(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Dinamika Kasus Perdagangan Orang?

Dunia memperingati Hari Anti Perdagangan Orang pada 30 Juli setiap tahunnya. Dalam kaitan tersebut, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kirgizstan dan telah bekerja di organisasi dunia yang menangani permasalahan kasus perdagangan orang ini.

Lewat program cerita sahabat spesial setiap bulannya, kami ingin berbagai pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik sesuai tema yang disampaikan oleh narasumber.

Dia adalah Aisyah Yuliyani atau yang biasa dipanggil Yuli. Yuli bertanggung jawab terkait intervensi UNODC di bidang peradilan pidana, yang meliputi isu gender-based violence, trafficking in persons, dan lain sebagainya.

Yuli juga menjelaskan bahwa pekerjaannya termasuk memberikan intervensi di wilayah Asia Tengah yang terkait dengan pengelolaan orang-orang di area konflik.

Dengan pengalaman yang digeluti Yuli selama ini, tentunya dia banyak memahami bagaimana memenuhi hak-hak perempuan di situasi konflik atau yang terlibat dalam bidang pidana.

Follow us

Yuli mengakui ia banyak berbicara dengan stakeholders dalam isu hukum dalam menjalankan tugasnya tersebut.

Lewat video lengkap yang disajikan Ruanita Indonesia, Yuli bercerita juga tentang bagaimana mendampingi teman-teman perempuan yang berkonflik dengan hukum. Bukan tidak mungkin, teman-teman perempuan tersebut terjebak dalam kasus-kasus pidana perdagangan orang, termasuk dalam tindakan prostitusi dan penipuan.

Yuli menghimbau agar teman-teman dapat memastikan tawaran pekerjaan yang menggiurkan di luar Indonesia, tanpa tahu detil pekerjaaannya.

Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap peluang kasus penipuan dan prostitusi yang marak terjadi, akibat ketidaktahuannya tentang tawaran pekerjaan yang diambilnya.

Lewat komunitas dan organisasi kemasyarakatan Indonesia di luar Indonesia, kita bisa menjangkau orang-orang Indonesia terutama perempuan yang masih terjebak dalam eksploitasi pekerjaan atau penipuan kerja. Kita perlu membantu mereka keluar dari jerat kasus tersebut.

Bagaimana dinamika kasus-kasus perempuan Indonesia yang menjadi korban perdagangan orang yang selama ini dilakukan oleh Yulil dan organisasinya? Apa yang harus disadari dari maraknya tawaran penipuan kerja yang menjanjikan, tetapi malah menjerumuskan? Apa yang perlu dilakukan orang-orang Indonesia untuk membantu mereka? Apa pesan Yuli untuk sahabat Ruanita dan dunia dalam Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST IN ENGLISH) Persiapan Pindah Ke Luar Negeri Pakai Visa Penyatuan Keluarga

Ruanita Indonesia baru saja meluncurkan program Podcast terbaru dalam Bahasa Inggris.

Program podcast yang berbicara seputar peran dan pengalaman perempuan di mancanegara akan dimoderasi oleh Aini Hanafiah dan Kristina Ayuningtyas yang sama-sama tinggal di mancanegara untuk mendampingi suami yang bertugas di mancanegara.

Aini sudah lebih lama ikut mendampingi suami bertugas sejak lebih dari sepuluh tahun. Kini Aini menetap bersama keluarganya di Norwegia.

Sedangkan Kristin baru saja ikut serta mendampingi suami bertugas di Slowakia. Keduanya terlibat obrolan asyik seputar bagaimana persiapan dokumen melalui visa penyatuan keluarga.

Follow us

Aini mengatakan bahwa berpindah dari satu negara ke negara lainnya menjadi pengalaman menarik sekaligus menantang.

Mungkin tidak semua orang mudah beradaptasi dan memulai kehidupan yang baru di suatu negara yang berbeda kultur dan bahasa sehari-harinya.

Aini bisa memahami pengalaman culture shock yang tentunya tidak mudah dialami dari satu negara ke negara lainnya.

Kristin berbicara tentang bagaimana dokumen yang juga harus dilengkapi, termasuk tahapan yang cukup melelahkan mengingat panjangnya birokrasi dan tuntutan dokumen yang dipenuhi.

Kristin sampai tidak bisa berbicara banyak, bagaimana upayanya untuk bisa tetap mendampingi suami bertugas di mancanegara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman Jadi Pekerja Migran di Slowakia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Rinatu Siswi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Tutus. Sekarang saya menetap di Slowakia sejak tahun 2022 dan sehari-hari saya bekerja sebagai pramusaji di bar dan restoran sebuah hotel di Slowakia. Banyak orang Indonesia yang bertanya, bagaimana saya bisa memiliki kesempatan menjadi pekerja migran di Slowakia. Mungkin saja, sahabat Ruanita tidak banyak mengenal negara yang saya tempati ini. 

Ini semua berawal dari keinginan saya untuk tinggal bersama dengan suami. Suami sendiri telah bekerja selama sebelas tahun menjadi pekerja migran. Setelah kami menikah pada tahun 2018, prinsipnya, saya tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di Slowakia. 

Untuk tinggal bersama suami di Slowakia, saya putuskan untuk mengajukan visa kumpul keluarga. Pada akhirnya, saya pun bisa menetap di Slowakia. Seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa kurang nyaman hanya berdiam di rumah. Bagaimana pun saya di Indonesia memiliki riwayat selalu bekerja, meskipun saya melakukan kuliah sambil bekerja. 

Kebetulan saat itu, di musim panas, ada lowongan pekerjaan di tempat suami saya bekerja. Saya pun memutuskan untuk bekerja kembali, walaupun subjek pekerjaan yang saya pelajari sebelumnya, itu sangat berbeda dengan kebutuhan tempat kerja saya yang sekarang.

Follow us ruanita.indonesia

Selanjutnya, pihak manajemen di tempat saya bekerja pun mengupayakan perubahan visa. Semula visa saya adalah visa kumpul keluarga, kini visa saya menjadi visa kerja. Boleh dibilang, saya sudah satu setengah tahun bekerja sebagai pekerja migran di Slowakia. 

Kalau ditanya, mengapa saya memilih negara Slowakia untuk bekerja. Alasan utamanya adalah agar saya dapat tinggal bersama dengan suami. Tentunya, sahabat Ruanita pun penasaran dengan prosedur untuk warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bekerja di Slowakia. Menurut pengetahuan saya, bekerja di Slowakia dapat ditempuh dengan dua jalur.

Jalur pertama adalah menggunakan agen penyalur kerja dan jalur kedua adalah melakukannya secara mandiri. Apa yang saya alami adalah mendapatkan pekerja di Slowakia lewat jalur mandiri. Ternyata, meskipun jenis visa yang diajukan pertama kali adalah jenis visa keluarga, tetapi prosedurnya pun tidak jauh berbeda dengan visa kerja. 

Apabila kalian sudah dinyatakan mendapatkan pekerjaan yang dilamar di suatu negara, pertama kali, menurut saya adalah memastikan terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut. Mengapa? Hal ini dilakukan untuk menghindari penipuan kerja yang sedang marak belakangan ini. Meskipun sulit, tetapi kita harus mengecek dulu agar tidak menjadi korban penipuan. 

Setelah itu, kita wajib memiliki sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan posisi yang akan kita lamar. Kita perlu mendaftarkan ke notaris kopi sertifikat kompetensi sebagai proses legalisasi. Usahakan kalian mengecek daftar notaris yang dipersyaratkan di tiap kedutaan yang menjadi lokasi negara tinggal. Proses

legalisasi ini diperlukan agar kita layak dan kompetensi kita diakui secara internasional (apostille). Setelah proses legalisasi di notaris selesai, kalian bisa mengirimkan dokumen tersebut ke negara terkait untuk diterjemahkan ke dalam bahasa resmi negara tujuan. 

Apabila dokumen selesai diterjemahkan, dokumen tersebut akan dikirim lagi ke Indonesia yang disertai surat-surat yang berkaitan dengan perusahaan, misalnya kontrak kerja, surat kuasa, pihak sponsor dari perusahaan, dsb.

Selanjutnya, kita akan mendapatkan undangan wawancara dengan pihak konsulat (di kedutaan negara tujuan yang berada di Indonesia). Saat wawancara, kita perlu membawa serta pelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Selesai wawancara, akan ada proses perekaman sidik jari. Visa kerja akan terbit setelah proses di atas selesai dilakukan. 

Menurut saya, tantangan terbesar saya bekerja sebagai pekerja migran adalah bahasa. Lingkup saya bekerja dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu rekan-rekan kerja yang menggunakan Bahasa Hungaria sebagai bahasa sehari-hari, dan jenis kedua adalah customer yang menggunakan Bahasa Slowakia.

Baik Bahasa Hungaria maupun Bahasa Slowakia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda. Saya harus saya mempelajarinya dalam waktu yang sama. Ditambah lagi, pronounce kedua bahasa tersebut yang terkadang tidak sama dengan bahasa baku. Pada situasi tersebut, saya berusaha menjelaskan sesuatu dengan Bahasa Inggris.

Meskipun hampir tujuh puluh persen, customer yang datang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi saya masih terbantu dengan komunikasi bahasa tubuh. Untuk hal-hal yang masih belum dapat dipahami, saya biasanya memakai bahasa tubuh seperti mengangguk, menggerakkan tangan, dsb. Kalau customer tidak memahami komunikasi saya, saya biasanya meminta bantuan rekan kerja saya. 

Hal yang paling dirasa berbeda dari budaya Indonesia adalah budaya ketegasan. Mungkin di Indonesia sangat melekat dengan “rasa kurang enak” sehingga teguran disampaikan secara lebih lembut , yang pada akhirnya menjadikan seseorang kurang jera.

Di tengah kesulitan dalam pekerjaan, saya berusaha membentengi diri dengan banyak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan (meskipun lewat YouTube). Saya selalu berbagi segala sesuatu, uneg-uneg di tempat kerja, yang saya rasakan kepada suami. Memang masalahnya tidak cepat selesai, tetapi ini berefek memberi kelegaan. 

Awalnya keluarga saya merasa berat hati karena sejak lulus SMA saya sudah meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi dan bekerja di luar kota.

Namun, keputusan untuk tinggal bersama dengan suami adalah hal yang paling tepat, ketimbang hidup terpisah setelah menikah. Seiring berjalannya waktu, keluarga malah merasa terharu dan bangga, karena saya adalah satu-satunya anak yang bisa bekerja di luar negeri. 

Menurut saya, sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan menandatangani kontrak kerja, kita perlu mengecek dengan lebih detil terhadap kontrak kerja yang disepakati.

Misalnya, tentang job description, target jumlah jam kerja dalam satu bulan, nominal gaji yang akan diterima, fasilitas apa saja yang akan didapatkan, dsb. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak menimbulkan konflik atau perselisihan di kemudian hari. Bagaimana pun, kontrak kerja adalah landasan yang membentengi kita sebagai pekerja migran, apabila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. 

Berkaitan dengan kekerasan atau diskriminasi di tempat kerja, saya merasa sepanjang kita bisa berlaku sopan dan bertingkah laku wajar, warga lokal akan menghargai kita juga.

Pesan saya untuk sahabat Ruanita yang ingin menjadi pekerja migran di Eropa dan Slowakia pada khususnya, kita harus memiliki mental kuat dan fisik yang prima. Mengapa kita perlu bermental kuat? Kita berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda.

Selain itu, fisik yang prima juga membantu kita mengatasi cuaca dan empat musim di Eropa sangat ekstrim, berbeda dengan Indonesia. 

Penulis: Rinatu Siswi atau Tutus, pekerja migran di Slowakia dan dapat dikontak di akun sosial media Instagram @rinatusiswi atau facebook Rinatu Siswi.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(CERITA SAHABAT) Berada Dalam Generasi Sandwich Tidaklah Mudah dan Selalu Negatif

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan  dengan Miri, Sarawak, Malaysia.

Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di  sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.

Di  waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11  tahun. 

Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus  menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan  anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.

Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri.  Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti  kepada orang tua. 

Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri  dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.

Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya,  ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara  kebutuhan hidup mereka masih tinggi.

Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus  menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  menafkahi anak-anaknya. 

Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang  sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.

Follow us

Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di  Indonesia.  Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di  masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.

Meskipun secara pribadi, saya tidak punya  pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak. 

Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich,  menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu: 

1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun  hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat  memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat. 

2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari  pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat  membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran,  ketahanan, dan empati.

3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga  kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap  terhubung dan kuat. 

4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich  memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik  dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak. 

Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal.  Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk  menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.

Saya pun turut prihatin, ketika  keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan. 

Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan  menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa  menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti  dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka.  Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang. 

Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang  umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di  saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.

Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington,  Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult  Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh  ilmuwan-ilmuwan budaya barat.  Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari  8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia.  Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya. 

Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh  tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena  kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat  orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 

Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan  keadaan orang tua mereka sendiri. 

Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah.  Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran. 

Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung  semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan  keluarga menjadi tidak baik

Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan  emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami  penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. 

Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci  menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus.  Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia. 

Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung  keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab,  Allah tahu kita mampu.  Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan  orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.

Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang  sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita.  Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta  bantuan profesional ya, jika dibutuhkan.  Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya. 

Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com. 

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Peran Orang Tua Menentukan Siblings Rivalry

Halo sahabat Ruanita, saya seorang WNI yang saat ini berdomisili di salah satu negara di Eropa barat dan saat ini keseharian saya mengikuti kursus bahasa di tempat saya tinggal. Saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai siblings rivalry. 

Menurut kamus American Psycology Association, siblings rivalry adalah persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, atau kasih sayang dari salah satu atau kedua orang tuanya atau untuk pengakuan atau penghargaan lain, seperti di bidang olahraga atau akademik.

Hal ini umumnya terjadi dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu. Menurut pengamatan saya, biasanya terjadi pada keluarga dengan anak yang jarak umurnya tidak jauh dari satu anak dengan anak yang lainnya. 

Saya adalah anak tertua dari tiga bersaudara, kebetulan perbedaan umur saya dan kedua adik saya tidak terlalu jauh. Kedua orang tua saya tergolong workaholic parents.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa ditinggal dengan pengasuh atau anggota keluarga lainnya, ketika orang tua saya harus bekerja. Ketika kecil, hal ini tidak begitu mengganggu saya, bahkan sebaliknya saya merasa sangat beruntung punya saudara yang selalu bisa diajak bermain bersama.

Follow us

Namun, semua hal tersebut perlahan-lahan berubah, ketika saya memasuki usia remaja. Saya selalu merasa kalau orang tua saya lebih mencurahkan perhatian mereka kepada kedua adik saya.

Contohnya, ketika ada acara kumpul keluarga, di mana yang akan selalu dibanggakan adalah kedua adik saya. Padahal kalau dibandingkan kedua adik saya, secara akademis saya lebih baik dibandingkan mereka berdua. 

Hal ini membuat saya mempunyai rasa cemburu terhadap kedua adik saya. Namun, sebagai anak tertua saya selalu berusaha menutupi hal tersebut, yang berdampak terhadap kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Hal ini membuat saya menjadi lebih tertutup saat di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu saya dengan teman-teman di luar rumah. 

Saat itu, orang tua saya menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi. Sebagai kakak, saya selalu diminta untuk mengalah, apabila terjadi pertikaian dengan saudara-saudara saya.

Sebagai seorang remaja yang sedang membutuhkan banyak perhatian, tentu saja saya merasa frustasi dan sedih karena harus memendam berbagai macam emosi yang saya rasakan sendiri.

Saya cukup beruntung karena hal tersebut tidak membuat saya terjebak dalam hal-hal negatif, karena bisa saja terjadi pada seorang remaja. 

Menurut saya, orang tua berperan besar dalam terjadinya siblings rivalry antar saudara. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya menemukan jawaban mengapa orang tua bisa menjadi penyebab terjadinya siblings rivalry.

Dalam buku Scattered Minds, Gabor Mate menjelaskan bahwa kondisi orang tua dalam menyambut kehadiran tiap anak akan berbeda-beda dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perlakuan orang tua terhadap masing-masing anak. 

Bisa saja kesiapan secara mental dan financial orang tua saya lebih baik, ketika kedua adik saya lahir dibandingkan saat saya lahir. Saya sendiri saat ini sudah berdamai dengan hal tersebut dan berusaha memahami bahwa, di tengah keterbatasan orang tua saya saat itu, mereka tetap menjadi orang tua yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya. 

Berdasarkan apa yang saya alami, menurut saya tidak selamanya siblings rivalry itu memiliki dampak yang buruk. Saya menjadi belajar untuk lebih mandiri dan selalu berusaha tidak bergantung pada orang lain.

Selain itu, saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, meskipun terkadang saya masih meminta pendapat keluarga saya. 

Namun, setiap keputusan yang saya ambil tidak bergantung pada pendapat orang lain. Saat ini, saya merasa siblings rivalry yang dulunya saya alami, tidak terlalu mengganggu pikiran saya lagi, ketika saya sedang tinggal jauh dari keluarga.

Dari pengalaman dan pengamatan saya, siblings rivalry bisa terjadi di keluarga manapun, karena hal tersebut juga terjadi dalam keluarga suami saya. Namun seperti yang saya alami, hal tersebut perlahan-lahan akan berkurang, bahkan hilang seiring bertambahnya usia, terutama saat kami masing-masing telah berkeluarga. 

Menurut saya, siblings rivalry adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun tentu saja, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari siblings rivalry. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: memberikan perhatian terhadap kebutuhan tiap anak, mengajarkan kepada anak menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka, tidak membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya di depan orang lain, dan menghabiskan waktu dengan masing-masing anak agar tiap anak merasakan kedekatan dengan orang tuanya.

Nah, sahabat Ruanita begitulah pendapat dan pengalaman saya tentang siblings rivalry yang mungkin bisa membantu.  

Penulis: Anonim.

(DATA) Peserta Kartini dalam Kewirausahaan dari 12 Negara Tahun 2024

Menindaklanjuti program “Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan” yang pernah dilaksanakan pada 2022 lalu, kami menggelarnya juga di tahun 2024 ini dengan menampilkan profil usaha dari teman-teman perempuan yang ada di luar Indonesia. Mereka tinggal di Jerman, Taiwan, Australia, Turki, Swiss, Belanda, Prancis, Polandia, Amerika Serikat, Norwegia, Korea Selatan, dan Serbia.

Tujuan dari program ini:

1. Menampilkan keragaman usaha yang dikelola oleh perempuan Indonesia sehingga menjadi inspirasi bagi siapa saja.

2. Menjadi “bank data” tentang keragaman usaha teman-teman perempuan di mancanegara yang dapat saling mendukung satu sama lain.

3. Membentuk jaringan sesama perempuan Indonesia di negeri rantau yang dimoderasi oleh Ruanita Indonesia.

Jerman

Nama Pemilik Ratitia Gitanyali
Nama Usaha/Produk Usaha Bali Java Wellness Healing
Lokasi Negara Usaha Jerman
Nama Media Sosial dari Pemilik FB: Tiara Saja I TikTok: @tiarasaja7
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: balijava_wellness_healing
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 5 April 2015
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan pernah menyerah!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Taiwan

Nama Pemilik Zhira
Nama Usaha/Produk Usaha Energy Healing Practitioner
Lokasi Negara Usaha Taiwan
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Nazhira atau jiwa.hira
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.jiwa-hira.com atau FB page: Jiwa Hira
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2023
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Percaya pada diri sendiri dan visi yang kamu punya. Perhitungkan risiko, gigih, dan jangan pernah takut gagal karena kegagalan sering kali mengarahkan kamu pada pertumbuhan dan pembelajaran. Kelilingi diri kamu dengan sistem pendukung yang kuat, carilah bimbingan, dan terus didik diri kamu dalam industri yang kamu tekuni tersebut. Tetap tangguh, mudah beradaptasi, dan bersemangat terhadap tujuan kamu.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Australia

Nama Pemilik Shinta Santoso
Nama Usaha/Produk Usaha Tempeh
Lokasi Negara Usaha Australia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.primasoy.com.au atau Instagram: primasoy
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 19 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Turki

Nama Pemilik Rahmawati Susanti
Nama Usaha/Produk Usaha Indo Gastronomy
Lokasi Negara Usaha Turki
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.indogastronomy.com I Facebook: Indo Gastronomy I Instagram: tempeh_tofu_ankara
Lama berwirausaha (tahun/bulan) sekitar 8 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Swiss

Nama Pemilik Anindya Palumbo
Nama Usaha/Produk Usaha Indy’s Kitchen
Lokasi Negara Usaha Swiss
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Indyrgras
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: indys_kitchen
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2013
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Saya selalu berpikir dan mengajarkan baik teman maupun anak didik untuk selalu melakukan apa pun yang disuka. Percaya pada diri sendiri. Selalu tekun dalam menjalani sesuatu. Soal hasil, pasti akan mengikuti usaha kita. Jika kalian menyukai apa yang dilakukan, maka kalian tidak pernah merasa terbebani. Contohnya, sekali pun saya pernah bekerja 15-18 jam sehari karena ada event, tetapi saya tetap merasa senang dan sangat menikmati.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Belanda

Nama Pemilik Vinna Nidia
Nama Usaha/Produk Usaha Buku Anak Nusantara
Lokasi Negara Usaha Belanda
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Vinnidia
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.bukuanaknusantara.nl
Instagram/Facebook: bukuanaknusantara.nl
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 1 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Cari informasi sebanyak mungkin tentang produk yang akan dipasarkan dan aturan di lokasi negara tinggal. Adanya relasi sangatlah penting untuk mempromosikan usaha di tahap awal.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Prancis

Nama Pemilik Dena Triyana
Nama Usaha/Produk Usaha Bakso Kaki Lima Eropa
Lokasi Negara Usaha Prancis
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: dena_djajadisastra
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: Bakso Kaki Lima Eropa
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 1 tahun 6 bulan
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Berwirausaha akan lebih menyenangkan untuk dijalani dengan menjalankan atau melakukan yang kita sukai.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Polandia

Nama Pemilik Lina Kowalko
Nama Usaha/Produk Usaha Dapur Tempeh Dozo Patisserie
Lokasi Negara Usaha Polandia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Facebook: Dapur Tempeh
Instagram: dapur_tempeh
I dozo_bialystok
Lama berwirausaha (tahun/bulan) sejak 2021
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha, sipakan mental untuk mengatasi berbagai kegagalan dan rintangan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Selain itu, coba dan terus mencoba lagi agar konsisten terhadap apa yang sedang dikerjakan. Tidak perlu menjadi nomor satu, tetapi lakukan dengan terbaik.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Amerika Serikat

Nama Pemilik Dewi Mayasari
Nama Usaha/Produk Usaha Dewi Maya I Tropic Asian Market
Lokasi Negara Usaha Amerika Serikat
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.dewimaya.com I IG: dewimaya.design
Website: http://www.tropicasianmarket.com I IG: Tropic Asian Market
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Dewi Maya sudah 5 tahun dan Tropic baru 1 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Sudah menjadi stereotip perempuan hanya akan berakhir di dapur dan mengurus rumah tangga. Di satu sisi, konstruksi sosial mengatakan dunia usaha
hanya cocok untuk pria. Perempuan dirasa terlalu lemah. Sayangnya, justru sesama perempuan yang mengatakan hal itu.
Kesetaraan gender di era yang semakin maju ini telah membuka peluang besar untuk perempuan berdaya secara financial. Saya merasakan, kerja keras ini semakin melambung tinggi setelah menikah dan punya anak. Banyak juga tantangan yang saya hadapi, terutama di awal merintis usaha di Amerika Serikat. Tantangan internalnya karena saya harus membagi waktu antara mengurus anak. Suami saya memberikan support dan kebebasan penuh pada saya untuk mngemukakan pendapat, mencari solusi, ataupun strategi apa yang saya mau dalam bisinis ini. Karena itu, salah satu support yang suami lakukan
adalah dengan senang hati mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama. Tantangan lain yang lebih berat adalah doktrin yang diucapkan sesama perempuan yang mengatakan bisnis saya tidak
akan maju, seperti: produk Dewi Maya tidak layak ikut fashion show atau pemetaan strata sosial yang
seolah-olah life style seorang designer itu harus punya rumah mewah dan glamour. Hal itu sangat bertolak belakang dengan definisi saya pribadi tentang kesuksesan. Menurut saya, suksesnya pengusaha itu bukan
dari apa yang saya perlihatkan di media sosial, tetapi seberapa banyak perempuan yang terbantu dari
bisnis yang saya miliki. Untuk semua mompreneur, jangan takut mencoba dan cepat menyerah! Kita semua mempunyai potensi yang sama. Good luck for all of us!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Norwegia

Nama Pemilik Safriani Siregar
Nama Usaha/Produk Usaha NorInd Kitchen: Indonesian Food, Catering & Take Away
Lokasi Negara Usaha Norwegia
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: leiknessafriani
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: norindkitchen
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2019
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Tetap melangkah dan belajar!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Korea Selatan

Nama Pemilik Citra Sartika Dewi
Nama Usaha/Produk Usaha Unni Citra
Lokasi Negara Usaha Korea Selatan
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: citradew1
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: warung.unni.citra
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak tahun 2021
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan takut dan malu untuk memulai, kerjakan yang disukai agar pada saat melakukan usaha tidak terbebani.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Serbia

Nama Pemilik Mery Christiani Milutinovic
Nama Usaha/Produk Usaha Cemani Tempeh Serbia
Lokasi Negara Usaha Serbia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: cemanitempehserbia
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Kurang lebih 3 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan takut dengan kegagalan ketika memulai sebuah usaha, karena kegagalan yang kita alami adalah pembelajaran untuk memperbaiki usaha kita.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Yoga Tertawa untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Halo Sahabat Ruanita, saya Ajeng dari Hamburg. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya dari cerita-cerita atau tulisan saya dalam program cerita sahabat Ruanita ini. Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya ikut sesi yoga tertawa atau laughter yoga secara daring.

Waktu itu tahun 2022, saya menemukan satu sesi yoga tertawa dari website kampus saya.  Walau aturan pembatasan sosial tidak seketat seperti tahun 2020-2021, tetapi pada tahun 2022 itu masih ada aturan di Jerman, yang mana acara-acara kampus hanya dilangsungkan secara daring. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari kelas yoga tertawa itu, tetapi saya butuh olahraga untuk kembali sehat secara jasmani dan rohani.

Sesi yoga tertawa dibuka oleh seorang praktisi yoga tertawa. Dia menjelaskan sejarah dan manfaat yoga tertawa ini. Menurutnya, yoga tertawa ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Sepertinya cocok untuk saya, yang mana saya sedang mengalami gangguan mental pada saat itu, dan saya ingin mulai olahraga lagi. 

Yoga tertawa merupakan perpaduan antara gerakan tubuh dan teknik pernafasan yang mungkin kita sudah kenal dari yoga, sehingga bisa membuat banyak oksigen mengalir ke tubuh dan otak kita. Yoga tertawa juga dapat mengurangi stres, menambah rileks, meningkatkan kreativitas, mengaktifkan hormon bahagia (dopamin), memperkuat sistem imun, dan mengurangi tekanan darah.

Mungkin saat kita mendengar istilah yoga tertawa, kita membayangkan orang tertawa sambil duduk bersila. Paling tidak, begitu yang saya bayangkan saat itu. Ternyata saya salah. Kami berlatih dengan duduk dan berdiri, melakukan gerakan-gerakan ringan, sambil diiringi dengan tawa.

Gerakannya sangat sederhana, bisa menepuk tangan, menjentikan jari, berputar, dan sebagainya. Tawanya boleh palsu, karena tubuh kita tidak tahu, apakah tawa yang kita lakukan palsu atau alamiah. Namun, efeknya akan sama-sama menyehatkan badan dan membuat bahagia.

Saya ingat, waktu itu latihan yoga kami dimulai dengan meniru gerakan binatang, misalkan pinguin. Pasti teman-teman tahu dong, bagaimana pinguin berjalan? Nah, itu adalah gerakan yang kami lakukan. Tidak usah berjalan jauh, hanya satu-dua langkah ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, dan berputar. Jangan lupa, dilakukan sambil tertawa. 

Pertama-tama, memang saya merasa aneh sekali melakukan tawa palsu, apalagi bersama orang-orang tidak dikenal. Sebagian besar orang yang hadir bersama saya berlatih yoga ini, mematikan video dan mikrofon. Lama-lama, saya tertawa sendiri, karena lucunya gerakan yang saya lakukan. Saya juga menertawakan yang sedang melakukan tawa palsu. Tawa yang kami lakukan juga beragam, tidak hanya “ha ha ha” tetapi juga “hi hi hi”, “he he he”, dan “ho ho ho”. Jadi, tiap gerakan bisa diganti ragam tawanya agar tidak bosan.

Menurut saya, yoga tertawa ini seperti sedang bermain. Kita bisa saja berfantasi membuat gerakan sendiri. Contohnya, gerakan membuat minuman. Anggap diri sendiri seorang bartender yang sedang mengocok botol minuman. Setiap gerakan mengocok minuman, kita tertawa dengan “ha”, ulangi tiga kali. Setelah itu, lakukan gerakan minum, sambil tertawa “ha ha ha”. Gerakan lain bisa kita ambil dari aktivitas sehari-hari, misalnya bertelepon, mencuci tangan, dan sebagainya. Semuanya bisa dilakukan sambil tertawa.

Setelah 10-15 menit melakukan yoga tertawa, saya benar-benar merasa lelah. Memang, tertawa membutuhkan tenaga, tapi di sisi lain saya merasa lebih “bangun”, menjadi lebih bertenaga, dan juga lebih bahagia. Awalnya, saya merasa aneh dengan tawa palsu, tetapi saya benar tertawa alamiah setelah itu. Mungkin karena gerakan-gerakannya yang lucu (dan aneh). Memang, tertawa itu menular, walaupun palsu. 

Hal lain, yang saya suka dari yoga tertawa adalah kita juga melakukan afirmasi positif ke diri sendiri. Gerakannya sederhana saja, misalnya mengelus lengan kita sambil bilang, “very good”. Atau kita melakukan gerakan lain sambil mengatakan, betapa kerennya kita. Kalau latihannya seperti ini, bagaimana ini tidak baik untuk kesehatan mental kita?

Setelah latihan sekali dengan praktisi yoga tersebut, saya mengajak sahabat saya yang tinggal di luar kota untuk melakukan yoga tertawa ini bersama saya. Kami membuat janji untuk bertemu secara virtual. Syukurnya, latihan yoga tertawa ini benar-benar sudah mendunia, seperti banyak yang ditampilkan di YouTube tentang ini. Awalnya, sahabat saya tertawa geli melihat gerakan-gerakan yang ditampilkan, apalagi dilakukan sambil tertawa palsu, tapi dia tetap mengikuti. 

Pada akhirnya, kami benar-benar tertawa bersama, sambil melakukan yoga tertawa ini. Setelahnya, kami benar-benar lelah, seperti habis melakukan olahraga. Tawa kami bukan lagi palsu, melainkan benar-benar alamiah. Kami sampai merasa takut ditegur tetangga, karena terlampau berisik. Sayangnya setelah itu, kami hanya bertemu secara daring 2-3 kali untuk latihan yoga tertawa, karena kesibukan kami juga.

Yoga tertawa ini juga bisa dilakukan oleh semua umur. Yoga tertawa ini juga sangat cocok untuk anak-anak, karena gerakannya yang mirip seperti permainan. Saat berlibur ke Indonesia, saya sempat melakukan yoga tertawa dengan keponakan saya, yang berumur lima tahun. Kami tidak berhenti tertawa. Orang tua juga bisa melakukan yoga tertawa ini, karena gerakannya sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.

Di Jerman, sudah ada banyak klub atau organisasi yoga tertawa. Mereka adalah praktisi yoga tertawa profesional. Tidak hanya melakukan yoga tertawa di rumah, tapi juga memberikan pelatihan ke orang lain, yang ingin jadi pelatih bersertifikat. Misalnya, orang yang tertarik menerapkan di perusahaan, yang ingin karyawannya bahagia; atau diundang ke acara privat seperti pesta ulang tahun. Praktisi yoga tertawa yang memandu kami di acara kampus juga berasal dari salah satu klub tersebut. Dia memang merupakan pelatih bersertifikat.

Ada juga klub yoga tertawa yang secara rutin latihan di taman umum. Semua orang boleh berpartisipasi dengan memberikan uang secara sukarela. Sampai saat ini sayangnya, saya tidak pernah melakukan yoga tertawa lagi. Saya bahkan lupa ada yoga tertawa ini, kalau tidak ada tema ‘tertawa baik untuk kesehatan mental’ yang dipersiapkan oleh Ruanita. 

Saya ingin sekali suatu saat nanti, saya dapat mengikuti acara yoga tertawa secara langsung. Saya berpikir, mengikuti yoga tertawa daring saja sudah lucu, apalagi dilakukan secara luring. Saya membayangkan, kita dapat tertawa massal bersama orang lain di alam terbuka. Apakah Sahabat Ruanita tertarik untuk coba yoga tertawa?

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Bahagia dan Ikhlas Lewat Aksi Donor Darah

Halo, sahabat Ruanita. Saya adalah Maria Magdalena Rudatin atau yang mungkin sebagian dari kalian kenal saya dengan nama panggilan Rudatin. Sehari-hari saya bekerja secara sukarela sebagai tenaga admin di Ruanita dan pekerjaan paruh waktu lainnya di Indonesia. Saya juga merawat dan melayani ibu saya yang sudah berusia 86 tahun. Saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat, apalagi tema yang diangkat adalah donor darah. Boleh dibilang saya adalah pendonor darah tetap dan saya senang melakukannya. 

Setiap ada program donor darah di paroki saya, maka saya akan ikut serta untuk mendonorkan sebagian darah saya. Ya, saya mulai melakukan donor darah sejak saya masih duduk di bangku SMA di Semarang, Jawa Tengah. Saya juga punya kartu donor darah yang diterbitkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Jumlah donor darah saya hingga saat ini di tahun 2024 sudah mencapai 40 kali banyaknya, berdasarkan kartu donor darah yang ada. Selama saya mendonorkan darah, saya bersyukur Tuhan memberikan darah baru untuk kesehatan saya dan saya bisa membantu sesama saya lainnya.

Saya aktif mendonorkan darah, karena darah manusia pemberian Tuhan, sehingga sangat baik buat saya memberikan darah untuk sesama. Saya yakin Tuhan pasti memberikan darah baru lagi apabila saya mendonorkannya. Aktivitas donor darah adalah aktivitas yang sangat mulia dan berperikemanusiaan kepada sesama manusia.

Follow us

Darah adalah salah satu faktor penentu kesehatan dalam hidup manusia. Itu sebab, kita perlu merawat dan menjaga kesehatan darah, sehingga kita bisa hidup sehat. Darah yang sehat menjadi aset bagi diri sendiri dan sesama yang membutuhkan. 

Ada banyak alasan, mengapa ada orang-orang seperti saya senang sekali mendonorkan darahnya. Pertama, bisa jadi orang tersebut sadar dan sukarela memberikan darahnya sehingga menjadi kebiasaan positif untuk keberlangsungan hidup orang lain. Kedua, ada banyak literatur yang menjelaskan bahwa mendonorkan darah dapat memberikan efek sehat bagi pendonornya sendiri. 

Bagaimanapun,  tubuh pendonor akan memproduksi darah baru lagi setelah 3 bulan donor darah. Oleh karena itu, ada anjuran pula bahwa kegiatan donor darah bisa dilakukan rutin setiap 3 bulan dalam setahun. Alasan terakhir, saya pikir mendonorkan darah adalah ucapan syukur pada Tuhan atas darah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Darah itu gratis yang Tuhan berikan pada kita, sehingga  sudah seyogyanya pendonor, merasa bahagia bila mereka berbagi hidup dengan sesama lainnya melalui donor darah. 

Bagi pendonor seperti saya, donor darah adalah salah satu bentuk solidaritas  kemanusiaan. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena darah adalah sumber utama dalam diri manusia yang sangat dibutuhkan untuk hidup. Darah seperti “bahan bakar” untuk menggerakkan mesin, bila kita umpamakan. 

Darah merupakan daya kekuatan dalam diri manusia untuk melakukan  berbagai aktivitasnya, sehingga manusia sangat diwajibkan untuk menjaga  kesehatan tubuhnya, supaya aliran darah dalam tubuh berjalan dengan  lancar, seperti menjaga pola makan dan minum, melakukan gaya hidup  sehat. Mendonorkan darah adalah bentuk wujud kepedulian manusia kepada sesama manusia, karena manusia disadarkan untuk mau berbagi atau memberi dari kepunyaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan darah dalam dirinya. 

Memang betul bahwa tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Saya termasuk beruntung bisa mendonorkan darah saya, sejak saya masih duduk di bangku SMA di Indonesia. Di Indonesia, persyaratan usia pendonor darah adalah 17 tahun atau yang memang diizinkan oleh dokter. Pengalaman pertama saya donor darah adalah saat saya masih berusia 16 tahun dan dokter mengizinkan saya melakukan donor darah, meski usia belum genap 17 tahun.

Saat itu, tenaga ahli melakukan pemeriksaan HB yang waktu itu dilakukan di jari dengan ditusuk jarum. HB adalah Hemoglobin, yakni zat dalam darah yang menyebabkan darah cair  atau darah kental. Tetesan darah yang ke luar diteteskan di gelas yang berisi zat penentu HB.  Bila tetesan darah langsung ke dasar gelas maka dinyatakan HB darah termasuk kategori baik. Sebaliknya, bila tetesan darah mengambang pada gelas, maka  dinyatakan HB berkategori rendah. Kegiatan mengukur HB dengan bantuan  cairan dalam gelas ukur berlangsung cukup lama. 

Seingat saya, baru sekitar tahun 2008 sudah ada alat untuk mengukur HB menggunakan secara otomatis. Caranya, yaitu setetes darah diletakkan di kaca kecil, lalu dimasukkan ke alat pengukur HB. Nilai ukuran HB yang diizinkan untuk pendonor darah baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka yang memiliki HB sebesar minimal HB 12,5 minimal. Ini pun sudah menunjukkan kategori darah yang baik, karena cair. 

Tata urutan untuk mengikuti donor darah di Indonesia antara lain:

1) Berbadan sehat dengan berat badan minimal 45 kilogram dan berusia minimal 17 tahun. 

2) Bersedia mendaftarkan diri sebagai pendonor dengan mengisi formulir merah jambu dari petugas aksi donor darah. Pendonor wajib menjawab pertanyaan yang disediakan oleh tim Palang Merah Indonesia dan bersedia menandatanganinya. 

3) Pemeriksaan HB (Hemoglobin) oleh petugas dengan menusuk salah satu  jari untuk diambil setetes darah dan diperiksa dalam mesin cek HB selama  3 detik lalu terbaca jumlah HB pendonor. 

4) Pemeriksaan HB sekaligus untuk pemeriksaan golongan darah pendonor (A, B, AB, O). 

5) Pemeriksaan tensi tubuh pendonor harus sesuai aturan Kesehatan adalah  100-160 (Sistole) dan 70-100 (Diastole) yang dilakukan oleh dokter umum. 

6) Dokter Umum menulis jumlah darah yang akan didonorkan sekitar 250 ml – 350 ml setiap pendonor sesuai hasil pemeriksaan Dokter Umum. 

7) Pendonor siap untuk melakukan donor darah dengan berbaring pada tempat tidur dan jarum donor dimasukkan ke lengan pendonor. Untuk aktivitas donor darah, biasanya pendonor memerlukan waktu 8 menit. 

8) Setelah donor darah selesai, pendonor diberikan makanan kecil dan minum  untuk menstabilkan daya tahan tubuh dan kemudian petugas akan menyerahkan Kartu Donor sesuai golongan darah pendonor. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja aktivitas donor darah bisa bermanfaat bagi pendonor sendiri. Kita bisa meningkatkan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh karena terjadi perputaran darah baru yang telah didonorkan. Biasanya saya mengalami tubuh saya merasa lebih segar, asalkan pola makan dan minum kita sesuai dengan pola hidup sehat. 

Tentunya, kita memiliki daya pikir yang lebih positif karena tingkat kesadaran untuk berbagi kepada sesama. Selesai mendonorkan darah, hati saya selalu senang dan bangga bisa melihat sesama  menjadi lebih sehat setelah mendapatkan bantuan donor darah. Ini seperti mengingatkan saya akan tanggung jawab moral dan cinta kasih kepada manusia sesuai keyakinan saya. Bagi saya, donor darah adalah cara saya menghargai arti bahwa “Hidup adalah hadiah Tuhan untuk berbagi”. 

Setelah berkali-kali melakukan aktivitas donor darah, saya pastinya punya pengalaman berkesan dalam hidup. Suatu waktu ada teman se-paroki dengan saya, meminta saya untuk menjadi pendonor darah untuk neneknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang nenek saat itu sedang dirawat di salah rumah sakit di  Jakarta. 

Saya bersyukur, petugas menerima saya untuk bisa melakukan aktivitas donor darah setelah dilakukan pemeriksaan  syarat-syarat dari dokter di Palang Merah Indonesia (PMI). Pemeriksaan ini dilakukan di PMI, yang berlokasi di Jalan  Kramat Raya Jakarta Pusat. Sebagai informasi, bila kita ingin melakukan aktivitas donor darah untuk membantu orang lain, maka kita perlu datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di setiap daerah. 

Singkat cerita, sang nenek tersebut menerima donor darah yang saya bagikan, kemudian nenek kembali sehat.  Hemoglobin si nenek naik. Beberapa hari kemudian, nenek tersebut dipanggil Tuhan. Saya terharu bahwa nenek boleh menerima donor darah dari saya, walaupun pada akhirnya dia harus berpulang. Itu adalah kehendak Tuhan. 

Pengalaman lainnya adalah bahwa saya tidak selalu berhasil mendonorkan darah loh. Saya kadang pernah ditolak, meski niat saya baik untuk mendonorkan darah saya. Biasanya itu terjadi karena masalah kadar HB saya yang tergolong rendah. Itu mungkin disebabkan karena saya kurang mengonsumsi sayuran hijau. Padahal  bila saya berhasil mendonorkan darah, saya merasa bahagia dan ikhlas. 

Berdasarkan data, pengetahuan masyarakat akan donor darah sudah baik hanya  saja kesadaran dan pengalaman mendonorkan darah yang masih belum baik, termasuk ada  berbagai persepsi/mitos yang salah. Oleh karena itu, saya senang Ruanita mengangkat tema donor darah ini dan saya berkesempatan untuk menceritakan pengalaman saya menjadi pendonor darah. 

Menurut saya, kita perlu memberi edukasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, sebagaimana slogan yang selalu saya ingat setiap aktivitas donor darah. Slogan itu adalah: “Setetes Darahmu, Menghidupkan Sesama.”

Ini mungkin terdengar klise, tetapi saya pikir ide berikut bisa menjadi saran saya sebagai pendonor kepada pemerintah Indonesia. 

a) Membuat materi ajar di bidang pendidikan, misalnya pelajaran agama dan atau pelajaran kewarganegaraan tentang tema mendonorkan darah. 

b) Memperbanyak edukasi dan kampanye bahwa aktivitas donor darah itu menyehatkan dan  menyelamatkan nyawa manusia. 

c) Membuat aksi kemanusiaan donor darah yang digelar di tingkat 

pemerintahan kota dan pemerintahan daerah, mulai tingkat Rukun Warga (RW) hingga Kecamatan.

d) Melakukan kegiatan sosial aksi donor darah di berbagai kesempatan, seperti Tujuhbelasan, Hari Internasional Kesehatan, dsb.  

Sahabat Ruanita yang hebat, kita perlu bersyukur untuk berkat sehat dan nafas  hidup yang kita terima dari Sang Pencipta. Rasa syukur tersebut bisa diwujudnyatakan, salah satunya adalah memberi kehidupan kepada sesama lain melalui aksi donor darah. Dengan mendonorkan darah yang kita miliki, kita sudah menyelamatkan sesama kita.  

Penulis: Rudatin, yang dapat dikontak via info@ruanita.com.

(IG LIVE) Mendiskusikan Self-Compassion dari Keilmuan Psikologi dan Praktik Sehari-hari

Dalam diskusi IG Live Ruanita Indonesia di bulan Juni mengangkat tema self-compassion bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kedua tamu diskusi IG Live adalah Fransisca Mira, yang adalah akademisi dan peneliti di bidang ilmu psikologi yang tinggal di Jerman dan Monique Aditya, yang adalah penulis buku dan penyintas KDRT yang kini menetap di Singapura.

Diskusi IG Live yang berlangsung sekitar empat puluh menit tersebut dipandu oleh Rida yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Self-compassion adalah cara kita untuk memperlakukan diri kita, dalam keadaan baik maupun buruk dalam hidup. Demikian Rida mengawali diskusi sebelum membahasnya lebih dalam.

Fransisca mengawali diskusi dengan ilustrasi sosial, yang mana kita sering kali mendapatkan kritikan atau pujian. Secara pribadi, kita tidak mudah menerima pujian dan kritikan sosial juga.

Menurut Fransisca, ini penting untuk memiliki self-compassion, yang secara etimologinya berarti melakukan apa yang kita suka, termasuk ketika kita sedang dalam situasi negatif atau tidak baik-baik saja.

Justru, kita bisa menerima kesulitan dan tetap peduli pada diri sendiri, dengan tidak memberikan kalimat negatif. Self-Compassion menurut Fransisca, secara teori terdiri atas tiga hal yakni: Self-kindness; Common Humanity atau Humannes; dan Mindfulness.

Follow us.

Tahun 2007, Monique mengakui berada di fase yang sulit ketika dia pernah merasa gagal dalam berumah tangga. Monique pun mengajak kedua anaknya untuk melihat keluarga secara utuh, meski tidak ada figur ayah saat itu.

Dengan begitu, Self-compassion membantu Monique untuk mengatasi keterpurukan situasi yang dialaminya. Monique pun mengakui self-compassion itu penting.

Bagaimana kita bisa menyayangi orang lain kalau kita tidak bisa menyayangi diri sendiri? Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang bertumbuh dan berbahagia.

Begitu pun Fransisca menceritakan pengalaman sulitnya menjadi peneliti di Jerman, di mana kerap ia merasa overthinking pada situasi pekerjaannya.

Bagaimana literatur psikologi tentang self-compassion? Apa saja contoh-contoh self-compassion dalam kehidupan sehari-hari? Apa manfaat self-compassion? Mengapa self-compassion itu begitu penting dalam meningkatkan kesehatan mental?

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita tersebut dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.”

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.