
Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.
Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.
Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.
Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:
- Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
- Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
- Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?
Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.
Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.
Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.
Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.
Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.
Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.
Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.
Sebagai tindak lanjut, peserta membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif dalam bentuk:
- Zine reflektif, yang memuat esai, puisi, wawancara partisipatif, dan visual
- Audiobook, yang menghadirkan narasi reflektif, pembacaan karya, serta suara partisipan
Kedua format tersebut dirancang sebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.
Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis
Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.