(PODCAST PMI STORIES) Bertahan dan Tantangan di Negeri Gingseng

Di episode audio podcast PMI Stories ketiga, Dewi Lubis yang menjadi host mengundang Irmawati, perempuan Indonesia yang hampir lima tahun bekerja di Korea Selatan. Sejak 2017, Irma mulai bolak-balik, hingga akhirnya menetap pada 2019 dengan visa kerja E-7. Irma bekerja di sektor otomotif, di sebuah pabrik suku cadang mobil. Pekerjaan tersebut menuntut fisik yang kuat dan kedisiplinan waktu yang ketat.

Sebagai pekerja migran, Irma kerap merasa rindu sering datang pelan-pelan. Rindu pada keluarga, pada rumah, pada suara yang terasa dekat meski jarak memisahkan ribuan kilometer. Di tengah hari kerja yang padat, keinginan untuk menelepon keluarga kerap muncul, namun tidak selalu terjawab. Di seberang sana, setiap orang juga memiliki kesibukannya sendiri.

Di titik-titik seperti itulah perasaan sendiri kerap hadir. Ketika pekerjaan terasa berat, saat mendapat teguran dari atasan, ketika melakukan kesalahan, atau saat gaji dipotong. Keinginan untuk bercerita ada, tetapi tidak selalu aman. Salah bicara bisa berujung salah paham. Akhirnya, yang tersisa hanya tangisan singkat dan usaha untuk menenangkan diri sendiri. Tutur Irma kepada Dewi secara jujur saat bercerita tantangan di negeri Gingseng tersebut.

Tantangan lain yang dihadapi adalah penyesuaian musim. Empat musim di Korea terasa ekstrem bagi tubuh yang terbiasa dengan iklim tropis. Musim dingin dengan suhu di bawah nol dan musim panas yang sangat terik sempat membuatnya jatuh sakit selama sebulan. Selain cuaca, budaya kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Ritme kerja yang cepat, target yang tinggi, dan cara komunikasi atasan yang keras menuntut kesiapan mental yang besar.

Di tempat kerja, ia berbaur dengan pekerja dari berbagai negara. Sistem kerja rolling mengharuskan setiap pekerja memahami berbagai jenis tugas. Hambatan bahasa kerap memicu kesalahpahaman, terutama ketika tidak semua rekan kerja menggunakan bahasa yang sama. Dalam situasi seperti ini, ketahanan mental menjadi penopang utama. Tanpa itu, keinginan untuk menyerah bisa muncul kapan saja.

Sebagai perempuan, pengalaman migrasi menghadirkan lapisan tantangan tambahan. Hidup mandiri di negeri orang berarti menghadapi banyak hal sendiri, tanpa keluarga, tanpa lingkar dukungan yang akrab seperti di tanah air. Namun dari situ pula tumbuh kemandirian dan keberanian. Pelan-pelan, ketangguhan dibangun dari pengalaman sehari-hari.

Dukungan sosial tidak hadir secara instan. Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya menemukan relasi yang terasa aman. Rekan kerja dari berbagai latar belakang perlahan berubah menjadi keluarga baru di perantauan. Mereka saling menguatkan, meski harus melewati proses panjang untuk saling memahami bahasa dan cara berkomunikasi.

Salah satu hal yang membuatnya bertahan adalah rasa keadilan dalam sistem kerja. Upah yang diterima sebanding dengan jam dan tenaga yang dikeluarkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dirasakan ketika bekerja di Indonesia dulu. Meski bukan satu-satunya alasan, hal ini memberi rasa aman dan kepastian.

Tentang masa depan, harapannya sederhana: pulang, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hasil perjuangan. Semua kerja keras hari ini dipandang sebagai tabungan untuk masa tua—agar suatu hari bisa beristirahat dengan tenang dan hidup lebih mandiri secara finansial.

Pesan yang ingin disampaikan kepada perempuan lain jelas: berani bermimpi, berani melangkah, dan percaya bahwa rezeki bisa datang dari berbagai arah. Keberanian sering kali hadir bersama pengorbanan, tetapi juga membuka kemungkinan baru.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Sebelum Tinggal di Bangladesh, Begini Pengalaman Melahirkan dan Membesarkan Anak di Korea Selatan

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Sienna Mila, boleh panggil saya Mila atau Sienna. Saya adalah seorang ibu yang pernah menetap di Korea Selatan dan kini menetap di Bangladesh. Perjalanan hidup saya cukup panjang dan berliku, hingga akhirnya membawa saya melahirkan anak pertama di Korea Selatan. Menurut saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Semuanya berawal dari tahun 2000-an, tepatnya setelah saya lulus SMA. Saat itu saya bekerja di sebuah restoran Korea di kawasan Melawai, Jakarta. Sambil bekerja, saya juga melanjutkan kuliah S1. Dari restoran tersebut, saya mulai mengenal budaya Korea dan bertemu banyak orang Korea yang tinggal atau bekerja di Jakarta.

Pekerjaan saya kemudian berkembang. Saya berkesempatan menjadi PA (Personal Assistant) sekaligus sekretaris untuk seorang staf ahli asal Korea yang bekerja di salah satu Kementerian di Jakarta. Di situlah hidup saya berubah. Saya belajar banyak tentang kedisiplinan, budaya kerja, sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan banyak orang Korea dari berbagai bidang bisnis.

Sepuluh tahun bekerja, saya kemudian diperkenalkan dengan kenalan atasan saya untuk menjalin kerja sama bisnis. Perusahaan itu bergerak di bidang pengembangan IT di Korea Selatan, dengan rencana membangun platform belanja online di Indonesia. Dari perjanjian itu, saya mulai bolak-balik Indonesia–Korea, hingga akhirnya saya tinggal cukup lama di Korea Selatan.

Antara tahun 2018 sampai 2022, saya dan suami lebih banyak menetap di Korea. Alasannya cukup dramatis: saya mengalami pecah ketuban lebih awal ketika sedang melakukan kunjungan bisnis di kota Daegu. Saat itu, saya tengah hamil anak pertama. Awalnya saya sudah konsultasi dengan dokter di Indonesia sebelum berangkat, kondisi kandungan sehat dan diperbolehkan naik pesawat selama penerbangan tidak lebih dari 10 jam. Karena penerbangan ke Korea Selatan hanya memakan waktu 6 jam, saya merasa aman saja.

Namun takdir berkata lain. Di tengah kesibukan urusan bisnis, saya tiba-tiba harus menghadapi momen kelahiran di negara asing. Untungnya, ketika itu saya ditemani suami yang memang ikut ke Korea Selatan untuk urusan bisnis juga.

Saat tiba di rumah sakit di Daegu, kendala pertama yang saya hadapi adalah bahasa. Tidak banyak tenaga medis yang bisa berbahasa Inggris, sementara saya dan suami tidak menguasai bahasa Korea. Komunikasi menjadi sulit sekali.

Saya mengalami kontraksi cukup lama, hingga akhirnya dokter yang bisa berbahasa Inggris datang dan memutuskan bahwa saya harus melahirkan lewat operasi Caesar. Malam itu saya masuk ruang operasi, perasaan saya campur aduk antara panik, takut, dan pasrah.

Proses persalinan berjalan, tetapi setelah melahirkan saya mengalami pendarahan hebat. Rasa sakitnya luar biasa, hingga saya diberi morfin. Saking sakitnya, saya sempat berpikir saya tidak akan selamat malam itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kekuatan dan akhirnya bisa melewati masa kritis tersebut.

Tiga hari setelah melahirkan, kondisi saya mulai membaik. Saat itu ada seorang ibu yang datang dan menawarkan saya untuk menggunakan jasa postpartum care. Apa itu? Itu adalah layanan perawatan pasca melahirkan yang populer di Korea. Layanan ini mencakup perawatan ibu, bayi, hingga pemulihan fisik. Namun saya menolak, lebih karena pertimbangan pribadi dan biaya.

Setelah tujuh hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Namun saat berada di kasir rumah sakit, saya dan suami dibuat kaget. Karena tidak memiliki asuransi di Korea, biaya persalinan kami mencapai 7,5 juta Won, atau sekitar 89 juta rupiah.

Saya mencoba meminta bantuan bagian administrasi dengan harapan ada potongan atau keringanan. Tetapi staf rumah sakit justru menyalahkan kami. Kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang adalah: “Kenapa melahirkan di Korea? Seperti di Indonesia tidak ada rumah sakit saja.”

Saya dan suami hanya bisa terdiam. Akhirnya, kami membayar penuh tanpa potongan sedikit pun. Perasaan saya campur aduk antara lelah, sedih, sekaligus kecewa.

Setelah keluar dari rumah sakit, suami saya akhirnya diterima bekerja di perusahaan partner kami di bidang IT. Saya pun tinggal di rumah untuk mengurus bayi. Namun perjuangan baru saja dimulai.

Perbedaan cuaca, sulitnya mencari layanan kesehatan anak, hingga kendala bahasa membuat hari-hari kami penuh tantangan. Saya masih ingat ketika anak kami demam tinggi di tengah malam. Kami bergegas ke UGD terdekat, tetapi karena saat itu hari Minggu, rumah sakit seperti rumah sakit hantu, yakni sepi, tanpa ada dokter atau perawat yang berjaga.

Ada juga masa ketika saya bingung mencari susu formula untuk bayi. Setiap kali mencoba merek baru, kulit bayi saya bereaksi dengan gatal-gatal dan kemerahan di sekujur tubuh. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil menenangkan anak.

Untungnya, saya mendapat dukungan besar dari keluarga suami di Bangladesh dan keluarga saya di Indonesia, meski hanya lewat video call. Suami juga sangat membantu setiap kali ia pulang kerja. Mantan atasan saya bahkan membantu komunikasi dengan pihak rumah sakit dan pengurusan visa.

Setelah lebih dari dua tahun di Korea, saya akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Saya ingin anak saya belajar bahasa Indonesia dan bersekolah di PAUD. Alhamdulillah, anak saya kini sudah fasih berbahasa ibunya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Bangladesh, negara asal suami. Suami masih harus menyelesaikan kontraknya di Korea hingga 2026, sementara saya dan anak menetap di Bangladesh dulu. Anak saya akan mulai sekolah dasar di sana, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada atau Amerika di masa depan, demi masa depan pendidikan anak.

Melahirkan di Korea Selatan memberikan saya banyak pelajaran berharga, terutama tentang persiapan. Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin suatu saat berencana melahirkan di luar negeri, saya ingin berbagi beberapa hal:

1. Bahasa itu penting. Jika tidak bisa bahasa lokal, setidaknya harus ada keluarga atau pendamping yang bisa membantu.

2. Asuransi wajib. Jangan pernah bepergian tanpa asuransi, apalagi jika sedang hamil.

3. Postpartum care di Korea sangat baik. Jika ada biaya, jangan ragu untuk ikut. Itu akan membantu pemulihan ibu dan bayi.

4. Status kewarganegaraan bayi. Di Korea, bayi yang lahir dari orang tua bukan warga negara Korea tidak otomatis mendapat hak atau benefit apa pun.

5. Persiapan mental, fisik, dan materi. Semua harus seimbang. Jangan hanya siap materi, tapi juga siap menghadapi cuaca, lingkungan, hingga budaya baru.

Sahabat Ruanita, pengalaman melahirkan di Korea adalah salah satu momen paling sulit sekaligus paling berharga dalam hidup saya. Rasanya seperti ujian besar yang Allah berikan, Alhamdulillah saya bisa melewatinya.

Kalau ditanya, apakah saya mau mengulang pengalaman melahirkan di negara ketiga lagi? Jawabannya: tidak. Terlalu banyak risiko, terutama jika tanpa dukungan keluarga dekat dan tanpa penguasaan bahasa.

Namun, saya tetap bersyukur. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang ketabahan, dukungan keluarga, dan pentingnya persiapan. Saya juga belajar bahwa menjadi seorang ibu berarti siap menghadapi hal-hal di luar dugaan, di mana pun kita berada.

Bagi saya, melahirkan di luar negeri, terutama di negara dengan bahasa yang berbeda, bukan hanya soal proses medis. Itu juga soal bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan menemukan kekuatan di saat kita merasa sendirian.

Itulah cerita saya, Sahabat Ruanita. Pengalaman melahirkan di Korea Selatan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Meski penuh air mata, rasa sakit, dan kekecewaan, ada juga rasa syukur, cinta, dan kekuatan baru yang saya temukan.

Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi perempuan Indonesia lain yang mungkin sedang atau akan menghadapi situasi serupa.

Penulis: Sienna Mila, seorang ibu yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun instagram: sienna_milaa.