(CERITA SAHABAT) Di Ujung Dunia, Anak-Anakku Tumbuh Tangguh

Halo, Sahabat Ruanita. Aku Aini Hanafiah. Saat ini aku tinggal di kota Bergen, Norwegia, bersama suami dan dua anak perempuan kami. Si sulung berusia 15 tahun, si bungsu 5 tahun. Kami sudah berpindah-pindah negara: mulai dari Malaysia, Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Norwegia. Di sini, aku sedang menempuh pendidikan S2. Sebelumnya, aku bekerja sebagai perawat dan asisten guru TK.

Perjalanan keluarga kami bermula ketika aku ikut suami merantau ke Malaysia setelah menikah. Anak pertama kami lahir di sana. Setelah lima tahun, kami pindah ke Tromsø, sebuah kota kecil di lingkar Kutub Utara. Kami juga sempat tinggal di New Brunswick, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Norwegia dan menetap di Bergen.

Saat pindah ke Tromsø, si sulung baru berusia 2,5 tahun. Sebelumnya kami tinggal berpindah-pindah antara Penang dan Jakarta. Karena belum pernah masuk daycare atau playgroup, dia tidak terlalu memiliki keterikatan sosial. Jadi, tidak banyak reaksi ketika berpindah tempat. Tapi pindah ke Tromsø berbeda. Kami datang dari lingkungan hangat dan ramai, ke tempat yang dingin, sepi, dan gelap. Saat itu Februari, puncak musim dingin. Termometer menunjukkan -20℃, dan kami terkurung di rumah selama tiga hari karena badai salju.

Si sulung sering mengamuk. Kami kelelahan. Dua hari perjalanan dari Jakarta dengan empat kali transit cukup membuat kami, orang dewasa, limbung. Apalagi si kecil. Setibanya di Oslo, dia berteriak, melempar semua jaket dan sweater karena kedinginan. Kami harus berlari-lari mengejar penerbangan terakhir sambil menggendong anak yang menangis, dua ransel, dan jaket-jaket berserakan.

Aku pikir, dua minggu saja cukup untuk adaptasi. Ternyata salah besar. Anak-anak butuh waktu lebih lama. Untuk orang dewasa, bisa saja melihat salju dan aurora itu menyenangkan. Tapi untuk anak balita? Yang dia tahu hanya dingin, sepi, dan tidak ada nenek-kakek yang biasa dia temui.

Selain tantangan cuaca, tantangan terbesar adalah aku sendiri. Aku mengira karena sudah terbiasa merantau sejak kecil, aku bisa membawa anak merantau dengan mudah. Aku salah. Dulu aku hanya bertanggung jawab atas diriku. Kini, ada anak kecil yang sangat bergantung pada kondisi psikologisku. Anak-anak menyerap energi orang tua. Ketika aku berusaha terlihat tegar, tapi sebenarnya lelah dan kesepian, si sulung ikut merasakannya.

Hari-hari kami di Tromsø diisi dengan videocall ke keluarga di Indonesia, main di dalam rumah, dan kelelahan emosional. Setelah dua bulan, barulah si sulung mulai terbiasa dengan udara dingin. Kami mulai keluar rumah ke taman, danau, atau jalan kaki ke kampus. Begitu cuaca menghangat, ia mulai masuk barnehage (TK) di bulan Agustus. TK-nya adalah friluftsliv barnehage, dengan banyak kegiatan luar ruang. Ini sangat membantu, karena ia mulai terbiasa bertemu teman sebaya dan guru yang ramah.

Guru-guru TK-nya membuatkan buku bergambar berisi kosakata bahasa Norsk dan Inggris untuk membantunya belajar bahasa. Kami masih menyimpan buku itu sampai sekarang, dan digunakan lagi saat si bungsu masuk TK.

Pengalaman si bungsu berbeda. Ia lahir di Bergen saat keluarga kami lebih stabil. Tapi ia lahir beberapa bulan sebelum pandemi COVID-19. Ketika masuk TK di usia dua tahun, dia sangat takut bertemu orang. Ia hanya mengenal ayah, ibu, dan kakaknya. Butuh waktu empat bulan untuk beradaptasi. Di enam minggu pertama, sering kali aku harus menjemputnya lebih awal karena ia menangis terus. Untung guru-guru sangat suportif dan meyakinkan bahwa ini sementara.

Kini, si bungsu akan masuk SD. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut, gemar hiking, dan menyukai ketenangan. Beda anak, beda tantangan, beda pula bentuk resiliensinya.

Salah satu pengalaman yang paling mengena adalah ketika aku harus belanja di tengah musim dingin. Si sulung tidak mau dipakaikan jaket. Ia meraung-raung. Aku kelelahan. Akhirnya, aku duduk saja di tepi jalan bersalju, membiarkan dia menangis. Aku tahu, memarahinya tidak akan membantu. Aku hanya duduk diam, menikmati sedikit sinar matahari yang muncul setelah musim dingin panjang.

Setelah tangisnya reda, dia tertidur di stroller. Sejak saat itu, aku mulai menyadari pentingnya self-soothing. Saat anak mengamuk, aku belajar menenangkan diri dulu. Kadang aku ke balkon, duduk sebentar. Tidak meninggalkan anak, tapi menjauh agar bisa lebih tenang. Lama-lama, si sulung mulai mengikuti, bahkan berusaha memakai jaketnya sendiri untuk ikut ke luar.

Langkah konkret lainnya adalah menciptakan rutinitas yang stabil. Bangun tidur, bereskan selimut, makan, mandi, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, makan, istirahat, lalu boleh bermain. Tidak ada screentime di hari biasa. Kami juga membiasakan ngobrol saat makan malam. Obrolan ini jadi ruang untuk berbagi cerita, masalah, atau sekadar bercanda. Kami ajarkan bahwa semua emosi boleh, tapi tidak semua perilaku diperbolehkan.

Aku juga menjaga identitas budaya Indonesia lewat makanan. Akhir pekan, kami isi dengan memasak makanan Indonesia. Si sulung bahkan bangga bisa makan sambal korek, katanya itu prestasi. Kami juga rajin membaca buku berbahasa Indonesia, videocall dengan keluarga, dan ikut pengajian bulanan dengan komunitas Indonesia di Bergen.

Kami percaya, identitas budaya anak bisa ditanam lewat rasa, cerita, dan koneksi emosional. Meski tinggal di negara barat, kami ajarkan batasan dan nilai-nilai lewat kebiasaan dan contoh sehari-hari.

Soal kesehatan mental, aku pernah konsultasi ke psikolog Indonesia secara online. Di Norwegia sempat mencoba, tapi tidak cocok karena kendala bahasa dan biaya. Untuk si sulung, sekolah membantu mengakses layanan psikolog remaja. Suatu hari ia bilang, “I think I need help.” Kami langsung bantu. Saat itu aku merasa, semua table talk selama ini ternyata tidak sia-sia.

Aku belajar bahwa kebutuhan emosional anak saat migrasi adalah rasa aman. Dan rasa aman itu tidak bisa muncul kalau orang tuanya sendiri belum merasa aman.

Makna resiliensi buat anak-anak kami bukan soal “baik-baik saja,” tapi tentang bisa mengelola emosi, merasa cukup, dan tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan.

Akhirnya, aku sadar bahwa menjadi orang tua di perantauan tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang membangun ulang diri. Unlearning itu sama pentingnya dengan learning.

Untuk orang tua yang akan merantau, siapkan diri secara sadar. Jangan hanya tergoda citra di media sosial. Hidup di luar negeri memang banyak peluang, tapi juga penuh tantangan. Pelajari sistem negara tujuan, cari tahu jalur bantuan, dan bangun komunitas sehat. Jangan lupa, punya batasan yang sehat juga penting.

Karena saat kita sudah merasa cukup, kita bisa hadir penuh untuk anak-anak. Dan saat itulah, resiliensi mulai tumbuh, perlahan, tapi pasti.

Penulis: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak via akun instagram @aini_hanafiah.