(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kisah Perempuan Indonesia di Industri Energi di Qatar

Bulan Juli 2025, Ruanita Indonesia menghadirkan kisah inspiratif dalam seri Cerita Sahabat Spesial dari salah satu sudut dunia yang penuh tantangan: industri energi Qatar.

Kali ini, kita diajak mengenal lebih dekat sosok Nurlany Yassin, atau yang akrab disapa Lany, seorang perempuan Indonesia yang telah lebih dari 13 tahun menetap dan berkarier di Doha sebagai analis komersial di Qatar Energy, perusahaan energi nasional yang berada di jantung industri gas alam cair dunia.

Dalam kesehariannya, Lani bukan hanya berperan sebagai pekerja profesional, tapi juga sebagai seorang ibu dari putri berusia 8 tahun.

Ia menjelajahi peran ganda ini di tengah budaya kerja yang sangat patriarkal, seraya membuktikan bahwa perempuan bisa bertahan, tumbuh, bahkan unggul di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.

Bekerja di Tengah Budaya Patriarkal

Qatar dikenal sebagai salah satu negara dengan struktur budaya yang konservatif. Hal ini sangat memengaruhi pola kebijakan di lingkungan kerja, termasuk dalam industri besar seperti minyak dan gas.

Menurut Lany, masih banyak kebijakan kepegawaian dan administratif yang dibuat tanpa mempertimbangkan perspektif perempuan.

“Banyak kebijakan yang seolah hanya dibuat untuk laki-laki,” ujarnya. Misalnya, dalam dokumen kebijakan perusahaan, istilah yang sering muncul adalah “istri dan anak-anak” tanpa mempertimbangkan skenario jika pekerja utamanya adalah seorang perempuan.

Akibatnya, pegawai perempuan seperti Lany harus melakukan klarifikasi ekstra untuk memastikan apakah hak-hak mereka juga dijamin.

Dalam banyak kasus, kebutuhan perempuan sebagai pekerja, ibu, dan individu sering kali tidak terpikirkan dalam penyusunan awal kebijakan.

“Kadang bukan karena sengaja mengabaikan, tapi karena budaya patriarki itu sangat melekat,” ungkapnya.

Minoritas tapi Punya Nilai Lebih

Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang sebagian besar didominasi laki-laki, Lany mengakui bahwa ia berada dalam posisi minoritas.

Namun, ia melihat sisi positif dari kondisi ini. Kadang justru karena menjadi minoritas, ia mendapatkan perlakuan khusus yang menguntungkan.

“Saat saya melakukan kunjungan ke offshore, saya mendapatkan kamar sendiri, sementara rekan-rekan laki-laki tidur di ruang bersama,” ceritanya.

Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa meskipun dominasi laki-laki terasa kuat, keberadaan perempuan bisa membawa perubahan positif dalam dinamika kerja, termasuk dalam fasilitas dan ruang aman.

Namun demikian, Lany tetap menekankan bahwa menjadi minoritas juga berarti harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri.

Perempuan harus menunjukkan tidak hanya keahlian teknis dan keilmuan, tetapi juga komitmen dan konsistensi dalam bekerja.

Ia berharap lebih banyak perempuan Indonesia tidak takut untuk terjun ke bidang-bidang yang selama ini dianggap “maskulin” seperti teknik, fisika, atau geosains.

Komunikasi dan Manajemen Waktu sebagai Kunci

Menjalani peran sebagai profesional dan ibu bukanlah hal mudah, terutama di lingkungan dengan ekspektasi tinggi.

Lany menekankan pentingnya manajemen waktu dan komunikasi yang baik, baik dengan keluarga maupun dengan kantor.

“Selama kita bisa mengatur waktu dengan baik dan terbuka dalam komunikasi, semuanya bisa dijalankan,” katanya.

Kemampuan ini sangat penting, terutama ketika seseorang harus bekerja di luar negeri tanpa sistem dukungan keluarga besar.

Hal ini juga berkaitan erat dengan kemandirian perempuan dalam menentukan jalan hidup dan kariernya.

Tantangan Sistemik dan Ketidaksetaraan yang Tersirat

Dalam wawancara ini, Lany juga mengungkap bagaimana sistem ketenagakerjaan di Qatar, meskipun menawarkan peluang profesional masih menyimpan banyak tantangan dari sisi perlindungan sosial.

Misalnya, tidak adanya skema pensiun yang layak bagi pekerja asing. “Kami harus pintar-pintar menabung sendiri, karena tidak ada uang pensiun. Hanya pesangon,” ungkapnya.

Hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang menawarkan skema jaminan hari tua atau pensiun yang lebih jelas.

Demikian pula dengan akses terhadap kesejahteraan kesehatan, yang meskipun tersedia di Timur Tengah, tetap sangat bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan.

Dalam konteks ini, penting bagi perempuan untuk tidak sekadar fokus pada gaji atau jabatan, tetapi juga memahami dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai pekerja lintas negara.

Harapan untuk Generasi Perempuan Masa Kini

Menutup ceritanya, Lany memberikan pesan kuat kepada para perempuan Indonesia di mana pun mereka berada.

Ia mengajak semua perempuan untuk tidak membatasi diri hanya karena stigma atau konstruksi sosial yang melekat.

“Yang paling penting adalah apa yang kita inginkan untuk hidup kita. Apa yang membuat kita tertarik dan semangat. Jangan pernah patah semangat, terus kejar cita-cita,” katanya penuh keyakinan.

Lany membuktikan bahwa menjadi perempuan di sektor industri padat laki-laki bukanlah halangan.

Justru, dengan keuletan, keberanian, dan kesadaran atas potensi diri, perempuan bisa hadir sebagai agen perubahan dalam struktur kerja yang selama ini bias gender.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan Ruanita Indonesia yang menyoroti kisah-kisah nyata perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang dan belahan dunia.

Program ini bertujuan membuka ruang inspirasi, pembelajaran, dan refleksi tentang perjuangan serta kekuatan perempuan dalam menghadapi tantangan hidupnya, baik di ruang domestik maupun publik.

Edisi Juli ini adalah bukti bahwa keberanian perempuan menembus batas budaya dan sistem bukan hanya kisah tentang individu, tapi juga tentang harapan kolektif akan masa depan yang lebih adil dan setara.

Simak selengkap di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar