(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 September – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(PODCAST RUMPITA) Membaca Bumi dari Masa Lalu: Cerita Peneliti Indonesia di Rusia

Melanjutkan program diskusi podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – di bulan September 2026, kita ingin berdiskusi terkait ilmu bumi, apalagi bumi kita sekarang, terutama di Indonesia yang rawan bencana alam. Seperti baru-baru ini, Indonesia baru saja mengalaminya terkait aktivitas vulkanik. Jadi, apakah bisa membaca masa lalu bumi demi masa depan yang lebih baik? Diskusi yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi refleksi mendalam tentang manusia, bumi, dan masa depan.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Anna di Jerman bersama Rieska Wulandari di Italia, percakapan ini menghadirkan Gerry Utama. Dia adalah seorang peneliti geologi lingkungan yang tak hanya akrab dengan data dan peta, tetapi juga dengan realitas lapangan yang kompleks, bahkan terkadang sulit dijelaskan sepenuhnya oleh logika.

Gerry membuka cerita dengan satu fakta yang mengguncang cara kita memandang bumi. Melalui penelitian di Antartika, ia menemukan bahwa material vulkanik dari Indonesia tersimpan dalam lapisan es di kutub selatan. Abu dari letusan Gunung Tambora pada 1816, Gunung Agung pada 1964, hingga Gunung Samalas pada 1258, ternyata mampu menjangkau wilayah yang begitu jauh. Temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan pengingat bahwa peristiwa di satu titik bumi dapat berdampak secara global. Di situlah, menurutnya, manusia seharusnya mulai menyadari betapa kecilnya posisi kita di hadapan sistem alam yang begitu besar.

Bidang yang ditekuni Gerry, paleogeografi kuarter, berusaha membaca kembali masa lalu bumi melalui jejak-jejak yang tersimpan di alam. Dari sedimen, lapisan es, hingga bentuk bentang alam, semua menyimpan cerita tentang apa yang pernah terjadi. Ia menjelaskan bahwa masa kini sejatinya adalah kunci untuk memahami masa lalu, dan keduanya menjadi dasar untuk membaca kemungkinan masa depan. Dalam perspektif ini, bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan lingkungan bukanlah hal baru. Semuanya pernah terjadi, hanya bentuk dan skalanya yang terus berubah.

Ketika membahas krisis lingkungan, Gerry memilih istilah “kerentanan iklim” dibandingkan “perubahan iklim”. Baginya, bumi secara alami memang selalu mengalami perubahan. Namun, aktivitas manusia mempercepat dan memperparah dinamika tersebut. Sejak era revolusi industri, pelepasan karbon dalam jumlah besar telah mengubah keseimbangan sistem bumi. Dampaknya mulai terasa dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan suhu global hingga munculnya fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya tidak lazim terjadi.

Indonesia, dalam konteks ini, berada pada posisi yang sangat rentan. Terletak di kawasan cincin api dunia, wilayah ini menjadi titik pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Aktivitas geologi yang tinggi menjadikan gempa bumi, letusan gunung api, hingga longsor sebagai bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Gerry menuturkan bahwa melalui data spasial yang ia kumpulkan sejak masa kuliah, ia pernah melihat pola yang mengarah pada potensi bencana. Prediksi itu kemudian terbukti ketika gempa bumi memicu longsor di lokasi yang sama setahun kemudian. Baginya, data bukan hanya angka, melainkan peringatan yang bisa menyelamatkan nyawa jika dipahami dengan benar.

Namun, pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa data tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari drone yang tiba-tiba hilang hingga pengalaman tak terduga di lokasi penelitian, semua itu membawanya pada satu kesadaran. Menurut Gerry, kita perlu menghargai kearifan lokal. Ia bahkan menyebut adanya ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan tradisional, sesuatu yang ia gambarkan secara ringan sebagai “geomistik”. Dalam pandangannya, apa yang selama ini dianggap mitos sering kali menyimpan logika yang baru bisa dipahami melalui pendekatan ilmiah di masa kini.

Di balik semua itu, sosok peneliti yang digambarkan Gerry jauh dari stereotip umum. Ia menolak anggapan bahwa peneliti selalu identik dengan laboratorium dan buku. Peneliti kebumian justru dituntut untuk tangguh secara fisik, mampu bekerja di medan ekstrem, dan berhadapan langsung dengan kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Perjalanan Gerry sendiri bermula dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia tumbuh dengan bayangan hidup yang sederhana, mengikuti jalur yang dianggap ideal oleh lingkungan sekitarnya. Namun, sebuah kesempatan di masa kuliah membawanya masuk ke dunia riset. Dari sana, ia menemukan panggilan yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, hingga menempuh pendidikan di Rusia. Di St. Petersburg, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kebumian, tetapi juga menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu dingin yang melukai kulit hingga penyesuaian ritme kehidupan yang jauh berbeda dari Indonesia.

Pada akhirnya, percakapan ini kembali pada satu hal yang sederhana namun mendasar, yakni peran manusia. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang mampu merusak sekaligus membangun. Kita memiliki kemampuan untuk mengubah alam dalam skala besar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dari lapisan es di Antartika hingga tanah longsor di perbukitan Indonesia, semua menunjukkan bahwa dampak dari tindakan manusia tidak pernah benar-benar terisolasi.

Kesadaran bahwa manusia itu kecil seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya. Justru dari situlah muncul tanggung jawab yang lebih besar. Dengan ilmu, data, dan pemahaman yang terus berkembang, manusia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memahami bumi, tetapi juga merawatnya.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal Spotify kami dan pastikan FOLLOW ya untuk mendukung kami

(GALERI FOTO) Nonton dan Diskusi Film “Dua Kali”

Dalam rangka mempromosikan kesehatan mental sekaligus memperkenalkan program konseling online Ruanita Indonesia, acara pemutaran film “Dua Kali” yang disertai psikoedukasi berhasil diselenggarakan dengan baik di gedung pertemuan KBRI Madrid, Spanyol (5/9). Sebelumnya, Tim Ruanita Indonesia juga sempat melakukan audiensi dan tatap muka bersama Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol beserta jajarannya, guna memperkuat dukungan sosial bagi warga Indonesia di Spanyol di bidang psikologi, sosial, dan budaya. Ada pun kegiatan ini dilaksanakan oleh relawan Ruanita Indonesia di Spanyol, yakni: Bernadia Dwiyani, Tyka Karunia dan didampingi Anna Knöbl di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Supaya Tidak Stres Jadi Pekerja Migran, Ikuti Kultur Kerja yang Ada

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Nana, bukan nama sebenarnya. Saya adalah seorang perempuan Indonesia dengan latar belakang pendidikan Administrasi Bisnis yang kini menetap di Swedia.

Untuk bekerja di negeri IKEA ini, menurut saya, merupakan keputusan besar dalam hidup saya sendiri. Meski menurut saya, ini bukan pertama kalinya saya bekerja di luar negeri.

Sebelumnya, saya juga sempat menghabiskan dua tahun di salah satu negara Asia sebagai seorang administrator. Sekarang saya berkarier sebagai seorang profesional di sebuah perusahaan di Swedia.

Keputusan saya untuk tinggal di Swedia bukan hanya didorong oleh keinginan mengejar karier semata, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan izin tinggal tetap. Bekerja adalah salah satu cara agar saya bisa mandiri dan bertahan di negara dengan budaya yang sangat berbeda dari tanah kelahiran, Indonesia.

Saat pertama kali bekerja di Swedia, saya merasakan perbedaan besar dalam budaya kerja dibandingkan dengan Indonesia.

Di Swedia, suasana kerja jauh lebih santai dan kurang menuntut. Tidak ada tekanan berlebihan untuk memenuhi tenggat waktu dan tingkat stres secara umum lebih rendah, dibandingkan dengan pengalaman kerja selama masih di Indonesia dulu.

Selain itu, saya senang di Swedia ada Serikat Buruh yang juga memiliki peran besar dalam melindungi hak-hak pekerja. Sahabat Ruanita, tidak ada yang lebih mudah juga tinggal dan bekerja di Swedia. Saya harus menghadapi berbagai tantangan lain yang harus dihadapi. Hambatan pertama tentu saja adalah Bahasa Swedia.

Saya memang fasih dan lancar berbahasa Inggris, tetapi komunikasi dengan kolega lokal tentu saja sulit. Bagaimana pun mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Swedia.

Selain itu, ritme kerja yang lambat terkadang membuat saya frustrasi. Saya terbiasa bekerja cepat dan efisien. Namun di lingkungan baru ini, saya harus belajar untuk terus menyesuaikan diri.

Salah satu pengalaman yang paling menantang bagi saya adalah ketika saya harus menyelesaikan tugas saya dalam satu hari, padahal rekan-rekannya memberikan estimasi waktu beberapa hari.

Respons dari mereka tidak selalu positif. Saya dicap sebagai orang yang “terlalu cepat bekerja” dan dianggap tidak mengikuti ritme kerja yang sudah berlaku.

Saya merasa aneh dan menjadi bingung. Di satu sisi, Saya hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi di sisi lain, kecepatan dan efisiensinya justru membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain.

Saya juga merasakan bahwa budaya egaliter Swedia memengaruhi cara orang berkomunikasi. Di Swedia, tidak ada hirarki yang terlalu menonjol di tempat kerja.

Semua orang diperlakukan setara, termasuk dalam berkomunikasi dengan atasan. Ini adalah hal yang positif, tetapi juga membuatnya harus menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dalam menyampaikan pendapat atau bekerja dengan rekan kerja.

Bekerja di lingkungan yang sangat berbeda memiliki dampak psikologis dan stres tersendiri bagi saya. Saya mengalami trust issues dan merasa kesulitan membangun hubungan dengan rekan-rekan kerja.

Ada momen di mana saya merasa diisolasi dan didiskriminasi karena statusnya sebagai pekerja imigran. Salah satu hal yang paling membuat saya merasa tertolak adalah ketika rekan-rekan kerja enggan menggunakan bahasa Inggris, meskipun mereka sebenarnya bisa.

Merasa sulit beradaptasi, saya mulai menarik diri. Saya lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan hubungan sosial di tempat kerja.

Menurut saya, strategi terbaik dalam bekerja adalah “just do my job and go home.” Saya menghindari konfrontasi dan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski penuh tantangan, saya akhirnya menemukan cara untuk beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa bekerja di Swedia berarti menyesuaikan diri dengan prinsip lagom, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Istilah ini sangat mencerminkan budaya kerja di Swedia, antara lain: tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, tetapi cukup.

Saya juga mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan baru, seperti fika time, yaitu waktu istirahat untuk minum kopi dan berbincang dengan rekan kerja. Hal ini membantu saya untuk lebih rileks dan memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan terburu-buru.

Selain itu, komunitas Indonesia di Swedia turut membantu saya dalam beradaptasi. Saya mendapat saran untuk tidak terlalu memaksakan diri agar “blending in,” tetapi lebih kepada menghormati budaya kerja yang ada tanpa kehilangan profesionalisme.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap lingkungan kerja memiliki tantangannya sendiri. Saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan internasional sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan lokal Swedia.

Jika ingin bertahan, seseorang harus mampu beradaptasi dengan sistem yang ada.

Sebagai seorang profesional, saya juga belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan tidak menonjolkan diri terlalu berlebihan.

Di satu sisi, saya bangga dengan kemampuan diri yang melebihi ekspektasi perusahaan. Namun, di sisi lain, saya sadar bahwa terlalu menunjukkan keunggulan dapat membuatnya semakin terasing.

Ada satu momen yang membuat saya bangga: ketika saya dipercaya untuk menjadi perwakilan pegawai dalam sesi wawancara dengan konsultan internasional selama proses sertifikasi perusahaan.

Meski pun saya sering merasa diri kurang dihargai di lingkungan kerja saat ini, momen ini mengingatkannya bahwa keahlian tetap memiliki nilai.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di negara dengan budaya yang sangat berbeda, saya memiliki beberapa pesan penting.

Hal pertama adalah belajar bahasa lokal sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Penguasaan bahasa yang baik bisa membuka lebih banyak peluang dan membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Hal kedua, saya berpesan untuk bersabar dan belajar menyesuaikan diri. Tidak perlu berusaha keras untuk “blending in,” tetapi cukup dengan bersikap profesional dan menghormati budaya kerja yang ada.

Dan yang terakhir, tetaplah teguh dengan nilai-nilai diri sebagai orang Indonesia. Jangan kehilangan identitas diri sebagai orang Indonesia dan tetaplah berpegang pada prinsip profesionalisme di mana pun berada.

Jika bisa berbicara kepada diri sendiri saat pertama kali datang ke Swedia, saya ingin mengatakan: It will be a roller coaster, so be prepared. Don’t give up easily. Stand up and speak up for yourself. Keep your professionalism at work and do your best. Bring positive values everywhere you go, and never lose your identity!

Penulis: Nana yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak via email info@ruanita.com.