(AISIYU) I am Enough

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Rena yang tinggal di Swiss.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Lesson Learned Jadi Business Analyst dan Single Mom di Swiss

Program Diskusi Podcast Rumpita – Rumpi by Ruanita Indonesia – tayang tiap bulan dengan berbagai tema yang ditawarkan. Pada episode Maret 2025 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema terkait perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. Oleh karena itu, informan yang diundang adalah sahabat Ruanita yang tinggal di Swiss.

Dia adalah Sekar, yang telah lama tinggal di Swiss sejak tahun 2017, kini bekerja sebagai Business Analyst di perusahaan swasta yang menyediakan data-data finansial untuk kebutuhan kliennya.

Sekar sendiri secara profesional telah berhasil memimpin timnya yang terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang kebangsaan.

Sekar bercerita perjalanan kariernya yang tak mudah. Itu semua bermula dari pekerjaannya di Indonesia yang berurusan dengan perbankan. Tak puas dengan kariernya di Indonesia, Sekar memutuskan untuk mengambil studi lanjutan di Korea Selatan.

Para pendengar Podcast RUMPITA akan mendengar bagaimana perjalanan kuliah Sekar yang tak mudah juga di Korea Selatan, yang semula dibayangkannya indah seperti layaknya drama-drama yang disajikan dalam film asal negeri gingseng ini.

Kuliah belum selesai di Korea Selatan, Sekar bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Sekar pun memutuskan untuk pindah dan melanjutkan studi di Swiss.

Follow us

Swiss merupakan negara maju yang tak mudah juga ditaklukan oleh Sekar seorang diri, ketika akhirnya dia harus menjadi Single Mom.

Lewat kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Swiss, Sekar tidak perlu bekerja banting tulang seratus persen agar dapat membesarkan anaknya.

Sekar bisa tetap merawat anaknya dan bekerja secara profesional. Meski telah berpisah dengan suami, Sekar pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan anaknya untuk membesarkan anak mereka.

Simak diskusi podcast yang dipandu oleh Kristin dan Anna tentang perjalanan karier Sekar mulai dari Indonesia, Korea Selatan, hingga Swiss. Apakah mendapatkan pekerjaan di Swiss itu cukup hanya berbekal Bahasa Inggris saja?

Apa saja syarat-syarat untuk berkuliah di Korea Selatan dan di Swiss? Bagaimana Sekar berbagi peran dan tanggung jawabnya menjadi pekerja profesional dengan seorang Single Mom? Apa kiat-kiat Sekar untuk menjalani kehidupan kerja yang seimbang di Hari Perempuan Internasional ini?

Jangan lupa FOLLOW akun Spotify Rumpita, Rumpi by Ruanita Indonesia agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Safer Internet Day

Program IG LIVE lewat platform akun instagram @ruanita.indonesia dilaksanakan tiap bulan dengan berbagai tema diselenggarakan sebagai ruang diskusi dan berbagi inspirasi.

Pada bulan Februari 2025 ini, tema yang diambil sejalan dengan Safer Internet Day yang diperingati pada 11 Februari 2025 lalu.

Safer Internet Day mengingatkan kita bahwa internet kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan dan kita perlu aware tentang bagaimana berinternet yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Demikian pernyataan pembuka pemandu diskusi, Host IG LIVE, yakni relawan Ruanita Indonesia – Zukhrufi Sysdawita.

Bagi Herawasih Yasandikusuma, Digital Marketer yang bermukim di Swiss, Safer Internet Day adalah momen untuk kita dapat menjaga informasi pribadi.

Selain itu, dia menghimbau bagaimana menggunakan sandi atau password yang aman dalam berinternet. Wasih – demikian disapa – mengingatkan pentingnya multi-faktor autentifikasi.

Berkaitan dengan kecerdasan buatan, Wasih juga menyatakan bagaimana hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence, yang dapat membantu kita bekerja.

Lainnya, Netti yang tinggal di Serbia dan aktif sebagai digital content creator – menyatakan pentingnya edukasi tentang kultur berinternet, termasuk bagaimana mengedukasi anak-anak yang berusia sekolah.

Di Serbia, Netti menegaskan sudah ada program untuk sekolah tentang literasi digital.

Meski orang tua masih khawatir dengan internet untuk hal-hal yang tidak edukatif, tetapi orang tua bisa membuat batasan pada anak yang bisa diatur pada bagian setting platform media sosial tersebut, seperti misalnya: Facebook atau Instagram.

Lebih lanjut diskusi IG LIVE ini dapat disimak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Pengalaman Pernah Jadi Program Manager Isu HIV & AIDS di Papua

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.

Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.

Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.

Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.

Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.

Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Meski Orang Tua Berpisah, Anak dengan Orang Tua Tidak Berpisah

Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.

Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya. 

Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.

Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.

Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.

Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali. 

Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)

Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.

follow us

Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.

Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.

Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.

(PELITA) Tantangan Single Mom yang Tinggal di Luar Indonesia

Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.

Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.

Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.

Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.

Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?

Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Menurut Saya, Career Gap itu Self Acceptance dan Berani Keluar dari Comfort Zone

Menikah adalah salah satu fase dalam kehidupan yang momennya banyak melibatkan emosi baik keluarga, pasangan bahkan diri sendiri. Perkenalkan saya adalah Inur, berasal dari keluarga pendidik atau pengajar. Ayah, ibu dan kedua kakak saya adalah seorang pengajar, baik di instansi, sekolah dasar dan universitas. Begitu pun saya, enam tahun mengajar di universitas swasta di daerah Depok – Jawa Barat. Sampai pada akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan. 

Sebagai satu-satunya orang yang mengatur personalia, rasanya senang sekali pada saat itu walaupun saya merasa ada gap antara yang saya pelajari (Psikologi Klinis) dengan aplikasi pada pekerjaan (Psikologi Industri dan Organisasi). Namun saya berusaha untuk bisa menjadikan diri saya bukan sekedar melihat sisi Industri dan Organisasi tetapi bisa sekaligus melakukan konseling ketika karyawan mengalami masalah. Observasi ketika rekrutmen tidak selalu berdasarkan yang tampak, tetapi saya pun mencoba menganalisa dari hal-hal yang biasanya luput dari penilaian User

Selama tujuh tahun bekerja di perusahaan terakhir, saya merasa memiliki keluarga yang sangat dekat. Prinsip saya, ketika bekerja kami adalah rekan kerja, tetapi ketika selesai bekerja mereka adalah adik, sahabat, kakak, bahkan orang tua yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Kondisi comfort zone tersebut terpaksa harus saya akhiri karena saya menikah dengan pria warga negara Switzerland. Tepatnya 30 November 2021 saya resmi mengundurkan diri dan siap untuk pindah ke negara bersalju. 

‘’Sedih yang tidak berujung’’ benar-benar menjadi kalimat yang saya rasakan. Dimulai dengan surprise farewell dari Departemen Operasional & HRGA. Makan-makan yang awalnya menjadi Birthday Lunch seorang teman (karena saya bertugas membeli kue ulang tahun) ternyata itu adalah surprise Farewell Lunch saya. 

Rasa haru melebihi surprise ulang tahun, betapa tidak,  pelukan dari atasan dan sahabat diiringi lagu “Mungkinkah” dari Stinky. Sama sekali tidak ada kecurigaan, momen ulang tahun yang seharusnya hanya berlima menjadi 2 meja panjang dari 2 departemen. 

Lagu selamat ulang tahun yang biasa dinyanyikan semua pramusaji  berganti jadi lagu sedih, polosnya di awal saya tetap membuat video dan happy, sampai seorang teman memeluk saya dari belakang kemudian atasan juga ikut memeluk. Baru saya sadar, momen, hadiah bahkan kue ulang tahun yang bertuliskan nama teman semuanya di hari itu adalah untuk saya. Terima kasih ibu dan bapak, teman-teman semuanya, masih suka sedih kalau melihat video tersebut.

Begitu juga di hari terakhir saya bekerja, sengaja saya memesan makanan untuk semua karyawan agar kami bisa makan bersama-sama. Sepatah dua patah salam perpisahan dari saya sebelum kami semua mulai mengambil makanan. Walaupun saat itu masih berjalan sistem pembagian Work from Home dan Work from Office, tetapi bersyukur banyak karyawan yang tetap datang ke kantor sehingga momen dan foto perpisahan terasa sangat hangat. 

Kemudian kurang lebih seminggu setelah hari terakhir saya bekerja, salah satu teman kantor berkunjung ke rumah untuk memberikan hadiah perpisahan dan foto bersama yang dibingkai dengan ukuran yang sangat besar. Infonya, ada teman yang inisiatif untuk mengumpulkan dana untuk kemudian dibelikan beberapa barang yang sangat berguna saat musim Winter. Masha Allah, saya bersyukur diberikan rekan kerja seperti saudara. Sampai dengan tulisan ini saya buat, Alhamdulillah saya masih menjalin komunikasi dengan hampir semua teman kerja.

Perasaan senang akhirnya bisa bersama dengan suami, tetapi  juga sedih harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Namun hidup harus berjalan, kita tidak pernah mengetahui rencana Sang Pencipta. Tanggal 8 Desember 2021  saya tiba di Switzerland, pengurusan semua dokumen pun selesai. Mulailah saya berpikir: “Terus saya ngapain disini? Apa yang bisa saya kerjakan dan juga menghasilkan ?”

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya sempat merasa up and down, stres karena tuntutan merasa harus segera mengikuti les bahasa. Sampai pernah ada momen saya takut ketemu kakak ipar karena selalu ditanya update les bahasa. Pengeluaran rutin tetap berjalan sementara pemasukan rutin belum ada. Merasa inferior, tidak berdaya, bergantung parah sampai akhirnya menangis sejadi-jadinya ke suami. 

Alhamdulillah suami sangat mengerti, dia tidak pernah memaksa saya untuk bekerja, bahkan untuk les bahasa. Dia sangat senang ketika saya izin main bertemu teman WNI yang juga tinggal di Zürich. Senyumnya sumringah ketika saya pulang dari Asia Store membawa belanjaan. Hampir setiap minggu saya main bertemu dengan teman-teman, makin banyak kenalan makin banyak pelajaran, ilmu, motivasi bahkan nasehat yang saya dapat. 

Pemahaman saya pada saat itu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Swiss, mostly must be certified dari lembaga atau sekolah di Swiss juga. Pusing lagi kan jadi nya, 😀

Searching di social media, tawaran dari teman yang kerja di restoran, bikin saya tambah bingung. Saya sempat merasa takut antara mau kerja tapi jadi harus bicara sama orang, nah bahasanya saja belum lancar.

Awalnya saya belum pernah mendengar yang namanya Career Gap, tapi mungkin yang saya lalui selama 6 bulan pertama di Switzerland adalah fenomena Career Gap, di mana saya tidak sedang bekerja karena menikah dan harus pindah negara. Menurut saya sebenarnya Career Gap ini sering sekali terjadi. Tidak hanya kaum perempuan, para pria juga mengalami. Hanya saja dilihat dari alasannya, mungkin kaum perempuanlah yang lebih sering mengalami. Beberapa alasan terjadinya Career Gap adalah menikah, memiliki anak, pindah tempat tinggal, pemutusan hubungan kerja, dll.

Pada kasus saya, setelah mencoba aktif di media social dengan belajar buat video dan foto yang aesthetic, soal masakan atau sekedar memperlihatkan keindahan kota tempat saya tinggal, saya merasa jenuh karena menuntut saya harus terus aktif setiap hari untuk benar-benar menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati teman di media social

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah platform Babysitting di Switzerland. Bermodal senang dengan anak kecil, dekat dengan semua keponakan dan Bahasa Inggris, saya coba membuat account. Tiga bulan setelahnya tawaran pekerjaan masuk melalui message, mereka berkewarganegaraan USA yang juga tinggal di Switzerland dan berjarak hanya 500m dari rumah. Berkunjung ke kediamannya, bertemu dengan anak dan mendiskusikan banyak hal mengenai pekerjaan. Setelah itu saya diskusikan kembali dengan suami, apakah baik untuk saya lanjutkan atau tidak. 

Memiliki pekerjaan membuat saya lebih mandiri dan percaya diri. Banyak hikmah yang saya pelajari. Perbedaan negara yang signifikan membuat saya harus menyadari saya bukan siapa-siapa di sini. Selalu berdiskusi dengan suami adalah hal penting bagi saya. Apakah pekerjaan saya akan membuatnya malu atau tidak, bagaimana kira-kira pendapat keluarga suami apakah akan memalukan bagi mereka atau tidak. 

Hal itu yang saya ke depankan sebelumnya. Setelah mendapat pekerjaan, kepercayaan dan menyayangi anak kecil seperti keponakan atau anak sendiri adalah cara saya memperlakukan mereka. Saat menemani anak bermain, seringkali kami mengunjungi teman-teman sekolahnya, sehingga para orang tua mengenal saya dengan baik. 

Ini saya dengar karena mereka menceritakannya ke saya 😊. Sampai akhirnya beberapa di antara mereka meminta untuk Occasional Babysitter. Tepat 1,5 bulan pekerjaan tersebut selesai dan lanjut pekerjaan berikutnya tanpa gap, kontrak kerja yang awalnya hanya dua bulan dan sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan 😊

Memiliki beberapa kenalan (orang tua anak sekolah) di kota yang sama membuat saya merasa punya teman dan tidak sendiri lagi. Kondisi ini membuat saya semakin berani dan pada akhirnya mendaftar Kursus Bahasa Jerman yang diadakan oleh Gemeinde kota tempat saya tinggal. 

Yap, makin banyak kenalan, makin sering tegur sapa karena bertemu di supermarket, taman bermain, dan public transport. Tidak hanya para orang tua, tetapi kasir supermarket, pegawai restoran dan gerai toko di supermarket, sampai beberapa bus driver dan taxi driver. Masha Allah, senang sekali rasanya saat ini, saya merasa aman karena sudah punya banyak kenalan dan tidak khawatir lagi walaupun pulang malam.

Kembali perihal Career Gap, menurut saya intinya ada self-acceptance. Ketika kita menerima dengan baik kondisi tersebut, maka secara tidak sadar tubuh pun akan merasa rileks. Saat merasa santai, cara pandang dan cara berpikir akan lebih baik. Begitupun dengan pemilihan aktivitas yang ingin dikerjakan, apakah tetap mencari pekerjaan baru atau sekedar menyalurkan hobi. 

Namun peran pasangan, keluarga atau teman dekat juga sangat mempengaruhi. Bagaimana mereka ikut menerima, memotivasi, memberi nasehat, dan atau memberi solusi. Saya bersyukur atas segalanya, tetapi tetap bermimpi suatu saat bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Jerman dan atau Swiss German. Saya juga ingin mendapat pekerjaan sesuai dengan mimpi saya. 

Penulis: Inur Darham, seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Inur memelajari Psikologi Klinis pada jenjang Universitas, mengajar di Fakultas Psikologi, menjadi pembicara pada beberapa Dialogue Interactive, menggeluti bidang Human Resource pada Pest Control dan Oil and Gas Company, menikah lalu mengundurkan diri dan kini tinggal di Switzerland.