(CERITA SAHABAT) Meninggalkan Pekerjaan Demi Mengejar Passion

Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius. 

Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun.  Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang. 

Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.

Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya  kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary  yang kami kirimkan. 

Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia.  Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.

Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang. 

Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.  

Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya. 

Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.

Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay. 

Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya.  Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe. 

Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha. 

Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya. 

Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah  karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.

Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan. 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora. 

Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Membangun Sikap Toleransi dalam Perkawinan Campuran?

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa  dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya  Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah  seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di  Jerman.

Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai  freelancer social media management.  Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati  alam bersama suami.  Saya juga suka berkreasi membuat konten  video untuk kanal YouTube saya.  

Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat,  untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan  campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online,  sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak  memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan  kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.

Saya telah  berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di  waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa  tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang  sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di  luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.  

Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online.  Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa  online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa  dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang  membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe,  yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.  

Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum  pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja,  tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami  memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami  tinggal berbeda kota.

Selama enam tahun berpacaran, saya sudah  pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu  dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal  budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami  semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya  masing-masing.  

Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah  karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan  terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu  agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang  sangat religius.

Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah  dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di  Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara  pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam  tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai  perbedaan tersebut.  

Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan  Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan  terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan  keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup  saya sendiri. Saya  juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga  mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.  

Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang  yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan  mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara  kami, sebagai hal yang bermakna.

Bagaimanapun, karakter dan sifat  masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal  itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga  melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan 

perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau  perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu  hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru  sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih 

berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang  cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini,  disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami  itu berbeda.  

Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak  berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi  diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga  perbedaan sifat dan karakter di antara kami.

Oleh karena itu, kami  berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan.  Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama  lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa  tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara  personal, bukan komunal.

Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga  atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak  untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur  dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu. 

Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya  selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa  mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi  budaya kolektif.  

Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur.  Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan  nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum  menikah. Saya memegang  prinsip kemurnian sebelum menikah.

Prinsip ini menjadi hal yang  menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman).  Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran  adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang  normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu  adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya. 

Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia  mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi  mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak  ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri.  Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih  masing-masing.  

Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman,  agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang  membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari  keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.

Tapi karena  sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari  kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku  beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi  terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.

Suami  juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama.  Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan  dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya  dengan tulus. 

Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak  kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya  yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang  berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada  budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku  untuk kami sebagai orang tua nanti.

Kami akan berusaha  memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak  dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda.  Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau,  mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk  membentuk cara pandang baru mereka sendiri.  

Menurut saya, kunci perkawinan campur adalah komunikasi,  toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan  kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya  sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia 

memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau  belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa  menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita  dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu  bisa dikompromi.

Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus,  pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan  perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah!  Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami  dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.  

Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk  sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda  yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam  perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.

Jika tidak ada  toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu  sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada  toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi  menemukan jalan keluar dari masalah.  

Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba  berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan.  Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu  alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.

Solusi berpisah  menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak  lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai  merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk  mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak,  bukan satu pihak. It takes two Tango! 

Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya  pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang  pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan  kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup. 

Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa  depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal  mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu  semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂 

Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.

(CERITA SAHABAT) Tua itu Hanya Angka, Semangat dan Hati Tetap Muda

Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa diberikan kesempatan untuk berbagi cerita sahabat, ketika Tim Ruanita menawari saya tema ageing, karena saya sendiri pun sudah memasuki usia di atas enam puluh tahun.

Perkenalkan nama saya Maya, lebih lengkapnya nama saya adalah Endang Sri Maya Rochayati. Sewaktu di Indonesia, saya memiliki latar belakang pekerjaan sebagai awak kabin penerbangan nasional. 

Saya pun kemudian menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis dan tidak lagi bekerja di Indonesia. Sejak tahun 2001, saya tinggal di Prancis. Tentunya, tinggal di luar Indonesia membuat saya banyak melakukan segala pekerjaan, tanpa asisten rumah tangga.

Selain pekerjaan domestik di rumah, saya juga tentu harus membantu aktivitas suami di rumah mulai dari bertukang, berkebun hingga membantu menyimpan kayu bakar. Karena latar belakang pengalaman kerja di Indonesia yang tak mudah untuk diterapkan di Prancis dan kemampuan bahasa Prancis yang tak mudah buat saya, saya putuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja.

Pada akhirnya, saya pun seratus persen memilih untuk menyibukkan diri menjadi pengelola rumah lama yang sudah kosong. Ya, saya mencoba menjadi Host AirBnB sejak tahun 2017, di mana saat itu pun usia saya sudah mencapai enam puluh tahun.

Sebagai informasi, saya juga inisiator dan administrator grup Facebook Komunitas Kawin Campur pasangan Indonesia – Prancis. Hobi saya berselancar di dunia maya dan bersosialisasi di internet, sehingga saya senang menghimpun teman-teman saya dan membuat grup di Facebook dan Instagram, mulai dari grup teman sekolah, eks kolega kerja, hingga kelompok masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah saya di Prancis, yakni Nouvelle Aquitaine.

Setiap orang punya pendapat tersendiri terkait usia tua dan penuaan. Ketika orang mendengar “usia tua”, itu semua dikaitkan dengan perubahan fisik yang tidak lagi muda seperti dulu, misalnya rambut yang semula hitam kini tumbuh uban dan mungkin berbagai fungsi kemampuan tubuh mengalami penurunan.

Bagi saya,  tua hanyalah hitungan angka. Meski tidak dipungkiri bahwa penuaan mulai saya rasakan, apalagi ketika saya sudah memasuki usia enam puluh plus plus hehehe..

Saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami penurunan fungsi pendengaran dan daya ingat. Rambut saya pun sudah mulai berganti warna putih, alias uban yang hampir merata.

Oh ya, dua tahun yang lalu, saya sempat menjalani operasi katarak. Saya pikir itu mungkin salah satu tanda penuaan. Selain itu, saya juga merasa mudah lelah. Tubuh tidak seperti dulu lagi. 

Mungkin masih ada anggapan dalam masyarakat di Asia tentang orang yang sudah tua dengan lebih memilih untuk mengurus keluarga, seperti cucu misalnya, daripada beraktivitas di luar rumah. Menurut saya, itu sah saja. Saya mengamati hal tersebut dari kakak sulung saya.

Namun, saya belajar dari dia bahwa cucu bukan satu-satunya alasan untuk kakak sulung saya yang sudah menjadi orang yang tua untuk tidak bersosialisasi di luar rumah. Pendapat kakak sulung saya: “Si cucu ‘kan masih punya orang tua”. Sementara saya sendiri memang tidak akan pernah merasakan punya cucu.

Dengan usia yang tidak lagi muda seperti sekarang, saya justru termotivasi dengan perempuan-perempuan di Prancis yang sudah memasuki usia senja.

Bahkan saya melihat mereka, ada yang berusia delapan puluh tahun dan masih fit dan sehat. Mereka tetap cantik, bugar, dan masih mengemudikan mobil.

Memasuki usia senja seperti sekarang, saya dan suami pernah membahas usia tua baru-baru ini. Di Prancis sendiri, ada banyak tantangan yang sedang dihadapi para generasi lanjut usia. Kami pun mendiskusikannya terkait biaya hidup, kekeluargaan, hingga terpikir niat untuk menghabiskan masa tua di Indonesia.

Pada akhirnya, kami berdua sepakat nantinya kami berencana menghabiskan masa tua di Indonesia. Kami merencanakannya sejak usia kami memasuki tujuh puluh lima tahun ke atas, bila kami masih hidup. 

Urusan usia adalah misteri, tetapi sebenarnya ada banyak faktor yang membuat orang yang memasuki usia senja seperti saya untuk tetap fit dan sehat. Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa kita perlu tetap menjaga aktivitas tubuh dan pikiran sejak kita masih muda.

Meski saya merasa lelah dengan pekerjaan di rumah, tetapi saya tetap mengusahakan olahraga ringan, seperti senam atau berjalan kaki secara teratur. Tinggal di luar Indonesia, bukan berarti kita bisa bersikap manja dan berpikir ada yang membantu dalam urusan pekerjaan domestik.  

Sebagai orang yang sudah tua, saya punya pengalaman yang menyentuh. Ketika saya di Indonesia, orang-orang selalu memberikan saya tempat duduk saat sedang berada di kendaraan umum. Sebaliknya, hal ini tidak terjadi di Prancis. Sepertinya, masyarakat tidak percaya dan meragukan usia saya, jika mereka melihat penampilan saya.

Bahkan saya perlu menunjukkan paspor saya untuk membuktikan berapa usia saya saat itu. Sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga berada di tengah masyarakat Prancis karena saya selalu dianggap masih muda. 

Ada orang yang menghubungkan masalah makan dengan penambahan usia. Soal makanan, kebetulan saya tidak pernah memiliki masalah hingga sekarang. Hal lainnya yang menarik, saya pernah menjadi tenaga relawan lima tahun terakhir.

Waktu itu saya membantu tim dapur pada acara festival senior di desa tetangga. Jarak lokasinya kurang lebih enam kilometer dari tempat saya. Hal lainnya tentang kehidupan di Prancis adalah masalah toleransi yang saya rasakan ketika saya menjalani bulan puasa Ramadhan.

Berbicara soal usia yang tidak lagi muda, banyak orang di masyarakat yang kadang tidak ingin menjadi tua dan selalu ingin “Forever Young”, seperti melakukan operasi plastik atau menyangkal usianya yang tidak lagi muda.

Menurut saya, itu sah dan wajar saja, bilamana ada orang yang ingin merasa dianggap muda, hingga mengecat rambut mereka, melakukan operasi plastik, dan sebagainya. Meskipun pendapat saya mengatakan bahwa hal itu menipu diri sendiri dan banyak orang.

Sebaliknya, saya pribadi lebih memilih menjadi tua secara alami. Saya bersyukur bahwa saya telah memasuki usia yang tidak lagi muda. Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya bahwa usia hanyalah hitungan angka, tetapi semangat dan hati harus tetap muda.

Terakhir, ini pesan saya kepada sahabat Ruanita semua terkait usia tua dan penuaan. Kita harus menerima dengan ikhlas ketika kita tidak lagi muda.

Jangan pula kita berusaha menjadi “orang yang tua”, hanya karena kita mengharapkan belas kasihan orang yang muda. Selain itu, saya juga berharap kepada pemerintah Republik Indonesia agar bisa memberi peluang dan kesempatan seluas-luasnya kepada para senior untuk tetap berkarya dan berkreasi, bukan malahan disisihkan sebagai makhluk yang tidak lagi berguna. 

Penulis: Sri Maya, tinggal di Prancis dan dapat dihubungi via akun Facebook Sri Maya G Ranoesoedirdjo.

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Pengalaman Konselor Sebaya hingga Inisiatif Program Konselor Sebaya di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.

Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.

Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.

Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.

Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.

Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.

Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN. 

Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.

Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.

Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya. 

Bagaimana pun,  kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.

Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.

Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.

Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut. 

Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.

Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.

Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi. 

Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.

Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.

Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.

Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang. 

Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.

Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Hanya Aku, Dia, dan Anak-anak

What others think of you is none your business. Dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa apa yang dipikirkan orang lain bukan menjadi urusan saya. Begitu yang saya terapkan dalam hidup saya agar hidup saya tidak disibukkan berbagai prasangka-prasangka yang belum tentu benar.

Saya memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Bahkan saat ini saya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengan warga negara asing yang sudah dijalani selama tiga tahun. Pernikahan kedua ini adalah off the record alias tidak diketahui oleh keluarga besar saya di Indonesia. 

Orang Indonesia memiliki budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Itu betul dan saya setuju dengan pendapat itu. Begitu kental dan akrabnya keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa mereka memiliki standar terbaik yang sudah ditetapkan bersama. Anehnya, kami semua harus mengikuti standar yang ditetapkan tersebut demi terjalinnya rasa kekeluargaan. Bagi saya, hidup itu tidak semestinya dibuat standar yang belum tentu itu baik bagi semua orang. 

Sayangnya keakraban itu sering dicurahkan dalam bentuk intervensi. Tidak hanya kepada saya, tetapi juga keluarga lain yang dianggap lebih muda. Hal ini sudah membuat saya jengah dan memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan keluarga besar saya. Keputusan ini diambil setelah saya mengakhiri pernikahan pertama saya dengan pria asal Indonesia. 

Siapa pun yang menikah selalu berharap yang terbaik hingga maut memisahkan, tetapi siapa bisa menebak jalannya takdir kehidupan. Sebagai survivor kekerasan dalam rumah tangga dengan level cukup membuat bulu kuduk bergidik, dan sebagian besar dilakukan di depan anak-anak kami, membuat saya memutuskan bahwa enough is enough, tidak akan ada lagi kekerasan terjadi. Setelah memutuskan bercerai, fokus saya adalah bekerja dan berusaha memperbaiki akibat yang telah ditimbulkan karena trauma atas kekerasan ayah mereka terhadap saya. 

Dengan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat, saya berhasil menggugat cerai suami pertama. Saya berhasil mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Saya tidak meneruskan kasus perlakuan kekerasan mantan suami ke ranah hukum karena mantan suami mengalami gangguan psikologis. Alasan gangguan psikologis ini seperti menjadi alibinya melakukan kekerasan kepada saya. Setelah saya bercerai dari suami pertama, saya putuskan untuk mencari kebahagiaan untuk saya dan anak-anak. 

Saya merasa bahwa pengalaman pahit berkeluarga di pernikahan pertama tentu mengajari saya banyak hal termasuk cara saya berkomunikasi dengan keluarga besar saya. Saya berkomunikasi dengan mereka hanya sebatas peristiwa-peristiwa penting saja. Saya pun tidak ikut campur dalam konflik yang muncul dalam keluarga besar saya. Saya tidak merasa berutang budi atau uang kepada mereka. Saya putuskan untuk mencari kebahagiaan dengan cara sendiri. 

Menjadi single mother bukan hal yang mudah pun sulit. Saya bersyukur disibukkan dengan pekerjaan yang membuat saya tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga besar. Di tengah kesibukan bekerja, saya bertemu dengan pria berkewarganegaraan Amerika, yang kini menjadi suami kedua.

Awalnya saya ragu untuk membangun bahtera rumah tangga dengannya mengingat pernikahan sebelumnya terus terang membuat saya mempunyai masalah dengan kepercayaan terhadap orang lain, terutama untuk menjalin hubungan baru. 

Namun pria ini begitu berbeda. Dia adalah pria yang jujur, setia, terbuka, dan apa adanya. Saya suka dengan gaya simple life yang dia jalani. Hal terpenting yang membuat saya jatuh hati adalah kesediaan dia untuk menerima anak-anak saya menjadi bagian dari hidupnya. 

Saya harus menyembuhkan diri saya akan trust issue, apalagi selama belasan tahun sendiri, saya sudah menemukan kebebasan, tidak perlu memikirkan hubungan yang melibatkan emosi. Mengapa saya harus menambah masalah dalam hidup saya? Akan tetapi, waktu membuktikannya bahwa kami bisa bersama. 

Kami memang berbeda secara budaya dan latar belakang, tetapi banyak hal yang membuat kami sejalan dalam pola pikir dan interest yang membangun minat kami. Kesamaan ini yang mendorong saya untuk menerima pinangan darinya. 

Kesetiaannya benar-benar ditunjukkan ketika saya perlu waktu untuk menyelesaikan masa lalu saya dan keluarga besar saya. Tekadnya untuk menunggu dan rasa kepeduliannya untuk memahami pekerjaan saya telah meluluhkan hati untuk membangun rumah tangga untuk kali kedua. 

Masa lalu sudah berlalu. Kini saya punya masa sekarang dan masa depan. Kami putuskan untuk tinggal bersama anak-anak di negeri tetangga. Saya jalani hidup tanpa intervensi dari keluarga besar. Saya pun menutup rapat-rapat cerita pernikahan kedua saya karena saya tidak ingin kisah pernikahan saya selanjutnya memunculkan potensi konflik. 

Saya sudah bahagia dengan suami dan anak-anak kini, mengapa saya perlu menunjukkan kebahagiaan ini pada keluarga besar dan dunia? Itu pendapat saya.

Beruntunglah, suami memahami keputusan saya untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengannya. Dia menghargai apa yang saya putuskan. Bagi saya, komunikasi adalah hal terpenting dalam suami-istri terutama perkawinan campuran lintas budaya seperti ini. Sekecil apa pun masa lalu yang pernah terjadi, keduanya perlu bercerita jujur agar tidak menimbulkan prasangka dan konflik. 

Mungkin orang-orang sekitar saya bertanya, mengapa saya masih tetap merahasiakan pernikahan kedua saya. Jawaban saya, ini adalah keputusan berdua. Saya hanya tidak ingin menimbulkan prasangka tentang apa yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang saya sampaikan di awal, biarlah kebahagiaan itu hanya milik saya, dia, dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup harmonis dan tanpa konflik yang bisa memperkeruh hubungan suami-istri. 

Keluarga besar memang penting yang membentuk solidaritas satu sama lain. Namun, kita perlu membatasi seberapa jauh bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal ini perlu agar bisa hidup seperti yang kita mau. Bagaimana pun saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya sudah lelah mengikuti standar terbaik yang ditetapkan. Prinsip saya, menjadi diri sendiri sudah cukup membuat saya bahagia. 

Bahagia itu bukan yang kemarin atau mengikuti standar yang ditetapkan. Bahagia itu adalah sekarang, saat saya bisa merasa bebas menjadi diri sendiri, tanpa konflik keluarga atau standar yang ditetapkan keluarga. 

Penulis: Lorelai, tinggal di Singapura dan cerita ini bisa ditemukan dalam buku yang sudah diterbitkan oleh Ruanita dan Padmedia Publisher berjudul: Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua.

(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(CERITA SAHABAT) Ayo, Dukung Orang Muda Aktif dalam Pembangunan!

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama pena saya adalah Devita. Saya tinggal di Jerman sejak dua tahun lalu. Saat ini, saya adalah pekerja di kota Stuttgart, Jerman. Saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang peran orang muda dalam pembangunan.

Sebagaimana kalian tahu bahwa PBB menetapkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Wah, itu suatu kebanggaan tersendiri buat kita yang masih muda untuk diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan bangsa dan dunia.

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin bagikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait tema ini. Menurut saya, orang muda sangat berperan besar dalam pembangunan karena generasi muda akan menjadi pembuat kebijakan, kemudian memimpin bangsa dan menentukan kemajuan sebuah bangsa di masa depan.  

Meskipun dalam realitanya di masyarakat, masih ada saja anggapan miring dan ketidakpercayaan kepada orang muda dalam bertugas. Bahkan mitos yang beredar di masyarakat seperti belum banyak makan asam garam, semakin memperlemah peran orang muda dan masih disangsikan keterlibatannya. Menurut saya, ini terjadi disebabkan oleh faktor kultur yang sudah tertanam kuat di masyarakat.

Ada anggapan bahwa usia mempengaruhi kualitas diri seseorang, sehingga orang muda dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak orang yang lebih tua. Anggapan sempit seperti ini justru membuat terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada generasi muda. 

Hal lainnya yang saya soroti seperti generation gap. Dalam bekerja bersama dengan orang muda, terkadang timbul kesenjangan pikiran, pengalaman, keahlian, yang menghambat suatu tim kerja hanya karena generation gap yang tidak diatasi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu menjembatani peran orang muda agar tidak terjadi kesenjangan sehingga menimbulkan masalah sosial dalam pembangunan. Masyarakat perlu memberikan kepercayaan seluas-luasnya untuk orang muda. Pepatah orang Jerman menyebut, “Kontrolle ist gut, Vertrauen ist besser.” Artinya, masyarakat bisa mengontrol para orang muda yang dipercayai tersebut. 

Di era seperti ini, dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mendapatkan informasi mudah tentang sosok orang muda yang berhasil di dunia dan menjadi role model. Mereka yang dijadikan panutan ini memang pantas karena menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya untuk berkontribusi positif dan aktif dalam pembangunan.

Kita perlu menyebarluaskan best practices seperti ini melalui platform media sosial, sehingga ini memberikan pengaruh positif pada orang muda. Cara kedua adalah membuat program mentoring dan pendampingan yang memungkinkan generasi muda terhubung dengan tokoh sukses tersebut.

Ketiga, masyarakat bisa melibatkan institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan orang muda dengan melibatkan tokoh muda berprestasi tersebut. Meskipun, ada juga orang muda yang tidak berhasil dan dipandang sebagai “sampah sosial” tetapi saya pikir banyak juga orang muda berprestasi yang siap mendukung orang muda lainnya.

follow kami

Orang muda yang masih dipandang sebelah mata dan kurang berpengalaman dapat dikalahkan dengan melakukan transfer knowledge antar orang muda sendiri, misalnya dengan mengadakan program mentoring, di mana para senior dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Sementara, generasi muda  juga dapat membawa ide segar dan perspektif baru. Selain itu, kita dapat juga mengadakan pelatihan bersama yang melibatkan, baik generasi muda maupun senior dalam transfer knowledge, di mana keduanya dapat saling belajar dan melengkapi.

Selanjutnya, hal terpenting yang bisa dilakukan adalah mengakui dan mengapresiasi kontribusi dan prestasi dari semua individu tanpa memandang usia. 

Salah satu pengalaman menarik yang saya lakukan adalah berkontribusi aktif dengan menjadi sukarelawan membangun desa. Kegiatan tersebut dilakukan saat saya sedang berkuliah di Malang, Indonesia . Bersama dengan organisasi dari universitas, pada saat itu, kami  melakukan program volunteer untuk membangun melalui program city branding.

Hal yang kami lakukan saat itu adalah mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, membaca untuk anak-anak. Kami juga ikut aktif dalam membersihkan lingkungan desa dan menganalisis model city branding yang tepat bagi desa tersebut. Kontribusi yang kami lakukan lainnya, yakni membuat web desa, sehingga potensi yang dimiliki oleh-oleh dari kampung tersebut dapat tersebar luas. 

Melalui website tersebut, kita dapat menyebarkan informasi terkait usaha yang dimiliki oleh warga desa seperti umkm ataupun potensi wisata alam yang dapat menjadi  tujuan wisata bagi turis untuk berkunjung ke kampung tersebut. Ini diharapkan menjadi pembangunan khususnya pembangunan desa dapat terus bergerak maju.

Menurut saya, indikatornya dapat diukur melalui beberapa hal, seperti: tingkat partisipasi pemuda dalam politik dan sosial, tingkat pendidikan dan keterampilan pemuda, kemudahan akses bagi generasi muda terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi, serta tingkat keterlibatan pemuda dalam pembangunan.

Pemerintah dapat mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung pendidikan dan pelatihan keterampilan, memfasilitasi akses pemuda, dan menggalakkan partisipasi pemuda terhadap kesempatan ekonomi, politik, sosial.

Selain itu, kita bisa memberikan ruang bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan. Program-program pemerintah perlu juga mendorong keterlibatan pemuda dalam inisiatif pembangunan lokal dan global, sehingga ini bisa menjadi sarana efektif.

Di International Youth Day, teruntuk sahabat muda Ruanita, saya berpesan untuk terus bersemangat dalam karya dan berani untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan!

Mari menjadi agen perubahan dalam membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Teruslah berjuang untuk impian-impian kita, dan jangan pernah ragu untuk berkontribusi pada masyarakat!. Kita punya kekuatan untuk mengubah dunia! 

Happy International Youth Day!

Penulis: Rufi, yang kini sedang menempuh studi S2 di Jerman dan dapat dikontak di akun Instagram zsyasdawita. Tulisan ini adalah hasil wawancara seorang teman, dengan nama pena Devita. Devita adalah seorang pekerja yang tinggal di Stuttgart, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman Jadi Pekerja Migran di Slowakia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Rinatu Siswi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Tutus. Sekarang saya menetap di Slowakia sejak tahun 2022 dan sehari-hari saya bekerja sebagai pramusaji di bar dan restoran sebuah hotel di Slowakia. Banyak orang Indonesia yang bertanya, bagaimana saya bisa memiliki kesempatan menjadi pekerja migran di Slowakia. Mungkin saja, sahabat Ruanita tidak banyak mengenal negara yang saya tempati ini. 

Ini semua berawal dari keinginan saya untuk tinggal bersama dengan suami. Suami sendiri telah bekerja selama sebelas tahun menjadi pekerja migran. Setelah kami menikah pada tahun 2018, prinsipnya, saya tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di Slowakia. 

Untuk tinggal bersama suami di Slowakia, saya putuskan untuk mengajukan visa kumpul keluarga. Pada akhirnya, saya pun bisa menetap di Slowakia. Seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa kurang nyaman hanya berdiam di rumah. Bagaimana pun saya di Indonesia memiliki riwayat selalu bekerja, meskipun saya melakukan kuliah sambil bekerja. 

Kebetulan saat itu, di musim panas, ada lowongan pekerjaan di tempat suami saya bekerja. Saya pun memutuskan untuk bekerja kembali, walaupun subjek pekerjaan yang saya pelajari sebelumnya, itu sangat berbeda dengan kebutuhan tempat kerja saya yang sekarang.

Follow us ruanita.indonesia

Selanjutnya, pihak manajemen di tempat saya bekerja pun mengupayakan perubahan visa. Semula visa saya adalah visa kumpul keluarga, kini visa saya menjadi visa kerja. Boleh dibilang, saya sudah satu setengah tahun bekerja sebagai pekerja migran di Slowakia. 

Kalau ditanya, mengapa saya memilih negara Slowakia untuk bekerja. Alasan utamanya adalah agar saya dapat tinggal bersama dengan suami. Tentunya, sahabat Ruanita pun penasaran dengan prosedur untuk warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bekerja di Slowakia. Menurut pengetahuan saya, bekerja di Slowakia dapat ditempuh dengan dua jalur.

Jalur pertama adalah menggunakan agen penyalur kerja dan jalur kedua adalah melakukannya secara mandiri. Apa yang saya alami adalah mendapatkan pekerja di Slowakia lewat jalur mandiri. Ternyata, meskipun jenis visa yang diajukan pertama kali adalah jenis visa keluarga, tetapi prosedurnya pun tidak jauh berbeda dengan visa kerja. 

Apabila kalian sudah dinyatakan mendapatkan pekerjaan yang dilamar di suatu negara, pertama kali, menurut saya adalah memastikan terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut. Mengapa? Hal ini dilakukan untuk menghindari penipuan kerja yang sedang marak belakangan ini. Meskipun sulit, tetapi kita harus mengecek dulu agar tidak menjadi korban penipuan. 

Setelah itu, kita wajib memiliki sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan posisi yang akan kita lamar. Kita perlu mendaftarkan ke notaris kopi sertifikat kompetensi sebagai proses legalisasi. Usahakan kalian mengecek daftar notaris yang dipersyaratkan di tiap kedutaan yang menjadi lokasi negara tinggal. Proses

legalisasi ini diperlukan agar kita layak dan kompetensi kita diakui secara internasional (apostille). Setelah proses legalisasi di notaris selesai, kalian bisa mengirimkan dokumen tersebut ke negara terkait untuk diterjemahkan ke dalam bahasa resmi negara tujuan. 

Apabila dokumen selesai diterjemahkan, dokumen tersebut akan dikirim lagi ke Indonesia yang disertai surat-surat yang berkaitan dengan perusahaan, misalnya kontrak kerja, surat kuasa, pihak sponsor dari perusahaan, dsb.

Selanjutnya, kita akan mendapatkan undangan wawancara dengan pihak konsulat (di kedutaan negara tujuan yang berada di Indonesia). Saat wawancara, kita perlu membawa serta pelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Selesai wawancara, akan ada proses perekaman sidik jari. Visa kerja akan terbit setelah proses di atas selesai dilakukan. 

Menurut saya, tantangan terbesar saya bekerja sebagai pekerja migran adalah bahasa. Lingkup saya bekerja dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu rekan-rekan kerja yang menggunakan Bahasa Hungaria sebagai bahasa sehari-hari, dan jenis kedua adalah customer yang menggunakan Bahasa Slowakia.

Baik Bahasa Hungaria maupun Bahasa Slowakia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda. Saya harus saya mempelajarinya dalam waktu yang sama. Ditambah lagi, pronounce kedua bahasa tersebut yang terkadang tidak sama dengan bahasa baku. Pada situasi tersebut, saya berusaha menjelaskan sesuatu dengan Bahasa Inggris.

Meskipun hampir tujuh puluh persen, customer yang datang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi saya masih terbantu dengan komunikasi bahasa tubuh. Untuk hal-hal yang masih belum dapat dipahami, saya biasanya memakai bahasa tubuh seperti mengangguk, menggerakkan tangan, dsb. Kalau customer tidak memahami komunikasi saya, saya biasanya meminta bantuan rekan kerja saya. 

Hal yang paling dirasa berbeda dari budaya Indonesia adalah budaya ketegasan. Mungkin di Indonesia sangat melekat dengan “rasa kurang enak” sehingga teguran disampaikan secara lebih lembut , yang pada akhirnya menjadikan seseorang kurang jera.

Di tengah kesulitan dalam pekerjaan, saya berusaha membentengi diri dengan banyak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan (meskipun lewat YouTube). Saya selalu berbagi segala sesuatu, uneg-uneg di tempat kerja, yang saya rasakan kepada suami. Memang masalahnya tidak cepat selesai, tetapi ini berefek memberi kelegaan. 

Awalnya keluarga saya merasa berat hati karena sejak lulus SMA saya sudah meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi dan bekerja di luar kota.

Namun, keputusan untuk tinggal bersama dengan suami adalah hal yang paling tepat, ketimbang hidup terpisah setelah menikah. Seiring berjalannya waktu, keluarga malah merasa terharu dan bangga, karena saya adalah satu-satunya anak yang bisa bekerja di luar negeri. 

Menurut saya, sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan menandatangani kontrak kerja, kita perlu mengecek dengan lebih detil terhadap kontrak kerja yang disepakati.

Misalnya, tentang job description, target jumlah jam kerja dalam satu bulan, nominal gaji yang akan diterima, fasilitas apa saja yang akan didapatkan, dsb. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak menimbulkan konflik atau perselisihan di kemudian hari. Bagaimana pun, kontrak kerja adalah landasan yang membentengi kita sebagai pekerja migran, apabila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. 

Berkaitan dengan kekerasan atau diskriminasi di tempat kerja, saya merasa sepanjang kita bisa berlaku sopan dan bertingkah laku wajar, warga lokal akan menghargai kita juga.

Pesan saya untuk sahabat Ruanita yang ingin menjadi pekerja migran di Eropa dan Slowakia pada khususnya, kita harus memiliki mental kuat dan fisik yang prima. Mengapa kita perlu bermental kuat? Kita berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda.

Selain itu, fisik yang prima juga membantu kita mengatasi cuaca dan empat musim di Eropa sangat ekstrim, berbeda dengan Indonesia. 

Penulis: Rinatu Siswi atau Tutus, pekerja migran di Slowakia dan dapat dikontak di akun sosial media Instagram @rinatusiswi atau facebook Rinatu Siswi.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(CERITA SAHABAT) Berada Dalam Generasi Sandwich Tidaklah Mudah dan Selalu Negatif

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan  dengan Miri, Sarawak, Malaysia.

Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di  sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.

Di  waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11  tahun. 

Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus  menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan  anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.

Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri.  Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti  kepada orang tua. 

Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri  dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.

Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya,  ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara  kebutuhan hidup mereka masih tinggi.

Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus  menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  menafkahi anak-anaknya. 

Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang  sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.

Follow us

Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di  Indonesia.  Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di  masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.

Meskipun secara pribadi, saya tidak punya  pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak. 

Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich,  menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu: 

1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun  hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat  memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat. 

2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari  pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat  membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran,  ketahanan, dan empati.

3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga  kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap  terhubung dan kuat. 

4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich  memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik  dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak. 

Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal.  Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk  menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.

Saya pun turut prihatin, ketika  keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan. 

Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan  menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa  menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti  dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka.  Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang. 

Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang  umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di  saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.

Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington,  Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult  Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh  ilmuwan-ilmuwan budaya barat.  Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari  8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia.  Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya. 

Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh  tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena  kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat  orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 

Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan  keadaan orang tua mereka sendiri. 

Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah.  Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran. 

Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung  semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan  keluarga menjadi tidak baik

Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan  emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami  penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. 

Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci  menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus.  Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia. 

Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung  keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab,  Allah tahu kita mampu.  Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan  orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.

Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang  sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita.  Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta  bantuan profesional ya, jika dibutuhkan.  Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya. 

Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com

(CERITA SAHABAT) Peran Orang Tua Menentukan Siblings Rivalry

Halo sahabat Ruanita, saya seorang WNI yang saat ini berdomisili di salah satu negara di Eropa barat dan saat ini keseharian saya mengikuti kursus bahasa di tempat saya tinggal. Saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai siblings rivalry

Menurut kamus American Psycology Association, siblings rivalry adalah persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, atau kasih sayang dari salah satu atau kedua orang tuanya atau untuk pengakuan atau penghargaan lain, seperti di bidang olahraga atau akademik.

Hal ini umumnya terjadi dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu. Menurut pengamatan saya, biasanya terjadi pada keluarga dengan anak yang jarak umurnya tidak jauh dari satu anak dengan anak yang lainnya. 

Saya adalah anak tertua dari tiga bersaudara, kebetulan perbedaan umur saya dan kedua adik saya tidak terlalu jauh. Kedua orang tua saya tergolong workaholic parents.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa ditinggal dengan pengasuh atau anggota keluarga lainnya, ketika orang tua saya harus bekerja. Ketika kecil, hal ini tidak begitu mengganggu saya, bahkan sebaliknya saya merasa sangat beruntung punya saudara yang selalu bisa diajak bermain bersama.

Follow us

Namun, semua hal tersebut perlahan-lahan berubah, ketika saya memasuki usia remaja. Saya selalu merasa kalau orang tua saya lebih mencurahkan perhatian mereka kepada kedua adik saya.

Contohnya, ketika ada acara kumpul keluarga, di mana yang akan selalu dibanggakan adalah kedua adik saya. Padahal kalau dibandingkan kedua adik saya, secara akademis saya lebih baik dibandingkan mereka berdua. 

Hal ini membuat saya mempunyai rasa cemburu terhadap kedua adik saya. Namun, sebagai anak tertua saya selalu berusaha menutupi hal tersebut, yang berdampak terhadap kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Hal ini membuat saya menjadi lebih tertutup saat di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu saya dengan teman-teman di luar rumah. 

Saat itu, orang tua saya menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi. Sebagai kakak, saya selalu diminta untuk mengalah, apabila terjadi pertikaian dengan saudara-saudara saya.

Sebagai seorang remaja yang sedang membutuhkan banyak perhatian, tentu saja saya merasa frustasi dan sedih karena harus memendam berbagai macam emosi yang saya rasakan sendiri.

Saya cukup beruntung karena hal tersebut tidak membuat saya terjebak dalam hal-hal negatif, karena bisa saja terjadi pada seorang remaja. 

Menurut saya, orang tua berperan besar dalam terjadinya siblings rivalry antar saudara. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya menemukan jawaban mengapa orang tua bisa menjadi penyebab terjadinya siblings rivalry.

Dalam buku Scattered Minds, Gabor Mate menjelaskan bahwa kondisi orang tua dalam menyambut kehadiran tiap anak akan berbeda-beda dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perlakuan orang tua terhadap masing-masing anak. 

Bisa saja kesiapan secara mental dan financial orang tua saya lebih baik, ketika kedua adik saya lahir dibandingkan saat saya lahir. Saya sendiri saat ini sudah berdamai dengan hal tersebut dan berusaha memahami bahwa, di tengah keterbatasan orang tua saya saat itu, mereka tetap menjadi orang tua yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya. 

Berdasarkan apa yang saya alami, menurut saya tidak selamanya siblings rivalry itu memiliki dampak yang buruk. Saya menjadi belajar untuk lebih mandiri dan selalu berusaha tidak bergantung pada orang lain.

Selain itu, saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, meskipun terkadang saya masih meminta pendapat keluarga saya. 

Namun, setiap keputusan yang saya ambil tidak bergantung pada pendapat orang lain. Saat ini, saya merasa siblings rivalry yang dulunya saya alami, tidak terlalu mengganggu pikiran saya lagi, ketika saya sedang tinggal jauh dari keluarga.

Dari pengalaman dan pengamatan saya, siblings rivalry bisa terjadi di keluarga manapun, karena hal tersebut juga terjadi dalam keluarga suami saya. Namun seperti yang saya alami, hal tersebut perlahan-lahan akan berkurang, bahkan hilang seiring bertambahnya usia, terutama saat kami masing-masing telah berkeluarga. 

Menurut saya, siblings rivalry adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun tentu saja, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari siblings rivalry. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: memberikan perhatian terhadap kebutuhan tiap anak, mengajarkan kepada anak menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka, tidak membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya di depan orang lain, dan menghabiskan waktu dengan masing-masing anak agar tiap anak merasakan kedekatan dengan orang tuanya.

Nah, sahabat Ruanita begitulah pendapat dan pengalaman saya tentang siblings rivalry yang mungkin bisa membantu.  

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT) Yoga Tertawa untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Halo Sahabat Ruanita, saya Ajeng dari Hamburg. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya dari cerita-cerita atau tulisan saya dalam program cerita sahabat Ruanita ini. Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya ikut sesi yoga tertawa atau laughter yoga secara daring.

Waktu itu tahun 2022, saya menemukan satu sesi yoga tertawa dari website kampus saya.  Walau aturan pembatasan sosial tidak seketat seperti tahun 2020-2021, tetapi pada tahun 2022 itu masih ada aturan di Jerman, yang mana acara-acara kampus hanya dilangsungkan secara daring. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari kelas yoga tertawa itu, tetapi saya butuh olahraga untuk kembali sehat secara jasmani dan rohani.

Sesi yoga tertawa dibuka oleh seorang praktisi yoga tertawa. Dia menjelaskan sejarah dan manfaat yoga tertawa ini. Menurutnya, yoga tertawa ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Sepertinya cocok untuk saya, yang mana saya sedang mengalami gangguan mental pada saat itu, dan saya ingin mulai olahraga lagi. 

Yoga tertawa merupakan perpaduan antara gerakan tubuh dan teknik pernafasan yang mungkin kita sudah kenal dari yoga, sehingga bisa membuat banyak oksigen mengalir ke tubuh dan otak kita. Yoga tertawa juga dapat mengurangi stres, menambah rileks, meningkatkan kreativitas, mengaktifkan hormon bahagia (dopamin), memperkuat sistem imun, dan mengurangi tekanan darah.

Mungkin saat kita mendengar istilah yoga tertawa, kita membayangkan orang tertawa sambil duduk bersila. Paling tidak, begitu yang saya bayangkan saat itu. Ternyata saya salah. Kami berlatih dengan duduk dan berdiri, melakukan gerakan-gerakan ringan, sambil diiringi dengan tawa.

Gerakannya sangat sederhana, bisa menepuk tangan, menjentikan jari, berputar, dan sebagainya. Tawanya boleh palsu, karena tubuh kita tidak tahu, apakah tawa yang kita lakukan palsu atau alamiah. Namun, efeknya akan sama-sama menyehatkan badan dan membuat bahagia.

Saya ingat, waktu itu latihan yoga kami dimulai dengan meniru gerakan binatang, misalkan pinguin. Pasti teman-teman tahu dong, bagaimana pinguin berjalan? Nah, itu adalah gerakan yang kami lakukan. Tidak usah berjalan jauh, hanya satu-dua langkah ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, dan berputar. Jangan lupa, dilakukan sambil tertawa. 

Pertama-tama, memang saya merasa aneh sekali melakukan tawa palsu, apalagi bersama orang-orang tidak dikenal. Sebagian besar orang yang hadir bersama saya berlatih yoga ini, mematikan video dan mikrofon. Lama-lama, saya tertawa sendiri, karena lucunya gerakan yang saya lakukan. Saya juga menertawakan yang sedang melakukan tawa palsu. Tawa yang kami lakukan juga beragam, tidak hanya “ha ha ha” tetapi juga “hi hi hi”, “he he he”, dan “ho ho ho”. Jadi, tiap gerakan bisa diganti ragam tawanya agar tidak bosan.

Menurut saya, yoga tertawa ini seperti sedang bermain. Kita bisa saja berfantasi membuat gerakan sendiri. Contohnya, gerakan membuat minuman. Anggap diri sendiri seorang bartender yang sedang mengocok botol minuman. Setiap gerakan mengocok minuman, kita tertawa dengan “ha”, ulangi tiga kali. Setelah itu, lakukan gerakan minum, sambil tertawa “ha ha ha”. Gerakan lain bisa kita ambil dari aktivitas sehari-hari, misalnya bertelepon, mencuci tangan, dan sebagainya. Semuanya bisa dilakukan sambil tertawa.

Setelah 10-15 menit melakukan yoga tertawa, saya benar-benar merasa lelah. Memang, tertawa membutuhkan tenaga, tapi di sisi lain saya merasa lebih “bangun”, menjadi lebih bertenaga, dan juga lebih bahagia. Awalnya, saya merasa aneh dengan tawa palsu, tetapi saya benar tertawa alamiah setelah itu. Mungkin karena gerakan-gerakannya yang lucu (dan aneh). Memang, tertawa itu menular, walaupun palsu. 

Hal lain, yang saya suka dari yoga tertawa adalah kita juga melakukan afirmasi positif ke diri sendiri. Gerakannya sederhana saja, misalnya mengelus lengan kita sambil bilang, “very good”. Atau kita melakukan gerakan lain sambil mengatakan, betapa kerennya kita. Kalau latihannya seperti ini, bagaimana ini tidak baik untuk kesehatan mental kita?

Setelah latihan sekali dengan praktisi yoga tersebut, saya mengajak sahabat saya yang tinggal di luar kota untuk melakukan yoga tertawa ini bersama saya. Kami membuat janji untuk bertemu secara virtual. Syukurnya, latihan yoga tertawa ini benar-benar sudah mendunia, seperti banyak yang ditampilkan di YouTube tentang ini. Awalnya, sahabat saya tertawa geli melihat gerakan-gerakan yang ditampilkan, apalagi dilakukan sambil tertawa palsu, tapi dia tetap mengikuti. 

Pada akhirnya, kami benar-benar tertawa bersama, sambil melakukan yoga tertawa ini. Setelahnya, kami benar-benar lelah, seperti habis melakukan olahraga. Tawa kami bukan lagi palsu, melainkan benar-benar alamiah. Kami sampai merasa takut ditegur tetangga, karena terlampau berisik. Sayangnya setelah itu, kami hanya bertemu secara daring 2-3 kali untuk latihan yoga tertawa, karena kesibukan kami juga.

Yoga tertawa ini juga bisa dilakukan oleh semua umur. Yoga tertawa ini juga sangat cocok untuk anak-anak, karena gerakannya yang mirip seperti permainan. Saat berlibur ke Indonesia, saya sempat melakukan yoga tertawa dengan keponakan saya, yang berumur lima tahun. Kami tidak berhenti tertawa. Orang tua juga bisa melakukan yoga tertawa ini, karena gerakannya sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.

Di Jerman, sudah ada banyak klub atau organisasi yoga tertawa. Mereka adalah praktisi yoga tertawa profesional. Tidak hanya melakukan yoga tertawa di rumah, tapi juga memberikan pelatihan ke orang lain, yang ingin jadi pelatih bersertifikat. Misalnya, orang yang tertarik menerapkan di perusahaan, yang ingin karyawannya bahagia; atau diundang ke acara privat seperti pesta ulang tahun. Praktisi yoga tertawa yang memandu kami di acara kampus juga berasal dari salah satu klub tersebut. Dia memang merupakan pelatih bersertifikat.

Ada juga klub yoga tertawa yang secara rutin latihan di taman umum. Semua orang boleh berpartisipasi dengan memberikan uang secara sukarela. Sampai saat ini sayangnya, saya tidak pernah melakukan yoga tertawa lagi. Saya bahkan lupa ada yoga tertawa ini, kalau tidak ada tema ‘tertawa baik untuk kesehatan mental’ yang dipersiapkan oleh Ruanita. 

Saya ingin sekali suatu saat nanti, saya dapat mengikuti acara yoga tertawa secara langsung. Saya berpikir, mengikuti yoga tertawa daring saja sudah lucu, apalagi dilakukan secara luring. Saya membayangkan, kita dapat tertawa massal bersama orang lain di alam terbuka. Apakah Sahabat Ruanita tertarik untuk coba yoga tertawa?

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Bahagia dan Ikhlas Lewat Aksi Donor Darah

Halo, sahabat Ruanita. Saya adalah Maria Magdalena Rudatin atau yang mungkin sebagian dari kalian kenal saya dengan nama panggilan Rudatin. Sehari-hari saya bekerja secara sukarela sebagai tenaga admin di Ruanita dan pekerjaan paruh waktu lainnya di Indonesia. Saya juga merawat dan melayani ibu saya yang sudah berusia 86 tahun. Saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat, apalagi tema yang diangkat adalah donor darah. Boleh dibilang saya adalah pendonor darah tetap dan saya senang melakukannya. 

Setiap ada program donor darah di paroki saya, maka saya akan ikut serta untuk mendonorkan sebagian darah saya. Ya, saya mulai melakukan donor darah sejak saya masih duduk di bangku SMA di Semarang, Jawa Tengah. Saya juga punya kartu donor darah yang diterbitkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Jumlah donor darah saya hingga saat ini di tahun 2024 sudah mencapai 40 kali banyaknya, berdasarkan kartu donor darah yang ada. Selama saya mendonorkan darah, saya bersyukur Tuhan memberikan darah baru untuk kesehatan saya dan saya bisa membantu sesama saya lainnya.

Saya aktif mendonorkan darah, karena darah manusia pemberian Tuhan, sehingga sangat baik buat saya memberikan darah untuk sesama. Saya yakin Tuhan pasti memberikan darah baru lagi apabila saya mendonorkannya. Aktivitas donor darah adalah aktivitas yang sangat mulia dan berperikemanusiaan kepada sesama manusia.

Follow us

Darah adalah salah satu faktor penentu kesehatan dalam hidup manusia. Itu sebab, kita perlu merawat dan menjaga kesehatan darah, sehingga kita bisa hidup sehat. Darah yang sehat menjadi aset bagi diri sendiri dan sesama yang membutuhkan. 

Ada banyak alasan, mengapa ada orang-orang seperti saya senang sekali mendonorkan darahnya. Pertama, bisa jadi orang tersebut sadar dan sukarela memberikan darahnya sehingga menjadi kebiasaan positif untuk keberlangsungan hidup orang lain. Kedua, ada banyak literatur yang menjelaskan bahwa mendonorkan darah dapat memberikan efek sehat bagi pendonornya sendiri. 

Bagaimanapun,  tubuh pendonor akan memproduksi darah baru lagi setelah 3 bulan donor darah. Oleh karena itu, ada anjuran pula bahwa kegiatan donor darah bisa dilakukan rutin setiap 3 bulan dalam setahun. Alasan terakhir, saya pikir mendonorkan darah adalah ucapan syukur pada Tuhan atas darah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Darah itu gratis yang Tuhan berikan pada kita, sehingga  sudah seyogyanya pendonor, merasa bahagia bila mereka berbagi hidup dengan sesama lainnya melalui donor darah. 

Bagi pendonor seperti saya, donor darah adalah salah satu bentuk solidaritas  kemanusiaan. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena darah adalah sumber utama dalam diri manusia yang sangat dibutuhkan untuk hidup. Darah seperti “bahan bakar” untuk menggerakkan mesin, bila kita umpamakan. 

Darah merupakan daya kekuatan dalam diri manusia untuk melakukan  berbagai aktivitasnya, sehingga manusia sangat diwajibkan untuk menjaga  kesehatan tubuhnya, supaya aliran darah dalam tubuh berjalan dengan  lancar, seperti menjaga pola makan dan minum, melakukan gaya hidup  sehat. Mendonorkan darah adalah bentuk wujud kepedulian manusia kepada sesama manusia, karena manusia disadarkan untuk mau berbagi atau memberi dari kepunyaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan darah dalam dirinya. 

Memang betul bahwa tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Saya termasuk beruntung bisa mendonorkan darah saya, sejak saya masih duduk di bangku SMA di Indonesia. Di Indonesia, persyaratan usia pendonor darah adalah 17 tahun atau yang memang diizinkan oleh dokter. Pengalaman pertama saya donor darah adalah saat saya masih berusia 16 tahun dan dokter mengizinkan saya melakukan donor darah, meski usia belum genap 17 tahun.

Saat itu, tenaga ahli melakukan pemeriksaan HB yang waktu itu dilakukan di jari dengan ditusuk jarum. HB adalah Hemoglobin, yakni zat dalam darah yang menyebabkan darah cair  atau darah kental. Tetesan darah yang ke luar diteteskan di gelas yang berisi zat penentu HB.  Bila tetesan darah langsung ke dasar gelas maka dinyatakan HB darah termasuk kategori baik. Sebaliknya, bila tetesan darah mengambang pada gelas, maka  dinyatakan HB berkategori rendah. Kegiatan mengukur HB dengan bantuan  cairan dalam gelas ukur berlangsung cukup lama. 

Seingat saya, baru sekitar tahun 2008 sudah ada alat untuk mengukur HB menggunakan secara otomatis. Caranya, yaitu setetes darah diletakkan di kaca kecil, lalu dimasukkan ke alat pengukur HB. Nilai ukuran HB yang diizinkan untuk pendonor darah baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka yang memiliki HB sebesar minimal HB 12,5 minimal. Ini pun sudah menunjukkan kategori darah yang baik, karena cair. 

Tata urutan untuk mengikuti donor darah di Indonesia antara lain:

1) Berbadan sehat dengan berat badan minimal 45 kilogram dan berusia minimal 17 tahun. 

2) Bersedia mendaftarkan diri sebagai pendonor dengan mengisi formulir merah jambu dari petugas aksi donor darah. Pendonor wajib menjawab pertanyaan yang disediakan oleh tim Palang Merah Indonesia dan bersedia menandatanganinya. 

3) Pemeriksaan HB (Hemoglobin) oleh petugas dengan menusuk salah satu  jari untuk diambil setetes darah dan diperiksa dalam mesin cek HB selama  3 detik lalu terbaca jumlah HB pendonor. 

4) Pemeriksaan HB sekaligus untuk pemeriksaan golongan darah pendonor (A, B, AB, O). 

5) Pemeriksaan tensi tubuh pendonor harus sesuai aturan Kesehatan adalah  100-160 (Sistole) dan 70-100 (Diastole) yang dilakukan oleh dokter umum. 

6) Dokter Umum menulis jumlah darah yang akan didonorkan sekitar 250 ml – 350 ml setiap pendonor sesuai hasil pemeriksaan Dokter Umum. 

7) Pendonor siap untuk melakukan donor darah dengan berbaring pada tempat tidur dan jarum donor dimasukkan ke lengan pendonor. Untuk aktivitas donor darah, biasanya pendonor memerlukan waktu 8 menit. 

8) Setelah donor darah selesai, pendonor diberikan makanan kecil dan minum  untuk menstabilkan daya tahan tubuh dan kemudian petugas akan menyerahkan Kartu Donor sesuai golongan darah pendonor. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja aktivitas donor darah bisa bermanfaat bagi pendonor sendiri. Kita bisa meningkatkan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh karena terjadi perputaran darah baru yang telah didonorkan. Biasanya saya mengalami tubuh saya merasa lebih segar, asalkan pola makan dan minum kita sesuai dengan pola hidup sehat. 

Tentunya, kita memiliki daya pikir yang lebih positif karena tingkat kesadaran untuk berbagi kepada sesama. Selesai mendonorkan darah, hati saya selalu senang dan bangga bisa melihat sesama  menjadi lebih sehat setelah mendapatkan bantuan donor darah. Ini seperti mengingatkan saya akan tanggung jawab moral dan cinta kasih kepada manusia sesuai keyakinan saya. Bagi saya, donor darah adalah cara saya menghargai arti bahwa “Hidup adalah hadiah Tuhan untuk berbagi”. 

Setelah berkali-kali melakukan aktivitas donor darah, saya pastinya punya pengalaman berkesan dalam hidup. Suatu waktu ada teman se-paroki dengan saya, meminta saya untuk menjadi pendonor darah untuk neneknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang nenek saat itu sedang dirawat di salah rumah sakit di  Jakarta. 

Saya bersyukur, petugas menerima saya untuk bisa melakukan aktivitas donor darah setelah dilakukan pemeriksaan  syarat-syarat dari dokter di Palang Merah Indonesia (PMI). Pemeriksaan ini dilakukan di PMI, yang berlokasi di Jalan  Kramat Raya Jakarta Pusat. Sebagai informasi, bila kita ingin melakukan aktivitas donor darah untuk membantu orang lain, maka kita perlu datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di setiap daerah. 

Singkat cerita, sang nenek tersebut menerima donor darah yang saya bagikan, kemudian nenek kembali sehat.  Hemoglobin si nenek naik. Beberapa hari kemudian, nenek tersebut dipanggil Tuhan. Saya terharu bahwa nenek boleh menerima donor darah dari saya, walaupun pada akhirnya dia harus berpulang. Itu adalah kehendak Tuhan. 

Pengalaman lainnya adalah bahwa saya tidak selalu berhasil mendonorkan darah loh. Saya kadang pernah ditolak, meski niat saya baik untuk mendonorkan darah saya. Biasanya itu terjadi karena masalah kadar HB saya yang tergolong rendah. Itu mungkin disebabkan karena saya kurang mengonsumsi sayuran hijau. Padahal  bila saya berhasil mendonorkan darah, saya merasa bahagia dan ikhlas. 

Berdasarkan data, pengetahuan masyarakat akan donor darah sudah baik hanya  saja kesadaran dan pengalaman mendonorkan darah yang masih belum baik, termasuk ada  berbagai persepsi/mitos yang salah. Oleh karena itu, saya senang Ruanita mengangkat tema donor darah ini dan saya berkesempatan untuk menceritakan pengalaman saya menjadi pendonor darah. 

Menurut saya, kita perlu memberi edukasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, sebagaimana slogan yang selalu saya ingat setiap aktivitas donor darah. Slogan itu adalah: “Setetes Darahmu, Menghidupkan Sesama.”

Ini mungkin terdengar klise, tetapi saya pikir ide berikut bisa menjadi saran saya sebagai pendonor kepada pemerintah Indonesia. 

a) Membuat materi ajar di bidang pendidikan, misalnya pelajaran agama dan atau pelajaran kewarganegaraan tentang tema mendonorkan darah. 

b) Memperbanyak edukasi dan kampanye bahwa aktivitas donor darah itu menyehatkan dan  menyelamatkan nyawa manusia. 

c) Membuat aksi kemanusiaan donor darah yang digelar di tingkat 

pemerintahan kota dan pemerintahan daerah, mulai tingkat Rukun Warga (RW) hingga Kecamatan.

d) Melakukan kegiatan sosial aksi donor darah di berbagai kesempatan, seperti Tujuhbelasan, Hari Internasional Kesehatan, dsb.  

Sahabat Ruanita yang hebat, kita perlu bersyukur untuk berkat sehat dan nafas  hidup yang kita terima dari Sang Pencipta. Rasa syukur tersebut bisa diwujudnyatakan, salah satunya adalah memberi kehidupan kepada sesama lain melalui aksi donor darah. Dengan mendonorkan darah yang kita miliki, kita sudah menyelamatkan sesama kita.  

Penulis: Rudatin, yang dapat dikontak via info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.