(CERITA SAHABAT) Bekerja Pakai Hati dengan Lansia

Halo Sahabat Ruanita, aku Nurul tinggal dan bekerja di Hamburg. Aku ingin berbagi cerita tentang pengalamanku bekerja di klinik psikiatri geriatri (panti werdha) sebagai kepala perawat. Aku bekerja di sana sejak akhir tahun 2016, lebih tepatnya ketika aku masih sekolah vokasi di jurusan keperawatan lansia.

Walau namanya panti werdha atau jompo, jangan bayangkan panti werdha di Indonesia, ya, karena ini berbeda sekali. Saat aku masih kuliah di Bandung, aku pernah mengunjungi salah satu panti werdha di sana. Satu kamar tidur diisi oleh 6-8 orang, seperti bangsal. Di Jerman tidak begitu. Setiap kamar maksimal diisi oleh dua pasien yang bisa mereka dekorasi sesuai keinginan mereka. Ruang makan seperti restoran dan pasien mendapatkan four-course meal yang disesuaikan dengan diet mereka. Selain itu juga dilengkapi dengan taman, lift untuk menuju lantai lain, fisioterapi, dan salon. Stigma negatif tentang panti werdha di Indonesia ini yang membuat keluargaku dulu sulit memberikan izin untukku untuk bersekolah dan bekerja di bidang ini.

Sebagai perawat bersertifikat, tugasku adalah membuat rencana penanganan pasien, perawatan luka, suntik-menyuntik (obat dan insulin), kunjungan bersama dokter klinik dan dokter syaraf yang datang secara rutin, konsultasi keluarga pasien, komunikasi dengan toko alat kesehatan dan terapis dari luar (fisioterapi dan terapi wicara), dokumentasi untuk audit eksternal untuk asuransi kesehatan, perawatan paliatif, menyiapkan dan memberikan obat sesuai dengan resep dokter. Selain itu, aku juga membantu makan dan perawatan sehari-hari, seperti mandi misalnya.

Penanganan pasien di sini tidak sembarangan. Penanganan perawatan setiap pasien tidak sama, tetapi disesuaikan dengan profil mereka (pekerjaan, hobi, keluarga, dll), masalah/penyakit mereka, juga berdasarkan dengan diskusi dengan keluarga dan dokter mereka. Sebisa mungkin sistem perawatan kami disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Namun, itu juga tergantung dengan kondisi pasien itu sendiri, apakah mereka masih bisa memahami situasi sekarang, atau tidak sama sekali. Semua ini harus direncanakan dengan matang karena mereka akan tinggal di klinik kami selamanya.

Hampir semua pasien kami adalah orang dengan demensia, atau dalam bahasa awam sering disebut dengan pikun. Demensia adalah bentuk dari penurunan fungsi otak, karena mereka itu pelupa, kebingungan, dan disorientasi. Demensia mempunyai beragam tipe berdasarkan penyebabnya. Contohnya, Alzheimer yang menjadi tipe demensia terbanyak. Demensia juga bisa dipicu oleh makanan, alkohol, rokok, kegemukan, darah tinggi, dan/atau penyakit sebelumnya seperti luka dalam kepala, stroke, serangan jantung, epilepsi, dan parkinson. Kurangnya kontak sosial saat mereka muda dulu juga bisa menjadi pemicu. Umur juga berpengaruh, walaupun juga ada kasus demensia anak. Pasien di tempatku rata-rata berumur di atas 80 tahun. Ada yang baru masuk di umur 97 tahun karena dia baru terkena demensia. Demensia bisa dimulai dari tahap awal, atau langsung ke tahap lanjutan, tergantung dari pemicunya. 

Tahapan demensia pasien-pasien yang aku tangani juga berbeda-beda. Sampai saat ini, demensia yang aku tangani masih dalam level baik, seperti momen saat mereka masih nyaman dan mengerti obrolan kami. Ada juga pasien yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, tetapi ada juga yang seperti orang normal dan bisa dicintai. Dari situ aku tahu bahwa mereka juga manusia yang dahulu pernah punya jiwa yang sehat. Itulah alasan aku suka bekerja dengan lansia, meskipun juga berat bekerja dengan mereka. 

Kami pernah mempunyai pasien yang senang bermusik. Musik membantu dia untuk bangkit lagi, sampai dia meninggal. Saat pertama datang ke klinikku, kondisi badan dia masih sehat dan fit. Aku dan rekan kerjaku sesama orang Indonesia sering meluangkan waktu setelah jam kerja untuk bermain musik dan gitar dengan dia, meskipun saat itu dia sudah tidak bisa pegang gitar lagi. Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan dia menurun dan jatuh koma di rumah sakit. 

Dokter menyarankan istrinya untuk melepaskan alat bantu pernafasan. Dia menolak, lalu datang ke klinik kami. Aku dan rekan berinisiatif meminta istrinya untuk mencoba memperdengarkan musik-musik yang dia suka dan video saat kami dulu bermain musik bersama. Tidak lama setelah dia mendengarkan musik-musik itu, dia menunjukan reaksi dan perkembangan. Sampai akhirnya, dia kembali lagi ke klinik kami, walaupun dengan keadaan tidak terawat dan tidak bisa melakukan apa-apa. 

Kami melatih lagi kemampuan fisiknya dengan bantuan fisioterapis dan terapi wicara. Tiga bulan kemudian, dia bisa berdiri dan berbicara lagi. Sayangnya sekitar 6-8 bulan kemudian, kesehatan fisiknya menurun dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian dia meninggal di kamarnya di klinik kami, sesuai dengan keinginannya.

Aku punya banyak sekali pengalaman menarik selama bekerja di klinik panti werdha. Yang paling aku suka adalah saat mereka bercerita tentang masa lalu dan masa muda mereka sambil menunjukan foto album mereka. Aku suka sekali dengan The Beatles. Baru-baru ini aku membantu pasien yang pindah dari kamar untuk berdua ke kamar sendiri. Dia termasuk pasien yang dekat denganku. 

Dia pernah terkena stroke yang menyebabkan gangguan bicara. Oleh karena itu, dia sering teriak-teriak, tetapi itu bukan karena dia marah. Saat aku membereskan album foto, aku menemukan album The Beatles dengan tanda tangan asli mereka. Dia bilang, dia bertemu The Beatles saat mereka konser di Jerman. Saat itu lagu-lagu The Beatles baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.

Cerita lucu juga aku punya banyak. Sebagai bentuk penanganan orang dengan demensia, aku sering harus bermain peran seperti aktris film. Pernah ada satu nenek yang bercerita kalau barangnya dicuri. Aku pun berperan sebagai petugas keamanan dan membantu dia untuk menelepon polisi.

Dengan pasien lain, yang dulu adalah seorang guru SD, aku berperan sebagai kepala sekolah. Oleh karena itu, dia bercerita bahwa murid-muridnya yang berjumlah 23 orang itu tidak bisa diam. Jika ada pasien yang tidak mau disuntik, aku akan datang lima menit kemudian untuk berganti peran menjadi anaknya atau siapa pun untuk membujuknya. 

Setiap hari, aku harus pintar-pintar berganti peran. Teknik yang dinamakan validasi ini merupakan teknik penting dalam menangani orang dengan demensia. Jika mereka diteriaki, mereka akan memblokir dirinya dengan pura-pura tidak mendengar, karena orang di seberangnya melawan keinginannya. Itu sebab, aku berbaur dengan dunia mereka dan mengikuti peran sesuai dengan yang mereka inginkan. Jika pasien bercerita anaknya sakit, aku akan memvalidasinya dengan bertanya, „Anak ibu yang sakit di mana?“. Aku juga akan ikut „mencari“ anaknya tersebut.

Cerita tidak mengenakkan juga pernah aku alami di klinik. Kami pernah punya pasien berumur 103 tahun yang masih sehat secara fisik dan jiwanya. Aktivitas sehari-hari bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dia narsisnya tidak ada dua. Dia menjulukiku „die kleine Schwarze“ (si hitam kecil) dan rekan kerjaku „die Kleine mit Kopftuch“ (si kecil berjilbab). 

Dia menolak menerima penanganan dari kami. Dia hanya ingin ditangani oleh orang Jerman. Hal ini tentu tidak memungkinkan karena tidak ada perawat di tempatku yang seratus persen berdarah Jerman. Kepala layanan keperawatan kami mengundang keluarganya untuk berdiskusi. Menurut anak-anaknya, ibu mereka merasa dirinya kuat. Dia mengalami dua perang dunia dan berhasil mendidik anak-anaknya sendirian, karena suaminya ikut berperang. Anak-anaknya sampai menjadi dokter. 

Akhirnya aku bilang ke pasienku ini, bahwa aku hanya melakukan tugasku. Kami tidak perlu berbicara apa-apa. Aku harus profesional dan tahu batasanku sendiri. Aku juga menolak untuk menangani dia kalau aku tidak mau. Lama-lama dia sendiri mengakui kalau aku dan rekan kerjaku memang baik. Kami tidak pernah balik meneriaki dia, setiap dia melakukan tindakan rasis. 

Menurutku, pengalaman paling tidak mengenakan adalah ketika ada pasien meninggal. Aku tidak mengenal mereka hanya satu atau dua minggu saja tetapi sudah bertahun-tahun. Ada beberapa pasien yang mempunyai chemistry yang pas denganku. Aku tahu, di dunia keperawatan kita boleh berempati tetapi jangan bersimpati dengan pasien. Dikhawatirkan jika terjadi sesuatu dengan pasien tersebut, aku juga yang sulit melepaskannya. 

Secara profesional hal ini mudah. Namun pasienku manusia dan aku bekerja dengan hati. Aku pasti sedih dan tidak jarang juga menangis, jika ada yang meninggal, apalagi kalau dia adalah pasien yang dekat denganku. Walaupun begitu, di hari mereka meninggal aku tetap profesional. Aku tidak memperlihatkan kesedihanku dan aku masih bisa mengontak keluarga, layananan kematian, dan dokternya. Aku harus kuat. Aku tidak bisa larut dalam kesedihan kemudian aku tidak bekerja. 

Hal ini tentu tidak datang serta-merta. Awal aku bekerja di bidang ini, aku juga tidak tahu harus bagaimana jika ada pasien meninggal. Pengalaman pertamaku kehilangan pasien, aku menjaga jarak dan tidak mengunjungi dia di kamarnya. Aku tidak mau lihat dia. Lama-lama, aku terbiasa. Menurutku, itu hal yang manusiawi kalau aku sedih dan menangis.

Kembali ke tema demensia. Demensia sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat – gizi seimbang dan olahraga rutin. Pergi piknik dan kontak dengan orang lain juga bisa membantu. Begitu pun dengan melakukan aktivitas otak, seperti membaca buku, mengerjakan kuis, mengisi TTS (Teka-Teki Silang), dan puzzle untuk melatih otak agar tidak ada syaraf otak yang tidak terpakai dan lama-kelamaan mati. Kegiatan pasien di klinik kami juga seperti itu. Mereka dibacakan novel atau koran setiap pagi. 

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena demensia, kita bisa mengetahui dari aktivitas dan orientasinya sehari-hari. Ada pasienku, yang dulu saat masih tinggal sendiri, sering lupa mematikan kompor. Dia berulang kali memasak makanan yang sama karena dia lupa sebelumnya baru saja memasak itu. Anaknya yang sadar dengan perubahan ibunya itu kemudian membawa ibunya tinggal di klinik kami. Itu seperti keinginan ibunya, sebelum dia terkena demensia.

Kehilangan ingatan jangka pendek juga salah satu ciri-cirinya. Ingatan yang disimpan 30 tahun saat otak dan badan masih sehat bisa bertahan dibandingkan dengan yang disimpan setahun lalu. Hal ini berat untuk para lansia yang pernah mengalami perang dunia. Banyak dari mereka yang terpicu traumanya jika mendengar suara petasan atau kembang api di tahun baru. Itu disebabkan apa yang tersimpan di ingatannya adalah peristiwa perang saat mereka masih muda. 

Banyak juga lansia yang lupa dengan wajah anak-anaknya, karena yang tersimpan adalah wajah anak-anaknya saat masih kecil. Sedangkan wajah anak-anak mereka saat dewasa, mereka tidak menyimpannya. Dia ingat dia punya anak, tetapi dalam benak dia adalah muka anaknya saat masih kecil. Oleh karena itu, album foto sangat penting bagi mereka. Dengan melihat-lihat album foto, mereka terpancing untuk ingat lagi kejadian baru-baru ini.

Menurutku, cara untuk membantu orang dengan demensia adalah dengan memberikan mereka waktu dalam berbagai hal. Semakin kita memaksakan mereka sesuatu, semakin mereka akan melawan. Oleh karena itu, kesabaran juga sangat penting. Caraku mencoba berperan dengan menyesuaikan situasi pasien, bisa dicoba untuk menangani anggota keluarga dengan demensia. 

Aku menekankan bahwa ini tidak bisa diaplikasikan ke semua orang dengan demensia, terutama ke orang dengan demensia agresif. Demensia agresif ini termasuk juga ke dalam tipe demensia. Hal itu terjadi karena ada gangguan di otak bagian depan yang bisa menyebabkan perubahan kepribadian. Misalnya, semula orang tersebut baik hati tetapi saat terkena demensia menjadi agresif, seperti sering teriak-teriak atau marah-marah.

Aku berharap semakin banyak lagi penyuluhan tentang demensia di Indonesia. Ini bisa dimulai dari pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan cara penangannya. Penambahan wawasan ini penting tidak hanya untuk orang tua atau lansia saja, tetapi juga pihak keluarga, agar kita bisa mengenal ciri-cirinya dengan mandiri dan sedini mungkin.

Penyuluhan ini juga penting untuk mematahkan stigma di masyarakat. Jangan lagi ada ucapan, “Nenek dia jadi gila”, karena sering teriak-teriak atau melakukan sesuatu tidak normal. Hal ini tentu saja  tidak mengenakan untuk keluarga mereka juga. Demensia tidak sama dengan gila. Ini bukan disebabkan oleh gangguan psikologis, tetapi terpicu karena syaraf di otaknya yang tidak lagi bekerja sepenuhnya.

Untuk Sahabat Ruanita yang ingin bekerja di bidang ini, aku sarankan untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang demensia dan cakupan bidang keperawatan lansia. Kita juga harus siap bekerja dengan mereka. Tidak jarang orang yang bilang ingin bekerja menjadi perawat di bidang ini, sayangnya harus berakhir di tengah jalan karena merasa berat. 

Penanganan di sini berbeda dengan  di rumah sakit umumnya. Di rumah sakit, mungkin pentingnya adalah pemberian obat, sedangkan di panti penanganan dimulai dari pasien bangun tidur sampai tidur lagi. Selain itu, penting juga kita mempunyai kesabaran dan empati yang banyak, ramah, profesional, berhati besar, rajin, dan pengertian. Kita harus memahami bahwa yang mereka lakukan itu karena mereka sakit, bukan karena mereka benci kita. 

Ditulis oleh Mariska Ajeng (www.mariskaajeng.com) berdasarkan cerita dari Nurul Vaoziyah yang bisa dihubungi via info@ruanita.com atau langsung ke Instagram pribadinya @nurulvaoziyah.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar