Dalam program Podcast RUMPITA di bulan September 2024, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda untuk membahas pengalaman tinggal di Belanda dan rencana usai studi.
Sebagaimana kita ketahui, Belanda telah menjadi impian bagi banyak generasi muda Indonesia untuk merasakan pengalaman studi di mancanegara, sebagaimana yang dialami oleh Zukrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi yang ikut memandu diskusi Podcast episode ini.
Tamu yang diundang adalah Farhan Kurniawan, yang adalah mahasiswa di IHE Delft Institute for Water Education, di Belanda dan sedang menyelesaikan Thesis S2. Farhan juga dikenal sebagai konsultan di bidang lingkungan hidup.
Farhan mengakui bahwa syarat-syarat lamar studi di Belanda tidak diperlukan pengakuan kemampuan Bahasa Belanda, meski Farhan sempat ikut les Bahasa Belanda sebelum studi.
Farhan mengamati bahwa kecenderungan orang-orang Belanda yang mau open dan friendly kepada orang asing, terutama adanya program Buddy yang diselenggarakan antara pihak universitas dengan warga lokal.
Lainnya adalah tentang bagaimana orang-orang Belanda suka sekali bersepeda, bahkan Farhan bisa menjelaskan dengan baik berdasarkan ilmu alam tentang bersepeda.
Selain pengalaman hidup, Farhan juga menjelaskan tentang sistematika penilaian di kampus yang dimulai dari 1-10 dengan angka 10 sebagai angka sempurna.
Namun, Farhan mengakui bahwa tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang bagus di kampusnya.
Oh ya, Farhan mengakui bahwa kampusnya adalah satu-satunya kampus yang tidak memiliki orang Belanda yang studi di sana.
Saat rekaman Podcast berlangsung, Farhan sedang menekuni Thesis-nya dengan tema water flow yang membantu untuk estimasi bencana banjir misalnya.
Itu sebab, tema yang dikembangkannya memang disesuaika dengan kebutuhan di Indonesia seperti di Jakarta yang rawan banjir.
Usai studi di Belanda di tahun ini, Farhan ingin kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.
Farhan sendiri bercerita bagaimana prosesnya dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Dia pun menjelaskan bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.
Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA berikut ini dan jangan lupa FOLLOW akun podcast kami:
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan Rufi, seorang Mahasiswi S2 yang sedang studi di Jerman. Saya tertarik menuliskan cerita sahabat bertema Cultural Diversity berdasarkan hasil wawancara saya berikut. Orang yang saya wawancarai bernama Anky. Dia adalah seorang Researcher dan Mahasiswa Postgraduate di Delft di Belanda. Sejak 5 bulan lalu, dia pindah dan menetap di Belanda.
Berbicara tentang Cultural Diversity, pertama-tama, kita ingin tahu dulu definisi dari Cultural Diversity tersebut. Menurut pengamatan Anky, Cultural Diversity adalah keanekaragaman pemikiran atau pola pikir, kebiasaan, dan sikap yang membentuk adanya keunikan pada diri setiap orang. Saya sependapat sih, bahwa setiap orang itu pada dasarnya unik.
Namun, mengapa ya Cultural Diversity itu perlu dilestarikan dan dijaga? Ada empat hal yang saya tangkap dari Anky. Pertama, Cultural Diversity dapat membuat kita mengenal dan belajar tentang keberagaman budaya tersebut. Kedua, tentunya keragaman budaya dapat menciptakan sikap respect satu sama lainnya.
Ketiga, Cultural Diversity pun dapat semakin menguatkan identitas diri kita. Tentunya, kita dapat menentukan apakah perbedaan yang ditemui tersebut sesuai dengan nilai-nilai atau identitas yang sudah terbentuk pada diri kita atau tidak.
Hmm, apakah mungkin Cultural Diversity akan punah? Menurut Anky tidak bisa. Cultural Diversity merupakan hal yang sudah melekat pada setiap diri setiap individu. Anky percaya kalau kodratnya setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing. Misalnya, cara berpikir seseorang yang unik dan beragam dan merupakan hal yang akan terus exist.
Hal tersebut juga diperoleh dari kebudayaan yang telah melekat pada setiap diri manusia sejak lama. Contoh lainnya konteks agama, Anky menjelaskan terdapat banyak dalil-dalil yang ada dan cara setiap individu dalam menginterpretasikan dalil-dalil tersebut, yang tentunya akan berbeda-beda. Mengapa? Hal ini dikarenakan dari kebudayaan yang sudah melekat dari setiap individu.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, misalnya Anky saat ini sedang berkuliah di Belanda, tentunya dari cara Anky menyampaikan pendapat pada saat di kelas pun dipengaruhi oleh kultur saat Anky belajar di Indonesia. Begitupun teman-teman kelas Anky yang berasal dari negara-negara yang berbeda.
Menurut Anky, cara mereka yang berbeda-beda juga terbawa oleh nilai-nilai dan keunikan identitas masing-masing yang dipengaruhi oleh perbedaan budaya. Jadi, cultural diversity itu akan terus ada (exist) dan tidak bisa punah.
Tidak usah jauh-jauh berbicara tentang keanekaragaman budaya di negara lain, Indonesia sendiri punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Anky berpendapat, ini akan terus exist dan sulit untuk terkisis.
Namun, tentunya bisa terus dilestarikan keberadaannya. Salah satu caranya, adalah kita bisa menyadari keberagaman adalah hal yang akan terus ada. Kita harus respect dengan setiap individu yang beragam tersebut.
Menurut Anky, dimana pun dia berada, maka dia sudah merepresentasikan keberagaman budayanya sendiri. Contohnya, kultur main hape di depan kasir di Jakarta adalah hal yang biasa saja. Namun, pada saat Anky kemarin lagi berbelanja di toko Turki, dia ditegur untuk jangan bermain hape pada saat di depan kasir.
Tentunya, ini merupakan contoh kecil dari dua kultur yang berbeda. Pastinya kita menjadi respect dan menghormati keberagaman budaya tersebut.
Meski begitu, keragaman budaya masih saja memiliki tantangan tersendiri, terutama buag sebagian orang yang masih malu dengan budayanya sendiri, apalagi saat kita tinggal di luar Indonesia. Hal ini cukup relate dengan salah satu materi kuliah yang Anky sedang pelajari. Jadi, di setiap tempat ada termsinstitution (Rule in use).
Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempraktikkan peraturan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tempat punya institusi (norma/peraturan) yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana caranya kita dapat flexible dan beradaptasi dengan institusi yang ada, di tempat kita berada saat ini. Namun, jika konteks dari aturan tersebut bertentangan dengan budaya Indonesia dan personal values yang telah kita pegang selama ini, menurut Anky, sebaiknya kita tidak meng-adjust begitu saja aturan-aturan tersebut.
Baik saya maupun Anky, sama-sama warga Indonesia yang sedang ada di luar Indonesia. Kita berharap agar warga Indonesia di mana saja sadar akan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.
Menurut Anky, kita perlu membangun perasaan seperti: “merasa memiliki atau bangga” akan kebudayaan Indonesia melalui berbagai cara. Salah satunya nih, kita bisa melakukan melalui campaign yang bertujuan untuk membangun awareness kepada setiap warga, bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam dan kaya.
Sahabat Ruanita tahu tidak, kalau ada Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia loh. Pesan kami berdua, adalah mari kita mengajak Global Southern countries untuk bersatu haluan bersama! “Teruntuk Global Northern countries, less your ego and show more respect to others!”
Kita adalah perempuan-perempuan keren! Karena kita mampu untuk relatively hidup independen di negara-negara yang diverse ini. Kita harus tetap semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality! Ayo, terus semangat menjadi Indonesian culture agent di mana pun kita berada.
Penulis: Zukhrufi Syasdawita, atau yang sering dipanggil dengan nama Rufi yang menulis berdasarkan wawancara dengan Anky. Rufi adalah seorang mahasiswa di University of Passau, Jerman. Dapat terhubung dengan Rufi melalui akun instagram zsyasdawita.