(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(CERITA SAHABAT) Ayo, Dukung Orang Muda Aktif dalam Pembangunan!

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama pena saya adalah Devita. Saya tinggal di Jerman sejak dua tahun lalu. Saat ini, saya adalah pekerja di kota Stuttgart, Jerman. Saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang peran orang muda dalam pembangunan.

Sebagaimana kalian tahu bahwa PBB menetapkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Wah, itu suatu kebanggaan tersendiri buat kita yang masih muda untuk diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan bangsa dan dunia.

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin bagikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait tema ini. Menurut saya, orang muda sangat berperan besar dalam pembangunan karena generasi muda akan menjadi pembuat kebijakan, kemudian memimpin bangsa dan menentukan kemajuan sebuah bangsa di masa depan.  

Meskipun dalam realitanya di masyarakat, masih ada saja anggapan miring dan ketidakpercayaan kepada orang muda dalam bertugas. Bahkan mitos yang beredar di masyarakat seperti belum banyak makan asam garam, semakin memperlemah peran orang muda dan masih disangsikan keterlibatannya. Menurut saya, ini terjadi disebabkan oleh faktor kultur yang sudah tertanam kuat di masyarakat.

Ada anggapan bahwa usia mempengaruhi kualitas diri seseorang, sehingga orang muda dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak orang yang lebih tua. Anggapan sempit seperti ini justru membuat terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada generasi muda. 

Hal lainnya yang saya soroti seperti generation gap. Dalam bekerja bersama dengan orang muda, terkadang timbul kesenjangan pikiran, pengalaman, keahlian, yang menghambat suatu tim kerja hanya karena generation gap yang tidak diatasi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu menjembatani peran orang muda agar tidak terjadi kesenjangan sehingga menimbulkan masalah sosial dalam pembangunan. Masyarakat perlu memberikan kepercayaan seluas-luasnya untuk orang muda. Pepatah orang Jerman menyebut, “Kontrolle ist gut, Vertrauen ist besser.” Artinya, masyarakat bisa mengontrol para orang muda yang dipercayai tersebut. 

Di era seperti ini, dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mendapatkan informasi mudah tentang sosok orang muda yang berhasil di dunia dan menjadi role model. Mereka yang dijadikan panutan ini memang pantas karena menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya untuk berkontribusi positif dan aktif dalam pembangunan.

Kita perlu menyebarluaskan best practices seperti ini melalui platform media sosial, sehingga ini memberikan pengaruh positif pada orang muda. Cara kedua adalah membuat program mentoring dan pendampingan yang memungkinkan generasi muda terhubung dengan tokoh sukses tersebut.

Ketiga, masyarakat bisa melibatkan institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan orang muda dengan melibatkan tokoh muda berprestasi tersebut. Meskipun, ada juga orang muda yang tidak berhasil dan dipandang sebagai “sampah sosial” tetapi saya pikir banyak juga orang muda berprestasi yang siap mendukung orang muda lainnya.

follow kami

Orang muda yang masih dipandang sebelah mata dan kurang berpengalaman dapat dikalahkan dengan melakukan transfer knowledge antar orang muda sendiri, misalnya dengan mengadakan program mentoring, di mana para senior dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Sementara, generasi muda  juga dapat membawa ide segar dan perspektif baru. Selain itu, kita dapat juga mengadakan pelatihan bersama yang melibatkan, baik generasi muda maupun senior dalam transfer knowledge, di mana keduanya dapat saling belajar dan melengkapi.

Selanjutnya, hal terpenting yang bisa dilakukan adalah mengakui dan mengapresiasi kontribusi dan prestasi dari semua individu tanpa memandang usia. 

Salah satu pengalaman menarik yang saya lakukan adalah berkontribusi aktif dengan menjadi sukarelawan membangun desa. Kegiatan tersebut dilakukan saat saya sedang berkuliah di Malang, Indonesia . Bersama dengan organisasi dari universitas, pada saat itu, kami  melakukan program volunteer untuk membangun melalui program city branding.

Hal yang kami lakukan saat itu adalah mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, membaca untuk anak-anak. Kami juga ikut aktif dalam membersihkan lingkungan desa dan menganalisis model city branding yang tepat bagi desa tersebut. Kontribusi yang kami lakukan lainnya, yakni membuat web desa, sehingga potensi yang dimiliki oleh-oleh dari kampung tersebut dapat tersebar luas. 

Melalui website tersebut, kita dapat menyebarkan informasi terkait usaha yang dimiliki oleh warga desa seperti umkm ataupun potensi wisata alam yang dapat menjadi  tujuan wisata bagi turis untuk berkunjung ke kampung tersebut. Ini diharapkan menjadi pembangunan khususnya pembangunan desa dapat terus bergerak maju.

Menurut saya, indikatornya dapat diukur melalui beberapa hal, seperti: tingkat partisipasi pemuda dalam politik dan sosial, tingkat pendidikan dan keterampilan pemuda, kemudahan akses bagi generasi muda terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi, serta tingkat keterlibatan pemuda dalam pembangunan.

Pemerintah dapat mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung pendidikan dan pelatihan keterampilan, memfasilitasi akses pemuda, dan menggalakkan partisipasi pemuda terhadap kesempatan ekonomi, politik, sosial.

Selain itu, kita bisa memberikan ruang bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan. Program-program pemerintah perlu juga mendorong keterlibatan pemuda dalam inisiatif pembangunan lokal dan global, sehingga ini bisa menjadi sarana efektif.

Di International Youth Day, teruntuk sahabat muda Ruanita, saya berpesan untuk terus bersemangat dalam karya dan berani untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan!

Mari menjadi agen perubahan dalam membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Teruslah berjuang untuk impian-impian kita, dan jangan pernah ragu untuk berkontribusi pada masyarakat!. Kita punya kekuatan untuk mengubah dunia! 

Happy International Youth Day!

Penulis: Rufi, yang kini sedang menempuh studi S2 di Jerman dan dapat dikontak di akun Instagram zsyasdawita. Tulisan ini adalah hasil wawancara seorang teman, dengan nama pena Devita. Devita adalah seorang pekerja yang tinggal di Stuttgart, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(PODCAST IN ENGLISH) Persiapan Pindah Ke Luar Negeri Pakai Visa Penyatuan Keluarga

Ruanita Indonesia baru saja meluncurkan program Podcast terbaru dalam Bahasa Inggris.

Program podcast yang berbicara seputar peran dan pengalaman perempuan di mancanegara akan dimoderasi oleh Aini Hanafiah dan Kristina Ayuningtyas yang sama-sama tinggal di mancanegara untuk mendampingi suami yang bertugas di mancanegara.

Aini sudah lebih lama ikut mendampingi suami bertugas sejak lebih dari sepuluh tahun. Kini Aini menetap bersama keluarganya di Norwegia.

Sedangkan Kristin baru saja ikut serta mendampingi suami bertugas di Slowakia. Keduanya terlibat obrolan asyik seputar bagaimana persiapan dokumen melalui visa penyatuan keluarga.

Follow us

Aini mengatakan bahwa berpindah dari satu negara ke negara lainnya menjadi pengalaman menarik sekaligus menantang.

Mungkin tidak semua orang mudah beradaptasi dan memulai kehidupan yang baru di suatu negara yang berbeda kultur dan bahasa sehari-harinya.

Aini bisa memahami pengalaman culture shock yang tentunya tidak mudah dialami dari satu negara ke negara lainnya.

Kristin berbicara tentang bagaimana dokumen yang juga harus dilengkapi, termasuk tahapan yang cukup melelahkan mengingat panjangnya birokrasi dan tuntutan dokumen yang dipenuhi.

Kristin sampai tidak bisa berbicara banyak, bagaimana upayanya untuk bisa tetap mendampingi suami bertugas di mancanegara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Yoga Tertawa untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Halo Sahabat Ruanita, saya Ajeng dari Hamburg. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya dari cerita-cerita atau tulisan saya dalam program cerita sahabat Ruanita ini. Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya ikut sesi yoga tertawa atau laughter yoga secara daring.

Waktu itu tahun 2022, saya menemukan satu sesi yoga tertawa dari website kampus saya.  Walau aturan pembatasan sosial tidak seketat seperti tahun 2020-2021, tetapi pada tahun 2022 itu masih ada aturan di Jerman, yang mana acara-acara kampus hanya dilangsungkan secara daring. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari kelas yoga tertawa itu, tetapi saya butuh olahraga untuk kembali sehat secara jasmani dan rohani.

Sesi yoga tertawa dibuka oleh seorang praktisi yoga tertawa. Dia menjelaskan sejarah dan manfaat yoga tertawa ini. Menurutnya, yoga tertawa ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Sepertinya cocok untuk saya, yang mana saya sedang mengalami gangguan mental pada saat itu, dan saya ingin mulai olahraga lagi. 

Yoga tertawa merupakan perpaduan antara gerakan tubuh dan teknik pernafasan yang mungkin kita sudah kenal dari yoga, sehingga bisa membuat banyak oksigen mengalir ke tubuh dan otak kita. Yoga tertawa juga dapat mengurangi stres, menambah rileks, meningkatkan kreativitas, mengaktifkan hormon bahagia (dopamin), memperkuat sistem imun, dan mengurangi tekanan darah.

Mungkin saat kita mendengar istilah yoga tertawa, kita membayangkan orang tertawa sambil duduk bersila. Paling tidak, begitu yang saya bayangkan saat itu. Ternyata saya salah. Kami berlatih dengan duduk dan berdiri, melakukan gerakan-gerakan ringan, sambil diiringi dengan tawa.

Gerakannya sangat sederhana, bisa menepuk tangan, menjentikan jari, berputar, dan sebagainya. Tawanya boleh palsu, karena tubuh kita tidak tahu, apakah tawa yang kita lakukan palsu atau alamiah. Namun, efeknya akan sama-sama menyehatkan badan dan membuat bahagia.

Saya ingat, waktu itu latihan yoga kami dimulai dengan meniru gerakan binatang, misalkan pinguin. Pasti teman-teman tahu dong, bagaimana pinguin berjalan? Nah, itu adalah gerakan yang kami lakukan. Tidak usah berjalan jauh, hanya satu-dua langkah ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, dan berputar. Jangan lupa, dilakukan sambil tertawa. 

Pertama-tama, memang saya merasa aneh sekali melakukan tawa palsu, apalagi bersama orang-orang tidak dikenal. Sebagian besar orang yang hadir bersama saya berlatih yoga ini, mematikan video dan mikrofon. Lama-lama, saya tertawa sendiri, karena lucunya gerakan yang saya lakukan. Saya juga menertawakan yang sedang melakukan tawa palsu. Tawa yang kami lakukan juga beragam, tidak hanya “ha ha ha” tetapi juga “hi hi hi”, “he he he”, dan “ho ho ho”. Jadi, tiap gerakan bisa diganti ragam tawanya agar tidak bosan.

Menurut saya, yoga tertawa ini seperti sedang bermain. Kita bisa saja berfantasi membuat gerakan sendiri. Contohnya, gerakan membuat minuman. Anggap diri sendiri seorang bartender yang sedang mengocok botol minuman. Setiap gerakan mengocok minuman, kita tertawa dengan “ha”, ulangi tiga kali. Setelah itu, lakukan gerakan minum, sambil tertawa “ha ha ha”. Gerakan lain bisa kita ambil dari aktivitas sehari-hari, misalnya bertelepon, mencuci tangan, dan sebagainya. Semuanya bisa dilakukan sambil tertawa.

Setelah 10-15 menit melakukan yoga tertawa, saya benar-benar merasa lelah. Memang, tertawa membutuhkan tenaga, tapi di sisi lain saya merasa lebih “bangun”, menjadi lebih bertenaga, dan juga lebih bahagia. Awalnya, saya merasa aneh dengan tawa palsu, tetapi saya benar tertawa alamiah setelah itu. Mungkin karena gerakan-gerakannya yang lucu (dan aneh). Memang, tertawa itu menular, walaupun palsu. 

Hal lain, yang saya suka dari yoga tertawa adalah kita juga melakukan afirmasi positif ke diri sendiri. Gerakannya sederhana saja, misalnya mengelus lengan kita sambil bilang, “very good”. Atau kita melakukan gerakan lain sambil mengatakan, betapa kerennya kita. Kalau latihannya seperti ini, bagaimana ini tidak baik untuk kesehatan mental kita?

Setelah latihan sekali dengan praktisi yoga tersebut, saya mengajak sahabat saya yang tinggal di luar kota untuk melakukan yoga tertawa ini bersama saya. Kami membuat janji untuk bertemu secara virtual. Syukurnya, latihan yoga tertawa ini benar-benar sudah mendunia, seperti banyak yang ditampilkan di YouTube tentang ini. Awalnya, sahabat saya tertawa geli melihat gerakan-gerakan yang ditampilkan, apalagi dilakukan sambil tertawa palsu, tapi dia tetap mengikuti. 

Pada akhirnya, kami benar-benar tertawa bersama, sambil melakukan yoga tertawa ini. Setelahnya, kami benar-benar lelah, seperti habis melakukan olahraga. Tawa kami bukan lagi palsu, melainkan benar-benar alamiah. Kami sampai merasa takut ditegur tetangga, karena terlampau berisik. Sayangnya setelah itu, kami hanya bertemu secara daring 2-3 kali untuk latihan yoga tertawa, karena kesibukan kami juga.

Yoga tertawa ini juga bisa dilakukan oleh semua umur. Yoga tertawa ini juga sangat cocok untuk anak-anak, karena gerakannya yang mirip seperti permainan. Saat berlibur ke Indonesia, saya sempat melakukan yoga tertawa dengan keponakan saya, yang berumur lima tahun. Kami tidak berhenti tertawa. Orang tua juga bisa melakukan yoga tertawa ini, karena gerakannya sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.

Di Jerman, sudah ada banyak klub atau organisasi yoga tertawa. Mereka adalah praktisi yoga tertawa profesional. Tidak hanya melakukan yoga tertawa di rumah, tapi juga memberikan pelatihan ke orang lain, yang ingin jadi pelatih bersertifikat. Misalnya, orang yang tertarik menerapkan di perusahaan, yang ingin karyawannya bahagia; atau diundang ke acara privat seperti pesta ulang tahun. Praktisi yoga tertawa yang memandu kami di acara kampus juga berasal dari salah satu klub tersebut. Dia memang merupakan pelatih bersertifikat.

Ada juga klub yoga tertawa yang secara rutin latihan di taman umum. Semua orang boleh berpartisipasi dengan memberikan uang secara sukarela. Sampai saat ini sayangnya, saya tidak pernah melakukan yoga tertawa lagi. Saya bahkan lupa ada yoga tertawa ini, kalau tidak ada tema ‘tertawa baik untuk kesehatan mental’ yang dipersiapkan oleh Ruanita. 

Saya ingin sekali suatu saat nanti, saya dapat mengikuti acara yoga tertawa secara langsung. Saya berpikir, mengikuti yoga tertawa daring saja sudah lucu, apalagi dilakukan secara luring. Saya membayangkan, kita dapat tertawa massal bersama orang lain di alam terbuka. Apakah Sahabat Ruanita tertarik untuk coba yoga tertawa?

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(PODCAST RUMPITA) Berbekal Beasiswa Jadi Dosen di Indonesia, Menyelami Studi Nanoteknologi di Swedia

Melanjutkan program Podcast di episode ke-26, Podcasat RUMPITA by Ruanita Indonesia telah mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi dan menetap di Swedia. Dia adalah Jessika yang pernah terlibat dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Ruanita Indonesia beberapa waktu lalu.

Kini Jessika menjelaskan bahwa dia sedang berencana meneruskan untuk studi lanjutan S3 di Swedia, setelah dia berhasil menyelesaikan studi S2 di bidang nanoteknologi.

Diskusi podcast dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 di Jerman dan Anna selama kurang lebih 60 menit. Jessika datang ke Swedia dengan mengikuti jalur beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud untuk para calon dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Jessika kini sedang menempuh studi di kampus KTH, Stockholm.

Menurut Jessika, nanoteknology itu adalah semua hal yang berkaitan dengan semua objek di bawah skala mikrometer. Jessika mengenal nanoteknologi pertama kali saat dia berkuliah di jurusan electrical engineering di ITB, Indonesia.

Setelah melamar studi di beberapa negara, Jessika memutuskan untuk mengambil tawaran di Swedia dengan jurusan nanoelectronic.

Follow us

Hal menarik yang diperoleh Jessika selama berkuliah nanoteknologi adalah ilmu yang dipelajarinya benar-benar interdisciplinary dari ilmu eksakta seperti kimia, fisika, dan sebagainya.

Mahasiswa yang berkuliah bersama Jessika pun berasal dari berbagai background akademis. Namun, pastinya berkuliah di Nanoteknologi masih berkaitan dengan STEM – Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pemerintah Swedia juga tidak mensyaratkan untuk mahasiswa internasional memiliki level kemampuan Bahasa Swedia saat apply visa student. Jessika juga menuturkan tidak ada batasan pula untuk mahasiswa bisa bekerja di Swedia.

Hidup di Stockholm, Swedia telah membuat Jessika nyaman karena hampir sebagian besar masyarakat di sana bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Simak selengkapnya diskusi Podcast lebih lanjut dengan Jessika berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Berawal dari Kuliah Teknik Informatika di Jerman, hingga Ide Berwirausaha di Dunia Digital di Indonesia

Halo semuanya sahabat Ruanita, nama saya Natasha Hartanto dan sekarang saya tinggal di Jakarta, Indonesia sejak tahun 2023. Sekitar delapan tahun saya menetap di Jerman, saya akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia. Saat ini saya sedang membangun usaha saya di bidang pendidikan dan teknologi kesehatan. 

Saya berkuliah di jurusan Informatika (IT) atau dalam Bahasa Inggris studi saya dikenal sebagai Computer Science di Universität Passau, Jerman. Awalnya, saya tertarik masuk jurusan itu saat diperkenalkan pertama kali dengan kompleksnya programming saat saya berada di Studienkolleg di Halle, Jerman. Saya masuk kuliah pada saat Wintersemester 2017/2018. Menurut saya, berkuliah di jurusan Informatika itu sepertinya susah-susah gampang.

Kesulitan studi saya sebenarnya lebih pada bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah, yang perlu diselesaikan dengan programming. Hal yang membuat studi saya cenderung lebih mudah dari jurusan lain adalah karena Bahasa Jerman yang digunakan tidak terlalu mendalam. Mayoritas kosakata dalam studi saya masih menggunakan Bahasa inggris, atau langsung bahasa pemograman dan matematika. Kemampuan Bahasa Jerman saya tidak perlu semahir seperti jurusan lain di kampus saya, seperti misalnya jurusan filsafat atau hukum. Sebagaimana informasi berseliweran yang sudah sering didengar di Jerman, kalau jurusan teknik dan matematika itu sulit sekali. Jadi, kalau kalian ingin berkuliah di jurusan IT, semangat ya! 

follow us

Setelah saya berhasil menyelesaikan studi, saya sempat bekerja di Jerman beberapa tahun untuk mendapatkan pengalaman kerja. Saya pun kembali ke Indonesia dan saya sekarang berharap bisa mendirikan usaha saya sendiri. Saya sangat berharap usaha saya dapat sukses, setidaknya saya bisa membantu minimal 50 juta penduduk Indonesia, terutama anak muda dalam menavigasi masa depan mereka. Usaha saya dimulai dari membuat sistem agar cara berpikir kita semakin strategis, untuk membuat keputusan yang lebih baik (strategic decision making), dan tentunya juga di bidang kesehatan mental dan fisik. Misalnya, cara menghindari break outs, agar bisa lebih memahami siklus biologis tubuh.

Saya merasa beruntung dengan adanya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang sangat pesat sekarang ini, sehingga progress proyek-proyek saya cukup terbantu. Selain itu, saya juga merasa koneksi dengan banyak orang itu sangat penting. Jadi, itu yang saya lakukan sekarang. Bila ada kesempatan, saya ingin berusaha untuk mengenal lebih banyak orang yang mungkin bisa berjalan, berdampingan dengan visi dan misi saya.

Kalau saya mengingat jurusan saya dulu, saya berkuliah IT di Universität Passau dengan proporsi jumlah mahasiswa perempuan sekitar 10%  sampai 20% dari keseluruhan jurusan IT di angkatan saya. Saya setuju bahwa minat di bidang teknik informatika secara general kurang banyak diminati mahasiswa perempuan, terutama di bidang IT dan mesin. Menurut saya, hal itu sangat dapat dimengerti. Saya dan beberapa mahasiswa perempuan yang berkuliah di jurusan teknik informatika (IT) yang dikenal, juga menyadari perbedaan angka partisipasi perempuan yang ingin studi di jurusan teknik informatika. 

Berdasarkan pengamatan saya, peluang perempuan untuk bekerja di dunia digital di Jerman sangat besar. Alasan ini yang selalu memotivasi saya dan para mahasiswa perempuan di jurusan teknik informatika (IT) untuk mencoba peruntungan. Kami tahu, bahwa ada kebijakan di banyak perusahaan untuk menerima karyawan perempuan. Ditambah pula, bekerja di bidang teknologi informatika juga memiliki pendapatan yang tidaklah kecil.

Definisi dunia digital menurut saya cukup luas. Apabila yang dimaksudkan dengan dunia digital dalam jurusan Teknik informatika, maka sejujurnya saya sebagai seorang perempuan, merasa bahwa programming itu seringkali membosankan. Contohnya, saya harus bisa bertahan dan terus berpikir secara logical thinking untuk memecahkan masalah dengan rumus matematika di balik layar komputer. Dalam sehari 12 jam misalnya, saya bisa bekerja dengan hampir tidak ada komunikasi dengan manusia lain kecuali bila ada masalah. Umumnya, bagi perempuan ini tidak mudah. 

Saya merasa bahwa perempuan secara evolusioner lebih membutuhkan banyak koneksi dan komunikasi dengan manusia lain. Saya pun menyadari hal ini, setelah saya bekerja beberapa lama sebagai programmer. Saya sadar bahwa saya butuh lebih banyak interaksi. Oleh karena itu, wajar bila perempuan lebih memilih pekerjaan yang butuh banyak interaksi dengan orang lain seperti: guru, dokter atau psikolog misalnya.

Di kantor, tempat saya bekerja dulu di Jerman lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Dalam hal pengalaman kerja bersama rekan kerja lainnya, saya merasa sangat dihargai sebagai perempuan. Mereka sangat menghormati saya. Bahkan, saya sering diprioritaskan dalam banyak hal, seperti mereka selalu menanyakan pendapat saya dalam membuat beberapa perubahaan, dsb. Mereka sangat respek pada kita, walaupun saya sangat sering berbuat salah. Sebagai orang asing, sering kali saya tidak mengerti beberapa hal –mengingat bahwa kemampuan Bahasa Jerman saya masih di bawah kemampuan mereka, yang notabene sebagai Native Speaker. Namun, mereka selalu sabar dan tidak pernah meremehkan kemampuan saya.

Untuk meningkatkan minat dalam dunia digital, menurut saya, perempuan perlu lebih banyak lagi mendapat informasi, pelajaran, atau pelatihan tentang bidang-bidang yang berkaitan di dunia digital. Ini diperlukan agar perempuan lebih bisa memahami peluang yang ada, menimbang peluang tersebut, sebelum mereka memutuskan untuk terjun langsung di bidang digital. 

Tentunya, saya sepakat dengan perkembangan dunia digital yang diiringi oleh kecerdasan artifisial (AI) yang pesat, bahwa perempuan memiliki peluang kewirausahaan yang besar. Menurut saya, perempuan bisa menggabungkan aspek logika dan kreativitas yang dimilikinya, sehingga ini menjadi keunggulan untuk meraih kesuksesan. 

Bagi kalian yang tertarik ingin terjun di dunia digital, jangan takut! Kalian tidak harus paham segala hal untuk bisa berkuliah, bekerja, atau berwirausaha di bidang digital. Saya pun menyadari bahwa saya masih perlu belajar banyak hal. Kalian bisa mencari teman atau kenalan, yang mungkin bisa membantu kalian untuk meraih cita-cita atau kesuksesan.

Bagi kalian yang ingin bertanya lebih lanjut tentang dunia digital, kalian dapat menghubungi saya melalui kontak formulir di website saya, di akhir artikel. Jangan lupa, kalian perlu menuliskan topik yang ingin dibahas dan mention nama saya ya;)


Penulis: Natasha Hartanto, yang dapat dikontak di Website skyttenh.com dan juga mengelola kanal YouTube youtube.com/@natashahartanto.

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami:

(SIARAN BERITA) Tingkatkan Kapasitas Perempuan dalam Digital Marketing, Ruanita Indonesia Gelar Workshop Online

Jerman – Kemudahan internet di masa kini telah memberikan peluang banyak orang untuk melakukan wirausaha, apalagi jumlah pengguna internet pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kuantitas penggunaan internet yang meningkat ini pun semakin mendukung banyak orang, terutama perempuan Indonesia untuk melihat peluang memasarkan produk dan jasa lewat digital marketing.

Dengan maksud mewujudkan kesetaraan gender yang menjadi tujuan proyek, Ruanita Indonesia telah menyelenggarakan seri diskusi dan workshop tentang karier dan kewirausahaan perempuan. Setiap tahun, momen ini dilaksanakan dalam berbagai bentuk yang melibatkan perempuan Indonesia di berbagai negara.

Pada 2004 ini, Ruanita Indonesia telah bekerja sama dengan DWP KBRI Berlin menggelar Workshop Digital Marketing untuk tahap pemula yang digelar secara daring dalam tiga kali pertemuan, masing-masing dua jam. Pertemuan pertama (27/4) dihadiri oleh Ketua DWP KBRI Berlin, Sartika Oegroseno yang memberikan motivasi dan sambutan pembuka acara Workshop.

Dalam sambutannya, Sartika berpendapat bahwa industri kreatif terus mengalami perkembangan yang sangat pesat di masa kini dengan berkembangnya teknologi. Di era 5.0 saat ini hampir semua hal beralih ke digital.

Penggunaan smartphone dan akses internet yang meluas dimanfaatkan menjadi salah satu cara dalam memperkenalkan bisnis. Tentunya, hal yang paling berdampak adalah bagaimana berkomunikasi dan memasarkan produk atau jasa yang dialihkan ke digital.

Follow us

Tentunya, bila kita masih menggunakan marketing yang masih tradisional seperti pamflet, brosur, papan reklame, dan lainnya, bisa jadi itu tidak mudah, tidak murah, dan tidak maksimal karena dan ruang geraknya yang sangat terbatas.

Cara terbaik dan lebih efektif adalah dengan menggunakan strategi digital marketing yang lebih efisien dalam hal tenaga, waktu, biaya atau keuangan, dan juga operasional, seperti yang menjadi harapan dari workshop digital marketing yang digelar oleh Ruanita Indonesia ini.

Pemateri workshop adalah Puput Cibro, M.B.A yang adalah Digital Marketing yang tinggal di Ceko dan Singapura. Selain itu, pemateri juga didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya yang adalah E-commerce Consultant yang tinggal dan bekerja di Berlin, Jerman. Dia adalah Putri Trapsiloningrum M.A. Sesi awal workshop dimoderasi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, yakni Sesilia Susi M.A.

Peserta yang hadir di workshop terdiri atas para perempuan yang sedang memulai usaha tangible atau produk/jasa non consultant. Mereka tinggal di Indonesia, Jerman, Belgia, Hungaria, Spanyol, Belanda, dan Prancis. Harapannya, peserta mampu membuat produk digital marketing yang akan ditampilkan oleh Ruanita Indonesia di masa mendatang.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami: