(IG LIVE) Bagaimana Sadari Alzheimer Sedini Mungkin?

Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati tiap 21 September, Ruanita Indonesia mengundang dua sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda dan di Australia.

Tema yang diskusi IG LIVE yang diangkat adalah kenali dan sadari Alzheimer sedini mungkin, yang masih dipandang awam oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Diskusi IG Live lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Jerman.

Sebagai awalan, Rida bertanya tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, risiko Alzheimer pun sudah mulai ditunjukkan di usia sekitar 30 – 40 tahun. Resiko Alzheimer semakin tinggi ketika seseorang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Di Belanda sendiri, menurut Manik, telah ada 15 ribu orang yang didiagnosa Alzheimer.

Menurut Yacinta, kita perlu mengetahui riwayat keluarga apakah anggota keluarga punya risiko Alzheimer, agar kita bisa mengetahui sedini mungkin.

Sebagaimana tema tahun ini, yang dijelaskan oleh Manik, yakni Time to Act yang menjadi aksi bersama untuk mencegah Alzheimer sedini mungkin.

ALZI NEDERLAND punya tiga pilar antara lain: komunikasi, edukasi, dan juga outreach, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan demensia dan Alzheimer.

Selain memperkuat kesadaran akan Alzheimer, ALZI NED juga menjadi jembatan dengan keluarga kita di Indonesia dan situasi di Belanda.

Hal yang penting diingat adalah Alzheimer itu berkaitan dengan culture yang membantu orang dengan Alzheimer dapat memulihkan kondisinya.

Itu sebab, pentingnya kesadaran akan Alzheimer ini ditingkatkan agar menjadi aksi gerak bersama untuk keluarga yang memiliki orang dengan Alzheimer dan pemerintah.

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita episode September 2024 berikut ini di kanal YouTube kami:

Subscribe kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Meditasi Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana?

Mindfulness Practice telah terbukti membantu dalam meningkatkan kesehatan jiwa dan raga, salah satunya kebiasaan sederhana meditasi. Apakah meditasi hanya berkaitan dengan ajaran agama tertentu? Apakah mindfulness practice hanya untuk kalangan orang kaya? Bagaimana cara membangun kebiasaan baik meditasi dalam kehidupan sehari-hari? Apa tantangan membangun kebiasaan baik meditasi ini dalam hidup sehari-hari?

Untuk membahas lebih dalam lewat program diskusi IG Live, Ruanita Indonesia mengudang sahabat Ruanita yang tinggal di Taiwan dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan saran tentang kebiasaan meditasi yang sudah mereka lakukan. Mereka adalah Nikita Nazhira, yang adalah Reiki Master dan wiraswasta yang sedang menetap di Taiwan dan Maria Frani Ayu, yang adalah perawat kesehatan jiwa yang aktif menulis masalah kesehatan mental di Indonesia.

Membangun kebiasaan meditasi dalam kehidupan sehari-hari memang bukan hal yang simpel. Hal ini diakui oleh Nazhira setelah dia memulainya sejak empat tahun lalu. Saat itu, Nazhira sedang hamil anak pertama ketika dia mengalami kecemasan untuk menghadapi kehamilan seorang diri. Nazhira pun mengakui manfaatnya setelah menjalani kebiasaan meditasi rutin, terutama berpengaruh pada proses melahirkan untuk lebih tenang dan rileks.

Ayu menuturkan bahwa orang banyak beranggapan meditasi terkait pratik agama tertentu, tetapi sebenarnya meditasi itu baik untuk kesehatan jiwa raga. Pada akhirnya, meditasi ini menjadi konsep lintas agama dan gaya hidup orang-orang moderen yang memiliki banyak tantangan. Bahkan meditasi dianjurkan untuk dilakukan setiap hari karena sangat bermanfaat untuk mereduksi stres.

Tidak hanya meditasi yang sulit dipraktikkan setiap hari, banyak kebiasaan baik memang sulit untuk dilakukan tanpa disertai niat dan konsistensi. Demikian penuturan Nazhira. Nazhira menambahkan ada banyak cara membangun kebiasaan baik ini, mulai dari gratis hingga berbayar. Nazhira sendiri membuka kelas meditasi yang ditawarkan mulai dari harga IDR 500 ribu rupiah.

Apa yang membedakan mindfulness practice dan meditasi? Ayu menegaskan dua hal berbeda untuk istilah tersebut, tetapi ketika digabung maka dua istilah tersebut menjadi kuat untuk dipraktikkan. Ayu juga menegaskan betapa sulitnya untuk dipraktikkan bagi mereka yang sedang mengalami gangguan kecemasan. Ayu pun menjelaskan bagaimana menghindari monkey minds saat meditasi.

Simak selengkapnya diskusi IG Live tersebut di kanal YouTube kami dan jangan lupa pastikan untuk SUBSCRIBE ya

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(IG LIVE) Mendiskusikan Self-Compassion dari Keilmuan Psikologi dan Praktik Sehari-hari

Dalam diskusi IG Live Ruanita Indonesia di bulan Juni mengangkat tema self-compassion bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kedua tamu diskusi IG Live adalah Fransisca Mira, yang adalah akademisi dan peneliti di bidang ilmu psikologi yang tinggal di Jerman dan Monique Aditya, yang adalah penulis buku dan penyintas KDRT yang kini menetap di Singapura.

Diskusi IG Live yang berlangsung sekitar empat puluh menit tersebut dipandu oleh Rida yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Self-compassion adalah cara kita untuk memperlakukan diri kita, dalam keadaan baik maupun buruk dalam hidup. Demikian Rida mengawali diskusi sebelum membahasnya lebih dalam.

Fransisca mengawali diskusi dengan ilustrasi sosial, yang mana kita sering kali mendapatkan kritikan atau pujian. Secara pribadi, kita tidak mudah menerima pujian dan kritikan sosial juga.

Menurut Fransisca, ini penting untuk memiliki self-compassion, yang secara etimologinya berarti melakukan apa yang kita suka, termasuk ketika kita sedang dalam situasi negatif atau tidak baik-baik saja.

Justru, kita bisa menerima kesulitan dan tetap peduli pada diri sendiri, dengan tidak memberikan kalimat negatif. Self-Compassion menurut Fransisca, secara teori terdiri atas tiga hal yakni: Self-kindness; Common Humanity atau Humannes; dan Mindfulness.

Follow us.

Tahun 2007, Monique mengakui berada di fase yang sulit ketika dia pernah merasa gagal dalam berumah tangga. Monique pun mengajak kedua anaknya untuk melihat keluarga secara utuh, meski tidak ada figur ayah saat itu.

Dengan begitu, Self-compassion membantu Monique untuk mengatasi keterpurukan situasi yang dialaminya. Monique pun mengakui self-compassion itu penting.

Bagaimana kita bisa menyayangi orang lain kalau kita tidak bisa menyayangi diri sendiri? Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang bertumbuh dan berbahagia.

Begitu pun Fransisca menceritakan pengalaman sulitnya menjadi peneliti di Jerman, di mana kerap ia merasa overthinking pada situasi pekerjaannya.

Bagaimana literatur psikologi tentang self-compassion? Apa saja contoh-contoh self-compassion dalam kehidupan sehari-hari? Apa manfaat self-compassion? Mengapa self-compassion itu begitu penting dalam meningkatkan kesehatan mental?

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita tersebut dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Mendiskusikan Partisipasi Perempuan dalam Dunia STEM

Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia memiliki program diskusi IG Live yang dilaksanakan tiap bulan dengan tema-tema menarik. Di bulan Mei 2024, Ruanita Indonesia mengangkat tema perempuan dalam dunia STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), terutama melihat peluang karier dan kewirausahaan untuk perempuan Indonesia.

Dalam membahas tema ini, kami mengundang Zakiyatul Mufidah Ahmad yang adalah seorang dosen di Indonesia yang juga adalah penerima beasiswa LPDP. Zakiya, begitu dipanggil, sedang menempuh studi S3 di Inggris dengan topik penelitian berfokus pada aktivis perempuan dalam dunia digital.

Zakiya menjelaskan alasan mengapa dia tertarik untuk meneliti topik tersebut, karena kegelisahannya melihat partisipasi perempuan perempuan yang masih terbilang rendah dan belum ramah pada perempuan.

Dengan latar belakang kajian gender di masa studi S1 dan S2, Zakiya berharap kajian gender di dunia digital akan membantunya untuk memetakan bagaimana permasalahan dan kebutuhan perempuan Indonesia. Perempuan dalam dunia STEM cenderung rendah dapat difokuskan pada ideologi pemerintah Indonesia yang menempatkan peran perempuan dalam domestik, yang jauh dari dunia digital.

Follow us: ruanita.indonesia

Meski dalam diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Lany disebabkan oleh masalah teknis, tetapi diskusi tetap berjalan terlebih pada fokus peran perempuan dalam dunia digital. Pemerintah dapat meningkatkan keterampilan vokasional untuk melibatkan perempuan dalam dunia digital, bersama NGO/LSM.

Menurut Zakiya, di Indonesia, perempuan begitu sulit dan takut untuk menjadi aktivis dalam dunia digital, selain masih banyak keterbatasan infrastruktur digital di area remote di Indonesia. Penting juga tools dan fasilitas yang dapat mendorong perempuan dapat lebih aktif di dunia digital, tentunya pemerintah dapat memberikan fasilitas tersebut di masa mendatang.

Bagaimana angka partisipasi perempuan Indonesia dalam dunia digital? Bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendukung partisipas perempuan dalam dunia digital? Apa saja yang perlu dilakukan perempuan agar dapat meningkatkan peluang karier dan kewirausahaan di dunia STEM di Indonesia? Apa pesan dan harapan para tamu dalam diskusi ini?

Simak rekaman selanjutnya dalam kanal YouTube kami berikut

Jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Kepemimpinan Perempuan

Hari Perempuan Internasional yang dirayakan tiap 8 Maret menjadi kesempatan bagi Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia untuk bersuara tentang bagaimana partisipasi perempuan Indonesia, terutama di wilayah global. Ruanita menggelar berbagai program online selama tiga minggu berturut-turut, termasuk di antaranya melakukan diskusi IG Live yang memanfaatkan platform instagram untuk berdiskusi selama 30-40 menit.

Pada episode spesial ini, Ruanita mengangkat tema kepemimpinan perempuan yang menjadi kaitan dengan Workshop Warga Menulis dan Hari Perempuan Internasional di tahun lalu. Ruanita sendiri telah berhasil menerbitkan buku kedua bersama APPIBIPA Jerman, yakni “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang ditulis oleh 13 warga Indonesia di Eropa.

Untuk membahas lebih dalam tentang kepemimpinan perempuan, kami mengundang Dyah Kartika Ayu, seorang mahasiswi S3 di The University Australian National University, Monash University, dan tinggal di Australia dan juga Aini Hanafiah, seorang kontributor buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang tinggal di Norwegia.

Follow us

Dyah Kartika Ayu, atau yang biasa disapa Katy menjelaskan bagaimana dinamika gerakan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Hanya saja potret gerakan perempuan ini tidak banyak dipublikasikan dan lebih banyak menyorot patriotisme kaum laki-laki.

Gerakan perempuan di masa kini sudah banyak di bidang profesionalitas, seperti menjadi pemimpin di perusahaan atau industri usaha kecil/menengah. Katy mengakui sudah terjadi perubahan dinamika kelompok perempuan sesuai ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Memang diakui bahwa angka partisipasi perempuan di bidang politik dan pemerintahan terbilang rendah. Berdasarkan penelitian, Katy menyatakan ada kesulitan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi sebagai caleg. Misalnya, faktor personal perempuan yang punya kapabilitas sebagai caleg hanya saja terbentur biaya yang tidak murah.

Perempuan yang menjadi caleg kebanyakan adalah mereka yang punya modal cukup besar. Selain itu, masih ada diskriminasi dan bias stigma terhadap caleg perempuan. Diskriminasi dan bias stigma juga masih terjadi di antara sesama perempuan, semisal bagaimana kita masih melihat cara pandang terhadap Bos perempuan.

Pendapat berbeda tentang kepemimpinan perempuan disampaikan oleh Aini Hanafiah yang berfokus bagaimana peran perempuan di area privat atau keluarga. Bahwa masih banyak pandangan bahwa peran ibu adalah pelengkapnya ayah, kenyataannya tidak demikian. Menjalani peran sebagai ibu, Aini memberi pandangan berbeda terutama saat Aini harus menetap di mancanegara dengan berbagai tantangan yang berbeda saat berada di Indonesia.

Bagaimana dinamika perempuan memimipin yang sudah ada dalam sejarah bangsa Indonesia? Bagaimana pandangan Dyah Kartika Ayu tentang kepemimpinan perempuan di bidang legislatif di Indonesia? Apa saja yang membuat perempuan sulit mendapatkan kesempatan memimpin di bidang politik dan pemerintahan? Apakah mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin dalam keluarga atau area privat? Tantangan seperti apa yang dihadapi perempuan Indonesia dalam memimpin kehidupannya saat mereka berada di mancanegara?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia di Mancanegara dalam Pemilu 2024

Sebagaimana kita ketahui Indonesia akan menggelar pemilihan umum pada 14 Februari 2024. Tidak semua negara memberlakukan peraturan dan kebijakan yang sama, di mana warga negaranya yang berada di luar negeri, memiliki kesempatan untuk tetap ikut memilih meski tinggal di luar negeri.

Untuk warga Indonesia di luar negeri, dianggap masuk dalam dapil yang mengikuti lokasi Kementerian Luar Negeri di Jakarta, yang membawahi KBRI/KJRI tempat di mana warga Indonesia tercatat di luar negeri.

Untuk membahas lebih dalam tentang proses pemilihan umum yang berlangsung di luar negeri dan bagaimana perempuan Indonesia dapat tetap terlibat dalam pemilihan umum, meski di luar negeri, Ruanita Indonesia mengundang narasumber.

Narasumber berikut ini adalah dua perempuan yang telah terpilih menjadi panitia pemilihan umum di luar negeri. Adalah Etty P Theresia yang didapuk sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri Frankfrut 2024 dan tinggal di Jerman, yang kemudian narasumber berikutnya adalah Utari Giri, yang terpilih sebagai Ketua PPLN Dubai 2024 dan tinggal di Uni Emirat Arab.

Follow kami ya @ruanita.indonesia

Karena kondisi teknis dan permasalahan lokasi yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Utari Giri, maka diskusi IG Live mengalami permasalahan, di mana Utari Giri tidak sepenuhnya bisa hadir dan terlibat. Beliau sedang mendapatkan tugas Bimbingan Teknis dan secara kebetulan ada kendala internet sehingga membuat diskusi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pemilihan umum di luar negeri memiliki tiga metode, menurut Etty menjelaskan. Rida, Mahasiswi S2 di Universitas Passau, Jerman mengakui bahwa dia mendapatkan kertas suara melalui pos dan perlu dikirimkan untuk memenuhi hak pilihnya. Selain dikirimkan via pos, bentuk pemilihan umum lainnya adalah datang ke lokasi yang disediakan oleh KBRI/KJRI di negara lokasi tinggal.

Di Jerman, menurut Etty, pemilihan umum serempak dilaksanakan pada Sabtu, 10 Februari 2024 sesuai lokasi yang dipilih oleh KBRI/KJRI setempat. Metode lainnya yang tidak dipergunakan di Jerman adalah metode keliling yang dilakukan petugas pemilu.

Etty mengaku penasaran dengan metode ini, yang mungkin bisa diceritakan oleh Utari Giri yang menjadi Ketua PPLN di Dubai. Sayangnya, kendala teknis telah membuat Utari tidak bisa hadir dalam diskusi IG Live.

Etty pun menjelaskan bagaimana perempuan Indonesia di mancanegara dapat terlibat untuk mendukung perhelatan akbar ini. Tidak menyebarkan hoaks/berita bohong atau memantau bagaimana pelaksanaan pemilu di lokasi tinggalnya, pun bisa dilakukan.

Siapapun bisa melaporkan kalau ada pelaksanaan yang tidak benar, tidak tepat, atau berpotensi kecurangan. Perempuan perlu memerhatikan apabila ada potensi kekerasan berbasis gender yang ditujukan kepada perempuan, yang memilih atau bertugas sebagai panitia pemilihan umum.

Apa saja tugas-tugas panitia pemilihan umum di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Etty? Apa saja pengalaman menarik selama mempersiapkan perhelatan akbar di Jerman, yang dilakukan oleh Etty dan kawan-kawan yang terlibat?

Selain menjadi panitia pelaksana pemilu, apa saja yang bisa dilakukan perempuan Indonesia di mancanegara untuk mendukung terselenggaranya pemilihan umum? Apa pesan Etty sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri di Frankfurt?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut:

Dukung kami dengan subscribe kanal YouTube kami.

(IG LIVE) Patahkan Perilaku Body Shaming Dimulai dari Diri Sendiri dan Bangun Lingkungan yang Supportive

Sebagaimana program rutin tiap bulan, diskusi IG Live pada bulan Januari 2024 kali ini membahas tema Body Shaming, yang dipandu oleh Rida Lutfiana Zahra, Mahasiswi S2 di Jerman. Selanjutnya Ruanita Indonesia mengundang narasumber yakni: Firman Martua Tambunan, Psikolog Klinis di Jerman dan Anna Mitzi yang bekerja di Jakarta, Indonesia.

Awalnya Mitzi bercerita tentang pengalamannya yang pernah mendapatkan komentar negatif terhadap tubuhnya di area publik, ketika dia sedang memasuki masa pubertas. Mitzi sempat diberi komentar negatif karena merasa badannya terlalu kecil dan kurus, sehingga Mitzi menjadi insecure dan mulai memakai baju-baju yang menutupi tubuhnya. Pada akhirnya body shaming telah membentuk pikiran negatif dan citra diri yang negatif, sebagaimana yang disetujui oleh Rida sendiri. Body shaming di masa pubertas itu bisa menjadi memori yang membekas, apalagi komentar negatif.

Firman pun menjelaskan tentang penyebab perilaku melakukan body shaming dalam keilmuan psikologi. Dalam psikologi sosial, ada proses belajar dari orang-orang sekitarnya untuk melakukan tindakan body shaming juga di masa depan. Ada pula karakteristik narsistik yang membuat perilaku body shaming sebagai kompensasi untuk menjatuhkan orang lain. Selain itu, Firman juga menegaskan bahwa perilaku body shaming bisa terjadi karena pernah menjadi korban body shaming.

Kita bisa mengalihkan fokus dari body shaming terhadap hal-hal yang menjadi pencapaian dalam diri sendiri seperti prestasi akademik, talenta atau bakat yang perlu dipertajam. Sebagai makhluk sosial, kita perlu menentukan siapa orang-orang sekitar yang supportive sehingga tidak membuat citra diri yang buruk.

follow us

Menurut Mitzi, kita bisa punya kontrol terhadap komentar di sosial media tentang body shaming dengan bersikap asertif. Misalnya: “Terima kasih perhatian kamu. Aku sudah berusaha untuk menambahkan berat badan, tetapi memang tubuhku seperti ini.” Orang-orang yang peduli dengan kita adalah orang-orang yang memberikan value, bukan hanya memberikan komentar negatif. Kita juga perlu melakukan penerimaan diri, seperti Mitzi berdiri di depan kaca setelah mandi untuk mengenali diri sendiri, sehingga kita bisa mencintai diri kita sepenuhnya.

Apakah body shaming itu juga dipengaruhi oleh budaya? Apakah ada pengaruh lainnya seperti standar kecantikan dalam industri hiburan juga turut memicu perilaku body shaming? Apakah perilaku body shaming bisa dihentikan? Bagaimana kita bisa mengontrol diri sendiri agar terhindar dari body shaming? Apa saran para narasumber agar perilaku body shaming tidak berlarut-larut sehingga memperkuat standar kecantikan di masyarakat atau media sosial yang tidak realistis?

Rekaman diskusi IG Live selengkapnya dapat dilihat dalam kanal YouTube

Subscribe us untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Simak Tunjangan dan Cuti Jadi Orang Tua di Islandia dan di Jerman

Pada diskusi IG Live episode Desember 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tunjangan dan cuti menjadi orang tua di Eropa. Sebagaimana diketahui, masing-masing pemerintah di Eropa memiliki kebijakan tersendiri untuk mendukung orang tua dalam merawat dan membesarkan anak. Bahkan ada pemerintah yang sudah mulai memberikan dukungan ketika si ibu sudah hamil, di mana ibu dibebaskan untuk membayar perawatan medis selama hamil dan melahirkan.

Untuk membahasnya lebih detil, diskusi mengundang ibu yang tinggal di Jerman yakni Amanda Patricia dan ibu yang tinggal di Islandia yakni Dyah Anggraini C. Diskusi dipandu oleh Rida Lutfhfiana Zahra, mahasiswi S2 di Jerman.

Di Jerman, pemerintah mewajibkan pemberi kerja untuk menyediakan cuti menjadi orang tua bagi mereka yang bekerja. Bahkan pemerintah Jerman menyediakan dukungan dan bantuan bagi orang tua yang tidak sanggup merawat dan mengurus anaknya. Amanda yang bekerja sebagai perawat orang tua dan kini masih mengambil cuti menjadi orang tua, yang disebut Elternzeit. Elternzeit yang diambil Amanda sekitar 3 tahun.

Tunjangan untuk menjadi orang tua diberikan pemerintah Jerman yang dapat dipilih satu tahun atau dua tahun. Itu berdasarkan pengalaman Amanda, yang tentu berbeda-beda dari negara bagian. Tunjangan ini senilai 70% – 80% gaji. Kalau orang tua ingin mendapatkan tunjangan selama dua tahun, pilihannya bisa dibagi dua gaji yang diterima sekitar 50% dari gaji.

Follow us

Belum lagi ayah yang bekerja bisa mendapatkan cuti ayah, yang disesuaikan dengan kebijakan dan sistem perusahaan. Keputusan untuk mengambil cuti ayah pun bergantung pada keputusan orang tua dan besaran gaji. Laki-laki pun dilibatkan dalam mengurus dan merawat anaknya.

Di Islandia, setiap orang tua mendapatkan 6 bulan dan tunjangan 80% gaji. Cuti melahirkan sudah diambil ketika trimester akhir dan tetap mendapatkan gaji meski di rumah. Minimal gaji adalah 6000 Kronu Islandia. Amanda pun akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti dan tunjangan orang tua kemudian tinggal di Indonesia, yang biaya hidupnya lebih murah.

Menurut Dyah kondisi anak, seperti anak adopsi, anak mengalami keguguran, atau anak mengalami situasi khusus pun tetap orang tua berhak mendapatkan tunjangan dan cuti orang tua. Sedangkan Amanda yang berasal dari Indonesia dan sang suami Amanda berasal dari Prancis, mengakui tidak ada perbedaan tunjangan dan cuti orang tua, apakah orang tua itu berkewarganegaraan Jerman atau tidak.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG Live di kanal YouTube kami berikut:

Tolong subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Kolase “Merdeka dari Kekerasan”

Dalam diskusi IG Live episode November 2023, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Peremuan yang masih menjadi rangkaian program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) 2023. Program AISIYU 2023 diselenggarakan dalam bentuk kolase dengan judul “Merdeka dari Tindak Kekerasan” dimulai dari 25 November hingga 10 Desember, yang menjadi Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Untuk membahas lebih dalam, Anna sebagai pemandu IG Live mengundang Veryanto Sitohang yang adalah Komisioner Komnas Perempuan dan Hernita Oktarini, yang adalah Koordinator Proyek AISIYU 2023 sekaligus Relawan Ruanita Indonesia.

Diskusi IG Live ini terbagi dalam 3 segmen yakni: Apa itu Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan mengapa diselenggarakan selama 16 hari?; segmen kedua adalah mengapa kampanye AISIYU dalam bentuk kolase; dan segmen terakhir apa pesan dan harapan kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan.

Follow us

Veryanto kemudian menceritakan sejarah dan latar belakang tercetusnya Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang berawal dari peristiwa di Dominika pada 25 November. Kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran hak asasi manusia sehingga upaya melakukan kampanye anti kekerasan diperingati hingga 10 Desember, Hari Asasi Manusia Sedunia.

Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan itu diinisiasi oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001. Rangkaian Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan termasuk adalah Hari AIDS Sedunia yang dirayakan dunia 1 Desember. Setiap tahun Komnas Perempuan menggelar hampir 200 kegiatan di seluruh Indonesia. Komnas Perempuan bersama jaringannya menggelar tema di tahun 2023: Kenali Hukumnya dan Lindungi Korban.

Veryanto pun menyebutkan berbagai perangkat hukum untuk membuat kebijakan perlindungan terhadap perempuan, tetapi implementasinya dari aparat hukum hingga warga masyarakat belum dapat menerapkannya misalnya untuk kasus KDRT.

Hernita sebagai koordinator proyek AISIYU 2023 menjelaskan bahwa Workshop Kolase adalah tindak lanjut kunjungan Ruanita Indonesia ke Kantor Komnas Perempuan. Kita memilih seni kolase sebagai media visual untuk menampung aspirasi Sahabat Ruanita menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan melalui potongan bahan sederhana tetapi bermakna.

Rencanaya produk kolase 2023 yang sudah dilatihkan akan ditampilkan lewat kanal media sosial Ruanita Indonesia dan Komnas Perempuan mulai 25 November – 10 Desember 2023. Veryanto juga menambahkan berbagai program 16 Hari Anti Kekerasan yang digelar di Indonesia.

Lebih lanjut tentang rekaman diskusi IG Live dapat disaksikan berikut ini:

Subcribe kanal YouTube untuk mendukung program kami.

(IG LIVE) Membicarakan Film Pendek Bertema Kesehatan Mental “Dua Kali”

Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.

Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”

Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.

Follow us

Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.

Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.

Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.

Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:

Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.

(IG LIVE) Gelar Kampanye Sepekan bersama ALZI Ned dan ALZI Jerman, Ruanita Bangun Solidaritas Untuk Berbagi Dukungan Sosial

Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.

Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.

Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.

Follow us

Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.

Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.

Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.

Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.

Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.

Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.

Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.

Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Membedakan Perilaku Orang Tua dengan Perilaku Child Shaming?

Dalam episode IG Live bulan Agustus 2023 RUANITA mengambil tema Child Shaming yang mungkin dilakukan oleh sebagian orang tua, tanpa disadari. Child Shaming sendiri diartikan sebagai metode orang tua untuk menumbuhkan rasa malu pada anak-anak yang menyebabkan anak-anak membatasi perilaku dan perasaan negatif mereka sendiri. Hal ini bisa termasuk komentar langsung atau tidak langsung tentang apa yang anak lakukan.

Child Shaming itu menurut orang tua dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak karena dilakukan melalui verbal atau lisan, dari pada hukuman fisik. Baik hukuman fisik maupun hukuman verbal seperti Child Shaming sebetulnya sangat membahayakan bagi masa depan anak di kemudian hari. Seiring dengan penggunaan media sosial, banyak orang tua juga melakukan Child Shaming yang kemudian ditampilkan lewat akun media sosialnya.

Oleh karena itu, RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia mengundang tamu yang adalah seorang ibu, penulis, dan Content Creator yang kini menetap di Norwegia. Dia adalah Savitry “Icha” Khairunnisa lewat akun instagram ichasavitry. Diskusi IG Live ini diselenggarakan pada Sabtu, 12 Agustus 2023 pukul 10.00 CEST lalu dan dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman. Icha begitu tamu IG Live disapa, menyadari bahwa banyak orang tua telah melakukan Child Shaming dalam pengamatannya karena beban orang tua, pengalaman masa kecil, keyakinan pola asuh, dan faktor lainnya.

Follow akun Instagram ruanita.indonesia

Contoh misalnya, anak mengalami tantrum di supermarket atau anak memiliki nilai ujian yang kurang memuaskan, kemudian orang tua membuat malu dengan memarahi, membentak, atau membuat kalimat-kalimat yang membuat anak semakin malu. Padahal orang tua di budaya barat misalnya, mereka akan membiarkan anak ketika anak mengalami tantrum. Perbedaan budaya ini juga sangat memengaruhi dalam perilaku orang tua melakukan Child Shaming.

Jaman memang sudah berubah, di mana penggunaan media sosial juga memengaruhi perilaku orang tua dalam melakukan Child Shaming. Melalui media sosial misalnya orang tua menghukum anak, menghadap ke tembok karena anak terlalu banyak main gadget. Orang tua merekam hukuman tersebut untuk memperlihatkan bagaimana orang tua bersikap tegas dan disiplin terhadap anak, padahal video perekaman hukuman terhadap anak itu sudah termasuk Child Shaming. Demikian pendapat Icha Savitry, yang memiliki seorang putra dan kini telah berusia remaja.

Saran Icha, sebagai orang tua perlu mendiskusikan dalam pelaksanaan peraturan atau kebijakan di rumah. Anak perlu dilibatkan agar orang tua tidak otoriter dan anak juga tidak merasa dipermalukan dengan kalimat verbal yang diberikan di depan umum atau dipublikasikan lewat media sosial. Icha berharap orang tua untuk lebih bijak untuk menempatkan diri seperti anak ketika akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat anak malu atau ketika akan memposting sesuatu di media sosial yang melibatkan anak.

Bagaimana cara orang tua untuk membuat disiplin anak tanpa melakukan Child Shaming? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan agar orang tua tidak melakukan Child Shaming? Bagaimana orang tua perlu lebih bijak menggunakan media sosial sehingga tidak membuat perilaku Child Shaming untuk anak-anaknya? Apa saran Icha juga sebagai orang tua dan penulis buku bertema parenting?

Simak selengkapnya dalam diskusi IG Live berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Perkembangan Slow Fashion versus Fast Fashion?

Diskusi IG LIVE episode Juli 2023 yang diangkat oleh RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia adalah tentang Fast Fashion. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan fashion begitu cepat seiring dengan tuntutan gaya hidup, permintaan pasar, hingga harga yang terjangkau turut serta memicu kehadiran fenomena sosial ini. Tentu saja Fast Fashion yang dibahas dalam IG LIVE ini bukan hanya menyangkut mode semata, melainkan saja isu lingkungan hidup dan kemanusiaan yang kian hari mengancam.

Untuk membahas lebih detil, RUANITA mengundang praktisi fesyen antara lain: Vanny Tousignant yang tinggal di Amerika Serikat lewat akun Instagram vannytousignant dan Eugenia Putri Stederi yang tinggal di Jerman lewat akun Instagram utte_tee. Vanny sendiri adalah seorang Founder dan Fashion Producer dari New York Indonesia Fashion Week yang berdiri sejak 2017. Sedangkan Eugenia atau biasa disapa Ute adalah Supporter Local Labels yang sering diminta menjadi model voluntary untuk karya fesyen.

Vanny telah banyak berpengalaman dalam mempromosikan brand fashion Indonesia yang memiliki potensi untuk masuk ke pasar mode New York. Vanny telah 21 tahun bekerja di Amerika Serikat sehingga menjabat Restaurant Manager kemudian beralih ke mode. Vanny berpendapat bahwa pilihan hidup fast and slow fashion itu berada di tangan konsumen.

Follow us: ruanita.indonesia

Desainer Indonesia sudah merancang pakaian-pakaian ternama dan akan berkembang pesat dalam dunia fesyen. Menurut Vanny, dia menjadi konsultan mode agar nama Indonesia dikenal lebih luas di dunia. Vanny ingin memerkenalkan mode Indonesia seperti tenun atau busana tradisional Indonesia ke kancah dunia Internasional.

Sementara Ute sejak 2016 mulai menggiatkan produk lokal di Jerman terutama penggunaan barang secondhand dan layak pakai. Tahun 2020 Ute mulai merambah untuk mempromosikan label lokal di Indonesia. Ute sendiri lebih memilih mode yang nyaman dipakai dan tidak memikirkan opini atau pendapat orang tentang pilihan pakaian yang dikenakannya.

Vanny menyarankan agar pemerintah dapat giat mempromosikan pengrajin lokal di daerah yang kaya akan tradisi seperti tenun, perhiasan, dan berbagai produk lokal. Sebagai konsumen, kita pun perlu bijak dengan membeli karya pengrajin lokal sehingga mendongkrak perekonomian negara Indonesia juga. Indonesia tidak hanya sebagai konsumen fesyen saja, tetapi Vanny menilai Indonesia punya potensi yang besar juga dalam dunia fesyen di masa mendatang.

Apa yang dimaksud dengan fast fashion sebenarnya? Bagaimana tantangan dunia fashion sekarang ini dalam melihat perkembangan mode yang kian cepat? Apa langkah praktisi fashion seperti Vanny dan Ute dalam menekan laju fast fashion? Apa harapan mereka sebagai praktisi fesyen untuk kita sebagai konsumen?

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.