(PELITA) Mengapa Memilih Childfree?

Pada episode ke-10 di bulan Oktober 2023 program PELITA mengambil tema tentang Childfree yang terjadi di Indonesia. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia mengundang dua narasumber yang menjadi penggiat Childfree di Indonesia.

Mereka adalah Ratu Victoria Tunggono yang adalah penulis buku “Childfree” dan lainnya adalah Kei Savourie yang adalah seorang founder dari Kelascinta.

Stephanie mengawali diskusi tentang bagaimana asal mula mereka memilih menjadi Childfree di Indonesia.

Victoria sendiri telah menemukan buku dan komunitas yang membahas lebih dalam tentang Childfree sehingga dia bisa membedakan apa itu childfree dan childless.

Sedangkan Kei lebih menekankan untuk memilih hidup tidak harus sesuai dengan apa yang terjadi pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, termasuk memilih Childfree. Kei sendiri akhirnya berhasil memilih ketika dia menemukan istri yang akhirnya menyepakati pilihan Childfree setelah menikah.

Kei juga menjelaskan bahwa pilihan Childfree muncul ketika dunia sudah diperkenalkan dengan pilihan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Follow us

Kei dan Victoria menyadari bahwa mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sangat baik sebagai role model, sedangkan mereka berdua merasa tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik.

Baik Victoria maupun Kei menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki big pressure sebagai orang tua. Meski demikian, diskusi terbuka seperti yang digagas Ruanita Indonesia ini sangat efektif untuk menepis mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya, masyarakat memandang perempuan dianggap egois kalau memilih Childfree.

Victoria sangat menghormati orang-orang yang sudah memilih menjadi orang tua dan berharap agar pilihan orang tua sebagai ikatan batin seumur hidup. Menjadi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan tidak menjadikan anak sebagai “eksperimen” atau coba-coba.

Subscribe kanal YouTube kami ya untuk mendukung program kami.

(PELITA) Anak dengan Autisme Sensitif pada Cahaya dan Sentuhan

Episode Parentingtalk with RUANITA atau disingkat PELITA pada bulan September 2022 ini membahas tentang anak dengan Autisme.

Biasanya tak mudah orang tua mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan ini pada usia 1-2 tahun karena semua tampak terlihat wajar. Misalnya, anak di usia satu tahun sudah bisa mengucapkan sekian banyak kata, tetapi anak mengalami keterlambatan bicara.

Tanda berikutnya yang mudah dikenali adalah repetitive movement pada anak dengan Autisme.

Gejala yang paling jelas lainnya adalah eye contact seperti cara melihat anak yang berbeda atau menghindari tatapan mata kita.

Follow akun: ruanita.indonesia

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak lelaki punya risiko empat kali lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan.

Selain itu, belum ada kaitan antara risiko anak dengan Autisme terhadap status ekonomi, tingkat pendidikan orang tua dan lain sebagainya sehingga orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika anak mengalami Autisme. Anak dengan Autisme juga mengalami kesulitan ketika harus berinteraksi sosial dengan anak lainnya.

Orang tua perlu mengenali gangguan perkembangan anak di usia lebih dini seperti 1-2 tahun sehingga penanganannya lebih optimal karena memang anak-anak tampak normal di usia 1-2 tahun.

Anak dengan Autisme biasanya sensitif terhadap cahaya, sentuhan, bau, suara, dan lainnya yang tampak mirip dengan anak dengan gangguan pemrosesan sensori yang sudah dibahas pada episode sebelumnya.

Anak dengan Autisme tampak menarik diri dan biasanya asyik dengan “dunianya” sendiri. Permainan anak dengan Autisme juga tidak melibatkan dengan orang lain atau teman lain, tidak cukup responsif dari orang sekitarnya sehingga muncul penilaian kalau anak dengan Autisme itu kurang empati.

Padahal itu tidak demikian. Anak dengan Autisme biasanya tidak mampu untuk meniru dalam permainan atau melakukan permainan yang tampak rigid.

Simak pemaparan Stephanie lebih lanjut berikut ini:

Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Bagaimana Depresi pada Ibu Melahirkan Terjadi?

Ruanita – Rumah Aman Kita menyelenggarakan program PELITA: Parenting with Ruanita yang membahas tema-tema pengasuhan anak yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di mancanegara. Program PELITA hadir tiap bulan sekali berupa video pendek, tak lebih dari 30 menit, yang bercerita tentang tema pengasuhan anak yang dialami orang-orang Indonesia di mancanegara.

Melalui PELITA, Ruanita mengajak warga Indonesia yang tinggal di mancanegara untuk berbagi cerita dan pengetahuan tentang pengalamannya agar dapat mempromosikan praktik baik – keterampilan hidup – di luar negeri. Ide parenting dikumpulkan dari berbagai masukan dan informasi yang dihadapi orang-orang Indonesia sehari-hari.

Pemandu dari PELITA adalah Stephanie Iriana Pasaribu, seorang ibu dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S3 di Belanda. Dengan latar belakang keilumuan dan pengalamannya, Stephanie bercerita dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami tentang isu-isu parenting yang tak banyak diketahui.

Seperti tema pada episode ke-3 adalah depresi yang tak banyak diketahui oleh para ibu yang melahirkan. Kondisi depresi pada ibu yang melahirkan bisa berlangsung pendek dan panjang. Dengan intensitas dan frekuensinya, kita perlu memahami apakah itu Postpartum Depression atau Baby Blues – yang kemudian dijelaskan dengan baik oleh Stephanie.

Selain faktor penyebab terjadinya depresi, Stephanie juga menceritakan dukungan sosial penting bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Ketika bayi dilahirkan, kita tidak hanya memikirkan tentang kondisi bayinya saja, tetapi juga kondisi si ibu termasuk kesiapan mentalnya apalagi saat tinggal di mancanegara. Bayi yang sehat dan ibu yang sehat merupakan faktor keberhasilan tumbuh kembang anak yang diperlukan dalam keluarga.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Kok Anak Saya Umur Segini Belum Bicara

Stephanie menceritakan pengalamannya sebagai ibu bagaimana mengenali kondisi anak yang terlambat bicara. Tutur Stephanie, sebaiknya orang tua sudah mengidentifikasikan perkembangan anaknya sedini mungkin agar penanganannya dapat cepat teratasi.

Berdasarkan perkembangan bahasa anak, terdapat beberapa fase seberapa banyak jumlah kata yang sudah dapat disebutkan anak. Misalnya anak umur dua tahun sebaiknya sudah memiliki 150-300 kata dan dapat menyusun 2-3 kalimat.

Selain itu, keterlambatan bicara pada anak sering dikaitkan dengan gejala autis pada anak. Stephanie menjelaskan dengan baik dalam video berikut menurut keilmuannya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang terlambat bicara.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.