Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Kategori: CERITA SAHABAT
Cerita pengalaman, pengamatan, pengetahuan dan praktik baik orang Indonesia tentang tema-tema spesial di luar Indonesia. Cerita Sahabat dikelola oleh Mariska Ajeng (di Jerman), Aini Hanafiah (di Norwegia), Tutut Handayani (di Swedia), Rieska Wulandari (di Italia), Griska Gunara (di Inggris) dan tampilan visual di Instagram dikelola oleh Rena Loliver, (di Swiss).
Untuk partisipasi, bisa mengirimkannya via form bit.ly/Sahabat-Ruanita atau kontak Tim Cerita Sahabat via email ke info@ruanita.com.
Banyak keluarga dan kolega menyayangkan keputusanku untuk pindah mengikuti suami ke Jerman. “Sayang, sudah kuliah mahal-mahal akhirnya tidak bekerja,” begitu kata mereka ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Indonesia. Bagiku, orang bebas berkomentar apapun, namun kita lah yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita.
Sebelum memutuskan pindah ke Jerman tentunya aku sudah mempertimbangkan segala baik buruknya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan belajar Bahasa Jerman dan mencari informasi seputar hidup dan bekerja di Jerman.
Aku percaya pindah ke Jerman bukanlah akhir dari karierku. Setelah tiba di Jerman dan semua berkas kependudukan selesai diurus, aku mulai mendaftar untuk Annerkennung (=pengakuan ijazah). Sebagai seorang dokter umum, aku perlu melakukan Annerkennung sebelum bisa bekerja di Jerman. Tetapi karena suatu hal, saat ini aku belum bisa mendaftar Annerkennung. Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk berkarir di sini, malahan aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih mendalami Bahasa Jerman.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, antusiasmeku mulai memudar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja 40-50 jam seminggu, aku mulai merasa membosankan ketika aku tidak bekerja. Di saat yang sama teman-temanku satu per satu mulai melanjutkan pendidikan atau mendapat promosi di karirnya. Sedangkan aku stuck di sini.
Komentar negatif dari keluarga dan kolega ketika aku resign juga terus membayangiku. Hingga aku merasa cemas dan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan pindah ke Jerman adalah hal yang tepat. Everything felt so overwhelming, and I couldn’t stop thinking: what am I even doing here?
Rasa cemas ini sering kali datang, terlebih bila aku sedang sendiri. Terlebih aku tinggal di kota kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk mencari komunitas dan bertemu orang-orang baru. Sebelumnya, aku tidak menyangka tinggal di luar negeri bisa membuat kita merasa kesepian seperti ini. Namun aku bersyukur, suami dan teman-teman di sini sangat suportif terhadapku.
Selain itu, Journaling membantuku mengatasi rasa cemasku. Meluapkan perasaan negatif ke dalam tulisan membuatku lebih tenang. Aku tersadar kalau setiap orang punya mimpinya masing-masing. Penting bagiku untuk fokus pada mimpiku sendiri. Semakin aku membandingkan diriku dengan hidup orang lain, semakin membuatku terus merasa kurang dan hanya akan membuatku berganti-ganti tujuan.
Realita pindah dan ikut tinggal bersama suami di luar negeri memang tidak seindah jalan cerita film komedi romantis. Namun, pindah ke luar negeri dapat membuka kesempatan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di negeri sendiri.
Penulis: Gita Feddersen, tinggal di Jerman dan dapat dikontak di akun IG: gitafdsn
Nama saya Inez, saat ini berdomisili di Jerman sejak dari Juli 2022. Sebelum pindah ke Jerman – kurang lebih 6,5 tahun – kami sekeluarga tinggal di Austria. Semenjak menikah, saya tidak bekerja kantoran lagi tetapi saya ikut suami bekerja di Austria. Sekarang saya menjadi ibu rumah tangga. Aktivitas sehari – hari saya seperti ibu rumah tangga umumnya, mulai dari menyiapkan suami berangkat kerja dan anak berangkat ke Kindergarten (=taman kanak-kanak dalam Bahasa Jerman), menyiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang hingga selanjutnya saya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, masak dan menjemput anak dari Kindergarten. Di sela-sela, itu saya juga membuat konten video & mengedit video untuk YouTube Channel saya.
Mengenai Bedwetting selama fase Toilet Training, menurut saya hal yang wajar. Perilaku mengompol anak saya saat usia 1,5 tahun ke atas, lebih disebabkan anak dalam masa transisi. Anak diperkenalkan dari yang terbiasa memakai popok sejak bayi sampai di usia 1,5 -2 tahun sampai anak saya dilatih untuk BAK (=Buang Air Kecil) dan BAB (=Buang Air Besar) di toilet. Jadi dia terlanjur mengompol di celana hehehe.
Mengompol di usia 2-4 tahun menurut saya masih batas hal yang wajar ya. Ini bukan karena stres, trauma atau masalah medis. Masa transisi anak dari terbiasa memakai popok ke pelan- pelan lepas popok butuh waktu, dan dalam proses tersebut pasti ada masa anak mengompol. Jadi tidak perlu langsung berfikir anak mengompol karena stress atau ada masalah medis dulu ya.
Pada saat anak berusia 2 tahun, dia masih agak kesulitan berbicara lancar untuk mengatakan ke toilet hehe. Terkadang anak belum fokus mengatakan keinginannya padahal dia sudah mulai merasakan ingin pipis atau poop. Bisa jadi anak asyik bermain, kemudian tiba-tiba dia mengompol, sementara dia lupa kalau tidak pakai popok lagi hehe.
Pada masa transisi, anak saya berusia 1,5 tahun menuju 2 tahun ya, dia hanya memakai popok di malam hari. Dari pagi hingga sore hari, dia hanya memakai celana dalam khusus training. Pada masa itu, anak mengompol dalam 1 hari bisa 2 sampai 3 kali. Penyebabnya, menurut saya, selesai anak minum susu atau air, dia mengalami kebelet pipis. Namun, anak belum bisa lancar berkomunikasi sehingga terjadi mengompol di celana. Penyebab mengompol lainnya dari pengamatan saya, anak belum bisa menahan pipis saat anak sedang berjalan menuju ke toilet.
Setelah anak pelan-pelan sudah terbiasa ke toilet, saya kemudian melatih untuk melepas popok di malam hari secara perlahan. Sebelum tidur, anak terbiasa minum susu. Saya kemudian meletakkan alas tidur di atas kasur – semacam perlak – supaya tidak tembus air ke Kasur kalau dia mengompol.
Pada masa latihan tersebut, anak masih mengompol beberapa hari. Setelah 1-2 minggu kemudian, anak sudah mengerti. Kalau anak sudah merasa ingin pipis, dia harus membangunkan saya sebagai ibunya untuk mengantarkannya ke toilet. Menurut saya, pada masa transisi fase toilet training ini, jika anak masih mengompol maka kita belum perlu berkonsultasi ke ahli ya. Kita mungkin perlu datang berkonsultasi ke ahli kalau anak telah berusia 5 tahun ke atas dan masih sering kedapatan mengompol.
Berdasarkan pengalaman saya, saya tidak berkonsultasi kepada siapa pun. Saya menjalani proses Latihan toilet training ke anak secara mandiri. Saya pikir, kuncinya adalah orang tua harus sabar dan belajar mencari tahu tentang proses toilet training tersebut lewat literatur yang tersedia. Sebagai orang tua, kita perlu menyiapkan diri apa saja yang diperlukan anak dalam fase toilet training tersebut.
Berikut ini adalah persiapan saya melatih anak untuk tidak mengompol di fase Toilet Training:
Toilet mini anak (potty chair)
Potty chair punya anak saya bahkan ada musik yang membuat dia merasa nyaman dan senang saat dia pipis atau poop. Kalau dia merasa berhasil, maka keluar musik. Teknik selanjutnya Pretend Play, di mana anak juga bisa diperkenalkan tentang tombol flush seperti layaknya toilet orang dewasa. Ini membantu anak tahu bagaimana menggunakan toilet pada umumnya.
Toilet chair
Setelah anak sudah memahami kapan waktunya BAK atau BAK, kita bisa perlahan mengajak anak untuk ke toilet orang dewasa umumnya. Kita bisa membelikan toilet chair dengan motif yang disukai anak-anak. Ini biasa digunakan hingga dia berusia 5 tahun. Anak juga bisa menggunakan tangga dengan variasi model yang disukai anak-anak dan nyaman untuknya.
Training pant
Di awal fase belajar, karena anak masih terbiasa dengan popok. Orang tua bisa menggantikan popok dengan training pant ini sebagai masa transisi untuk mengenakan celana dalam. Kalau anak masih mengompol, orang tua dengan mudah mencucinya.
Perlak atau seprai anti air
Menurut saya, kita perlu untuk meletakkan alas semacam perlak atau seprei anti air. Pada masa fase ini, anak sudah mulai belajar untuk tidak mengenakan popok lagi saat tidur di malam hari.
Buku bacaan untuk anak tentang Toilet Training
Saya sengaja membeli buku cerita bergambar untuk anak sehingga anak bisa memahami soal kebersihan diri seperti menyikat gigit atau BAK/BAB. Di sini anak bisa melihat gambar dan orang tua bisa mendampingi anak untuk memahami kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Catatan observasi waktu anak BAB/BAK
Orang tua perlu memantau waktu jam BAB/BAK sehingga lebih memudahkan untuk memberitahukan ke anak. Kita bisa mencatat frekuensi anak memerlukan toilet. Kita melatih bagaimana anak duduk di toilet. Catatan ini saya buat di hape saya saja. Kalau malam hari, saya kadang bangun dan mengecek keinginan anak untuk pipis misalnya.
Sering berkomunikasi ke anak
Ajari anak untuk memahami mengapa dia harus BAB/BAK di tempat sebenarnya. Ajari anak mengapa dia perlu tahu menggunakan toilet. Saya katakan padanya bahwa dia perlu belajar sendiri karena dia perlu pergi ke Krabbelstube – semacam PAUD di Indonesia. Usia anak saya saat itu masih 1,5 tahun.
Banyak pula mitos yang berkembang di masyarakat di Indonesia, perihal mengompol pada anak. Misalnya pusar anak perlu digigit capung untuk menghentikan kebiasaan mengompol. Mitos lainnya mengatakan kalau anak dilarang untuk mengonsumsi makanan pedas atau asam, supaya anak tidak terlalu banyak minum yang jadi penyebab mengompol. Saya sendiri lebih memilih tidak terlalu memercayai mitos yang beredar perihal kebiasaan mengompol.
Ada juga pendapat yang mengatakan kalau kebiasaan mengompol anak dikarenakan History dalam keluarga seperti ayah atau ibu yang memang mengompol pada masa anak-anak. Sejujurnya, saya tidak ingat tentang pengalaman masa kecil saya. Apakah saya pernah mengompol atau tidak saat saya masih anak-anak tersebut? Saya rasa hampir semua orang di masa kanak-kanak pernah mengompol ya ‘kan.
Sebagai orang tua, kita tidak perlu mengkhawatirkan berlebihan tentang kebiasaan mengompol anak di fase Toilet Training sepanjang anak masih berusia 1-4 tahun dan dalam batas wajar. Seperti yang disampaikan sebelumnya, orang tua perlu mengamati dan memahami apa yang menjadi penyebab anak mengompol. Misalnya anak terlalu banyak minum susu atau air sehingga dia malas untuk bangun dan berjalan ke toilet. Selama perilaku mengompol anak hanya 1-2 kali dan tidak terlalu sering, kita bisa menganggap hal tersebut dalam batas wajar kok.
Kita perlu mengecek dan berkonsultasi ke ahli, apabila anak masih memiliki kebiasaan mengompol yang intens padahal anak sudah berusia di atas 5 tahun, bahkan hingga anak berusia 7 tahun. Saran saya, sebelum kita berkonsultasi ke ahli, kita bisa bertanya ke anak. Tanyakan ke anak, mengapa dia masih mengompol. Apakah anak mengalami keterlambatan perkembangan seperti komunikasi, berjalan, atau lainnya?
Menurut saya, anak seharusnya bisa memahami apa yang disampaikan oleh orang tua agar anak dapat pipis atau poop di tempat yang tepat. Kalau anak belum memahami apa yang disampaikan orang tua, kita bisa bertindak untuk mengatur pertemuan dengan ahli.
Untuk Sahabat RUANITA yang memiliki anak sedang dalam fase toilet training dan anak masih mengompol, pastikan anak dan orang tua siap dan sabar. Karena di fase toilet training, orang tua perlu bolak-balik membersihkan celana bekas pipis atau poop. Kita perlu sering bangun di malam hari untuk mengecek anak. Bisa jadi kita pun kesal atau lelah dengan proses tersebut yang kemudian bisa berdampak ke anak juga loh. Kalau sudah begitu, anak bisa jadi takut untuk belajar.
Saya bersyukur bahwa saya dan anak dapat melewati fase toilet training berjalan lancar dan aman, dimulai pada saat anak berusia 1,5 tahun. Semoga pengalaman dan cerita saya ini bermanfaat untuk semua.
Penulis: Inez, tinggal di Jerman. Dia dapat dikontak via instagram @inez_ck dan pengelola kanal YouTube Inez CK
Halo Sahabat Ruanita, namaku Ratna dan tinggal di sebuah negara di benua Eropa. Aku ingin berbagi cerita pengalamanku tentang menjadi korban child shaming. Saat diminta bercerita tentang tema ini, aku punya konflik batin. Apakah aku pernah menjadi korban child shaming? Namun, saat aku melihat contoh-contoh child shaming yang aku temukan di internet, aku punya beberapa pengalaman yang bisa aku bagi.
Hal yang paling aku ingat sampai sekarang berkaitan dengan fisikku. Dari kecil, aku memang bertubuh pendek dan lebih gemuk dari saudara-saudaraku. Keluargaku bilang badanku mirip dengan nenek dari pihak ayah, karena ada beberapa tante dan omku yang punya fisik seperti aku. Aku ingat, waktu aku masih remaja, keluargaku pernah bilang pulpen yang dia punya seperti aku, gendut. Waktu itu aku pura-pura tidak mendengar dan bersembunyi di kamar. Aku sedih sekali mendengarnya, karena tubuhku diejek seperti pulpen yang bagian tengahnya besar.
Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan tubuhku. Aku menganggap keacuhanku itu sebagai karunia. Kalau tidak, mungkin aku sekarang mempunyai gangguan makan karena aku merasa tidak pernah merasa puas dengan tubuhku. Sekarang ini tubuhku lebih gemuk daripada sebelumnya. Namun, hal yang membuatku sedih adalah aku merasa sangat gendut, padahal dulu beratku 20 kilogram lebih ringan daripada sekarang ini.
Aku tidak percaya diri dengan tubuhku karena omongan orang-orang di lingkunganku. Sekarang aku sadar, seberapapun berat badanku dan seberapa besarnya bentuk badanku, maka selalu ada orang terdekat yang menyebutku gendut dan menyuruhku diet. Oleh karena itu, aku mencoba untuk tidak mendengar mereka. Aku ingin kurus karena aku ingin sehat, bukan karena mereka.
Tidak hanya fisik, keluargaku juga mengkritik apa yang aku lakukan. Jika aku salah melakukan sesuatu, ibu akan bilang „Gini saja gak bisa! Gimana sih kamu?“ di depan saudara-saudaraku. Aku pernah juga mengalaminya di depan sepupu, tante, dan omku yang sedang datang berkunjung. Jika aku tidak bisa menemukan barang yang dicari orang tuaku, mereka juga akan marah dan bilang aku mencarinya tidak pakai mata.
Di keluargaku, menangis adalah suatu hal yang tabu. Setiap kali aku sedang sedih, aku berusaha untuk menahan tangisku. Walaupun tangisku terpaksa keluar, jangan sampai diketahui siapapun! Sering kali ibuku menyuruh aku untuk berhenti menangis dengan kalimat, „Tidak usah menangis! Masak begitu saja kamu menangis, sih! Apa kamu tidak malu dilihat orang?“. Atau sering juga aku mendengarkan mereka bilang kalau tangisanku bisa didengar orang-orang satu kampung.
Kakakku juga sering menyuruh anak-anaknya untuk berhenti menangis dengan cara seperti itu. Aku sebagai perempuan mungkin cukup „beruntung“ dengan stigma anak perempuan cengeng. Sebaliknya anak laki-laki seperti keponakanku, mereka diajarkan untuk tidak menangis karena mereka laki-laki. Padahal laki-laki juga punya emosi dan boleh menangis untuk mengungkapkan rasa sedih mereka.
Bukan hanya di rumah, child shaming juga rentan terjadi di sekolah oleh guru-guru. Entah bagaimana anak-anak sekarang, tetapi dulu saat aku masih di SMP seringkali guru-guru menitip dibelikan makanan di kantin sekolah. Aku benci dititipi belanja oleh mereka. Jika belanjaan salah, mereka tidak maklum dengan aku, tetapi mencemooh. Atau muka mereka terlihat kesal dan kecewa. Aku juga menjadi kesal dan kecewa dengan diriku karena tidak punya ingatan tajam dan tidak becus melakukan tugas dari mereka.
Di kelas pun tidak jarang guru-guru mencemooh murid-muridnya. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat aku masih SD, ada satu teman sekelas yang disebut bodoh oleh guru karena tidak bisa menjawab pertanyaan. Waktu kelas tiga SMA, guru matematika aku bilang, „Kalau di antara kalian ada yang menjadi dokter, ibu tidak akan pernah mau berobat ke kalian. Soal matematika begini saja, kalian tidak ada yang bisa mengerjakannya! Ibu tidak percaya kalian bisa (jadi dokter yang kompeten)“. Aduh, mendalam sekali nggaksih mendengar guru sendiri bilang seperti itu?
Ada satu hal yang aku rasa pernah dialami semua orang dan mungkin pernah dilakukan semua orang tua ke anaknya, yaitu membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Aku punya teman yang sering bilang ke anak laki-lakinya kalau kakak perempuannya lebih baik dari dia. Nilai di sekolah lebih bagus, perilakunya lebih tenang, dan lebih penurut dibandingkan dia. Aku sedih sekali setiap mendengar dia membanding-bandingkan anaknya karena aku teringat dengan pengalaman pribadi kalau aku sering dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya juga. Padahal itu berdampak negatif yang akan dirasakan anak laki-lakinya itu.
Secara pribadi, aku melihat diriku tidak pernah merasa cukup. Aku cukup perfeksionis di banyak hal, karena aku merasa tidak berharga dan menganggap saudara-saudaraku lebih baik dariku. Mereka lebih pintar, lebih penurut, lebih cantik, lebih kurus, dan lainnya. Aku khawatir anak laki-laki temanku itu kelak menjadi anak yang juga tidak merasa cukup, karena merasa kakaknya lebih baik dari dia.
Menceritakan kembali percakapan pribadi dengan anak ke orang lain juga termasuk child shaming, loh! Aku beruntung waktu aku kecil belum ada media sosial. Lihat saja zaman sekarang saat semua orang pakai media sosial dan berlomba-lomba mendapatkan jempol terbanyak. Banyak sekali akun-akun media sosial dengan profil anak-anak yang dikelola oleh orang tuanya. Foto, video, dan percakapan anak-anak tersebut diumbar ke banyak orang, tidak jarang juga sebenarnya memalukan anak-anaknya. Mungkin mereka lupa anak-anak akan tumbuh menjadi dewasa dan kelak akan melihat apa saja yang orang tuanya publikasi ke publik tanpa persetujuan dia.
Seorang temanku mengingatkan, memposting foto atau video anak ke media sosial juga berpotensi untuk menjadikan anak korban child/body shaming oleh orang asing. Sebagai orang tua, kita mudah saja mengejek anak kita, apalagi orang lain yang hanya melihat anak kita di media sosial. Dia bercerita tentang pasangan artis Indonesia yang rajin posting foto-foto anaknya di Instagram. Suatu saat tiba-tiba mereka bilang ada orang yang sering mengejek anak mereka di kolom komentar di Instagram dan Youtube mereka dengan menyebut anaknya idiot. Setelah diselidiki, pelakunya adalah seorang ibu dan guru. Aduh, miris sekali ya! Ibu yang punya anak kandung dan anak didik, tetapi melakukan child shaming dengan alasan iseng. Pelaku tidak sadar bahwa yang menjadi korban bukan hanya orang tuanya, tetapi anak berumur satu tahun yang belum mengerti apa-apa.
Sekarang saat menjadi orang dewasa yang tumbuh dengan child shaming, aku berhati-hati jika berbicara dengan anak-anak. Aku takut melakukan apa yang dulu dilakukan orang dewasa terhadapku. Aku juga tidak suka jika mendengar orang dewasa menyebut anak-anak dengan „wild child“ karena anak tersebut aktif. Aku pernah mendengar anak temanku A, yang berumur tujuh tahun menyebut anak temanku yang lainnya B, yang berumur dua tahun dengan sebutan „wild“. Temanku si A tersenyum mengamini ucapan anaknya. Di sisi lain, aku juga tahu temanku si B juga sering bercanda dengan mengatakan begini begitu, seperti misalnya „Iya, memang anakku susah makan“.
Child shaming sering kali dilakukan untuk mendidik anak. Membuat anak menjadi merasa bersalah dan malu dan berharap mereka akan mengubah perilakunya seperti yang orang tua inginkan. Orang tua lupa atau mungkin tidak mengerti, child shaming berdampak buruk. Aku yang sering diejek gendut, menjadi tidak cinta diriku sendiri. Saat orang lain memuji fisikku, aku tidak percaya dengan mereka.
Dulu aku tidak pernah diajarkan untuk menangis kalau aku sedang merasa sedih. Aku malu untuk menangis saat orang terdekatku meninggal dunia, sehingga aku perlu pergi ke psikolog untuk belajar menangis. Aku tidak pernah mengajukan pertanyaan di kelas, karena aku takut guru atau dosenku bilang pertanyaanku bodoh. Aku juga tidak pernah percaya diri untuk menjawab pertanyaan dosen dengan alasan takut jawabanku salah dan mereka bilang aku bodoh. Padahal kenyataannya sebaliknya, jawabanku benar dan teman sekelasku salah.
Tidak banyak orang yang sadar bagaimana cara kita mendidik anak adalah cerminan dari bagaimana orang tua kita dahulu mendidik kita. Aku sering kali ingin bilang ke anak-anak, „Ini gampang, masak kamu begini saja tidak bisa!“. Padahal mereka membutuhkan motivasi, bukan cemooh. Mungkin juga temanku yang sering membandingkan anak-anaknya pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil. Mungkin dia juga merasa bersaing dengan saudara-saudaranya.
Sekarang aku ingin menjadi orang dewasa yang memutuskan jeratan child shaming. Aku belajar bagaimana memberikan kalimat positif ke anak-anak, belajar memuji, dan memanggil mereka dengan panggilan sayang sehingga mereka merasa cukup dan belajar tidak memberikan label pada anak mereka kelak. Jika anak tidak mau salaman dengan orang yang lebih tua, bukan berarti dia anak tidak sopan. Dia hanya membutuhkan waktu untuk mengenal orang baru.
Dari sumber-sumber yang kubaca disebutkan, anak-anak yang mengalami child shaming dari orang tuanya akan tumbuh menjadi orang yang mencari validasi. Temanku yang juga punya pengalaman menjadi korban child shaming bilang, „Aku pernah sangat berusaha mencari validasi dari luar, tetapi tidak pernah merasa cukup. Begitu ibuku memujiku, aku merasa puas dan tidak lagi berusaha mencari validasi dari luar“.
Mendengar hal itu, membuatku bercermin. Mungkin rasa “haus akan pujian” terjadi karena aku butuh validasi dari keluarga. Suatu hal yang tidak pernah aku dapatkan saat aku masih kecil.
Di sebuah kota kecil di Swiss, tinggal seorang anak bernama Daniel. Daniel adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Dia memiliki tekad yang kuat untuk belajar dan selalu ingin berbagi pengetahuannya dengan teman-temannya. Namun, hidupnya berubah ketika dia masuk ke kelas lima. Di kelas barunya, Daniel bertemu dengan Kevin, seorang anak yang sering merasa cemburu pada kecerdasan dan kepopuleran Daniel. Kevin merasa terancam oleh kemampuan Daniel dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sasaran bullying.
Awalnya, bullying itu terjadi secara halus, dengan cemoohan dan ejekan di balik punggung Daniel. Pertama kali, Daniel merasakan adanya sesuatu yang tidak beres adalah ketika dia mulai kehilangan teman-temannya. Mereka menghindari Daniel dan berpaling kepada Kevin, karena takut menjadi korban selanjutnya. Daniel merasa sendirian dan takut. Dia merasa tidak berdaya menghadapi sikap Kevin dan mulai merasa rendah diri.
Perubahan dalam perilaku Daniel mulai terlihat. Dia menjadi lebih tertutup, sering merasa sedih, dan prestasinya di sekolah mulai menurun. Pada suatu hari, ketika Daniel pulang dari sekolah dengan mata yang merah karena menahan air mata, ibunya, Lisa, melihat perubahan ini dan memutuskan untuk mengajak bicara Daniel. Setelah beberapa saat keraguannya luluh, Daniel akhirnya menceritakan pengalaman bullying yang dialaminya dari Kevin.
Mendengar cerita Daniel, hati Lisa teriris. Dia merasa sedih melihat anaknya yang sedang menderita. Lisa dengan tegas meyakinkan Daniel bahwa dia tidak sendirian dan bahwa mereka akan menghadapi masalah ini bersama-sama.
Bullying adalah tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan berdampak negatif bagi korban. Saya percaya bahwa bullying adalah masalah serius yang perlu segera diatasi. Bullying dapat merusak harga diri dan kesejahteraan mental seseorang, dan mempengaruhi perkembangan mereka secara keseluruhan.
Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk bersama-sama mengambil tindakan dan mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menghormati dan menghargai orang lain. Hanya dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, kita dapat menghentikan kejadian bullying.
Dari pengalaman yang dialami Daniel dan Lisa, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mereka yang menjadi korban bullying. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diambil:
Dengarkan dengan empati
Dengarkan cerita anak Anda dengan penuh perhatian dan empati. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang pengalaman mereka tanpa interupsi. Ini akan membantu anak merasa didengar dan didukung.
Berikan dukungan dan cinta
Berikan dukungan dan cinta tanpa syarat pada anak Anda. Jelaskan bahwa mereka tidak salah dan tidak sendirian. Pastikan anak merasa aman dan terlindungi di lingkungan keluarga mereka.
Ajari strategi penanganan konflik
Bantu anak Anda untuk mengembangkan keterampilan sosial dan strategi penanganan konflik yang efektif. Ajari mereka cara mengkomunikasikan perasaan mereka secara positif dan mencari bantuan dari orang dewasa ketika dibutuhkan.
Koordinasi dengan sekolah
Sampaikan masalah ini kepada pihak sekolah dan ajak mereka berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah ini.
Penyebab bullying pada anak bisa bermacam-macam, dan seringkali merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berinteraksi. Kurangnya pemahaman tentang empati dan penghargaan terhadap perbedaan orang lain, memiliki masalah kepercayaan diri dan harga diri rendah, pengaruh lingkungan seperti keluarga yang tidak mendukung atau pola perilaku agresif dalam lingkungan sekitar anak, tekanan sosial dan dorongan untuk menunjukkan dominasi atau kuasa atas orang lain, dan yang juga seringkali dilupakan adalah kurangnya memberikan pemahaman tentang dampak buruk dari tindakan bullying.
Dengan niat ingin berbagi pengalamannya, Lisa memiliki beberapa saran untuk orang tua korban Bullying, antara lain :
Yang pertama, dengarkan dan percayai anak Anda. Berikan mereka kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan pastikan mereka merasa didengar dan didukung. Kemudian berikutnya, jaga komunikasi terbuka dengan sekolah. Koordinasikan dengan guru dan staf sekolah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menangani bullying.
Kita juga perlu mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang kuat melalui kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau klub-klub yang diminati. Jangan lupa ajari anak Anda tentang pentingnya penghargaan terhadap perbedaan orang lain dan bagaimana bertindak dengan empati.
Dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Konsultasikan dengan psikolog atau konselor yang berpengalaman untuk membantu anak Anda mengatasi trauma dan membangun kembali kepercayaan diri mereka.Terus berikan dukungan dan cinta tanpa syarat. Ingatkan anak Anda bahwa mereka berharga dan tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.
Lisa juga berbicara dengan Daniel tentang pentingnya menghargai diri sendiri dan memperkuat kepercayaan diri. Mereka mencari kegiatan ekstrakurikuler yang diminati Daniel, seperti bergabung dengan klub sains dan drama di sekolah. Melalui kegiatan ini, Daniel bertemu dengan teman-teman baru yang mendukung dan menghargainya.
Selain itu, Lisa terus memberikan dukungan emosional pada Daniel. Dia selalu siap mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiran Daniel, serta memberikan nasihat dan dorongan yang dibutuhkan. Lisa juga mengajarkan Daniel tentang pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain, sehingga Daniel dapat memahami bahwa tindakan Kevin bukan salahnya.
Dalam beberapa bulan, dengan dukungan yang tak tergoyahkan dari ibunya dan tindakan yang diambil oleh sekolah, situasi mulai berubah bagi Daniel. Bullying yang dialaminya mulai mereda. Kevin mendapatkan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakannya. Mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan mereka.
Daniel belajar banyak dari pengalaman ini. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dan penuh kepercayaan diri. Dia juga mulai memahami bahwa kebaikan, empati, dan dukungan adalah senjata yang paling ampuh dalam menghadapi bullying.
Melalui kesabaran, kasih sayang, dan tindakan yang tepat, Lisa membantu Daniel mengatasi pengalaman bullying yang dialaminya. Mereka membuktikan bahwa dengan mendukung satu sama lain, kita dapat mengatasi tantangan yang sulit dalam hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin anaknya mengalami bullying sama seperti yang dialami Daniel, Lisa berpesan bahwa: “Ingatlah setiap situasi bullying adalah unik, dan solusi efektif mungkin berbeda untuk setiap anak. Kita harus tetap tunjukan empati, tanggap dan berkomunikasi dengan anak Anda. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat menghadapi pengalaman ini dengan kekuatan dan membangun kepercayaan diri yang kokoh.’’
Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang. Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.
Semua dimulai ketika saya mengikuti program Ausbildung. Ausbildung adalah proses pendidikan vokasional yang dilaksanakan pemerintah Jerman untuk periode tertentu. Saya berangkat bersama salah satu teman sekampus saya. Kami tidak begitu dekat, tetapi selama proses Ausbildung kami menjadi dekat. Kami merasa saling berempati karena masa Ausbildung yang kami lewati sangat berat. Sedih dan senang kami lalui bersama.
Suatu hari, ia bertengkar hebat dengan atasan kami. Ia merasa tertekan, lalu kami mengobrol di ruang tertutup. Ia bercerita pada saya bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya mengatakan untuk jangan berhenti di tengah jalan karena hanya tinggal 1 tahun lagi sampai kelulusan. Lalu ia mengatakan bahwa ibunya tengah sakit dan ia lebih baik pulang daripada meneruskan program ini. Mendengar alasan itu, saya hanya terdiam dan mengiyakan kepulangannya ke Indonesia.
Hari di mana ia pulang, saya mengantarkannya ke bandara Hamburg, dan membantu mendorong koper besarnya. Hari itu saya bahkan tidak masuk sekolah dan berbohong dengan alasan sakit demi mengantarnya. Sesampainya di bandara, saya mengatakan bahwa jika nanti ia sampai di Indonesia dan teman-teman lain ingin tahu tentang hidup saya, tanyakan langsung pada saya, saya akan menjawab sendiri.
Sebelumnya mereka sudah penasaran dengan kehidupan saya di Jerman. Saya tidak ingin ia terganggu dengan pertanyaan tidak penting mereka. Ia pun mengangguk.
Beberapa bulan setelah kepulangannya, kami masih sempat mengobrol baik. Suatu hari ia mengutarakan isi hatinya selama ini di dalam grup whatsapp kami dan teman lainnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah muak kepada saya.
Saya dituduh menjelek-jelekkannya di depan kolega kerja lainnya sehingga mereka membencinya. Saya juga disebut sebagai alasan mengapa ia pulang ke Indonesia. Tidak hanya saya, semua teman di grup tersebut ia umbar keburukannya. Saya sangat geram, bahwa tidak seharusnya ia mefitnah kami di depan lainnya seperti itu.
Saya mengatakan jika ia memang kesal dengan saya, mengapa tidak dari dulu saja ia utarakan isi hatinya. Mengapa baru sekarang ia berperilaku demikian? Alasannya sederhana, dia sedang menstruasi sehingga emosinya saat ini berapi-api. Itu tidak masuk akal.
Saya sebagai ketua grup langsung mengeluarkan dia karena hal tersebut telah membuat saya kesal. Saat itu juga saya langsung mengatakan jika ada yang merasa kesal satu sama lain, silakan menyelesaikannya secara pribadi. Jangan sampai orang lain tahu karena itu tidak baik. Detik itu juga saya blokir semua kontak dan media sosialnya.
Ternyata ia tidak berhenti sampai di situ. Ia mengontak teman-teman sekelas kami di Berufsschule dan menanyakan keberadaan ijazah kelas duanya yang tentu saja ada pada saya. Mereka pun berdatangan dan bertanya apakah kami sedang bertengkar.
Teman-teman pun bercerita bahwa pada awalnya ia sebenarnya sudah tahu keberadaan ijazahnya ada pada saya kemudian ia menjelek-jelekkan saya pada teman-teman lainnya.
Suatu hari saya mendapat kabar dari salah seorang teman kampus saya bahwa tingkahnya semakin hari semakin aneh. Dari menolak lamaran kerja karena dia tidak suka Jobdesc-nya sampai mengutarakan bahwa ia menjalin hubungan dengan seseorang yang fiktif.
Saya sangat tahu keadaannya saat ini, di mana ia sedang stres karena uang mulai menipis dan ia masih belum juga bekerja. Saya justru merasa iba dengan cerita tersebut sampai kami kembali bertengkar hebat dalam grup kampus.
Semula berawal ketika akhirnya ia mengaku „dikerjain“ sepupunya yang mengedit fotonya dengan pria asing lalu disebar dalam grup kampus. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi Tinder tidak selalu buruk, ia menyebut nama saya sebagai buktinya. Ia seolah-olah kembali menyeret saya dalam permainannya, dan saya tidak senang.
Saya yang selama ini diam, langsung menanyakan padanya mengapa ia mefitnah saya dan mengatakan hal jahat tentang saya pada orang lain? Bahkan ia mengumbar rahasia yang selama ini saya simpan padanya di depan banyak orang.
„Kamu sendiri yang mengatakan kamu tidak baik. Bahkan orang tuamu saja sampai menitipkanmu padaku karena mereka tidak sanggup mengurusmu!“.
Saya sangat terkejut dan langsung menanyakan kebenaran itu lewat orang tua saya. Ibu saya mengatakan tidak mendapat pesan apapun tetapi ayah saya lah yang menerimanya. Ayah saya mengatakan bahwa beliau sempat dikontak olehnya dan mengatakan bahwa saya sekarang memiliki seorang kekasih.
Ia memohon ayah saya untuk menasihati saya dan dan mengatakan „Dosa seorang ayah tidak bisa menasehati anak perempuannya“. Ayah saya sempat berterima kasih kepadanya dan mengatakan bahwa itu bukan urusannya.
Kejadian tersebut meninggalkan bekas luka yang mendalam untuk saya. Sampai saat ini saya belum membuka hati untuk mencari teman baru. Pasangan saya pun sedih dan selalu meminta untuk mencari teman baru tetapi selalu saya tolak. Saya belum siap karena luka tersebut membuat saya trauma.
Suatu hari saya melihat sebuah video yang mengatakan „Jangan membuka peluang sekali lagi untuk seseorang yang sudah menghancurkan hubungan dalam segi pertemanan, keuangan atau percintaan! Ular mengubah kulitnya untuk menjadi ular yang lebih besar lagi“.
Penulis: Brina Weis tinggal di Jerman dan dapat dikontak di Instagram @svasthi_
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Euginia Putri Stederi atau terbiasa dipanggil Uti. Saya berdomisili sejak 2007 di Hannover, Jerman. Latar pendidikan saya sebenarnya adalah Ingenieur of Electrotechnics, tetapi sejak 2014 saya sangat tertarik dengan tema fesyen. Sejak 2016 saya memutuskan untuk lebih memperhatikan fashion yang saya pakai.
Sejak 2016, saya mulai untuk membeli barang- barang secondhand untuk kepentingan fashion saya seperti sepatu, celana, dan baju. Sejak 2019 saya mulai bekerja, saya memutuskan untuk mendukung produk-produk local fashion baik yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Selain itu, saya juga berusaha memerhatikan produk-produk yang mendukung tema Recycle, Reuse dan Reduce.
Memang saya belum berhasil 100% untuk tidak membeli barang dari fast fashion, tetapi setidaknya 70%-80% produk fesyen yang saya punya sekarang berasal dari seconhandshop ataupun produk-produk lokal.
Melalui kesempatan ini, saya mau sharing pendapat saya dan teman-teman saya tentang tema Fast Fashion yang akhir-akhir ini marak di dunia. Sebenarnya, apa sih Fast Fashion itu?
Dari sudut pandang saya, definisi Fast Fashion adalah produksi massal dari barang-barang tekstil untuk berbagai macam ragam produk fesyen dan silih berganti, dengan waktu yang cepat. Contohnya saya tidak bisa menyebutkan nama merek di sini, tetapi kalian pasti tahu.
Ada pun pendapat teman saya tentang Fast Fashion, yakni Natasya Metta W.: “Industri yang mengikuti trend yang artinya berubah secara cepat setiap musimnya.” Lainnya Shahista K berpendapat: “Baju murah, diproduksi massal, dan selalu cepat berubah.”
Secara psikologis, mengapa ya orang tertarik dengan Fast Fashion? Menurut saya, sebagian orang tertarik karena ada faktor dorongan sosial. Mereka akan terlihat lebih trendy, gaul, dan tampak kekinian sekali. Selain itu, orang lain akan lebih „tertarik“ secara sosial dengan mereka.
Teman-teman saya lainnya seperti Anastasia R. yang mengatakan kalau harga juga memengaruhi orang untuk membeli Fast Fashion. Pendapat lainnya seperti Cia, yang mengatakan kalau iklan yang memanfaatkan Influencer yang mengikuti tren juga mendorong untuk melakukan Fast Fashion.
Namun begitu, saya sependapat kalau Fast Fashion itu berbahaya bagi lingkungan hidup. Pihak perusahaan ketiga, yang memenuhi pesanan ini dari perusahaan Fast Fashion, sayangnya tidak memiliki sistem pengaturan pembuangan limbah yang tepat.
Misalnya saja, limbah kain atau pewarna tekstil dibuang ke sungai, tanpa pengolahan sebelumnya. Pendapat ini disampaikan oleh seorang Designer lokal di Hannover, Lorena W dalam Bahasa Jerman yang dikutip berikut ini „C02 austoß, wasserverschwendung, umweltverschmutzung, chemikalien im Wasser.“
Itu baru soal lingkungan hidup, dampak lainnya soal kemanusiaan loh. Secara kemanusiaan, bisnis Fast Fashion itu tidak baik juga. Menurut opini saya, kebanyakan bisnis Fast Fashion menggunakan jasa dari orang lain atau tepatnya negara lain, terutama negara berkembang yang menawarkan upah yang sangat minimum.
Mengapa ini berbahaya? karena hampir semua pekerja tidak mempunyai asuransi dan mendapatkan perlindungan yang semestinya, baik untuk perlindungan fisik maupun psikis.
Cia, teman saya, berpendapat demikian dalam Bahasa Inggris: “Unregulated 3rd companies that fulfill these fast fashion orders usually not regulated and see their workers as disposable workforce, thus the working conditions are inhuman and the workers are paid per clothes they managed to finish with minimum payment.”
Nah, Sahabat Ruanita bisa paham kalau kita perlu mengatasi Fast Fashion sebelum bertambah buruk lagi. Menurut saya, kita bisa membatasi pembelian barang-barang fesyen dari Fast Fashion. Cara lainnya adalah berusaha untuk memperbaiki pakaian yang rusak. Kita bisa juga memberi atau menjual ulang ke orang lain.
Selain itu, saya secara pribadi, kita bisa membeli dari secondhand shop atau produk-produk lokal. Hal terpenting juga kalau kita ingin tampil bergaya kekinian, kita bisa memanfaatkan Slow Fashion yang tak kalah keren juga.
Terakhir nih, pesan saya untuk Sahabat Ruanita semua yang ingin mengikuti gaya hidup kekinian tetapi ramah lingkungan. Kita tidak perlu membeli atau mengikuti segala hal yang serba kekinian. Jika kita tidak mengikuti tren, bukan berarti kita tidak bisa masuk dalam lingkungan sekitar ‘kan.
We can be smart dengan membuat padu padan barang-barang fesyen yang dimiliki. Kita bisa tampil percaya diri juga dengan apa pun yang kita kenakan. Bagaimana pun barang-barang fesyen juga akan terbuang percuma seberapa pun mahal dan kekiniannya barang tersebut.
Hal terpenting dalam berpakaian menurut saya, kita perlu mengonsumsi barang-barang fesyen yang ramah lingkungan. Dengan begitu secara tidak langsung, kita sudah ambil bagian dalam proses merawat lingkungan hidup sekecil apapun itu.
Penulis: Uti dapat dikontak via akun IG: utt_tee dan tinggal di Jerman.
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Ajeng dan tinggal di Hamburg, Jerman. Mungkin kalian sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya di Cerita Sahabat Ruanita. Kali ini, saya mau bercerita tentang kesulitan saya memutuskan sesuatu.
Saya baru menyadari kesulitan tersebut setelah saya tinggal jauh dari rumah. Sebelumnya saya berkuliah di Bandung dan pulang ke rumah orang tua di Tangerang. Perjalanan ini bisa ditempuh dengan cepat dengan bus atau mobil travel. Jadi kalau saya perlu apa-apa, saya hanya perlu pulang. Ketika saya bingung memutuskan sesuatu, tinggal tanya ibu saya.
Begitu saya tinggal di Jerman, saya kebingungan saat membeli pakaian atau sepatu. Ini bukan hanya soal modelnya saja, tetapi juga ukurannya. Tidak hanya itu, hal kecil lain yang membuat saya harus memilih pun membuat saya overwhelmed.
Jika saya ingat-ingat, banyak sekali pengalaman saya saat saya bingung memilih barang. Saya selalu harus bertanya ke teman-teman dan keluarga (ibu dan adik perempuan) dengan cara mengirimkan foto-foto barang tersebut ke mereka. Saya meminta mereka memilihkannya untuk saya.
Tidak jarang, saya akan memesan atau membeli semua pakaian atau sepatu yang saya suka untuk dicoba di rumah dulu. Tentu saja, saya mencobanya tidak sendirian. Saya akan mengirimkan foto-fotonya ke teman-teman saya atau bahkan menelepon video dengan mereka agar mereka melihat saya saat mengenakan pakaian tersebut. Untungnya, teman-teman saya ini mempunyai selera yang bagus tentang fesyen sehingga bisa saya andalkan.
Bulan lalu, saya memesan sepatu di online shop. Saya memesan tiga sepatu dengan dua model dan dua ukuran berbeda untuk saya coba di rumah teman. Ya, di rumah teman. Saya juga mengirim langsung ke rumah dia. Selain karena saya jarang di rumah, saya ingin agar teman saya itu bisa melihat langsung saat saya memakainya. Padahal, saya sudah mengirimkan foto layar sepatu itu sebelumnya ke dia. Akhirnya, setelah saya melihat dan mencoba langsung, semua sepatu tersebut saya kembalikan.
Ditemani dengan teman saya itu, kami pergi ke toko sepatu dan menemukan sepasang sepatu yang nyaman. Tentu saja, itu atas bantuan dia. Dia yang memilih warna dan modelnya untuk saya. Oh ya, toko sepatu yang kami datangi ada cabangnya di mana-mana. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi ke salah satu cabang tokonya tetapi tidak menemukan apa-apa.
Sepatu tersebut tidak saya pakai sampai dua minggu loh. Saya menunggu dempul ortopedi saya selesai, karena akan disesuaikan dengan sepatu tersebut. Setelah insole dimasukkan, saya memakai sepatu tersebut untuk keluar rumah. Ujung-ujungnya, saya menyesal membelinya. Pada waktu itu, saya memang membeli satu ukuran lebih besar agar insole bisa masuk. Sebagai catatan, sepatu tersebut punya insole yang bisa dilepas. Memang sih setelah sepatu disesuaikan, insole tersebut masuk. Namun, bagian lain kaki saya menjadi sakit karena sepatu itu ternyata terlalu besar.
Sebelum membeli barang, biasanya saya juga akan membaca deskripsi barang dan review dengan teliti. Saya akan memasukkan barang dengan rating bagus ke keranjang belanja digital sebelum membaca deskripsinya. Barang-barang yang saya maksudkan ini biasanya bukan hanya pakaian, tetapi lebih ke peralatan dapur, rumah tangga, atau barang elektronik. Saya merasa hanya sedikit barang-barang di rumah yang saya beli tanpa bertanya ke orang lain atau membaca deskripsinya terlebih dahulu.
Saya memang tidak terlalu senang pergi langsung ke toko pakaian atau sepatu. Menurut saya, banyaknya pilihan di toko maka membuat saya memerlukan waktu lama untuk berpikir. Bisa jadi, di toko saya akan sibuk memasukan banyak pilihan barang ke keranjang, berkeliling di toko tersebut sambil menimbang yang mana pilihan saya, atau apakah saya benar-benar membutuhkan dan mau membeli barang tersebut?
Saya juga selalu menyimpan struk belanja. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kalau saya mungkin mengembalikan barang tersebut. Bisa jadi, saya akan melihat-lihat barang di toko online terlebih dahulu, kemudian mengunjungi ke toko sebenarnya untuk melihat langsung barang tersebut. Setelah itu, saya mungkin akan meletakan barang itu kembali di Display, lalu saya pulang untuk kembali melihatnya di toko online dan berpikir ulang.
Ini tidak hanya persoalan membeli barang. Membeli makanan di restoran juga, itu membingungkan untuk saya. Biasanya saya akan memesan makanan yang sudah pernah saya makan. Kalau di restoran baru, saya akan mengecek terlebih dulu di google review atau website restoran tersebut sebelumnya sehingga saya bisa berpikir lebih lama. Atau saya akan minta rekomendasi dari teman, jika mereka pernah makan di sana.
Memasak juga kadang menjadi hal yang sulit bagi saya. Kadang-kadang, saya akan bertanya ke keluarga di Indonesia atau suami di Denmark apa yang saya harus saya masak, walaupun hanya saya yang makan sendiri. Suami saya sudah enggan meresponnya karena dia tidak mengerti masakan Indonesia. Selain itu, pertanyaan saya terdengar “receh” juga.
Tidak hanya itu, saya juga sulit memutuskan apa yang harus saya lakukan. Contohnya, apakah saya harus menyeberang jalan saat lampu lalu lintas merah sebentar lagi, atau nanti saja? Kalau di tempat kerja, saya bingung memutuskan prioritas apa yang harus saya kerjakan terlebih dulu. Saya sudah tidak ingat lagi contoh-contoh lainnya. Ujung-ujungnya, saya akan terlihat seperti orang linglung, karena saya bisa jadi berputar-putar sendirian di tempat yang sama.
Karena setahun terakhir ini saya sakit kaki, akhirnya saya bikin janji juga di fisioterapi di dekat rumah. Fisioterapis yang praktik di sana ada banyak. Saya memilih fisioterapis yang paling atas di dalam daftar. Mengapa? Semakin saya melihat ke bawah daftar fisioterapis, saya semakin bingung.
Ternyata tepat sekali, jadwal fisioterapis yang saya pilih memang yang paling cepat. Di hari pertama, fisioterapis tersebut mengatakan kalau di sana saya bisa bebas memilih fisioterapis siapa pun. Fisioterapis akan menyesuaikan dengan jadwal saya. Di hari yang sama saya langsung booked empat janji lainnya dengan dia dan satu janji dengan terapis lainnya. Itupun karena jadwal janji terapis pertama tidak sesuai dengan saya. Iya, saya keukeuh membuat jadwal dengan dia lagi untuk menghindari kebingungan mencari fisioterapis baru.
Kemarin adalah jadwal saya dengan fisioterapis yang kedua. Ternyata lebih enak dibandingkan terapis yang pertama. Saya merasa menyesal juga tidak mencoba ke fisioterapis yang lain, karena dari sana saya akan belajar teknik baru untuk latihan otot kaki. Setiap jadwal dengan fisioterapis pertama, dia akan memberikan pijatan di kaki saya yang sakit.
Baru-baru ini saya baru mengerti, bahwa kesulitan saya memutuskan sesuatu itu berhubungan juga dengan ketakutan. Saya takut sepatu yang saya pakai tidak enak dipakai dan tidak bagus, karena itu saya tanya teman. Saya memesan atau memasak makanan yang itu-itu saya karena saya takut makanan lain tidak enak dan saya tidak menikmatinya. Saya takut lari menyeberang di zebra cross yang hampir merah, karena saya malu orang lain melihat saya panik atau takut tiba-tiba mobil akan jalan saat saya masih di tengah jalan. Takut salah, takut malu, dan takut menyesal, itu tiga alasan kebimbangan saya.
Walau saya selalu bertanya ke teman tentang pakaian dan sepatu yang akan dibeli, saya tidak selalu mendengarkan kata mereka. Saya pernah membeli sepatu kulit, walaupun teman saya bilang tidak. Alasannya, dia punya pengalaman kaki menjadi sakit dan lecet saat dia memakai sepatu kulit. Saat sepatu itu datang (lagi-lagi ke rumah teman saya), saya suka sekali.
Sejujurnya, saya merasa sedikit sedih dan takut, kalau pilihan saya sendiri ini salah. Apalagi, setelah saya melihat reaksi teman saya yang tidak tertarik saat saya memakai sepatu itu. Sampai sekarang, saya tidak menyesal mengenakan sepatu tersebut, walaupun memang kaki saya menjadi sakit dan berubah bentuk. By the way, sakit kaki yang tadi diceritakan di atas itu bukan karena sepatu kulit ini. Memang saya sudah mengalami sakit kaki sebelumnya.
Soal alasan psikologis kesulitan memilih, saya baru mengetahui awal tahun ini. Saat itu, terapis psikologis saya mengajukan banyak pertanyaan saat dia sedang melakukan diagnosa. Salah satu pertanyaannya adalah apakah saya susah memutuskan sesuatu. Contoh yang dia maksudkan adalah memilih baju atau makanan dalam kegiatan sehari-hari. Alhamdulillah, saya belum masuk ke tahap tersebut. Saya bisa memutuskan keduanya itu dengan cepat, walaupun pada akhirnya saya selalu memakai baju atau memesan masakan yang sama.
Setelah saya mengetahui indecisiveness berhubungan dengan psikologis saya, saya semakin berusaha untuk menguranginya. Trik saya adalah tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Jika saya mau memesan sepatu atau pakaian, saya memesan saja langsung model yang disukai. Hanya saja, saya memesan dua ukuran berbeda agar bisa dicoba dulu di rumah.
Saat saya memesan barang di online shop, saya masih mencari barang yang memiliki ulasan yang bagus dan membacanya tidak lagi detil. Saya sering juga memasukan dua atau tiga barang tersebut di keranjang lalu saya menunggunya hingga sebulan. Setelah itu, biasanya saya malah tidak lagi punya keinginan untuk memesan.
Hal yang lebih susah mungkin, memutuskan hal yang tidak bisa dibeli atau ditukar, seperti fisioterapis itu. Inginnya saya bisa bertanya ke mereka atau resepsionis tentang fisioterapis mana yang lebih bagus yang disarankan untuk saya. Tentunya, jawaban mereka akan sama saja, seperti kami punya standar yang sama. Sayangnya, di aplikasi cari dokter/terapis belum ada sistem ulasan pasien mereka.
Sebelum menikah, saya diserang oleh indecisiveness yang sangat kuat. Saya takut salah pilih. Rasanya saya mau bertanya ke semua orang dan meminta mereka memutuskannya untuk saya. Namun, tentu saja itu tidak bisa dilakukan. Alhamdulillah, saya tidak menyesali keputusan tersebut sampai sekarang. Kalau pun ada, saya masih punya alasan kuat untuk bahagia bersama suami.
Untuk Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Kalau kamu juga memiliki problem indecisiveness seperti saya, cobalah untuk tidak terlalu memikirkan baik dan buruk dari pilihan kita. Sekali-sekali, cobalah bersikap spontan melakukan atau membeli sesuatu! Jangan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk bersikap overthinking! Kita bisa loh mengikuti kata hati.
Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya, ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis.
Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz, Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk mengurus kebun orang Jerman.
Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman.
Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.
Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.
Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam.
Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis.
Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus.
Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam).
Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi?
Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita?
Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman!
Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman.
Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos, menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan kemampuan Bahasa Jerman.
Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600 jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi.
Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan, bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet.
Bagian kursus orientasi
Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu, meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha…
Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat, teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha.
Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.
Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya, seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!
Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!
Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian.
Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek atau panjang. Baju mana yang lebih bagus dan seterusnya?“ jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar.
Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur.
Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut.
Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.
„Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia, bisa saja tidak biasa di Jerman :).
Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.
Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman.
Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini.
Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.
Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.
Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia.
Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.
Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.
Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia.
Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya.
Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.
Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki.
Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita.
Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.
Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.
Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!
Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw
Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.
Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.
Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.
Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.
Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.
Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing. Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.
Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.
Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.
Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.
Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.
Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.
Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.
Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.
Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.
Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.
Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.
Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.
Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.
Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.
Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini. Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.
Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.
Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.
Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!
Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.
Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.
Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.
Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.
Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.
Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.
Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.
Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”
Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.
Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.
Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!
Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.
Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Perkenalkan saya Nijhas, seorang perempuan asal Indonesia yang menetap di Jerman sejak 2017. Awal mulanya saya datang ke Jerman karena ingin melanjutkan studi Magister di Jerman. Kini saya bekerja di salah satu Organisasi Non Profit di kota terbesar di Jerman, Berlin.
Family remittances atau pengiriman uang ke keluarga di Indonesia merupakan tema menarik, tidak hanya karena berkaitan dengan studi yang saya tekuni tetapi juga pengalaman saya selama ini sebagai anggota keluarga untuk transfer uang ke keluarga Indonesia. Setiap bulan, saya rutin mengirimkan uang untuk kakak saya yang tinggal di Indonesia. Transfer yang saya lakukan biasanya lewat transfer antar bank, salah satu bank di Indonesia. Jadi saya transfer tetap pakai mata uang rupiah. Tentu saya sudah transfer uang gaji saya di Jerman ke rekening bank pribadi saya di Indonesia.
Kalau ditanya tujuan saya transfer, paling banyak tentu untuk kebutuhan sehari-hari seperti bagaimana keluarga kakak saya dapat memenuhi kebutuhan sembako atau membayar tagihan listrik, air dan lainnya. Saya hanya membantu sedikit dari pengeluaran keuangan dia. Saya tidak pernah memperhitungkan nominalnya, tetapi itu rupanya sangat membantu perekonomian Indonesia juga loh. Dengan kita mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia, secara tidak kita sadari, transaksi tersebut mendorong perekonomian di Indonesia.
Dengan uang yang kita kirimkan ke keluarga di Indonesia, keluarga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk dibelanjakan, misalnya untuk membeli kebutuhan makanan pokok, untuk bayar uang sekolah (Edukasi), untuk bayar BPJS Kesehatan (Kesehatan), untuk bayar kontrakan rumah (Well-Being). Mungkin kita tidak berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagaimanapun nilai transfer kecil kita itu berpengaruh untuk terus menghidupkan usaha kecil dan rumah tangga yang memang memerlukan yang ada di Indonesia.
Saya beri contoh misalnya bagaimana mata uang asing yang saya terima sebagai pekerja di Jerman itu dikonversi, dari Euro ke Rupiah maka akan berdampak positif juga pada ekonomi kita. Mau tidak mau permintaan akan Rupiah akan naik. Hal ini menjaga kestabilan perekonomian kita. Bahkan apa yang kita lakukan itu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap uang asing.
Di era moderen seperti sekarang, saya pikir kita sudah semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi perbankan, termasuk mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dari negara tempat kita tinggal dan bekerja. Contohnya teman-teman saya bercerita tentang berbagai aplikasi transfer kekinian yang kata mereka juga paling cepat, murah dan aman. Meski kita juga harus mempertimbangkan kalau keluarga di Indonesia itu gampang juga akses internetnya, tahu bagaimana menggunakan aplikasinya dan memang diterima secara langsung (tanpa pihak ketiga).
Realita menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan keluarga meningkat ketika ada anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Kita tidak lepas dari cara pandang di Indonesia kalau keluarga itu begitu penting, termasuk bagaimana kita juga ikut membantu perekonomian keluarga. Menurut pendapat saya ini hal yang bagus dan saya mendukung cara pandang tersebut.
Saya juga melihat bagaimana status ekonomi keluarga yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri ternyata ikut terdongkrak status ekonominya di mata masyarakat. Ini jelas kalau kesejahteraan pekerja migran pun ikut mengalami perbaikan. Saya juga sering mendengar juga kalau teman-teman yang bekerja di luar negeri pada akhirnya bisa bangun rumah, membayar sekolah anak-anak, bisa membeli baju bermerek, membuat toko kelontong sampai ada yang berinvestasi saham juga.
Pekerja migran membuktikan bahwa nasib mereka menjadi lebih baik ketika mereka mau bersusah payah di negeri orang dan bisa membantu keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Saya menyayangkan saja kalau uang yang diberikan dari anggota keluarga di luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kita bisa loh gunakan uang tersebut untuk investasi seperti membeli tanah atau properti. Ide lain misalnya membuka usaha atau membuat bisnis produktif lainnya yang sekarang juga sudah marak di indonesia.
Kita perlu ingat kalau kita tak selamanya bekerja terus di luar negeri. Suatu saat kita ingin pulang ke Indonesia. Nah, kalau uang yang kita kirimkan hasil kerja keras di Indonesia bisa dipergunakan untuk investasi misalnya, bukan tidak mungkin itu menjadi bekal ketika kita kembali pulang ke Indonesia saat sudah pensiun bekerja di luar negeri. Jadi teman-teman yang bekerja di luar negeri juga bisa mengingatkan anggota keluarganya untuk bersikap ekonomis dan memanfaatkan peluang itu dengan baik.
Saya pikir tidak semua orang punya kemampuan untuk mengelola uang. Keterlibatan pemerintah atau LSM bisa turut memberikan kapasitas atau pelatihan soal manajemen keuangan atau kewirausahaan. Tidak hanya itu, pentingnya juga mengingatkan gaya hidup yang berlebihan dan konsumtif yang justru tidak menghasilkan benefit di masa depan.
Di akhir cerita saya, saya berharap di hari International Day of Family Remittances yang kita rayakan ini pemerintah juga mampu memberantas kelompok-kelompok penyedia jasa layanan pengiriman uang yang ilegal atau terkesan bodong. Hal ini sungguh merusak manakala mereka mengiming-imingi biaya yang rendah kepada anggota masyarakat yang mudah terpengaruh. Perlu juga kita memberantas bank-bank gelap yang menawarkan biaya rendah tetapi menipu. Hal ini masih ditemukan pada kasus-kasus pekerja migran yang tergiur jasa mereka.
Literasi tentang perbankan dan manajemen keuangan juga diperlukan oleh pekerja migran agar mereka tahu bagaimana mengelola penghasilannya secara tepat guna. Pemerintah diharapkan dapat memberikan penyuluhan remitansi yang benar kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri.
Terakhir untuk Sahabat RUANITA, saya menyarankan bahwa selagi kita mampu bekerja di luar negeri, bantulah keluarga kita di Indonesia karena apa yang kita lakukan tidak hanya membantu keluarga saja tetapi juga perekonomian bangsa juga.
Penulis: Nijhas, studi dan bekerja soal keuangan dan kini bekerja di Berlin, Jerman.
Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see.
Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.
Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.
Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.
Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi.
Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.
Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.
Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting.
Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.
Halo Sahabat Ruanita, namaku Amanda. Di tulisan ini aku mau bercerita tentang pengalamanku transaksi tanpa uang fisik di Cina, tempat aku tinggal sekarang ini.
Saat sampai di Cina pertama kali tahun 2021, aku kesulitan untuk belanja, bahkan membeli makanan di sini. Waktu itu aku, suamiku, dan kedua anak kami harus dikarantina selama tiga minggu di hotel tempat kami tinggal. Sayangnya hotel tersebut dan toko-toko tidak menerima uang fisik, padahal waktu itu kami hanya bawa uang Euro dan Yen saja, belum punya rekening bank Cina. Oh ya, sebelum tinggal di Cina, aku dan suami yang berkewarganegaraan Prancis tinggal di Jerman dan Prancis.
Karena sudah mendapatkan informasi tentang cashless dari forum-forum ekspatriat di Cina, kami membawa tiga kardus popok dari Prancis untuk anak-anak kami yang waktu itu masih berumur di bawah tiga tahun. Makanan memang disediakan oleh catering perusahaan tempat suami kerja, tapi mau tidak mau kami harus makan yang disediakan. Kami tidak bisa memilih. Suamiku yang terbiasa makan roti, terpaksa harus makan nasi. Akhirnya, waktu itu suami pinjam uang ke koleganya yang sudah tinggal lebih lama di Cina dan sudah punya rekening bank Cina. Mereka kirim uang lewat WeChat dan kami ganti dengan Euro ke bank Prancis. Untungnya WeChat dan Alipay, aplikasi yang marak digunakan di Cina untuk transaksi keuangan, bisa digunakan meskipun tidak mempunyai rekening bank Cina.
Setelah selesai karantina, aku dan suami didampingi oleh orang dari agen yang ditunjuk oleh perusahaan suami untuk buka rekening bank di Cina. Di sini setiap orang hanya diperbolehkan punya satu rekening. Pembuatan rekening bank juga mudah, hanya perlu paspor dan surat registrasi tempat tinggal dari kepolisian. Setoran pertama di bank juga tidak perlu banyak. Aku pernah melihat orang-orang tua menyetor uang berkoper-koper atau kantong plastik. Itu masih bisa. Untuk mengambil uang harus dari ATM, tidak bisa di bank langsung. Di ATM tidak hanya untuk mengambil saja, tetapi juga menyetor uang. Nah, registrasi aplikasi seperti WeChat dan Alipay lebih ribet dibandingkan membuat rekening bank. Kami harus memasukkan sumber uang, misalnya rekening bank kami. Paspor, juga harus diverifikasi dengan foto dan scan muka.
Selama hampir dua tahun tinggal di sini, aku mungkin memegang uang hanya 2-3 kali saja, karena itu memang sangat jarang sekali harus pakai uang tunai. Bahkan untuk belanja di pasar tradisional juga memakai aplikasi meskipun pedagangnya orang tua. Aplikasi-aplikasi tersebut juga menggunakan speaker. Setelah kita telah membayar, di hape pedagang akan bunyi, „Anda mendapatkan transaksi uang sebesar 57 yuan“, misalnya. Itu suaranya kencang sekali dan orang-orang di sekitar kami jadi ikut mendengar. Istilah data privacy tidak dikenal di sini.
Aku melihat di sini semua orang dipaksa untuk memahami dan menggunakan cashless. Semua orang harus punya dan bisa pakai hape. Begitu juga dengan orang-orang tua, mereka dipaksa untuk memahami kehidupan sekarang. Banyak orang tua yang menghambat transaksi di kasir karena mereka tidak paham menggunakan hape dan aplikasinya. Di beberapa toko atau restoran, masih ada yang memperbolehkan bayar tunai, walaupun penjual tampaknya tidak senang. Bisa jadi, mereka tidak punya uang tunai untuk kasih uang kembalian ke pembeli. Ini juga yang membuat kesulitan untuk turis-turis yang datang.
Sebelum pindah ke Cina, kami sering baca-baca di forum untuk expat di Cina. Banyak saran untuk mengenal dan bisa menggunakan hape sendiri dulu. Begitu kita turun dari pesawat, QR code ini juga sudah dipakai di bandara di sini. Dulu aku tidak mengerti bagaimana cara scan QR code, aku baru mengetahuinya di sini karena semua harus bisa. Awal tinggal di sini rasanya aku ingin melempar hape. Selain aku tidak mengerti bahasanya, aku tidak tahu menggunakan aplikasi. Kalau aku mau transaksi di toko ada dua cara yakni: aku yang scan QR code mereka atau sebaliknya. Memang sih, cashless memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi rasanya seperti dikontrol gadget. Kalau kita tidak mengerti, tidak punya gadget, atau hape mati maka kita akan „lost“. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Kita tidak bisa sewa sepeda, tidak bisa naik kereta atau taksi. Kita nothing tanpa hape di sini.
Aku menggunakan kedua aplikasi yang tersedia, yaitu Alipay dan WeChat, karena terkadang ada toko online yang hanya menggunakan salah satunya. Mirip dengan aplikasi GoPay di Indonesia. Sesama aplikasi juga bisa mengirimkan uang dengan gratis. Hanya saja, orang tidak bisa mengirimkan uang dari satu aplikasi ke lainnya. Misalkan, aku mau mengirim uang dari WeChat ke Alipay. Aku harus mengirim uang dulu dari WeChat ke bankku, lalu dari sana baru aku mengirim ke Alipay. Itu lebih ribet dan ada biaya 0,1% untuk setiap transaksi transfer uang dari aplikasi ke rekening bank, sedangkan transfer uang dari bank ke aplikasi gratis. Gaji suamiku masuknya ke rekening bank dia di Prancis. Jadi suami harus transfer uangnya dari bank Prancis ke bank Cina, lalu ke aplikasi. Karena aku tidak bekerja di sini, suami mengirimkan uang dari aplikasinya ke aplikasiku. Cara lain, dia mengirimkannya dari rekening bank Cina, lalu ke aplikasiku. Itu bukan masalah karena uangnya bisa dikirim lewat aplikasi.
Sejak tahun 2022, anakku yang paling besar masuk ke PAUD (=Pendidikan Anak Usia Dini) di sini. Untuk membayar uang sekolahnya, kita harus langsung membayarnya satu tahun yang dibayar lewat WeChat. Misalnya, aku membayar uang sekolah anak 1000 yuan per bulan maka kami harus transfer uang langsung 12.000 yuan. Waktu itu, untungnya aku bisa menegosiasikan dengan kepala sekolah, karena kami tidak bisa mengirimkan uang langsung sebanyak itu dalam sekali. Transfer dari bank Prancis ke Cina juga cuma gratis lima kali. Akhirnya, kami bisa menyicil tiga kali dalam sebulan. Tahun 2022, itu masih lockdown. Jadi, anakku sebenarnya cuma sekolah tiga bulan. Pada tahun ini, dia melanjutkan sekolah di sana dan adiknya juga juga ikut sekolah di sana juga sehingga kami hanya membayar kekurangannya saja. Istilahnya kami sudah mempunyai saldo di sana. Rencananya bulan Juli tahun ini, kami akan kembali ke Eropa. Nanti uang sisanya itu bisa di-refund ke WeChat kami. Kami sudah wanti-wanti ke pihak sekolah untuk mengirimkan uangnya tepat waktu, karena kami juga akan menutup rekening bank Cina.
Ada kejadian menarik di PAUD anakku. Pihak sekolah mengadakan bazar kecil-kecilan untuk anak-anak sebagai latihan. Harga barangnya juga murah, hanya sekitar 2 sampai 5 yen. Tujuan mereka adalah untuk melatih anak-anak menggunakan uang dan melatih belajar berhitung. Nah, sekolah meminta orang tua murid untuk membawa uang tunai untuk anak-anaknya. Aku dan orang tua murid lainnya tidak ada yang punya tunai. Ujung-ujungnya, kami mengirimkan uang ke guru-guru sekolah. Lalu, mereka memberikan uang tunai ke kami. Jadi kami bertukar uang. Menurutku, itu aneh juga sih. Di kehidupan nyata di Cina semua sudah serba cashless sehingga membuat anak-anak tidak perlu memegang uang dan belajar menghitung uang tunai.
Saat anak-anakku pergi fieldtrip dengan PAUD-nya juga, aku hanya perlu mengirimkan uang via WeChat ke sekolah dengan menuliskan namaku dan anakku. Aku tidak perlu mengirimkan bukti transfer, karena pihak sekolah bisa langsung mengecek sendiri.
Untukku, cashless bukan hal yang aneh. Di Indonesia, aku sudah mengenal GoPay dan saat aku tinggal di Jerman juga sudah banyak tempat bisa cashless. Perbedaan yang kurasakan, semua orang di Cina dipaksa untuk cashless. Menurutku, segi keamanan di sini juga sudah bagus. Mereka benar-benar sudah mempersiapkannya. Keamanan aplikasi juga berlapis. Punya nomor hp di Cina itu sulit sekali. Kita harus mendaftarkan diri dan memberikan dokumen-dokumen penting. Itu berbeda sekali dengan di Indonesia yang bisa didapatkan secara mudah. Nomor hape itu sangat penting di Cina dan digunakan untuk verifikasi semua hal. Sebelum kita bayar sesuatu, kita akan diminta kode PIN untuk verifikasi. PIN ini yang harus kita ingat. Sewaktu membuat Aplikasi pertama kali, kita juga memakai password.
Nomor hape juga mempermudah transaksi. Misalnya, aku naik taksi lalu hape mati saat mau check out atau lupa bayar. Nanti, aku mau pesan taksi lagi maka aku akan diingatkan untuk melunasi pembayaran sebelumnya atau aku tidak bisa menggunakan taksi. Ini juga yang membuat susah bagi penipu dengan sistem cashless. Berbeda dengan di Indonesia yang belum ada peraturannya dan nomor hape bisa dibeli dengan mudah, sehingga itu masih ada celah untuk penipuan.
Sahabat Ruanita, kita mungkin ingat kasus penipuan kotak amal di masjid yang menggunakan QR code. Pengemis di Cina juga sekarang mengikuti zaman, mereka menggantungkan QR code dari aplikasi-aplikasi di badan mereka. Orang yang mau beramal, bisa langsung scan kodenya. Nanti aplikasi akan bunyi memberitahu berapa transaksinya. Kita menjadi tahu memang dia yang menerima uangnya. Saranku untuk sahabat-sahabat Ruanita yang beramal lewat QR code, pastikan orang yang akan diberi sedekah itu ada di sana.
Harapanku, transaksi cashless di Indonesia bisa diperbanyak, karena akan mempermudah dan lebih efisien. Namun, sebelumnya kita perlu memperkuat tingkat keamanan digitalnya dan harus memperhitungkan sisi kriminalitasnya juga. Menurutku, Cina sudah banyak memperhitungkan ini sehingga kasus kriminalnya juga sedikit. Di desa tentu masih susah dan prosesnya akan lama. Pengalaman aku saat liburan di sebuah desa di Maluku, penduduknya tidak punya hape dan tidak memakai uang. Bahan makanan mereka didapat dari sekitar rumah seperti ikan yang ditangkap dari laut untuk nelayan. Di sana sudah benar-benar sudah cashless.
Penulis: Mariska Ajeng, penulis di http://www.mariskaajeng.com. Berdasarkan pengalaman dari Amanda, tinggal di Cina dan Hamburg, bisa dihubungi lewat Instagram di @amandapatriciam
Hai, namaku Rita. Aku tinggal di Hamburg, Jerman saat ini. Kegiatanku sekarang sebagai Florist atau perangkai bunga dalam Bahasa Indonesia di salah satu toko bunga di Hamburg. Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan kreatif. Sebelum aku masuk ke dunia Floristic, aku pernah kuliah di Universitas Hamburg. Tepatnya tahun 2014/2015, aku memulai kuliah. Awal tahun 2020 aku selesai dengan sarjanaku atau Bachelor.
Kembali ke masa itu. Sekitar tahun 2013/2014 dan aku mulai daftar untuk masuk Universitas, aku sempat mengalami stres berat karena aku mengurusi berbagai hal, seperti perpanjangan visa, dll. Selain itu, kehidupan di Jerman terkadang sangat berat dijalani sendirian.
Nah, pola makanku menjadi tidak teratur ketika aku terlalu stres. Lalu berat badanku turun drastis, sekitar 3 kg. Untukku kehilangan 3 kg itu sangat banyak karena buatku sendiri sangat susah sekali untuk menaikkannya kembali. Maklum saja dari kecil sampai dewasa memang aku tidak pernah punya berat badan melebihi 42 kg.
Namun aku pernah loh mengalami satu kali, sekali-kalinya dalam hidup 42 kg. Berat badan normalku sebenarnya antara 37 sampai dengan 39 kg. Mungkin untuk orang seusiaku, awalnya banyak orang bertanya, apakah ini normal? Walaupun begitu, dokterku pun tidak mengkhawatirkan berat badanku ini. Menurutnya, memang ini sudah genetik. Selain itu, kesehatanku baik-baik saja.
Saat menyadari di mana beratku turun menjadi 34 kg kala itu, aku langsung pergi ke dokter. Aku diperiksa, test darah, dll. Hasilnya memang aku baik-baik saja. Namun, aku masih belum puas dengan hasil pemeriksaannya. Kecemasanku belum juga berkurang.
Aku ikuti sesi psikologi khusus untuk gizi dan masalah berat badan. Ternyata ini lumayan memotivasiku. Aku juga banyak membaca artikel di internet tentang pola makan.
Dulu aku sempat download aplikasi untuk menghitung kalori makanan, dan lainnya. Namun dengan berjalannya waktu, aku lebih mengerti dengan kebutuhanku sendiri.
Masa stres itu memang masa yang begitu sulit untuk mengontrol diri sendiri. Pola makanku dulu yang teratur, jadi terabaikan.
Dokterku juga memberikan minuman ekstra berkalori untuk membantu menaikkan berat badan. Nama minumannya Fortimel. Aku disarankan untuk minum 2-3 botol/hari dan ditambah aku juga tetap makan seperti biasanya.
Satu botol berisi 300 ml dan memiliki 300 kalori. Minuman ini juga memiliki berbagai rasa. Tanpa resep dokter orang tidak bisa mendapatkan minuman berkalori ini. Memang ada syaratnya dan asuransi yang menanggung biayanya.
Aku biasanya hanya membayar 5% dari 100% harga minumannya, yaitu 10€ untuk 128 botol. Minuman ini dulu membantuku sekali. Namun lama-lama aku tidak bisa mengonsumsinya lagi karena kadang-kadang membuatku merasa mual. Akhirnya aku hanya minum satu kali sehari. Setelah berat badanku kembali ke 37 kg, aku berhenti minum Fortimel. Sebagai gantinya, aku mengusahakan membuat smoothie yang berkalori tinggi atau makanan lainnya.
Aku juga berbagi cerita tentang masalah berat badan ke teman-temanku di sini. Saat itu, ada satu teman asal Jerman yang kebetulan juga mendapatkan resep minuman ini dari dokternya. Lalu kami saling bercerita. Ternyata temanku ini juga merasakan hal yang sama tentang minuman itu.
Di Jerman, berbicara tentang berat badan adalah hal yang sensitif. Di sini orang hampir tidak pernah menyinggung berat badan seperti: Kenapa kurus?; Kok gendut?; Kamu makannya banyak kok tetep kurus?, dan lain-lain.
Orang-orang di sini sangat menghormati dan menjaga sesuatu yang dianggap pribadi. Hal ini juga membuat aku merasa lebih percaya diri.
Saat aku masih di Indonesia, aku mengalami Bullying. Di Jerman, malah sebaliknya, mereka memuji. Terkadang, ketika di Indonesia, kita tidak sadar, kalau lingkungan sekitar mem-bully.
Mungkin memang maksud mereka tidak serius seperti sekedar mendapat julukan “Olive” atau si kurus. Ternyata, hal itu berpengaruh terhadap kesehatan mental loh. Dulu aku tidak berani dan tidak percaya diri memakai baju lengan pendek. Hal ini karena aku mengingat kata-kata mereka yang berada di sekitarku itu.
Beruntungnya lagi aku tinggal di sini, aku punya akses kesehatan yang baik. Jadi segala sesuatu bisa aku konsultasikan dengan ahlinya. Dokter atau para ahli di sini, tidak me-judge kekurangan atau masalah kita.
Untuk teman-teman yang punya masalah sama, tak usah sungkan untuk bertanya ke psikolog, dokter ataupun tenaga profesional.
Pesanku ini teruntuk teman-teman yang lebih cepat turun berat badan daripada naik berat badan seperti aku ini. Coba kalian tambahkan ekstra porsi kalori setiap harinya seperti, Smoothie, buah-buahan, juga cemilan berprotein lainnya. Usahakan makanan tersebut tetap hadir di antara menu sehari-hari.
Selain makanan utama, makanan kecil yang disebutkan tadi pun perlu diusahakan. Saranku lainnya adalah mengurangi makan Fast food atau cepat saji.
Semua saranku ini sudah terbukti berdampak bagus terhadap mentalku selama ini. Yang mana aku mulai disiplin dan merasa nyaman dengan kebiasaan makanku. Aku merasakan dampak positifnya, bukan hanya secara fisik melainkan secara mental juga. Kesehatan mental ‘kan salah satu hal terpenting dalam hidup kita.
Biarpun berat badan kembali normal, aku tetap memerhatikan kebiasaan makanku. Memang sih tidak semudah yang dibicarakan. Menurutku, stres juga bisa memengaruhi loh.
Untungnya aku sadar akan hal itu. Aku ingin mengubahnya! Memang itu butuh proses dan perjalanan yang panjang. Aku percaya, sesulit apapun itu kalau kita mau berusaha, suatu saat itu akan membuahkan hasil.
Intinya dalam keadaan apa pun, kita harus tetap ingat makan. Biasanya, aku masak dengan porsi banyak agar bisa dimakan pada hari-hari berikutnya. Ini sangat membantu, apalagi kalau hari-hari yang membuatku bakalan sibuk sekali.
Beban stres bisa berkurang. Pokoknya sesibuk apapun, sempatkan waktu untuk makan. Terakhir yang lebih penting lagi, menikmati juga makanannya.
Penulis: Rita, tinggal di Jerman dan dapat dikontak akun IG ritasjungle.
Menikah adalah salah satu fase dalam kehidupan yang momennya banyak melibatkan emosi baik keluarga, pasangan bahkan diri sendiri. Perkenalkan saya adalah Inur, berasal dari keluarga pendidik atau pengajar. Ayah, ibu dan kedua kakak saya adalah seorang pengajar, baik di instansi, sekolah dasar dan universitas. Begitu pun saya, enam tahun mengajar di universitas swasta di daerah Depok – Jawa Barat. Sampai pada akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan.
Sebagai satu-satunya orang yang mengatur personalia, rasanya senang sekali pada saat itu walaupun saya merasa ada gap antara yang saya pelajari (Psikologi Klinis) dengan aplikasi pada pekerjaan (Psikologi Industri dan Organisasi). Namun saya berusaha untuk bisa menjadikan diri saya bukan sekedar melihat sisi Industri dan Organisasi tetapi bisa sekaligus melakukan konseling ketika karyawan mengalami masalah. Observasi ketika rekrutmen tidak selalu berdasarkan yang tampak, tetapi saya pun mencoba menganalisa dari hal-hal yang biasanya luput dari penilaian User.
Selama tujuh tahun bekerja di perusahaan terakhir, saya merasa memiliki keluarga yang sangat dekat. Prinsip saya, ketika bekerja kami adalah rekan kerja, tetapi ketika selesai bekerja mereka adalah adik, sahabat, kakak, bahkan orang tua yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Kondisi comfort zone tersebut terpaksa harus saya akhiri karena saya menikah dengan pria warga negara Switzerland. Tepatnya 30 November 2021 saya resmi mengundurkan diri dan siap untuk pindah ke negara bersalju.
‘’Sedih yang tidak berujung’’ benar-benar menjadi kalimat yang saya rasakan. Dimulai dengan surprise farewell dari Departemen Operasional & HRGA. Makan-makan yang awalnya menjadi Birthday Lunch seorang teman (karena saya bertugas membeli kue ulang tahun) ternyata itu adalah surprise Farewell Lunch saya.
Rasa haru melebihi surprise ulang tahun, betapa tidak, pelukan dari atasan dan sahabat diiringi lagu “Mungkinkah” dari Stinky. Sama sekali tidak ada kecurigaan, momen ulang tahun yang seharusnya hanya berlima menjadi 2 meja panjang dari 2 departemen.
Lagu selamat ulang tahun yang biasa dinyanyikan semua pramusaji berganti jadi lagu sedih, polosnya di awal saya tetap membuat video dan happy, sampai seorang teman memeluk saya dari belakang kemudian atasan juga ikut memeluk. Baru saya sadar, momen, hadiah bahkan kue ulang tahun yang bertuliskan nama teman semuanya di hari itu adalah untuk saya. Terima kasih ibu dan bapak, teman-teman semuanya, masih suka sedih kalau melihat video tersebut.
Begitu juga di hari terakhir saya bekerja, sengaja saya memesan makanan untuk semua karyawan agar kami bisa makan bersama-sama. Sepatah dua patah salam perpisahan dari saya sebelum kami semua mulai mengambil makanan. Walaupun saat itu masih berjalan sistem pembagian Work from Home dan Work from Office, tetapi bersyukur banyak karyawan yang tetap datang ke kantor sehingga momen dan foto perpisahan terasa sangat hangat.
Kemudian kurang lebih seminggu setelah hari terakhir saya bekerja, salah satu teman kantor berkunjung ke rumah untuk memberikan hadiah perpisahan dan foto bersama yang dibingkai dengan ukuran yang sangat besar. Infonya, ada teman yang inisiatif untuk mengumpulkan dana untuk kemudian dibelikan beberapa barang yang sangat berguna saat musim Winter. Masha Allah, saya bersyukur diberikan rekan kerja seperti saudara. Sampai dengan tulisan ini saya buat, Alhamdulillah saya masih menjalin komunikasi dengan hampir semua teman kerja.
Perasaan senang akhirnya bisa bersama dengan suami, tetapi juga sedih harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Namun hidup harus berjalan, kita tidak pernah mengetahui rencana Sang Pencipta. Tanggal 8 Desember 2021 saya tiba di Switzerland, pengurusan semua dokumen pun selesai. Mulailah saya berpikir: “Terus saya ngapain disini? Apa yang bisa saya kerjakan dan juga menghasilkan ?”
Saya sempat merasa up and down, stres karena tuntutan merasa harus segera mengikuti les bahasa. Sampai pernah ada momen saya takut ketemu kakak ipar karena selalu ditanya update les bahasa. Pengeluaran rutin tetap berjalan sementara pemasukan rutin belum ada. Merasa inferior, tidak berdaya, bergantung parah sampai akhirnya menangis sejadi-jadinya ke suami.
Alhamdulillah suami sangat mengerti, dia tidak pernah memaksa saya untuk bekerja, bahkan untuk les bahasa. Dia sangat senang ketika saya izin main bertemu teman WNI yang juga tinggal di Zürich. Senyumnya sumringah ketika saya pulang dari Asia Store membawa belanjaan. Hampir setiap minggu saya main bertemu dengan teman-teman, makin banyak kenalan makin banyak pelajaran, ilmu, motivasi bahkan nasehat yang saya dapat.
Pemahaman saya pada saat itu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Swiss, mostly must be certified dari lembaga atau sekolah di Swiss juga. Pusing lagi kan jadi nya, 😀
Searching di social media, tawaran dari teman yang kerja di restoran, bikin saya tambah bingung. Saya sempat merasa takut antara mau kerja tapi jadi harus bicara sama orang, nah bahasanya saja belum lancar.
Awalnya saya belum pernah mendengar yang namanya Career Gap, tapi mungkin yang saya lalui selama 6 bulan pertama di Switzerland adalah fenomena Career Gap, di mana saya tidak sedang bekerja karena menikah dan harus pindah negara. Menurut saya sebenarnya Career Gap ini sering sekali terjadi. Tidak hanya kaum perempuan, para pria juga mengalami. Hanya saja dilihat dari alasannya, mungkin kaum perempuanlah yang lebih sering mengalami. Beberapa alasan terjadinya Career Gap adalah menikah, memiliki anak, pindah tempat tinggal, pemutusan hubungan kerja, dll.
Pada kasus saya, setelah mencoba aktif di media social dengan belajar buat video dan foto yang aesthetic, soal masakan atau sekedar memperlihatkan keindahan kota tempat saya tinggal, saya merasa jenuh karena menuntut saya harus terus aktif setiap hari untuk benar-benar menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati teman di media social.
Sampai akhirnya saya menemukan sebuah platform Babysitting di Switzerland. Bermodal senang dengan anak kecil, dekat dengan semua keponakan dan Bahasa Inggris, saya coba membuat account. Tiga bulan setelahnya tawaran pekerjaan masuk melalui message, mereka berkewarganegaraan USA yang juga tinggal di Switzerland dan berjarak hanya 500m dari rumah. Berkunjung ke kediamannya, bertemu dengan anak dan mendiskusikan banyak hal mengenai pekerjaan. Setelah itu saya diskusikan kembali dengan suami, apakah baik untuk saya lanjutkan atau tidak.
Memiliki pekerjaan membuat saya lebih mandiri dan percaya diri. Banyak hikmah yang saya pelajari. Perbedaan negara yang signifikan membuat saya harus menyadari saya bukan siapa-siapa di sini. Selalu berdiskusi dengan suami adalah hal penting bagi saya. Apakah pekerjaan saya akan membuatnya malu atau tidak, bagaimana kira-kira pendapat keluarga suami apakah akan memalukan bagi mereka atau tidak.
Hal itu yang saya ke depankan sebelumnya. Setelah mendapat pekerjaan, kepercayaan dan menyayangi anak kecil seperti keponakan atau anak sendiri adalah cara saya memperlakukan mereka. Saat menemani anak bermain, seringkali kami mengunjungi teman-teman sekolahnya, sehingga para orang tua mengenal saya dengan baik.
Ini saya dengar karena mereka menceritakannya ke saya 😊. Sampai akhirnya beberapa di antara mereka meminta untuk Occasional Babysitter. Tepat 1,5 bulan pekerjaan tersebut selesai dan lanjut pekerjaan berikutnya tanpa gap, kontrak kerja yang awalnya hanya dua bulan dan sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan 😊
Memiliki beberapa kenalan (orang tua anak sekolah) di kota yang sama membuat saya merasa punya teman dan tidak sendiri lagi. Kondisi ini membuat saya semakin berani dan pada akhirnya mendaftar Kursus Bahasa Jerman yang diadakan oleh Gemeinde kota tempat saya tinggal.
Yap, makin banyak kenalan, makin sering tegur sapa karena bertemu di supermarket, taman bermain, dan public transport. Tidak hanya para orang tua, tetapi kasir supermarket, pegawai restoran dan gerai toko di supermarket, sampai beberapa bus driver dan taxi driver. Masha Allah, senang sekali rasanya saat ini, saya merasa aman karena sudah punya banyak kenalan dan tidak khawatir lagi walaupun pulang malam.
Kembali perihal Career Gap, menurut saya intinya ada self-acceptance. Ketika kita menerima dengan baik kondisi tersebut, maka secara tidak sadar tubuh pun akan merasa rileks. Saat merasa santai, cara pandang dan cara berpikir akan lebih baik. Begitupun dengan pemilihan aktivitas yang ingin dikerjakan, apakah tetap mencari pekerjaan baru atau sekedar menyalurkan hobi.
Namun peran pasangan, keluarga atau teman dekat juga sangat mempengaruhi. Bagaimana mereka ikut menerima, memotivasi, memberi nasehat, dan atau memberi solusi. Saya bersyukur atas segalanya, tetapi tetap bermimpi suatu saat bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Jerman dan atau Swiss German. Saya juga ingin mendapat pekerjaan sesuai dengan mimpi saya.
Penulis: Inur Darham, seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Inur memelajari Psikologi Klinis pada jenjang Universitas, mengajar di Fakultas Psikologi, menjadi pembicara pada beberapa Dialogue Interactive, menggeluti bidang Human Resource pada Pest Control dan Oil and Gas Company, menikah lalu mengundurkan diri dan kini tinggal di Switzerland.