(CERITA SAHABAT) Hormati Prinsip Seseorang yang Stay Single, Bukan Malahan Lakukan Single Shaming

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.

Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam. 

Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.

Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja. 

Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku. 

Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain. 

Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”. 

Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan. 

Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil. 

Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku. 

Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara. 

Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single

Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_

(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.

(CERITA SAHABAT) Tradisi Tahun Baru yang Kualami di Serbia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan aku Mery Christiani, yang pernah tinggal di Jakarta dan kini menetap di Serbia. Sehari-hari, aku beraktivitas seperti umumnya ibu rumah tangga dan mengelola usaha rumahan tempe. Setiap hari aku membuat tempe dan melakukan pengiriman setiap Senin dan Kamis, dikarenakan aku ingin tempe masih fresh saat diterima. Pengiriman tempe memerlukan satu hari ke lokasi tujuan. 

Selain membuat tempe, aku juga sibuk dengan berkebun di belakang rumah. Aku punya tanaman kentang dan lainnya, seperti kebun buat kebutuhan sehari-hari keluarga. Tak hanya itu, aku ‚kan tidak tinggal di kota besar seperti Beograd, ibukota Serbia, aku pun mengelola peternakkan milik keluarga. 

Sejak aku tinggal di Serbia, aku menilai warga di sini sebagian besar penduduk Serbia beragama Kristen Ortodoks, tetapi ada juga yang beragama Katolik dan Islam. Sepanjang saya tinggal di Serbia, menurut saya, orang-orang Serbia di lingkungan sekitar saya tinggal merupakan orang-orang yang tidak terlalu religius.

Di Indonesia, umumnya orang-orang merayakan Natal di tanggal 25 Desember, tetapi mereka di sini merayakannya pada tanggal 7 Januari. Itu sebab, mereka merayakan tahun baru  itu dua kali, yaitu tanggal 1 Januari atau 13 Januari. Kenapa mereka di Serbia merayakan Natal dan Tahun Baru berbeda dengan negara-negara lainnya? karena Serbia menggunakan perhitungan kalender Julian.

Berdasarkan pengamatanku selama tinggal di Serbia, mereka memiliki satu makanan khas yang selalu dinikmati setiap tahun baru. Namanya Česnica. Itu semacam roti yang di dalamnya diberikan koin. Namun, tidak setiap roti diberikan koin. Mereka yang beruntung, tentu akan mendapatkan roti berisi koin.

Itu artinya, mereka yang mendapatkan roti berisi koin akan mendapatkan good luck sepanjang tahun. Roti ”tahun baru” yang dimaksud dibentuk dengan berbagai macam. Ada yang berbentuk bunga, ada yang berbentu mahkota, dan lain-lain yang kemudian diberikan koin di dalam roti tersebut. 

Di sini juga terdapat makanan pembuka sebagai starter. Namanya meze. Di Serbia, meze mencakup berbagai macam makanan kecil yang biasanya disajikan sebelum hidangan utama.

Hidangan meze di Serbia sering kali disajikan di acara-acara sosial dan pertemuan keluarga, dan dimaksudkan untuk dinikmati bersama dengan minuman seperti rakija (brendi buah lokal) atau anggur.

Ada makanan favorit saya yakni Punjena Paprika. Paprika besar yang sudah dibuang bijinya tersebut kemudian diisi dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah itu, paprika terisi, kemudian disusun ke dalam panci.

Lalu, panci diisi dengan air dan direbus sampai airnya menyusut. Setelah itu, kami masukkan ke dalam oven. Jika sudah matang, biasanya kami menikmatinya dengan sour cream dan roti. Itu sudah yummy!

Makanan kedua favorit lainnya adalah Sarma. Ini hampir sama dengan Punjena Paprika, tetapi Sarma menggunakan kol atau kubis. Isiannya bisa dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah terisi di lembaran kol atau kubis, tahapan mengolahnya sama seperti memasak Punjena Paprika.

Kalau soal makanan di tahun baru, aku juga suka sekali dengan goulash, yang sebenarnya ini menu yang umum ada di negara Eropa lainnya. Ada juga yang menyebutnya Paprikash. Ini seperti sup daging. Orang-orang di Serbia umumnya suka makanan daging atau masakan olahan daging.

Oleh karena itu, mereka sering kali mengadakan acara seperti barbeque untuk memanggang daging bersama. Di sini banyak sekali penjual kambing guling dan babi guling.

Acara barbeque buat orang-orang di Serbia menjadi penanda kebersamaan untuk menikmati waktu bersama. Orang Serbia mengatakan daging guling atau daging yang digunakan sebagai barbeque merupakan daging terbaik di dunia, karena binatang yang dijadikan daging guling diberi makan secara organik dan natural.

Itu sebab, daging guling di sini begitu tasty. Satu lagi sebagai gambaran, hampir sebagian besar masakan dan makanan Serbia sama dengan Turkies Cuisines, karena dahulu Yugoslavia sempat dijajah oleh negara Turki cukup lama. 

Secara garis besar, tradisi tahun baru seperti layaknya di negara lain, mereka berkumpul dengan keluarga juga di malam penutupan tahun. Kami biasanya berkumpul merayakan pesta bersama keluarga seperti mengadakan pesta barbeque, satay daging atau makanan seafood sambil ngobrol-ngobrol satu sama lain.

Malam pergantian tahun juga diisi dengan pesta kembang api untuk menghitung waktu mundur pergantian tahun, seperti waktu saya berada di Indonesia dulu. Hanya saja yang berbeda adalah kami biasanya dansa (dancing) di Serbia atau bernyanyi, ini yang tidak dilakukan seperti di Indonesia dulu.

Tradisi lainnya adalah kami biasanya bersulang merayakan tahun baru dengan minuman lokal yang mengandung alkohol, namanya Raki. Sambil bersulang, kami memberikan ucapan keberuntungan di tahun yang baru seperti: good health, good wealth, long life dan semacamnya. 

Selama tinggal di Serbia, tradisi menyalakan kembang api hampir ada di tiap rumah di sini. Hanya saja, saya dan keluarga biasanya pergi ke semacam City Center untuk melihat perayaan kembang api. Di City Center tersebut, terdapat pesta kembang api dan juga konser musik.

Sementara dulu di Indonesia, saya tidak terlalu merayakan kemeriahan tahun baru. Saya sudah kapok berpergian di malam pergantian tahun baru, justru mendapati macet di mana-mana. Setelah itu, saya tidak ingin keluar lagi dalam merayakan tahun baru.

Seperti umumnya perayaan pesta kembang api di kota-kota besar, di Serbia pun demikian. Biasanya saya hanya menyaksikan dari televisi, pesta kembang api di pusat kota Beograd. Pesta kembang api dilaksanakan di waterfront di Beograd dan terlihat sangat indah saat saya melihatnya di televisi.

Stasiun televisi seperti TVRI di Indonesia, namanya RTS, yang berisi berbagai program selama jelang tahun baru. Programnya itu bisa berisi komedi, musik atau hiburan berbagai artis, yang kemudian ditutup dengan menghitung mundur perayaan pergantian tahun baru. 

Sahabat Ruanita, biasanya di awal tahun selalu terselip harapan dan resolusi di awal tahun. Begitu pun warga di Serbia. Orang-orang di Serbia biasanya mengucapkan: ” Srećna Nova godina! – Selamat Tahun Baru!” sambil bersulang.

Berdasarkan pengamatan saya, mereka biasanya mengutamakan kesehatan untuk harapan di awal tahun yang baru. Kalau kita tidak sehat, bagaimana kita bisa menikmati hidup dan bekerja. Kalau sahabat Ruanita, apa harapan dan resolusi di awal tahun yang baru?

Penulis: Merry Christiani yang tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun Instagram: cemanitempehserbia.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Melahirkan dan Merawat Bayi Lahir Prematur BBLR

Salam kenal, Sahabat Ruanita. Saya adalah Mosi Retnani  dan dapat dikontak via akun instagram @mosiretnani. Saya, suami, dan anak kami yang saat ini masih balita, tinggal di Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Tahun ini masuk tahun keempat kami tinggal di desa, sebuah wilayah yang dari segi budaya, bahasa, ritme harian, bahkan makanannya berbeda dengan Jakarta, tempat kami tinggal sebelumnya. Ya, meski perbedaannya tidak sampai 180 derajat sih. 

Kalau semua berjalan aman sentosa, saya dan suami sudah memiliki tiga anak. Namun kami kehilangan janin-janin di dua kehamilan pertama, yang umurnya berakhir hanya sampai di minggu kedelapan. Kehilangan tersebut terjadi pada tahun pertama pernikahan kami. Jangan ditanya bagaimana rasanya, setelah diberi bahagia, lalu diambil, dan diganti dengan kesedihan, dikali dua. 

Setelah dua peristiwa tersebut, kami memutuskan untuk menjeda sejenak dari semua hal yang berkaitan dengan ‘hamil’. Masuk tahun kedua pernikahan, kami mulai mempertimbangkan ikut program hamil. Kami mendatangi tiga dokter kandungan untuk konsultasi. Namun tak dipungkiri, jenuh pun melanda kami karena merasa program hamil berjalan begitu-begitu saja. Minum suplemen, konsultasi dokter, jaga makanan dan sebagainya, rasanya berlangsung monoton, bahkan jadi sering muncul pikiran paranoia seperti bila jajan di kaki-lima akan membuat program kami gagal. Di sisi lain, saya akui sebenarnya program hamil ini baik karena mendorong perbaikan gaya hidup, tetapi bagi kami, jadi malah tidak bahagia dalam menjalaninya. Yang seharusnya dijalani dengan sukacita, tetapi malah terasa monoton dan membebani. Ini bukan contoh yang baik untuk dijadikan acuan pasangan promil, ya.

Saya lupa di tahun keberapa tepatnya, kami memutuskan untuk berhenti mengikuti promil. Kami memutuskan untuk tidak lagi fokus soal keturunan. Fokus ke membangun rumah tangga bahagia meski semisal Allah SWT memang tidak menghendaki kami memiliki keturunan. Saya masih ingat malam sebelum kami memutuskan untuk berhenti promil, saya mengambil wudhu lalu sholat tahajud. Dalam doa, saya berucap: Ya Rabb, bila Engkau memang tidak berkehendak kami memiliki keturunan, kami ikhlas, insyaallah. Karena Engkau lah yang lebih tahu tentang hidup kami. Lapangkan hati hamba dan suami dalam menerima setiap kehendak-Mu. Setelahnya, saya merasa lebih plong dalam menjalani kehidupan rumah tangga, lebih tangguh, dan legowo menghadapi setiap pertemuan keluarga besar atau sekedar menjawab ujaran tetangga sekitar rumah. Kala itu, kami tidak memilih program IVF, karena anggaran tidak menyokong ke arah sana.

Di suatu pagi di tahun keenam pernikahan kami, alat testpack yang biasanya membuat kami merespon datar usai melihat hasilnya, pagi itu membuat saya bengong sejenak. Dua garis. Saya lalu membangunkan suami,“Be, ih bangun ini lihat. Masa aku hamil, kata testpack. Beneran gak sih??”. Suami hanya merespon dengan gumaman di bawah pengaruh alam bawah sadar. Usai salat subuh berjamaah, kami masih tidak percaya melihat hasilnya namun memutuskan tidur lagi. Saya pikir kalau memang beneran hamil, toh tinggal pergi konsul ke obgyn, tidak perlu yang harus gimana-gimana. 

Sekitar pukul sembilan pagi, saya bangun dan kembali mengecek testpack. Ternyata betul, dua garis biru, nyata. Saya Kembali membangunkan suami, “Be ini beneran, aku hamil!” Dan dia hanya merespon,”Alhamdulillah. Tapi aku lanjut bobo dulu ya, sejam lagi deh,” ujarnya. Saya tidak marah, malah mengiyakan ikhlas, karena malamnya dia habis lembur. 

Sorenya kami konsultasi ke dokter kandungan yang ketiga. Alasannya standar, dekat dari rumah dan kami sudah nyaman dengan dokter itu. Ketika melihat layar mesin USG, sekilas trauma kegagalan hamil menyeruak di pikiran saya. Saya coba tangkis dengan berpikir positif. Hanya sepenggal kalimat “Selamat ya bu,” dari dokter itu saja yang saya ingat usai keluar dari ruang konsultasi. Sampai di rumah pun, kami tidak langsung bersukacita mengabari para orang tua tentang kehamilan yang menahun dinanti mereka. Mungkin karena kala itu trauma dua kali kehilangan janin masih mendominasi pikiran kami. Kata suami, saya tak usah banyak kepikiran, dia yang akan mengabari orang tua kami. 

Hari-hari kehamilan yang kami jalani terasa biasa saja, hanya perut saya saja yang perlahan melendung. Saya yang kala itu masih terikat kontrak dengan salah satu media online untuk mengelola konten media sosialnya bersama teman, malah merasa terhibur dengan kesibukan kerjaan, di sela nafsu makan yang menguap. Setiap hari suami membawa oleh-oleh air kelapa dan air jahe sepulang kerja. Air jahe mempan mengatasi mual saya, sementara air kelapa mengikuti saran dokter. Selain itu, saya disarankan mengkonsumsi susu yang dipasteurisasi, alih-alih susu khusus kehamilan atau UHT. Alasan dokter karena susu pasteurisasi tidak mengalami proses pengolahan yang panjang untuk bisa dikonsumsi. Kami juga selalu diresepkan suplemen asam folat organik dan lainnya. 

Masuk pekan ke-35 kehamilan, kehamilan saya ternyata disimpulkan bermasalah karena beberapa hal terlihat tidak wajar. Bengkak di kedua kaki saya terlihat janggal dan berlebihan, menurut bidan pendamping di kelas senam hamil. “Kita tensi dulu ya Bu, saya biar bisa memastikan apakah ini wajar atau tidak,” ujar bidan. Ternyata hasil tensi saya tinggi, sekitar 120-an. Bidan kembali bertanya, ”Bu, apa merasa pusing?”. Saya menggeleng. Lalu bidan meminta saya menunggu sejam untuk kembali ditensi, sementara ia menghubungi dokter kandungan kami. “Kita tunggu dulu ya Bu, khawatirnya tensi ibu tinggi karena habis senam hamil,” ujar bidan setelah mengecek riwayat tensi saya selama kehamilan selalu berada di posisi normal. 

Ternyata tensi saya tidak kunjung turun, memang betulan tinggi. Bidan kembali menghubungi dokter untuk kembali mengobservasi saya. Saya diminta datang keesokan harinya tanpa perlu membuat janji temu lagi, karena hari itu dokternya sedang persiapan penanganan operasi lahiran. 

Setelah cek laboratorium berjenjang atas anjuran dokter, kehamilan saya disimpulkan masuk kategori preeklamsia. Artinya, janin harus segera dikeluarkan karena akan membahayakan ibu dan janin. Setiap hari sampai hari persalinan, saya harus kembali menjalani beberapa prosedur seperti pemantauan detak jantung bayi, penyuntikan pematang paru-paru janin sebanyak dua kali karena dia akan lahir prematur, pemantauan tensi saya, dan lainnya. Dokter pun segera menjadwalkan operasi caesar, “Bu, jadwal caesar-nya Sabtu ini ya. Pagi. Tapi kalau ternyata ibu merasa tidak fit atau kenapa-kenapa, ibu harus langsung saja datang ke IGD sini. Sampai ketemu Sabtu insyaallah ya bu,” kata dokter dengan raut wajah tenangnya. 

Jujur saya sempat panik karena baju-baju bayi dan peralatan lainnya belum semua disiapkan. “Nanti adek tidak ada baju habis lahir, terus gimana?”. Paniknya sebatas itu, bukan yang cemas takut perut harus dibuka tujuh lapis atau kepanikan lainnya. Namun alhamdulillah emosi kami berdua terbilang stabil. Kakak-kakak dan ibu saya memberi dukungan penuh, sehingga sampai hari persalinan membuat kami merasa cukup tenang. 

Bayi premature BBLR kami lahir dengan berat 1,9 kilogram pada tahun 2019 lalu. Usai persalinan yang jatuh di usia kehamilan 35 minggu, bayi saya harus masuk inkubator di ruang perinatologi. Setelah mendapat kabar bahwa bayi kami sehat dan organnya berfungsi dengan baik meski prematur, kami lega dan bersyukur. Selama masa pemulihan, suamilah yang bolak-balik antara ruang perinatologi dan kamar inap saya. Dua kakak saya dan ibu bergantian menjenguk saat suami harus ngantor. Oleh dokter anak, bayi kami dianjurkan diberi susu khusus tinggi lemak agar bobot badannya yang tergolong rendah (1,9 kg) bisa cepat naik sekaligus tandem dengan ASI saya. “Nanti setelah bobotnya cukup di angka aman, susu suplemennya dihentikan ya bu. Cukup ASI saja,” kata dokter anak yang ikut mendampingi dokter kandungan dalam persalinan.

Susu impor yang dimaksud ternyata harganya ‘wow’ dan sulit dicari di sekitaran rumah sakit. Setelah konsultasi dengan dokter anak, boleh memakai merek lokal yang fungsi dan kandungannya mirip, meskipun harganya yang juga cukup tinggi haha! 

Di ruang perinatologi tiap menunggui bayi kami, saya diajari lagi cara perlekatan yang tepat untuk mulut anak ke payudara meski sebelumnya saya sudah tiga kali mengikuti kelas laktasi di rumah sakit yang sama atas rekomendasi dokter kandungan. 

Setelah tiga hari dirawat inap, dokter menyatakan jahitan tidak bermasalah serta fisik saya sudah cukup pulih, saya dibolehkan pulang. Namun bayi kami masih harus menetap di perinatologi karena dinilai belum cukup kuat untuk hidup di luar inkubator. Sedih dan pilu kembali merayapi ruang emosi. Bagaimana tidak, selama di rumah sakit pun kami tidak bisa berdampingan dalam satu ruang seperti pasien bersalin lainnya, momen yang sangat kami dambakan. Malah setelah pulang pun masih terpisah atap. Hal yang sama juga dirasakan suami. Dia yang paling semangat usai melihat bayi kami lahir di dunia, jadi gundah saat tahu kabar tersebut. “Bapak dan ibu tidak perlu kawatir atau sedih ya, karena ini kan untuk kebaikan adik bayi,” ujar perawat di ruang perinatologi usai kami berpamitan. Sesampainya di rumah, saya tidak bisa tidur tenang, teringat bayi kami. Belum ada 24 jam saja saya sudah rindu. “Aku aja yang antar ASI ke rumah sakit. Kamu istirahat, biar luka operasi cepat kering,” kata suami keesokan paginya. Meski rindu dan gusar, saya harus realistis karena kalau tidak cepat pulih, saya tidak akan bisa optimal merawat bayi bila waktunya ia dibolehkan pulang nanti. Menjelang sore, telepon seluler suami berdering. Ternyata bayi kami sudah dibolehkan pulang usai diobservasi dokter anak, salah satunya karena bobotnya dinilai cukup untuk tidak lagi dirawat di perinatologi. Rasanya senang luar biasa. 

Rumah sakit jaraknya tak sampai 2 kilometer dari rumah kami. Usai ashar, kami menjemput bayi kami ke rumah sakit. Sebelumnya, ibu menyarankan untuk tinggal sementara di rumahnya agar kami ada yang membantu merawat bayi. Dan kami pun menurut. “Ibu ini baju-baju bayinya masih pada kebesaran ya, tapi enggak apa-apa malah jadi awet dan hemat ya nak ya,” ujar bidan dengan nada bercanda sambil menyerahkan bayi kami. Kami tertawa kecil menanggapinya, karena baju tidur model wearpack ukuran bayi baru lahir yang kami siapkan untuk si bayi pulang, terlihat longgar di tubuhnya. Perawat sampai menggulung bagian lengan dan kakinya beberapa kali agar tidak mengganggu geraknya karena kepanjangan. 

Baik bidan atau dokter tidak menyarankan menyediakan alat pendukung khusus bagi bayi kami, namun ada beberapa hal penting yang wajib dilakukan di rumah. Pertama, memperbanyak kontak kulit dengan kulit (skin to skin) dengan metode kanguru (kangaroo care). Metode ini dinilai mampu mengurangi stres bayi prematur terutama bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dalam merespon lingkungan luarnya yang baru. Suara dan detak jantung orang tuanya akan menenangkan si bayi, selain memberi kehangatan di tubuhnya. Kangaroo care juga membantu menstimulasi produksi ASI di badan ibu agar membantu bobot bayi prematur cepat naik. 

Kedua, jaga suhu tubuh bayi BBLR ini dengan cara membedong dan rajin mengecek suhu tubuhnya. Bayi prematur, terutama dengan kondisi BBLR, belum mempunyai cukup lemak untuk membantu tubuhnya beradaptasi dengan suhu lingkungannya yang baru. Karena itu saya selalu meletakkan thermometer digital di sisi bantal bayi karena suatu hari usai beberapa hari kepulangannya, saya pernah panik ketika memegang kaki dan tangannya yang mendadak dingin. Hal ini sempat kami konsultasikan ke dokter anak dan jawabannya demikian yang dijelaskan sebelumnya. 

Ketiga, bayi prematur bisa dibilang gemar tidur sehingga kami harus membuat jadwal minum susu yang konsisten yang ketika tiba waktu menyusu. Kalau bayi masih tidur, maka wajib dibangunkan untuk disusui. Ini adalah saran dari perawat bayi di ruang perinatologi, yang diberikan sebelum kami pulang. Bagian ini yang cukup menantang bagi kami karena selalu ada pergulatan rasa tidak tega dan realita yang harus kami jalani untuk menopang kebutuhan susunya. 

Keempat, pemberian suplemen zat besi yang dosisnya disesuaikan dengan bobot bayi. Berdasarkan literasi yang saya baca kala itu dan dokter anak yang membersamai komunitas Prematur Indonesia, pemberian suplemen zat besi sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh bayi prematur/ prematur BBLR yang sangat rentan mengalami defisiensi zat besi. Menurut dokter, suplemen zat besi ini sebaiknya mulai diberikan pada bayi prematur pada usia 1 bulan. 

Kelima, kami juga disarankan memeriksa mata bayi -terutama pemeriksaan retina, bila memungkinkan- secara rutin ke dokter mata anak. Hal ini karena beberapa bayi prematur memiliki potensi penyakit mata yang disebut retinopati prematuritas (ROP), sebuah kondisi dimana penglihatan mata anak akan terganggu bila tidak sejak dini ditangani.  Selain itu, bayi premature juga lebih sering mengalami risiko mata juling dibanding bayi tipikal. 

Karena banyak kondisi yang harus kami jaga, maka kami memutuskan keluar rumah hanya untuk keperluan ke rumah sakit saja, sampai bayi kami cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Di sisi lain, kami sangat bersyukur karena keluarga di lingkaran utama memberi dukungan penuh dan mau memahami kondisi bayi yang berbeda dari para sepupunya kala masih bayi. Ibu dan kakak-kakak saya terus kami informasikan apa saja yang wajib mereka ketahui dalam membantu merawat bayi kami. Selain memberi dukungan moral dalam merawat bayi, mereka juga mendukung dalam mengurus pekerjaan rumah seperti membantu menjemur dan menyetrika pakaian dan mengirim makanan setiap hari ke rumah setelah kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sampai kami dinilai cukup mandiri untuk melakukan rutinitas harian seperti sebelum ada bayi. 

Harapan saya, teman-teman perempuan yang harus merasakan persalinan awal dan melahirkan bayi prematur menjadi tidak merasa sendiri dan berani untuk meminta tolong kepada suami, saudara, orang tua dan teman akrab kita, juga jangan segan meminta pertolongan kepada tenaga medis saat memang membutuhkannya. Bagi para ibu yang mengalami kondisi serupa, jangan ragu untuk bergabung dalam komunitas prematur yang ada di lingkungan sekitar atau secara daring, karena saya akui dampaknya cukup signifikan terutama dari segi literasi dan pengalaman yang dibagikan sesama anggota komunitas, sehingga menghapus “rasa sendiri” dalam merawat dan membesarkan bayi prematur berbagai kondisi, termasuk bayi prematur BBLR. 

Untuk pemerintah, saya berharap semakin giat dalam mensosialisasikan dan membagi literasi persalinan dini dari segi pemicu, risiko pada ibu dan bayi, serta cara menangani bayi pasca persalinan. Peran pemerintah juga penting dalam meningkatkan keterampilan tenaga medis dan menyediakan tenaga ahli psikologi di berbagai pelosok agar mendukung tumbuh kembang bayi prematur dan menjaga kondisi emosi ibu. Demikian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk para Sahabat Ruanita. 

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia, dikontak via akun instagram: aini_hanafiah, dan menulis berdasarkan wawancara dengan Mosi Retnani.

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Niksen dari Belanda?

Hai, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ristiyanti Handayani, atau yang biasa dipanggil Risti. Saya sudah menetap sekitar 10 tahun di kota Utrecht, Belanda. Aktivitas sehari-hari saya adalah karyawan swasta dan juga ibu rumah tangga. Saya senang dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat, terutama menceritakan pengamatan dan pengalaman saya seputar praktik baik tinggal di Belanda.

Saat ini, saya akan bercerita tentang Niksen yang (mungkin) sudah diketahui oleh sebagian sahabat Ruanita. Apa itu Niksen sebenarnya? Memang banyak orang akhir-akhir ini, membicarakan tentang Niksen, yakni salah satu filosofi yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Belanda. Ketika saya pulang kampung di Indonesia beberapa waktu lalu, ada juga orang yang bertanya tentang Niksen ini.

Sebetulnya, Niksen itu konsep filosofi yang diyakini orang-orang Belanda untuk tidak melakukan apa pun dalam jangka waktu yang tidak lama, hanya sekitar beberapa menit saja. Niksen berasal dari kata „Niks“, yakni tidak ada apa-apa.

Salah satu contoh Niksen, yang sering saya amati dari kebiasaan suami sebagai orang Belanda melakukan Niksen, yakni dia duduk santai di halaman belakang rumah atau di balkon rumah kami. Dia hanya duduk saja, melihat sekitar, seperti pohon-pohon, atau beragam binatang kecil seperti kupu-kupu, lebah dll, terutama ketika dia melakukan work from home, nah, dia akan keluar dari ruang kerja dan pergi duduk santai di kebun belakang. Kadang dia memperhatikan kucing tetangga yang sedang bermain, sekitar 5-10 menit. Dia melakukan Niksen tidak lebih dari 15 menit, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Menurut suami, dia menjadi lebih fresh dan aktif bekerja kembali di belakang komputer.

Ibu mertua saya melakukan kebiasaan Niksen itu biasanya untuk sekitar 5-10 menit saja dengan berbaring. Berbaring saja, itu kebiasaannya yang masih dilakukan sampai sekarang. Sementara saya melakukan Niksen hanya duduk di ruang tamu sambil memperhatikan setiap benda yang ada, karena saya senang sekali menata interior rumah. Meskipun itu dalam kondisi diam, tetapi saya pada akhirnya punya ide untuk memindahkan ini dan itu. Contoh lainnya, saya berdiri di depan jendela saja. Mungkin orang akan bertanya: „Ngapain begitu?“.

Contoh Niksen di tempat kerja, biasanya saya akan berjalan keluar ruangan atau sedikit ngobrol dengan sesama rekan kerja lainnya sambil duduk menikmati cahaya matahari, saat saya betul-betul lelah bekerja. Biasanya orang-orang di sini sudah tahu, mereka melakukan Niksen. Meskipun itu cuma 15 menit saja, tetapi itu sangat membantu di situasi kerja. Saya dan suami biasanya juga suka jalan bersama menuju taman kota dekat rumah, lalu meski hanya sebentar duduk di bangku taman.

Niksen itu adalah aktivitas yang sangat sederhana sekali, yang bisa membuat kita merasa lebih bugar, lebih fresh, dan lebih fokus pada akhirnya. Niksen itu dilakukan dalam waktu yang tidak lama, hanya sebentar saja.  Menurut saya, Niksen adalah perilaku seseorang  tidak melakukan apa-apa atau  tidak melakukan sesuatu kegiatan ragawi yang aktif untuk beberapa saat. 

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin menuangkan berbagai gagasan dan pengalaman seputar Niksen. Seperti anggapan bahwa Niksen itu adalah kemalasan dalam tanda kutip, karena bila kata „Niksen“ diterjemahkan dari kata Bahasa Inggris menjadi kemalasan. Namun, saya berpendapat bahwa Niksen itu bukan berarti kita malas, karena kita tidak melakukan apa-apa. Kemalasan dan Niksen itu jelas berbeda. Kemalasan dalam bahasa Belanda berarti „Luiheid“.

Niksen tidak bisa diartikan sebagai sebuah kemalasan. Niksen merupakan suatu aktivitas untuk mengalihkan sesaat dari rutinitas produktif, terutama yang menguras energi dan perhatian. Itu sebab, seseorang perlu waktu sesaat untuk relaks atau rehat sejenak. Itu disebut Niksen. Sedangkan, kemalasan itu cenderung pada seseorang yang memang tidak melakukan kegiatan produktif. Sementara, Niksen adalah mereka benar-benar melakukan kegiatan produktif, tetapi mereka membutuhkan sedikit rehat untuk kembali fokus. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa Niksen itu bukan kemalasan.

Oh ya, praktik Niksen itu dalam waktu pendek pun bisa dilakukan di sela-sela bekerja. Misalnya, orang bisa duduk-duduk sambil minum yang disukainya. Praktik Niksen ini membantu agar waktu kerja menjadi lebih efektif dan efesien, karena saat ini di Belanda tidak dianjurkan „bekerja lembur“. Selain bayaran upah lembur itu besar, orang yang bekerja lembur berarti mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka, sehingga itu membuat mereka lebih stres akan pekerjaan mereka. Bekerjalah secara normal dan efesien dibarengi praktik Niksen, agar hidup lebih seimbang.

Anggapan lainnya juga menyebutkan bahwa Niksen itu seperti stress release atau praktik mindfulness. Apakah benar demikian, sahabat Ruanita? Kalau menurut saya, Niksen boleh saja dianggap demikian. Niksen memungkinkan otak kita rehat atau beristirahat sejenak. Hal ini membantu kita kembali  untuk fokus dan berpikir lebih segar. Itu menurut saya. Setelah melakukan Niksen, kita menjadi refresh untuk pikiran dan jiwa raga kita.

Itu sebab, ada banyak manfaat untuk jiwa dan raga terkait praktik Niksen. Mental kita merasa lebih tenang. Pikiran kita menjadi lebih jernih. Tentu, tubuh merasa lebih segar atau bugar kembali. Itu yang saya rasakan, sehingga kita bisa lebih fokus untuk melanjutkan apa yang sedang kita lakukan.

Menurut saya, praktik Niksen itu menjadi booming sekitar 15 tahun belakangan ini yang berkaitan dengan gaya hidup dan pola kerja yang tidak berimbang (work and life balance) sehingga berakibat pada problema kesehatan mental. Pada akhirnya, orang pun berpikir bahwa bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk pekerjaan. Sejak itu, banyak orang melakukan sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya tetap terjaga, salah satunya dengan praktik Niksen ini.

Bagi orang Belanda sendiri, praktik Niksen bisa jelas terlihat masif misalnya saat weekend. Saat weekend dan cuaca cerah, orang-orang Belanda itu paling senang duduk-duduk di taman kota atau bangku-bangku yang tersedia di area publik. Mereka juga suka memenuhi teras-teras atau kafe-kafe ketika cuaca cerah selama weekend. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa, kesannya kehidupan orang-orang Belanda begitu santai, padahal mereka sudah bekerja keras di hari-hari weekdays. Di saat weekend, mereka biasanya betul-betul melupakan semua itu sesaat.

Kehadiran Niksen bisa dilihat dari sejarahnya, kemungkinan berawal dari rutinitas kehidupan moderen, seperti tekanan kerja. Sementara, orang-orang Belanda sendiri memiliki istilah menikmati hidup, yang dikenal Lekker-genieten. Niksen tidak bisa disamakan dengan konsep healing. Pada prinsipnya, Niksen adalah cara untuk mencegah agar tidak terjadi masalah-masalah seperti stres atau beban kerja. Sedangkan healing berarti penyembuhan, karena sudah terjadi. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Terakhir, saya sependapat tentang studi yang menyatakan bahwa Niksen ini memang membantu orang memunculkan ide-ide baru, sehingga orang-orang menjadi lebih kreatif atau produktif lagi. Meskipun kita sedang „Niks“ atau tidak melakukan apapun, otak kita tetap masih memproses informasi, termasuk untuk memecahkan masalah yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya „Niks“, justru saya menemukan gagasan yang melintas dalam kepala saya.

Pesan saya kepada sahabat Ruanita, kalau kalian bekerja, manfaatkan waktu secara efesien. Jika kalian sudah mencapai batas ambang kelelahan, selingi sesuatu seperti praktik Niksen sesuai dengan kemampuan masing-masing agar tidak stres. Lakukan Niksen agar kerja lebih efektif dan produktif, asalkan target kerja tercapai. Kira-kira seperti itu gambaran Niksen yang saya ketahui. Artinya, kita meluangkan waktu, meskipun itu dalam waktu durasi singkat untuk tidak melakukan apa pun atau Niks, kata orang Belanda. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap dapat rileks, sehingga pikiran menjadi kembali fokus dan hidup kita menjadi seimbang.

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda.

(CERITA SAHABAT) Mengenal Toleransi dari Istilah Tat Twam Asi

Halo, sahabat Ruanita! Saya Utari Giri, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang puteri yang sudah beranjak dewasa. Kami sekeluarga sudah hampir tiga belas tahun tinggal di kota Dubai, United Arab Emirates.

Selama tinggal di Dubai, saya aktif dalam segala kegiatan bersama teman-teman perantau dari Indonesia. Hingga saat ini, saya mengelola dua komunitas, yaitu Indonesia Ladies Badminton (Komunitas ibu-ibu Indonesia penggemar olah raga badminton) dan Banjar Dubai (Komunitas orang Bali yang tinggal di Dubai). 

Dari dua komunitas ini saja sudah bisa dibayangkan, bagaimana beragamnya individu-individu yang saya hadapi. Di sinilah tempat saya untuk belajar sekaligus menjalankan toleransi yang sesungguhnya telah kita pelajari sejak kecil di lingkungan keluarga kita. Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami selama saya tinggal di Dubai, tentang toleransi beragama.

Setiap merayakan hari raya Idul Fitri, KJRI Dubai selalu mengadakan shalat Idul Fitri bersama bagi WNI di Dubai dan sekitarnya. Biasanya acara ini dihadiri sekitar seribu WNI yang ikut beribadah. Dan, inilah praktik toleransi yang sesungguhnya.

Kami, WNI non Islam yang tergabung dalam komunitas Piladelpia (Kristen dan Katolik) dan banjar Dubai (Hindu) hadir menjadi volunteer sebagai tim keamanan, mempersiapkan tempat shalat, hingga menyajikan makanan setelah shalat Idul fitri selesai.

Jadi, khusus di Dubai, Idul fitri tidak saja dinantikan oleh sahabat WNI muslim, tetapi sahabat non muslim pun selalu menantikan datangnya Idul Fitri. Inilah saatnya kita berpartisipasi melancarkan jalannya perayaan hari Idul fitri.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, toleransi berarti menghargai orang lain dengan segala perbedaannya melalui pengertian. Toleransi tidak hanya tentang masalah keyakinan dan suku. Bahkan, dalam diskusi sehari-hari, berteman, atau di lingkungan kerja pun sikap toleransi harus dijunjung tinggi. Tidak memaksakan kehendak dan pendapat adalah bentuk toleransi paling dasar.

Contoh lainnya, sebagai non muslim yang memiliki banyak sahabat muslim, saya sengaja membeli dan  menyediakan perlengkapan shalat untuk sahabat yang berkunjung ke rumah saya.

Bahkan, saya sengaja mengunduh arah kiblat di hape, karena sahabat saya selalu bertanya kepada saya arah kiblat, saat kita berada di luar rumah. Selain itu, saya juga ikut sebagai volunteer di beberapa komunitas sosial di Dubai, sebagai upaya saya untuk terus mengasah sikap toleransi saya.

Dalam menjalankan sikap toleransi, kita perlu aspek saling menghormati dan hidup berdampingan satu sama lain. Namun, pada kenyataannya kadang kita melihat ada orang yang sulit untuk bersikap toleransi.

Hal ini terjadi bisa karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perbedaan atau tingginya rasa ego dan menganggap pribadi atau golongannya yang paling benar.

Padahal, sebenarnya setiap manusia harus dan memerlukan toleransi di dunia yang beragam ini. Contoh yang paling mudah adalah toleransi di lingkungan tempat tinggal kita. Kita tidak mungkin tinggal di lingkungan yang semua orangnya sama seperti kita, baik agama, suku, profesi, pendidikan, maupun aspek lainnya. Bayangkan jika kita tidak bisa bersikap toleransi terhadap tetangga di lingkungan rumah kita, maka pertengkaran dan perselisihanlah yang pasti akan terjadi.

Dalam mengembangkan sikap toleransi, kita perlu mendorong inklusivitas, tetapi praktiknya menjadi sulit. Inklusivitas pada dasarnya adalah sikap yang bisa memosisikan diri kita sebagai orang lain. Ada beberapa faktor yang membuat orang sulit menerima inklusivitas sebagai bagian toleransi, antara lain tidak peduli dengan orang lain, merasa tidak membutuhkan orang lain, atau merasa hebat dan lebih dari yang lain.

Sementara, untuk sebagian orang mungkin sulit untuk bersikap toleransi karena, merasa pribadi atau golongannya lebih baik dari yang lain, kurangnya pengalaman pergaulan dengan orang di luar golongannya, atau bisa juga karena pendidikan yang kurang tentang toleransi. Pendidikan toleransi yang paling mudah sebenarnya adalah kebiasaan yang harus ditanamkan sejak kecil dari rumah atau keluarga.

Ada satu lesson learned atau pembelajaran hidup yang pernah saya alami berkenaan dengan sikap toleransi ini. Saya adalah orang yang sangat terbuka dengan siapa saja, tidak peduli agama, suku atau siapa dia. Semuanya saya ajak berteman selama mereka mau berteman dengan saya. Tidak jarang, saya diundang ke rumah teman yang di rumahnya sedang ada pengajian atau teman-teman Kristiani yang sedang merayakan Natal.

Saya selalu menghormati undangan tersebut dan berusaha untuk hadir tanpa memikirkan yang lainnya. Mungkin ini yang tidak semua orang di Dubai mendapatkannya. Akibatnya, saya memiliki teman yang beragam di Dubai. Tidak jarang, jika ada teman yang baru datang ke Dubai selalu bertanya, sebenarnya apa agama saya? Tidak apa-apa, yang pasti saya selalu memandang indah setiap perbedaan yang terbalut dalam kata toleransi.

Banyak manfaat yang bisa kita petik dalam bersikap toleransi. Bahkan, manfaat ini ternyata bisa kita rasakan terutama untuk kesehatan mental kita. Rasa bahagia karena memiliki banyak teman, rasa nyaman saat berinteraksi dengan semua teman adalah manfaat besar bagi saya. Sebagai minoritas, penerimaan dari yang lain dengan tangan terbuka dan pelukan hangat adalah manfaat toleransi yang tidak ternilai harganya. Seperti yang kita ketahui, rasa aman, nyaman, dan bahagia adalah kunci utama bagi kesehatan mental manusia.

Jadi, untuk sahabat Ruanita yang masih sulit untuk bersikap toleransi, saatnya untuk membuang jauh sikap intoleransi. Bersikap toleransi ternyata lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Di Bali, ada ilmu toleransi yang dikenal dengan “Tat Twam Asi”, artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Jangan kita menyakiti, baik fisik maupun perasaan orang lain, jika tidak ingin disakiti. Cobalah untuk berada di posisi orang lain, sebelum berbicara atau mengeluarkan pernyataan terhadap orang. Dengan modal ini saja, kita bisa, lho, menjadi agen perdamaian global.

Selain dari diri sendiri, sikap toleransi harusnya selalu dimulai dari rumah atau keluarga. Memasuki zaman yang semakin maju seperti saat ini, sebaiknya pendidikan budi pekerti dan toleransi lebih digalakkan lagi di sekolah-sekolah mulai dari paling bawah. Citra Indonesia sebagai negara dengan masyarakatnya yang penuh sopan santun dan cinta perdamaian harus tetap ditegakkan sampai kapanpun.

Penulis: Utari Giri, perempuan yang hobi menulis, saat ini tinggal di Dubai, dan dapat di kontak di akun IG: @utarigiri

(CERITA SAHABAT) Dua Hati yang Berjarak, tetapi Tetap Satu

”Distance does not matter if you really love the person. What matters most is your honesty & trust for that relationship to work out.” – unknown

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Inginnya setiap detik bersama atau berdekatan dengan yang tercinta. Namun, apa daya, hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya, kita harus berpisah sejenak dengan suami dalam hitungan bulan atau tahun.

Keputusan berpisah sejenak itu disebabkan oleh banyak alasan, seperti faktor domisili asal suami yang berbeda suku bangsa negara atau pekerjaan yang membuatnya harus merantau ke luar negeri. Dengan demikian, konsep long distance relationship marriage (LDMR) menjadi pilihan terbaik dengan semua konsekuensinya.

Lalu, apa sih tantangan terberat yang dialami oleh para pelaku LDMR, khususnya yang berbeda negara domisili itu?

Semua pelaku long distance relationship marriage (LDR) mengakui faktor jarak antar negara dan perbedaan zona waktu yang ekstrim menjadi tantangan terberat dalam membangun komunikasi yang sehat. Mengapa? Karena komunikasi adalah kunci sukses dari sebuah hubungan cinta yang sehat. Nah, di sinilah diperlukan kedewasaan dalam pola pikir dan sikap para pelakunya, termasuk, harus ada kesepakatan bersama agar komunikasi dua arah tetap terjalin baik.

Kecanggihan teknologi telekomunikasi dewasa ini memberikan banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan pasangan via teks (short message service/sms), direct message (DM) via akun sosial media (Facebook, Instagram atau Whatssapp) atau videocall message via Whatsapp, Zoom, Google Meet atau FaceTime. Semua bentuk komunikasi itu bisa dilakukan realtime.

Namun, kecanggihan komunikasi online-virtual itu tetap tidak bisa menggantikan pertemuan fisik. Ada banyak hal yang membuat sepasang kekasih ingin selalu berdekatan secara fisik. Hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dan dimengerti oleh pasangan yang sedang memiliki love-relationship

Pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjalani long distance marriage relationship (LDR) itu diakui oleh Ria Hakefjäll (36 tahun). Sebelum pindah dan stay for good di Swedia, Ria sempat menjalani hubungan long distance marriage relationship (LDMR) hampir setahun lamanya dengan suami tercinta yang berkebangsaan Swedia.

Hal itu disebabkan karena Ria harus menyelesaikan berbagai urusan terkait kepindahannya ke Swedia. Sementara, suami harus segera balik pulang karena pekerjaan setelah menikah di Indonesia. Tentu tidak mudah buat Ria dan suami menjalankan kehidupan rumah tangga yang terpisah jarak ribuan kilometer, Indonesia-Swedia.

Selain itu, faktor perbedaan waktu antara Indonesia dengan Swedia yang ekstrim juga menjadi tantangan tersendiri. Waktu Indonesia itu 5 atau 6 jam lebih awal daripada Swedia. Bayangkan saja, saat Ria memulai aktivitas pagi hari, suami tercinta masih terlelap dalam tidur malamnya. Begitupula sebaliknya. Rasanya ingin berbagi cerita tentang aktivitas hari itu, usai pulang kerja sore hari, namun isteri tercinta sudah siap beranjak ke peraduan. Lalu, bagaimana Ria dan suami menyikapinya?

Ria dan suami sepakat menentukan waktu khusus pada jam tertentu setiap harinya dan pada akhir pekan agar komunikasi tetap terjalin baik. Pasangan pecinta nature-hiking ini menyebut momen khusus itu, video-call dating. ”Via video-call dating ini, saatnya kami berdua bisa berbicara tentang apa saja dengan lebih tenang.

Kami dapat lebih fokus membahas tentang harapan, rencana kehidupan dan perasaan satu sama lain. Intinya, momen video-call dating ini membuat kami mampu menjaga keintiman emosional,” jelas Ria. Lebih lanjut Ria menambahkan, momen video-call dating ini juga membantu mereka untuk meminimalkan rasa cemburu dan buruk sangka terhadap pasangan.

”Saat itulah, kami bisa bicara panjang lebar tentang apa saja. Jika ada permasalahan di antara kami, harus selesai pada momen video-call dating itu,” tegasnya. 

Hal yang sama dilakukan oleh Sadya Nur Anisa. Wanita berusia 28 tahun berprofesi dokter umum itu harus berpisah setahun lamanya dengan suami yang melanjutkan kuliah S2 di Stockholm. Bahkan saat itu, sudah hadir buah cinta mereka yang masih berusia balita.

Buat Sadya, tantangan terberat menjalani hubungan pernikahan jarak jauh itu ketika anak sakit. Tentu kehadiran suami secara fisik saat anak sakit itu sangat berarti buatnya dan terasa berbeda dibandingkan percakapan via video-call untuk menjelaskan kondisi anak.

”Ada hal-hal yang hanya bisa diceritakan ke pasangan. Untuk itu, kami berkompromi menentukan waktu yang sekiranya bisa dipakai untuk melakukan video-call. Bercakap-cakap di waktu khusus itu saatnya kami menceritakan keseharian atau keluh kesah di hari itu kepada pasangan,” jelas Sadya.

Ya! Adanya waktu khusus untuk bercakap-cakap dari hati ke hati pada jam tertentu setiap harinya dan akhir pekan itu mampu membangun keintiman emosional meskipun tetap berkabar setiap harinya, seperti mengucapkan Selamat Pagi/Siang/Malam, bertanya aktivitas hari itu atau Selamat Beristirahat via teks sms atau WhatsApp.

Buat Ria dan Sadya, berkirim kabar setiap hari itu sangat penting dalam hubungan cinta jarak jauh. ”Bagi kami, berkirim kabar itu terlihat remeh dan kecil, namun “wajib” dalam hubungan kami,” tegas Ria.

Lalu, Sadya menyarankan untuk tetap merayakan momen-momen spesial seperti ulang tahun pasangan atau anniversary meskipun hal itu dilakukan via video-call

Upaya saling berkirim kabar diakui oleh Ria dan Sadya juga sebagai cara membangun dan memertahankan rasa saling percaya dalam hubungan cinta jarak jauh, termasuk, menjembatani perbedaan budaya antar dua negara seperti yang dialami oleh Ria dan suami.

”Buat kami, komunikasi rutin sepanjang hubungan jarak jauh kami, bahkan sampai sekarang itu sangat membantu kami membangun rasa saling percaya dan pengertian serta mengenal pasangan semakin dalam,” jelas Ria.  

Untuk menjembatani perbedaan budaya, Ria memulai belajar bahasa Swedia, bahasa ibu suami tercinta. Begitupun sebaliknya. Buat mereka, kemauan belajar untuk memahami dan bercakap-cakap dalam bahasa ibu pasangan juga kunci utama membangun dan menjaga harmonisasi hubungan cinta meskipun, mereka berdua lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama.

”Bahasa Swedia juga membantu saya untuk memahami lebih baik budaya negara suami. Hal yang sama dirasakan saat suami belajar bahasa Indonesia. Bahasa ibu itu pintu masuk memahami dan menjembatani perbedaan budaya”, tambah Ria. 

Sementara itu, Sadya dan suami tidak memiliki kendala bahasa dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Mereka berdua berasal dari negara yang sama, yakni Indonesia. Namun, hubungan jarak jauh telah memengaruhi pola pikir dan cara pandang wanita pecinta warna merah muda itu. 

Kehidupan di Swedia yang semuanya serba tepat waktu, terstruktur dan terencana dengan sistematis dan terukur membuat siapapun di Swedia lebih menghargai waktu, baik waktu untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, sedikit banyak kehidupan dan kebiasaan di Swedia juga memengaruhi dan mewarnai karakter suami Sadya.

Artinya, hal itu juga memengaruhi cara bersikap dan gaya berkomunikasi suami tercinta. ”Jadinya, saya menjadi lebih bisa menghargai waktu. Saya akui waktu di Indonesia terkesan lebih fleksibel dan terbiasa spontan. Ibarat kata, mau telepon kapan saja bisa dan orang yang ditelepon pun cenderung terbuka dan santai jika mendadak dihubungi mendadak. Berbeda dengan di Swedia.

Mau telepon saja harus bikin janji dulu, tidak bisa spontan. Kaget juga di awal-awal hubungan. Karena sifat hubungan ini kan pakai perasaan. Bukan hubungan profesional atau pekerjaan. Inginnya kan kapan saja bisa bicara sama suami,” urai Sadya mengenang masa awal komunikasi hubungan jarak jauh dengan suami. 

Saat ini, Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa telah menetap di Swedia. Mereka sudah hidup bersama dengan suami tercinta masing-masing. Hubungan rumah tangga jarak jauh menjadi kenangan manis. Long distance marriage relationship (LDMR) telah membuat mereka menjadi individu yang lebih mandiri, logis, tangguh, bijaksana dan pengertian dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan yang terkait urusan pribadi maupun rumah tangga.

”Karena ada hal-hal urusan domestik rumah tangga, misalnya anak sakit atau urusan rumah yang butuh keputusan cepat saat itu juga. Sementara kami ada perbedaan waktu yang ekstrim. Jadinya, terkesan tidak ijin secara lisan biarpun saya juga mengabarkan via teks. Di sinilah, sebenarnya kami telah belajar membangun rasa percaya dan menghormati keputusan yang diambil pasangan,” jelas Sadya. 

Selain itu, mereka juga selalu berusaha up-to-date dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan terampil menggunakan aplikasi sosial media terkini yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan pasangan. ”Selalu update dengan aplikasi komunikasi via sosial media terkini juga tetap saya lakukan agar bisa menjaga hubungan jarak jauh dengan keluarga di tanah air,” tambah Ria. 

Tampaknya, kalimat bijak – ”Aku ada di dua tempat, di sini dan di mana kamu berada,” karya Margaret Atwood ini dapat menggambarkan hubungan cinta jarak jauh. Secara fisik memang terpisah, tetapi dua hati yang terpisah oleh jarak tetap menyatu. Namun, untuk membuat dan menjaga agar dua hati tetap menyatu itu membutuhkan kerjasama yang baik para pelaku LDMR. 

Ria dan Sadya sekali lagi mengakui kalau LDMR itu tidak mudah. Mereka berdua menegaskan komunikasi terbuka yang dua arah dan saling pengertian itu kunci utama kalau mau sukses menjalani LDMR. ”Dan, tetap berpikir positif.

Jangan mudah terhasut oleh pikiran negatif sendiri tentang pasangan. Terus, selalu sampaikan kekesalan dan kegusaran secara terbuka. Merajuk atau silent-treament pasangan tidak menyelesaikan persoalan. Yang ada semakin bikin runyam. Usahakan bahas dan selesaikan persoalan saat itu juga,” tegas Ria. 

Kesimpulan seusai menyimak uraian Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa tentang pengalaman long distance marriage relationship (LDMR) itu, komunikasi terbuka dua arah dan saling menjaga kepercayaan itu diyakini sebagai modal utama membangun hubungan cinta yang sehat.

”Bahkan, komunikasi terbuka dan saling jaga kepercayaan itu tips terbaik kalau mau hubungan suami isteri langgeng dan rumah tangga tentram, baik saat berjauhan atau sudah seatap yang sama,” pungkas Sadya. 

Penulis: Tutut Handayani, freelance jurnalis di Indonesia yang kini tinggal di Stockholm Swedia, kontributor cerita sahabat di http://www.ruanita.com, dan dapat dikontak Instagram kabarkoe.

(CERITA SAHABAT) Ada Banyak Alasan Memilih Menjadi Vegan

Halo, sahabat RUANITA. Perkenalkan nama saya Rita, yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 16 tahun. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Florist. Saya senang membicarakan seputar nutrisi makanan dan gaya hidup, seperti tentang tema vegan, yang sekarang sedang menjadi trend tersendiri di dunia. 

Berbicara tentang gaya hidup vegan dan vegetarian, bisa jadi tak banyak orang Indonesia paham tentang kedua istilah tersebut atau membedakannya. Amat sangat disayangkan bahwa masih banyak yang mengira bahwa vegan itu Lifestyle miskin.

Mereka yang memilih menjadi vegan atau vegetarian masih dibilang miskin, terutama di Indonesia.  Banyak orang Indonesia yang awam berpikir bahwa orang tidak mampu membeli daging yang harganya begitu mahal, sehingga mereka menggantinya dengan tempe atau tahu. Menurut saya, hal ini mungkin dipicu dengan persepsi bahwa kalau dulu di Indonesia muncul pengganti protein daging, yakni tahu dan tempe.

Pemikiran tersebut masih melekat di orang Indonesia dari generasi ke generasi. Meskipun sekarang persepsi tersebut tergantikan dan lebih baik, mengingat teknologi komunikasi yang cepat dan mudah diakses, karena tempe dan tahu ternyata baik juga untuk nutrisi tubuh.

Hal tersebut menunjukkan ada peningkatan informasi nutrisi yang membaik. Informasi lainnya juga menunjukkan betapa pentingnya, kita menjaga lingkungan terutama dari segi konsumsi makan kita juga. 

Berbicara segi konsumsi, pandangan orang awam juga tampak dari kekhawatiran bahwa menikmati makanan tanpa daging itu berarti kurang nutrisi dalam hidupnya. Padahal, hidup vegan bukan berarti kekurangan nutrisi loh. Banyak sumber protein yang bisa diperoleh dari sayuran hijau atau kacang-kacangan, mushrooms atau tahu/tempe, dll.

Lainnya, seperti produk makanan laut bisa menjadi sumber makanan juga. Misalnya, seaweed yang sekarang menjadi alternatif sumber omega dan dijadikan produk makanan yang dijual di pasaran. Atau, rumput laut sendiri sedang banyak diteliti dan dimanfaatkan di industri makanan. Ini semua dimaksudkan untuk memberikan informasi nutrisi bahwa makanan tidak hanya dari daging semata. 

Kembali ke soal pilihan hidup menjadi vegan dan vegetarian, itu semua tergantung pada alasan pribadi. Ada anggapan bahwa mereka memilih hidup vegan atau vegetarian karena ingin menurunkan berat badan. Sejauh ini, belum ada teman-teman di sekitar saya yang memilih hidup vegan karena mereka ingin turun berat badan.

Kebanyakan dari mereka yang memilih hidup vegan, lebih disebabkan oleh alasan perlakuan buruk terhadap hewan. Lebih tepatnya, mereka merupakan penyayang binatang. Menurut saya, ada juga yang berpendapat mereka memilih vegan karena produksi daging itu membutuhkan banyak air, sehingga tidak ramah lingkungan.  

Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? apakah gaya hidup vegan dan vegetarian juga dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia? Menurut saya, belum banyak masyarakat luas di Indonesia memahami vegan dan vegetarian. Kalau pun mereka paham soal vegan dan vegetarian, saya pikir pengetahuan tentang vegan dan vegetarian masih minim dan belum merata.

Saya pikir orang-orang di Indonesia perlu lebih banyak informasi dan edukasi soal nutrisi sehat, tidak melulu soal daging saja. Masyarakat perlu diperkenalkan tentang sumber makanan alternatif, tidak hanya beras saja tetapi ada banyak pilihan makanan pengganti beras saja. 

Lainnya, kita bisa juga beralih untuk memanfaatkan pangan lokal dengan mulai menanam kebutuhan pangan keluarga di perkarangan rumah, misalnya cabai, tomat, dan lainnya seperti orang-orang di Jerman.

Dengan begitu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat bernutrisi dari kebun sendiri, yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya makan sayur misalnya. Bukankah aneka warna makanan dengan sayuran dapat memikat selera makan?

Sebenarnya, di Indonesia banyak juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging. Namun, alasan mereka tidak makan daging lebih disebabkan kepada ketidaksanggupan mereka membeli daging. Harga daging itu mahal sekali di pasaran Indonesia. Kesadaran orang di Indonesia untuk tidak makan daging, kebanyakan bukan karena peduli lingkungan.

Contohnya, kerabat terdekat saya di Indonesia yakni nenek dan sepupu saya. Mereka benar-benar vegan. Saya pun bertanya, apa alasan yang membuat mereka memilih hidup vegan.  Mereka pun menjawab bahwa mereka merasa trauma dengan bau amis dari darah hewan. Selain itu, mereka juga takut akan hewan.

Di sisi lain, mereka berdua tidak menyadari bahwa pilihan hidup vegan sekarang sedang menjadi trend gaya hidup di dunia sebagai akibat kesadaran akan promosi isu lingkungan hidup dan pengurangan polusi.

Hal menarik lainnya adalah ketika kita berbicara soal vegan dan vegetarian, kita harus berhadapan dengan isu praktik hidup yang sulit. Padahal, memilih hidup makan vegan dan vegetarian itu tidak sulit loh. Di Indonesia, konsumsi daging tidak seperti di Jerman.

Kita juga bisa memanfaatkan makanan asal Indonesia yang sudah mendunia, seperti tahu dan tempe misalnya. Kita punya makanan sejenis salad, mulai dari gado-gado, lotek, ketoprak, asinan, hingga rujak, dan lainnya yang bisa dinikmati tanpa konsumsi daging sama sekali. Kita punya lalapan dan aneka tumisan yang begitu nikmat dengan aneka rempah-rempah. 

Di Jerman, tempat tinggal saya sekarang, mereka telah membuat klasifikasi untuk kelompok makanan vegan dan vegetarian. Kita juga bisa dengan mudah menemukan tahu di setiap supermarket di Jerman. Produk makanan vegan tidak hanya ditemukan di supermarket khusus, tetapi sekarang tersedia hampir di setiap supermarket. 

Di Indonesia, justru sebenarnya jauh lebih mudah karena kita dikenal sebagai negara agraris yang punya banyak sayuran yang melimpah ruah. Sayuran di Indonesia bisa tumbuh dengan mudah setiap waktu, sementara di Jerman sayuran tentu tidak tumbuh ketika musim dingin.

Di Indonesia, kita punya sajian makanan vegan yang tidak membosankan seperti yang saya sebutkan di atas. Di Indonesia, kita bisa membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional atau kita bisa dengan mudahnya datang ke kebun tetangga dan membelinya dengan mudah. 

Di Jerman, produk lokal seperti pasar tradisional dijajakan tidak setiap waktu. Ada yang mingguan (Wochenmarkt), atau hanya hari-hari tertentu saja. Harga pangan yang dijual di pasar produk lokal bisa empat kali lipat lebih mahal, ketimbang di supermarket biasa.

Biasanya ini disebabkan oleh perawatan sayuran dan pangan yang berbeda dari yang dijual di supermarket. Si penjual mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan pestisida misalnya. Perawatan tanpa pestisida membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan alternatif ramah lingkungan lain untuk membasmi hama.

Seperti ekosistem natural di alam, ulat dimakan oleh ayam. Dengan kata lain, mencari musuh alami hama lain agar mengurangi populasi hama jahat.  Kehadiran pasar lokal di Jerman juga didukung oleh masyarakat setempat untuk mendukung ekonomi lokal para petani yang telah bekerja. 

Berbicara tentang vegan, kadang ada juga anggapan bahwa itu semua perlu biaya yang tak murah. Berkaca dengan kehidupan di Jerman, menurut saya, apa pun pilihan hidup yang dipilih seperti vegan, vegetarian atau pemakan daging juga memiliki biaya konsumsi yang sama-sama mahal.

Di Jerman, harga daging tidak jauh berbeda dengan sayuran dan itu bergantung pada di mana mereka membelinya. Di Wochenmarkt atau pasar “kaget” tradisional itu harga daging terbilang lebih mahal lagi, dibandingkan di supermarket.

Daging diklasifikasikan mulai dari biasa, bio, hingga daging regional misalnya. Serupa dengan daging, membeli sayuran dan buah di pasar tradisional semacam “Wochenmarkt” di Jerman pun jauh lebih mahal. Penjualan sayuran di Jerman bergantung musim. Misalnya, kita bisa menemukan spargel atau asparagus yang dijual pada waktu tertentu saja. 

Di Indonesia, harga sayuran dan daging begitu berbeda jauh. Kemungkinan hidup vegan di Indonesia atau tanpa daging mungkin jauh lebih hemat. Apalagi kalau kita bisa berkebun sendiri, tentu jauh lebih berhemat untuk mengonsumsi tanpa daging.

Berkebun juga menjadi pilihan banyak orang-orang di Jerman. Selain lebih hemat, berkebun di Jerman juga bisa menjadi lebih sehat dan lebih terjamin kualitas pangan yang ingin dikelola. Kita bisa mulai memilih benih bibit sayuran atau buah usai musim dingin, yang semuanya begitu mudah didapat di supermarket.

Kalau tentang resep mengolah makanan vegan, saya pikir itu kembali kepada preferensi masing-masing individu. Jika kita ingin berhemat, kita bisa praktik masak sendiri di rumah. Kini tersedia berbagai kemudahan untuk mencontek resep di internet. Bila kita bisa masak sendiri di rumah, tentu kita bisa menyantapnya berkali-kali.

Memasak di rumah juga jauh lebih sehat, ketimbang membeli makanan di restoran. Di Jerman, kita perlu berpikir ulang untuk jajan atau makan di restoran. Untuk tips dari saya, kita bisa mulai dengan resep berbagai menu tempe dicampur sayuran. Jika suka sayur atau berkuah, coba memasak sayur lodeh, mie Ramen atau mie Udon. Biasanya mi tersebut sangat cocok untuk dibuat vegan. Kita bisa menggantikan menu daging dengan mushroom atau jamur sebagai alternatif daging. 

Oh ya, sebagai informasi nih kalau kalian ingin punya peluang usaha di industri makanan, sahabat Ruanita bisa mencoba industri makanan vegan. Pertama kali datang ke Jerman, gaya hidup vegan tidak sepopuler seperti sekarang loh. Kini semakin banyak orang beralih ke gaya hidup vegan karena alasan lingkungan hidup, sebagaimana minat terbesar orang-orang di Jerman.

Banyak juga restoran yang kini mengusung tema vegan dan vegetarian juga loh. Mungkin di Indonesia, industri makanan vegan dan vegetarian bisa berpotensi untuk menjadi pasar tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak ingin mengonsumsi makanan daging. Misalnya, orang tidak mengonsumsi daging karena alasan agama, alasan kesehatan hingga alasan gaya hidup. 

Terakhir nih buat sahabat Ruanita, jangan pernah berpikir bahwa menjadi vegan atau vegetarian akan menjadi kekurangan nutrisi. Untuk berubah haluan konsumsi harian, kalian bisa perlahan-lahan mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.

Selain itu, kalian perlu juga berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, sebelum kalian secara total menjadi seorang vegan. Bagaimana pun kondisi tubuh setiap orang ‘kan berbeda-beda ya! Bagaimana menurut kalian semua?

Penulis: Rita, yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram lavendula_rita.

(CERITA SAHABAT) Dibuang Jangan, Disimpan Jadi Sampah

Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif. 

Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.

Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.

Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.

Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak.  Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.

Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip. 

Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.

Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan. 

Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.

Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.

Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang. 

Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya. 

Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?

Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.

Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.

Penulis: Citra, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Apakah Avoidant Personality Disorder (AvPD)Disebabkan oleh Krisis Kepercayaan?

Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Maria Frani Ayu Andari Dias atau biasa dipanggil Ayu dan saat ini bekerja sebagai perawat jiwa di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, perawat jiwa adalah perawat yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidang kesehatan jiwa atau keperawatan jiwa di Indonesia. Perawat jiwa bekerja di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit jiwa, bagian psikiatri di rumah sakit umum, klinik kesehatan mental, dan layanan kesehatan komunitas. 

Berbicara tentang Avoidant Personality Disorder (AvPD), saya ingin berbagi pengalaman saya. Sebelum saya membagikan cerita berikut, saya telah meminta consent dari yang bersangkutan. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, tujuan saya berbagi cerita adalah agar kita dapat meningkatkan literasi di bidang kesehatan mental dan mendorong kesadaran diri untuk mengecek status kesehatan mental kepada tenaga profesional. Terdapat 1.5% sampai 2.5% ditemukan kasus AvPD pada populasi warga Amerika Serikat. Ini bukan berarti bahwa AvPD dapat dianggap biasa saja oleh kebanyakan dari kita. 

Dia adalah Dian (bukan nama yang sebenarnya) yang selalu menarik perhatian saya. Saat pertama kali bertemu, kesan pertama yang saya dapatkan adalah Dian sangat pendiam dan cenderung menghindari interaksi sosial. Matanya selalu menunduk dan dia jarang sekali terlibat dalam percakapan dengan yang lain. Setelah beberapa sesi konsultasi, saya mulai mencurigai bahwa dia menunjukkan gejala yang konsisten dengan Avoidant Personality Disorder (AvPD). Psikiater dan psikolog pun memiliki satu suara, Dian memang menunjukkan tanda-tanda Avoidant Personality Disorder (AvPD).

AvPD adalah gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan dan kritik dari orang lain. Dian hidup dalam ketakutan akan penolakan sehingga lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang mungkin mempermalukannya. Sebagai seorang Perawat Jiwa, tugas saya adalah membantu dia mengidentifikasi dan mengatasi ketakutannya ini, dengan cara yang aman dan efektif.

AvPD berbeda dengan Social Anxiety Disorder (SAD), meskipun keduanya menunjukkan tanda dan gejala yang hampir sama, yaitu sama-sama menghindari atau menjauhi hubungan sosial dengan orang lain. Meskipun demikian, ada perbedaan yang sangat signifikan antara AvPD dan SAD. Orang dengan SAD menjauhi interaksi sosial karena adanya ketakutan untuk dinilai atau diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan orang dengan AvPD memiliki motivasi untuk menghindari interaksi sosial atau bahkan hubungan dengan orang lain, yang terjadi karena rendahnya harga diri yang dimiliki dan disertai kecemasan. Orang dengan SAD pasti memiliki masalah kecemasan, sedangkan orang dengan AvPD tidak selalu memiliki masalah kecemasan. 

Dian menunjukkan tanda dan gejala yang sangat jelas mengarah pada AvPD. Dia memiliki pemikiran-pemikiran negatif tentang dirinya sendiri dan sangat sensitif akan kritik dari orang lain. Ketika orang lain menilai dirinya, termasuk penilaian tergolong positif, Dian tetap tidak mampu menerimanya. Dian akan menganalisis setiap pernyataan yang dilemparkan kepadanya, langsung sangat terbebani akan pernyataan tersebut, dan kemudian menghindari interaksi dengan orang lain. Dalam dialog, Dian pun tidak mampu menyebutkan satu hal positif tentang dirinya. Ia menolak untuk bercermin. Dian selalu mengatakan bahwa, “Rambut saya tidak rapi, pakaian saya jelek, suara saya tidak merdu, jadi lebih baik saya diam saja,” dan masih banyak lagi. 

Dalam beberapa pertemuan, Dian mengatakan ia sering ditinggal sendiri ketika masih kecil, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika Dian meminta perhatian dari orang tuanya, terutama dari ibunya, Dian langsung dibentak dan dimarahi. Hal ini membuat Dian memilih untuk menjadi mandiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, perlahan menjauhkan diri dari berbagai interaksi sosial, dan bahkan enggan menjalin hubungan dengan orang lain. 

Pada dasarnya, Dian adalah seorang perempuan yang cantik dan menawan. Dian mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Namun, ia menolak untuk kontak dengan orang lain, lebih memilih untuk diam, menghindar, dan mengisolasikan diri secara sadar. Dian merasa tidak nyaman dengan orang lain yang mendekatinya, apalagi yang “penasaran” dengan dirinya. Dian sering tidak hadir dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Dian sungguh tidak merasa ada yang salah dengan tingkah lakunya ini. 

Ketika ditanya mengenai alasannya, Dian mengatakan bahwa dia takut dengan penolakan-penolakan yang mungkin akan muncul dari pertemuannya dengan orang lain. Dian merasa dirinya tidak cukup. Dian telah menilai bahwa orang lain tidak akan bisa menerima dirinya. Dian juga mengatakan bahwa dia tidak ingin merepotkan orang lain dengan berinteraksi dengan dirinya. 

Dalam kasus seperti ini, pendekatan pertama yang saya lakukan adalah membangun rasa percaya, dalam bahasa yang sering kami – Perawat Jiwa – gunakan adalah membina hubungan saling percaya. Ya, kepercayaan adalah dasar dari hubungan terapeutik yang dapat menyembuhkan dan memulihkan. Dalam kasus AvPD, sangat penting bagi klien untuk merasa aman dan diterima, sebelum mereka dapat membuka diri. Saya selalu berusaha menciptakan suasana yang tenang dan mendukung, setiap kali kami bertemu. Saya tidak pernah memaksanya untuk berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak nyaman baginya. Sebaliknya, saya memberinya ruang untuk menyampaikan perasaannya secara perlahan.

Setelah hubungan yang lebih terbuka terbentuk, saya mulai mengajaknya untuk berbicara tentang perasaannya, khususnya mengenai ketakutannya terhadap interaksi sosial. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencoba memahami sudut pandangnya, tanpa memberikan penilaian. Saya ingin dia tahu bahwa perasaannya valid dan dapat dipahami, meskipun kita berdua tahu bahwa rasa takutnya sering kali berlebihan.

Salah satu bagian penting dari perawatan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Saya menjelaskan kepada Dian tentang AvPD, termasuk apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya. Saya juga memperkenalkan berbagai strategi coping yang dapat membantunya mengelola rasa cemas, seperti teknik relaksasi dan terapi kognitif perilaku. Saya yakin, dia dapat mulai merasa lebih terkendali terhadap situasinya dengan bekal pengetahuan yang cukup.

Selain itu, saya juga mendorong Dian untuk mengambil langkah-langkah kecil dalam menghadapi ketakutannya. Misalnya, saya mengajaknya untuk mencoba berinteraksi dengan satu atau dua orang secara perlahan. Awalnya, dia sangat enggan. Namun, dukungan dan dorongan yang tepat telah membuat Dian mulai mengambil risiko-risiko kecil dalam situasi sosial. Setiap langkah kecil yang diambil adalah sebuah pencapaian besar. Saya selalu memastikan untuk mengakui kemajuannya.

Saya juga bekerja sama dengan tim multidisiplin, termasuk psikolog dan psikiater, untuk memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang komprehensif. Terapis memberikan dukungan tambahan melalui sesi terapi yang lebih mendalam, sementara saya fokus pada aspek perawatan sehari-hari dan pemantauan perkembangan emosionalnya. Kolaborasi ini sangat penting untuk memberikan pendekatan holistik bagi kemajuan Dian.

Namun, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Ada saat-saat di mana dia kembali mundur ke dalam cangkangnya, merasa putus asa, dan kembali menutup diri. Dalam momen-momen seperti ini, saya harus bersabar dan memberikan dukungan tanpa henti. Saya menyadari bahwa proses ini bukanlah instan; ini adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan pengertian.

Seiring waktu, saya mulai melihat perubahan positif pada dirinya. Dia menjadi lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain, meskipun masih dalam lingkup yang sangat terbatas. Keberanian yang mulai tumbuh ini adalah hasil dari dukungan berkelanjutan dan usaha kerasnya untuk melawan ketakutannya. Saya merasa bangga melihat dia mulai menemukan kepercayaan diri yang sebelumnya hilang.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa merawat  orang dengan AvPD  memerlukan pendekatan yang hati-hati dan penuh empati. Setiap klien memiliki tempo pemulihan yang beragam. Sebagai perawat jiwa, saya harus siap untuk mendukungnya sepanjang perjalanan tersebut. Saya juga menyadari betapa pentingnya peran saya dalam memberikan rasa aman dan dukungan emosional, yang sering kali menjadi pondasi utama bagi proses pemulihan.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa krisis kepercayaan atau trust issues dapat menjadi bagian dari AvPD, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab. Orang dengan AvPD sering mengalami kesulitan mempercayai orang lain, tetapi ini lebih karena rasa takut akan penolakan dan kritik daripada sekedar ketidakpercayaan.

Krisis kepercayaan biasanya berkembang karena pengalaman negatif di masa lalu yang membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, tetapi dalam AvPD, masalah ini lebih terkait dengan perasaan inferioritas dan kecemasan sosial. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia, saya ingin berbagi dukungan dan apresiasi kepada para perawat jiwa yang telah melayani para klien selama ini. 

Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024!

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat Jiwa dan tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Meninggalkan Pekerjaan Demi Mengejar Passion

Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius. 

Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun.  Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang. 

Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.

Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya  kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary  yang kami kirimkan. 

Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia.  Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.

Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang. 

Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.  

Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya. 

Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.

Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay. 

Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya.  Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe. 

Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha. 

Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya. 

Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah  karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.

Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan. 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora. 

Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Membangun Sikap Toleransi dalam Perkawinan Campuran?

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa  dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya  Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah  seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di  Jerman.

Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai  freelancer social media management.  Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati  alam bersama suami.  Saya juga suka berkreasi membuat konten  video untuk kanal YouTube saya.  

Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat,  untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan  campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online,  sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak  memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan  kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.

Saya telah  berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di  waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa  tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang  sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di  luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.  

Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online.  Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa  online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa  dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang  membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe,  yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.  

Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum  pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja,  tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami  memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami  tinggal berbeda kota.

Selama enam tahun berpacaran, saya sudah  pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu  dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal  budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami  semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya  masing-masing.  

Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah  karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan  terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu  agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang  sangat religius.

Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah  dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di  Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara  pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam  tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai  perbedaan tersebut.  

Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan  Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan  terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan  keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup  saya sendiri. Saya  juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga  mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.  

Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang  yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan  mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara  kami, sebagai hal yang bermakna.

Bagaimanapun, karakter dan sifat  masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal  itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga  melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan 

perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau  perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu  hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru  sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih 

berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang  cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini,  disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami  itu berbeda.  

Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak  berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi  diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga  perbedaan sifat dan karakter di antara kami.

Oleh karena itu, kami  berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan.  Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama  lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa  tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara  personal, bukan komunal.

Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga  atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak  untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur  dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu. 

Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya  selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa  mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi  budaya kolektif.  

Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur.  Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan  nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum  menikah. Saya memegang  prinsip kemurnian sebelum menikah.

Prinsip ini menjadi hal yang  menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman).  Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran  adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang  normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu  adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya. 

Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia  mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi  mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak  ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri.  Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih  masing-masing.  

Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman,  agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang  membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari  keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.

Tapi karena  sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari  kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku  beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi  terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.

Suami  juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama.  Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan  dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya  dengan tulus. 

Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak  kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya  yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang  berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada  budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku  untuk kami sebagai orang tua nanti.

Kami akan berusaha  memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak  dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda.  Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau,  mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk  membentuk cara pandang baru mereka sendiri.  

Menurut saya, kunci perkawinan campur adalah komunikasi,  toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan  kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya  sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia 

memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau  belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa  menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita  dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu  bisa dikompromi.

Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus,  pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan  perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah!  Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami  dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.  

Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk  sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda  yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam  perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.

Jika tidak ada  toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu  sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada  toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi  menemukan jalan keluar dari masalah.  

Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba  berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan.  Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu  alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.

Solusi berpisah  menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak  lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai  merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk  mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak,  bukan satu pihak. It takes two Tango! 

Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya  pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang  pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan  kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup. 

Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa  depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal  mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu  semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂 

Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.

(CERITA SAHABAT) Tua itu Hanya Angka, Semangat dan Hati Tetap Muda

Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa diberikan kesempatan untuk berbagi cerita sahabat, ketika Tim Ruanita menawari saya tema ageing, karena saya sendiri pun sudah memasuki usia di atas enam puluh tahun.

Perkenalkan nama saya Maya, lebih lengkapnya nama saya adalah Endang Sri Maya Rochayati. Sewaktu di Indonesia, saya memiliki latar belakang pekerjaan sebagai awak kabin penerbangan nasional. 

Saya pun kemudian menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis dan tidak lagi bekerja di Indonesia. Sejak tahun 2001, saya tinggal di Prancis. Tentunya, tinggal di luar Indonesia membuat saya banyak melakukan segala pekerjaan, tanpa asisten rumah tangga.

Selain pekerjaan domestik di rumah, saya juga tentu harus membantu aktivitas suami di rumah mulai dari bertukang, berkebun hingga membantu menyimpan kayu bakar. Karena latar belakang pengalaman kerja di Indonesia yang tak mudah untuk diterapkan di Prancis dan kemampuan bahasa Prancis yang tak mudah buat saya, saya putuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja.

Pada akhirnya, saya pun seratus persen memilih untuk menyibukkan diri menjadi pengelola rumah lama yang sudah kosong. Ya, saya mencoba menjadi Host AirBnB sejak tahun 2017, di mana saat itu pun usia saya sudah mencapai enam puluh tahun.

Sebagai informasi, saya juga inisiator dan administrator grup Facebook Komunitas Kawin Campur pasangan Indonesia – Prancis. Hobi saya berselancar di dunia maya dan bersosialisasi di internet, sehingga saya senang menghimpun teman-teman saya dan membuat grup di Facebook dan Instagram, mulai dari grup teman sekolah, eks kolega kerja, hingga kelompok masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah saya di Prancis, yakni Nouvelle Aquitaine.

Setiap orang punya pendapat tersendiri terkait usia tua dan penuaan. Ketika orang mendengar “usia tua”, itu semua dikaitkan dengan perubahan fisik yang tidak lagi muda seperti dulu, misalnya rambut yang semula hitam kini tumbuh uban dan mungkin berbagai fungsi kemampuan tubuh mengalami penurunan.

Bagi saya,  tua hanyalah hitungan angka. Meski tidak dipungkiri bahwa penuaan mulai saya rasakan, apalagi ketika saya sudah memasuki usia enam puluh plus plus hehehe..

Saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami penurunan fungsi pendengaran dan daya ingat. Rambut saya pun sudah mulai berganti warna putih, alias uban yang hampir merata.

Oh ya, dua tahun yang lalu, saya sempat menjalani operasi katarak. Saya pikir itu mungkin salah satu tanda penuaan. Selain itu, saya juga merasa mudah lelah. Tubuh tidak seperti dulu lagi. 

Mungkin masih ada anggapan dalam masyarakat di Asia tentang orang yang sudah tua dengan lebih memilih untuk mengurus keluarga, seperti cucu misalnya, daripada beraktivitas di luar rumah. Menurut saya, itu sah saja. Saya mengamati hal tersebut dari kakak sulung saya.

Namun, saya belajar dari dia bahwa cucu bukan satu-satunya alasan untuk kakak sulung saya yang sudah menjadi orang yang tua untuk tidak bersosialisasi di luar rumah. Pendapat kakak sulung saya: “Si cucu ‘kan masih punya orang tua”. Sementara saya sendiri memang tidak akan pernah merasakan punya cucu.

Dengan usia yang tidak lagi muda seperti sekarang, saya justru termotivasi dengan perempuan-perempuan di Prancis yang sudah memasuki usia senja.

Bahkan saya melihat mereka, ada yang berusia delapan puluh tahun dan masih fit dan sehat. Mereka tetap cantik, bugar, dan masih mengemudikan mobil.

Memasuki usia senja seperti sekarang, saya dan suami pernah membahas usia tua baru-baru ini. Di Prancis sendiri, ada banyak tantangan yang sedang dihadapi para generasi lanjut usia. Kami pun mendiskusikannya terkait biaya hidup, kekeluargaan, hingga terpikir niat untuk menghabiskan masa tua di Indonesia.

Pada akhirnya, kami berdua sepakat nantinya kami berencana menghabiskan masa tua di Indonesia. Kami merencanakannya sejak usia kami memasuki tujuh puluh lima tahun ke atas, bila kami masih hidup. 

Urusan usia adalah misteri, tetapi sebenarnya ada banyak faktor yang membuat orang yang memasuki usia senja seperti saya untuk tetap fit dan sehat. Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa kita perlu tetap menjaga aktivitas tubuh dan pikiran sejak kita masih muda.

Meski saya merasa lelah dengan pekerjaan di rumah, tetapi saya tetap mengusahakan olahraga ringan, seperti senam atau berjalan kaki secara teratur. Tinggal di luar Indonesia, bukan berarti kita bisa bersikap manja dan berpikir ada yang membantu dalam urusan pekerjaan domestik.  

Sebagai orang yang sudah tua, saya punya pengalaman yang menyentuh. Ketika saya di Indonesia, orang-orang selalu memberikan saya tempat duduk saat sedang berada di kendaraan umum. Sebaliknya, hal ini tidak terjadi di Prancis. Sepertinya, masyarakat tidak percaya dan meragukan usia saya, jika mereka melihat penampilan saya.

Bahkan saya perlu menunjukkan paspor saya untuk membuktikan berapa usia saya saat itu. Sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga berada di tengah masyarakat Prancis karena saya selalu dianggap masih muda. 

Ada orang yang menghubungkan masalah makan dengan penambahan usia. Soal makanan, kebetulan saya tidak pernah memiliki masalah hingga sekarang. Hal lainnya yang menarik, saya pernah menjadi tenaga relawan lima tahun terakhir.

Waktu itu saya membantu tim dapur pada acara festival senior di desa tetangga. Jarak lokasinya kurang lebih enam kilometer dari tempat saya. Hal lainnya tentang kehidupan di Prancis adalah masalah toleransi yang saya rasakan ketika saya menjalani bulan puasa Ramadhan.

Berbicara soal usia yang tidak lagi muda, banyak orang di masyarakat yang kadang tidak ingin menjadi tua dan selalu ingin “Forever Young”, seperti melakukan operasi plastik atau menyangkal usianya yang tidak lagi muda.

Menurut saya, itu sah dan wajar saja, bilamana ada orang yang ingin merasa dianggap muda, hingga mengecat rambut mereka, melakukan operasi plastik, dan sebagainya. Meskipun pendapat saya mengatakan bahwa hal itu menipu diri sendiri dan banyak orang.

Sebaliknya, saya pribadi lebih memilih menjadi tua secara alami. Saya bersyukur bahwa saya telah memasuki usia yang tidak lagi muda. Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya bahwa usia hanyalah hitungan angka, tetapi semangat dan hati harus tetap muda.

Terakhir, ini pesan saya kepada sahabat Ruanita semua terkait usia tua dan penuaan. Kita harus menerima dengan ikhlas ketika kita tidak lagi muda.

Jangan pula kita berusaha menjadi “orang yang tua”, hanya karena kita mengharapkan belas kasihan orang yang muda. Selain itu, saya juga berharap kepada pemerintah Republik Indonesia agar bisa memberi peluang dan kesempatan seluas-luasnya kepada para senior untuk tetap berkarya dan berkreasi, bukan malahan disisihkan sebagai makhluk yang tidak lagi berguna. 

Penulis: Sri Maya, tinggal di Prancis dan dapat dihubungi via akun Facebook Sri Maya G Ranoesoedirdjo.

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Pengalaman Konselor Sebaya hingga Inisiatif Program Konselor Sebaya di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.

Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.

Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.

Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.

Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.

Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.

Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN. 

Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.

Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.

Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya. 

Bagaimana pun,  kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.

Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.

Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.

Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut. 

Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.

Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.

Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi. 

Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.

Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.

Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.

Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang. 

Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.

Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Hanya Aku, Dia, dan Anak-anak

What others think of you is none your business. Dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa apa yang dipikirkan orang lain bukan menjadi urusan saya. Begitu yang saya terapkan dalam hidup saya agar hidup saya tidak disibukkan berbagai prasangka-prasangka yang belum tentu benar.

Saya memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Bahkan saat ini saya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengan warga negara asing yang sudah dijalani selama tiga tahun. Pernikahan kedua ini adalah off the record alias tidak diketahui oleh keluarga besar saya di Indonesia. 

Orang Indonesia memiliki budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Itu betul dan saya setuju dengan pendapat itu. Begitu kental dan akrabnya keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa mereka memiliki standar terbaik yang sudah ditetapkan bersama. Anehnya, kami semua harus mengikuti standar yang ditetapkan tersebut demi terjalinnya rasa kekeluargaan. Bagi saya, hidup itu tidak semestinya dibuat standar yang belum tentu itu baik bagi semua orang. 

Sayangnya keakraban itu sering dicurahkan dalam bentuk intervensi. Tidak hanya kepada saya, tetapi juga keluarga lain yang dianggap lebih muda. Hal ini sudah membuat saya jengah dan memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan keluarga besar saya. Keputusan ini diambil setelah saya mengakhiri pernikahan pertama saya dengan pria asal Indonesia. 

Siapa pun yang menikah selalu berharap yang terbaik hingga maut memisahkan, tetapi siapa bisa menebak jalannya takdir kehidupan. Sebagai survivor kekerasan dalam rumah tangga dengan level cukup membuat bulu kuduk bergidik, dan sebagian besar dilakukan di depan anak-anak kami, membuat saya memutuskan bahwa enough is enough, tidak akan ada lagi kekerasan terjadi. Setelah memutuskan bercerai, fokus saya adalah bekerja dan berusaha memperbaiki akibat yang telah ditimbulkan karena trauma atas kekerasan ayah mereka terhadap saya. 

Dengan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat, saya berhasil menggugat cerai suami pertama. Saya berhasil mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Saya tidak meneruskan kasus perlakuan kekerasan mantan suami ke ranah hukum karena mantan suami mengalami gangguan psikologis. Alasan gangguan psikologis ini seperti menjadi alibinya melakukan kekerasan kepada saya. Setelah saya bercerai dari suami pertama, saya putuskan untuk mencari kebahagiaan untuk saya dan anak-anak. 

Saya merasa bahwa pengalaman pahit berkeluarga di pernikahan pertama tentu mengajari saya banyak hal termasuk cara saya berkomunikasi dengan keluarga besar saya. Saya berkomunikasi dengan mereka hanya sebatas peristiwa-peristiwa penting saja. Saya pun tidak ikut campur dalam konflik yang muncul dalam keluarga besar saya. Saya tidak merasa berutang budi atau uang kepada mereka. Saya putuskan untuk mencari kebahagiaan dengan cara sendiri. 

Menjadi single mother bukan hal yang mudah pun sulit. Saya bersyukur disibukkan dengan pekerjaan yang membuat saya tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga besar. Di tengah kesibukan bekerja, saya bertemu dengan pria berkewarganegaraan Amerika, yang kini menjadi suami kedua.

Awalnya saya ragu untuk membangun bahtera rumah tangga dengannya mengingat pernikahan sebelumnya terus terang membuat saya mempunyai masalah dengan kepercayaan terhadap orang lain, terutama untuk menjalin hubungan baru. 

Namun pria ini begitu berbeda. Dia adalah pria yang jujur, setia, terbuka, dan apa adanya. Saya suka dengan gaya simple life yang dia jalani. Hal terpenting yang membuat saya jatuh hati adalah kesediaan dia untuk menerima anak-anak saya menjadi bagian dari hidupnya. 

Saya harus menyembuhkan diri saya akan trust issue, apalagi selama belasan tahun sendiri, saya sudah menemukan kebebasan, tidak perlu memikirkan hubungan yang melibatkan emosi. Mengapa saya harus menambah masalah dalam hidup saya? Akan tetapi, waktu membuktikannya bahwa kami bisa bersama. 

Kami memang berbeda secara budaya dan latar belakang, tetapi banyak hal yang membuat kami sejalan dalam pola pikir dan interest yang membangun minat kami. Kesamaan ini yang mendorong saya untuk menerima pinangan darinya. 

Kesetiaannya benar-benar ditunjukkan ketika saya perlu waktu untuk menyelesaikan masa lalu saya dan keluarga besar saya. Tekadnya untuk menunggu dan rasa kepeduliannya untuk memahami pekerjaan saya telah meluluhkan hati untuk membangun rumah tangga untuk kali kedua. 

Masa lalu sudah berlalu. Kini saya punya masa sekarang dan masa depan. Kami putuskan untuk tinggal bersama anak-anak di negeri tetangga. Saya jalani hidup tanpa intervensi dari keluarga besar. Saya pun menutup rapat-rapat cerita pernikahan kedua saya karena saya tidak ingin kisah pernikahan saya selanjutnya memunculkan potensi konflik. 

Saya sudah bahagia dengan suami dan anak-anak kini, mengapa saya perlu menunjukkan kebahagiaan ini pada keluarga besar dan dunia? Itu pendapat saya.

Beruntunglah, suami memahami keputusan saya untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengannya. Dia menghargai apa yang saya putuskan. Bagi saya, komunikasi adalah hal terpenting dalam suami-istri terutama perkawinan campuran lintas budaya seperti ini. Sekecil apa pun masa lalu yang pernah terjadi, keduanya perlu bercerita jujur agar tidak menimbulkan prasangka dan konflik. 

Mungkin orang-orang sekitar saya bertanya, mengapa saya masih tetap merahasiakan pernikahan kedua saya. Jawaban saya, ini adalah keputusan berdua. Saya hanya tidak ingin menimbulkan prasangka tentang apa yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang saya sampaikan di awal, biarlah kebahagiaan itu hanya milik saya, dia, dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup harmonis dan tanpa konflik yang bisa memperkeruh hubungan suami-istri. 

Keluarga besar memang penting yang membentuk solidaritas satu sama lain. Namun, kita perlu membatasi seberapa jauh bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal ini perlu agar bisa hidup seperti yang kita mau. Bagaimana pun saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya sudah lelah mengikuti standar terbaik yang ditetapkan. Prinsip saya, menjadi diri sendiri sudah cukup membuat saya bahagia. 

Bahagia itu bukan yang kemarin atau mengikuti standar yang ditetapkan. Bahagia itu adalah sekarang, saat saya bisa merasa bebas menjadi diri sendiri, tanpa konflik keluarga atau standar yang ditetapkan keluarga. 

Penulis: Lorelai, tinggal di Singapura dan cerita ini bisa ditemukan dalam buku yang sudah diterbitkan oleh Ruanita dan Padmedia Publisher berjudul: Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua.