Tak banyak orang tua yang berhasil mengenali gangguan perkembangan yang dialami anaknya, terutama bagaimana anak dapat merespon dengan tepat sesuai panca inderanya. Respon anak dengan gangguan pemrosesan sensori bisa berlebihan atau bisa berkurang. Hal ini dialami langsung oleh Stephanie, yang adalah seorang ibu dan saat ini sedang menyelesaikan studi Ph.D di Belanda.
Stephanie bertutur dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami untuk para ibu yang berada di mancanegara meski dia memiliki keilmuan sebagai Psikolog. Gangguan pemrosesan sensori kadang bisa dikenali sebagai anak dengan Autisme, tetapi itu tidak sama.
Gangguan pemrosesan sensorik adalah suatu kondisi di mana otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui indera. Anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensorik mengalami kesulitan memproses informasi dari indera (sentuhan, gerakan, penciuman, rasa, penglihatan, dan pendengaran) dan merespons informasi tersebut dengan tepat.
Anak-anak ini biasanya memiliki satu atau lebih indera yang bereaksi berlebihan atau kurang terhadap rangsangan. Gangguan pemrosesan sensorik dapat menyebabkan masalah dengan perkembangan dan perilaku anak.
Lebih lengkap tentang penjelasan Stephanie tersebut, bisa dilihat dalam tayangan video berikut:
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.
Sahabat Ruanita, episode kelima dari Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) adalah seputar pengalaman Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa yang studi di Jerman dalam memperpanjang Visa sebagai ijin tinggal bagi WNI di luar negeri. Bemula dari cerita Nadia mengurus perpanjangan Visa sementara saat pandemi melanda dunia dua tahun lalu.
Baik Nadia maupun Fadni kini sedang menempuh program Pascasarjana di Jerman setelah mereka lulus sarjana di Jerman. Syarat untuk perpanjangan Visa Studi di Jerman menurut Nadia adalah punya tabungan sekitar 10 ribu Euro, keterangan status ijin tinggal seperti mahasiswa, kerja, dll., kontrak rumah di Jerman dan surat keterangan tempat tinggal.
Sebagai mahasiswa di luar negeri, tiap orang punya kisah masing-masing yang menarik dan tak mudah untuk dijalani. Bagaimana pengalaman Nadia dan Fadni mengurus perpanjangan Visa sebagai mahasiswa di Jerman? Ada juga tips Nadia dan Fadni yang bisa membantu untuk perpanjangan Visa. Simak cerita mereka di saluran berikut:
Sahabat Ruanita, aku menikah dengan pria berkebangsaan Swiss kemudian menetap di negeri suami sudah lebih dari lima tahun. Aku memiliki dua putera yang membuatku happy selama tinggal di perantauan. Setidaknya aku kini tidak sendirian dan kesepian lagi karena ada dua buah hatiku.
Soal merawat anak sebenarnya tak begitu sulit mengingat aku punya dasar pengalaman bekerja sebagai perawat di rumah sakit saat aku masih di Indonesia. Aku juga beruntung memiliki suami yang pengertian dan ikut serta berbagi tugas pengasuhan anak-anak.
Ketika aku melahirkan, dokter menyampaikan kalau anakku ke depan akan menjadi anak yang hyperaktif. Awalnya anakku itu mengalami tantrum, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Aku pikir itu wajar terjadi pada anak-anak.
Kejadian yang paling aku ingat adalah anakku baru dua hari masuk sekolah, gurunya itu mengatakan kalau anakku tidak bisa mengikuti pembelajaran. Katanya, anakku kalau melihat mainan tersedia di sekolah, dia lebih sibuk bermain daripada mengikuti apa yang disampaikan gurunya. Menurutku itu hal yang biasa bahwa anak lebih suka bermain daripada mengikuti instruksi gurunya.
Guru anakku pun berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan anakku dan anakku yang juga belum bisa berbicara, dengan bertanya ke suami dan dokter anak. Kejadian itu dilaporkan ke Gemeinde (=sebutan untuk pemerintah lokal setempat) yang kemudian mendiagnosa apa yang terjadi dengan anakku. Mereka berpendapat bahwa anakku mengalami kelambatan bicara dan anakku pun tidak memahami Bahasa Jerman dengan baik. Menurutku, anakku butuh yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. Aku pun menuruti apa yang menjadi rekomendasi mereka.
Aku disarankan membawa anakku ke Logopädie, bagian terapi yang memfokuskan pada kesulitan bicara anak, kesalahan pengucapan, kesalahan pemahaman bicara yang biasanya tersedia di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss. Aku tetap optimis itu semua untuk kebaikan anakku tanpa menghiraukan pendapat orang-orang bahwa anakku butuh Psikolog Anak dan Logopädie. Aku berpikir positif bahwa semua treatment itu untuk kebaikan anakku juga.
Aku bersyukur sejak dini aku tahu masalah perkembangan anakku kemudian dibantu oleh Psikolog Anak dan Logopädie di sini. Psikolog Anak tiap satu minggu sekali datang ke rumahku seperti mengajak anakku bermain, mengamati perilaku anakku, mengajari bahasa ke anakku. Kunjungan Psikolog Anak berlangsung selama satu jam seminggu sekali. Untuk Logopädie itu gratis dimana aku bersama anakku berkunjung seminggu sekali ke terapi wicara tersebut. Semua penanganan anak itu aku dapatkan gratis sebagai layanan pemerintah kepada masyarakat.
Untuk layanan Logopädie privat 1 jam dikenakan 110 CHF. Kalau kita mau layanan privat, tentu saja harus bayar. Saya mendapatkan layanan umum saja sehingga aku dan anakku bisa ditangani cepat. Pemerintah di sini menyadari pentingnya layanan Logopädie untuk membantu anak-anak yang terlahir dari pelaku kawin campur. Bagaimana pun anak tentu kesulitan mencerna atau memahami bahasa kedua orang tua mereka.
Akhirnya aku mengatasi kesulitan berbicara pada anak dengan cara aku dan suamiku konsisten berbicara pada anakku. Aku konsisten berbicara dengan Bahasa Indonesia pada anakku. Sedangkan suamiku berbicara konsisten Bahasa Swiss-Deutsch pada anakku. Anakku mungkin mendapatkan bahasa baru semisal dari tontonan YouTube, pembelajaran di sekolah atau pergaulan dengan teman sebayanya. Aku konsisten tidak berbicara Bahasa Inggris sedikit pun pada anakku. Cara ini akan membuat anakku tidak bingung memahami bahasa.
Dokter/ahli sih berpendapat tidak ada masalah bagaimana orang tua harus berbicara pada anaknya. Namun aku menerapkan pola berbicara seperti itu, aku berbicara dalam Bahasa Indonesia sedangkan suamiku berbicara dalam Bahasa Swiss-Deutsch. Pendapatku, anak bisa berbicara bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di sekolah. Namun aku mengajarinya Bahasa Indonesia agar anakku bisa berkomunikasi dengan nenek-kakeknya atau orang tuaku dan juga keluargaku.
Bagaimana pun anak-anak perlu diajari bahasa ibu sebagai komunikasi anak dengan ibunya di rumah. Bahasa ibu itu lebih penting di rumah. Kalau anak di luar rumah, biarkan anak-anak belajar dengan sendirinya.
Saya sendiri menunggu jasa layanan ini hingga dua bulan agar anak bisa langsung ditangani. Anakku sempat berhenti dari playgroup karena menunggu layanan Logopädie tersebut.
Kadang ada saja pendapat miring kalau anak pergi ke Psikolog, maka masalah anak jadi bermacam-macam. Kita perlu memahami bahwa Psikolog itu membantu masalah kita, terutama untuk tumbuh kembang anak. Kita bisa cerita sama mereka juga karena mereka akan membantu dan memberikan solusinya.
Alhamdulilah, anakku sekarang sudah luar biasa tumbuh kembangnya. Mereka bilang juga kalau anakku itu Intelligent. Sekarang anakku bisa berbicara lancar daripada sebelumnya. Kelambatan bicara atau masalah bicara anak pada perkawinan campuran yang berbeda bahasa ibu bukan hal yang baru. Anakku pun mengalami perkembangan bahasa yang baik dan lebih baik.
Aku bersyukur tahu sejak dini tentang masalah tumbuh kembang anak sehingga aku dan suamiku bisa mengoreksi bersama.
Penulis:
Fitri H. Wehrli kini bermukim di Swiss. Buah pikir Fitri lainnya yang sudah terbit: CINTA TANPA BATAS (2022).
JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.
Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.
Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.
Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.
Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.
Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.
Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.
Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.
Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.
Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.
Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:
JERMAN – IG Live Episode Juli 2022 yang diselenggarakan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita adalah bertema penanganan anak dengan Autisme di Jerman. Acara IG Live (16/7) dipandu oleh Christophora Nisyma, yang biasa disapa Nisyma (akun IG: ruanita.indonesia). Dia kemudian mengundang narasumber yang berbagi keilmuan dan pengalaman seputar menangani anak dengan Autisme di Jerman. Narasumber yang dimaksud adalah Fransisca Sax, M.Psi. yang bertugas saat ini di Daycare di Munich, Jerman.
IG Live di bulan Juli ini sebagai pengantar webinar yang digelar Ruanita dengan judul: Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara? pada Minggu, 17 Juli 2022. Fransisca menetap di Jerman sejak 2016, kemudian dia memutuskan untuk bekerja di Daycare untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus di Munich pada 2020.
Layanan yang dilakukan Fransisca sehari-hari juga termasuk anak-anak yang masuk gangguan dalam spektrum Autisme melalui bermain, makan siang, ngobrol, atau melakukan terapi. Fransisca biasa membuat diagnosa perkembangan tiap anak/remaja yang didampinginya.
Tugas lainnya yang berkaitan dengan fungsi orang tua yang dilakukan Fransisca adalah membantu orang tua untuk menemukan terapi yang sesuai untuk kebutuhan anak. Di Jerman terdapat peraturan yang mengatur bahwa anak-anak dengan Autisme bisa terinklusi di masyarakat. Ini menjadi perbedaan Jerman dengan negara lainnya. Autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus adalah keragaman yang memperkaya, bukan membebani.
Oleh karena itu, pemerintah Jerman berharap bahwa masyarakat juga bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak dengan Autisme. Itu berarti bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang dituntut bisa beradaptasi di masyarakat. Masyarakat juga harus bisa membantu mereka – anak/remaja berkebutuhan khusus – terinklusi di masyarakat.
Jerman sudah meratifikasi sejak 2009 Konvensi PBB tentang hak individu anak-anak berkebutuhan khusus. Ratifikasi ini sudah berlaku di 16 negara bagian di Jerman, yang disesuaikan dengan kebijakan tiap-tiap negara bagian. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Jerman patut mengetahui paragraf 35A BGB yang menjadi landasan kuat agar anak berkebutuhan khusus tetap dapat terlayani seperti terapi, bantuan finansial dan bantuan pendampingan lainnya.
Sekolah itu gratis di Jerman sedangkan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ditanggung oleh asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan layanan tak berbayar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tua perlu menghubungi instansi terkait di Jerman.
Di paragraf 35A BGB tersebut tertera bahwa anak/remaja yang berkebutuhan khusus itu mendapatkan layanan inklusi jika perkembangannya lebih lambat 6 bulan dari usia perkembangan atau individu seusianya. Misalnya anak umur 6 tahun tetapi belum dapat melakukan toilet training atau belum bisa berbicara seperti anak-anak seusianya.
Kondisi anak-anak yang mengalami keterlambatan tentu akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Penting untuk mengetahui dan mendeteksi perkembangan anak sejak dini agar bisa dilakukan penanganan secepatnya.
Diagnostik keterlambatan anak ini menjadi indikator bahwa anak memerlukan penanganan dini. Bantuan terkait anak-anak berkebutuhan khusus yang disediakan pemerintah Jerman kepada masyarakat berupa bantuan rawat jalan, tempat tinggal khusus sifatnya sementara, bantuan perawat/terapis untuk membantu anak berkebutuhan khusus sampai rumah tinggal permanen untuk anak-anak berkebutuhan khusus bila mereka tidak lagi memiliki orang tua/sanak keluarga lainnya.
Tujuan pemerintah Jerman lewat program inklusi adalah memberi kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dan bisa hidup di masyarakat pada umumnya. Spektrum anak dengan Autisme itu begitu luas sehingga perlu terapi yang mana bantuan pun bergantung pada diagnostik dari anak/remaja tersebut. Pemerintah mengambil alih pembiayaan sehingga perlu juga ada laporan mengenai perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayainya melalui diagnostik berkala. Ini pula yang menjadi bagian dari pekerjaan Fransisca sehari-hari.
Menurut Fransisca, penanganan anak dengan Autisme itu harus dilakukan secara holistik mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hukum dan lainnya. Di Jerman terapi yang diberikan kepada anak dengan Autisme pertama kali diberikan oleh dokter anak setelah melihat kecenderungan atau kemungkinan gangguan spektrum Autisme. Orang tua kemudian membawa anak untuk bagian penanganan anak usia dini. Orang tua akan didampingi dalam merawat dan mengasuh anak-anak dengan Autisme. Fransisca menegaskan layanan ini hanya untuk anak-anak berusia PAUD atau anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.
Anak dengan gangguan spektrum Autisme biasanya mengalami masalah bahasa, meski begitu bukan berarti dia tidak bisa bicara. Diagnosa bisa merujuk pada bagaimana kondisi anak sebenarnya sehingga perlu stimulasi lebih lanjut. Anak bisa dirujuk ke terapi wicara atau dalam Logopädie Therapie dalam Bahasa Jerman.
Lainnya anak dengan gangguan spektrum Autisme punya kecenderungan masalah dengan sensori panca indera seperti fokus pada penglihatan atau pendengaran tertentu saja. Anak-anak yang punya kecenderungan demikian, menurut Fransisca, biasanya dirujuk ke Ergotherapie dalam Bahasa Jerman. Di Indonesia, Ergotherapie disebut sebagai terapi okupasi.
Lebih lanjut tentang penanganan anak dengan Autisme di Jerman yang disampaikan oleh Fransisca dapat disaksikan dalam tayangan IG Live berikut:
Cerita Sahabat Spesial bertema pengalaman melahirkan kali ini disampaikan oleh Fitri H. Wehrli yang sudah menetap di Swiss lebih dari 5 tahun. Ibu dari dua orang anak ini menuturkan pengalamannya melahirkan di Swiss yang begitu perhatian untuk kesejahteraan ibu dan anak. Di rumah sakit bersalin di Swiss telah tersedia semua pakaian yang dibutuhkan oleh ibu dan anak. Fitri merasa senang dan happy saat jelang persalinan kedua buah hatinya.
Semua fasilitasi layanan cek kehamilan, suntik, obat-obatan dan semua yang dibutuhkan ibu selama kehamilan hingga melahirkan ditanggung oleh asuransi yang sudah wajib dimiliki seseorang jika tinggal dan menetap di Swiss. Artinya, Fitri tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Menurut Fitri, tidak ada mitos-mitos tentang ibu hamil atau ibu melahirkan yang selama ini didengarnya sewaktu dia berada di Indonesia. Suami Fitri hanya menyarankan agar Fitri tetap happy menjadi ibu.
Sebagai seorang yang memiliki latar belakang perawat yang bekerja di rumah sakit, Fitri merasakan perbedaan pengalaman melahirkan antara Indonesia dengan Swiss. Di Indonesia, seorang ibu yang hamil hingga melahirkan ditangani oleh dokter yang sama sedangkan di Swiss berbeda. Selama kehamilan ibu memang ditangani oleh dokter, tetapi setelah ibu melahirkan maka ibu akan ditangani oleh Hebamme atau Bidan dalam Bahasa Indonesia.
Fitri pun menceritakan pengalaman melahirkan anak pertama kali di Swiss. Fitri sempat mendapatkan tindakan akupuntur setelah pembukaan satu agar dapat mempercepat proses lahiran yang dialaminya. Saat seorang ibu hendak melahirkan, dokter bertanya kepada ibu tentang metode melahirkan yang dikehendaki. Fitri memilih untuk melahirkan secara normal yang dibantu oleh seorang bidan yang sudah dirujuk oleh dokter.
Setelah Fitri melahirkan dengan kondisi yang baik-baik saja, Fitri kemudian dibawa ke suatu ruangan bersama anak yang baru saja dilahirkan. Menurut Fitri, ibu akan selalu bersama anak yang baru saja dilahirkan kalau kondisi keduanya baik-baik saja dan tanpa masalah. Biasanya dokter dan bidan akan berjaga dan stand by 24 jam di rumah sakit bersalin saat seorang ibu melahirkan untuk mengecek kondisi ibu dan anak.
Bidan yang membantu persalinan akan datang ke rumah dari ibu yang baru saja melahirkan, begitu cerita Fitri. Bidan akan mengontrol kondisi ibu dan bayi seperti melihat kesehatan, berat badan dan masalah yang ditemukan setelah persalinan. Bahkan ibu mendapatkan pengetahuan dasar dari Bidan tentang mengurus bayi yang baru saja lahir seperti memasang popok atau cara menyusui. Padahal pengetahuan dasar seperti ini biasanya sudah diperoleh ibu saat ibu masih di rumah sakit.
Hal menarik di Swiss adalah kunjungan dari pemerintah setempat terutama bagian perlindungan anak ke ibu yang baru saja melahirkan. Kunjungan mereka berfokus pada bagaimana kesiapan ibu dan keluarga dari bayi yang baru saja lahir. Apakah keluarga ini layak untuk mengasuh dan merawat bayi yang baru saja lahir? Demikian cerita Fitri saat pihak Gemeinde (=pemerintah setempat) mengecek kelahiran bayinya pertama kali. Mereka melihat apakah keluarga Fitri itu harmonis dan siap secara lahir batin untuk mengasuh bayi yang baru saja lahir tersebut.
Tak hanya soal kesiapan materi yang ditanyakan oleh pihak Gemeinde kepada ibu dan keluarga yang baru saja mendapatkan anggota keluarga baru, mereka juga mengecek apakah ibu yang baru saja melahirkan itu happy dengan kehadiran bayi tersebut. Mereka memantau kondisi mental ibu seperti mengalami stress, depresi, tidak bahagia, dan sebagainya. Mereka tidak hanya bertanya kepada ibu yang baru saja melahirkan tetapi juga kepada suami tentang kondisi istrinya. Kunjungan mereka dilengkapi juga dengan pemberian buku dan materi edukasi bertema Parenting yang bermanfaat bagi Fitri dan suami.
Berikutnya Fitri bercerita soal tunjangan anak yang diberikan Pemerintah Swiss untuk tiap anak yang lahir di Swiss. Pertimbangan tunjangan anak juga bergantung pada ayah atau ibu yang bekerja. Tunjangan anak diberikan kepada masing-masing anak. Bagi Fitri, tunjangan anak ini sangat membantunya dalam membiayai kebutuhan sehari-hari anak.