
Nama pembuat foto: Linda Wahyuni Wijaya-König
Lokasi negara tinggal: Indonesia
Judul foto: Unbreakable
Keterangan foto: Dapur adalah tempat teraman Mama.

Nama pembuat foto: Linda Wahyuni Wijaya-König
Lokasi negara tinggal: Indonesia
Judul foto: Unbreakable
Keterangan foto: Dapur adalah tempat teraman Mama.

Nama pembuat foto: Go Suan Ny
Lokasi negara tinggal: Jerman
Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)
Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster.
Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.
Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.
(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.
Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.

Nama pembuat foto: Ayushillaby
Lokasi negara tinggal: Indonesia
Judul foto: Malam Ibu Kota Selalu Sama (kiri) dan Sudut Ruang Wanita (kanan)
Keterangan foto: (kiri): Ibu kota menjadi tempat berkumpulnya pencari nafkah, dengan segala bentuk lelah terlihat dari ramainya transportasi.
(kanan): Perempuan masuk ke dalam prioritas transportasi umum, namun rasa mana masih menjadi kekhawatiran.

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.
Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.
Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.
Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.
Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.
Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.
Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.
Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini:

Nama pembuat foto: Mariska Ajeng Harini
Lokasi negara tinggal: Jerman
Judul foto: Lampu di Jalan
Keterangan foto:
Tidak bisa dipungkiri malam hari bukan waktu yang tepat untuk perempuan berada di luar rumah, salah satu alasannya adalah kurangnya lampu penerangan di jalan.
Lampu-lampu di jalanan bukan hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadikan jalanan sebagai ruang aman untuk perempuan di malam hari.

Nama pembuat foto: Rena Lolivier
Lokasi negara tinggal: Swiss
Judul foto: Semua Salahmu
Keterangan foto: Foto ini adalah foto ilustrasi yang saya buat untuk menggambarkan kekerasan seksual yang banyak menimpa perempuan dan bagaimana pakaian seringkali dijadikan alasan pemicu terjadinya kekerasan seksual.

Nama pembuat foto: Asti Tyas Nurhidayati
Lokasi negara tinggal: Islandia
Judul foto: Pizza vs Volcano
Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang.
Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan.
Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.

Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.
Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.
Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.
Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.
Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.
Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.
Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini:

Jerman, 2024 – PERINMA (Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju) bekerja sama dengan Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar Workshop Online Produksi Konten Video Digital. Program ini bertujuan untuk membekali warga Indonesia di Eropa yang tergabung sebagai anggota PERINMA untuk memproduksi konten video yang menarik dan efektif untuk promosi usaha, kegiatan organisasi, dan komunikasi digital.
Seiring dengan semakin luasnya akses internet dan penggunaan smartphone, video telah menjadi media penting dalam pemasaran digital. Namun, masih banyak warga Indonesia yang tergabung sebagai anggota dan simpatisan PERINMA yang belum terampil, dalam memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung bisnis atau kegiatan mereka. Menanggapi kebutuhan tersebut, workshop ini dirancang untuk memberikan pelatihan praktis yang aplikatif dan mudah diikuti.
Ada pun workshop online ini dilakukan melalui saluran media zoom meeting, dengan sebelumnya mendaftar lewat formulir elektronik yang terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA. Peserta yang ikut serta harus membayar kontribusi yang rencananya akan didonasikan bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Flores Timur NTT saat ini, yang terdampak bencana erupsi Gunung Lewotobi.
Acara Workshop berlangsung selama tiga kali pertemuan, yakni 16 dan 23 November 2024, yang mana peserta akan mendapatkan penguatan kapasitas seperti teknik dasar membuat konten video lewat aplikasi non berbayar dan membuat storyboard. Selanjutnya, peserta juga akan mendapatkan keterampilan seputar menggunakan aplikasi video editing untuk membuat video yang edukatif dan sesuai kebutuhan peserta.
Pada pertemuan terakhir, 7 Desember 2024 peserta akan menampilkan produk video kontennya sebagai produk akhir workshop online, yang diselenggarakan PERINMA bersama Ruanita. Pemateri dalam workshop ini adalah Cindy Guchi, yang adalah Digital Content Creator sekaligus Relawan Ruanita Indonesia yang kini menetap di Vietnam. Workshop ini terbuka untuk anggota dan simpatisan PERINMA.
Ruanita Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mendukung warga Indonesia di luar negeri, khususnya perempuan. Sejak 2021, Ruanita telah menjadi social support system untuk orang Indonesia di luar Indonesia melalui pendekatan berbasis komunitas, platforma digital, pengelolaan berbasis nilai, yang berfokus pada isu kesetaraan gender dan kesehatan mental. Workshop ini mencerminkan komitmen Ruanita Indonesia untuk meningkatkan peran dan partisipasi orang Indonesia di luar Indonesia lewat platforma digital.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ruanita.com atau hubungi info@ruanita.com.

”Distance does not matter if you really love the person. What matters most is your honesty & trust for that relationship to work out.” – unknown
Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Inginnya setiap detik bersama atau berdekatan dengan yang tercinta. Namun, apa daya, hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya, kita harus berpisah sejenak dengan suami dalam hitungan bulan atau tahun.
Keputusan berpisah sejenak itu disebabkan oleh banyak alasan, seperti faktor domisili asal suami yang berbeda suku bangsa negara atau pekerjaan yang membuatnya harus merantau ke luar negeri. Dengan demikian, konsep long distance relationship marriage (LDMR) menjadi pilihan terbaik dengan semua konsekuensinya.
Lalu, apa sih tantangan terberat yang dialami oleh para pelaku LDMR, khususnya yang berbeda negara domisili itu?
Semua pelaku long distance relationship marriage (LDR) mengakui faktor jarak antar negara dan perbedaan zona waktu yang ekstrim menjadi tantangan terberat dalam membangun komunikasi yang sehat. Mengapa? Karena komunikasi adalah kunci sukses dari sebuah hubungan cinta yang sehat. Nah, di sinilah diperlukan kedewasaan dalam pola pikir dan sikap para pelakunya, termasuk, harus ada kesepakatan bersama agar komunikasi dua arah tetap terjalin baik.
Kecanggihan teknologi telekomunikasi dewasa ini memberikan banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan pasangan via teks (short message service/sms), direct message (DM) via akun sosial media (Facebook, Instagram atau Whatssapp) atau videocall message via Whatsapp, Zoom, Google Meet atau FaceTime. Semua bentuk komunikasi itu bisa dilakukan realtime.
Namun, kecanggihan komunikasi online-virtual itu tetap tidak bisa menggantikan pertemuan fisik. Ada banyak hal yang membuat sepasang kekasih ingin selalu berdekatan secara fisik. Hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dan dimengerti oleh pasangan yang sedang memiliki love-relationship.
Pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjalani long distance marriage relationship (LDR) itu diakui oleh Ria Hakefjäll (36 tahun). Sebelum pindah dan stay for good di Swedia, Ria sempat menjalani hubungan long distance marriage relationship (LDMR) hampir setahun lamanya dengan suami tercinta yang berkebangsaan Swedia.
Hal itu disebabkan karena Ria harus menyelesaikan berbagai urusan terkait kepindahannya ke Swedia. Sementara, suami harus segera balik pulang karena pekerjaan setelah menikah di Indonesia. Tentu tidak mudah buat Ria dan suami menjalankan kehidupan rumah tangga yang terpisah jarak ribuan kilometer, Indonesia-Swedia.
Selain itu, faktor perbedaan waktu antara Indonesia dengan Swedia yang ekstrim juga menjadi tantangan tersendiri. Waktu Indonesia itu 5 atau 6 jam lebih awal daripada Swedia. Bayangkan saja, saat Ria memulai aktivitas pagi hari, suami tercinta masih terlelap dalam tidur malamnya. Begitupula sebaliknya. Rasanya ingin berbagi cerita tentang aktivitas hari itu, usai pulang kerja sore hari, namun isteri tercinta sudah siap beranjak ke peraduan. Lalu, bagaimana Ria dan suami menyikapinya?
Ria dan suami sepakat menentukan waktu khusus pada jam tertentu setiap harinya dan pada akhir pekan agar komunikasi tetap terjalin baik. Pasangan pecinta nature-hiking ini menyebut momen khusus itu, video-call dating. ”Via video-call dating ini, saatnya kami berdua bisa berbicara tentang apa saja dengan lebih tenang.
Kami dapat lebih fokus membahas tentang harapan, rencana kehidupan dan perasaan satu sama lain. Intinya, momen video-call dating ini membuat kami mampu menjaga keintiman emosional,” jelas Ria. Lebih lanjut Ria menambahkan, momen video-call dating ini juga membantu mereka untuk meminimalkan rasa cemburu dan buruk sangka terhadap pasangan.
”Saat itulah, kami bisa bicara panjang lebar tentang apa saja. Jika ada permasalahan di antara kami, harus selesai pada momen video-call dating itu,” tegasnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Sadya Nur Anisa. Wanita berusia 28 tahun berprofesi dokter umum itu harus berpisah setahun lamanya dengan suami yang melanjutkan kuliah S2 di Stockholm. Bahkan saat itu, sudah hadir buah cinta mereka yang masih berusia balita.
Buat Sadya, tantangan terberat menjalani hubungan pernikahan jarak jauh itu ketika anak sakit. Tentu kehadiran suami secara fisik saat anak sakit itu sangat berarti buatnya dan terasa berbeda dibandingkan percakapan via video-call untuk menjelaskan kondisi anak.
”Ada hal-hal yang hanya bisa diceritakan ke pasangan. Untuk itu, kami berkompromi menentukan waktu yang sekiranya bisa dipakai untuk melakukan video-call. Bercakap-cakap di waktu khusus itu saatnya kami menceritakan keseharian atau keluh kesah di hari itu kepada pasangan,” jelas Sadya.
Ya! Adanya waktu khusus untuk bercakap-cakap dari hati ke hati pada jam tertentu setiap harinya dan akhir pekan itu mampu membangun keintiman emosional meskipun tetap berkabar setiap harinya, seperti mengucapkan Selamat Pagi/Siang/Malam, bertanya aktivitas hari itu atau Selamat Beristirahat via teks sms atau WhatsApp.
Buat Ria dan Sadya, berkirim kabar setiap hari itu sangat penting dalam hubungan cinta jarak jauh. ”Bagi kami, berkirim kabar itu terlihat remeh dan kecil, namun “wajib” dalam hubungan kami,” tegas Ria.
Lalu, Sadya menyarankan untuk tetap merayakan momen-momen spesial seperti ulang tahun pasangan atau anniversary meskipun hal itu dilakukan via video-call.
Upaya saling berkirim kabar diakui oleh Ria dan Sadya juga sebagai cara membangun dan memertahankan rasa saling percaya dalam hubungan cinta jarak jauh, termasuk, menjembatani perbedaan budaya antar dua negara seperti yang dialami oleh Ria dan suami.
”Buat kami, komunikasi rutin sepanjang hubungan jarak jauh kami, bahkan sampai sekarang itu sangat membantu kami membangun rasa saling percaya dan pengertian serta mengenal pasangan semakin dalam,” jelas Ria.
Untuk menjembatani perbedaan budaya, Ria memulai belajar bahasa Swedia, bahasa ibu suami tercinta. Begitupun sebaliknya. Buat mereka, kemauan belajar untuk memahami dan bercakap-cakap dalam bahasa ibu pasangan juga kunci utama membangun dan menjaga harmonisasi hubungan cinta meskipun, mereka berdua lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama.
”Bahasa Swedia juga membantu saya untuk memahami lebih baik budaya negara suami. Hal yang sama dirasakan saat suami belajar bahasa Indonesia. Bahasa ibu itu pintu masuk memahami dan menjembatani perbedaan budaya”, tambah Ria.
Sementara itu, Sadya dan suami tidak memiliki kendala bahasa dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Mereka berdua berasal dari negara yang sama, yakni Indonesia. Namun, hubungan jarak jauh telah memengaruhi pola pikir dan cara pandang wanita pecinta warna merah muda itu.
Kehidupan di Swedia yang semuanya serba tepat waktu, terstruktur dan terencana dengan sistematis dan terukur membuat siapapun di Swedia lebih menghargai waktu, baik waktu untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, sedikit banyak kehidupan dan kebiasaan di Swedia juga memengaruhi dan mewarnai karakter suami Sadya.
Artinya, hal itu juga memengaruhi cara bersikap dan gaya berkomunikasi suami tercinta. ”Jadinya, saya menjadi lebih bisa menghargai waktu. Saya akui waktu di Indonesia terkesan lebih fleksibel dan terbiasa spontan. Ibarat kata, mau telepon kapan saja bisa dan orang yang ditelepon pun cenderung terbuka dan santai jika mendadak dihubungi mendadak. Berbeda dengan di Swedia.
Mau telepon saja harus bikin janji dulu, tidak bisa spontan. Kaget juga di awal-awal hubungan. Karena sifat hubungan ini kan pakai perasaan. Bukan hubungan profesional atau pekerjaan. Inginnya kan kapan saja bisa bicara sama suami,” urai Sadya mengenang masa awal komunikasi hubungan jarak jauh dengan suami.
Saat ini, Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa telah menetap di Swedia. Mereka sudah hidup bersama dengan suami tercinta masing-masing. Hubungan rumah tangga jarak jauh menjadi kenangan manis. Long distance marriage relationship (LDMR) telah membuat mereka menjadi individu yang lebih mandiri, logis, tangguh, bijaksana dan pengertian dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan yang terkait urusan pribadi maupun rumah tangga.
”Karena ada hal-hal urusan domestik rumah tangga, misalnya anak sakit atau urusan rumah yang butuh keputusan cepat saat itu juga. Sementara kami ada perbedaan waktu yang ekstrim. Jadinya, terkesan tidak ijin secara lisan biarpun saya juga mengabarkan via teks. Di sinilah, sebenarnya kami telah belajar membangun rasa percaya dan menghormati keputusan yang diambil pasangan,” jelas Sadya.
Selain itu, mereka juga selalu berusaha up-to-date dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan terampil menggunakan aplikasi sosial media terkini yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan pasangan. ”Selalu update dengan aplikasi komunikasi via sosial media terkini juga tetap saya lakukan agar bisa menjaga hubungan jarak jauh dengan keluarga di tanah air,” tambah Ria.
Tampaknya, kalimat bijak – ”Aku ada di dua tempat, di sini dan di mana kamu berada,” karya Margaret Atwood ini dapat menggambarkan hubungan cinta jarak jauh. Secara fisik memang terpisah, tetapi dua hati yang terpisah oleh jarak tetap menyatu. Namun, untuk membuat dan menjaga agar dua hati tetap menyatu itu membutuhkan kerjasama yang baik para pelaku LDMR.
Ria dan Sadya sekali lagi mengakui kalau LDMR itu tidak mudah. Mereka berdua menegaskan komunikasi terbuka yang dua arah dan saling pengertian itu kunci utama kalau mau sukses menjalani LDMR. ”Dan, tetap berpikir positif.
Jangan mudah terhasut oleh pikiran negatif sendiri tentang pasangan. Terus, selalu sampaikan kekesalan dan kegusaran secara terbuka. Merajuk atau silent-treament pasangan tidak menyelesaikan persoalan. Yang ada semakin bikin runyam. Usahakan bahas dan selesaikan persoalan saat itu juga,” tegas Ria.
Kesimpulan seusai menyimak uraian Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa tentang pengalaman long distance marriage relationship (LDMR) itu, komunikasi terbuka dua arah dan saling menjaga kepercayaan itu diyakini sebagai modal utama membangun hubungan cinta yang sehat.
”Bahkan, komunikasi terbuka dan saling jaga kepercayaan itu tips terbaik kalau mau hubungan suami isteri langgeng dan rumah tangga tentram, baik saat berjauhan atau sudah seatap yang sama,” pungkas Sadya.
Penulis: Tutut Handayani, freelance jurnalis di Indonesia yang kini tinggal di Stockholm Swedia, kontributor cerita sahabat di http://www.ruanita.com, dan dapat dikontak Instagram kabarkoe.

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.
Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.
Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.
Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.
Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.
Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.
Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.
RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.
RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.
Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.
Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.
Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.
Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.
Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.
Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.
Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.
Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.
Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.
Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.
Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut:

Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.
Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.
Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.
Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.
Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?
Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami:

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di Jerman.
Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai freelancer social media management. Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati alam bersama suami. Saya juga suka berkreasi membuat konten video untuk kanal YouTube saya.
Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat, untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online, sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.
Saya telah berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.
Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online. Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe, yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.
Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja, tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami tinggal berbeda kota.
Selama enam tahun berpacaran, saya sudah pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya masing-masing.
Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang sangat religius.
Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai perbedaan tersebut.
Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup saya sendiri. Saya juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.
Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara kami, sebagai hal yang bermakna.
Bagaimanapun, karakter dan sifat masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan
perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih
berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini, disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami itu berbeda.
Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga perbedaan sifat dan karakter di antara kami.
Oleh karena itu, kami berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan. Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara personal, bukan komunal.
Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu.
Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi budaya kolektif.
Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur. Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum menikah. Saya memegang prinsip kemurnian sebelum menikah.
Prinsip ini menjadi hal yang menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman). Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya.
Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri. Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih masing-masing.
Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman, agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.
Tapi karena sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.
Suami juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama. Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya dengan tulus.
Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku untuk kami sebagai orang tua nanti.
Kami akan berusaha memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda. Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau, mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk membentuk cara pandang baru mereka sendiri.
Menurut saya, kunci perkawinan campur adalah komunikasi, toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia
memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu bisa dikompromi.
Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus, pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah! Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.
Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.
Jika tidak ada toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi menemukan jalan keluar dari masalah.
Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan. Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.
Solusi berpisah menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak, bukan satu pihak. It takes two Tango!
Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup.
Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂
Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.

Jerman – Salah satu program yang diusung Ruanita Indonesia sejak tahun 2021 adalah program jangka panjang AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspira nYatamu). Banyaknya laporan yang diterima Ruanita Indonesia tentang kasus pelecehan seksual, diskriminasi dan kekerasan domestik yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri melatarbelakangi dibuatnya kampanye AISIYU ini.
Melalui program AISIYU, Ruanita Indonesia ingin meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di luar Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mengubah sikap dan budaya di masyarakat yang sayangnya masih menganggap kekerasan terhadap perempuan adalah suatu hal yang biasa terjadi.
Adapun program AISIYU dibuat sebagai kampanye tahunan yang diadakan bertepatan dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 November. Kampanye tahunan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk proaktif melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan berbagi dukungan sosial untuk para penyintas kekerasan.
Kampanye AISIYU dilangsungkan lewat platform digital melalui media sosial Ruanita Indonesia dalam bentuk konten edukatif, informatif, dan inspiratif. Kampanye AISIYU akan dilangsungkan selama 16 hari, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024.
Diharapkan selama durasi masa kampanye ini, semakin besar pula peluang untuk membuat perubahan sosial, budaya, dan politik yang diperlukan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Lewat kampanye AISIYU pula masyarakat dapat diajak untuk berkontribusi dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan, bebas dari ancaman dan kekerasan.
Setiap tahunnya Ruanita Indonesia menggunakan media yang berbeda untuk berkampanye. Pada tahun 2023, Ruanita Indonesia mengadakan visual art workshop yang menghasilkan 16 produk seni kolase. Kampanye AISIYU tahun 2024 ini mengusung tema “Ruang Aman Perempuan” lewat media fotografi. Di era digital ini, membuat foto dengan ponsel berkamera sangat mudah dilakukan.
Ditambah lagi penggunaan media sosial untuk saling berbagi foto terbukti menjangkau banyak orang dan dapat dijadikan media kampanye yang positif. Hal inilah yang mendasari Ruanita Indonesia untuk menggunakan fotografi sebagai media kampanye anti kekerasan terhadap perempuan tahun di 2024.
Rangkaian Kampanye AISIYU 2024 akan diadakan dalam bentuk online workshop dan pameran digital (media sosial Ruanita). Tahun ini Ruanita Indonesia menghadirkan online workshop keterampilan fotografi praktis menggunakan kamera ponsel. Workshop fotografi praktis ini akan dibagi dalam dua pertemuan pada tanggal 7 dan 14 September 2024, yang dibuka secara resmi oleh Renata Siagian, Konjen KJRI Hamburg di Jerman.
Pada pertemuan pertama, Bahrul Fuad selaku Komisioner Komnas Perempuan, akan menyampaikan konsep ruang aman bagi perempuan sebagai panduan tema untuk peserta dalam mengambil foto. Selanjutnya, Yogi Cahyadi selaku Redaktur Foto Republika Network, akan menyampaikan teori dan teknik dasar fotografi, termasuk pengambilan foto menggunakan fitur-fitur dalam kamera ponsel. Diharapkan peserta workshop tidak hanya mampu membuat foto estetik, tapi juga mampu menyuarakan isu pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Topik teori dan teknik dasar fotografi menggunakan ponsel akan diteruskan pada pertemuan kedua. Di akhir workshop, peserta diminta untuk membuat dan mengirimkan minimal dua buah foto menggunakan ponsel sesuai dengan tema “Ruang Aman Perempuan”.
Dari foto-foto yang masuk akan dipilih 16 foto yang nantinya akan dipublikasikan pada pameran digital di media sosial Ruanita pada tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024. Program Workshop Fotografi diselenggarakan Ruanita Indonesia dalam kerja sama bersama KJRI Hamburg, KBRI Berlin, dan Komnas Perempuan.
Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik kehidupan di mancanegara.
Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Proyek kami berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system, untuk warga Indonesia di luar Indonesia, terutama perempuan.
Info lebih lanjut: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak info@ruanita.com