(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.

(PODCAST IN ENGLISH) Bagaimana Berintegrasi di Islandia Setelah Tinggal 25 Tahun?

Podcast berbahasa Inggris Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad yang dikelola Ruanita Indonesia kembali hadir dengan cerita inspiratif perempuan Indonesia di luar negeri. Kali ini, host Aini Hanafiah dari Norwegia berbincang dengan Vita, seorang perempuan Indonesia yang sudah menetap di Reykjavík, Islandia, selama lebih dari 25 tahun.

Vita pertama kali pindah ke Islandia pada tahun 2000 karena menikah dengan pasangannya yang berasal dari sana. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pramugari di Jeddah, Arab Saudi, dan terbiasa berpindah-pindah negara. Karena itu, adaptasi terhadap iklim ekstrem dan budaya baru di Islandia tidak menjadi halangan besar baginya.

“Buat saya, pindah itu bukan akhir dari cerita, tapi justru awal dari petualangan baru,” ungkap Vita.

Meski terbiasa dengan lingkungan multikultural, Vita mengaku awal kepindahannya penuh tantangan. Ia harus beradaptasi menjadi “serba bisa”, seperti: mengurus anak, memasak, belajar mengemudi, hingga menavigasi sistem pendidikan dan kesehatan di Islandia.

Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika ia harus aktif memperjuangkan agar anaknya segera mendapat tempat di taman kanak-kanak. “Sebagai orang Indonesia, rasanya tidak biasa untuk ‘pushy’ atau menuntut. Tapi di sini saya belajar kalau kadang kita memang harus lebih tegas,” kata Vita.

Bagi Vita, mempelajari bahasa Islandia menjadi langkah penting dalam proses integrasi. Pemerintah memang mewajibkan imigran untuk mengikuti kursus bahasa, meski biayanya harus ditanggung sendiri. Dengan dukungan keluarga mertua, Vita perlahan belajar bahasa Islandia, meski hingga kini ia lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa itu pintu. Kalau kita mau belajar, pintunya terbuka. Kalau kita menolak, ya kita akan terisolasi,” ujarnya. 

Vita merasa beruntung memiliki sistem dukungan yang kuat dari keluarga besar suami. Kehadiran mereka membuat proses adaptasi terasa lebih ringan. Ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di tempat yang jauh seperti Islandia.

“Rasanya lucu, tiba-tiba ada yang menyapa ‘Kamu dari Indonesia?’ di supermarket. Dari situ saya sadar, bahkan di dekat Kutub Utara pun kita bisa menemukan saudara sebangsa,” kenangnya.

Selama lebih dari dua dekade, Vita tidak hanya membesarkan keluarga tetapi juga aktif bekerja, termasuk di dewan kota Reykjavík untuk isu-isu imigran. Ia menekankan bahwa kunci bertahan di luar negeri adalah keterbukaan, inisiatif, dan kemauan belajar.

“Islandia itu tempat yang ekstrem, baik alam maupun budayanya. Ada orang yang langsung jatuh cinta, ada juga yang merasa sulit. Saya memilih untuk mencintai tempat ini, karena di sini saya membangun hidup saya,” tuturnya.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(KNOWLEDGE SHARING) Dongeng Sebagai Ruang Bermain Imajinasi

Melbourne, 10 Januari – Ruanita Indonesia menggelar program Knowledge Sharing secara daring pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 16.00–18.00 WIB, dengan materi pertama bertajuk “Dongeng dan Bermain Imajinasi”.

Sesi ini mengangkat peran dongeng dari perspektif keilmuan, budaya, serta praktik kreatif untuk mendukung perkembangan imajinasi dan kesejahteraan psikologis.

Materi dibuka dengan penjelasan mengenai apa itu dongeng dan bagaimana dongeng memiliki manfaat keilmuan bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial.

Peserta diajak melihat bagaimana cerita lisan dapat menjadi medium untuk pemaknaan nilai, pengolahan emosi, serta penyusunan skenario mental dalam kehidupan sehari-hari.

Pemateri kemudian menguraikan dongeng sebagai ruang bermain imajinasi, termasuk bagaimana imajinasi mendukung fleksibilitas berpikir, kemampuan problem-solving, dan pemahaman sosial.

Pada bagian ini diperkenalkan pula pendekatan Conceptual PlayWorld (CPW) yang mengintegrasikan permainan, imajinasi, dan pembentukan konsep dalam pengalaman belajar.

Sesi diperkuat dengan penjelasan tentang mendongeng sebagai seni dan praktik kultural, mencakup:

  • dasar-dasar mendongeng
  • seni menyampaikan cerita secara lisan
  • menghidupkan tokoh dan emosi
  • menyampaikan pesan moral
  • relevansi dalam budaya Indonesia

Andri, Founder Indolanan, turut menyampaikan pemaparan mengenai mendongeng dari perspektif praktik, termasuk penggunaan media permainan, relasi dengan dunia imajinatif, serta nilai-nilai yang dapat diinternalisasi melalui narasi. Materi juga mengaitkan konsep dari The Fleer’s untuk memahami bagaimana dunia cerita dapat menjadi wadah belajar dan eksplorasi.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab serta praktik mendongeng bersama peserta, yang menghadirkan pengalaman langsung mengenai bagaimana teknik mendongeng dapat digunakan sebagai alat kreativitas, koneksi emosional, serta peningkatan rasa percaya diri. Sesi berlangsung selama dua jam dengan suasana hangat, inklusif, dan partisipatif.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(IG LIVE SPESIAL) Awal Tahun, Resolusi, dan Kesehatan Mental: Belajar Lebih Selaras dengan Diri

Memasuki awal tahun 2026, Ruanita berkolaborasi dengan Kesmenesia menghadirkan IG Live Spesial yang mengangkat topik yang sangat relevan bagi banyak orang: resolusi awal tahun dan kaitannya dengan kesehatan mental. Diskusi ini dipandu oleh Nadia, Co-Founder Kesmenesia sekaligus konselor, dan menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Hadir sebagai pembicara adalah Andi Pratiwi, seorang psikolog klinis dan praktisi Brainspotting yang berdomisili di Brisbane, Australia, dan Sven Juda Co-Founder Kesmenesia, yang juga merupakan mahasiswa S2 Psikologi di Maastricht University, Belanda, dan saat ini berada di Jerman. Diskusi lintas negara ini memberikan sudut pandang yang kaya mengenai resolusi, motivasi, serta tekanan sosial yang kerap muncul di awal tahun.

Resolusi Awal Tahun: Antara Harapan dan Realita

Dalam pembukaannya, Nadia menyoroti bagaimana resolusi awal tahun sering kali menjadi tradisi tahunan. Namun, di balik semangat “awal yang baru”, tidak sedikit orang justru merasa terbebani ketika resolusi tersebut tidak tercapai.

Andi menjelaskan bahwa resolusi kerap dipandang sebagai outcome yang kaku, misalnya target berat badan atau pencapaian tertentu. Cara pandang ini berisiko memunculkan jarak antara actual self dan ideal self, yang pada akhirnya dapat memicu stres dan rasa gagal.

“Resolusi akan lebih sehat untuk mental jika dilihat sebagai intensi, bukan sekadar target,” ujar Andi. Menurutnya, fokus pada nilai (values) seperti kesehatan, keseimbangan hidup, atau self-love jauh lebih berkelanjutan, dibandingkan target yang terlalu spesifik dan kaku.

Hal ini juga berlaku dalam konteks kesehatan mental. Alih-alih menetapkan resolusi seperti “berhenti cemas” atau “tidak boleh overthinking”, Andi menyarankan untuk menggeser fokus ke arah membangun relasi yang lebih penuh welas asih dengan diri sendiri. Menurutnya, itu adalah bagian alami dari manusia dan tidak bisa dihapus begitu saja.

Mengapa Resolusi Sering Gagal di Tengah Jalan?

Dari perspektif psikologi industri organisasi, Sven menyoroti fenomena honeymoon phase dalam resolusi awal tahun, di mana semangat tinggi di awal sering kali meredup dalam beberapa minggu. Salah satu penyebab utamanya adalah target yang tidak realistis dan perencanaan yang terlalu abstrak.

“Kita sering punya niat besar, tapi tidak diikuti dengan rencana yang konkret,” jelas Sven. Ia menekankan pentingnya concrete planning, seperti menentukan hari dan frekuensi aktivitas, agar resolusi tidak berhenti sebagai wacana.

Namun, Sven juga mengingatkan bahwa konsistensi tidak harus identik dengan kesempurnaan. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, misalnya karena sakit atau kondisi tertentu, hal tersebut tidak serta-merta berarti kegagalan. Di sinilah peran self-compassion menjadi krusial.

Menariknya, Sven juga membagikan temuan riset bahwa membangun kebiasaan baru tidak sesingkat yang sering dibayangkan. Dibutuhkan waktu antara 2–3 bulan, bahkan hingga 200 hari untuk kebiasaan yang lebih kompleks. Ekspektasi yang terlalu tinggi dalam waktu singkat justru dapat melemahkan motivasi.

Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan

Andi menambahkan bahwa dalam membangun resolusi, prinsip konsistensi pelan-pelan jauh lebih sehat dibandingkan tuntutan untuk langsung sempurna. Target yang terlalu tinggi berisiko membuat seseorang jatuh lebih sakit ketika gagal mencapainya.

Diskusi ini menekankan bahwa resolusi sebaiknya dipandang sebagai proses belajar. Ketika tidak berjalan sesuai rencana, itu bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran dan penyesuaian diri.

Hidup di Luar Negeri: Perspektif Baru tentang Produktivitas

Pada segmen kedua, diskusi bergeser ke pengalaman hidup sebagai perantau di luar negeri dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Andi membagikan pengalamannya di Brisbane, di mana budaya hidup terasa lebih santai dan present. Jam kerja yang jelas, kebiasaan pulang tepat waktu, serta keberanian mengambil cuti saat sakit menjadi pelajaran berharga baginya.

“Di sini aku belajar bahwa dunia tidak harus selalu terburu-buru,” ujar Andi. Ia melihat bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih lama, tetapi mampu menjaga keseimbangan antara kerja, kesehatan, dan kehidupan pribadi.

Hal ini diamini oleh Nadia, yang menyoroti bagaimana kemampuan menikmati momen sehari-hari, yang sering dianggap membosankan, tetapi justru merupakan seni hidup yang sering terlupakan.

Menutup Awal Tahun dengan Lebih Penuh Kesadaran

IG Live Spesial Ruanita dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa resolusi awal tahun tidak harus menjadi sumber tekanan. Dengan memahami nilai diri, membangun motivasi internal, membuat rencana yang realistis, serta mempraktikkan self-compassion, resolusi dapat menjadi alat untuk tumbuh, bukan untuk menyalahkan diri.

Awal tahun bukan tentang menjadi versi “sempurna” dari diri kita, melainkan tentang berjalan lebih selaras dengan diri sendiri, satu langkah kecil pada satu waktu.

Ikuti terus konten reflektif dan diskusi kesehatan mental lainnya hanya di www.ruanita.com dan simak selengkapnya di kanal YouTube Kesmenesia berikut. Pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Ibu Sambung Lintas Budaya, Ini yang Saya Pelajari

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ida yang menetap di Jerman lebih dari 20 tahun lebih. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Sebelum hidup saya berubah total di Jerman, saya adalah seorang guru sosiologi dan guru BK di sebuah SMA Islam berasrama di Bandung.

Hidup saya kala itu penuh dinamika: mengajar, membina remaja dari berbagai pelosok tanah air, dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Saya mencintai kehidupan saya yang teratur dan penuh makna masa itu. Tapi hidup kadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tak terduga.

Pada tahun 1999, saya dikenalkan oleh beberapa mantan murid saya kepada Pak Muiz, seorang pria Indonesia yang sudah lama menetap di Hamburg, Jerman.

Ia seorang duda dengan lima anak dari pernikahan sebelumnya dengan perempuan Jerman. Perkenalan kami unik, banyak melalui percakapan telepon, tanpa proses pacaran seperti umumnya. Tidak ada romantisme berlebih, hanya ada niat baik dan keberanian untuk membangun kembali hidup yang baru.

Setelah mengenalnya lebih dalam, saya melihat ketulusan seorang ayah yang berjuang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah perpisahan yang pahit.

Ada satu kalimat dari Pak Muiz yang membekas di hati saya: “Jangan hanya menikahi saya, tapi juga menikahi anak-anak saya.” Kalimat itu menjadi janji batin saya.

Kami menikah di Bandung. Beberapa bulan kemudian, saya datang ke Jerman sebagai turis, sebelum akhirnya menetap secara resmi di tahun 2000.

Pertemuan dengan Anak-anak Sambung

Saat pertama kali bertemu, anak-anak menyambut saya dengan cukup hangat. Tapi saya bisa merasakan ada dinding tak kasat mata di antara kami. Wajar, saya pikir. Mereka adalah anak-anak dari keluarga broken home, membawa luka dan ketidakpercayaan terhadap figur ibu baru.

Anak pertama, laki-laki, berusia 21 tahun, baru selesai wajib militer. Anak kedua dan ketiga, perempuan, masing-masing berusia 19 dan 18 tahun. Si kembar, dua anak perempuan, baru berusia 11 tahun. Saya membayangkan bahwa dengan usia-usia seperti itu, mereka sudah mandiri seperti remaja di Indonesia. Tapi realitasnya berbeda.

Mereka tumbuh dalam budaya Jerman yang sangat menjunjung kemandirian, namun pada saat yang sama menyimpan luka emosional yang dalam. Anak tertua menarik diri di kamar, kecewa karena gagal berkarier di militer. Anak kedua sibuk dengan Ausbildung, semacam pendidikan vokasi. Anak ketiga berhenti sekolah. Dan si kembar, meski lebih mudah didekati, tetap menunjukkan kehati-hatian.

Tantangan Awal

Bahasa menjadi tantangan pertama. Saya tidak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Inggris saya pun tidak banyak berguna di lingkungan kami, karena tetangga-tetangga dan toko-toko di sekitar hanya berbahasa Jerman. Anak-anak sambung saya hanya sedikit mengerti bahasa Indonesia.

Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih menggunakan “bahasa tubuh”. Saya memasak untuk mereka, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, mendampingi tugas sekolah si kembar. Dengan itulah saya membangun komunikasi: lewat tindakan, bukan kata-kata.

Suami saya sangat membantu dalam hal ini. Ia meminta anak-anak untuk memanggil saya “Ibu,” bukan hanya menyebut nama saya, meskipun dalam budaya Jerman biasanya anak-anak memanggil ibu sambung dengan nama saja.

Mengalah untuk Bertahan

Saya belajar mengalah. Sangat banyak. Saya tidak membawa konsep otoritas saya sebagai “ibu baru” ke dalam rumah ini. Saya masuk sebagai tamu. Saya memahami bahwa rumah ini pernah retak. Anak-anak ini sudah melalui cukup banyak luka. Maka saya memutuskan, untuk sementara, saya hanya perlu hadir: sebagai teman, sebagai sosok yang konsisten dan bisa dipercaya.

Meskipun demikian, ada masa-masa di mana saya hampir menyerah. Tahun pertama menjadi ujian berat. Dunia saya yang dulu penuh aktivitas sosial, kini berganti menjadi rutinitas membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memasak, dan mendengarkan kesunyian.

Banyak malam saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya meninggalkan dunia saya?” Ada saat-saat di mana rasa kesepian menggerogoti. Ada godaan untuk pulang saja ke Indonesia, kembali ke kehidupan yang nyaman.

Namun saya ingat janji saya. Saya menikahi Pak Muiz dan anak-anaknya. Saya bertahan.

Adaptasi Nilai Budaya

Saya membawa nilai-nilai Indonesia ke dalam rumah ini: keramahan, perhatian, ketekunan. Setiap masakan Indonesia yang saya siapkan menjadi jembatan kecil menuju hati mereka. Mereka mulai menyukai rendang, nasi goreng, sate, dan makanan-makanan sederhana yang saya buat.

Namun saya juga belajar dari budaya Jerman: menghargai privasi, tidak mencampuri urusan orang tanpa diundang, berbicara secukupnya. Anak-anak di sini lebih senang jika diberi ruang. Saya belajar untuk tidak “menggurui” atau “memaksa.” Saya menawarkan bantuan, bukan memaksakan kehadiran saya.

Pelan-pelan, hubungan kami membaik. Si kembar mulai lebih sering bercerita. Mereka menunjukkan hasil ujian sekolahnya, meminta tanda tangan saya, dan menceritakan teman-temannya. Anak-anak yang lebih besar tetap menjaga jarak, tapi saya tahu mereka mulai menghargai kehadiran saya.

Konflik Emosional

Tentu saja, konflik tetap ada. Terutama di awal, ada rasa dari anak-anak bahwa saya “merebut” ayah mereka. Mereka yang selama enam tahun hanya hidup berempat dengan ayahnya, tiba-tiba harus berbagi perhatian.

Saya mengatasi itu dengan mengalah. Saya membiarkan mereka menikmati waktu-waktu bersama ayah mereka. Saya tidak menuntut perhatian suami saya berlebihan. Saya menjaga agar saya tidak memperkeruh suasana. Saya memilih menjadi penyokong dari belakang.

Saya percaya, cinta dan kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus tumbuh perlahan.

Merayakan Keberhasilan Kecil

Ada satu momen yang sangat membekas: ketika si kembar mendapatkan nilai bagus di sekolah dan mereka berlari pulang menunjukkan hasilnya pada saya. Saat itu, saya tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding itu mulai runtuh.

Ada pula momen di mana anak-anak yang lebih besar, meskipun jarang berbicara, mulai menunjukkan perhatian kecil: memanggil saya untuk makan bersama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas makanan yang saya buat.

Pelajaran Besar

Tinggal di Jerman, menjadi ibu sambung lintas budaya, mengajarkan saya banyak hal:

Pertama, cinta itu lebih dari sekadar kata-kata. Ia hadir dalam perbuatan sederhana: memasak, mendengarkan, menemani dalam kesunyian.

Kedua, membangun keluarga berarti membangun kesabaran dan ketulusan. Kita tidak bisa menuntut cinta. Kita hanya bisa menawarkan cinta.

Ketiga, dalam keluarga lintas budaya, kita tidak bisa membawa semua nilai dari tanah air kita tanpa adaptasi. Kita harus membuka diri, belajar menghormati cara hidup yang berbeda.

Dan keempat, untuk bisa bertahan, kita harus berdamai dengan mimpi-mimpi yang tidak selalu bisa diwujudkan.

Saya dulu bermimpi melanjutkan S2 di Jerman. Tapi saya memilih menunda, karena prioritas saya adalah membangun keluarga ini. Bukan hanya keluarga saya dan suami, tapi juga menyembuhkan luka-luka lama anak-anak sambung kami.

Penutup

Menurut saya, pernikahan adalah ibadah dan merupakan sebuah janji suci pada Tuhan. Saya bertahan dalam pernikahan sebagai ibu sambung, itu lebih disebabkan pada komitmen saya terhadap nilai dan moralitas pernikahan. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial, yang bukan hanya menyangkut suami dan istri, melainkan juga keluarga dari suami dan istri.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, saya menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa sulitnya perjalanan ini, tapi untuk berbagi bahwa perjalanan ini sangat mungkin dilalui. Dengan cinta, kesabaran, dan kerendahan hati.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin sedang melalui jalan yang serupa: percayalah, cinta sejati itu dibangun pelan-pelan. Bukan dalam hitungan hari, tapi dalam kesetiaan bertahun-tahun.

Penulis: Ida, tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun instagram idasurjantiridwan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Rayakan Tahun Baru di Bangladesh, Bukan di Bulan Januari

Tahun baru selalu identik dengan momen penuh harapan, doa, dan semangat baru. Namun, cara orang-orang merayakannya bisa sangat berbeda, tergantung di mana mereka tinggal.

Dalam program cerita sahabat spesial yang rilis setiap bulan, Ruanita Indonesia mengundang relawan Ruanita yang tinggal di Bangladesh tentang bagaimana perayaan tahun baru di sana.

Dalam episode kali ini, kita akan mendengarkan cerita Elia, seorang sahabat wanita Indonesia yang kini tinggal di Dhaka, Bangladesh, bersama keluarganya. Ia berbagi pengalaman unik tentang bagaimana perayaan tahun baru di sana begitu berbeda, dengan yang biasa kita jalani di Indonesia.

Bagi Elia, tahun baru di Indonesia, khususnya di kampung halamannya Lampung, biasanya dirayakan dengan sederhana.

Malam pergantian tahun diisi dengan bakar-bakaran, menyalakan kembang api, dan berkumpul bersama keluarga. Tidak ada ritual yang terlalu rumit, tapi hangatnya kebersamaan sudah cukup membuat malam itu istimewa.

Berbeda dengan Indonesia yang merayakan tahun baru setiap 1 Januari, masyarakat Bangladesh justru menyambut tahun baru mereka pada 14 April, yang dikenal dengan nama Pohela Boishakh. Bukan sekadar pergantian tahun, Pohela Boishakh dirayakan layaknya festival besar penuh warna, budaya, dan kebersamaan.

Sejak pagi hari, ribuan orang berkumpul di Dhaka University, pusat perayaan terbesar di ibu kota. Jalanan dipenuhi arak-arakan dan pawai, lengkap dengan patung-patung hewan simbolik seperti macan dan burung hantu, yang melambangkan ketangguhan.

Follow us

Anak-anak muda menghias jalanan dengan alpona design, seni lukis khas Bangladesh yang dipajang di dinding, pintu, hingga jalan raya.

Suasana meriah semakin terasa ketika perempuan mengenakan mahkota bunga di kepala, sementara laki-laki memakai panjabi putih dan perempuan mengenakan baju merah atau putih seperti syari atau kurti.

Tak lengkap rasanya sebuah perayaan tanpa hidangan spesial. Di Pohela Boishakh, menu utamanya adalah pantabat (nasi yang direndam air semalaman) yang disantap bersama ikan hilsa goreng, ikan nasional Bangladesh.

Tradisi ini lahir dari masa lalu ketika tahun baru bertepatan dengan musim panen—sehingga masyarakat menikmati beras baru hasil panen bersama keluarga.

Pohela Boishakh juga menjadi momen saling berkunjung antar-kerabat. Keluarga muda biasanya mengunjungi yang lebih tua, lalu sebaliknya, menciptakan suasana hangat penuh silaturahmi.

Ucapan khas “Shubho Noboborsho” (Selamat Tahun Baru) terdengar di setiap pertemuan, mempererat ikatan sosial antarwarga.

Cerita Elia mengingatkan kita bahwa perayaan tahun baru bukan sekadar tentang tanggal di kalender. Di Indonesia, kesederhanaan menjadi kunci, selama ada keluarga, malam tahun baru terasa hangat. Sedangkan di Bangladesh, tahun baru adalah festival budaya yang meriah, penuh seni, simbol, dan tradisi yang sarat makna.

Dua cara yang berbeda, tapi keduanya sama-sama menghadirkan esensi. Ini tentang harapan baru, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehidupan.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial dari Bangladesh ini di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar dapat mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Sempat Kerja di Singapura, Kini Aku Menetap di Bangladesh

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, namaku Hartini. Aku berasal dari sebuah kota kecil di Cilacap, Jawa Tengah. Aku hanyalah perempuan biasa yang kini menjalani kehidupan jauh dari tanah kelahiran, tepatnya di Bangladesh, bersama suami dan anak-anakku.

Aku bisa tinggal di Bangladesh karena menikah dengan seorang pria Bangladesh. Dari situlah babak baru dalam hidupku dimulai. Kini, sudah sembilan tahun aku hidup di negeri Bengali ini.

Aku dikaruniai dua orang anak yang menjadi penguat sekaligus pelengkap hidupku. Anak pertamaku berusia 10 tahun, sementara si bungsu kini berusia 6,5 tahun. Kehadiran mereka membuat aku semakin tegar menjalani hari-hari di negeri asing.

Ketika pertama kali datang, aku merasa kagum sekaligus canggung. Orang-orang di sini sangat ramah. Mereka sering datang ke rumahku untuk sekadar melihat dan berkenalan. Mereka penasaran, seperti apa perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Bangladesh.

Rasa ingin tahu mereka sempat membuatku kikuk, tetapi lama-lama aku terbiasa. Aku belajar bahwa keramahan itu adalah cara mereka menunjukkan penerimaan.

Sebagai perempuan Indonesia, aku melihat ada perbedaan besar dengan kehidupan di tanah air. Di sini, banyak perempuan memakai burqa atau pakaian panjang. Itu bagian dari norma sosial dan budaya yang dijunjung tinggi.

Peran laki-laki juga terasa lebih dominan. Perempuan sering berjalan atau beraktivitas bersama laki-laki sebagai bentuk kebersamaan keluarga. Hal ini tentu berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, tetapi bagiku ini adalah hal baru yang harus dipahami dengan hati terbuka.

Salah satu hal yang membuatku terkejut adalah cara makan. Di Bangladesh, semua orang makan dengan tangan, bahkan ketika menyantap sup! Awalnya sulit bagiku, tetapi akhirnya aku belajar untuk menyesuaikan diri.

Follow us

Hal-hal kecil seperti ini justru membuatku semakin menyadari betapa uniknya kehidupan lintas budaya.

Meski jauh dari tanah air, ada sesuatu yang membuatku betah: alam Bangladesh. Lingkungan tempatku tinggal masih sangat alami. Burung-burung beterbangan setiap hari, bahkan kadang masuk ke dalam rumah. Aku juga bisa dengan mudah melihat serigala yang berkeliaran di lokasi tempat tinggalku sekarang.

Suasana itu membuatku merasa damai. Jujur saja, aku jarang melihat pemandangan seperti ini ketika masih di Indonesia.

Bangladesh memiliki musim yang sangat berbeda dari Indonesia. Musim dingin adalah masa yang paling sulit untukku karena aku belum pernah mengalaminya sebelumnya. Aku bahkan sempat jatuh sakit di awal kehidupanku di sini. Tetapi perlahan, aku belajar beradaptasi.

Anak-anakku tumbuh dalam lingkungan yang penuh kebersamaan. Keluarga besar di sini biasanya tinggal berdekatan, sehingga suasana selalu ramai. Aku bersyukur karena mereka bisa merasakan kehidupan sosial yang kaya, meski jauh dari Indonesia.

Hidup di Bangladesh memberiku banyak pelajaran. Aku belajar tentang kesabaran, ketabahan, dan rasa syukur. Hidup jauh dari keluarga membuatku lebih mandiri.

Aku juga belajar untuk lebih peduli pada sesama, karena di sini masih banyak orang yang hidup sederhana dan membutuhkan bantuan.

Sampai hari ini, aku belum pernah pulang ke Indonesia lagi. Rindu keluarga tentu ada, sangat besar malah. Tapi kerinduan itu kuobati lewat telepon dan video call.

Ada kendala biaya, ada juga halangan pandemi COVID-19 yang membuat rencanaku tertunda. Suamiku kini bekerja di Singapura setelah sempat berhenti bekerja beberapa tahun. Kami berjuang bersama, sambil terus menyimpan harapan untuk bisa pulang ke tanah air suatu hari nanti.

Aku berdoa, semoga tahun depan kami bisa kembali ke Indonesia. Aku ingin memeluk keluarga, melepas rindu, dan merasakan lagi tanah tempat aku dilahirkan.

Untuk para perempuan Indonesia yang ingin tinggal, menikah, atau belajar di Bangladesh, pesanku sederhana: siapkan hati untuk menerima perbedaan. Jangan kaget dengan aturan sosial, budaya, maupun cuaca.

Terimalah dengan lapang dada, karena setiap perbedaan menyimpan pelajaran berharga yang akan membuat kita lebih kuat dan bijaksana.

Dari Cilacap ke Bangladesh, inilah perjalananku. Sebuah cerita tentang cinta, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam. Perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tapi juga tentang belajar menerima perbedaan, menghargai budaya, serta menemukan arti kesabaran dan syukur dalam keseharian.

Aku percaya, setiap perempuan punya kekuatan untuk beradaptasi di mana pun ia berada, asalkan hatinya terbuka. Bagaimana denganmu, Sahabat Ruanita?

Penulis: Hartini, Content Creator yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak melalui akun instagram hartini_zia.

(IG LIVE) Kesedihan dan Kesepian di Hari Raya: Ruanita Indonesia Bahas Realita Emosional Perayaan di Perantauan

Ruanita Indonesia kembali menggelar program bulanan Diskusi IG Live episode Desember 2025 dengan tema yang jarang disentuh namun sangat relevan: kesedihan dan kesepian di hari raya.

Gelaran rutin bulanan ini menghadirkan percakapan santai tetapi penuh makna bersama para narasumber yang memiliki pengalaman hidup di luar negeri, khususnya dalam merayakan hari-hari besar tanpa keluarga dan dalam konteks budaya yang berbeda.

Dipandu oleh Bernadeta Dwiyani, Praktisi Kesehatan Mental di Spanyol dan Co-founder Kesmenesia, sesi ini menghadirkan dua pembicara: Firman, psikolog klinis sekaligus co-founder Kesmenesia yang menetap di Jerman dan Vero, pengajar BIPA yang tinggal di Tiongkok

Topik ini dianggap penting karena di tengah hingar-bingar Natal dan Tahun Baru, sempat terlupakan bahwa perayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Banyak orang merasakan tekanan emosional, kehilangan, bahkan isolasi; terutama mereka yang tinggal jauh dari keluarga.

Follow us

Ketika diminta menggambarkan suasana Natal di Tiongkok, Vero menjelaskan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi bagian dari tradisi mayoritas. Ia menerangkan bahwa: Natal lebih dirayakan sebatas simbol dan dekorasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, esensi dan nilai spiritualnya kurang dipahami oleh masyarakat lokal. Perayaan agama di Tiongkok cenderung diatur ketat oleh pemerintah, sehingga umat harus merayakan secara terbatas.

Meski begitu, ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan: dekorasi Natal mulai terlihat lebih terbuka dan kehadiran orang asing meningkat sehingga toleransi terhadap perayaan semakin membaik.

Namun, ketika bicara tentang pengalaman emosional, Vero tak menampik adanya rasa rindu kampung halaman: kerinduan pada masakan khas, keluarga, serta kegiatan seperti ibadah bersama menjadi pemicu kesedihan yang kerap muncul setiap menjelang hari raya.

Dalam kesempatan ini, Firman memberi penjelasan mendalam tentang mengapa hari raya dapat memicu rasa sedih atau kesepian.

Menurut Firman ada berbagai faktor, antara lain:

  • situasi hari raya sebenarnya netral, namun makna yang kita berikan bersifat personal;
  • ekspektasi sosial, termasuk gambaran ideal yang kita lihat dari iklan, budaya, dan media sosial—membentuk tekanan bahwa kita harus bahagia;
  • kehilangan, proses berduka, atau pengalaman masa lalu dapat muncul kembali ketika rutinitas berhenti dan kita punya waktu untuk merenung;
  • rasa kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik—bahkan di tengah keluarga pun, seseorang dapat merasa hampa.

Firman menegaskan bahwa rasa sedih di hari raya adalah sesuatu yang normal, bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, momen libur dapat menjadi kesempatan untuk: memproses emosi yang selama ini terpendam, mempertanyakan ulang idealisasi perayaan, memahami kebutuhan pribadi, menetapkan batasan (boundaries), dan mencari keseimbangan antara koneksi dan waktu untuk diri sendiri.

Dalam diskusi, kedua narasumber menyentuh isu yang dialami banyak pengikut Ruanita Indonesia: merayakan hari raya sebagai migran atau ekspatriat.

Tantangannya meliputi: perbedaan budaya dan norma sosial, keterbatasan kebebasan beragama, minimnya akses ke komunitas, jarak fisik dari keluarga, dan kesepian yang muncul karena “perbandingan” dengan suasana kampung halaman

Firman mendorong audiens untuk: menerima bahwa tidak semua emosi harus ceria, mengenali fase adaptasi yang sedang dijalani, membuka diri terhadap komunitas lokal atau orang-orang Indonesia di negeri tersebut, fleksibel antara kebutuhan pribadi dan sosialisasi

Diskusi IG Live ini menjadi ruang aman bagi migran, mahasiswa, dan pekerja perantauan untuk saling berbagi pengalaman. Tema yang jarang diangkat ini justru menyoroti sisi kemanusiaan hari raya: bahwa tidak semua orang bahagia, dan itu wajar.

Perayaan bukan sekadar simbol, tetapi tentang koneksi, keseimbangan, dan penerimaan diri.

Simak rekaman selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT) Tidak Merasa Sepi atau Sedih di Hari Raya, Justru Saya Belajar Toleransi dari Sesama Perantau di Taiwan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Elok Fenisia, biasa dipanggil Elok. Saat ini, saya adalah seorang ibu beranak satu dan bekerja sebagai full-time mom. Saya mengurus dan merawat anak saya sendiri dari lahir sampai saat ini berusia 16 bulan di Taiwan. Sejak pertengahan tahun 2025 ini, saya dan keluarga menetap di Paraguay, Amerika Selatan.

Saya berasal dari Balikpapan, kemudian saya sempat berdomisili di Surabaya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya berkuliah S1 jurusan psikologi di Malang, kemudian saya sempat juga melanjutkan studi S2 di Surabaya.

Perjalanan saya ke Taiwan diawali dengan pertemuan saya dengan suami, yang dulu masih menjadi pacar, ketika saya sedang mencari peluang studi S2 di Surabaya. Saat itu, saya datang ke gereja dan berjumpa dengan Lorddy, yang kini menjadi suami saya. Saat itu, Lorddy sedang menunggu pengumuman studi S2 di Taiwan. Singkat cerita, kami merasa cocok dan memutuskan menjalin hubungan berpacaran. Tiga bulan setelah itu, Lorddy diterima kuliah S2 di Taiwan, sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh. 

Selama empat tahun delapan bulan akhirnya hubungan jarak jauh itu pun berakhir dengan komitmen janji s ucipernikahan. Kami menikah di Surabaya, yang membuat kami memutuskan untuk tinggal bersama di Taiwan. Saya pun segera mengurus administrasi untuk kelengkapan visa. Saya pun berangkat ke Taiwan dan tinggal di Taiwan di tengah suami sedang menempuh pendidikan studi S3, hingga sekarang bekerja. Itu sebabnya, mengapa saya berada di sini sejak tahun 2022.

Momen perayaan Natal bagi saya sangat spesial, yang mana saya selalu merayakan dengan penuh kemeriahan, ketika saya masih berada di Indonesia. Sebaliknya, ini berbeda sekali ketika saya berada di Taiwan. Saya mengalami kesedihan, saat saya merayakan Natal di Taiwan.

Follow us

Tentunya, ada perasaan jauh dari keluarga besar di Indonesia, sehingga tidak bisa merayakannya bersama keluarga besar. Perayaan Natal di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, mengingat bahwa hari raya Natal bukan hari libur nasional keagamaan di Taiwan. 

Sekalipun Natal di Taiwan bukan hari libur, tetapi gereja saya tetap merayakannya di hari Minggu yang mendekati tanggal 25 Desember tersebut. Agar lebih meriah, perayaan Natal pada 25 Desember tersebut, saya pun memasak makanan spesial Indonesia. Saya juga membuat aneka kue kering dan memasang aksesoris Natal. Meski perayaan Natal berbeda dengan kebiasaan yang saya alami sewaktu di Indonesia, saya tidak merasa ada tantangan tersendiri. Saya mencoba beradaptasi dan menerima kondisi yang sedang saya alami. Hal terpenting buat saya adalah bisa berkumpul dengan suami dan anak saya. Itu sudah cukup di hari raya Natal.

Saya juga melihat bahwa saya tidak sendirian ketika sedang berada di perantauan saat merayakan Natal. Sebagian besar komunitas yang saya kenal di Taiwan adalah teman-teman anggota gereja, yang selalu memberikan dukungan sosial dan semangat satu sama lain, dalam menyambut Natal. Dukungan positif tidak hanya datang dari mereka yang seiman saja, saya juga pernah merasakan dukungan dari orang-orang sekitar saya, meskipun mereka tidak merayakan Natal. Mereka memberikan ucapan Natal dan lainnya mereka memberikan parcel Natal, padahal mereka tidak merayakan Natal. 

Justru perbedaan keyakinan di antara kenalan dan teman-teman saya, memperkuat solidaritas dan jembatan untuk saling memahami satu sama lain. Saya sangat menghargai hal itu. Contohnya, saat saya pergi ke Taipei Main Station, tempat berkumpulnya orang Indonesia atau beberapa titik tempat lainnya di Taiwan, saya mendapati acara berbagi makanan/minuman  untuk menyambut Natal. Selain itu, ada beberapa kali acara kebersamaan yang mampu menyatukan perbedaan menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Artinya, meski saya jauh dari Indonesia, saya merasakan perayaan Natal di tengah keragaman perbedaan keyakinan bersama orang-orang di Taiwan.

Di tengah dunia yang beragam, tentu tak mudah merawat solidaritas. Saya pikir, ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti senyuman saat bertemu dan berkumpul atau memberi ucapan saat momen spesial mereka. Bentuk solidaritas lainnya adalah kita bisa memberikan bantuan, ketika mereka membutuhkan, misalnya: memberi tumpangan, memberi arahan jika mereka bertanya, dan tidak menghakimi atas apa yang mereka lakukan.

Di Taiwan sendiri, saya ikut serta bergabung dalam komunitas Gereja Kristen Indonesia (Indonesia Ministry Bread of Life Church). Saya dan suami aktif melayani di gereja setiap ibadah Minggu hingga momen Natal. Dalam komunitas ini, mereka sangat hangat menyambut saya dan mendukung pertumbuhan saya secara rohani dan mental. Beberapa kali, kami juga mengadakan acara kebersamaan dengan orang yang berbeda keyakinan, seperti jalan-jalan bersama ataupun hanya sekedar makan bersama.

Menurut saya, bergabung dalam komunitas ketika kita berada di perantauan seperti Taiwan, tentu sangat berperan penting. Mereka adalah rumah kedua saya. Kami bisa mengadakan ibadah perayaan Natal bersama, yang mana saya pun ikut melayani di sana. Saya sangat terharu dan bersyukur bisa merayakan Natal bersama teman-teman seperantauan di Taiwan. Biasanya saat menyambut Natal ini, mereka membagi bingkisan kue, coklat, serta ada makan bersama. Menyaksikan banyak orang Taiwan yang juga merayakan Natal bersama di gereja, pun menambah momen bersyukur saya di saat hari raya Natal. Bahkan ketika saya melahirkan dan memiliki anak, mereka sangat mendukung dari hal kecil seperti kebutuhan bayi hingga dukungan finansial.

Makna Natal menurut saya merupakan bentuk kasih atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya, sehingga di mana pun saya berada tidak mengubah pandangan makna Natal itu sendiri. Sekalipun saya berada di negara yang tidak merayakan hari raya Natal, hati saya akan tetap bersemangat dan bersyukur dalam menyambut Natal. Menurut saya, perayaan Natal tidak bergantung pada di lokasi mana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap merayakannya di dalam hati kita. 

Tentu saja, ada lesson learned dalam hidup tentang toleransi dan solidaritas yang dipelajari selama tinggal di Taiwan. Saat saya tinggal jauh dari tanah air, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan kebiasan yang berbeda. Dari sini, saya belajar tentang toleransi bukan sekedar kata, tetapi sikap nyata yang harus dilakukan setiap harinya. Pertama, kita perlu menghargai perbedaan tanpa menghakimi. Sebelum menilai seseorang, saya belajar mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Saya memahami bahwa perbedaan pandangan justru akan memperkaya kapasitas toleransi saya. 

Kedua, kita perlu membangun komunikasi yang baik agar menghindari kesalahpahaman. Saya belajar bahwa komunikasi yang jelas dan terbuka, menghasilkan respon yang lebih baik di dalam perbedaan. Ketiga, kita bisa saja menemukan persamaan di tengah perbedaan. Saya menyadari bahwa persamaan paling utama adalah saya dan teman-teman di Taiwan adalah orang perantauan. Pada akhirnya, saya belajar bahwa sekalipun kita berbeda, kita memiliki hal yang sama yaitu rasa rindu akan tanah air dan membawa nama tanah air di Taiwan. Oleh sebab itu, saya belajar tentang toleransi dan solidaritas dari sesama perantau di Taiwan.

Sahabat Ruanita, jika kalian merayakan Natal yang jauh dari tanah air ataupun di negara yang tidak memiliki hari libur Natal, semoga damai dan sukacita Natal selalu menyertai hati kalian semua. Menurut saya, Natal adalah tentang Iman dan pengharapan. Sekalipun suasana di sekitar mungkin terasa berbeda, kita perlu ingat bahwa Natal tidak bergantung pada tempat, tetapi ada dalam hati. Tetaplah bersinar dan biarlah kasih, iman, dan pengharapan tetap menjadi sumber kekuatanmu.

Terakhir, bagi Sahabat Ruanita yang merayakan Natal, kita perlu sebarkan semangat Natal di mana pun berada. Meskipun, perayaan Natal terasa sepi, kita tidak perlu merasa sendiri. Ketahuilah bahwa banyak perempuan Indonesia lain yang mengalami hal yang sama. Temukan komunitas di sekitar kalian tinggal, baik secara offline/langsung maupun online/daring, untuk saling menguatkan dan berbagi kebahagiaan Natal.

Motto saya: Hidup bukan sekadar menghitung hari, tetapi bagaimana kita mengisi setiap hari dengan makna. Bagi saya, “Setiap Hari Harus Spesial” sudah melekat di hati dalam menciptakan kisah yang tak hanya berarti bagi diri saya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar, khususnya bagi orang yang saya sayangi. Saya percaya bahwa sekecil apa pun momen itu, jika dijalani dengan rasa syukur, akan menjadi spesial. 

Penulis: Elok Fenisia, tinggal di Paraguay dan sempat menetap juga di Taiwan dan dapat dikontak lewat akun IG: @elokfenisia.

(PODCAST RUMPITA) Sustainable Shipping dan Digitalisasi Kapal bersama Benhard di Spanyol

Pada episode RUMPITA kali ini, Anna dan Sesilia Susi berbincang bersama narasumber Benhard yang saat ini sedang tinggal di Spanyol. Benhard merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Joint Master Degree di bidang Sustainable Shipping 4.0.

Dalam podcast ini, ia membagikan pengalaman studi, pemahaman tentang digitalisasi di sektor perkapalan, serta tantangan dan strategi menuju industri kemaritiman yang lebih berkelanjutan.

Benhard menjelaskan bahwa program Erasmus Mundus memberikan kesempatan belajar lintas negara. Ia menjalani semester pertama di University of Naples Federico II di Italia, di mana ia mempelajari dasar-dasar konstruksi kapal dan stabilitas kapal, termasuk konsep second generation stability criteria yang sedang dikembangkan di dunia maritim.

Pada semester kedua dan ketiga, ia melanjutkan studi di Spanyol dengan fokus pada digitalisasi sistem perkapalan, sebuah bidang yang menjadi motivasinya sejak di Indonesia, mengingat tantangan dan peluang besar dalam modernisasi sistem pelayaran nasional.

Menurut Benhard, digitalisasi perkapalan tidak hanya berkaitan dengan teknologi tunggal, tetapi integrasi dari berbagai sistem seperti:

  • Internet of Things (IoT) untuk monitoring sistem kapal secara real-time.
  • Sensor suhu dan pH untuk sistem pendingin mesin.
  • Analisis data historis, misalnya untuk penjadwalan perawatan pompa.

Digitalisasi ini memungkinkan perawatan preventif dan efisiensi operasional kapal.

Follow us

Benhard juga menjelaskan bahwa dorongan global menuju sustainable shipping datang dari lembaga internasional seperti United Nations melalui IMO (International Maritime Organization). IMO memiliki berbagai fokus seperti:

  • Energy efficiency, maritime safety, dan traffic support.
  • Ocean governance, technical cooperation, dan new technology & innovation.

Ia juga mengungkap fakta menarik bahwa 80% logistik global dilakukan melalui laut, sehingga emisi dari sektor ini menjadi perhatian besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah route optimization untuk jalur pelayaran yang aman, pendek, dan efisien.

Beberapa strategi yang dijelaskan oleh Benhard untuk mendukung zero emission shipping antara lain:

  1. Logistik dan digitalisasi, termasuk pengurangan kecepatan kapal saat tidak perlu buru-buru.
  2. Efisiensi hydrodinamik, seperti membersihkan lambung kapal agar tidak menambah beban mesin.
  3. Optimalisasi mesin, misalnya menggunakan teknologi waste heat recovery atau fuel cell.
  4. Penggunaan energi alternatif seperti biofuel, LNG, atau tenaga angin.
  5. After-treatment, seperti teknologi carbon capture dan storage.

Benhard menjelaskan bahwa mencapai target zero emission pada 2050 bukanlah hal yang mudah karena:

  • Investasi teknologi masih mahal.
  • Ketersediaan bahan bakar alternatif tidak merata di seluruh dunia.
  • Adaptasi mesin kapal dan pelabuhan terhadap teknologi baru.
  • Pelatihan awak kapal yang harus diperbarui sesuai teknologi terbaru.
  • Desain kapal baru yang harus menyesuaikan dengan sistem ramah lingkungan.

Menurutnya, semua tantangan ini bisa diatasi jika perusahaan memiliki strategi adaptif sesuai dengan posisi dan target masing-masing.

Menjawab pertanyaan dari Sesilia, Benhard menyampaikan bahwa kapal kecil seperti ferry sungai dan passenger ship memungkinkan menggunakan baterai. Namun, kapal besar seperti kontainer atau tanker memerlukan daya besar dan pendinginan yang kompleks, sehingga kombinasi teknologi seperti baterai dan auxiliary engine masih diperlukan.

Untuk kapal yacht, penggunaan baterai juga mungkin, tergantung desain dan kebutuhan pemiliknya. Namun, ada tantangan seperti durasi pengecasan dan infrastruktur pelabuhan yang harus tersedia.

Untuk Sahabat Ruanita yang ingin memahami lebih jauh dunia maritim modern dan peran Indonesia dalam masa depan pelayaran global, episode ini memberikan wawasan yang sangat relevan.

Dengarkan langsung podcast ini hanya di kanal RUMPITA di Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Merak: Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru di Serbia

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Mery, perempuan asal Indonesia yang sejak tahun 2015 menetap di Serbia setelah menikah dengan suami yang berkewarganegaraan Serbia. Sebelum pindah, saya tinggal di Bekasi—sebuah kota yang sibuk, penuh dengan lalu lintas macet, dan ritme hidup yang selalu terburu-buru. Kini, kehidupan saya berbalik arah 180 derajat. Dari keramaian kota besar, saya beralih ke sebuah desa yang berjarak dua hingga tiga jam perjalanan dari Belgrade, ibu kota Serbia.

Perbedaan itu sangat terasa. Di Bekasi, semua serba cepat dan penuh tekanan. Di sini, hidup berjalan jauh lebih santai. Ritme yang dulu menuntut saya berlari kini berubah menjadi langkah-langkah yang lebih tenang dan teratur.

Tantangan terbesar yang saya hadapi ketika pindah ke Serbia adalah iklim. Tubuh saya butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan musim dingin yang begitu ekstrim dibandingkan dengan cuaca tropis Indonesia. Sampai sekarang pun, setiap kali musim dingin datang, saya masih harus berjuang menyesuaikan diri.

Namun, di balik tantangan itu, ada banyak hal yang membuat saya kagum. Di desa tempat saya tinggal, orang-orang memiliki kebiasaan yang sederhana tetapi hangat: mereka selalu menyapa siapa pun yang mereka temui di jalan. Anak-anak pun sudah terbiasa menghormati orang dewasa dengan sapaan ramah. Setiap pagi, para orang tua biasanya berkumpul bergantian di rumah tetangga untuk minum kopi bersama. Saya merasa inilah salah satu kekayaan budaya yang mengajarkan pentingnya keakraban sosial.

Di Serbia, saya berkenalan dengan sebuah istilah yang indah: merak (мерак). Sulit menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi secara sederhana merak berarti seni menikmati hidup tanpa terburu-buru.

Saya pertama kali merasakannya ketika berjalan-jalan di taman kota. Orang-orang duduk santai di bangku, bercakap-cakap sambil menyeruput kopi, atau sekadar mengawasi anak-anak bermain. Tidak ada rasa terburu-buru, tidak ada agenda besar. Hanya momen sederhana yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Di desa, merak hadir lebih dekat dengan alam. Kami sering duduk di halaman rumah, berbincang santai, sambil menikmati suara burung berkicau. Kadang-kadang muncul ayam hutan, kelinci liar, atau bahkan kijang. Semua itu menghadirkan kebahagiaan yang begitu sederhana, tapi mendalam.

Ketika membandingkan kehidupan di Serbia dan Indonesia, saya melihat perbedaan besar dalam cara orang menemukan kebahagiaan. Di Indonesia, khususnya di kota besar, kehidupan sering kali dipenuhi kesibukan dan tuntutan sosial. Di Serbia, terutama di pedesaan, kebahagiaan hadir dalam bentuk kebersamaan yang tenang: berjalan di hutan, bercocok tanam, atau duduk santai di rumah bersama keluarga.

Follow us

Yang paling kontras bagi saya adalah suasana kumpul keluarga. Di Indonesia, kumpul keluarga biasanya ramai dan besar. Di Serbia, suasananya lebih sederhana dan intim. Keduanya sama-sama berharga, hanya berbeda cara.

Sejak tinggal di Serbia, saya belajar untuk mempraktikkan merak dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, merak bisa sesederhana:

  • Bangun pagi tanpa terburu-buru.
  • Mengurangi waktu bermain media sosial.
  • Menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan keluarga.
  • Memasak sendiri dengan bahan segar dari pasar lokal atau kebun.
  • Memilih produk yang ramah lingkungan.
  • Menikmati berjalan di alam terbuka.
  • Bercocok tanam di musim panas.

Semua itu membuat hidup saya terasa lebih tenang, bermakna, dan bahagia. Saya merasa lebih hadir di setiap momen, lebih dekat dengan orang-orang tercinta, dan lebih sadar akan hal-hal kecil yang patut disyukuri.

Bagi saya, merak erat kaitannya dengan tiga elemen: alam, waktu, dan hubungan sosial.

Alam memberi ketenangan dan keseimbangan. Berjalan di hutan, menikmati pemandangan, atau sekadar menghirup udara segar membuat stres berkurang dan rasa syukur meningkat.

Waktu luang yang tidak dihabiskan di depan layar gadget membuat saya lebih fokus pada saat ini. Saya bisa benar-benar menikmati percakapan, aktivitas rumah, atau sekadar duduk santai tanpa harus merasa bersalah karena tidak “produktif.”

Hubungan sosial menjadi pengikat. Waktu bersama keluarga dan teman-teman, meski sederhana, memberi makna yang dalam. Kehangatan itu adalah bagian dari merak.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari gaya hidup merak adalah menyadari bahwa kita sering mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Perlambatlah langkah, maka kita akan lebih jernih melihat apa yang penting.

Dengan slow living, saya bisa memberikan perhatian penuh pada orang-orang terdekat—suami, anak-anak, keluarga. Saya bisa lebih menghargai momen yang ada, dan yang pasti, stres pun berkurang.

Sebagai perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri, saya tahu banyak dari kita yang merasa harus selalu produktif, harus selalu berhasil. Saya percaya produktif dan berhasil memang penting, tetapi tidak boleh membuat kita kehilangan keseimbangan hidup.

Bagi saya, kunci utamanya adalah punya tujuan yang jelas, mengelola waktu dengan bijak, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tetap berpikir positif. Produktivitas sejati bukan hanya tentang hasil besar, tapi juga tentang kualitas hidup yang kita jalani setiap hari.

Jika saya boleh membagi satu kebiasaan sederhana ala Serbia yang bisa diterapkan di mana pun, itu adalah ritual minum kopi. Bukan sekadar minumannya, tetapi momen yang tercipta.

Di Serbia, kopi dinikmati bukan untuk terburu-buru berangkat kerja, melainkan untuk bersantai, bercakap, dan terhubung dengan orang lain. Bagi saya, kopi pagi bersama keluarga atau teman adalah bentuk merak yang paling nyata. Ia menjadi jeda dari hiruk pikuk hidup, sebuah kesempatan untuk benar-benar hadir.

Sekarang, rumah bagi saya bukan hanya bangunan fisik. Rumah adalah tempat di mana saya diterima, dihargai, dan bisa menjadi diri sendiri. Rumah adalah kehangatan keluarga, tempat di mana saya merasa aman dan dicintai tanpa syarat.

Rumah, bagi saya, adalah tempat yang selalu membuat saya ingin pulang.

Dari perjalanan saya, dari Bekasi hingga Serbia, saya belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam kesederhanaan. Tidak selalu tentang pencapaian besar, tapi tentang momen kecil yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Pesan saya untuk siapa pun yang membaca: hargai setiap momen, fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, dan temukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Jangan takut untuk memperlambat langkah, karena justru dengan itulah kita bisa merasakan hidup dengan lebih utuh.

Penulis: Merry, tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun instagram cemanitempehserbia. 

(SIARAN BERITA) Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental

Jakarta, 6 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia menyelenggarakan forum daring bertajuk “Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental di Era Teknologi Global”, pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 16.00–18.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.

Forum ini menjadi bagian dari upaya global memperkuat kesadaran dan aksi nyata untuk menghapus berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya di ruang digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyber harassment, doxing, revenge porn, body shaming, dan berbagai kekerasan berbasis gender lainnya.

Follow us

Forum Online ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Finlandia, dan dihadiri secara khusus oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operanata, yang memberikan sambutan kehormatan.

Sebagai pemantik diskusi, hadir Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia yang menyoroti meningkatnya tren kekerasan berbasis online dan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital.

Dalam sesi pengantar, Aurelia Aranti Vinton dari PPI Amerop menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud nyata kolaborasi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengadvokasi isu sosial global. Ia menekankan pentingnya literasi digital, keamanan data pribadi, dan peran perempuan dalam menciptakan komunitas daring yang aman dan saling mendukung.

Follow us

Forum ini menghadirkan tiga panelis perempuan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di berbagai negara, masing-masing membagikan perspektif tentang isu perempuan di era digital.

Zakiyatul Mufidah (PhD Student di United Kingdom) mengangkat tema “Membangun Digital Sisterhood Anti Kekerasan”, dengan menyoroti pentingnya solidaritas dan aktivisme digital perempuan yang berpijak pada konsep cozy feminism, yakni sebuah bentuk perlawanan terhadap kekerasan simbolik melalui narasi yang ramah dan membangun.

Sementara itu, Fransisca Hapsari (PhD Student di Jerman) dalam paparannya berjudul “Kesehatan Mental dan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital” membahas keterkaitan antara teknologi, psikologi, dan tantangan kesehatan mental yang dihadapi perempuan akibat tekanan sosial di dunia maya.

Adapun Anggy Eka Pratiwi (PhD Student di India) melalui topik “Pentingnya Literasi Digital dan Keamanan Siber bagi Perempuan” menekankan perlunya peningkatan literasi digital dan kesadaran akan keamanan siber agar perempuan mampu melindungi diri dari berbagai risiko kekerasan serta eksploitasi daring.

Sebagai penutup sesi panel, Chatarina Pancer Istiyani dari Komnas Perempuan menyampaikan tanggapan dan seruan aksi untuk memperkuat ekosistem perlindungan perempuan di ruang digital. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan peran aktif masyarakat dalam mendorong kebijakan publik yang berpihak pada korban.

Forum ini ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya digital sisterhood, solidaritas antarperempuan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, aman, dan berkeadilan gender.

Sebagai tindak lanjut, Ruanita Indonesia akan merilis rekaman video diskusi melalui kanal resmi www.ruanita.com, serta policy brief hasil diskusi untuk memperkuat advokasi perlindungan perempuan di ruang digital.

Beroperasi di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Ruanita Indonesia adalah sebuah platform digital pengetahuan dan advokasi nirlaba. Dengan landasan manajemen nilai dan resources sharing, kami berfokus pada isu psikologi, sosial, dan budaya yang relevan dalam situasi transnasional. Melalui kolaborasi pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kampanye edukatif, kami bertekad menciptakan ruang digital yang inklusif dan mengedepankan interseksionalitas untuk semua.

Informasi lebih lanjut, dapat mengontak Ari Nursenja selaku koordinator acara melalui email: info@ruanita.com.

(AISIYU) I Can Contribute Beautiful things to This World Even If They are Small

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Asti yang tinggal di Islandia.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.