Dalam rangka memperingati Bulan Indonesia di Jerman selama sebulan penuh yang diselenggarakan oleh DIG Hamburg e.V., Ruanita Indonesia berkesempatan untuk berbagi dan berdiskusi dengan warga Indonesia di Hamburg. Acara berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 5-6 Juni 2026. Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia memanfaatkan untuk menayangkan film “Dua Kali” sebagai media diskusi dan refleksi tentang tema kesehatan mental dan layanan kesehatan jiwa di Jerman. Selain itu, ada juga kesempatan untuk berdiskusi Hybrid bersama para kontributor buku ketiga “Gema dari Ruang Hening” dari berbagai lokasi negara dengan para peserta Bulan Indonesia yang datang di Hamburg. Kredit foto: Dyah Narang-Huth (DIG Hamburg e.V.)
Di episode audio podcast PMI Stories ketiga, Dewi Lubis yang menjadi host mengundang Irmawati, perempuan Indonesia yang hampir lima tahun bekerja di Korea Selatan. Sejak 2017, Irma mulai bolak-balik, hingga akhirnya menetap pada 2019 dengan visa kerja E-7. Irma bekerja di sektor otomotif, di sebuah pabrik suku cadang mobil. Pekerjaan tersebut menuntut fisik yang kuat dan kedisiplinan waktu yang ketat.
Sebagai pekerja migran, Irma kerap merasa rindu sering datang pelan-pelan. Rindu pada keluarga, pada rumah, pada suara yang terasa dekat meski jarak memisahkan ribuan kilometer. Di tengah hari kerja yang padat, keinginan untuk menelepon keluarga kerap muncul, namun tidak selalu terjawab. Di seberang sana, setiap orang juga memiliki kesibukannya sendiri.
Di titik-titik seperti itulah perasaan sendiri kerap hadir. Ketika pekerjaan terasa berat, saat mendapat teguran dari atasan, ketika melakukan kesalahan, atau saat gaji dipotong. Keinginan untuk bercerita ada, tetapi tidak selalu aman. Salah bicara bisa berujung salah paham. Akhirnya, yang tersisa hanya tangisan singkat dan usaha untuk menenangkan diri sendiri. Tutur Irma kepada Dewi secara jujur saat bercerita tantangan di negeri Gingseng tersebut.
Tantangan lain yang dihadapi adalah penyesuaian musim. Empat musim di Korea terasa ekstrem bagi tubuh yang terbiasa dengan iklim tropis. Musim dingin dengan suhu di bawah nol dan musim panas yang sangat terik sempat membuatnya jatuh sakit selama sebulan. Selain cuaca, budaya kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Ritme kerja yang cepat, target yang tinggi, dan cara komunikasi atasan yang keras menuntut kesiapan mental yang besar.
Di tempat kerja, ia berbaur dengan pekerja dari berbagai negara. Sistem kerja rolling mengharuskan setiap pekerja memahami berbagai jenis tugas. Hambatan bahasa kerap memicu kesalahpahaman, terutama ketika tidak semua rekan kerja menggunakan bahasa yang sama. Dalam situasi seperti ini, ketahanan mental menjadi penopang utama. Tanpa itu, keinginan untuk menyerah bisa muncul kapan saja.
Sebagai perempuan, pengalaman migrasi menghadirkan lapisan tantangan tambahan. Hidup mandiri di negeri orang berarti menghadapi banyak hal sendiri, tanpa keluarga, tanpa lingkar dukungan yang akrab seperti di tanah air. Namun dari situ pula tumbuh kemandirian dan keberanian. Pelan-pelan, ketangguhan dibangun dari pengalaman sehari-hari.
Dukungan sosial tidak hadir secara instan. Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya menemukan relasi yang terasa aman. Rekan kerja dari berbagai latar belakang perlahan berubah menjadi keluarga baru di perantauan. Mereka saling menguatkan, meski harus melewati proses panjang untuk saling memahami bahasa dan cara berkomunikasi.
Salah satu hal yang membuatnya bertahan adalah rasa keadilan dalam sistem kerja. Upah yang diterima sebanding dengan jam dan tenaga yang dikeluarkan. Sesuatu yang sebelumnya sulit dirasakan ketika bekerja di Indonesia dulu. Meski bukan satu-satunya alasan, hal ini memberi rasa aman dan kepastian.
Tentang masa depan, harapannya sederhana: pulang, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hasil perjuangan. Semua kerja keras hari ini dipandang sebagai tabungan untuk masa tua—agar suatu hari bisa beristirahat dengan tenang dan hidup lebih mandiri secara finansial.
Pesan yang ingin disampaikan kepada perempuan lain jelas: berani bermimpi, berani melangkah, dan percaya bahwa rezeki bisa datang dari berbagai arah. Keberanian sering kali hadir bersama pengorbanan, tetapi juga membuka kemungkinan baru.
Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.
Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Isu lingkungan hidup kembali menjadi topik hangat dalam program Audio Podcast Diskusi RUMPITA (Rumpi Bersama Ruanita) yang tayang bulanan di kanal Spotify Rumpita. Dalam edisi spesial memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, diskusi kali ini menghadirkan perspektif lintas negara sekaligus suara anak muda Indonesia yang bergerak nyata di bidang keberlanjutan. Dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang berdomisili di Jerman, podcast ini dibuka dengan sapaan hangat khas RUMPITA. Anna tidak sendiri dan ditemani oleh Rieska, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Milan, Italia. Percakapan ringan pun berkembang menjadi diskusi mendalam tentang tantangan dan harapan lingkungan hidup, khususnya dari sudut pandang global.
Untuk memperkaya diskusi, Anna dan Rieska mengundang sosok yang dinilai sangat relevan dengan tema. Dia adalah Aurelia Aranti Vinton, yang pernah menyandang Putri Bumi Indonesia Anti Pencemaran Udara, sekaligus aktivis lingkungan dan pendiri komunitas Sebentala. Aurelia, yang akrab disapa Aurel, saat ini tengah menempuh studi S2 Sustainable Technology di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Aurelia juga telah menamatkan studi S1 Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
“Sejak kecil saya sudah cukup aware dengan isu perubahan iklim. Lingkungan hidup itu terasa seperti passion,” ungkap Aurel dalam diskusi.
Perjalanan akademik Aurel membawanya pada kesadaran bahwa isu lingkungan tidak bisa dilihat dari satu sektor saja. Menurutnya, target global seperti net zero emission membutuhkan pendekatan lintas disiplin, mulai dari kehutanan, energi, hingga pengelolaan sampah. Ia menyoroti peran gas metana dari sampah yang bahkan berdampak lebih besar terhadap pemanasan global dibandingkan karbon dioksida. Ketertarikannya pada Swedia pun tak lepas dari komitmen negara tersebut terhadap keberlanjutan, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi melalui insinerator.
Aurel juga berbagi bahwa ia dapat melanjutkan studi berkat dukungan beasiswa LPDP. Menurut Rieska, hal ini menunjukkan meningkatnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap isu keberlanjutan. Diskusi kemudian mengarah pada komunitas Sebentala yang didirikan Aurel sejak 2023. Nama Sebentala berasal dari bahasa Sanskerta: Se berarti satu, dan Bentala berarti bumi atau tanah. Filosofinya sederhana namun kuat, manusia hanya memiliki satu bumi untuk dijaga bersama.
Inspirasi Sebentala lahir dari pengalaman Aurel saat melakukan penelitian skripsi di Kalimantan Barat. Ia menyaksikan langsung bagaimana pengetahuan lokal yang kaya belum selalu terhubung dengan pemahaman tentang dampak teknologi modern, seperti plastik yang sulit terurai.
“Hal-hal yang kita anggap sederhana di kota, ternyata belum tentu diketahui di desa,” ujarnya.
Sebentala kini memiliki sekitar 40 pionir (relawan) yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, dengan mayoritas berada di Jabodetabek. Menariknya, sebagian besar pionir adalah perempuan.
Menurut Aurel, perempuan memegang peran penting dalam perubahan perilaku sehari-hari, mulai dari pengelolaan rumah tangga hingga kebiasaan memilah sampah. “Keputusan kecil di rumah bisa berdampak besar,” katanya.
Tantangan terbesar dalam mengelola komunitas berbasis relawan, lanjutnya, adalah menjaga konsistensi dan semangat. Namun, dengan manajemen waktu dan komunikasi yang baik, Sebentala terus berkembang. Bahkan, pada 2025 mendatang, Aurel dan tim Sebentala akan mengimplementasikan proyek Youth for Climate bersama UNDP di Kalimantan Barat, fokus pada pemberdayaan pemuda dan komunitas adat Dayak di Ketapang. Rieska kemudian berbagi pengalamannya di Milan, Italia. Ia menuturkan bagaimana pemilahan sampah yang dimulai dari rumah, yang sering kali dimotori para ibu, sehingga berujung pada sistem energi terintegrasi untuk transportasi publik.
“Dua juta penduduk Milan, sampah organiknya kembali ke kami sebagai energi. Transportasi publik jadi murah, bersih, dan bisa diandalkan,” jelas Rieska menambahkan pengalaman kesehariannya di Milan, Italia.
Aurel menambahkan pengamatannya dari berbagai negara, termasuk Jepang, Tiongkok, Jerman, dan Swedia. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda, namun benang merahnya adalah keseriusan kebijakan dan pemanfaatan teknologi. Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa peran individu tetap krusial. Mulai dari mengurangi konsumsi barang impor, menggunakan transportasi publik, membawa tumbler, hingga menanam pangan sendiri, yang merupakan adalah langkah kecil yang berdampak besar dalam menurunkan jejak karbon.
“Generasi kita adalah penentu,” tegas Aurel. “Kalau bukan kita yang bergerak sekarang, maka risiko bencana akan semakin besar di masa depan, terutama bagi Indonesia yang rawan bencana.”
Podcast audio Diskusi RUMPITA kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja kolektif lintas generasi, lintas negara, dan dimulai dari keseharian. Dari Eropa hingga Indonesia, harapan itu tetap ada, selama masih ada anak muda yang peduli dan mau menjadi pionir. Simak selengkapnya berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW agar dapat mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Fina Regina Weber, lahir dan besar di Jakarta. Saya pertama kali datang ke Jerman pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya resmi menetap di sini setelah menikah. Awalnya, saya bekerja di perusahaan engineering dan konstruksi di bidang Oil & Gas. Dunia kerja yang keras, maskulin, dan penuh tekanan bukanlah hal baru bagi saya. Namun, siapa sangka, perjalanan hidup membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda: menjadi ibu rumah tangga di Jerman.
Saat ini, fokus utama saya adalah keluarga, yakni mengurus dua anak perempuan dan mendampingi mereka tumbuh di lingkungan yang jauh dari tempat saya dibesarkan. Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan kegiatan sekolah anak-anak. Mungkin dari luar, kehidupan saya tampak tenang dan mapan, tapi di balik itu semua, ada dinamika batin dan tantangan yang tidak selalu terlihat.
Sejak awal menetap di Jerman, saya sudah sering mendengar berbagai stigma tentang perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu pandangan yang paling sering muncul adalah: “Perempuan Indonesia menikah dengan orang asing supaya bisa hidup enak di luar negeri.”
Jujur, mendengar hal seperti itu tidak mudah. Saya tahu stigma itu muncul karena memang ada sebagian kasus yang sesuai dengan narasi tersebut. Namun, yang menyedihkan adalah ketika orang mulai menggeneralisasi, seolah-olah semua perempuan Indonesia di luar negeri punya motif yang sama.
Saya pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap “punya kasta visa paling rendah”. Kadang saya merasa seolah identitas saya sebagai perempuan Indonesia di mata orang lain selalu dihubungkan dengan status pernikahan saya. Padahal setiap orang punya cerita dan perjuangan yang berbeda.
Dalam kasus saya, saya bertemu suami di lingkungan kerja profesional di Jakarta, bukan dari aplikasi kencan, bukan juga karena ingin “kabur” ke luar negeri. Kami bertemu secara alami, bekerja bersama, bertukar ide, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi stigma tidak pernah memilih korbannya. Sekali seseorang diberi label, sulit untuk menghapusnya, meski kenyataannya berbeda jauh.
Saya menyadari bahwa stigma terhadap perempuan Indonesia di luar negeri muncul baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun dari luar negeri.
Dari sesama WNI, kadang muncul komentar atau cibiran halus, “Wah, enak ya hidup di luar negeri, pasti serba mudah.” Ada pula yang menilai bahwa menikah dengan orang asing adalah cara cepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, yang mereka tidak tahu, hidup di luar negeri justru sering lebih berat, terutama karena kita jauh dari keluarga besar, harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri.
Sementara dari masyarakat Jerman, saya merasakan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu ikut menilai. Orang Jerman pada umumnya lebih santai, cenderung menilai seseorang dari perilakunya sehari-hari, bukan dari asal negara atau latar belakang pernikahannya. Jadi, beban stigma itu justru sering datang dari komunitas sendiri, bukan dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang.
Di era media sosial seperti sekarang, persepsi orang bisa terbentuk hanya dari potongan kecil kehidupan yang mereka lihat. Banyak orang mengenal saya hanya dari reels, story, atau postingan media sosial. Dari situ, mereka sering berasumsi. Saya sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya tahu apa yang tampak di layar ponsel hanyalah satu sisi kecil dari kehidupan seseorang.
Dulu saya sempat merasa perlu untuk menjelaskan dan meluruskan semua pandangan miring yang muncul. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melepaskan beban penjelasan itu. Sekarang, fokus saya lebih pada keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya apa adanya. Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri kepada mereka yang sudah memilih untuk menilai tanpa mengenal.
Di Jerman, kehidupan saya kini banyak berputar di sekitar sekolah anak-anak. Di sana, para ibu lebih banyak berbicara tentang kegiatan sekolah, makanan sehat, atau kegiatan akhir pekan. Mereka tidak bicara tentang status sosial atau dari mana kami berasal. Itu membuat saya merasa lebih diterima.
Suami saya juga sangat mendukung. Setiap kali kami bertemu koleganya, dia selalu memperkenalkan saya dengan bangga, mengatakan bahwa kami dulu bekerja di perusahaan yang sama di Jakarta. Hal kecil seperti itu ternyata membantu mengubah persepsi orang lain.
Saya juga sadar bahwa dunia sudah berubah. Dengan maraknya online dating dan Tinder, banyak orang kini mengira semua pernikahan campuran bermula dari sana. Padahal tidak selalu. Ada banyak cerita seperti saya, yang dimulai dari pertemuan profesional, tatap muka langsung, lalu jatuh cinta secara alami—face to face and fall in love, seperti kata saya kepada teman-teman yang bertanya.
Sebagai ibu dari dua anak perempuan berdarah Indonesia-Jerman, saya sangat bangga melihat bagaimana mereka mencintai dua budaya yang mereka miliki. Mereka menyukai rambut hitam dan kulit sawo matang mereka, dua hal yang kadang justru menjadi sumber rasa minder bagi anak-anak imigran lain.
Saya selalu menanamkan nilai bahwa memiliki dua budaya berarti memiliki dua rumah, dua cara pandang, dan dua kekuatan. Sejauh ini, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap asal-usulnya. Saya berharap mereka akan terus membawa identitas itu dengan kepala tegak, tanpa merasa perlu memilih salah satu.
Salah satu hal yang saya pelajari selama tinggal di luar negeri adalah pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Saya tidak menutup diri, tapi saya juga tidak ikut dalam kumpul-kumpul yang hanya menjadi ajang gosip atau perbandingan hidup.
Saya lebih memilih untuk aktif di kegiatan yang punya makna positif, seperti acara yang diadakan oleh konsulat, sekolah, atau komunitas budaya. Di situlah saya bisa menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya pandai menyesuaikan diri, tetapi juga bisa berkontribusi dan mengharumkan nama bangsa.
Saya sering ikut serta dalam acara seperti Indonesia Frankfurt Festival, Indonesia Street Festival, dan Learn and Batik Expo. Melalui kegiatan semacam itu, kami bisa memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri adalah duta kecil yang tangguh dan berprestasi.
Saya percaya perempuan Indonesia punya daya tahan luar biasa. Kami dikenal tangguh, ramah, dan cepat beradaptasi. Nilai-nilai itu adalah modal besar untuk mengubah stigma negatif menjadi kekuatan positif.
Saya sendiri mencoba melakukannya dalam hal-hal kecil: bersikap sopan, bekerja keras, membantu sesama, dan menjaga nama baik bangsa. Perlahan tapi pasti, orang-orang di sekitar mulai melihat bahwa perempuan Indonesia bukan hanya “istri orang asing”, tetapi juga individu yang berharga dan mampu memberi kontribusi nyata.
Hidup di luar negeri mengajarkan saya banyak hal. Salah satu pelajaran terbesar adalah belajar selektif dalam memilih teman. Dulu, saya selalu berpikir semua orang bisa menjadi teman, tapi sekarang saya tahu tidak semua layak disebut teman.
Saya pernah merasa kecewa oleh orang yang saya anggap dekat, tapi kemudian saya sadar, tidak semua orang akan senang melihat kita bahagia. Dari situ saya belajar makna kalimat sederhana yang kini menjadi pegangan saya: “Friends are what you are.” Teman sejati adalah mereka yang tulus, bukan yang datang hanya ketika butuh sesuatu atau ingin tahu kabar terbaru.
Kepada perempuan Indonesia lain yang mungkin menghadapi stigma atau kesalahpahaman di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada hal-hal yang membuatmu berkembang. Jalani hidup dengan niat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap semangat.
Yang penting bukan apa yang orang katakan tentang kita, tapi apa yang kita lakukan setiap hari. Dunia mungkin tidak selalu adil, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponsnya. Jangan biarkan penilaian orang lain merampas kebahagiaan kita.
Saya punya harapan besar, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Saya ingin melihat hari di mana perempuan Indonesia di mancanegara tidak lagi dipandang dengan curiga atau sinis. Saya ingin orang-orang percaya bahwa setiap pernikahan campuran, setiap perjalanan ke luar negeri, memiliki cerita dan alasan yang berbeda.
Persepsi negatif tidak akan hilang dalam semalam, tapi saya yakin, melalui sikap positif, kerja keras, dan kontribusi nyata, kita bisa mengubah cara dunia memandang kita. Semua tergantung pada bagaimana kita memposisikan diri.
Kalau kita menunjukkan nilai, dedikasi, dan kontribusi yang baik, masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri akan menilai kita dengan lebih positif. Pada akhirnya, yang membedakan bukan paspor yang kita pegang, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dan membawa nama Indonesia dalam setiap langkah.
Lebih dari satu dekade saya tinggal di Jerman. Dalam kurun waktu itu, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hanya tentang beradaptasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda.
Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai “istri warga Jerman”, tetapi sebagai Fina, perempuan Indonesia yang berani, tangguh, dan tetap bangga pada akarnya. Saya percaya, selama kita terus melakukan hal yang benar dan membawa niat baik, stigma akan perlahan memudar, berganti dengan penghormatan.
Karena di manapun saya tinggal, satu hal tidak akan pernah berubah: hati saya tetap Indonesia.
Penulis: Fina Regina Weber, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram misssaucyfoxy.