(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kiat Mahasiswi Indonesia di Turki Hadapi Inflasi

Cerita Sahabat Spesial episode Desember 2022 ini mengangkat tema kehidupan mahasiswa asal Indonesia di luar negeri. Sebagaimana kita ketahui kalau saat ini dunia sedang dilanda inflasi, termasuk negara Turki yang mengalami lonjakan harga yang sangat fantastis.

Inflasi tidak hanya membuat harga-harga meroket tetapi juga membuat tantangan tersendiri untuk mahasiswa asal Indonesia yang sedang berada di perantauan.

Cerita dampak inflasi di Turki disampaikan langsung oleh Hanun Rifda Arabella yang sedang menempuh studi di Istanbul, Turki. Dia menceritakan bahwa inflasi membuat dia harus memutar otak untuk mencari cara berhemat dan bertahan hidup untuk menyelesaikan studinya.

Tak ada pilihan lain seperti Hanun – demikian dia disapa – untuk mendapatkan pekerjaan tambahan seperti praktik banyak negara yang memberlakukan pekerjaan sampingan untuk para mahasiswa.

Di Turki, jelas Hanun, tidak ada pilihan demikian. Hanun kemudian memilih menekuni kuliahnya daripada harus bekerja dengan upah di bawah rata-rata. Bagaimana pun dia ingin agar dapat menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia.

Kesulitan hidup mewarnai kehidupan mahasiswa di negeri perantauan manakala inflasi telah membuat harga meroket, biaya sewa kamar yang tak murah dan perubahan peraturan yang tidak bisa ditebak.

Tak hanya soal carut marut bertahan hidup di Turki saja, Hanun menceritakan bagaimana tantangan budaya untuk bertahan di Turki. Dia tahu bahwa itu tidak mudah apalagi Turki juga sekarang sedang dibanjiri pengungsi.

Bahaya inflasi lainnya adalah tingginya angka kejahatan dan kriminalitas di kota besar seperti Istanbul dirasakan betul oleh Hanun.

Namun dibalik itu semua, Hanun pun membagikan tips dan saran untuk para mahasiswa yang sedang menekuni kuliah di negeri orang.

Mulai dari gaya hidup hingga cara berhemat lain yang mungkin bisa ditiru oleh mahasiswa dalam menghadapi inflasi yang melanda dunia seperti memasak bersama, membawa bekal ke kampus, dan lainnya.

Simak cerita Hanun berikut dalam:

Tolong subscribe kanal YouTube kami.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(CERITA SAHABAT) Karena Rumput Tetangga Belum Pasti Lebih Hijau

Setiap kali orang mengetahui kalau aku bersekolah di luar negeri, mereka selalu berkata, “Wah, enak ya kuliah di luar negeri, jalan-jalan terus! Aku lihat di instagram kamu, seru ya? Pasti gak kaya di Indonesia yang kuliahnya tugas melulu! Irinya…“ 

Aku hanya bisa tersenyum. Ya jelas saja, siapa sih yang mau update kesusahannya di Instagram? Tentunya, seperti orang-orang lain, aku hanya mengunggah foto-fotoku disaat aku senang di Instagram. Aku sudah kebal mendengar kalimat-kalimat seperti itu. 

Tadinya aku merasa konyol dan akan menyanggah perkataan mereka. Namun, aku sudah terlalu sering mendengarnya, jadi aku hanya tersenyum. 

“Andai saja kalian tahu, kalau aku jauh lebih iri pada kalian” sahutku dalam hati. Bagaimana tidak? 

Teman-teman seangkatanku saat SMA dulu sudah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu dan sudah meniti karier masing-masing. Sementara aku? 

Sudah beberapa tahun lamanya, aku masih berstatus sebagai mahasiswa S1 di Jerman. Banyak juga yang menyindir, bahkan orangtuaku pun kadang menyindir halus, kenapa aku belum lulus-lulus juga. 

Apa boleh buat, banyak kendala yang membuat aku harus terus menyandang gelar “Mahasiswa Abadi” ini. 

Kadang aku berkilah, “Hei, bahkan orang Jerman juga butuh waktu lama untuk lulus S1, tahu!“ kadang mereka mau mengerti, kadang mereka masih suka nyinyir. Itu tidak terlalu menggangguku, tapi ada saatnya aku menyesali keputusanku untuk kuliah di negara ini.

Seandainya waktu itu aku tidak memutuskan untuk merantau, mungkin aku sudah seperti mereka. Sudah lulus dan dapat kerja. Mungkin juga sudah menikah? Yang penting, aku tidak perlu mengikuti perkuliahan dalam bahasa asing.

Jurusan yang aku pilih sudah cukup sulit, dipersulit lagi dengan kendala bahasa. Aku pun bukan orang kaya yang serba berkecukupan bahkan lebih, jadi di saat waktu senggang, aku harus bekerja part-time di berbagai tempat. 

Jangan salah, aku bersyukur karena memiliki pengalaman ini. Sewaktu aku melihat teman-teman sepantaranku dulu, mau tidak mau aku terus membandingkan mereka dengan situasiku sekarang. 

Ketika perasaan insecure dan rendah diri melanda, aku menenangkan diriku dengan berpikir, “Hei, bukankah kamu juga hanya melihat mereka disaat mereka senang? Seperti aku, mungkin saja mereka punya kesusahan yang mereka sembunyikan dari mata sosial media. Seperti mereka, aku pun hanya melihat satu porsi dari kehidupan mereka!“ 

Setelah berpikir seperti itu, aku merasa lebih tenang kembali.

Sekarang, saat berkumpul dengan sesama pejuang dari Indonesia, kami hanya tertawa saat mendengar perbandingan-perbandingan di antara situasi kami dengan situasi teman-teman kami di Indonesia. Perasaan ingin menyerah tentu saja tetap ada, terlebih saat berhadapan dengan Kantor Imigrasi Jerman. Namun semua ini adalah proses, jadi, nikmati saja seluruh prosesnya. 

Memang, rumput tetangga itu belum pasti lebih hijau dibanding rumput sendiri… 

Penulis: A adalah salah seorang Mahasiswa S1 Abadi di Jerman. Umurnya hampir mencapai kepala 3. Hobinya adalah jalan-jalan, olahraga, dan fotografi. Dia anak yang rajin dan senang bekerja serta mencari relasi. Dia berharap untuk bisa menikahi kekasihnya sesegera mungkin di Indonesia.