(KNOWLEDGE SHARING) Ruanita Indonesia Ajak Penyintas Autoimun Bangun Self-Compassion dan Komunikasi yang Sehat

JAKARTA, 26 September – Organisasi nirlaba berbasis digital yang berfokus pada promosi kesehatan mental, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Komunikasi yang Menyembuhkan: Membangun Self-Compassion dan Relasi Sehat sebagai Penyintas Autoimun” pada Sabtu, 26 September 2026. Acara yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting pukul 10.00–12.00 CEST ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjaga kesehatan mental serta kualitas hidup para penyintas penyakit kronis. Pertemuan inklusif ini dihadiri oleh para penyintas autoimun, caregiver, keluarga, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian besar terhadap isu kesehatan mental.

Dipandu oleh Griska Gunara selaku relawan Ruanita Indonesia di Inggris (UK) sebagai moderator, acara ini menghadirkan dua perspektif mendalam yang saling melengkapi. Pada sesi pertama, Azizah, seorang penyintas autoimun asal Indonesia yang kini menetap di Austria, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia mengisahkan bagaimana proses menerima diagnosis medis, perjuangan menghadapi invisible illness di tengah stigma lingkungan, hingga pentingnya membangun dukungan keluarga. Melalui cerita nyatanya, Azizah menekankan bahwa praktik komunikasi yang baik dan penerimaan diri merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas emosional di tengah kondisi fisik yang tidak menentu.

Melengkapi perspektif tersebut, sesi kedua diisi oleh Yuki Fragariani, seorang Hypnotherapist dan Mental Health Professional yang berbasis di Irlandia. Yuki memaparkan materi ilmiah sekaligus praktis mengenai bagaimana bahasa dan pikiran saling memengaruhi kesehatan mental. Dalam penjelasannya, beliau menyoroti bahaya pola kalimat negatif pada diri sendiri (negative self-talk) yang sering muncul tanpa disadari oleh para penyintas penyakit kronis. Sebagai solusinya, Yuki mengajak para peserta untuk melatih self-compassion atau sikap penuh kasih kepada diri sendiri, serta menerapkan komunikasi asertif agar mampu menyampaikan kebutuhan fisik maupun emosional mereka secara sehat kepada lingkungan sosial.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, sesi tanya jawab, serta refleksi bersama antarperserta. Melalui ruang edukasi yang aman ini, Anna Knöbl berharap para peserta dapat membawa pulang strategi praktis untuk membangun dialog yang lebih empatik dengan diri sendiri maupun orang lain. Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Ruanita Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang belajar yang saling menguatkan demi terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi para penyintas autoimun di mana pun berada.

Simak rekaman sesi pemateri berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Gotong Royong dan Spiritualitas Jadi Kunci Perawatan Mental WNI di Inggris Raya

London, 18 Januari 2026 — Acara diskusi daring bertajuk “Awal yang Baru untuk Pikiran yang Sehat” yang mengangkat tema promosi kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia di Inggris Raya telah berlangsung pada Minggu malam waktu Indonesia, dan berhasil menarik partisipasi masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Inggris Raya serta beberapa negara di sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas Ruanita dan didukung oleh KBRI London itu digelar melalui platform Zoom Meeting selama dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 waktu Inggris atau pukul 17.00 hingga 19.00 WIB.

Acara dibuka oleh Ketua DWP KBRI London, Sari Percaya, yang dalam pengantarnya menekankan pentingnya menempatkan kesehatan mental sebagai bagian integral dari resolusi awal tahun. Menurutnya, awal tahun bukan hanya momentum untuk memperbaiki kesehatan fisik, karier, atau ekonomi, namun juga kesempatan untuk merawat keseimbangan batin dan ketangguhan emosional. 

Sari juga mengulas sejumlah tantangan kesehatan mental yang umum dihadapi Warga Negara Indonesia di Inggris Raya, mulai dari jarak dengan keluarga dan tanah air, tekanan akademik maupun pekerjaan, adaptasi budaya dan cuaca, hingga keterbatasan jejaring sosial. Ia menegaskan bahwa ruang aman berbasis komunitas, seperti yang dibangun Ruanita, turut membantu mengurangi rasa kesepian dan menumbuhkan solidaritas sesama perantau.

Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Zakiyatul Mufidah, mahasiswa program doktor di University of Birmingham sekaligus relawan Ruanita. Pada sesi pertama, dua narasumber menyampaikan materi utama mengenai kesehatan mental dari perspektif ilmiah maupun praktis.

Pemateri pertama, Idei K. Swasti, psikolog sekaligus kandidat doktor bidang psikologi di University of Leeds, memaparkan materi berjudul “Kesehatan Mental sebagai Resolusi Awal Tahun: Spiritualitas dan Gotong Royong di Perantauan.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kesehatan mental harus ditempatkan setara dengan kesehatan fisik dan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal budaya yang kuat berupa spiritualitas, gotong royong, dan rasa kekeluargaan sebagai sumber resiliensi dalam menghadapi tekanan hidup di luar negeri.

Sementara itu, pemateri kedua, Yuki Fragariani, praktisi kesehatan mental yang berbasis di Irlandia, membahas peran pikiran bawah sadar dan metode hipnoterapi dalam menjaga keseimbangan mental. Ia memberikan beberapa contoh pendekatan self-healing yang dapat diterapkan peserta secara mandiri untuk mengelola stres dan kelelahan emosional.

Memasuki sesi kedua, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber melalui tanya jawab interaktif. Sejumlah peserta turut berbagi pengalaman pribadi mengenai tantangan akademik, tekanan kerja, dan rasa rindu keluarga selama tinggal di luar negeri. Diskusi berlangsung hangat dan menggambarkan adanya kebutuhan nyata akan ruang berbagi dan dukungan komunitas dalam isu kesehatan mental.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, sekaligus mengurangi stigma yang selama ini menjadi penghambat dalam mencari pertolongan psikologis. Selain itu, acara ini juga memperkuat solidaritas dan jejaring dukungan di kalangan orang Indonesia di mancanegara, khususnya di Inggris Raya.

Dengan keberlangsungan kegiatan tersebut, penyelenggara berharap langkah awal ini dapat menciptakan strategi kesehatan mental yang berkelanjutan bagi WNI di perantauan dan menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat Indonesia di luar negeri.

Info lebih lanjut: Zakiyatul Mufidah, Relawan Ruanita di UK dapat dikontak melalui info@ruanita.com 

Selengkapnya rekaman dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.