(PODCAST RUMPITA) Mengajarkan Bahasa Indonesia dari Kelas ke Kamera

Program audio bulanan Podcast RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) kembali hadir dengan diskusi inspiratif yang membuka wawasan tentang pendidikan, karier internasional, dan dunia konten digital. Episode kali ini dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang menetap di Jerman, bersama Griska Gunara, relawan Ruanita Indonesia yang berdomisili di Inggris (UK). Dalam diskusi santai namun penuh makna, Podcast RUMPITA menghadirkan tamu spesial, Boy Tri Rizky. Dia adalah seorang konten kreator sekaligus edukator asal Indonesia yang kini menetap di Jerman. Boy dikenal aktif membagikan wawasan seputar studi, bahasa, dan kehidupan di Eropa melalui berbagai platform digital.

Griska membuka diskusi dengan memperkenalkan latar belakang akademik Boy yang mengesankan. Boy merupakan lulusan Master of Arts Intercultural German Studies (German as a Foreign Language) dari Universität Göttingen. Tak berhenti di situ, Boy mengungkapkan bahwa saat ini ia tengah menempuh studi doktoral (S3) di Berlin, dengan rencana jangka panjang untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia. Perjalanan Boy ke Jerman berawal dari profesinya sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Latar pendidikan S1-nya adalah pendidikan Bahasa Jerman. Setelah lulus, ia mengikuti seleksi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan terpilih sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penugasan luar negeri.

“Saya ditempatkan di KBRI Copenhagen, Denmark. Dari sana kemudian lanjut kuliah ke Jerman, dan setelah lulus saya mengajar di KBRI Berlin dan Rumah Budaya Indonesia,” tutur Boy.

Ia menjelaskan bahwa program pengiriman pengajar BIPA luar negeri merupakan program resmi pemerintah, meski saat ini belum kembali dibuka setelah pandemi COVID-19. Dalam studi doktoralnya, Boy meneliti penilaian bahasa dalam masyarakat, dengan mengambil contoh perbandingan antara Jakarta dan Berlin. Ia menyoroti bagaimana bahasa sering kali menjadi simbol status sosial.

“Di Jakarta, orang yang berbicara bahasa Inggris sering dianggap lebih berpendidikan. Sementara bahasa Indonesia dianggap biasa saja, dan bahasa daerah kadang dipandang rendah,” jelasnya.

Penelitian ini menjadi salah satu fondasi konten edukatif yang juga ia bagikan melalui media sosial. Ketertarikan Boy pada dunia konten digital bermula ketika ia kembali ke Indonesia setelah lulus S2. Ia mulai membagikan pengalaman hidup, studi, dan gegar budaya di Jerman. Tak disangka, konten-konten tersebut mendapatkan respons tinggi dari audiens.

“Saat aku konsisten upload, terutama tentang gegar budaya dan kuliah di Jerman, engagement-nya naik drastis,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, Boy menyimpulkan bahwa konsistensi adalah kunci utama menjadi konten kreator. Ia menargetkan unggahan minimal tiga kali seminggu agar tetap relevan di algoritma media sosial. Kini, kontennya tak hanya membahas kehidupan di Jerman, tetapi juga fenomena bahasa, riset akademik, serta isu-isu sosial yang jarang diangkat. Dalam diskusi, Boy membedakan peran antara konten kreator dan edukator. Menurutnya, konten kreator berfokus pada engagement dan daya tarik visual, sementara edukator menitikberatkan pada isi dan nilai pembelajaran.

“Aku selalu berusaha supaya orang bukan cuma terhibur, tapi juga belajar sesuatu dari kontenku,” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya personal branding. Sejak awal, Boy memosisikan dirinya sebagai pendidik. Ia menghindari konten yang berpotensi memicu perundungan dan selalu menjaga etika, terutama terkait privasi, yang sangat dijunjung tinggi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Menutup perbincangan, Boy menyampaikan pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: jangan takut mencoba hal baru. Menurutnya, pengalaman hidup di luar negeri membuka cara pandang yang lebih luas tentang dunia dan diri sendiri.

“Kesuksesan itu bukan buat orang paling pintar, tapi buat orang yang mau berjuang sampai akhir,” ujarnya. Ia mengaku bahwa nilai akademiknya dulu tidak selalu menonjol. Namun, keberanian mencoba, melangkah, dan tidak takut gagal menjadi pembeda dalam hidupnya.

“Selama ada kesempatan, kenapa nggak dicoba?” pungkasnya.

Melalui Podcast Diskusi RUMPITA, Ruanita kembali menghadirkan ruang diskusi yang jujur, reflektif, dan inspiratif, sehingga menjadi jembatan cerita perempuan dan laki-laki Indonesia lintas negara untuk saling belajar dan menguatkan. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.