Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.
Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian.
Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau atau diaspora tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.
Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat.
Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik.
Berdasarkan pengamatan saya, sesama diaspora saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama diaspora pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama diaspora juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?
Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut.
Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:
1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal. Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.
2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.
3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.
4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.
5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi” sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.
Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:
Jujur dan hindari tindakan kriminal.
Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.
Saling Menghormati.
Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.
Jauhi rasa iri dan dengki.
Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.
Mendengarkan.
Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.
Memberi kebebasan pada setiap individu.
Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.
Melakukan kegiatan bersama.
Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.
Kebaikan selalu berbuah kebaikan.
Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.
Memiliki value dan passion pada hal yang sama.
Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.
Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas diaspora. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.
Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi
Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.
Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.
Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.
Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.
Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.
Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.
“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.
Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.
Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.
Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.
Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan
Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.
“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.
Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.
Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.
Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.
Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.
Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.
Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.
Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.
Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.
Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?
Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:
Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.
Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.
Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.
Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.
Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia.
Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya.
Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.
Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.
Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.
Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu.
Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan.
Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile.
Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya.
Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.
Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down.
Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.
Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.
Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut.
Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body.
Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja.
Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.
Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.
Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.
Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.
Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.
Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.
Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.
Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.
Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.
Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.
Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.
Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.
Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.
Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.
Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.
Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.
Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.
Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.
Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.
Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!
Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.
Program cerita sahabat spesial digelar oleh Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia setiap bulan melalui video berkisar 5-10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube. Pada episode Oktober 2023 ini, Ruanita Indonesia mengundang Mala Holland yang telah bekerja di Inggris sebagai Psikoterapis. Sebagai tenaga profesional untuk Trauma Care Practitioner, Mala melakukan pendekatannya melalui play and creative arts dalam melayani kliennya dari berbagai kelompok usia.
Menurut Mala, trauma terjadi sebagai respon tubuh terhadap peristiwa yang pernah dialami. Mala menyadari bahwa tidak mudah bagi tiap orang untuk menceritakan persoalan trauma yang dialaminya. Bahkan Mala pernah mendapatkan klien usia anak-anak yang sama sekali belum dapat mengkomunikasikan apa yang dialaminya akibat peristiwa yang menyebabkan dia trauma.
Melalui pendekatan Play and Creative Art Therapy, Mala membantu para kliennya untuk mengkomunikasikan apa yang mereka alami dan rasakan. Menurut Mala, creative art atau playdough bisa membantu klien menggali hal yang tidak disadarinya yang ada di bagian ketidaksadaran manusia.
Trauma menurut Mala terjadi pada memori yang fragmented dan mungkin saja “tidak utuh” sehingga perlu dibantu untuk mengenali apa yang membuat seseorang itu merasa trauma. Setiap orang mengalami trauma yang tidak mudah dan perlu penanganan ahli/profesional melalui berbagai pendekatan. Mala sendiri juga menyebutkan berbagai trik yang bisa membantu seseorang untuk keluar dari traumanya.
Pergi ke terapi atau bertemu dengan tenaga ahli adalah sebagian kecil yang memang membantu seseorang untuk keluar dari trauma. Namun, sebagian besar waktu yang diperlukan keluar dari trauma bergantung pada orang tersebut dan dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya seperti keluarga.
Mala menyarankan agar kita perlu mencari tahu mana terapi yang cocok dengan kebutuhan kita. Bahkan Mala meminta kita untuk mengecek policy yang dimiliki si terapi dalam membantu kliennya. Kita bisa saja pergi mencari bantuan ke piskoterapi lainnya, bilamana dirasakan tidak cocok.
Bagaimana pendekatan play and creative art therapy dalam membantu klien mengatasi trauma? Apa saja yang diperlukan orang yang mengalami trauma untuk mengatasinya? Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga dan social support system dalam membantu orang sekitar yang mengalami trauma? Berapa besaran biaya dan cara mendapatkan terapi untuk mengatasi trauma?
Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.
Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”
Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.
Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.
Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.
Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.
Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?
Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:
Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.
Pada episode ke-10 di bulan Oktober 2023 program PELITA mengambil tema tentang Childfree yang terjadi di Indonesia. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia mengundang dua narasumber yang menjadi penggiat Childfree di Indonesia.
Mereka adalah Ratu Victoria Tunggono yang adalah penulis buku “Childfree” dan lainnya adalah Kei Savourie yang adalah seorang founder dari Kelascinta.
Stephanie mengawali diskusi tentang bagaimana asal mula mereka memilih menjadi Childfree di Indonesia.
Victoria sendiri telah menemukan buku dan komunitas yang membahas lebih dalam tentang Childfree sehingga dia bisa membedakan apa itu childfree dan childless.
Sedangkan Kei lebih menekankan untuk memilih hidup tidak harus sesuai dengan apa yang terjadi pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, termasuk memilih Childfree. Kei sendiri akhirnya berhasil memilih ketika dia menemukan istri yang akhirnya menyepakati pilihan Childfree setelah menikah.
Kei juga menjelaskan bahwa pilihan Childfree muncul ketika dunia sudah diperkenalkan dengan pilihan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Kei dan Victoria menyadari bahwa mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sangat baik sebagai role model, sedangkan mereka berdua merasa tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik.
Baik Victoria maupun Kei menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki big pressure sebagai orang tua. Meski demikian, diskusi terbuka seperti yang digagas Ruanita Indonesia ini sangat efektif untuk menepis mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya, masyarakat memandang perempuan dianggap egois kalau memilih Childfree.
Victoria sangat menghormati orang-orang yang sudah memilih menjadi orang tua dan berharap agar pilihan orang tua sebagai ikatan batin seumur hidup. Menjadi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan tidak menjadikan anak sebagai “eksperimen” atau coba-coba.
Subscribe kanal YouTube kami ya untuk mendukung program kami.
Pada 4 Oktober 2023, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia yang diwakilkan oleh Anna Knöbl melakukan kunjungan ke kantor LPSK (=Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) Republik Indonesia yang bertempat di Jakarta. Sambutan yang hangat diterima oleh Wakil Ketua LPSK RI, Livia DF Istania Iskandar. Livia sendiri pernah mengisi acara dalam dialog online yang digagas Ruanita Indonesia bersama KJRI Hamburg dan PPI Kiel beberapa waktu lalu.
Diskusi antara Ruanita Indonesia dengan Wakil Ketua LPSK RI berfokus pada bagaimana standar pelaporan kasus yang terjadi pada warga Indonesia yang sedang berada di luar Indonesia, tetapi kasus tersebut terkait dengan situasi di Indonesia. Contoh yang pernah ditangani oleh LPSK RI seperti kasus penipuan kerja di luar negeri dan kasus perdagangan orang yang memang terjadi di luar Indonesia.
Wakil LPSK RI mendukung untuk mengadakan lebih banyak dialog hukum dan diseminasi tentang standar pelaporan untuk WNI yang tinggal di luar negeri dengan melibatkan organisasi kemasyarakaratan seperti Ruanita Indonesia. Selain itu, penting bagi para staf diplomat untuk bisa memiliki skill dan pengetahuan yang baik tentang penanganan kasus-kasus domestik yang terjadi di luar negeri.
Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.
Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.
Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.
Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.
Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.
Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.
Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.
Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.
Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.
Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.
Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.
Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.
Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.
Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:
Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Halo Sahabat Ruanita, aku Nurul tinggal dan bekerja di Hamburg. Aku ingin berbagi cerita tentang pengalamanku bekerja di klinik psikiatri geriatri (panti werdha) sebagai kepala perawat. Aku bekerja di sana sejak akhir tahun 2016, lebih tepatnya ketika aku masih sekolah vokasi di jurusan keperawatan lansia.
Walau namanya panti werdha atau jompo, jangan bayangkan panti werdha di Indonesia, ya, karena ini berbeda sekali. Saat aku masih kuliah di Bandung, aku pernah mengunjungi salah satu panti werdha di sana. Satu kamar tidur diisi oleh 6-8 orang, seperti bangsal. Di Jerman tidak begitu. Setiap kamar maksimal diisi oleh dua pasien yang bisa mereka dekorasi sesuai keinginan mereka. Ruang makan seperti restoran dan pasien mendapatkan four-course meal yang disesuaikan dengan diet mereka. Selain itu juga dilengkapi dengan taman, lift untuk menuju lantai lain, fisioterapi, dan salon. Stigma negatif tentang panti werdha di Indonesia ini yang membuat keluargaku dulu sulit memberikan izin untukku untuk bersekolah dan bekerja di bidang ini.
Sebagai perawat bersertifikat, tugasku adalah membuat rencana penanganan pasien, perawatan luka, suntik-menyuntik (obat dan insulin), kunjungan bersama dokter klinik dan dokter syaraf yang datang secara rutin, konsultasi keluarga pasien, komunikasi dengan toko alat kesehatan dan terapis dari luar (fisioterapi dan terapi wicara), dokumentasi untuk audit eksternal untuk asuransi kesehatan, perawatan paliatif, menyiapkan dan memberikan obat sesuai dengan resep dokter. Selain itu, aku juga membantu makan dan perawatan sehari-hari, seperti mandi misalnya.
Penanganan pasien di sini tidak sembarangan. Penanganan perawatan setiap pasien tidak sama, tetapi disesuaikan dengan profil mereka (pekerjaan, hobi, keluarga, dll), masalah/penyakit mereka, juga berdasarkan dengan diskusi dengan keluarga dan dokter mereka. Sebisa mungkin sistem perawatan kami disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Namun, itu juga tergantung dengan kondisi pasien itu sendiri, apakah mereka masih bisa memahami situasi sekarang, atau tidak sama sekali. Semua ini harus direncanakan dengan matang karena mereka akan tinggal di klinik kami selamanya.
Hampir semua pasien kami adalah orang dengan demensia, atau dalam bahasa awam sering disebut dengan pikun. Demensia adalah bentuk dari penurunan fungsi otak, karena mereka itu pelupa, kebingungan, dan disorientasi. Demensia mempunyai beragam tipe berdasarkan penyebabnya. Contohnya, Alzheimer yang menjadi tipe demensia terbanyak. Demensia juga bisa dipicu oleh makanan, alkohol, rokok, kegemukan, darah tinggi, dan/atau penyakit sebelumnya seperti luka dalam kepala, stroke, serangan jantung, epilepsi, dan parkinson. Kurangnya kontak sosial saat mereka muda dulu juga bisa menjadi pemicu. Umur juga berpengaruh, walaupun juga ada kasus demensia anak. Pasien di tempatku rata-rata berumur di atas 80 tahun. Ada yang baru masuk di umur 97 tahun karena dia baru terkena demensia. Demensia bisa dimulai dari tahap awal, atau langsung ke tahap lanjutan, tergantung dari pemicunya.
Tahapan demensia pasien-pasien yang aku tangani juga berbeda-beda. Sampai saat ini, demensia yang aku tangani masih dalam level baik, seperti momen saat mereka masih nyaman dan mengerti obrolan kami. Ada juga pasien yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, tetapi ada juga yang seperti orang normal dan bisa dicintai. Dari situ aku tahu bahwa mereka juga manusia yang dahulu pernah punya jiwa yang sehat. Itulah alasan aku suka bekerja dengan lansia, meskipun juga berat bekerja dengan mereka.
Kami pernah mempunyai pasien yang senang bermusik. Musik membantu dia untuk bangkit lagi, sampai dia meninggal. Saat pertama datang ke klinikku, kondisi badan dia masih sehat dan fit. Aku dan rekan kerjaku sesama orang Indonesia sering meluangkan waktu setelah jam kerja untuk bermain musik dan gitar dengan dia, meskipun saat itu dia sudah tidak bisa pegang gitar lagi. Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan dia menurun dan jatuh koma di rumah sakit.
Dokter menyarankan istrinya untuk melepaskan alat bantu pernafasan. Dia menolak, lalu datang ke klinik kami. Aku dan rekan berinisiatif meminta istrinya untuk mencoba memperdengarkan musik-musik yang dia suka dan video saat kami dulu bermain musik bersama. Tidak lama setelah dia mendengarkan musik-musik itu, dia menunjukan reaksi dan perkembangan. Sampai akhirnya, dia kembali lagi ke klinik kami, walaupun dengan keadaan tidak terawat dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Kami melatih lagi kemampuan fisiknya dengan bantuan fisioterapis dan terapi wicara. Tiga bulan kemudian, dia bisa berdiri dan berbicara lagi. Sayangnya sekitar 6-8 bulan kemudian, kesehatan fisiknya menurun dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian dia meninggal di kamarnya di klinik kami, sesuai dengan keinginannya.
Aku punya banyak sekali pengalaman menarik selama bekerja di klinik panti werdha. Yang paling aku suka adalah saat mereka bercerita tentang masa lalu dan masa muda mereka sambil menunjukan foto album mereka. Aku suka sekali dengan The Beatles. Baru-baru ini aku membantu pasien yang pindah dari kamar untuk berdua ke kamar sendiri. Dia termasuk pasien yang dekat denganku.
Dia pernah terkena stroke yang menyebabkan gangguan bicara. Oleh karena itu, dia sering teriak-teriak, tetapi itu bukan karena dia marah. Saat aku membereskan album foto, aku menemukan album The Beatles dengan tanda tangan asli mereka. Dia bilang, dia bertemu The Beatles saat mereka konser di Jerman. Saat itu lagu-lagu The Beatles baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
Cerita lucu juga aku punya banyak. Sebagai bentuk penanganan orang dengan demensia, aku sering harus bermain peran seperti aktris film. Pernah ada satu nenek yang bercerita kalau barangnya dicuri. Aku pun berperan sebagai petugas keamanan dan membantu dia untuk menelepon polisi.
Dengan pasien lain, yang dulu adalah seorang guru SD, aku berperan sebagai kepala sekolah. Oleh karena itu, dia bercerita bahwa murid-muridnya yang berjumlah 23 orang itu tidak bisa diam. Jika ada pasien yang tidak mau disuntik, aku akan datang lima menit kemudian untuk berganti peran menjadi anaknya atau siapa pun untuk membujuknya.
Setiap hari, aku harus pintar-pintar berganti peran. Teknik yang dinamakan validasi ini merupakan teknik penting dalam menangani orang dengan demensia. Jika mereka diteriaki, mereka akan memblokir dirinya dengan pura-pura tidak mendengar, karena orang di seberangnya melawan keinginannya. Itu sebab, aku berbaur dengan dunia mereka dan mengikuti peran sesuai dengan yang mereka inginkan. Jika pasien bercerita anaknya sakit, aku akan memvalidasinya dengan bertanya, „Anak ibu yang sakit di mana?“. Aku juga akan ikut „mencari“ anaknya tersebut.
Cerita tidak mengenakkan juga pernah aku alami di klinik. Kami pernah punya pasien berumur 103 tahun yang masih sehat secara fisik dan jiwanya. Aktivitas sehari-hari bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dia narsisnya tidak ada dua. Dia menjulukiku „die kleine Schwarze“ (si hitam kecil) dan rekan kerjaku „die Kleine mit Kopftuch“ (si kecil berjilbab).
Dia menolak menerima penanganan dari kami. Dia hanya ingin ditangani oleh orang Jerman. Hal ini tentu tidak memungkinkan karena tidak ada perawat di tempatku yang seratus persen berdarah Jerman. Kepala layanan keperawatan kami mengundang keluarganya untuk berdiskusi. Menurut anak-anaknya, ibu mereka merasa dirinya kuat. Dia mengalami dua perang dunia dan berhasil mendidik anak-anaknya sendirian, karena suaminya ikut berperang. Anak-anaknya sampai menjadi dokter.
Akhirnya aku bilang ke pasienku ini, bahwa aku hanya melakukan tugasku. Kami tidak perlu berbicara apa-apa. Aku harus profesional dan tahu batasanku sendiri. Aku juga menolak untuk menangani dia kalau aku tidak mau. Lama-lama dia sendiri mengakui kalau aku dan rekan kerjaku memang baik. Kami tidak pernah balik meneriaki dia, setiap dia melakukan tindakan rasis.
Menurutku, pengalaman paling tidak mengenakan adalah ketika ada pasien meninggal. Aku tidak mengenal mereka hanya satu atau dua minggu saja tetapi sudah bertahun-tahun. Ada beberapa pasien yang mempunyai chemistry yang pas denganku. Aku tahu, di dunia keperawatan kita boleh berempati tetapi jangan bersimpati dengan pasien. Dikhawatirkan jika terjadi sesuatu dengan pasien tersebut, aku juga yang sulit melepaskannya.
Secara profesional hal ini mudah. Namun pasienku manusia dan aku bekerja dengan hati. Aku pasti sedih dan tidak jarang juga menangis, jika ada yang meninggal, apalagi kalau dia adalah pasien yang dekat denganku. Walaupun begitu, di hari mereka meninggal aku tetap profesional. Aku tidak memperlihatkan kesedihanku dan aku masih bisa mengontak keluarga, layananan kematian, dan dokternya. Aku harus kuat. Aku tidak bisa larut dalam kesedihan kemudian aku tidak bekerja.
Hal ini tentu tidak datang serta-merta. Awal aku bekerja di bidang ini, aku juga tidak tahu harus bagaimana jika ada pasien meninggal. Pengalaman pertamaku kehilangan pasien, aku menjaga jarak dan tidak mengunjungi dia di kamarnya. Aku tidak mau lihat dia. Lama-lama, aku terbiasa. Menurutku, itu hal yang manusiawi kalau aku sedih dan menangis.
Kembali ke tema demensia. Demensia sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat – gizi seimbang dan olahraga rutin. Pergi piknik dan kontak dengan orang lain juga bisa membantu. Begitu pun dengan melakukan aktivitas otak, seperti membaca buku, mengerjakan kuis, mengisi TTS (Teka-Teki Silang), dan puzzle untuk melatih otak agar tidak ada syaraf otak yang tidak terpakai dan lama-kelamaan mati. Kegiatan pasien di klinik kami juga seperti itu. Mereka dibacakan novel atau koran setiap pagi.
Untuk mengetahui apakah seseorang terkena demensia, kita bisa mengetahui dari aktivitas dan orientasinya sehari-hari. Ada pasienku, yang dulu saat masih tinggal sendiri, sering lupa mematikan kompor. Dia berulang kali memasak makanan yang sama karena dia lupa sebelumnya baru saja memasak itu. Anaknya yang sadar dengan perubahan ibunya itu kemudian membawa ibunya tinggal di klinik kami. Itu seperti keinginan ibunya, sebelum dia terkena demensia.
Kehilangan ingatan jangka pendek juga salah satu ciri-cirinya. Ingatan yang disimpan 30 tahun saat otak dan badan masih sehat bisa bertahan dibandingkan dengan yang disimpan setahun lalu. Hal ini berat untuk para lansia yang pernah mengalami perang dunia. Banyak dari mereka yang terpicu traumanya jika mendengar suara petasan atau kembang api di tahun baru. Itu disebabkan apa yang tersimpan di ingatannya adalah peristiwa perang saat mereka masih muda.
Banyak juga lansia yang lupa dengan wajah anak-anaknya, karena yang tersimpan adalah wajah anak-anaknya saat masih kecil. Sedangkan wajah anak-anak mereka saat dewasa, mereka tidak menyimpannya. Dia ingat dia punya anak, tetapi dalam benak dia adalah muka anaknya saat masih kecil. Oleh karena itu, album foto sangat penting bagi mereka. Dengan melihat-lihat album foto, mereka terpancing untuk ingat lagi kejadian baru-baru ini.
Menurutku, cara untuk membantu orang dengan demensia adalah dengan memberikan mereka waktu dalam berbagai hal. Semakin kita memaksakan mereka sesuatu, semakin mereka akan melawan. Oleh karena itu, kesabaran juga sangat penting. Caraku mencoba berperan dengan menyesuaikan situasi pasien, bisa dicoba untuk menangani anggota keluarga dengan demensia.
Aku menekankan bahwa ini tidak bisa diaplikasikan ke semua orang dengan demensia, terutama ke orang dengan demensia agresif. Demensia agresif ini termasuk juga ke dalam tipe demensia. Hal itu terjadi karena ada gangguan di otak bagian depan yang bisa menyebabkan perubahan kepribadian. Misalnya, semula orang tersebut baik hati tetapi saat terkena demensia menjadi agresif, seperti sering teriak-teriak atau marah-marah.
Aku berharap semakin banyak lagi penyuluhan tentang demensia di Indonesia. Ini bisa dimulai dari pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan cara penangannya. Penambahan wawasan ini penting tidak hanya untuk orang tua atau lansia saja, tetapi juga pihak keluarga, agar kita bisa mengenal ciri-cirinya dengan mandiri dan sedini mungkin.
Penyuluhan ini juga penting untuk mematahkan stigma di masyarakat. Jangan lagi ada ucapan, “Nenek dia jadi gila”, karena sering teriak-teriak atau melakukan sesuatu tidak normal. Hal ini tentu saja tidak mengenakan untuk keluarga mereka juga. Demensia tidak sama dengan gila. Ini bukan disebabkan oleh gangguan psikologis, tetapi terpicu karena syaraf di otaknya yang tidak lagi bekerja sepenuhnya.
Untuk Sahabat Ruanita yang ingin bekerja di bidang ini, aku sarankan untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang demensia dan cakupan bidang keperawatan lansia. Kita juga harus siap bekerja dengan mereka. Tidak jarang orang yang bilang ingin bekerja menjadi perawat di bidang ini, sayangnya harus berakhir di tengah jalan karena merasa berat.
Penanganan di sini berbeda dengan di rumah sakit umumnya. Di rumah sakit, mungkin pentingnya adalah pemberian obat, sedangkan di panti penanganan dimulai dari pasien bangun tidur sampai tidur lagi. Selain itu, penting juga kita mempunyai kesabaran dan empati yang banyak, ramah, profesional, berhati besar, rajin, dan pengertian. Kita harus memahami bahwa yang mereka lakukan itu karena mereka sakit, bukan karena mereka benci kita.
Ditulis oleh Mariska Ajeng (www.mariskaajeng.com) berdasarkan cerita dari Nurul Vaoziyah yang bisa dihubungi via info@ruanita.com atau langsung ke Instagram pribadinya @nurulvaoziyah.
INDONESIA – Pada hari Senin (18/9) Ruanita Indonesia melakukan audiensi dan diskusi bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan yang bertempat di kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ruanita diwakilkan oleh Anna Knöbl selaku Founder of Ruanita Indonesia yang didampingi oleh para relawan seperti: Hernita Oktarini, Natasha Hartanto, dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Kedatangan tim Ruanita Indonesia disambut dengan baik oleh Komnas Perempuan yang dipimpin oleh Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat , Veryanto Sitohang dan didamping oleh Staf Komnas Perempuan lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan mengapresiasi kerja Ruanita Indonesia yang selama ini telah berupaya untuk membuat program terstruktur dalam mengatasi kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia di luar Indonesia.
Hernita Oktarini, selaku juru bicara dalam Tim Ruanita Indonesia menjelaskan tentang profil Ruanita Indonesia yang baru saja menginjak usia 2 tahun. Pada Maret 2023, Ruanita Indonesia telah berbadan hukum di bawah Pemerintah Indonesia dengan nama: Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan bekerja secara digital untuk terhubung dengan berbagai perempuan Indonesia di mancanegara.
Hernita juga menjabarkan tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia selama ini di luar Indonesia seperti: status izin tinggal, kultur (bahasa dan budaya), psikologis, pekerjaan, krisis sosial dan identitas kebangsaan, keamanan hingga keluarga dan pengasuhan anak.
“Tinggal di negara yang memiliki budaya, bahasa, dan sistem pemerintahan yang berbeda tentu mendapatkan beragam tantangan. Mulai dari aspek psikologosi, saat tinggal di luar negeri, hingga kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang terikat dalam perkawinan campuran,” kata Anna menambahkan penjelasan Hernita.
Selain itu, Ruanita Indonesia berharap kepada Komnas Perempuan untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada perempuan Indonesia di luar negeri melalui dukungan psikosial, dukungan informasi dan edukasi tentang hak-hak perempuan di luar negeri, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi hak-hak perempuan seperti menjadi perantara dengan KBRI/KJRI dalam mengakses layanan kekonsuleran. Ruanita Indonesia berharap dapat menindaklanjuti kerja sama dengan Komnas Perempuan sehingga menjadi program terintegrasi dan menyeluruh untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.
Lebih lanjut, Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Veryanto Sitohang menjelaskan: “Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, baik di luar negeri atau melibatkan warga negara asing lebih rumit untuk ditangani karena mempertimbangkan sistem hukum kedua negara.”
Acara ditutup dengan diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan untuk menindaklanjuti kampanye bersama yang sudah dijalankan oleh Ruanita Indonesia setiap 25 November tiap tahun pada saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.
Pada tahun 2017, saya menghadiri acara ALZI (=Alzheimer) di Jenewa, Swiss. Saat itu, kak DY menceritakan tentang ibunya yang mengalami Demensia Alzheimer. Dari situ, saya baru mengerti bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang harus mendapatkan perhatian penuh oleh keluarga. Saya kemudian tergerak untuk menjadi member dari ALZI untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di Jenewa, Swiss dan sekitarnya agar dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD).
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Sangat penting bagi kita untuk mengenali dan mengerti apa itu Alzheimer sedini mungkin. Dengan adanya pemahaman dini dan disertai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, maka kita dapat mengambil langkah-langkah pertama untuk mencegah penyakit Alzheimer itu berkembang dengan cepat.
Kita dapat belajar bagaimana sebaiknya mendampingi ODD supaya mereka merasa nyaman dan mengurangi rasa stres mereka. Begitu juga, apa saja aktivitas-aktivitas yang baik untuk diberikan kepada ODD agar dapat menstimulasi daya pikir mereka dan menjaga badan sehat. Hal ini dapat menolong untuk memperlambat perkembangan Demensia Alzheimer.
Peran anggota keluarga sebagai caregivers utama itu sangat penting. Dengan mereka mengenali Alzheimer sedini mungkin, kita bisa menciptakan suasana saling mengerti antara ODD dan caregivers.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia, mari kita semua ikut aktif membantu organisasi ALZI dalam menjalankan visi dan misinya. Kita bisa membangun komunitas lansia sehat di mana pun kita berada dan mengajak generasi muda untuk ikut terlibat aktivitas-aktivitas organisasi ALZI agar memperoleh pemahaman dini tentang penyakit Alzheimer, serta bagaimana menghadapinya. Jangan maklum dengan pikun!