(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 September – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(PODCAST RUMPITA) Membaca Bumi dari Masa Lalu: Cerita Peneliti Indonesia di Rusia

Melanjutkan program diskusi podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – di bulan September 2026, kita ingin berdiskusi terkait ilmu bumi, apalagi bumi kita sekarang, terutama di Indonesia yang rawan bencana alam. Seperti baru-baru ini, Indonesia baru saja mengalaminya terkait aktivitas vulkanik. Jadi, apakah bisa membaca masa lalu bumi demi masa depan yang lebih baik? Diskusi yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi refleksi mendalam tentang manusia, bumi, dan masa depan.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Anna di Jerman bersama Rieska Wulandari di Italia, percakapan ini menghadirkan Gerry Utama. Dia adalah seorang peneliti geologi lingkungan yang tak hanya akrab dengan data dan peta, tetapi juga dengan realitas lapangan yang kompleks, bahkan terkadang sulit dijelaskan sepenuhnya oleh logika.

Gerry membuka cerita dengan satu fakta yang mengguncang cara kita memandang bumi. Melalui penelitian di Antartika, ia menemukan bahwa material vulkanik dari Indonesia tersimpan dalam lapisan es di kutub selatan. Abu dari letusan Gunung Tambora pada 1816, Gunung Agung pada 1964, hingga Gunung Samalas pada 1258, ternyata mampu menjangkau wilayah yang begitu jauh. Temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan pengingat bahwa peristiwa di satu titik bumi dapat berdampak secara global. Di situlah, menurutnya, manusia seharusnya mulai menyadari betapa kecilnya posisi kita di hadapan sistem alam yang begitu besar.

Bidang yang ditekuni Gerry, paleogeografi kuarter, berusaha membaca kembali masa lalu bumi melalui jejak-jejak yang tersimpan di alam. Dari sedimen, lapisan es, hingga bentuk bentang alam, semua menyimpan cerita tentang apa yang pernah terjadi. Ia menjelaskan bahwa masa kini sejatinya adalah kunci untuk memahami masa lalu, dan keduanya menjadi dasar untuk membaca kemungkinan masa depan. Dalam perspektif ini, bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan lingkungan bukanlah hal baru. Semuanya pernah terjadi, hanya bentuk dan skalanya yang terus berubah.

Ketika membahas krisis lingkungan, Gerry memilih istilah “kerentanan iklim” dibandingkan “perubahan iklim”. Baginya, bumi secara alami memang selalu mengalami perubahan. Namun, aktivitas manusia mempercepat dan memperparah dinamika tersebut. Sejak era revolusi industri, pelepasan karbon dalam jumlah besar telah mengubah keseimbangan sistem bumi. Dampaknya mulai terasa dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan suhu global hingga munculnya fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya tidak lazim terjadi.

Indonesia, dalam konteks ini, berada pada posisi yang sangat rentan. Terletak di kawasan cincin api dunia, wilayah ini menjadi titik pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Aktivitas geologi yang tinggi menjadikan gempa bumi, letusan gunung api, hingga longsor sebagai bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Gerry menuturkan bahwa melalui data spasial yang ia kumpulkan sejak masa kuliah, ia pernah melihat pola yang mengarah pada potensi bencana. Prediksi itu kemudian terbukti ketika gempa bumi memicu longsor di lokasi yang sama setahun kemudian. Baginya, data bukan hanya angka, melainkan peringatan yang bisa menyelamatkan nyawa jika dipahami dengan benar.

Namun, pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa data tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari drone yang tiba-tiba hilang hingga pengalaman tak terduga di lokasi penelitian, semua itu membawanya pada satu kesadaran. Menurut Gerry, kita perlu menghargai kearifan lokal. Ia bahkan menyebut adanya ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan tradisional, sesuatu yang ia gambarkan secara ringan sebagai “geomistik”. Dalam pandangannya, apa yang selama ini dianggap mitos sering kali menyimpan logika yang baru bisa dipahami melalui pendekatan ilmiah di masa kini.

Di balik semua itu, sosok peneliti yang digambarkan Gerry jauh dari stereotip umum. Ia menolak anggapan bahwa peneliti selalu identik dengan laboratorium dan buku. Peneliti kebumian justru dituntut untuk tangguh secara fisik, mampu bekerja di medan ekstrem, dan berhadapan langsung dengan kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Perjalanan Gerry sendiri bermula dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia tumbuh dengan bayangan hidup yang sederhana, mengikuti jalur yang dianggap ideal oleh lingkungan sekitarnya. Namun, sebuah kesempatan di masa kuliah membawanya masuk ke dunia riset. Dari sana, ia menemukan panggilan yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, hingga menempuh pendidikan di Rusia. Di St. Petersburg, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kebumian, tetapi juga menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu dingin yang melukai kulit hingga penyesuaian ritme kehidupan yang jauh berbeda dari Indonesia.

Pada akhirnya, percakapan ini kembali pada satu hal yang sederhana namun mendasar, yakni peran manusia. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang mampu merusak sekaligus membangun. Kita memiliki kemampuan untuk mengubah alam dalam skala besar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dari lapisan es di Antartika hingga tanah longsor di perbukitan Indonesia, semua menunjukkan bahwa dampak dari tindakan manusia tidak pernah benar-benar terisolasi.

Kesadaran bahwa manusia itu kecil seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya. Justru dari situlah muncul tanggung jawab yang lebih besar. Dengan ilmu, data, dan pemahaman yang terus berkembang, manusia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memahami bumi, tetapi juga merawatnya.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal Spotify kami dan pastikan FOLLOW ya untuk mendukung kami

(GALERI FOTO) Nonton dan Diskusi Film “Dua Kali”

Dalam rangka mempromosikan kesehatan mental sekaligus memperkenalkan program konseling online Ruanita Indonesia, acara pemutaran film “Dua Kali” yang disertai psikoedukasi berhasil diselenggarakan dengan baik di gedung pertemuan KBRI Madrid, Spanyol (5/9). Sebelumnya, Tim Ruanita Indonesia juga sempat melakukan audiensi dan tatap muka bersama Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol beserta jajarannya, guna memperkuat dukungan sosial bagi warga Indonesia di Spanyol di bidang psikologi, sosial, dan budaya. Ada pun kegiatan ini dilaksanakan oleh relawan Ruanita Indonesia di Spanyol, yakni: Bernadia Dwiyani, Tyka Karunia dan didampingi Anna Knöbl di Jerman.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Rayakan Hari Jadi ke-5 dengan Seminar Daring Literasi Finansial untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, 29 Agustus 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Ruanita Indonesia ke-5, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Daring bertajuk “Literasi Finansial sebagai Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi” pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform Zoom ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, yang terdiri atas perempuan, keluarga Indonesia, mahasiswa, profesional, dan masyarakat umum.

Seminar ini menjadi bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, agar semakin siap menghadapi tantangan ekonomi global yang ditandai dengan meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pasar kerja, serta perubahan dinamika keuangan.

Menghadirkan Dessy Rutten, PhD FERSA, Business Change Manager CPO di Rabobank Belanda sekaligus akademisi yang berpengalaman di industri perbankan Uni Eropa, seminar memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya literasi finansial sebagai fondasi dalam membangun ketahanan ekonomi individu maupun keluarga.

Dalam paparannya, Dessy Rutten menekankan bahwa literasi finansial bukan sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga keterampilan memahami risiko keuangan, menyusun perencanaan jangka panjang, membangun dana darurat, serta mengambil keputusan investasi secara bijaksana. Menurutnya, ketahanan finansial dibangun melalui kebiasaan yang konsisten dan disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga masyarakat mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan kondisi ekonomi.

Diskusi dipandu oleh Sesilia Susi, Relawan Ruanita Indonesia di Jerman, yang berhasil menghidupkan suasana seminar melalui sesi tanya jawab interaktif. Peserta antusias menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pengelolaan keuangan keluarga, strategi menghadapi kenaikan biaya hidup, hingga langkah-langkah mempersiapkan masa depan finansial yang lebih berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pemutaran cerita sahabat spesial dari para sahabat Ruanita Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan organisasi selama lima tahun. Suasana penuh kehangatan tersebut menjadi pembuka yang mempererat hubungan antara relawan, mitra, dan masyarakat yang selama ini mendukung berbagai program pemberdayaan Ruanita Indonesia.

Melalui seminar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ekonomi global beserta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, sekaligus memperoleh strategi praktis dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga. Selain memperkuat literasi finansial, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan memperluas jejaring pembelajaran lintas negara.

Sesilia Susi sebagai perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, panitia, relawan, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program Ruanita Indonesia selama ini. Memasuki usia ke-5, Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan Indonesia serta mendorong lahirnya masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan adaptif menghadapi berbagai tantangan zaman.

Seminar daring ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga masyarakat memiliki bekal yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.

Tentang Ruanita Indonesia

Ruanita Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh Anna Knöbl di Jerman yang berkomitmen pada pemberdayaan orang Indonesia lintas negara melalui berbagai program pendidikan, literasi, pengembangan kapasitas, kepemimpinan, serta penguatan jejaring di tingkat nasional dan internasional. Selama lima tahun perjalanannya, Ruanita Indonesia terus menghadirkan ruang kolaborasi digital yang menginspirasi dan berdampak bagi masyarakat Indonesia di mana saja.

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(PODCAST RUMPITA) Menembus Dunia Hospitality Global: Cerita Inspiratif dari Bandung ke Swiss

Program diskusi bulanan Audio Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, kembali hadir dengan diskusi inspiratif lintas negara. Dipandu oleh Anna, host Podcast yang menetap di Jerman, episode kali ini mengangkat tema yang semakin relevan di era global: dunia hospitality, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Seperti biasa, Anna didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, Griska Gunara, yang saat ini berdomisili di Inggris (UK). Pengalaman panjang Griska di dunia kerja internasional membuat diskusi terasa lebih kaya dan kontekstual.

Griska membuka diskusi dengan refleksi pengalamannya di industri hospitality sejak pertengahan 2000-an. Menurutnya, hospitality memang berakar pada pelayanan, namun praktiknya sangat bergantung pada budaya, regulasi, dan standar di masing-masing negara.

Diskusi pun semakin menarik ketika Anna memperkenalkan tamu spesial dari Swiss, sosok muda Indonesia yang tengah menekuni dunia hospitality secara akademik dan praktis.

Informan yang diundang adalah Diva Arya Saskia Putri, mahasiswa Magister Hospitality, Entrepreneurship, and Innovation di Glion Institute of Higher Education, Swiss. Diva merupakan penerima Beasiswa LPDP, alumni Bandung, sekaligus Ketua PPI Swiss–Liechtenstein periode 2024–2025.

Tak hanya aktif secara akademik dan organisasi, Diva juga dikenal sebagai figur muda inspiratif yang memadukan dunia studi, kepemimpinan, dan bisnis digital.

Dalam diskusi, Diva membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak instan. Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak SMA. Ia akhirnya memilih International Class di ITB, dengan satu tahun masa studi di Inggris. Latar belakang akademiknya adalah business school, yang sama sekali belum bersinggungan langsung dengan hospitality.

Meski begitu, ketertarikannya pada dunia kuliner, traveling, dan pariwisata terus terpendam. Setelah lulus S1 di usia yang sangat muda, sekitar 19 tahun, Diva memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, sesuai arahan orang tua, demi memahami dunia profesional sebelum benar-benar terjun membangun bisnis sendiri. Ia menghabiskan hampir lima tahun bekerja di dunia startup dan e-commerce di Jakarta sebelum akhirnya kembali mengejar mimpi lamanya: menempuh pendidikan hospitality di Swiss.

Sebagai mahasiswa magister, ketua organisasi pelajar, sekaligus pebisnis, Diva mengakui pentingnya manajemen waktu. Ia membagikan prinsip sederhana namun konsisten yang ia pegang. Menurutnya, semua orang memiliki 24 jam yang sama. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola. Ia membagi hari menjadi tiga bagian besar: waktu tanggung jawab (belajar atau bekerja), waktu istirahat, dan waktu personal yang menentukan kualitas hidup.

“Lima jam sisa itu yang bikin perbedaan. Mau dipakai untuk berkembang atau habis untuk scrolling,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya to-do list harian, kalender digital, dan evaluasi rutin sebelum tidur untuk menjaga produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan hidup.

Pengalaman lintas negara memberi Diva perspektif baru tentang hospitality. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memberikan layanan. Swiss, yang kerap disebut sebagai “jantung hospitality dunia”, memberikan kesan mendalam baginya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungan ke sebuah vila retreat di Swiss yang menerapkan konsep disconnect from technology. Para tamu diajak kembali menyatu dengan alam, tanpa internet, tanpa distraksi digital.

“Di situ aku sadar, hospitality bukan cuma soal profit, tapi juga sustainability, lingkungan, dan memberi dampak ke masyarakat,” tuturnya dengan emosional.

Menutup diskusi, Diva menyoroti tren besar di industri hospitality dan bisnis: AI, big data, dan personalisasi layanan. Menurutnya, hospitality modern menuntut empati yang didukung teknologi, mengenal tamu lebih dalam bahkan sebelum mereka datang.

Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu berarti langsung membangun bisnis besar. Entrepreneur adalah mindset: berani mengambil risiko, memahami diri sendiri, dan terus belajar.

“Sebelum melangkah, kenali diri kita. Lakukan assessment, pahami kekuatan dan kelemahan. Dari situ baru tentukan strategi,” pungkasnya.

Simak selengkapnya diskusi berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(IG LIVE SPESIAL) Tung Tung Sahur: Ketika Bunyi dari Gang Ramadan Indonesia Menjadi Memori Kolektif Dunia

Dalam program diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia kali ini, berhasil mempertemukan Indonesia dan Italia. Suara sederhana yang selama puluhan tahun akrab di telinga masyarakat Indonesia mendadak menjadi bahan diskusi lintas budaya. Diskusi antarbudaya yang melibatkan antarabudaya Indonesia-Italia berbicara bukan tentang politik, bukan pula tentang ekonomi, melainkan tentang bunyi.

Tiga ketukan sederhana itu kini terdengar jauh melampaui gang-gang kecil di Indonesia. Tung. Tung. Tung. Sahur. Bunyi yang selama puluhan tahun menjadi penanda waktu sahur di bulan Ramadan tiba-tiba melompat ke ruang digital global, muncul dalam ribuan meme, video, dan percakapan lintas negara. Dari Jakarta hingga Roma, dari TikTok hingga Instagram, bunyi itu tidak lagi hanya milik masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari percakapan dunia.

Fenomena inilah yang menjadi topik diskusi IG Live Antarbudaya Indonesia–Italia yang diselenggarakan Ruanita Indonesia. Dipandu oleh Rieska Wulandari, jurnalis sekaligus relawan Ruanita Indonesia di Italia, diskusi menghadirkan Luigi Monteranni, peneliti asal Italia yang tengah menempuh studi doktoral dan meneliti musik Nusantara. Bagi Luigi, fenomena Tung Tung Sahur menarik bukan semata karena viralitasnya, melainkan karena ia menunjukkan bagaimana sebuah bunyi dapat bergerak melintasi batas budaya dan bahasa.

Menurut Luigi, daya tarik Tung Tung Sahur justru terletak pada kesederhanaannya. Banyak orang yang ikut membagikan, menirukan, atau membuat meme tentangnya tanpa benar-benar memahami konteks Ramadan di Indonesia. Mereka tidak mengenal tradisi membangunkan sahur, tidak mengetahui sejarahnya, bahkan mungkin tidak memahami arti kata yang mereka ucapkan. Namun mereka mengingat bunyinya. Dan dalam dunia digital hari ini, sering kali itu sudah cukup untuk membuat sesuatu menjadi viral.

Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut memiliki kekuatan sensorik yang sangat kuat. Bunyi yang sederhana, ritmis, dan mudah diingat akan lebih cepat menempel di kepala seseorang dibandingkan penjelasan panjang tentang asal-usulnya. Ketika seseorang mendengar “Tung Tung Sahur”, ada pengalaman mendengar yang langsung bekerja sebelum logika sempat mencari makna. Bunyi itu menjadi semacam pengait yang membuat orang ingin terus mengulanginya.

Bagi Luigi, hal ini mengingatkannya pada fenomena Om Telolet Om beberapa tahun lalu. Saat itu, dunia internet dibuat penasaran oleh ribuan komentar berisi kalimat yang terdengar asing bagi orang luar Indonesia. Banyak orang Eropa bertanya-tanya apa arti “telolet” dan mengapa kata itu memenuhi akun media sosial musisi internasional. Namun pada akhirnya, bukan makna katanya yang pertama kali menarik perhatian dunia, melainkan bunyi khas klakson bus yang menjadi inti dari fenomena tersebut.

Persamaan antara Om Telolet Om dan Tung Tung Sahur, menurut Luigi, adalah hadirnya unsur misteri. Internet menyukai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah fenomena datang dari budaya yang tidak familiar, rasa penasaran menjadi semakin besar. Orang ingin tahu apa artinya, dari mana asalnya, dan mengapa begitu banyak orang membicarakannya. Dalam konteks ini, Indonesia menawarkan sesuatu yang menarik bagi dunia: ruang misteri yang belum seluruhnya terjelaskan.

Luigi menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak elemen budaya yang belum terlalu dikenal secara global. Berbeda dengan Italia yang identik dengan pizza, pasta, atau Colosseum, Indonesia sering kali hadir sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga bagi banyak orang. Justru karena belum sepenuhnya dikenali, berbagai ekspresi budaya Indonesia kerap memunculkan rasa ingin tahu yang kuat di kalangan pengguna internet internasional.

Namun di balik viralitas itu, Luigi mengingatkan bahwa Tung Tung Sahur sesungguhnya bukan sekadar bunyi lucu atau bahan meme. Di Indonesia, bunyi tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat. Ia lahir dari tradisi sosial yang telah hidup lama di berbagai daerah selama bulan Ramadan. Ada kebersamaan warga, semangat gotong royong, dan pengalaman budaya yang melekat di dalamnya. Bunyi tersebut mengandung cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren media sosial.

Ketika tradisi lokal memasuki ruang digital global, selalu ada dua kemungkinan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, makna budaya yang mendalam bisa menyusut menjadi sekadar hiburan. Namun di sisi lain, viralitas juga membuka pintu bagi orang-orang untuk mengenal budaya yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Mereka mungkin datang karena meme, tetapi bisa saja bertahan karena rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap Indonesia.

Dalam pandangan Luigi, fenomena seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hiburan sesaat. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia dengan cara yang organik. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyebarkan pengaruh budaya, baik melalui musik, batik, kuliner, maupun tradisi-tradisi keseharian yang unik. Kini, di era algoritma, salah satu jalannya bisa jadi melalui bunyi.

Diskusi malam itu akhirnya membawa satu kesimpulan menarik. Di tengah banjir informasi yang terus bergerak cepat, dunia ternyata masih bisa terhubung oleh sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah suara. Sebuah ritme. Sebuah bunyi yang berasal dari tradisi lokal di Indonesia. Dan mungkin, itulah kekuatan budaya yang sesungguhnya: mampu menciptakan ingatan bersama, bahkan bagi orang-orang yang belum pernah bertemu dan hidup di belahan dunia yang berbeda.

Ketika Tung Tung Sahur terus bergema di ruang digital, yang sedang terjadi bukan sekadar tren internet. Ada sebuah memori kolektif yang sedang melakukan perjalanan. Berangkat dari gang-gang kecil Indonesia, melintasi layar ponsel jutaan orang, lalu menemukan makna baru di berbagai sudut dunia. Ingin tahun lebih banyak, silakan simak diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia yang akan membahas fenomena budaya dari dua sisi.

(GALERI FOTO) Mendiskusikan Film “Dua Kali” dan Buku “Gema dari Ruang Hening” di Hamburg

Dalam rangka memperingati Bulan Indonesia di Jerman selama sebulan penuh yang diselenggarakan oleh DIG Hamburg e.V., Ruanita Indonesia berkesempatan untuk berbagi dan berdiskusi dengan warga Indonesia di Hamburg. Acara berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 5-6 Juni 2026. Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia memanfaatkan untuk menayangkan film “Dua Kali” sebagai media diskusi dan refleksi tentang tema kesehatan mental dan layanan kesehatan jiwa di Jerman. Selain itu, ada juga kesempatan untuk berdiskusi Hybrid bersama para kontributor buku ketiga “Gema dari Ruang Hening” dari berbagai lokasi negara dengan para peserta Bulan Indonesia yang datang di Hamburg. Kredit foto: Dyah Narang-Huth (DIG Hamburg e.V.)