apa yang terjadi, lalu berkata pada diri sendiri  bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Pikiran positif itu sesungguhnya akan mempengaruhi  perilaku kita sehari-hari. Begitupun sebaliknya. Berpikir positif itu memerlukan energi jiwa yang cukup  melelahkan. Begitupun berpikir negatif. Jadi, kalau keduanya sama-sama melelahkan jiwa dan hati kita,  maka akan lebih bijak, bila kita memilih untuk senantiasa berpikir positif. 

Kebiasaan saya dan suami ngobrol tentang beragam tema juga membantu saya menjaga pola pikir yang  positif akan situasi di sekitar kita. Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di sini, rasanya saya sudah  dapat mengatasi perasaan homesick. Kalaupun perasaan itu hadir, maka saya segera menelepon  keluarga di Indonesia.

Zaman ini begitu banyak perubahan, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala  untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi. Mari manfaatkan kondisi dan situasi yang ada, dengan  sebaik-baiknya. Prinsipnya, apapun yang dihadapi kita terima, jalani, nikmati dan syukuri, sehingga kita  terjauhkan dari rasa stres dan depresi.  

Sebelum kita memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri, ada sebaiknya kita mempelajari  dan memahami dulu adat istiadat, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan di negara yang akan kita  datangi. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, agar kita dapat beradaptasi dengan  baik. Kita perlu tetap manjaga jati diri dan karakter kita sebagai orang Indonesia.

Tentunya, kita  sebaiknya berpikir positif dalam situasi dan keadaan apapun, serta di manapun tinggal. Ingat bahwa  berpikir positif tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi diperlukan sebuah keterampilan yang harus  dipelajari. Berpikir positif akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih bersemangat dan optimis  untuk menjalani hidup.  

Semoga tulisan ringan dan sederhana saya mampu memberikan sedikit pencerahan untuk selalu  memotivasi diri kita dalam mengedepankan pola pikir yang positif.  

Penulis: Risti Handayani, kontributor Ruanita di Belanda, perantau di negeri Kincir Belanda, dan  dapat dihubungi lewat akun facebook: Ristiyanti Handayani.