(PELITA) Tantangan Single Mom yang Tinggal di Luar Indonesia

Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.

Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.

Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.

Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.

Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?

Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.

(PELITA) Pahami Tumbuh Kembang Anak Usia Bayi hingga 5 Tahun

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – kedelapan di bulan Maret 2023 kali ini membahas tentang tahapan-tahapan tumbuh kembang anak (atau developmental milestones) pada anak usia bayi hingga 5 tahun. Tahapan tumbuh kembang anak sangat menarik untuk diperbincangkan diantara para orang tua supaya adanya pemahaman tentang titik-titik yang menjadi acuan dalam tumbuh kembang anak.

Pada diskusi kali ini, Stephany menjelaskan bahwa titik tumbuh kembang anak mempunyai tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan usia biologis sang anak dan ini ditandai oleh beberapa domain yang patut diobservasi oleh para orang tua.

Nah, apa sih yang dimaksud dengan tahapan tumbuh kembang anak?

Follow us: @ruanita.indonesia

Sedari anak usia bayi hingga usia lima tahun, anak akan mengalami fase-fase perkembangan di dalam fungsi indera mereka dimana perubahan tersebut merupakan perkembangan secara kualitatif yang berjalan secara linear dengan usia biologis anak.

Contohnya adalah kemampuan anak usia 1 tahun tentulah berbeda dengan kemampuan anak usia 3 tahun. Ini dikarenakan fungsi-fungsi motorik mereka seperti motorik kasar dan motorik halus ditambah dengan fungsi-fungsi lain seperti fungsi sosial dan tingkah laku akan mengalami perkembangan; juga fungsi indera pendengaran, penglihatan, dan fungsi kognitif. Peran observasi dari orang tua dalam tumbuh kembang anak dirasa sangat penting agar orang tua bisa mendeteksi secara dini jika buah hati mereka mengalami keterlambatan.

Di dalam episode ini, Stephany membahas secara detail tumbuh kembang anak yang dilalui sesuai tahapan usia biologis anak – dari usia bayi hingga usia 5 tahun – dan faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Selain itu, Stephany juga membagikan tips apa yang seharusnya dilakukan orang tua jika buah hati mereka mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan.

Untuk mengetahui secara lengkapnya, sahabat Ruanita bisa menonton di kanal YouTube Ruanita dan jangan lupa untuk klik berlangganan atau subscribe dan juga klik simbol lonceng supaya para sahabat Ruanita tidak ketinggalan diskusi-diskusi menarik lainnya dari Ruanita.

Lalu jika dirasakan tayangan PELITA kali ini menarik dan akan bermanfaat bagi para orang tua pada umumnya, khususnya mereka yang baru merasakan menjadi orang tua, para sahabat Ruanita juga bisa membagikan tautan video YouTube di bawah ini.

Penulis: Putri T. berdomisili di Jerman (akun IG: pupsaloompa)

(PELITA) Anak Saya Speech Delay Karena Dia Dengar 4 Bahasa

Episode Parentingtalk with RUANITA (=PELITA) pada bulan November 2022 ini mengambil tema tentang perkembangan bahasa anak, terutama anak-anak yang lahir dan besar pada keluarga multiculture. Seperti biasa, Stephany yang menjadi Host dari program PELITA menjelaskan dengan baik dari keilmuan psikologi yang dipelajarinya dan pengalamannya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun.

Stephany awalnya bingung ketika anaknya lahir dengan bahasa yang beragam di mana Stephany saat itu tinggal di Belanda untuk menempuh pendidikan lanjutan S3 di salah satu universitas di sana. Stephany berbicara dengan anaknya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sementara ayah dari anaknya berbicara dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, terkadang Bahasa Arab.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, anak Stephany mengalami speech delay sehingga dia pun segera mencari tahu dan menanyakan keterlambatan bicara anaknya pada ahlinya. Terkadang kita begitu mempercayai pendapat budaya yang mengatakan bahwa speech delay pada anak-anak seusianya itu adalah hal yang umum padahal kita perlu mencari tahu penyebabnya.

Stephany menceritakan bahwa anaknya mengalami kebingungan untuk memformulasikan kalimat karena dia mendengar empat bahasa sekaligus. Tak jarang anaknya pun mengucapkan kata yang bercampur dan tidak konsisten pada 1 bahasa, misalnya: ini Auto, auto adalah mobil dalam Bahasa Belanda.

Stephany juga menceritakan metode one language one person di mana orang tua perlu konsisten untuk mengajarkan pada 1 bahasa yang benar-benar dikuasai saja pada anak. Orang tua juga perlu keseriusan dan komitmen untuk mengajarkan pada anak yang dibesarkan secara bilingual, termasuk bagaimana orang tua juga harus bisa menjadi role model bagi anak-anaknya.

Jika memang tidak ingin anak berbicara bahasa yang campur maka sebaiknya orang tua juga tidak berbicara hal yang sama. Orang tua juga perlu mengapresiasi setiap langkah kecil dari perkembangan anak seperti tidak memaksa anak apabila dia sudah merasa kelelahan dengan bahasa bilingual yang dipelajarinya.

Penjelasan Stephany dengan bahasa sederhana dari keilmuan dan pengalamannya membuat program PELITA kerap dinantikan oleh sahabat RUANITA yang mencari tahu lebih banyak tentang tema pengasuhan di mancanegara. Kalau ada saran/pertanyaan, silakan kirim ke info@ruanita.com.

PELITA Episode 7 dapat disimak sebagai berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.