
Halo, sahabat Ruanita! Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya biasa dipanggil Tyka dan saat ini saya tinggal di salah satu provinsi di negara Spanyol, yaitu Barcelona. Saya tinggal sekitar 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang lumayan cukup panjang saya memberanikan diri untuk berwirausaha di sini. Tentunya, itu membutuhkan sebuah keberanian dan mental yang lumayan cukup berat. Mungkin ada beberapa pertanyaan dari sahabat Ruanita, apa yang menjadi inspirasi saya.
Menurut saya, Barcelona adalah salah satu provinsi di Spanyol yang memberikan ruang untuk kita lebih mudah membangun komunikasi, berelasi, dan berwiraswasta. Saya mengamati, kebanyakan perempuan-perempuan lokalnya begitu mandiri dan punya integritas tinggi untuk menciptakan peluang.
Banyak perempuan di sini gigih, tangguh, dan bisa membaca serta menangkap sebuah peluang. Secara tidak langsung, daya tarik mereka menumbuhkan hasrat besar bagi saya untuk berwiraswasta dibandingkan menjadi karyawan. Tentunya, lingkungan dan relasi saya dengan perempuan-perempuan di sini menjadi inspirasi saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu, sayangnya.
Saat ini, saya lebih fokus mengembangkan diri di bidang pariwisata yang mencakup Hospitality, Event and Travel secara global.
Untuk traveling, memang menjadi salah satu usaha kami. Bagi saya, traveling itu sangat perlu ya. Secara tidak langsung, traveling memberikan wawasan dan kesempatan serta ruang yang lebih untuk upgrade diri dan masih banyak Benefit lainnya. Saya yakin, jika sahabat Ruanita mencoba melakukan traveling bagi yang belum pernah, maka pasti akan merasakan perubahan yang luar biasa.
MEDIA SOSIAL DAN TINGGAL DI LUAR NEGERI
Media sosial itu bagi kami sangat menguntungkan, asalkan dalam penggunaan secara betul dan memang dibutuhkan. Contohnya, media sosial akan menguntungkan bagi kita yang sedang membangun usaha, untuk sarana membangun komunikasi, relasi, promosi (marketing) ataupun bisa jadi untuk personal branding. Mungkin ini pendapat saya pribadi, tergantung penggunaannya, bila kita gunakan secara positif. Tentunya, ini akan mengundang reaksi yang positif, tetapi kalau digunakan secara negatif, hasilnya akan menjadi negatif juga.
Peran media sosial bagi saya 70% bisa untuk menjangkau komunikasi global dan relasi dibandingkan dilakukan secara offline, yang mana tentunya sangat mempermudah dan dengan budget, yang lebih minus untuk bidang marketing.
Kami menggunakan media sosial untuk menciptakan aplikasi, branding, dan kampanye serta kolaborasi di Instagram, TikTok, dan ini sangat membantu kami.
Kami membagikan pengalaman yang tujuannya untuk promosi, demi perkembangan bisnis kami di travel. Andaikan kami tidak memiliki bisnis di pariwisata, mungkin saya secara pribadi jarang melakukan update. Jadi, kami menggunakan media sosial untuk suatu kebutuhan. Itu salah satu kebijakan yang saya ambil juga.
Selama ini, tantangan jarang sekali kami temukan karena kami hidup di sebuah tempat yang penghasilanya 80% di bidang pariwisata di mana secara tidak langsung kami berperan mengkampanyekan destinasi-destinasi mereka di bidang apapun. Sebelumnya, kami selalu membangun komunikasi dengan yang bersangkutan ataupun atas permintaan mereka untuk berkolaborasi.
BIJAK DALAM BERSOSIAL MEDIA
Terkait bijak bersosial media, berdasarkan pengalaman, kami sangat berhati-hati dan memahami apa yang kita lempar atau melakukan update di media sosial, flexing, update status yang mengkritik, bicara uang, politik, atau agama, maka saya sangat menghindarinya. Hanya fokus untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai profesi pekerjaan dan produk kami. Selama ini, kami belum pernah menemukan hal negatif, seperti cyber–bullying, kritik, dan hal negatif lainnya. Mungkin apa yang kita dapat, mungkin akan menyesuaikan apa yang kita lempar di media sosial.
Kembali beralih tentang pendapat netizen Indonesia ya. Mungkin hanya sekilas kadang kami membaca tetapi tidak ditujukan ke kami. Saya pribadi begitu sulit berkomentar, cukup kami mengerti situasi mereka dan kami lebih cenderung mencari solusi saja.
Setiap individu berhak bicara apapun, tetapi kalau kita bisa mengerti mereka. Itu tidak akan menjadi beban yang mengganggu, apalagi menjadi masalah buat kita. Ambil nilai positifnya saja, seburuk apapun komentar netizen, setidaknya ada segi positifnya yang bisa diambil.
Budaya berkomentar di Spanyol jauh sangat beda ya dengan netizen Indonesia. Namun, maaf jangan dijadikan perbandingan! Orang Spanyol akan lebih berkomentar membangun! Mereka berkomentar untuk membutuhkan informasi atau mereka ingin membangun untuk relasi. Jadi, itu salah satu hal yang menguntungkan kami.
Kami sangat menjaga privasi dan data kami, dengan tidak menggunakan sosial media untuk privasi kami seperti: keadaan keluarga, kondisi keluarga, atau kegiatan-kegiatan yang tidak bersangkutan dengan marketing kami, yang pastinya akan kami hindari untuk update di sosial media.
Bagi sahabat Ruanita semua, media sosial akan menjadi bagian jembatan menuju kesuksesan atau mencapai impian dalam bisnis apapun, asalkan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakannya.
Bijak bermedia sosial diperlukan agar media sosial tidak menjerumuskan kita ke banyak hal negatif, yang kadang kita tidak menyadarinya. Pada akhirnya, tidak bisa bersikap bijak bermedia sosial akan membawa ke arus ke kehidupan, yang bisa dibilang sulit, bila kita salah menggunakannya.
Harapan saya kepada pemerintah Indonesia adalah pentingnya memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan media sosial, agar masyarakat memahami batasan dan etika dalam menggunakannya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran setiap individu.
Regulasi yang dibuat pemerintah tidak akan efektif jika sumber daya manusianya tidak dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendidikan tentang literasi digital perlu dimulai sejak usia dini, dari anak-anak hingga generasi muda.
Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam membimbing anak memilih dan menggunakan media sosial secara bijak. Jika setiap orang tua di Indonesia melakukan ini, maka akan terjadi perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital. Dengan sinergi antara individu dan kebijakan pemerintah, media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan produktif untuk semua.
PENUTUP DAN INSPIRASI
Sejauh ini, pengalaman bersosial media bagi kami sangat bermanfaat bagi saya pribadi dan tim kami, serta bisa mempermudah klien kami untuk menggunakan sebagai sarana informasi yang mereka butuhkan, terutama di bidang pariwisata dan Hospitality yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, media sosial kami anggap sebagai rasa penghargaan bagi konsumen kami atas apresiasi kami, yang telah memberi kepercayaan ke kami dalam event mereka.
Untuk seluruh sahabat Ruanita, yang menjadi pengguna sosial media dan ingin atau sedang berkarya di luar negeri, ini pesan saya. Pertama, pahami apa Rule dalam menggunakan media sosial di tempat tersebut. Pasti setiap tempat memiliki Rule masing-masing yang berbeda dengan Indonesia. Bila sahabat Ruanita sudah paham benefit-nya, maka akan banyak perilaku bijak dalam membangun media sosial, seperti: memberi atau mencari informasi positif.
Sejauh ini, saya tetap akan menggunakan media sosial, baik Instagram, TikTok, dan evaluasi aplikasi kami untuk di teknologi pariwisata. Tentunya, ini akan menjadi sebuah alat atau produk yang bisa bermanfaat bagi orang banyak ke depan. Prinsip saya, media sosial merupakan salah satu bagian dari nyawa bisnis kami.
Selebihnya tulisan ini semata-mata saya petik berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mungkin sahabat Ruanita bisa memetik hal positif untuk membantu Anda semua untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam membangun bisnis di luar negeri. Sebaiknya, kita tidak ragu dan tidak salah untuk menentukan pilihan dalam menggunakan media sosial. Sekian dari saya. Bila ada kekurangan, harap dimengerti dan dimaafkan.
Penulis: Tyka Karunia, perempuan Indonesia berwirausaha di Barcelona, Spanyol, yang dapat dikontak melalui akun Instagram @tykakarunia.






