Pada episode RUMPITA kali ini, Anna dan Sesilia Susi berbincang bersama narasumber Benhard yang saat ini sedang tinggal di Spanyol. Benhard merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Joint Master Degree di bidang Sustainable Shipping 4.0.
Dalam podcast ini, ia membagikan pengalaman studi, pemahaman tentang digitalisasi di sektor perkapalan, serta tantangan dan strategi menuju industri kemaritiman yang lebih berkelanjutan.
Benhard menjelaskan bahwa program Erasmus Mundus memberikan kesempatan belajar lintas negara. Ia menjalani semester pertama di University of Naples Federico II di Italia, di mana ia mempelajari dasar-dasar konstruksi kapal dan stabilitas kapal, termasuk konsep second generation stability criteria yang sedang dikembangkan di dunia maritim.
Pada semester kedua dan ketiga, ia melanjutkan studi di Spanyol dengan fokus pada digitalisasi sistem perkapalan, sebuah bidang yang menjadi motivasinya sejak di Indonesia, mengingat tantangan dan peluang besar dalam modernisasi sistem pelayaran nasional.
Menurut Benhard, digitalisasi perkapalan tidak hanya berkaitan dengan teknologi tunggal, tetapi integrasi dari berbagai sistem seperti:
Internet of Things (IoT) untuk monitoring sistem kapal secara real-time.
Sensor suhu dan pH untuk sistem pendingin mesin.
Analisis data historis, misalnya untuk penjadwalan perawatan pompa.
Digitalisasi ini memungkinkan perawatan preventif dan efisiensi operasional kapal.
Benhard juga menjelaskan bahwa dorongan global menuju sustainable shipping datang dari lembaga internasional seperti United Nations melalui IMO (International Maritime Organization). IMO memiliki berbagai fokus seperti:
Energy efficiency, maritime safety, dan traffic support.
Ocean governance, technical cooperation, dan new technology & innovation.
Ia juga mengungkap fakta menarik bahwa 80% logistik global dilakukan melalui laut, sehingga emisi dari sektor ini menjadi perhatian besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah route optimization untuk jalur pelayaran yang aman, pendek, dan efisien.
Beberapa strategi yang dijelaskan oleh Benhard untuk mendukung zero emission shipping antara lain:
Logistik dan digitalisasi, termasuk pengurangan kecepatan kapal saat tidak perlu buru-buru.
Efisiensi hydrodinamik, seperti membersihkan lambung kapal agar tidak menambah beban mesin.
Optimalisasi mesin, misalnya menggunakan teknologi waste heat recovery atau fuel cell.
Penggunaan energi alternatif seperti biofuel, LNG, atau tenaga angin.
After-treatment, seperti teknologi carbon capture dan storage.
Benhard menjelaskan bahwa mencapai target zero emission pada 2050 bukanlah hal yang mudah karena:
Investasi teknologi masih mahal.
Ketersediaan bahan bakar alternatif tidak merata di seluruh dunia.
Adaptasi mesin kapal dan pelabuhan terhadap teknologi baru.
Pelatihan awak kapal yang harus diperbarui sesuai teknologi terbaru.
Desain kapal baru yang harus menyesuaikan dengan sistem ramah lingkungan.
Menurutnya, semua tantangan ini bisa diatasi jika perusahaan memiliki strategi adaptif sesuai dengan posisi dan target masing-masing.
Menjawab pertanyaan dari Sesilia, Benhard menyampaikan bahwa kapal kecil seperti ferry sungai dan passenger ship memungkinkan menggunakan baterai. Namun, kapal besar seperti kontainer atau tanker memerlukan daya besar dan pendinginan yang kompleks, sehingga kombinasi teknologi seperti baterai dan auxiliary engine masih diperlukan.
Untuk kapal yacht, penggunaan baterai juga mungkin, tergantung desain dan kebutuhan pemiliknya. Namun, ada tantangan seperti durasi pengecasan dan infrastruktur pelabuhan yang harus tersedia.
Untuk Sahabat Ruanita yang ingin memahami lebih jauh dunia maritim modern dan peran Indonesia dalam masa depan pelayaran global, episode ini memberikan wawasan yang sangat relevan.
Dengarkan langsung podcast ini hanya di kanal RUMPITA di Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:
PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.
Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.
Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan.
Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.
Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.
Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.
Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya.
Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.
Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.
Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.
Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.
Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Mariko Angeli yang tinggal di Spanyol. Saya adalah digital content creator yang senang membagikan kehidupan tinggal di Spanyol lewat laman media sosial ini. Berbicara mengenai budaya Spanyol, perbedaan yang mendasar yang dialami dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan, waktu makan, dan kebiasaan makan yang agak berbeda dari Indonesia.
Jenis dan menu makanan pun berbeda. Mereka di Spanyol sering mengkonsumsi banyak roti, sebagai makanan, dan anggur, sebagai minuman, dalam keseharian mereka. Menariknya, waktu makan siang di Spanyol itu pukul 14.00, sedangkan di Indonesia saya terbiasa makan siang pada pukul 12.00.
Di sekolah atau di tempat kerja kita memanggil atasan atau guru kita hanya dengan nama mereka saja. Itu yang menurut saya, salah satu norma sosial yang berbeda dengan di Indonesia. Meski hidup sudah terbilang modern di Eropa, tetapi saya masih menyaksikan bagaimana fenomenabudaya masih ada di Spanyol.
Saya menemukannya saat acara perkabungan. Saya melihat salah satu keluarga dari teman saya, yang merupakan orang lokal Spanyol, ikut serta di situ. Mereka masih menerapkan tradisi yang bernama Luto/Duelo Prolongado. Ini merupakan tradisi berkabung yang sangat lama bisa setahun atau lebih.
Dalam tradisi ini, keluarga atau orang-orang terdekat dari almarhum memperpanjang periode berkabung sebagai bentuk penghormatan, cinta, dan kesedihan mendalam. Perempuan yang berkabung biasanya mengenakan pakaian hitam penuh, termasuk gaun panjang, selama periode berkabung.
Terkadang mereka juga mengenakan kerudung hitam, dikenal sebagai mantilla. Laki-laki umumnya mengenakan setelan hitam atau pakaian dengan warna gelap. Warna hitam ini melambangkan duka dan kesedihan. Pakaian hitam ini bisa dikenakan selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada seberapa dekat hubungan dengan almarhum.
Di komunitas kecil atau desa, tradisi Luto Prolongado biasanya lebih ketat karena semua orang mengenal satu sama lain, dan tekanan sosial untuk mematuhi aturan berkabung lebih kuat.
Pada beberapa kasus, jika ada keluarga dalam masa berkabung, seluruh komunitas mungkin menyesuaikan gaya hidup mereka, seperti menghentikan acara-acara meriah untuk menghormati yang meninggal.
Disebut Duelo Prolongado, secara harfiah itu berarti duka cita atau kesedihan. Lebih lanjut, ini menjadi proses emosional atau psikologis yang mendalam dan dialami seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai.
Mereka berfokus pada perasaan internal dan proses duka yang berlarut-larut. Perasaan duka yang tidak cepat mereda, di mana seseorang mungkin tetap merasa sangat terpukul atau sedih dalam waktu yang lama.
Di jaman modern, tradisi ini sudah tidak begitu umum, apalagi di kota-kota besar termasuk di Barcelona, yang menjadi tempat saya tinggal. Saya hanya sekali itu melihat sendiri.
Mungkin, kita masih bisa menemukan lebih banyak lagi di daerah-daerah konservatif atau religius, seperti di daerah pedesaan di Andalucia, Galicia, atau Castile.
Di Spanyol, ada juga fenomena budaya lainnya yang disebut “ataques de nervios”. Dari literatur yang ditemukan, “Ataques de Nervious” merujuk pada suatu kondisi emosional atau serangan yang intens, seringkali disertai dengan gejala fisik dan emosional yang kuat seperti menangis, berteriak, tremor, dan perasaan kehilangan kontrol.
Kondisi ini sering dianggap sebagai respons terhadap situasi stres atau krisis emosional yang berat, dan biasanya terjadi dalam konteks sosial atau keluarga.
Menurut pandangan pribadi saya dan sekilas yang saya ketahui, stigma terhadap gangguan kesehatan mental masih ada di Spanyol, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.
Namun, pandangan ini perlahan berubah, terutama di kalangan anak muda. Peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental, didukung oleh kampanye sosial dan liputan media, telah membantu mengurangi stigma seputar terapi psikologis dan gangguan mental.
Kesadaran akan kesehatan mental di sini juga begitu gencar digalakkan. Saya pernah melihat ada iklan pemerintah di televisi, jika anak kita menjadi korban bullying, kita dapat mengontak nomor telepon bantuan yang disediakan.
Spanyol sepertinya masih memiliki budaya yang sangat erat dengan nilai-nilai keluarga dan komunitas. Dalam konteks ini, keluarga seringkali berperan sebagai sistem dukungan pertama bagi seseorang yang mengalami gangguan mental. Peran keluarga sangat penting.
Yang saya ketahui orang Spanyol dikenal memiliki kehidupan sosial yang kuat dan komunitas yang erat. Mereka sering terlibat dalam aktivitas sosial dengan keluarga besar, teman-teman, atau tetangga.
Dukungan sosial yang kuat ini sering menjadi sumber kenyamanan dan dukungan emosional. Ketika menghadapi stres atau masalah, mereka cenderung berbagi dengan orang terdekat, yang dapat membantu mengurangi beban emosional.
Selain fenomena budaya yang dijelaskan di atas, dalam konteks sosial budaya, saya perhatikan mereka memiliki tradisi yang unik lainnya. Saya sendiri belum pernah melihat atau mengenalnya di Indonesia.
Tradisi malam tahun baru di Spanyol, misalnya. Warga di sini memiliki kebiasaan memakan 12 buah anggur di 12 detik sebelum tahun yang baru. Menurut saya, ini adalah tradisi yang unik dan menarik dan berbeda dengan yang sering saya rayakan di Indonesia.
Jika sahabat Ruanita datang ke Spanyol, mungkin juga ada kesempatan untuk menyaksikan festival yang bernama El Colacho atau festival lompat bayi. Festival ini diadakan di kota Castrillo de Murcia di Spanyol utara.
Festival ini melibatkan seorang pria yang berpakaian sebagai “setan” (Colacho) yang melompati bayi-bayi yang diletakkan di atas kasur di jalan. Ritual ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan bayi dari dosa asli dan membawa mereka keberuntungan serta perlindungan. Meski tidak ada bayi yang dilaporkan terluka, buat saya tradisi ini agak aneh dan berbahaya.
Sebagai orang Indonesia di Spanyol, tak jarang mereka berpikir bahwa saya adalah seorang muslim. Warga lokal berasumsi bahwa semua orang Indonesia beragama Islam.
Ada juga yang tidak mengenal Indonesia, hingga saya menyebutkan pulau Bali, yang lebih banyak dikenal. Indonesia bukanlah negara yang sangat dikenal dari Asia Tenggara seperti Filipina, yang memiliki sejarah dan hubungan panjang dengan Spanyol.
Untuk beradaptasi di Spanyol, saya tidak memiliki masalah tetapi saya masih harus belajar dalam berkomunikasi. Di Barcelona, kita menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Catalan dan Bahasa Spanyol (Castellano), sehingga saya harus belajar dua bahasa tersebut untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik.
Tentu saja, kita terus belajar bahasa Spanyol karena dengan komunikasi yang baik kita bisa mengerti dan bisa cepat beradaptasi, termasuk juga dalam lingkungan kerja.
Secara pribadi, saya tidak memiliki tantangan yang signifikan. Malah saya merasa sistem kesehatan di Spanyol, seperti jaminan kesehatan dari pemerintah dan asuransi pribadi yang dipakai di sini sangat baik.
Begitu pula dengan sistem pendidikannya yang sangat baik, kita bisa mengaksesnya, mulai dari yang berbayar hingga gratis dari pemerintah. Tersedia juga banyak bantuan-bantuan pendidikan dari pemerintah dan swasta untuk siapa saja (lokal, imigran), yang menurut saya mungkin belum ada di Indonesia.
Menurut pengamatan saya tentang perkembangan gender di Indonesia dan di Spanyol yang tidak sepenuhnya, dalam beberapa dekade terakhir, Spanyol telah mengalami perubahan signifikan dalam hal kesetaraan gender.
Undang-undang yang mendukung kesetaraan gender, hak perempuan, serta kebebasan seksual sudah lebih diperhatikan. Representasi perempuan di politik juga cukup tinggi.
Di Spanyol, peran pria juga mengalami perubahan. Di masa lalu, pria dianggap sebagai pencari nafkah utama, tetapi kini ada ekspektasi bahwa pria turut berperan aktif dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Cuti ayah menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap tanggung jawab pria dalam mengasuh anak.
Kekerasan berbasis gender menjadi masalah serius di Spanyol, namun pemerintahnya telah berkomitmen kuat untuk memerangi hal ini. Ada undang-undang khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan kesadaran masyarakat terhadap isu ini semakin tinggi.
Nah, bagi sahabat Ruanita yang berencana pindah ke Spanyol untuk memahami dan mengatasi perbedaan budaya, adalah pelajari, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Spanyol, budaya, tradisi dan sebagainya, agar kita paham, apakah kita sanggup dengan segala perbedaannya.
Hal ini penting sebagai pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk pindah ke Spanyol. Selain itu, belajar Bahasa Spanyol Basic itu penting sekali, sebelum pindah ke Spanyol sehingga membantu dan meringankan kita dalam berkomunikasi dan tinggal di Spanyol.
Penulis: Mariko Angeli, Digital Content Creator, tinggal di Spanyol, dapat dikontak akun IG marikoangeli_
Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.
Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.
Mengenal Sosok Bernadia
Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).
Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.
“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.
Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.
Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.
Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.
“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.
Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.
Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.
Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.
Empat Pilar Trauma-Informed Yoga
Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:
Mengalami Momen Saat Ini Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
Membuat Pilihan Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
Mengambil Aksi yang Efektif Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
Membangun Ritme dan Keterhubungan Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.
Praktik yang Lembut dan Aksesibel
Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.
Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.
Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.
Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.
Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.
Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.
Tidak Mengkualifikasi Pengalaman
Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.
Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.
“Pengalaman tiap orang berbeda.
Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.
Peran Fasilitator yang Empatik
Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.
Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.
Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan
Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.
Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.
Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.
Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.
“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.
Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap
Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.
Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.
Komitmen Ruanita Indonesia
Program Cerita Sahabat Spesial merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menyediakan ruang aman, suportif, dan inklusif bagi komunitas untuk tumbuh dan pulih bersama.
Melalui platform ini, kisah-kisah inspiratif dan pendekatan penyembuhan yang beragam dibagikan untuk membuka percakapan, membangun empati, dan memperluas wawasan tentang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
Edisi kali ini adalah pengingat bahwa yoga bukan sekadar soal fleksibilitas tubuh, tapi juga tentang self-care pada diri sendiri. Tentang pilihan, kesadaran, dan koneksi.
Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi
Tentunya, ada banyak pertimbangan mengapa orang harus meninggalkan karier demi mengejar passion. Ada yang berhasil dalam menekuni satu karier dalam hidup mereka, tetapi ada pula yang telah berganti karier dan belum mendapatkan passion yang dicarinya.
Lewat program diskusi IG Live tiap bulan, Ruanita Indonesia lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi. Dia adalah relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Jerman, memandu obrolan seputar karier dan passion selama 30 menit. Rufi juga merupakan lulusan Master Governance and Public Policy dari University of Passau, Jerman.
Diskusi ini berhasil mengundang Tyka Karunia, perempuan Indonesia yang tinggal di Spanyol. Dia membagikan pengalamannya dalam membangun startup di bidang pariwisata yang bertujuan untuk menjembatani pengusaha UMKM Indonesia dengan pasar internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengejar passion yang sejalan dengan minat pribadi dan tanggung jawab yang dimiliki.
Karena masalah teknis, diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Putri Trapsiloningrum, seorang konsultan e-commerce di Jerman, pada kesempatan ini. Topik mengenai tantangan berkarier di Eropa turut dibahas. Tyka mengakui adanya perbedaan budaya, lingkungan, serta hambatan psikologis yang mempengaruhi proses adaptasi dan keberhasilan di lingkungan kerja.
Pada akhirnya, diskusi IG Live ini sepakat bahwa komitmen dan dukungan lingkungan, baik dari keluarga maupun rekan kerja, menjadi faktor penting dalam keberhasilan karier. Diskusi ini berlangsung selama 40 menit, di mana para peserta diajak untuk berinteraksi melalui kolom komentar dan bertanya seputar cara menemukan passion dalam karir mereka sendiri.
Acara diskusi ini juga menjadi ajang promosi untuk program mentoring karier perempuan di Eropa Barat yang akan diselenggaraka Ruanita dalam waktu dekat. Program ini akan mendorong peserta dapat belajar tentang pembuatan CV dan surat lamaran, khususnya untuk berkarier di Eropa.
Simak selengkapnya diskusi IG Live episode Eropa ini di kanal YouTube kami:
Halo Sahabat RUANITA semua, perkenalkan nama saya Tyka. Saya sekarang menetap di Barcelona, Spanyol. Saya berasal dari Bali, kemudian menetap di negeri matador ini lebih dari sepuluh tahun.
Sehari-hari saya adalah ibu rumah tangga, tetapi saya tidak mau tinggal diam. Saya juga mengembangkan bisnis di bidang pariwisata. Saya bertugas sebagai Business Development dalam usaha tersebut. Usaha tersebut memberikan saya banyak kesempatan, termasuk bertemu dengan berbagai orang dari berbagai karakter dan kebiasaan kerja.
Berikut saya bagikan sepenggal cerita, tentang pengalaman suka duka bertemu dengan berbagai orang seperti orang yang suka menunda pekerjaan/tugas. Menurut saya, menunda tugas/pekerjaan adalah kebiasaan buruk. Hal itu tentu saja membuat saya kecewa, kesal kadang marah dengan kebiasaan tersebut.
Baik sengaja maupun tidak disengaja, terkadang kita tidak menyadari kebiasaan menunda tugas/pekerjaan tersebut. Dan itu bisa terjadi pada siapapun, dalam berbagai bidang pekerjaan dan posisi jabatan loh.
Menurut saya, kita tidak bisa mengatakan kalau orang yang sering kali menunda pekerjaan/tugas itu adalah orang pemalas. Itu beda sekali. Anak-anak milenial sekarang menyebutnya adalah Procrastination. Saya tahunya hanya suka/sering menunda pekerjaan/tugas saja.
Orang yang malas adalah orang yang tidak melakukan apapun tugas/pekerjaannya dan dia merasa oke saja dengan hal tersebut. Namun, orang yang suka menunda pekerjaan seperti Procrastination yang disebut anak milenial itu adalah orang yang memiliki keinginan untuk melakukan tugas/pekerjaannya tetapi tidak bisa melakukannya. Alasannya bisa beragam.
Kita tidak bisa menghakimi seseorang, mengapa dia menunda tugas/pekerjaan, bisa saja dia sibuk. Namun orang yang sering/suka menunda pekerjaan menurut para ahli, mungkin saja dia tidak merasa percaya diri dengan tugas/pekerjaan yang diberikannya. Ada loh orang yang suka meragukan kemampuannya sendiri. Alasan lainnya, kita tidak pernah tahu kalau tugas/pekerjaan yang diberikan padanya itu membuat orang tersebut merasa bersalah.
Sahabat, kita harus memahami latar belakang mengapa seseorang itu sering kali menunda tugas/pekerjaan yang diberikan kepadanya. Kalau saya berpendapat, hal itu biasanya kesalahan mengelola waktu. Ada loh orang yang tidak bisa memilih tugas mana yang harus diselesaikan dulu dan mana yang harus diberi nomor dua, tiga, empat dan seterusnya.
Artinya, orang yang suka menunda tugas/pekerjaan bisa jadi dia tidak tahu bagaimana memberi prioritas pada pekerjaannya sehingga pekerjaan diberikan tidak tepat waktu. Bisa jadi orang menjadi stres tinggi atau sakit saat melihat tumpukan pekerjaan, kemudian muncul pada perasaan negatif yang membahayakan yaitu malas.
Tentu ini membuat image negatif terhadap orang tersebut seperti dicap kurang bertanggung jawab. Cap ini tentu membuat kita juga kurang mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kalau sudah kurang kepercayaan dari orang lain atau atasan di tempat kerja, tentu peluang kita untuk berkembang sebagai pribadi menjadi kecil. Malahan kita menjadi kehilangan kesempatan atau peluang yang membuat karir kita maju. Itu cuma gara-gara kita sering kali menunda pekerjaan/tugas loh.
Buat sahabat RUANITA semua, saya bagikan tips bagaimana agar kita terhindar dari kebiasaan buruk menunda tugas/pekerjaan berdasarkan pengalaman saya. Sebelum tidur biasanya saya selalu siapkan kertas dan pulpen untuk me-review hal-hal yang sudah saya lakukan pada hari tersebut.
Tak sampai situ saja, saya juga menulis hal-hal yang akan saya lakukan di hari berikutnya secara detil. Boleh dibilang, ini seperti jurnal harian yang membantu saya memilih atau memilah tugas yang jadi prioritas saya. Mana sih tugas yang harus diselesaikan duluan besok hari. Saya akan beri nomor urut dalam jurnal saya tersebut.
Saya tempelkan di samping cermin yang ada di kamar mandi. Mengapa? karena ini memudahkan saya untuk bisa melihatnya setiap kali saya bangun tidur. Dengan memiliki jurnal atau agenda harian, sesibuk apapun itu akan menjadi support kita. Kita tentu akan bersemangat menyelesaikan tugas tersebut dengan baikSebagai pemula, saya tahu hari pertama itu mungkin sulit. Namun saya terus melakukannya terus menerus sehingga menjadi kebiasaan dan terbiasa. Demikian sharing pendapat dan pengalaman saya. Terima kasih.
Penulis: Tyka Karunia, tinggal di Barcelona, Spanyol. Pengelola @fiindolan.id dan @mypasportmyparadise dan @wiracana_handfan.
Dewasa saat ini sedang terjadi proses transkulturasi di mana terjadi pertemuan antar kebudayaan, yaitu kebudayaan timur dan kebudayaan barat. Sejak lama pula kebudayaan dunia termasuk ilmu pengetahuan, fesyen, dan bahkan gaya hidup (Life style) banyak didominasi oleh kebudayaan barat. Di era globalisasi ini bukan saja dunia timur dilanda konsep dunia barat melainkan dunia barat pun mulai mengenal dan menerapkan budaya timur yang sudah sangat tua. Seperti budaya Bali, budaya Jawa, budaya Cina dan masih banyak lagi dunia barat memelajari dan mengajarkan budaya budaya timur di negaranya. Bahkan mereka menerapkan nilai-nilai budaya tersebut di dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Penularan-penularan budaya ini begitu cepat terjadi dan dominan dipicu dari peran sang perempuan di dalamnya. Fakta saat ini banyak muncul perempuan asli Spanyol yang mahir berbahasa daerah yang ada di Indonesia misalnya bisa berbahasa Jawa, bisa berbahasa Bali, atau bisa berbahasa Sunda. Selain mereka bisa berbahasa Indonesia, mereka juga bisa menguasai kesenian tari Bali, dan bisa menguasai cara membatik. Bahkan saat ini mampu membuka kursus tari Bali dan memiliki tempat kursus cara membatik di ranah Spanyol ini. Dia juga tahu cara memasak masakan khas Indonesia dan menjadikan menu makan malamnya.
Dikutip dari keberhasilan Angela Lopez Lara yang beralamatkan di Madrid Spanyol, dia berhasil memelajari budaya Bali. Saat ini dia mengajar dan membuka kursus tari Bali di Madrid Spanyol. Selain penularan budaya dari Indonesia, ada juga yang menguasai budaya Cina dan budaya dari negara-negara timur lainya.
Kesuksesan perempuan-perempuan hebat ini membuktikan bahwasanya peran perempuan itu sudah sangat jelas ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Perkawinan campur antara barat dan timur pun menjadi prasarana penularan dan pertukaran budaya yang terjadi begitu cepat. Dengan fakta-fakta ini, seperti memberikan ruang pendapat bahwa sang perempuan telah memiliki ruang yang selaras dengan laki-laki. Perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini tidaklah luput dari peran sang perempuan hebat di dalamnya.
Sebelum saya menulis, jauh saya mengajak Anda semua untuk melihat, mengerti, dan memahami dua sisi sang perempuan atas tingkat keberdayaannya. Dua sisi ini akan menciptakan sebuah hasil yang berlawanan antara satu dan lainnya. Dua tingkatan keberdayaan itu antara lain sisi pertama, perempuan itu ibarat air.
Dia akan terus mengalir dengan tenang dan mata airnya menjadikan sumber kehidupan bagi makluk hidup serta tumbuhan yang ada di muka bumi ini. Tetapi air yang tenang itu bisa juga membawa kita terjebak dan tenggelam di dalamnya. Dalam artian perempuan adalah sumber kemakmuran yang bisa membawa kemakmuran baik di lingkungan kecil maupun di sebuah lembaga besar.
Perempuan akan memberikan sumber-sumber kekuatan yang dahsyat apabila ditempatkan pada tempat yang benar serta nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan. Perempuan akan mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan sebuah hasil yang menakjubkan. Namun bila perempuan ditempatkan di tempat yang kurang betul, bisa menjadikan bumerang bagi banyak insan. Sifat perempuan ditindas, dilecehkan, tidak dihargai ini adalah sumber air yang bahkan bisa menenggelamkan dunia.
Sisi kedua adalah perempuan bisa juga menjadi sebuah bola api yang bisa membakar, menjadikan arang, dan hanya meninggalkan sisa-sisa abu di muka bumi ini. Dalam artian sudah saya singgung di atas, penghargaan nilai-nilai norma perempuan harus dijunjung tinggi, dihargai, dan dilestarikan.
Itulah kehebatan dan kekuatan daya yang ada pada sang perempuan. Di era globalisasi saat ini belum semua orang bisa mengerti dan memahami dua sisi perempuan ini. Bahkan mereka belum melibatkan perempuan untuk berkolaborasi baik di tingkat lingkungan atau organisasi kecil maupun di sebuah komunitas yang besar seperti ruang politik, keuangan, wirausaha bahkan ketatanegaraan.
Sudah banyak kita melihat peran-peran yang sangat luar biasa tercipta dari perempuan-perempuan hebat. Peran sang perempuan pada era cerita Siti Nurbaya sudah seakan-akan mulai lenyap, lama-lama hilang terkubur begitu saja dengan berjalannya masa. Yaitu dari masa dulu ke masa kini dan hanya meninggalkan sepenggal cerita.
Sedikit kita menoleh ke belakang lagi atau ke masa yang sudah lampau sebenarnya. Sudah begitu banyak kekuatan daya perempuan yang mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan di dunia ini. Akan tetapi itu masih kurang untuk mengetuk hati sang perempuan lainya untuk membangun keberanian diri, meniru bahkan melakukan jejak perempuan-perempuan hebat tersebut.
Namun dengan berjalannya masa, dari masa lampau ke masa baru, menghantarkan sang perempuan memiliki perubahan-perubahan besar. Tentunya dari pengaruh perubahan besar tersebut, ini mampu menciptakan sebuah perubahan yang besar pula di lingkungan perempuan tersebut. Sang perempuan tidak akan tertinggal begitu saja .
Kemajuan dan perubahan besar sebuah negara akan didominasi oleh peran sang perempuan dan juga peran dari anak-anak bangsa. Sejatinya di sini peran utama berasal dari peran sang perempuan tersebut. Anak-anak bangsa yang begitu hebat dan cerdas luar biasa terlahir ke muka bumi ini dari sang perempuan.
Perempuan tidak cukup hanya melahirkan saja, tetapi juga membesarkan, mendidik, menumpu, dan membentuk sebuah karakter dari anak-anak bangsa tersebut. Begitu adalah mayoritas peran hebat sang perempuan.
Menyadari akan kekuatan daya sang perempuan di tanah Spanyol ini, tidak heran apabila Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan dengan semangat antusias „Selamat datang dunia baru!’’ dengan memilih dan memercayakan kabinet barunya yang didominasi oleh sang perempuan. Adalah 11 menteri perempuan dan 6 menteri laki-laki.
Ini telah menjadi sejarah pertama kalinya dalam demokrasi moderen di negara Spanyol. Gebrakan gerakan gelombang demo feminis dengan jumlah kisaran di atas ribuan wanita turun ke jalan. Pada tanggal 8 Maret 2018 tuntutan tersebut antara lain: keselarasan kedudukan perempuan dengan laki-laki, kesamaan derajat, kesamaan gaji disuarakan oleh mereka. Sinyal ini ditangkap oleh Pedro Sanchez sehingga dia memutuskan bahwa peran perempuan di sekelilingnya akan membawa perubahan besar dan kemajuan di negara tersebut.
Selain di negara Spanyol, tidak kalah juga di negara kita yaitu Indonesia yang terus bermunculan sosok perempuan-perempuan hebat. Mereka mengisi dan turut serta ambil andil dalam peranya untuk membangun dan membawa negara Indonesia. Misalnya perubahan besar susunan kabinet menteri yang memercayakan kekuatan perempuan di dalamnya.
Ada partai politik, bisnis, dan masih banyak fakta perubahan besar lainnya yang tidak lepas dari peran sang perempuan yang luar biasa dalam keikutsertaannya berkolaborasi di dalam ruang publik. Ini telah menjadikan suatu inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di tengah masa perubahan besar dalam hempasan masa.
Perubahan-perubahan besar ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan yang mungkin sarana dan prasarana lebih memadai tetapi juga di daerah yang mungkin internet belum begitu sempurna difungsikan. Dampak dari perjalanan waktu, dari masa ke masa, tersebut akan membentuk sang perempuan untuk memiliki perubahan.
Sebuah kesimpulan dalam beberapa poin mungkin bisa membantu Anda semua menjadi bahan pengingat antara lain:
Setiap perempuan itu dilahirkan ke muka bumi ini dengan memiliki keunikan tersendiri, kecantikan, kelembutan, kecerdasan, dan keberanian serta kekuatan yang luar biasa dan juga memiliki peran untuk mampu melahirkan anak-anak muda yang hebat. Kekuatan, kesabaran, dan kecerdasan sang perempuan tidak ada batasannya. Namun sang perempuan mampu mengontrol diri untuk tidak menjadi kelewat batas dalam setiap perannya.
Perempuan adalah sumber energi kekuatan yang tepat untuk membangun dan mefungsikan keberdayaannya untuk mencapai suatu titik keberhasilan. Ini merupakan titik kesuksesan yang besar apabila ditempatkan pada tempat yang benar apabila diberi kepercayaan, toleransi dan dihargai.
Kesamaan kuasa ataupun tingkat kepemimpinan sosok perempuan bukan suatu pukulan. Ini bukan hal yang sangat menyedihkan bagi kaum laki-laki. Justru ini merupakan kolaborasi dengan laki-laki pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan seorang laki-laki.
Sesungguhnya kesuksesan seorang laki-laki itu pasti ada peran perempuan hebat di belakangnya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat dan bisa sedikit menambah informasi bagi Anda semua. Mari kita memahami, mengerti, dan menghargai sesama dengan cinta kasih sejati.
Penulis: Tyka Karuniawan, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Spanyol.