
Program audio bulanan Podcast RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) kembali hadir dengan diskusi inspiratif yang membuka wawasan tentang pendidikan, karier internasional, dan dunia konten digital. Episode kali ini dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang menetap di Jerman, bersama Griska Gunara, relawan Ruanita Indonesia yang berdomisili di Inggris (UK). Dalam diskusi santai namun penuh makna, Podcast RUMPITA menghadirkan tamu spesial, Boy Tri Rizky. Dia adalah seorang konten kreator sekaligus edukator asal Indonesia yang kini menetap di Jerman. Boy dikenal aktif membagikan wawasan seputar studi, bahasa, dan kehidupan di Eropa melalui berbagai platform digital.
Griska membuka diskusi dengan memperkenalkan latar belakang akademik Boy yang mengesankan. Boy merupakan lulusan Master of Arts Intercultural German Studies (German as a Foreign Language) dari Universität Göttingen. Tak berhenti di situ, Boy mengungkapkan bahwa saat ini ia tengah menempuh studi doktoral (S3) di Berlin, dengan rencana jangka panjang untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia. Perjalanan Boy ke Jerman berawal dari profesinya sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Latar pendidikan S1-nya adalah pendidikan Bahasa Jerman. Setelah lulus, ia mengikuti seleksi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan terpilih sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penugasan luar negeri.
“Saya ditempatkan di KBRI Copenhagen, Denmark. Dari sana kemudian lanjut kuliah ke Jerman, dan setelah lulus saya mengajar di KBRI Berlin dan Rumah Budaya Indonesia,” tutur Boy.
Ia menjelaskan bahwa program pengiriman pengajar BIPA luar negeri merupakan program resmi pemerintah, meski saat ini belum kembali dibuka setelah pandemi COVID-19. Dalam studi doktoralnya, Boy meneliti penilaian bahasa dalam masyarakat, dengan mengambil contoh perbandingan antara Jakarta dan Berlin. Ia menyoroti bagaimana bahasa sering kali menjadi simbol status sosial.
“Di Jakarta, orang yang berbicara bahasa Inggris sering dianggap lebih berpendidikan. Sementara bahasa Indonesia dianggap biasa saja, dan bahasa daerah kadang dipandang rendah,” jelasnya.
Penelitian ini menjadi salah satu fondasi konten edukatif yang juga ia bagikan melalui media sosial. Ketertarikan Boy pada dunia konten digital bermula ketika ia kembali ke Indonesia setelah lulus S2. Ia mulai membagikan pengalaman hidup, studi, dan gegar budaya di Jerman. Tak disangka, konten-konten tersebut mendapatkan respons tinggi dari audiens.
“Saat aku konsisten upload, terutama tentang gegar budaya dan kuliah di Jerman, engagement-nya naik drastis,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, Boy menyimpulkan bahwa konsistensi adalah kunci utama menjadi konten kreator. Ia menargetkan unggahan minimal tiga kali seminggu agar tetap relevan di algoritma media sosial. Kini, kontennya tak hanya membahas kehidupan di Jerman, tetapi juga fenomena bahasa, riset akademik, serta isu-isu sosial yang jarang diangkat. Dalam diskusi, Boy membedakan peran antara konten kreator dan edukator. Menurutnya, konten kreator berfokus pada engagement dan daya tarik visual, sementara edukator menitikberatkan pada isi dan nilai pembelajaran.
“Aku selalu berusaha supaya orang bukan cuma terhibur, tapi juga belajar sesuatu dari kontenku,” katanya.
Ia pun menekankan pentingnya personal branding. Sejak awal, Boy memosisikan dirinya sebagai pendidik. Ia menghindari konten yang berpotensi memicu perundungan dan selalu menjaga etika, terutama terkait privasi, yang sangat dijunjung tinggi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Menutup perbincangan, Boy menyampaikan pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: jangan takut mencoba hal baru. Menurutnya, pengalaman hidup di luar negeri membuka cara pandang yang lebih luas tentang dunia dan diri sendiri.
“Kesuksesan itu bukan buat orang paling pintar, tapi buat orang yang mau berjuang sampai akhir,” ujarnya. Ia mengaku bahwa nilai akademiknya dulu tidak selalu menonjol. Namun, keberanian mencoba, melangkah, dan tidak takut gagal menjadi pembeda dalam hidupnya.
“Selama ada kesempatan, kenapa nggak dicoba?” pungkasnya.
Melalui Podcast Diskusi RUMPITA, Ruanita kembali menghadirkan ruang diskusi yang jujur, reflektif, dan inspiratif, sehingga menjadi jembatan cerita perempuan dan laki-laki Indonesia lintas negara untuk saling belajar dan menguatkan. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.


