
Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa.
Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.
Herd mentality menjadi relevan pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku, serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend di media sosial.
Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.
Seperti pada agenda politik terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya.
Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.
Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.
Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.
Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk mencari informasi lebih jauh lagi.
Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing.
Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau kelompok tertentu.
Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap suatu individu yang mewakili partai tertentu.
Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini, dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.
Perilaku herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama.
Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok, hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.
Sedangkan herd mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih dahulu.
Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif, hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun.
Masyarakat kolektif lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.
Pendidikan politik juga belum bisa sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada tidak sama sekali.
Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang terdekat.
Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdeala dan instagram.com/@nila.docx
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.