
London, 18 Januari 2026 — Acara diskusi daring bertajuk “Awal yang Baru untuk Pikiran yang Sehat” yang mengangkat tema promosi kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia di Inggris Raya telah berlangsung pada Minggu malam waktu Indonesia, dan berhasil menarik partisipasi masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Inggris Raya serta beberapa negara di sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas Ruanita dan didukung oleh KBRI London itu digelar melalui platform Zoom Meeting selama dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 waktu Inggris atau pukul 17.00 hingga 19.00 WIB.
Acara dibuka oleh Ketua DWP KBRI London, Sari Percaya, yang dalam pengantarnya menekankan pentingnya menempatkan kesehatan mental sebagai bagian integral dari resolusi awal tahun. Menurutnya, awal tahun bukan hanya momentum untuk memperbaiki kesehatan fisik, karier, atau ekonomi, namun juga kesempatan untuk merawat keseimbangan batin dan ketangguhan emosional.
Sari juga mengulas sejumlah tantangan kesehatan mental yang umum dihadapi Warga Negara Indonesia di Inggris Raya, mulai dari jarak dengan keluarga dan tanah air, tekanan akademik maupun pekerjaan, adaptasi budaya dan cuaca, hingga keterbatasan jejaring sosial. Ia menegaskan bahwa ruang aman berbasis komunitas, seperti yang dibangun Ruanita, turut membantu mengurangi rasa kesepian dan menumbuhkan solidaritas sesama perantau.
Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Zakiyatul Mufidah, mahasiswa program doktor di University of Birmingham sekaligus relawan Ruanita. Pada sesi pertama, dua narasumber menyampaikan materi utama mengenai kesehatan mental dari perspektif ilmiah maupun praktis.
Pemateri pertama, Idei K. Swasti, psikolog sekaligus kandidat doktor bidang psikologi di University of Leeds, memaparkan materi berjudul “Kesehatan Mental sebagai Resolusi Awal Tahun: Spiritualitas dan Gotong Royong di Perantauan.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kesehatan mental harus ditempatkan setara dengan kesehatan fisik dan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal budaya yang kuat berupa spiritualitas, gotong royong, dan rasa kekeluargaan sebagai sumber resiliensi dalam menghadapi tekanan hidup di luar negeri.
Sementara itu, pemateri kedua, Yuki Fragariani, praktisi kesehatan mental yang berbasis di Irlandia, membahas peran pikiran bawah sadar dan metode hipnoterapi dalam menjaga keseimbangan mental. Ia memberikan beberapa contoh pendekatan self-healing yang dapat diterapkan peserta secara mandiri untuk mengelola stres dan kelelahan emosional.
Memasuki sesi kedua, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber melalui tanya jawab interaktif. Sejumlah peserta turut berbagi pengalaman pribadi mengenai tantangan akademik, tekanan kerja, dan rasa rindu keluarga selama tinggal di luar negeri. Diskusi berlangsung hangat dan menggambarkan adanya kebutuhan nyata akan ruang berbagi dan dukungan komunitas dalam isu kesehatan mental.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, sekaligus mengurangi stigma yang selama ini menjadi penghambat dalam mencari pertolongan psikologis. Selain itu, acara ini juga memperkuat solidaritas dan jejaring dukungan di kalangan orang Indonesia di mancanegara, khususnya di Inggris Raya.
Dengan keberlangsungan kegiatan tersebut, penyelenggara berharap langkah awal ini dapat menciptakan strategi kesehatan mental yang berkelanjutan bagi WNI di perantauan dan menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Info lebih lanjut: Zakiyatul Mufidah, Relawan Ruanita di UK dapat dikontak melalui info@ruanita.com
Selengkapnya rekaman dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.