(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(CERITA SAHABAT) Ayo, Dukung Orang Muda Aktif dalam Pembangunan!

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama pena saya adalah Devita. Saya tinggal di Jerman sejak dua tahun lalu. Saat ini, saya adalah pekerja di kota Stuttgart, Jerman. Saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang peran orang muda dalam pembangunan.

Sebagaimana kalian tahu bahwa PBB menetapkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Wah, itu suatu kebanggaan tersendiri buat kita yang masih muda untuk diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan bangsa dan dunia.

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin bagikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait tema ini. Menurut saya, orang muda sangat berperan besar dalam pembangunan karena generasi muda akan menjadi pembuat kebijakan, kemudian memimpin bangsa dan menentukan kemajuan sebuah bangsa di masa depan.  

Meskipun dalam realitanya di masyarakat, masih ada saja anggapan miring dan ketidakpercayaan kepada orang muda dalam bertugas. Bahkan mitos yang beredar di masyarakat seperti belum banyak makan asam garam, semakin memperlemah peran orang muda dan masih disangsikan keterlibatannya. Menurut saya, ini terjadi disebabkan oleh faktor kultur yang sudah tertanam kuat di masyarakat.

Ada anggapan bahwa usia mempengaruhi kualitas diri seseorang, sehingga orang muda dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak orang yang lebih tua. Anggapan sempit seperti ini justru membuat terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada generasi muda. 

Hal lainnya yang saya soroti seperti generation gap. Dalam bekerja bersama dengan orang muda, terkadang timbul kesenjangan pikiran, pengalaman, keahlian, yang menghambat suatu tim kerja hanya karena generation gap yang tidak diatasi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu menjembatani peran orang muda agar tidak terjadi kesenjangan sehingga menimbulkan masalah sosial dalam pembangunan. Masyarakat perlu memberikan kepercayaan seluas-luasnya untuk orang muda. Pepatah orang Jerman menyebut, “Kontrolle ist gut, Vertrauen ist besser.” Artinya, masyarakat bisa mengontrol para orang muda yang dipercayai tersebut. 

Di era seperti ini, dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mendapatkan informasi mudah tentang sosok orang muda yang berhasil di dunia dan menjadi role model. Mereka yang dijadikan panutan ini memang pantas karena menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya untuk berkontribusi positif dan aktif dalam pembangunan.

Kita perlu menyebarluaskan best practices seperti ini melalui platform media sosial, sehingga ini memberikan pengaruh positif pada orang muda. Cara kedua adalah membuat program mentoring dan pendampingan yang memungkinkan generasi muda terhubung dengan tokoh sukses tersebut.

Ketiga, masyarakat bisa melibatkan institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan orang muda dengan melibatkan tokoh muda berprestasi tersebut. Meskipun, ada juga orang muda yang tidak berhasil dan dipandang sebagai “sampah sosial” tetapi saya pikir banyak juga orang muda berprestasi yang siap mendukung orang muda lainnya.

follow kami

Orang muda yang masih dipandang sebelah mata dan kurang berpengalaman dapat dikalahkan dengan melakukan transfer knowledge antar orang muda sendiri, misalnya dengan mengadakan program mentoring, di mana para senior dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Sementara, generasi muda  juga dapat membawa ide segar dan perspektif baru. Selain itu, kita dapat juga mengadakan pelatihan bersama yang melibatkan, baik generasi muda maupun senior dalam transfer knowledge, di mana keduanya dapat saling belajar dan melengkapi.

Selanjutnya, hal terpenting yang bisa dilakukan adalah mengakui dan mengapresiasi kontribusi dan prestasi dari semua individu tanpa memandang usia. 

Salah satu pengalaman menarik yang saya lakukan adalah berkontribusi aktif dengan menjadi sukarelawan membangun desa. Kegiatan tersebut dilakukan saat saya sedang berkuliah di Malang, Indonesia . Bersama dengan organisasi dari universitas, pada saat itu, kami  melakukan program volunteer untuk membangun melalui program city branding.

Hal yang kami lakukan saat itu adalah mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, membaca untuk anak-anak. Kami juga ikut aktif dalam membersihkan lingkungan desa dan menganalisis model city branding yang tepat bagi desa tersebut. Kontribusi yang kami lakukan lainnya, yakni membuat web desa, sehingga potensi yang dimiliki oleh-oleh dari kampung tersebut dapat tersebar luas. 

Melalui website tersebut, kita dapat menyebarkan informasi terkait usaha yang dimiliki oleh warga desa seperti umkm ataupun potensi wisata alam yang dapat menjadi  tujuan wisata bagi turis untuk berkunjung ke kampung tersebut. Ini diharapkan menjadi pembangunan khususnya pembangunan desa dapat terus bergerak maju.

Menurut saya, indikatornya dapat diukur melalui beberapa hal, seperti: tingkat partisipasi pemuda dalam politik dan sosial, tingkat pendidikan dan keterampilan pemuda, kemudahan akses bagi generasi muda terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi, serta tingkat keterlibatan pemuda dalam pembangunan.

Pemerintah dapat mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung pendidikan dan pelatihan keterampilan, memfasilitasi akses pemuda, dan menggalakkan partisipasi pemuda terhadap kesempatan ekonomi, politik, sosial.

Selain itu, kita bisa memberikan ruang bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan. Program-program pemerintah perlu juga mendorong keterlibatan pemuda dalam inisiatif pembangunan lokal dan global, sehingga ini bisa menjadi sarana efektif.

Di International Youth Day, teruntuk sahabat muda Ruanita, saya berpesan untuk terus bersemangat dalam karya dan berani untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan!

Mari menjadi agen perubahan dalam membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Teruslah berjuang untuk impian-impian kita, dan jangan pernah ragu untuk berkontribusi pada masyarakat!. Kita punya kekuatan untuk mengubah dunia! 

Happy International Youth Day!

Penulis: Rufi, yang kini sedang menempuh studi S2 di Jerman dan dapat dikontak di akun Instagram zsyasdawita. Tulisan ini adalah hasil wawancara seorang teman, dengan nama pena Devita. Devita adalah seorang pekerja yang tinggal di Stuttgart, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman Jadi Pekerja Migran di Slowakia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Rinatu Siswi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Tutus. Sekarang saya menetap di Slowakia sejak tahun 2022 dan sehari-hari saya bekerja sebagai pramusaji di bar dan restoran sebuah hotel di Slowakia. Banyak orang Indonesia yang bertanya, bagaimana saya bisa memiliki kesempatan menjadi pekerja migran di Slowakia. Mungkin saja, sahabat Ruanita tidak banyak mengenal negara yang saya tempati ini. 

Ini semua berawal dari keinginan saya untuk tinggal bersama dengan suami. Suami sendiri telah bekerja selama sebelas tahun menjadi pekerja migran. Setelah kami menikah pada tahun 2018, prinsipnya, saya tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di Slowakia. 

Untuk tinggal bersama suami di Slowakia, saya putuskan untuk mengajukan visa kumpul keluarga. Pada akhirnya, saya pun bisa menetap di Slowakia. Seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa kurang nyaman hanya berdiam di rumah. Bagaimana pun saya di Indonesia memiliki riwayat selalu bekerja, meskipun saya melakukan kuliah sambil bekerja. 

Kebetulan saat itu, di musim panas, ada lowongan pekerjaan di tempat suami saya bekerja. Saya pun memutuskan untuk bekerja kembali, walaupun subjek pekerjaan yang saya pelajari sebelumnya, itu sangat berbeda dengan kebutuhan tempat kerja saya yang sekarang.

Follow us ruanita.indonesia

Selanjutnya, pihak manajemen di tempat saya bekerja pun mengupayakan perubahan visa. Semula visa saya adalah visa kumpul keluarga, kini visa saya menjadi visa kerja. Boleh dibilang, saya sudah satu setengah tahun bekerja sebagai pekerja migran di Slowakia. 

Kalau ditanya, mengapa saya memilih negara Slowakia untuk bekerja. Alasan utamanya adalah agar saya dapat tinggal bersama dengan suami. Tentunya, sahabat Ruanita pun penasaran dengan prosedur untuk warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bekerja di Slowakia. Menurut pengetahuan saya, bekerja di Slowakia dapat ditempuh dengan dua jalur.

Jalur pertama adalah menggunakan agen penyalur kerja dan jalur kedua adalah melakukannya secara mandiri. Apa yang saya alami adalah mendapatkan pekerja di Slowakia lewat jalur mandiri. Ternyata, meskipun jenis visa yang diajukan pertama kali adalah jenis visa keluarga, tetapi prosedurnya pun tidak jauh berbeda dengan visa kerja. 

Apabila kalian sudah dinyatakan mendapatkan pekerjaan yang dilamar di suatu negara, pertama kali, menurut saya adalah memastikan terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut. Mengapa? Hal ini dilakukan untuk menghindari penipuan kerja yang sedang marak belakangan ini. Meskipun sulit, tetapi kita harus mengecek dulu agar tidak menjadi korban penipuan. 

Setelah itu, kita wajib memiliki sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan posisi yang akan kita lamar. Kita perlu mendaftarkan ke notaris kopi sertifikat kompetensi sebagai proses legalisasi. Usahakan kalian mengecek daftar notaris yang dipersyaratkan di tiap kedutaan yang menjadi lokasi negara tinggal. Proses

legalisasi ini diperlukan agar kita layak dan kompetensi kita diakui secara internasional (apostille). Setelah proses legalisasi di notaris selesai, kalian bisa mengirimkan dokumen tersebut ke negara terkait untuk diterjemahkan ke dalam bahasa resmi negara tujuan. 

Apabila dokumen selesai diterjemahkan, dokumen tersebut akan dikirim lagi ke Indonesia yang disertai surat-surat yang berkaitan dengan perusahaan, misalnya kontrak kerja, surat kuasa, pihak sponsor dari perusahaan, dsb.

Selanjutnya, kita akan mendapatkan undangan wawancara dengan pihak konsulat (di kedutaan negara tujuan yang berada di Indonesia). Saat wawancara, kita perlu membawa serta pelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Selesai wawancara, akan ada proses perekaman sidik jari. Visa kerja akan terbit setelah proses di atas selesai dilakukan. 

Menurut saya, tantangan terbesar saya bekerja sebagai pekerja migran adalah bahasa. Lingkup saya bekerja dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu rekan-rekan kerja yang menggunakan Bahasa Hungaria sebagai bahasa sehari-hari, dan jenis kedua adalah customer yang menggunakan Bahasa Slowakia.

Baik Bahasa Hungaria maupun Bahasa Slowakia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda. Saya harus saya mempelajarinya dalam waktu yang sama. Ditambah lagi, pronounce kedua bahasa tersebut yang terkadang tidak sama dengan bahasa baku. Pada situasi tersebut, saya berusaha menjelaskan sesuatu dengan Bahasa Inggris.

Meskipun hampir tujuh puluh persen, customer yang datang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi saya masih terbantu dengan komunikasi bahasa tubuh. Untuk hal-hal yang masih belum dapat dipahami, saya biasanya memakai bahasa tubuh seperti mengangguk, menggerakkan tangan, dsb. Kalau customer tidak memahami komunikasi saya, saya biasanya meminta bantuan rekan kerja saya. 

Hal yang paling dirasa berbeda dari budaya Indonesia adalah budaya ketegasan. Mungkin di Indonesia sangat melekat dengan “rasa kurang enak” sehingga teguran disampaikan secara lebih lembut , yang pada akhirnya menjadikan seseorang kurang jera.

Di tengah kesulitan dalam pekerjaan, saya berusaha membentengi diri dengan banyak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan (meskipun lewat YouTube). Saya selalu berbagi segala sesuatu, uneg-uneg di tempat kerja, yang saya rasakan kepada suami. Memang masalahnya tidak cepat selesai, tetapi ini berefek memberi kelegaan. 

Awalnya keluarga saya merasa berat hati karena sejak lulus SMA saya sudah meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi dan bekerja di luar kota.

Namun, keputusan untuk tinggal bersama dengan suami adalah hal yang paling tepat, ketimbang hidup terpisah setelah menikah. Seiring berjalannya waktu, keluarga malah merasa terharu dan bangga, karena saya adalah satu-satunya anak yang bisa bekerja di luar negeri. 

Menurut saya, sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan menandatangani kontrak kerja, kita perlu mengecek dengan lebih detil terhadap kontrak kerja yang disepakati.

Misalnya, tentang job description, target jumlah jam kerja dalam satu bulan, nominal gaji yang akan diterima, fasilitas apa saja yang akan didapatkan, dsb. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak menimbulkan konflik atau perselisihan di kemudian hari. Bagaimana pun, kontrak kerja adalah landasan yang membentengi kita sebagai pekerja migran, apabila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. 

Berkaitan dengan kekerasan atau diskriminasi di tempat kerja, saya merasa sepanjang kita bisa berlaku sopan dan bertingkah laku wajar, warga lokal akan menghargai kita juga.

Pesan saya untuk sahabat Ruanita yang ingin menjadi pekerja migran di Eropa dan Slowakia pada khususnya, kita harus memiliki mental kuat dan fisik yang prima. Mengapa kita perlu bermental kuat? Kita berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda.

Selain itu, fisik yang prima juga membantu kita mengatasi cuaca dan empat musim di Eropa sangat ekstrim, berbeda dengan Indonesia. 

Penulis: Rinatu Siswi atau Tutus, pekerja migran di Slowakia dan dapat dikontak di akun sosial media Instagram @rinatusiswi atau facebook Rinatu Siswi.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(CERITA SAHABAT) Berada Dalam Generasi Sandwich Tidaklah Mudah dan Selalu Negatif

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan  dengan Miri, Sarawak, Malaysia.

Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di  sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.

Di  waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11  tahun. 

Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus  menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan  anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.

Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri.  Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti  kepada orang tua. 

Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri  dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.

Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya,  ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara  kebutuhan hidup mereka masih tinggi.

Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus  menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  menafkahi anak-anaknya. 

Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang  sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.

Follow us

Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di  Indonesia.  Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di  masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.

Meskipun secara pribadi, saya tidak punya  pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak. 

Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich,  menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu: 

1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun  hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat  memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat. 

2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari  pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat  membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran,  ketahanan, dan empati.

3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga  kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap  terhubung dan kuat. 

4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich  memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik  dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak. 

Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal.  Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk  menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.

Saya pun turut prihatin, ketika  keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan. 

Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan  menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa  menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti  dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka.  Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang. 

Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang  umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di  saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.

Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington,  Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult  Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh  ilmuwan-ilmuwan budaya barat.  Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari  8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia.  Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya. 

Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh  tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena  kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat  orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 

Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan  keadaan orang tua mereka sendiri. 

Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah.  Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran. 

Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung  semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan  keluarga menjadi tidak baik

Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan  emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami  penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. 

Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci  menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus.  Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia. 

Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung  keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab,  Allah tahu kita mampu.  Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan  orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.

Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang  sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita.  Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta  bantuan profesional ya, jika dibutuhkan.  Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya. 

Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com

(CERITA SAHABAT) Peran Orang Tua Menentukan Siblings Rivalry

Halo sahabat Ruanita, saya seorang WNI yang saat ini berdomisili di salah satu negara di Eropa barat dan saat ini keseharian saya mengikuti kursus bahasa di tempat saya tinggal. Saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai siblings rivalry

Menurut kamus American Psycology Association, siblings rivalry adalah persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, atau kasih sayang dari salah satu atau kedua orang tuanya atau untuk pengakuan atau penghargaan lain, seperti di bidang olahraga atau akademik.

Hal ini umumnya terjadi dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu. Menurut pengamatan saya, biasanya terjadi pada keluarga dengan anak yang jarak umurnya tidak jauh dari satu anak dengan anak yang lainnya. 

Saya adalah anak tertua dari tiga bersaudara, kebetulan perbedaan umur saya dan kedua adik saya tidak terlalu jauh. Kedua orang tua saya tergolong workaholic parents.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa ditinggal dengan pengasuh atau anggota keluarga lainnya, ketika orang tua saya harus bekerja. Ketika kecil, hal ini tidak begitu mengganggu saya, bahkan sebaliknya saya merasa sangat beruntung punya saudara yang selalu bisa diajak bermain bersama.

Follow us

Namun, semua hal tersebut perlahan-lahan berubah, ketika saya memasuki usia remaja. Saya selalu merasa kalau orang tua saya lebih mencurahkan perhatian mereka kepada kedua adik saya.

Contohnya, ketika ada acara kumpul keluarga, di mana yang akan selalu dibanggakan adalah kedua adik saya. Padahal kalau dibandingkan kedua adik saya, secara akademis saya lebih baik dibandingkan mereka berdua. 

Hal ini membuat saya mempunyai rasa cemburu terhadap kedua adik saya. Namun, sebagai anak tertua saya selalu berusaha menutupi hal tersebut, yang berdampak terhadap kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Hal ini membuat saya menjadi lebih tertutup saat di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu saya dengan teman-teman di luar rumah. 

Saat itu, orang tua saya menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi. Sebagai kakak, saya selalu diminta untuk mengalah, apabila terjadi pertikaian dengan saudara-saudara saya.

Sebagai seorang remaja yang sedang membutuhkan banyak perhatian, tentu saja saya merasa frustasi dan sedih karena harus memendam berbagai macam emosi yang saya rasakan sendiri.

Saya cukup beruntung karena hal tersebut tidak membuat saya terjebak dalam hal-hal negatif, karena bisa saja terjadi pada seorang remaja. 

Menurut saya, orang tua berperan besar dalam terjadinya siblings rivalry antar saudara. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya menemukan jawaban mengapa orang tua bisa menjadi penyebab terjadinya siblings rivalry.

Dalam buku Scattered Minds, Gabor Mate menjelaskan bahwa kondisi orang tua dalam menyambut kehadiran tiap anak akan berbeda-beda dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perlakuan orang tua terhadap masing-masing anak. 

Bisa saja kesiapan secara mental dan financial orang tua saya lebih baik, ketika kedua adik saya lahir dibandingkan saat saya lahir. Saya sendiri saat ini sudah berdamai dengan hal tersebut dan berusaha memahami bahwa, di tengah keterbatasan orang tua saya saat itu, mereka tetap menjadi orang tua yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya. 

Berdasarkan apa yang saya alami, menurut saya tidak selamanya siblings rivalry itu memiliki dampak yang buruk. Saya menjadi belajar untuk lebih mandiri dan selalu berusaha tidak bergantung pada orang lain.

Selain itu, saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, meskipun terkadang saya masih meminta pendapat keluarga saya. 

Namun, setiap keputusan yang saya ambil tidak bergantung pada pendapat orang lain. Saat ini, saya merasa siblings rivalry yang dulunya saya alami, tidak terlalu mengganggu pikiran saya lagi, ketika saya sedang tinggal jauh dari keluarga.

Dari pengalaman dan pengamatan saya, siblings rivalry bisa terjadi di keluarga manapun, karena hal tersebut juga terjadi dalam keluarga suami saya. Namun seperti yang saya alami, hal tersebut perlahan-lahan akan berkurang, bahkan hilang seiring bertambahnya usia, terutama saat kami masing-masing telah berkeluarga. 

Menurut saya, siblings rivalry adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun tentu saja, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari siblings rivalry. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: memberikan perhatian terhadap kebutuhan tiap anak, mengajarkan kepada anak menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka, tidak membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya di depan orang lain, dan menghabiskan waktu dengan masing-masing anak agar tiap anak merasakan kedekatan dengan orang tuanya.

Nah, sahabat Ruanita begitulah pendapat dan pengalaman saya tentang siblings rivalry yang mungkin bisa membantu.  

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT) Yoga Tertawa untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Halo Sahabat Ruanita, saya Ajeng dari Hamburg. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya dari cerita-cerita atau tulisan saya dalam program cerita sahabat Ruanita ini. Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya ikut sesi yoga tertawa atau laughter yoga secara daring.

Waktu itu tahun 2022, saya menemukan satu sesi yoga tertawa dari website kampus saya.  Walau aturan pembatasan sosial tidak seketat seperti tahun 2020-2021, tetapi pada tahun 2022 itu masih ada aturan di Jerman, yang mana acara-acara kampus hanya dilangsungkan secara daring. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari kelas yoga tertawa itu, tetapi saya butuh olahraga untuk kembali sehat secara jasmani dan rohani.

Sesi yoga tertawa dibuka oleh seorang praktisi yoga tertawa. Dia menjelaskan sejarah dan manfaat yoga tertawa ini. Menurutnya, yoga tertawa ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Sepertinya cocok untuk saya, yang mana saya sedang mengalami gangguan mental pada saat itu, dan saya ingin mulai olahraga lagi. 

Yoga tertawa merupakan perpaduan antara gerakan tubuh dan teknik pernafasan yang mungkin kita sudah kenal dari yoga, sehingga bisa membuat banyak oksigen mengalir ke tubuh dan otak kita. Yoga tertawa juga dapat mengurangi stres, menambah rileks, meningkatkan kreativitas, mengaktifkan hormon bahagia (dopamin), memperkuat sistem imun, dan mengurangi tekanan darah.

Mungkin saat kita mendengar istilah yoga tertawa, kita membayangkan orang tertawa sambil duduk bersila. Paling tidak, begitu yang saya bayangkan saat itu. Ternyata saya salah. Kami berlatih dengan duduk dan berdiri, melakukan gerakan-gerakan ringan, sambil diiringi dengan tawa.

Gerakannya sangat sederhana, bisa menepuk tangan, menjentikan jari, berputar, dan sebagainya. Tawanya boleh palsu, karena tubuh kita tidak tahu, apakah tawa yang kita lakukan palsu atau alamiah. Namun, efeknya akan sama-sama menyehatkan badan dan membuat bahagia.

Saya ingat, waktu itu latihan yoga kami dimulai dengan meniru gerakan binatang, misalkan pinguin. Pasti teman-teman tahu dong, bagaimana pinguin berjalan? Nah, itu adalah gerakan yang kami lakukan. Tidak usah berjalan jauh, hanya satu-dua langkah ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, dan berputar. Jangan lupa, dilakukan sambil tertawa. 

Pertama-tama, memang saya merasa aneh sekali melakukan tawa palsu, apalagi bersama orang-orang tidak dikenal. Sebagian besar orang yang hadir bersama saya berlatih yoga ini, mematikan video dan mikrofon. Lama-lama, saya tertawa sendiri, karena lucunya gerakan yang saya lakukan. Saya juga menertawakan yang sedang melakukan tawa palsu. Tawa yang kami lakukan juga beragam, tidak hanya “ha ha ha” tetapi juga “hi hi hi”, “he he he”, dan “ho ho ho”. Jadi, tiap gerakan bisa diganti ragam tawanya agar tidak bosan.

Menurut saya, yoga tertawa ini seperti sedang bermain. Kita bisa saja berfantasi membuat gerakan sendiri. Contohnya, gerakan membuat minuman. Anggap diri sendiri seorang bartender yang sedang mengocok botol minuman. Setiap gerakan mengocok minuman, kita tertawa dengan “ha”, ulangi tiga kali. Setelah itu, lakukan gerakan minum, sambil tertawa “ha ha ha”. Gerakan lain bisa kita ambil dari aktivitas sehari-hari, misalnya bertelepon, mencuci tangan, dan sebagainya. Semuanya bisa dilakukan sambil tertawa.

Setelah 10-15 menit melakukan yoga tertawa, saya benar-benar merasa lelah. Memang, tertawa membutuhkan tenaga, tapi di sisi lain saya merasa lebih “bangun”, menjadi lebih bertenaga, dan juga lebih bahagia. Awalnya, saya merasa aneh dengan tawa palsu, tetapi saya benar tertawa alamiah setelah itu. Mungkin karena gerakan-gerakannya yang lucu (dan aneh). Memang, tertawa itu menular, walaupun palsu. 

Hal lain, yang saya suka dari yoga tertawa adalah kita juga melakukan afirmasi positif ke diri sendiri. Gerakannya sederhana saja, misalnya mengelus lengan kita sambil bilang, “very good”. Atau kita melakukan gerakan lain sambil mengatakan, betapa kerennya kita. Kalau latihannya seperti ini, bagaimana ini tidak baik untuk kesehatan mental kita?

Setelah latihan sekali dengan praktisi yoga tersebut, saya mengajak sahabat saya yang tinggal di luar kota untuk melakukan yoga tertawa ini bersama saya. Kami membuat janji untuk bertemu secara virtual. Syukurnya, latihan yoga tertawa ini benar-benar sudah mendunia, seperti banyak yang ditampilkan di YouTube tentang ini. Awalnya, sahabat saya tertawa geli melihat gerakan-gerakan yang ditampilkan, apalagi dilakukan sambil tertawa palsu, tapi dia tetap mengikuti. 

Pada akhirnya, kami benar-benar tertawa bersama, sambil melakukan yoga tertawa ini. Setelahnya, kami benar-benar lelah, seperti habis melakukan olahraga. Tawa kami bukan lagi palsu, melainkan benar-benar alamiah. Kami sampai merasa takut ditegur tetangga, karena terlampau berisik. Sayangnya setelah itu, kami hanya bertemu secara daring 2-3 kali untuk latihan yoga tertawa, karena kesibukan kami juga.

Yoga tertawa ini juga bisa dilakukan oleh semua umur. Yoga tertawa ini juga sangat cocok untuk anak-anak, karena gerakannya yang mirip seperti permainan. Saat berlibur ke Indonesia, saya sempat melakukan yoga tertawa dengan keponakan saya, yang berumur lima tahun. Kami tidak berhenti tertawa. Orang tua juga bisa melakukan yoga tertawa ini, karena gerakannya sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.

Di Jerman, sudah ada banyak klub atau organisasi yoga tertawa. Mereka adalah praktisi yoga tertawa profesional. Tidak hanya melakukan yoga tertawa di rumah, tapi juga memberikan pelatihan ke orang lain, yang ingin jadi pelatih bersertifikat. Misalnya, orang yang tertarik menerapkan di perusahaan, yang ingin karyawannya bahagia; atau diundang ke acara privat seperti pesta ulang tahun. Praktisi yoga tertawa yang memandu kami di acara kampus juga berasal dari salah satu klub tersebut. Dia memang merupakan pelatih bersertifikat.

Ada juga klub yoga tertawa yang secara rutin latihan di taman umum. Semua orang boleh berpartisipasi dengan memberikan uang secara sukarela. Sampai saat ini sayangnya, saya tidak pernah melakukan yoga tertawa lagi. Saya bahkan lupa ada yoga tertawa ini, kalau tidak ada tema ‘tertawa baik untuk kesehatan mental’ yang dipersiapkan oleh Ruanita. 

Saya ingin sekali suatu saat nanti, saya dapat mengikuti acara yoga tertawa secara langsung. Saya berpikir, mengikuti yoga tertawa daring saja sudah lucu, apalagi dilakukan secara luring. Saya membayangkan, kita dapat tertawa massal bersama orang lain di alam terbuka. Apakah Sahabat Ruanita tertarik untuk coba yoga tertawa?

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Bahagia dan Ikhlas Lewat Aksi Donor Darah

Halo, sahabat Ruanita. Saya adalah Maria Magdalena Rudatin atau yang mungkin sebagian dari kalian kenal saya dengan nama panggilan Rudatin. Sehari-hari saya bekerja secara sukarela sebagai tenaga admin di Ruanita dan pekerjaan paruh waktu lainnya di Indonesia. Saya juga merawat dan melayani ibu saya yang sudah berusia 86 tahun. Saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat, apalagi tema yang diangkat adalah donor darah. Boleh dibilang saya adalah pendonor darah tetap dan saya senang melakukannya. 

Setiap ada program donor darah di paroki saya, maka saya akan ikut serta untuk mendonorkan sebagian darah saya. Ya, saya mulai melakukan donor darah sejak saya masih duduk di bangku SMA di Semarang, Jawa Tengah. Saya juga punya kartu donor darah yang diterbitkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Jumlah donor darah saya hingga saat ini di tahun 2024 sudah mencapai 40 kali banyaknya, berdasarkan kartu donor darah yang ada. Selama saya mendonorkan darah, saya bersyukur Tuhan memberikan darah baru untuk kesehatan saya dan saya bisa membantu sesama saya lainnya.

Saya aktif mendonorkan darah, karena darah manusia pemberian Tuhan, sehingga sangat baik buat saya memberikan darah untuk sesama. Saya yakin Tuhan pasti memberikan darah baru lagi apabila saya mendonorkannya. Aktivitas donor darah adalah aktivitas yang sangat mulia dan berperikemanusiaan kepada sesama manusia.

Follow us

Darah adalah salah satu faktor penentu kesehatan dalam hidup manusia. Itu sebab, kita perlu merawat dan menjaga kesehatan darah, sehingga kita bisa hidup sehat. Darah yang sehat menjadi aset bagi diri sendiri dan sesama yang membutuhkan. 

Ada banyak alasan, mengapa ada orang-orang seperti saya senang sekali mendonorkan darahnya. Pertama, bisa jadi orang tersebut sadar dan sukarela memberikan darahnya sehingga menjadi kebiasaan positif untuk keberlangsungan hidup orang lain. Kedua, ada banyak literatur yang menjelaskan bahwa mendonorkan darah dapat memberikan efek sehat bagi pendonornya sendiri. 

Bagaimanapun,  tubuh pendonor akan memproduksi darah baru lagi setelah 3 bulan donor darah. Oleh karena itu, ada anjuran pula bahwa kegiatan donor darah bisa dilakukan rutin setiap 3 bulan dalam setahun. Alasan terakhir, saya pikir mendonorkan darah adalah ucapan syukur pada Tuhan atas darah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Darah itu gratis yang Tuhan berikan pada kita, sehingga  sudah seyogyanya pendonor, merasa bahagia bila mereka berbagi hidup dengan sesama lainnya melalui donor darah. 

Bagi pendonor seperti saya, donor darah adalah salah satu bentuk solidaritas  kemanusiaan. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena darah adalah sumber utama dalam diri manusia yang sangat dibutuhkan untuk hidup. Darah seperti “bahan bakar” untuk menggerakkan mesin, bila kita umpamakan. 

Darah merupakan daya kekuatan dalam diri manusia untuk melakukan  berbagai aktivitasnya, sehingga manusia sangat diwajibkan untuk menjaga  kesehatan tubuhnya, supaya aliran darah dalam tubuh berjalan dengan  lancar, seperti menjaga pola makan dan minum, melakukan gaya hidup  sehat. Mendonorkan darah adalah bentuk wujud kepedulian manusia kepada sesama manusia, karena manusia disadarkan untuk mau berbagi atau memberi dari kepunyaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan darah dalam dirinya. 

Memang betul bahwa tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Saya termasuk beruntung bisa mendonorkan darah saya, sejak saya masih duduk di bangku SMA di Indonesia. Di Indonesia, persyaratan usia pendonor darah adalah 17 tahun atau yang memang diizinkan oleh dokter. Pengalaman pertama saya donor darah adalah saat saya masih berusia 16 tahun dan dokter mengizinkan saya melakukan donor darah, meski usia belum genap 17 tahun.

Saat itu, tenaga ahli melakukan pemeriksaan HB yang waktu itu dilakukan di jari dengan ditusuk jarum. HB adalah Hemoglobin, yakni zat dalam darah yang menyebabkan darah cair  atau darah kental. Tetesan darah yang ke luar diteteskan di gelas yang berisi zat penentu HB.  Bila tetesan darah langsung ke dasar gelas maka dinyatakan HB darah termasuk kategori baik. Sebaliknya, bila tetesan darah mengambang pada gelas, maka  dinyatakan HB berkategori rendah. Kegiatan mengukur HB dengan bantuan  cairan dalam gelas ukur berlangsung cukup lama. 

Seingat saya, baru sekitar tahun 2008 sudah ada alat untuk mengukur HB menggunakan secara otomatis. Caranya, yaitu setetes darah diletakkan di kaca kecil, lalu dimasukkan ke alat pengukur HB. Nilai ukuran HB yang diizinkan untuk pendonor darah baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka yang memiliki HB sebesar minimal HB 12,5 minimal. Ini pun sudah menunjukkan kategori darah yang baik, karena cair. 

Tata urutan untuk mengikuti donor darah di Indonesia antara lain:

1) Berbadan sehat dengan berat badan minimal 45 kilogram dan berusia minimal 17 tahun. 

2) Bersedia mendaftarkan diri sebagai pendonor dengan mengisi formulir merah jambu dari petugas aksi donor darah. Pendonor wajib menjawab pertanyaan yang disediakan oleh tim Palang Merah Indonesia dan bersedia menandatanganinya. 

3) Pemeriksaan HB (Hemoglobin) oleh petugas dengan menusuk salah satu  jari untuk diambil setetes darah dan diperiksa dalam mesin cek HB selama  3 detik lalu terbaca jumlah HB pendonor. 

4) Pemeriksaan HB sekaligus untuk pemeriksaan golongan darah pendonor (A, B, AB, O). 

5) Pemeriksaan tensi tubuh pendonor harus sesuai aturan Kesehatan adalah  100-160 (Sistole) dan 70-100 (Diastole) yang dilakukan oleh dokter umum. 

6) Dokter Umum menulis jumlah darah yang akan didonorkan sekitar 250 ml – 350 ml setiap pendonor sesuai hasil pemeriksaan Dokter Umum. 

7) Pendonor siap untuk melakukan donor darah dengan berbaring pada tempat tidur dan jarum donor dimasukkan ke lengan pendonor. Untuk aktivitas donor darah, biasanya pendonor memerlukan waktu 8 menit. 

8) Setelah donor darah selesai, pendonor diberikan makanan kecil dan minum  untuk menstabilkan daya tahan tubuh dan kemudian petugas akan menyerahkan Kartu Donor sesuai golongan darah pendonor. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja aktivitas donor darah bisa bermanfaat bagi pendonor sendiri. Kita bisa meningkatkan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh karena terjadi perputaran darah baru yang telah didonorkan. Biasanya saya mengalami tubuh saya merasa lebih segar, asalkan pola makan dan minum kita sesuai dengan pola hidup sehat. 

Tentunya, kita memiliki daya pikir yang lebih positif karena tingkat kesadaran untuk berbagi kepada sesama. Selesai mendonorkan darah, hati saya selalu senang dan bangga bisa melihat sesama  menjadi lebih sehat setelah mendapatkan bantuan donor darah. Ini seperti mengingatkan saya akan tanggung jawab moral dan cinta kasih kepada manusia sesuai keyakinan saya. Bagi saya, donor darah adalah cara saya menghargai arti bahwa “Hidup adalah hadiah Tuhan untuk berbagi”. 

Setelah berkali-kali melakukan aktivitas donor darah, saya pastinya punya pengalaman berkesan dalam hidup. Suatu waktu ada teman se-paroki dengan saya, meminta saya untuk menjadi pendonor darah untuk neneknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang nenek saat itu sedang dirawat di salah rumah sakit di  Jakarta. 

Saya bersyukur, petugas menerima saya untuk bisa melakukan aktivitas donor darah setelah dilakukan pemeriksaan  syarat-syarat dari dokter di Palang Merah Indonesia (PMI). Pemeriksaan ini dilakukan di PMI, yang berlokasi di Jalan  Kramat Raya Jakarta Pusat. Sebagai informasi, bila kita ingin melakukan aktivitas donor darah untuk membantu orang lain, maka kita perlu datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di setiap daerah. 

Singkat cerita, sang nenek tersebut menerima donor darah yang saya bagikan, kemudian nenek kembali sehat.  Hemoglobin si nenek naik. Beberapa hari kemudian, nenek tersebut dipanggil Tuhan. Saya terharu bahwa nenek boleh menerima donor darah dari saya, walaupun pada akhirnya dia harus berpulang. Itu adalah kehendak Tuhan. 

Pengalaman lainnya adalah bahwa saya tidak selalu berhasil mendonorkan darah loh. Saya kadang pernah ditolak, meski niat saya baik untuk mendonorkan darah saya. Biasanya itu terjadi karena masalah kadar HB saya yang tergolong rendah. Itu mungkin disebabkan karena saya kurang mengonsumsi sayuran hijau. Padahal  bila saya berhasil mendonorkan darah, saya merasa bahagia dan ikhlas. 

Berdasarkan data, pengetahuan masyarakat akan donor darah sudah baik hanya  saja kesadaran dan pengalaman mendonorkan darah yang masih belum baik, termasuk ada  berbagai persepsi/mitos yang salah. Oleh karena itu, saya senang Ruanita mengangkat tema donor darah ini dan saya berkesempatan untuk menceritakan pengalaman saya menjadi pendonor darah. 

Menurut saya, kita perlu memberi edukasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, sebagaimana slogan yang selalu saya ingat setiap aktivitas donor darah. Slogan itu adalah: “Setetes Darahmu, Menghidupkan Sesama.”

Ini mungkin terdengar klise, tetapi saya pikir ide berikut bisa menjadi saran saya sebagai pendonor kepada pemerintah Indonesia. 

a) Membuat materi ajar di bidang pendidikan, misalnya pelajaran agama dan atau pelajaran kewarganegaraan tentang tema mendonorkan darah. 

b) Memperbanyak edukasi dan kampanye bahwa aktivitas donor darah itu menyehatkan dan  menyelamatkan nyawa manusia. 

c) Membuat aksi kemanusiaan donor darah yang digelar di tingkat 

pemerintahan kota dan pemerintahan daerah, mulai tingkat Rukun Warga (RW) hingga Kecamatan.

d) Melakukan kegiatan sosial aksi donor darah di berbagai kesempatan, seperti Tujuhbelasan, Hari Internasional Kesehatan, dsb.  

Sahabat Ruanita yang hebat, kita perlu bersyukur untuk berkat sehat dan nafas  hidup yang kita terima dari Sang Pencipta. Rasa syukur tersebut bisa diwujudnyatakan, salah satunya adalah memberi kehidupan kepada sesama lain melalui aksi donor darah. Dengan mendonorkan darah yang kita miliki, kita sudah menyelamatkan sesama kita.  

Penulis: Rudatin, yang dapat dikontak via info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Lagom dan Pengalaman Saya Tinggal di Swedia yang Perlu Kamu Tahu

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Kiki, yang sekarang menetap di Swedia sejak 4 tahun lalu. Saya berasal dari Jakarta. Sebelum menetap di Swedia, saya pernah tinggal di Penang, Malaysia selama 2 tahun. Di Swedia, saya bekerja sebagai Full Time Employment di Start Up company yang bergerak di industri electronic recycling. Maaf, kalau cerita saya bercampur antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. 

Berbicara soal Lagom, saya tentu dengan senang hati menjelaskannya kepada kalian. Lagom is a Swedish word that means balance living  “not too little, not too much, just right”. It provides simple solutions by living in harmony to juggle everyday priorities, reduce stress, eat well, and save money, with lessons on the importance of downtime, being outdoors and Sweden’s coffee break culture.

Jatuhnya, Lagom menurut saya lebih pada keseimbangan hidup dalam mencapai kesejahteraan batin. Banyak orang di luar sana berpendapat, bahwa orang-orang Swedia senang dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan, seperti Greta Thunberg, anak muda yang aktif menyuarakan Friday for Future demi keberlanjutan bumi. Saya merasakan itu betul sekali.

Swedish people like balance in all aspects, for example recycling, they love their nature and they keep their environment clean from trash. So recycling trash has become a habit and part of their life.  As I mentioned, they love their nature, they want to keep their nature preserved and clean from trash and grow their own food. 

Di Indonesia, untuk melihat nyata filosofi Lagom dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita lihat di produk-produk yang ditawarkan di IKEA. Orang-orang Swedia memang begitu adanya membangun alam lewat produk-produk mereka yang simpel. Swedish people like to “build”. It’s in their nature.

So Ikea is one of their concepts in life, Ikea is great innovation and also affordable. I also like Ikea, they made us think and to be creative to resemble our own purchase.

It’s common here to see Ikea products in all houses because it is affordable. They also like to build their own house and garden by hand, they do it by themselves for years. 

Follow us

Speaking of Lagom, it’s all about a balanced lifestyle. Exercise while being fit is important for everybody due to keeping your mind healthy from work stress, specially with long winter time, it’s easy to get depressed just by staying at home, so being more active is important. 

By living lagom you can:

Improve your work-life balance

Free your home from clutter

Become a more conscious consumer

Savor good food the Swedish way

Enjoy healthy exercise in nature

Live a happier and more balance lifestyle

Lagom memang hal yang baru buat saya, yang dulu sibuk bekerja sebelum tinggal di Swedia. Namun di sini, kita harus bisa hidup dalam harmoni dan banyak melakukan aktivitas outdoors, bahkan hanya sekedar “Fika”, kebiasaan orang-orang Swedia untuk menikmati istirahat sembari minum kopi.

Lagom or balance is applied to their life, such as work balance, personal life balance too.They also have Fika habits at the workplace, like in my workplace, we have in a day 2 times fika time, 1 time quick break (elva fika), and lunch break.

I didn’t have this in Indonesia, but here it is important to have fika, so you don’t work all the time and get stressed but you also have balance to do break/fika. These are only a few examples.

Awalnya, saya merasa tidak mudah juga beradaptasi dengan budaya di Swedia. Boleh dibilang ini seperti crossed culture buat saya. 

Tantangan saya tinggal di Swedia seperti Bahasa Swedia yang tidak mudah dan bagaimana beradaptasi untuk menyesuaikan budaya kerja orang-orang Swedia sendiri. 

In a relationship, man and woman they are equal, they share home chores and even financially and take care of children equally. Orang Swedia amat menjunjung kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan.

Ada sejarahnya di mana laki-laki dan perempuan, sama-sama punya andil dalam membangun negara Swedia. Women and men are equal here. And I see many women here are more independent than women in Asia. They try to build this culture and values from a long way to make women have equal rights from men. 

Ada yang menarik ketika tinggal di Swedia. Banyak orang berpendapat, orang Swedia cenderung pemalu. Itu betul, mungkin tidak mudah juga buat mereka membangun komunikasi dengan orang asing. Most yes, but not everyone. Its common here to see Swedish people don’t show their expression or emotion, they are very well reserved, but after 2 or 3 drinks they will talk and become friendly hahahhahaha…..

Ini tipsku terhadap orang-orang Swedia: Respect and be nice are the basic fundamentals to make friendship or engage with people”. Never afraid to say Hello first and smiling as Indonesian identity. You need to speak up if things are slow or incorrect. Buat kalian yang tidak bisa Bahasa Swedia, no worries. Mereka bisa Bahasa Inggris dengan baik.

You need to learn the language so you can communicate with Swedish people who can not speak English, also it helps you to find an easy job.

Menurut saya, orang Swedia cenderung menghindari konfrontasi. They avoid confrontation, yes, but it’s not common for Swedish people to show expression or emotional feelings, most of them are very reserved people.  Hal menarik lainnya adalah bagaimana mereka menempatkan anak-anak mereka di keranjang bayi, meskipun itu adalah musim dingin.

Mungkin kita berpikir, anak-anak akan masuk angin dibiarkan ditaruh dalam keranjang bayi di luar, tetapi tidak untuk mereka. Additionally, in Sweden you will see many men/fathers taking their babies out with strollers to park or out to nature and that’s a common view here. 

The last, Sweden is a beautiful country no matter what the season is, alot to explore and to learn from it. Ini saran saya kalau ingin memahami negara Swedia umumnya. You need to learn patience because sometimes the Swedish system is very slow.

You need to understand that you live in a different country and life, so respect locals and respect their system and culture. It’s a big challenge but also an adventure, especially for young people to study here. It’s a big opportunity to learn a lot of new things, don’t keep closed minded but be open, always give respect and enjoy the ride even with the long winter time. Hope it informs!

Penulis: Kiki, tinggal di Swedia dan dapat dikontak via akun IG: little_monkey2016

(CERITA SAHABAT) Ayo, Jadi Indonesian Cultural Agents, di Manapun Berada!

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan Rufi, seorang Mahasiswi S2 yang sedang studi di Jerman. Saya tertarik menuliskan cerita sahabat bertema Cultural Diversity berdasarkan hasil wawancara saya berikut. Orang yang saya wawancarai bernama Anky. Dia adalah seorang Researcher dan Mahasiswa Postgraduate di  Delft di Belanda. Sejak 5 bulan lalu, dia pindah dan menetap di Belanda. 

Berbicara tentang Cultural Diversity, pertama-tama, kita ingin tahu dulu definisi dari Cultural Diversity tersebut. Menurut pengamatan Anky, Cultural Diversity adalah keanekaragaman pemikiran atau pola pikir, kebiasaan, dan sikap yang membentuk adanya keunikan pada diri setiap orang. Saya sependapat sih, bahwa setiap orang itu pada dasarnya unik. 

Namun, mengapa ya Cultural Diversity itu perlu dilestarikan dan dijaga? Ada empat hal yang saya tangkap dari Anky. Pertama, Cultural Diversity dapat membuat kita mengenal dan belajar tentang keberagaman budaya tersebut. Kedua, tentunya keragaman budaya dapat menciptakan sikap respect satu sama lainnya.

Ketiga, Cultural Diversity pun dapat semakin menguatkan identitas diri kita. Tentunya, kita dapat menentukan apakah perbedaan yang ditemui tersebut sesuai dengan nilai-nilai atau identitas yang sudah terbentuk pada diri kita atau tidak. 

Hmm, apakah mungkin Cultural Diversity akan punah? Menurut Anky tidak bisa. Cultural Diversity merupakan hal yang  sudah melekat pada setiap diri setiap individu. Anky percaya kalau kodratnya setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing. Misalnya, cara berpikir seseorang yang unik dan beragam dan merupakan hal yang akan terus exist.

Hal tersebut juga diperoleh dari kebudayaan  yang telah melekat pada setiap diri manusia sejak lama. Contoh lainnya konteks agama, Anky menjelaskan terdapat banyak dalil-dalil yang ada dan cara setiap individu dalam menginterpretasikan dalil-dalil tersebut, yang tentunya akan berbeda-beda. Mengapa? Hal ini dikarenakan dari kebudayaan yang sudah melekat dari setiap individu.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, misalnya Anky saat ini sedang berkuliah di Belanda, tentunya dari cara Anky  menyampaikan pendapat pada saat di kelas pun dipengaruhi  oleh kultur saat Anky belajar di Indonesia. Begitupun teman-teman kelas Anky  yang berasal dari negara-negara yang berbeda.

Menurut Anky, cara mereka yang berbeda-beda juga terbawa oleh nilai-nilai dan keunikan identitas masing-masing yang  dipengaruhi oleh perbedaan budaya. Jadi, cultural diversity itu akan terus ada (exist) dan tidak bisa punah. 

Tidak usah jauh-jauh berbicara tentang keanekaragaman budaya di negara lain, Indonesia sendiri punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Anky berpendapat, ini akan terus exist dan sulit untuk terkisis.

Namun, tentunya bisa terus dilestarikan keberadaannya. Salah satu caranya, adalah kita bisa menyadari keberagaman adalah hal yang akan terus ada. Kita harus respect dengan setiap individu yang beragam tersebut. 

Menurut Anky, dimana pun dia berada, maka dia sudah merepresentasikan keberagaman budayanya sendiri. Contohnya, kultur main hape di depan kasir di Jakarta adalah hal yang biasa saja. Namun, pada saat Anky kemarin  lagi berbelanja di toko Turki, dia ditegur untuk jangan bermain hape pada  saat di depan kasir.

Follow us

Tentunya, ini merupakan contoh kecil dari dua kultur yang  berbeda. Pastinya kita menjadi respect dan menghormati  keberagaman budaya tersebut.

Meski begitu, keragaman budaya masih saja memiliki tantangan tersendiri, terutama buag sebagian orang yang masih malu dengan budayanya sendiri, apalagi  saat kita tinggal di luar Indonesia. Hal ini cukup relate dengan salah satu materi kuliah yang Anky sedang pelajari.  Jadi, di setiap tempat ada terms institution (Rule in use).

Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempraktikkan peraturan  dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tempat punya institusi (norma/peraturan) yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, yang terpenting  adalah bagaimana caranya kita dapat flexible dan beradaptasi dengan  institusi yang ada, di tempat kita berada saat ini. Namun, jika konteks  dari aturan tersebut bertentangan dengan budaya Indonesia dan personal values yang telah kita pegang selama ini, menurut Anky,  sebaiknya kita tidak meng-adjust begitu saja aturan-aturan tersebut. 

Baik saya maupun Anky, sama-sama warga Indonesia yang sedang ada di luar Indonesia. Kita berharap agar warga Indonesia di mana saja sadar akan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.

Menurut Anky, kita perlu membangun perasaan seperti: “merasa memiliki atau bangga” akan kebudayaan Indonesia melalui berbagai cara.  Salah satunya nih, kita bisa melakukan melalui campaign yang bertujuan untuk  membangun awareness kepada setiap warga, bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam dan kaya.  

Sahabat Ruanita tahu tidak, kalau ada Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia loh. Pesan kami berdua, adalah mari kita mengajak Global Southern countries untuk bersatu haluan bersama! “Teruntuk Global Northern countries, less your ego and show more  respect to others!”

Kita adalah perempuan-perempuan keren! Karena kita mampu untuk relatively hidup  independen di negara-negara yang diverse ini. Kita harus tetap semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality! Ayo, terus  semangat menjadi Indonesian culture agent di mana pun kita berada.  

Penulis: Zukhrufi Syasdawita, atau yang sering dipanggil dengan nama Rufi yang menulis berdasarkan  wawancara dengan Anky. Rufi adalah seorang mahasiswa di University of Passau, Jerman.  Dapat terhubung dengan Rufi melalui akun instagram zsyasdawita. 

(CERITA SAHABAT) Berawal dari Kuliah Teknik Informatika di Jerman, hingga Ide Berwirausaha di Dunia Digital di Indonesia

Halo semuanya sahabat Ruanita, nama saya Natasha Hartanto dan sekarang saya tinggal di Jakarta, Indonesia sejak tahun 2023. Sekitar delapan tahun saya menetap di Jerman, saya akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia. Saat ini saya sedang membangun usaha saya di bidang pendidikan dan teknologi kesehatan. 

Saya berkuliah di jurusan Informatika (IT) atau dalam Bahasa Inggris studi saya dikenal sebagai Computer Science di Universität Passau, Jerman. Awalnya, saya tertarik masuk jurusan itu saat diperkenalkan pertama kali dengan kompleksnya programming saat saya berada di Studienkolleg di Halle, Jerman. Saya masuk kuliah pada saat Wintersemester 2017/2018. Menurut saya, berkuliah di jurusan Informatika itu sepertinya susah-susah gampang.

Kesulitan studi saya sebenarnya lebih pada bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah, yang perlu diselesaikan dengan programming. Hal yang membuat studi saya cenderung lebih mudah dari jurusan lain adalah karena Bahasa Jerman yang digunakan tidak terlalu mendalam. Mayoritas kosakata dalam studi saya masih menggunakan Bahasa inggris, atau langsung bahasa pemograman dan matematika. Kemampuan Bahasa Jerman saya tidak perlu semahir seperti jurusan lain di kampus saya, seperti misalnya jurusan filsafat atau hukum. Sebagaimana informasi berseliweran yang sudah sering didengar di Jerman, kalau jurusan teknik dan matematika itu sulit sekali. Jadi, kalau kalian ingin berkuliah di jurusan IT, semangat ya! 

follow us

Setelah saya berhasil menyelesaikan studi, saya sempat bekerja di Jerman beberapa tahun untuk mendapatkan pengalaman kerja. Saya pun kembali ke Indonesia dan saya sekarang berharap bisa mendirikan usaha saya sendiri. Saya sangat berharap usaha saya dapat sukses, setidaknya saya bisa membantu minimal 50 juta penduduk Indonesia, terutama anak muda dalam menavigasi masa depan mereka. Usaha saya dimulai dari membuat sistem agar cara berpikir kita semakin strategis, untuk membuat keputusan yang lebih baik (strategic decision making), dan tentunya juga di bidang kesehatan mental dan fisik. Misalnya, cara menghindari break outs, agar bisa lebih memahami siklus biologis tubuh.

Saya merasa beruntung dengan adanya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang sangat pesat sekarang ini, sehingga progress proyek-proyek saya cukup terbantu. Selain itu, saya juga merasa koneksi dengan banyak orang itu sangat penting. Jadi, itu yang saya lakukan sekarang. Bila ada kesempatan, saya ingin berusaha untuk mengenal lebih banyak orang yang mungkin bisa berjalan, berdampingan dengan visi dan misi saya.

Kalau saya mengingat jurusan saya dulu, saya berkuliah IT di Universität Passau dengan proporsi jumlah mahasiswa perempuan sekitar 10%  sampai 20% dari keseluruhan jurusan IT di angkatan saya. Saya setuju bahwa minat di bidang teknik informatika secara general kurang banyak diminati mahasiswa perempuan, terutama di bidang IT dan mesin. Menurut saya, hal itu sangat dapat dimengerti. Saya dan beberapa mahasiswa perempuan yang berkuliah di jurusan teknik informatika (IT) yang dikenal, juga menyadari perbedaan angka partisipasi perempuan yang ingin studi di jurusan teknik informatika. 

Berdasarkan pengamatan saya, peluang perempuan untuk bekerja di dunia digital di Jerman sangat besar. Alasan ini yang selalu memotivasi saya dan para mahasiswa perempuan di jurusan teknik informatika (IT) untuk mencoba peruntungan. Kami tahu, bahwa ada kebijakan di banyak perusahaan untuk menerima karyawan perempuan. Ditambah pula, bekerja di bidang teknologi informatika juga memiliki pendapatan yang tidaklah kecil.

Definisi dunia digital menurut saya cukup luas. Apabila yang dimaksudkan dengan dunia digital dalam jurusan Teknik informatika, maka sejujurnya saya sebagai seorang perempuan, merasa bahwa programming itu seringkali membosankan. Contohnya, saya harus bisa bertahan dan terus berpikir secara logical thinking untuk memecahkan masalah dengan rumus matematika di balik layar komputer. Dalam sehari 12 jam misalnya, saya bisa bekerja dengan hampir tidak ada komunikasi dengan manusia lain kecuali bila ada masalah. Umumnya, bagi perempuan ini tidak mudah. 

Saya merasa bahwa perempuan secara evolusioner lebih membutuhkan banyak koneksi dan komunikasi dengan manusia lain. Saya pun menyadari hal ini, setelah saya bekerja beberapa lama sebagai programmer. Saya sadar bahwa saya butuh lebih banyak interaksi. Oleh karena itu, wajar bila perempuan lebih memilih pekerjaan yang butuh banyak interaksi dengan orang lain seperti: guru, dokter atau psikolog misalnya.

Di kantor, tempat saya bekerja dulu di Jerman lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Dalam hal pengalaman kerja bersama rekan kerja lainnya, saya merasa sangat dihargai sebagai perempuan. Mereka sangat menghormati saya. Bahkan, saya sering diprioritaskan dalam banyak hal, seperti mereka selalu menanyakan pendapat saya dalam membuat beberapa perubahaan, dsb. Mereka sangat respek pada kita, walaupun saya sangat sering berbuat salah. Sebagai orang asing, sering kali saya tidak mengerti beberapa hal –mengingat bahwa kemampuan Bahasa Jerman saya masih di bawah kemampuan mereka, yang notabene sebagai Native Speaker. Namun, mereka selalu sabar dan tidak pernah meremehkan kemampuan saya.

Untuk meningkatkan minat dalam dunia digital, menurut saya, perempuan perlu lebih banyak lagi mendapat informasi, pelajaran, atau pelatihan tentang bidang-bidang yang berkaitan di dunia digital. Ini diperlukan agar perempuan lebih bisa memahami peluang yang ada, menimbang peluang tersebut, sebelum mereka memutuskan untuk terjun langsung di bidang digital. 

Tentunya, saya sepakat dengan perkembangan dunia digital yang diiringi oleh kecerdasan artifisial (AI) yang pesat, bahwa perempuan memiliki peluang kewirausahaan yang besar. Menurut saya, perempuan bisa menggabungkan aspek logika dan kreativitas yang dimilikinya, sehingga ini menjadi keunggulan untuk meraih kesuksesan. 

Bagi kalian yang tertarik ingin terjun di dunia digital, jangan takut! Kalian tidak harus paham segala hal untuk bisa berkuliah, bekerja, atau berwirausaha di bidang digital. Saya pun menyadari bahwa saya masih perlu belajar banyak hal. Kalian bisa mencari teman atau kenalan, yang mungkin bisa membantu kalian untuk meraih cita-cita atau kesuksesan.

Bagi kalian yang ingin bertanya lebih lanjut tentang dunia digital, kalian dapat menghubungi saya melalui kontak formulir di website saya, di akhir artikel. Jangan lupa, kalian perlu menuliskan topik yang ingin dibahas dan mention nama saya ya;)


Penulis: Natasha Hartanto, yang dapat dikontak di Website skyttenh.com dan juga mengelola kanal YouTube youtube.com/@natashahartanto.

(CERITA SAHABAT) Kecanduan Bergosip di Perantauan Antar Sesama Orang Indonesia, Membuat Saya Difitnah Dua Kali

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama panjang saya, Novia Karina Irna Wati. Saya biasa dipanggil Karin. Saya lahir di Jakarta, 33 tahun lalu dan kini saya menetap di Turki. Saya adalah lulusan Sarjana Hukum Universitas Pakuan Bogor tahun 2011 lalu. Sebelum saya menikah dan masih tinggal di Indonesia, saya adalah pekerja swasta di perusahaan asal Korea, yang memproduksi sepatu seperti Nike. Karier saya dimulai pada tahun 2011 – 2012, dengan jabatan terakhir sebagai Senior Staff di bagian Human Resources Department (HRD). Setelah lulus kuliah, saya pindah bekerja ke salah satu perusahaan asal Korea juga di area Subang, Jawa Barat. Saya bekerja di sana selama 2013 – 2021, dengan jabatan terakhir saya sebagai Assistant Manager di bagian Sustainability Manufacturing.

Singkatnya, pekerjaan saya berhubungan dengan peraturan kerja dan pekerja, yang mana harus comply  dengan aturan Nike Code of Leadership Standart (NCOC). Nike adalah Buyer  yang memberikan order kepada perusahaan, tempat saya bekerja. Salah satu aturan, yang perlu dipatuhi adalah TİDAK BOLEH ADANYA KEKERASAN DAN PELECEHAN Dİ LİNGKUNGAN KERJA. Saat itu, saya adalah ketua dari Tim Anti Kekerasan dan Pelecehan. Saya sekaligus adalah penyusun prosedur anti kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja, baik secara fisik, lisan maupun seksual. Saya pun adalah seorang Trainer bersertifikasi dari Badan Ketenagakerjaan Indonesia, karena saya adalah seorang Kader Norma Ketenagakerjaan (KNK) tingkat utama. 

Hal lain, yang saya kerjakan adalah merumuskan PKB (Peraturan Kerja Bersama), di antara pihak Management dengan  pihak Serikat pekerja. Pekerjaan saya di perusahaan terakhir ini, cakupan job description-nya cukup luas. Saya banyak menghadapi tekanan-tekanan pekerjaan, mulai dari tuntutan perusahaan, karyawan yang banyak melakukan pelanggaran, pertanggungjawaban laporan untuk dikirimkan kepada Buyer setiap bulannya, melakukan dinas luar untuk meeting dengan vendor-vendor dari perusahaan lain, yang ingin bekerja sama dengan perusahaan.

Follow us.

Agar menjadi perusahaan rekanan, di dalam meeting, tugas saya memastikan vendor perusahaan tersebut juga comply atau patuh dengan peraturan ketenagakerjaan Indonesia. Misalnya, perusahaan harus comply  dengan peraturan pengupahan, atau perusahaan tidak boleh membayar upah pekerja di bawah upah minimum. Walaupun, pekerjaan saya tergolong berat dan banyak mendapat tekanan, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Hal ini karena, didukung oleh lingkungan kerja saya yang sangat nyaman. Atasan saya langsung adalah warga negara asing dari Korea, yang selalu memberikan support kepada saya. 

Saya juga memiliki 3 orang staf yang dapat bekerja sama dengan baik. Dua staf adalah lulusan dari Sarjana Hukum dan 1 orang staf adalah lulusan ilmu Psikologi. Setiap minggu, kita selalu mengadakan meeting  untuk saling mengoreksi pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang perlu dikoreksi, kami selalu mengoreksi bersama, serta mencari solusi bersama. Kalau di dalam tim, terjadi complaint terhadap saya sebagai atasan, mereka tidak sungkan berbicara langsung. Mereka tidak berbicara di belakang saya. 

Hampir seminggu sekali, kami makan malam bersama. Setahun sekali, kami melakukan team building yang disponsori oleh perusahaan. Sampai saat ini, saya masih berhubungan baik dengan mereka. Terkadang, saya support mereka dari jauh, apabila mereka bertanya mengenai pekerjaan. Di tempat kerja, saya belajar dan mengajarkan bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, saling menghormati, dan tidak saling menjatuhkan antar sesama tim. 

Saat itu, karir saya bisa dibilang cemerlang, yang mana saya berpenghasilan baik dan memiliki mobil pribadi. Saya juga salah satu generasi ‘sandwich’ yang harus memberikan belanja bulanan untuk ibu, mulai dari belanja kebutuhan pokok, membayar asisten rumah tangga bulanan, iuran pokok bulanan, serta kebutuhan-kebutuhan mendadak lainnya. Setiap minggu, saya dan ibu saya biasa berjalan-jalan untuk makan di luar. Sesekali, saya ajak ibu berlibur, saat saya mendapat cuti tahunan. Ketika saya ingin menikah dengan pria asal Turki, saya seperti di ambang dua pilihan. Saya bingung di antara saya mengambil promosi menjadi Manager atau menikahi pria asal Turki, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menikah dan kini menetap di Turki.      

Sejak saya menjadi ibu rumah tangga, aktivitas setiap hari seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Sesekali, saya juga mengantar sekolah keponakan saya yang masih TK (taman kanak-kanak). Aktivitas lainnya, saya dan suami suka menonton film action, dokumenter, ataupun drama, yang ada di Netflix. Sesekali kalau cuaca bagus, kami pun pergi memancing di laut. Setiap tahun, suami saya mendapat cuti selama 30 hari. Cuti tahunan dipakai untuk berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi di Turki. Kami sangat suka berlibur ke pantai dan ke tempat bersejarah. Tahun 2022 lalu, saya dan suami berlibur ke Jakarta dan Bali.  

Bulan Agustus 2022 – Februari 2023, saya ikut kursus Bahasa Turki, yang dilangsungkan setiap Senin sampai Kamis. Di situ, saya mengenal banyak orang asing dan terkadang saya ikut acara gathering yang diselenggarakan dari tempat kursus. Orang-orang asing yang saya kenal berasal dari Rusia, Ukraina, Maroko, Bulgaria, dan Aljazair. Biasanya gathering dilakukan ‘Summer Time’ (musim panas). Kita makan bersama di suatu tempat, setelah itu minum Turkish coffee bersama. 

Saya juga memiliki dua orang teman dari Turki, yang dekat dengan saya karena persamaan hobi kami yang suka berlibur keluar kota. Tahun depan, saya berencana akan mendaftarkan diri lagi kursus Bahasa Turki. Sayapun memiliki dua teman baik asal Indonesia. Terkadang, kami berkumpul secara bergantian untuk masak-masak di rumah, liburan bersama dengan suami-suami ke suatu daerah. Karena kami berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, kami lebih banyak bercerita, mulai pengalaman di negeri perantauan serta kendala-kendala yang terjadi selama tinggal di Turki. 

Setiap dua minggu sekali, saya dan suami datang berkunjung ke ibu dan bapak mertua untuk makan bersama, berbincang-bincang, terkadang ibu mertua mengajak ke kebun untuk mengambil sayuran atau buah-buahan yang ditanam di taman kecilnya. Waktu luang saya digunakan untuk berkomunikasi dengan sahabat-sahabat saya di Indonesia melalui video call. Hal yang kami bicarakan mengenai perkembangan anak-anak mereka, keadaan Indonesia, sampai dengan diskusi mengenai pekerjaan. Sebagian besar teman-teman saya adalah pekerja kantoran di bidang yang sama dengan saya. Hal lain yang saya lakukan adalah membaca berita di Turki dan İndonesia, mendengarkan podcast-podcast, mencari peluang bisnis yang bisa saya lakukan, dan saya juga suka melihat konten-konten kuliner di sosial media. 

Cerita awal bertemu dan berkenalan dengan suami, hingga tiba di Turki

Awal mula saya berkenalan dengan suami pada tanggal 26 Agustus 2019 melalui aplikasi “interpals”, yang saya ketahui dari teman kantor saya. Saya download aplikasi tersebut tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus 2019 saya mendapatkan email dari suami saya, yang isinya mengajak kenalan, kemudian kami bertukar nomor Whatsapp, dan melanjutkan komunikasi melalui video call. Selama 1 sampai 2 minggu saya berkomunikasi intens setiap hari, kami mengobrol tentang kehidupan, bertukar pendapat, serta berbicara tentang hobi kita yang sama yaitu traveling. 

Suami saya menjelaskan bahwa dirinya bekerja di salah satu perusahaan pabrik kaca terbesar di Turki. Dia adalah lulusan dari salah satu universitas di Turki, Jurusan Design Graphis. Kebetulan saat itu, saya masih memiliki sisa cuti tahunan sekitar 5 hari. Tadinya, saya hendak memakainya untuk traveling ke Thailand sebagai sisa cuti tahunan. Suami, yang dulu masih berteman, dia menawarkan untuk jalan-jalan keliling ke lstanbul dan berkenalan dengan orang tua dia. Saya senang sekaligus takut. Saya berpikir selama seminggu. Dalam satu minggu itu, saya meminta suami saya mengirimkan lD card tempat dia bekerja, foto kartu identitasnya, alamat kantor dan rumahnya. Saya pun meminta foto kartu identitas ibu dan ayahnya, untuk memastikan mereka tinggal di alamat yang sama. Setelah saya yakin, saya pun booking tiket pesawat ke Turki. 

Untuk berjaga-jaga semua informasi tentang suami, saya berikan kepada teman, sahabat, dan keluarga karena saya masih berpikir kemungkinan terburuk dapat menimpa saya.  Tanggal 16 November 2019 kami bertemu di lstanbul, tepatnya di Taksim. Saya pergi liburan, berkenalan dengan orang tuanya, kakak perempuannya, dan keponakan-keponakannya. Saat itu, saya sangat senang dan yakin bahwa suami dan keluarganya adalah orang baik. Suami dan keluarganya bukan seratus persen orang Turki. Mereka adalah campuran dari Bulgaria. Kesan yang saya rasakan saat pertemuan pertama, keluarganya jauh dari budaya ketimuran dan lebih kepada kebarat-baratan. 

Saat saya masih tinggal di Indonesia, saya berharap menikah dengan lelaki yang baik dan mapan. Awalnya, saya memiliki tunangan orang Indonesia, tetapi seiring berjalannya waktu kami putus dan gagal menikah. Sejak itu, saya berkenalan dengan pria berbagai negara dari Amerika, Korea, Malaysia, Kanada, dan Belanda. Mereka semua baik dan mapan. Namun, jodoh menggiring saya berlabuh ke pria asal Turki. Saya berharap apabila saya menikah dengan orang asing dan menetap di luar negeri, saya dapat circle pertemanan lebih luas. Mungkin saya bisa membuka bisnis bersama dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti membuka bisnis kuliner ataupun  agen travel.  

Realita yang terjadi begitu tiba di Turki

Saya menikah pada tahun 2020. Awalnya kami ingin tinggal di rumah mertua selama 6 bulan, dengan tujuan agar saya bisa belajar bahasa dan budaya. Selama seminggu, saya tinggal serumah dengan mertua. Saya merasa tidak nyaman tinggal bersama mertua. Ini bukan karena mertua saya jahat, melainkan mertua saya punya budaya dan kebiasaan berbeda, seperti perbedaan selera masakan dan cara membersihkan rumah, dll. Terkadang, saya malu sendiri karena tidak bisa membantu maksimal. Mertua saya tidak pernah marah, kesal, atau jahat kepada saya. Justru sebaliknya, mereka merasakan saya tidak nyaman tinggal bersama mereka karena perbedaan tersebut. 

Seminggu kemudian, kami pindah rumah yang dekat dengan perusahaan tempat suami bekerja. Rumah kami berada dalam satu komplek dengan kakak ipar saya yang adalah perempuan. Selama 3 tahun, saya tidak pernah bertengkar atau berkonflik apapun, karena kakak ipar saya bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga kami jarang berkomunikasi, walaupun rumah kami berdekatan. Saya dan kakak ipar selalu saling membantu. Sesekali saya dan kakak ipar berlibur bersama, seperti kami berlibur ke Cappadocia dan Ankara. 

Saya merasakan keluarga suami saya sangatlah baik dan hangat. Mereka tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Apapun yang kami lakukan selama hal itu baik, mereka selalu menjadi support system. Namun, banyak cerita dari teman-teman orang Indonesia dan cerita dari orang Turki sendiri yang ribut dengan keluarga suaminya. Saya disebut tergolong perempuan yang beruntung karena saya memiliki keluarga orang Turki yang baik, meskipun agama yang dianut keluarga suami berbeda dengan Islam di Indonesia. Hal yang diajarkan keluarga suami saya, dalam hal agama adalah untuk kontrol diri menjadi orang baik. Menurut mereka, apapun agamanya, yang penting menjadi orang baik adalah hal terpenting. 

Hal lain adalah realita di Turki, tempat saya tinggal di provinsi Kırklaerli. Kotanya bernama Lüleburgaz, dan tergolong kota kecil. Semula saya berpikir, saya bisa merintis hobi memasak dan ingin memperkenalkan masakan Indonesia, seperti rendang, soto, atau apapun itu, tetapi ternyata orang di sini tidak begitu menyukai masakan Asia. Mereka tidak suka makanan pedas dan rempah.  Saya belajar makanan apa yang mereka suka, ternyata adalah makanan yang manis. Apabila saya membuat nastar, bolu, brownis, atau makanan manis lainnya, mereka tentu saja suka. Sayapun sulit mencari pekerjaan di Turki karena saya harus berasal dari lulusan akademis. Misalnya, saya adalah sarjana hukum dan ingin berkerja sebagai guru Bahasa Inggrıs di sekolah swasta, itu tidak bisa. Hal ini karena saya bukan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Apabila saya lulusan sarjana Pendidikan Bahasa İnggris, mereka dapat  mempertimbangkannya. Saya sempat mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Inggris di suatu sekolah swasta tetapi yang diterima orang dari Afrika, karena beliau adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris.

Adapun, pekerjaan yang ditawarkan oleh keluarga suami adalah bekerja di salah satu pabrik garmen. Suami saya tidak mengizinkan karena dia mengetahui bekerja di pabrik dan mengoperasikan mesin berbeda dengan apa yang saya kerjakan di balik meja, seperti menggunakan komputer. Pernah juga KJRI membuka lowongan untuk menjadi volunteer administasi , saya ingin mengirimkan CV saya tetapi lagi-lagi suami saya tidak mengijinkan. Alasannya, lokasi jaraknya jauh. Awalnya, saya sedikit marah dengan suami saya, mengapa dia terkesan seperti menghalang-halangi saya untuk berkembang. Setelah kami berdiskusi, suami saya ingin agar saya bekerja sesuai dengan minat saya. 

Dia tidak ingin, saya bekerja untuk mengisi waktu saja sampai bekerja jauh ke luar kota. Apabila saya bekerja di luar kota, saya harus berpisah dengan suami. Menurut dia, mungkin seminggu sekali saya pulang. Sebenarnya, kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi oleh suami. Akhirnya, saya pun patuh pada suami saya. Realita lainnya yang saya rasakan selama tinggal di Turki, saya sangat sulit menemukan teman sebangsa yang satu pemahaman dan pemikiran. Saya banyak mendengar bahkan melihat beberapa pertengkaran di antara sesama orang-orang Indonesia. Pernah saya berdiskusi dengan KJRI Istanbul dan bertanya mengapa kita sesama orang Indonesia sulit untuk bersatu dan berpikir positif satu sama lain. 

Pertemanan saya dengan sesama orang Indonesia dan non orang Indonesia di Turki

Sebelum saya menikah, saya bertemu dengan satu orang Indonesia. Sampai saat ini, saya beruntung karena dia adalah salah satu teman terbaik yang saya kenal di negeri perantauan ini. Saya bertemu pertama kali, di salah satu optik yang berada di shopping mall, kota tinggal saya. Walaupun, umurnya lebih muda dari saya tetapi dia sudah menikah dan tinggal lebih lama di Turki. Semula kami tinggal satu kota. Suami dia adalah seorang guru, yang mana suaminya dipindahtugaskan ke kota lain, sehingga kami terpisah kota. Namun, komunikasi kami tetap terjalin baik sampai pada saat ini. Melalui perantara dia, saya mengenal teman-teman orang Indonesia lain, termasuk teman-teman mahasiswa/i Indonesia yang kuliah di Turki. 

Teman saya ini adalah seorang ibu muda beranak satu yang selalu support ataupun menyemangati saya dalam keadaan apapun. Banyak cerita inspiratif yang dia berikan dan memberikan pengetahuan mengenai kehidupan di Turki. Dahulu beliau pernah berkuliah jurusan accounting, sebelum menikah dia juga pernah bekerja di Turki. Di tempat kerjanyalah, dia bertemu dengan suaminya. Beliau pun memperkenalkan saya dengan beberapa orang Indonesia lainnya. Ternyata teman-temannya tidaklah sepositif kami. Saya dan dia kadang berpikir, setiap orang sama seperti kami yang tidak memiliki rasa iri dan dengki. Namun, ternyata kami salah. Orang-orang yang kami berikan support dan kebaikan dibalas dengan berbicara buruk di belakang kami dan disebarluaskan kepada orang lain. 

Salah satu orang Indonesia pernah saya laporkan ke KJRI Istanbul karena orang tersebut berbicara buruk tentang kami di sosial media. Pada akhirnya, KJRI Istanbul memberikan teguran dan pengarahan (terima kasih untuk KJRI Istanbul). Tidak sampai di situ, saya pun kembali mendapatkan fitnah dari orang Indonesia lain. Terjadi adu domba dengan sesama teman Indonesia, termasuk kami yang diadu domba. Beruntungnya, kami sudah mengenal satu sama lain, kami tidak termakan omongan orang-orang yang bermulut jahat tersebut. Sebaliknya, kami saling membela dan support satu sama lain. Saat kejadian tersebut, saya sempat ‘down’ dan overthinking, mengapa saya diperlakukan seperti ini. Sampai suamipun turut ikut campur dalam masalah saya. Suami saya berani melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Suami saya pun menggertak ke suami-suami mereka. Pada akhirnya, mereka meminta maaf kepada saya dan suami dan mereka meminta untuk tidak diperkarakan ke polisi. 

Saya dan suami tidak memperkarakan hal tersebut dan memilih untuk berdamai. Ketika saya difitnah, dada saya sangat sesak karena saya baru pertama kalinya diperlakukan seburuk ini. Saat itu, saya menangis dan menahan kesal, karena apa yang mereka tuduhkan sangatlah jahat. Suami saya menghubungi teman baik saya di sini dan menanyakan apa yang terjadi, apakah benar istrinya tersebut melakukan hal yang buruk kepada sesama orang Indonesia. Teman saya  menjelaskan bahwa saya tidak pernah melakukan hal buruk apapun. Dia menjelaskan sedikit tentang kejadian sebenarnya. Setelah kejadian tersebut, suami membatasi pergaulan saya dengan orang-orang Indonesia agar tidak terjadi konflik. 

Berbeda halnya dengan teman-teman mahasiswa/i di sini, selama kurang lebih tiga tahun saya kenal. Setiap saya berkenalan dengan teman-teman mahasiswa/i Indonesia, tidak ada satupun yang bermasalah dengan saya, walaupun sering kami berkumpul, masak-masak bersama, dan berdiskusi seputar ilmu pengetahuan, politik, dan budaya. Sampai-sampai, saya mendengarkan cerita mereka akan masa depan yang ingin dicapai jika lulus kuliah nanti. Bergaul dengan teman-teman mahasiswa/i membuat aura saya merasa muda dan teringat akan masa-masa kuliah saya dulu. Saya sampai berpikir, apakah saya bisa berkuliah lagi di negeri ini? Setelah saya berpikir kembali, saya urungkan dan saat ini yang harus saya kerjakan adalah bagaimana untuk mencari kegiatan dan bertemu dengan orang-orang positif yang dapat membuat hidup saya berkembang lebih baik. 

Sejak awal saya datang ke Turki sampai detik ini, hal yang menurut saya menarik adalah pertemanan saya dengan dengan mahasiswa/i Indonesia, karena bergaul dengan mereka membawa ke arah positif dan rasa keingintahuan mereka yang tinggi tentang budaya dan politik Internasional. Ini membuat saya dapat berdiskusi secara luas. Umur mereka dan jiwa mereka yang muda telah membuat jiwa saya merasa muda seperti ‘forever 21’.  

Dahulu saya berpikir, kita tidak boleh mendiskriminasikan level pendidikan seseorang ataupun latar belakangnya. Setelah beberapa kejadian yang menimpa saya seperti saya difitnah, digunjingkan, digosipkan, saya begitu sulit mencari teman yang selevel dan sefrekuensi dengan saya. Saya tidak menyatakan, bahwa saya adalah orang pintar atau saya adalah super power, TİDAK! Saya adalah orang yang suka berdiskusi tentang hal-hal yang dapat menambah ilmu dan wawasan. Saya suka berpergian dan saya suka mencoba hal-hal baru. Setelah saya meninjau kembali circle saya dengan teman-teman saya di Indonesia, saya tidak pernah sekalipun berkonflik dengan siapapun. Setiap saya pulang ke Indonesia, kami pasti berkumpul dan berdiskusi tentang kehidupan masing-masing. Oleh karena itu, saya berterimakasih kepada teman-teman saya di Indonesia yang selalu support saya, terutama sahabat-sahabat yang hampir setiap hari selalu menyemangati dan mengingatkan saya, agar saya jangan sampai down. 

Menurut saya, untuk pertemanan dengan sesama orang Indonesia di sini, kita harus sangat berhati-hati karena kita tidak mengetahui latar belakang mereka. Lebih parahnya lagi, banyak dari mereka yang mungkin hidup dalam kebencian, keirian dan kedengkian. Bahkan, mereka butuh pengakuan sosial, mereka berbohong akan status sosialnya. Mereka seperti berbicara seolah-olah dirinya itu adalah seseorang yang super power. Kenyataannya adalah sebaliknya. Mereka hidup dalam kekurangan, ketidakbahagiaan serta kesengsaraan. Satu contoh yang saya kenal, orang Indonesia yang mengaku-ngaku memiliki sebuah pabrik. Katanya dia kenal dekat dengan tokoh politik ternama di Indonesia, bahkan dia sampai mengaku kalau orang tuanya sangat berpengaruh di Indonesia. Semua itu adalah kebohongan berdasarkan halusinasi dari pikirannya. Orang seperti ini, menurut saya seharusnya mendapatkan treatment  khusus. Apa yang saya lihat dari keluarganya sendiripun acuh tak acuh. Hal-hal lain contohnya, banyak keirian dan kedengkian yang mengalir di diri mereka, sehingga saya sadar untuk ekstra berhati-hati dan selektif memilih teman. 

Pertemanan saya dengan orang asing atau orang-orang non Indonesia di perantauan, jauh lebih baik. Saya mendapatkan banyak wawasan lebih, misalnya teman saya yang berasal dari Ukraina dan tinggal di Turki, disebabkan negaranya sedang perang. Teman saya tersebut, menceritakan bagaimana kondisi di Ukraina. Dia juga mengaku sulit mendidik anak-anaknya untuk beradaptasi di Turki karena berbeda budaya dan bahasa. Saya juga berdiskusi dengan guru Bahasa Turki saya tentang kebiasaan orang Turki dan sejarahnya. Kami berdiskusi tentang traveling di Turki, Eropa, dan tempat-tempat makan yang enak di sekitaran kota, serta berbagi cerita dan resep makanan khas mereka. Kamipun sesekali bercanda tentang culture shock  yang kami alami di Turki. Misalnya, orang Turki yang sangat suka minum teh dan bersıh-bersih yang berlebihan. Orang Turki dalam membersihkan rumah sangatlah bersih. Selama saya berteman dengan orang Turki, tidak ada satu rumah mereka yang berdebu atau berantakan, walaupun mereka memiliki anak kecil. Selama tiga tahun saya di sini, pertemanan saya dengan orang non Indonesia tidak pernah ada masalah, karena saya memilih untuk berteman yang memiliki satu hobi dengan saya. Frekuensi berkumpul dengan merekapun tergolong sering.

Pesan dan harapan saya 

Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Pertama, kita perlu mengenali dahulu pasangan hidup, keluarga, kota dia dibesarkan. Kedua, kita menghindari IMAM NIKAH ATAU NIKAH SİRİ. Hindari kalau kita mengenal pasangan hidup, cukup lewat sosial media kemudian langsung memutuskan untuk menikah secara agama. Sayapun seorang muslim. Saya sarankan agar kalian tidak hanya menikah secara agama saja, karena tidak ada perlindungan hukumnya. Jangan pula, kita langsung menikah secara sipil dengan hanya mengetahui pasangan di media sosial. Ada beberapa kasus yang saya ketahui, banyak yang mengenal pasangannya hanya di media sosial kemudian menikah resmi. Ternyata pasangannya tidak sesuai dengan harapan, bahkan tidak sedikit yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, sekali lagi MEMANG TİDAK SEMUA yang bertemu pertama kali, langsung menikah hidupnya kemudian pernikahannya sengsara atau menderita. Ada pula yang bahagia. Saya hanya memberikan pandangan agar kita lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Sedikit saya share pengalaman sebelum memutuskan untuk menikah, saya bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Saya mengetahui kota di mana suami saya tinggal, saya mengetahui pekerjaan suami, serta gajinya. Kurang lebih setahun kemudian, kami memutuskan untuk menikah.

Alhamdullilah, selama 3 tahun menikah, suami dan keluarganya baik kepada saya. Hal lain yang harus benar-benar diperhatikan, adalah bagaimana cara pasanganmu berkomunikasi. Saya dan suami menjalin komunikasi dengan baik, yaitu setiap ada masalah kami selalu berdiskusi dan menekan ego masing-masing. Di tahun awal pernikahan, kami membutuhkan adaptasi bersama. Seiring berjalannya waktu, kami memahami karakter masing-masing. Kunci dari keharmonisan adalah menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing. Selanjutnya, pelajari makanan di Turki ini. Dari segi makanan, ini sangat berbeda dengan masakan Indonesia. Di tahun awal pernikahan, kami sempat “ribut” perihal makanan. Ini terdengar lucu tetapi memang itu kenyataannya. Suami saya adalah pemilih soal makanan. Saya sebagai istri sudah bersusah payah memasak untuk suami. Apabila suami tidak suka dari aroma, bentuk, ataupun rasanya maka secuil pun dia tidak akan memakan masakan yang saya buat. Lambat laun, saya mengetahui selera suami saya yang sangat jauh bebeda dengan saya. Saya belajar dari YouTube dan bertanya kepada ibu Mertua, kakak ipar, serta keluarga suami lainnya mengenai masakan Turki. Perlu diketahui, ternyata setiap kota di Turki memiliki budaya makanan yang berbeda di setiap daerah. 

Dalam membangun pertemanan, saya berpesan kepada orang-orang newbie seperti agar mengenali dulu orang tersebut dan sangat BERHATI-HATI dalam berbicara. Terkadang kita bermaksud baik, tetapi salah dipahami. Kita bermaksud kita berbagi kesenangan, tapi bagi mereka itu merupakan ria atau pamer. Jangan terlalu positif dan baik! Berperilakulah sewajarnya saja karena setiap orang tidak pantas mendapatkan kebaikan dan perhatian. Kita kadang perlu bersikap “seni bodo amat”. Saya sudah dua kali mengalami difitnah dan dijadikan bahan bergunjing, itu sudah cukup untuk saya belajar lebih selektif memilih teman.  Carilah teman yang memang TULUS dan mereka ingin berteman dengan karena mereka membawa energi positif ke dalam diri kita. 

Harapan saya untuk KBRI /KJRI untuk membangun komunitas Indonesia yang produktif adalah sering membuat training secara daring ataupun tatap muka untuk orang-orang İndonesia. Misalnya,  bagaimana cara berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Apabila memungkinkan training tersebut, minimal dilakukan 1 – 3 bulan sekali dan terbuka untuk seluruh orang Indonesia yang menetap di Turki. Di dalam sesi training, dijelaskan juga tracking record  kasus-kasus dan keluh kesah yang sering terjadi dengan menjelaskan sebab-akibatnya sebagai bahan untuk pelajaran dan pengawasan diri sendiri.    

Terima kasih untuk tim Ruanita yang memberikan saya kesempatan menulis, terutama kepada Mbak Anna dalam sesi konseling online. Terima kasih kepada teman-teman di Turki yang saya kenal selama tiga tahun, seperti Mbak Lina dan Mita yang menjadi support system saya di negeri perantauan ini. Beribu-ribu terima kasih kepada sahabat-sahabatku di Indonesia yaitu Faras, Elisabeth, Felicia, Monica, Sofie, Kitty, Fanny, Reina, dan sahabat-sahabat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang selalu ada buat saya, penguat mental saya dan support system terbesar dalam kehidupan saya. 


Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(CERITA SAHABAT) Ini Kisah Saya Ikutan Program Pertukaran Pelajar

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Yasinta Putri Cinta Aryanti. Saya biasa dipanggil Cinta. Saya merupakan mahasiswi yang pernah tinggal di Warsawa, Polandia selama tiga bulan. Saya berada di sana untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari bulan September hingga Desember 2023.

Pada awalnya, saya merasa takut dan ingin kembali ke rumah ketika saya mengalami perbedaan budaya antara Indonesia dengan Polandia. Saya pikir itu adalah masa-masa culture shock, walaupun saya merasa sudah  mempersiapkan diri dengan baik sebelum berangkat, ternyata ada beberapa perasaan baru yang muncul tanpa bisa saya prediksi.

Misalnya saja di minggu pertama, saya kerap merasa ketakutan di tengah kerumunan orang, karena tubuh saya yang jauh lebih pendek dari kebanyakan orang-orang di sana. 

Hal itu diperparah juga dengan raut wajah warga lokal yang tampak dingin, berbanding terbalik dengan orang Indonesia yang selalu tampak ramah dan penuh senyum. Saya lumayan setuju dengan anggapan, bahwa warga Polandia cenderung berwajah serius. Namun, berwajah dingin dan tampak serius bukan berarti hal buruk atau tidak hangat.

Ketika saya berbicara dan mengenal lebih jauh dengan orang Polandia, mereka menjadi terbuka dan lebih hangat. Bahkan, saya memiliki flatmate yang sangat ramah dan selalu membantu, bila ada masalah dengan kamar asrama. Mereka juga mudah tersenyum ketika diajak berbicara dan terbuka dalam mengutarakan pikiran, tanpa berbasa-basi. Menurut saya, raut wajah tersebut sebenarnya memang kebiasaan yang ada.

Berbicara soal kuliner, cita rasa makanan Polandia sangat berbeda dengan Indonesia. Menurut saya, makanan di Polandia cenderung memiliki rasa asam, dibandingkan rasa makanan Indonesia yang menjadi favorit saya, kebanyakan berasa pedas dan manis.

Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan pada makanan orang-orang Polandia cenderung lebih ringan, daripada masakan Indonesia yang kuat akan rasa rempah.

Saya sendiri memerlukan waktu hampir sebulan untuk menyesuaikan lidah saya dengan masakan lokal dan bumbu yang ada. Hal ini juga membuat saya sangat merindukan rumah.

Namun, setelah saya mengerti dan menerima perbedaan budaya yang ada, saya merasa bahwa saya memiliki “rumah kedua”, yaitu Polandia. Saya banyak belajar mendapatkan hal-hal positif selama tinggal di sana.

Follow us

Masyarakat Polandia juga cenderung sangat menghargai waktu, sehingga saya harus selalu tepat waktu ketika menghadiri kelas dan berbagai acara. Oh ya, yang saya tahu, mereka juga suka berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.

Untuk pembelajaran di kelas, masyarakat Polandia lebih mengutamakan metode self-study, sehingga kami mendapatkan kebebasan dalam belajar. Namun, kita tetap harus bertanggung jawab untuk mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya dengan cara membaca buku dan jurnal secara mandiri. 

Menjalani misi pertukaran pelajar juga memberikan saya banyak pengalaman menarik selama belajar di Polandia. Salah satu pengalaman paling menarik, ketika saya mendapatkan mata kuliah tentang penulisan secara akademik.

Saya sempat mengalami kesulitan dan harus mengulang kerangka tulisan dari awal. Walau begitu, dosen yang mengajarkan mata kuliah tersebut mau membimbing dan memberikan masukan sekaligus selalu menyemangati saya.

Bagi saya, ini sangat berkesan, karena saya merasa kalau progress dari setiap mahasiswa amat sangat diperhatikan di Polandia.

Sebagai warga Indonesia, saya tentunya tidak lupa memperkenalkan budaya Indonesia juga kepada mereka. Menurut saya, ini merupakan salah satu hal penting yang dapat WNI lakukan di luar negeri, supaya budaya tanah air dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal masyarakat global.

Selain itu, terkadang memperkenalkan budaya ke warga negara asing dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi, bertukar pengalaman, dan juga memperdalam pemahaman mengenai budaya satu sama lain secara mutual. 

Untuk memperkenalkan budaya Indonesia, saya bersama teman-teman awardees IISMA di University of Warsaw lainnya mengadakan dua acara yaitu Indonesian Day dan Batik Day. Selama Indonesian Day, kami mempersembahkan tarian Indonesia, makanan khas Indonesia, menampilkan aneka kain batik dan memberikan edukasi mengenai budaya di Indonesia.

Selanjutnya, sebagai orang Indonesia tentu kita bangga akan batik. Nah, saat Batik Days, kami mengajarkan cara menulis batik kepada teman-teman dari Ukraina, yang juga sedang berada di Polandia.

Saya dan teman-teman juga mengajarkan membuat pernak-pernik dari batik kepada sesama International Students di University of Warsaw.

Jika saya punya kesempatan untuk datang ke Eropa lagi, saya ingin kembali untuk belajar di Polandia. Saya menilai para pengajarnya berdedikasi untuk mendidik dan mau membimbing siswa-siswinya. Yang saya suka, mereka menuntun mahasiswanya untuk berpikir secara kritis.

Walaupun, metode belajar yang diterapkan lebih ke arah self-study, mereka tetap akan membantu. Oh ya, jika mahasiswa ada pertanyaan, kita bisa bertanya pada jam-jam yang ditentukan. Selain itu, perkembangan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, juga amat sangat didukung. Saya pikir, ini semua karena ketersediaan sarana, prasarana, dan tenaga pengajar yang berkualitas. 

Sebagai tamu yang sedang berada di negara orang lain, menurut saya, kita harus selalu menghargai kebiasaan dan budaya setempat. Kita sebaiknya bisa beradaptasi dalam berperilaku sesuai kebiasaan yang ada.

Contohnya, kita bisa menciptakan suasana tenang, ketika kita naik public transportation, sebagaimana kebiasaan semua orang di sana yang biasa tenang di kendaraan umum.

Contoh lainnya, kebiasaan untuk membersihkan sisa bekas piring makanan dari meja, ketika kita datang berkunjung ke restoran self-service.

Nah, Sahabat Ruanita mungkin saja tertarik untuk mengikuti program pertukaran pelajar seperti yang saya lakukan. Tentu saja, kita harus selalu mematuhi aturan dan menghargai budaya yang ada, karena kita tinggal di negara orang.

Menurut saya, kita perlu memiliki pikiran dan pandangan yang terbuka juga. Ini penting, supaya kita dapat menghindari culture shock yang berkepanjangan. Selain itu, kita perlu mempersiapkan diri sebelum tinggal di luar negeri dengan cara mempelajari bahasa lokal, yakni bahasa sehari-hari yang digunakan warga di sana. 

Oh ya, kita perlu belajar cara memasak jugal loh. Bagi teman-teman yang ingin tinggal di luar negeri, saya menyarankan untuk belajar cara memasak. Ini supaya kalian tidak kesulitan dalam mencari makanan Indonesia.

Satu lagi nih yang penting, kita perlu juga belajar cara membersihkan rumah, supaya kita tidak merepotkan orang lain. Jangan lupa, kita selalu tetap bersemangat! Kita perlu memiliki pikiran yang terbuka dalam setiap langkahnya. Terakhir, jangan terlalu lama bersedih ketika hal-hal yang ditemui di negara orang berbeda dengan apa yang ada di rumah!

Terakhir, saya tentu senang sekali pernah menjadi bagian dari program pertukaran pelajar yang difasilitasi pemerintah Indonesia. Saya berharap semoga program ini selalu didukung dan terus diperbaiki dari tahun ke tahun agar nantinya exposure budaya Indonesia dapat semakin meluas di kancah internasional.

Penulis: Cinta, pernah menjadi peserta pertukaran pelajar di Polandia, dapat dikontak di akun Instagram yp_cinta.