(WARGA MENULIS) Dressing room self-talk

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”

Ditulis oleh Griska Gunara Keating di UK.

(WARGA MENULIS) Siapa Berpergian Hidup Dua Kali

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Saat dia pamit ke Italia, teman-temannya mengingatkannya untuk mengoleksi tas branded dan sering-sering berbelanja Prada, Dolce Gabbana, dan Armani supaya terlihat keren. Rina tertawa. Saat suaminya mendengar celoteh dengan brand yang familiar di telinganya, ia lalu menimpali dalam bahasa Inggris: “She can have all that, as long as she buys them with her own money. I will protect her, in decent way, but not in luxury,” ujarnya. 

Teman-teman Rina mana paham kata-kata Enzo itu, mereka hanya tertawa saja sambil saling mendorong-dorong satu dengan lainnya. Mereka pamitan, Rina tidak menangis. Nangis buat apa? ‘Kan dia yang meminta Tuhan supaya keluar dari Jakarta. Ia gembira saja. Hatinya tak merasa nestapa atau kekurangan apa-apa.

Ditulis oleh Rieska Wulandari di Italia.

(WARGA MENULIS) Pisau

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perempuan itu menyuruhku untuk menggenggam pisau itu di tanganku. Aku lakukan dengan mudah, walau berisik sekali kepalaku saat aku melakukan permintaannya itu. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Sekarang saya mau Anda, masih sambil menggenggam pisau itu, menaruh pisau ini tepat di samping jari-jari saya”.

Ditulis oleh Mariska Ajeng Harini di Jerman.

(WARGA MENULIS) Jendela Usang

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“Dasar kamu wanita tak tahu diri! Sudah berapa kali saya mengingatkan, jangan pernah gunakan kamar mandi itu! Gunakan saja kamar mandi belakang untuk pembantu! Kamu itu benar-benar sampah, datang ke rumah orang hanya untuk membuat masalah dan tidak tahu malu sama sekali. Dasar orang kampung yang tidak tahu sopan santun!” 

Kata-kata yang menusuk seperti jarum menyelinap ke dalam hati Asih. Ia merasakan betapa rendah dirinya diperlakukan, padahal seluruh usaha yang dia lakukan hanya untuk mencari harapan hidup dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di kampung halaman yang jauh.

Ditulis oleh Dewi Lubis di Singapura.

(WARGA MENULIS) Prinsip 3T dari Sudut Kafetaria

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Bunga datang ke Barcelona bukan sekadar ikut suami, tetapi membawa mimpi besar. Dia ingin membangun usaha pariwisata yang menjembatani wisatawan dengan budaya lokal. Namun ia  sadar, mimpi itu tidak akan tumbuh tanpa perjuangan. Seiring berjalannya waktu, Bunga mengikuti kata hatinya. Baginya, tidak ada pilihan lain selain  “menghajar diri sendiri” untuk terus maju dan terus bertumbuh.

Ditulis oleh Tyka Karunia di Spanyol.

(WARGA MENULIS) Rindu yang Terbelenggu

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Kali ini, Rajesh membawa saksi palsu, seorang wanita yang mengaku sebagai teman Sari. Perempuan itu bersaksi bahwa Sari tidak mampu merawat anak karena sering sakit. Sari, dengan air mata berlinang, berdiri, dan berbicara dalam bahasa Hindi yang campur-campur: “Saya ibu Arjun. Saya yang menggendongnya saat sakit, saya yang menyanyikan lagu Indonesia untuk menidurkannya. India ini bukan rumah saya, tapi anak saya adalah segalanya.”

Ditulis oleh Jasmine di India.

(WARGA MENULIS) Tetangga Misterius!

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Pers release dari kepolisian dan pemberitaan surat kabar, membuat kami semua disusupi rasa bersalah. Kami pernah menganggap aneh perempuan paruh baya itu. Sesungguhnya dia hanya ingin menjaga, melindungi, dan merawat anak semata wayangnya dengan segenap jiwa raganya. Karena perasaan bersalahnya, menjadi sebab putrinya lumpuh dan suaminya meninggal saat terjadi kecelakaan mobil tujuh tahun sebelumnya.

Ditulis oleh Risti Handayani di Belanda.

(WARGA MENULIS) Jarak dan Kesetiaan dari Lebanon

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perjalanan rumah tangga yang mereka lalui bagi sebagian orang mungkin sulit. Ini yang pertama bagi Terre, jauh dari Dirman. Hal ini membuat Terre terus dihantui rasa takut. Sebenarnya Dirman tak mau menambah rasa kekhawatiran Terre dengan cerita yang sebenarnya. Bahwa setiap hari dia mendengar dentuman bom dan lintasan suara roket Israel yang sering terdengar baik siang maupun malam melalui langit Lebanon. Terlebih mendengar berita pagi ini dari rekan Dirman kepada Terre, dia sangat tersentak dan terkejut apa yang telah terjadi kepada Dirman.

Ditulis oleh Milla Septilia di Bangladesh.

(WARGA MENULIS) Hening yang Kupilih

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Jam dinding masih berdetak sampai hari ini. Setiap detiknya mengingatkanku pada rumah yang jarang ribut. Rumah yang mengajarkanku bahwa stabil adalah segalanya. Dan sebagai anak perempuan pertama, aku harus menjadi dinding tambahan agar tidak ada suara yang keluar dari batas yang sudah ditentukan. Dan di dalam diriku tumbuh pertanyaan yang terus berulang. Mengapa menjadi kuat berarti tidak boleh rapuh? Mengapa menjadi anak perempuan pertama berarti harus menjadi penenang selamanya?

Ditulis oleh bbluesaturnn di Indonesia.

(SIARAN BERITA) Workshop Warga Menulis Fiksi: Setiap Orang Punya Cerita

Jakarta, Januari 2026 – Ruanita Indonesia kembali menyelenggarakan program literasi bertajuk Workshop Warga Menulis Fiksi “Gema dari Ruang Hening”, sebuah ruang menulis kolektif untuk orang Indonesia di berbagai negara dalam mengolah pengalaman hidup menjadi karya fiksi yang kuat, bermakna, dan berlapis konteks transnasional. Program ini digelar sebagai bagian dari Kampanye Digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menjadi salah satu agenda literasi tahunan Ruanita.

Workshop yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Asmayani Kusrini, penulis fiksi dan seorang Communications Officer yang bermukim di Brussel, sebagai pemateri utama. Sementara jalannya kegiatan dimoderasi oleh Griska Gunara, relawan Ruanita di Inggris Raya, yang punya latar belakang jurnalistik.

Program berformat tiga pertemuan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 17, 24 Januari, dan 7 Februari 2026 dengan durasi dua jam setiap sesi. Waktu disesuaikan dengan zonasi internasional mulai pukul 09.00 GMT, 10.00 CET, 11.00 EET, hingga 16.00 WIB, untuk memastikan keterjangkauan peserta yang berada di berbagai negara.

Di Ruanita, penyelenggara meyakini bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan pengalaman lintas batas kerap melahirkan narasi yang kompleks dan kaya. Karena itu, workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas teknis menulis, tetapi juga sebagai ruang aman untuk meresapi pengalaman transnasional, membaca dan mendiskusikan referensi cerita pendek, menonton film relevan, serta memproduksi karya fiksi yang kemudian dipersiapkan sebagai bagian kampanye publik.

Selain menghasilkan naskah, peserta juga ditargetkan menyelesaikan draft final untuk dikirimkan selambatnya 14 Februari 2026. Karya-karya terpilih akan dipublikasikan dalam Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional 2026, serta berpeluang diterbitkan dalam buku ketiga Ruanita Indonesia. Dengan demikian, program ini diharapkan berkontribusi pada produksi pengetahuan dan narasi perempuan Indonesia lintas negara, sekaligus memperkuat praktik literasi kultural yang inklusif dan sensitif pengalaman.

Workshop ini terbuka bagi warga berusia di atas 18 tahun dari mana pun berada yang pernah atau sedang mengalami kehidupan antarnegara. Peserta wajib mengikuti ketentuan teknis seperti kehadiran penuh dalam tiga sesi, penyusunan karya sesuai instruksi pemateri, penyerahan naskah final, serta pemberian persetujuan penggunaan karya dalam kampanye digital. Perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal dan seluruh data peserta akan disimpan maksimal enam bulan sesuai kebijakan privasi penyelenggara.

Melalui workshop “Gema dari Ruang Hening”, Ruanita berharap muncul suara-suara baru dalam penulisan fiksi Indonesia kontemporer yang bersumber dari pengalaman hidup orang Indonesia di berbagai penjuru dunia, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun individu yang bergerak lintas batas budaya.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Informasi lebih lanjut, kontak Griska Gunara di UK melalui email: info@ruanita.com.

(WARGA MENULIS) Puisi – Atas Nama Kemanusiaan

Atas Nama Kemanusiaan

Atas nama kemanusiaan,
seorang aktivis renta berbicara lirih,
sepanjang hidupnya ia mengukur jalan
mendampingi mereka yang terusir
dari gang-gang sempit yang kini berdinding beton.

Follow us



Atas nama kemanusiaan,
wajah seorang pengusaha terpampang di poster,
senyumnya tak pernah absen dari beragam kajian,
sambil menghitung laba dari proyek bantuan
yang menjual air mata anak-anak yatim.

Atas nama kemanusiaan,
seorang politikus berjanji dengan heroik
sekuat tenaga memulangkan sang pemangsa,
yang memperkosa puluhan lelaki di negeri seberang

Atas nama kemanusiaan,
sekarang giliran siapa? 

(oleh Yunita Tan, IG:yun.ita.tan)

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan, si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan diberikan kelembutan,
Diberikan kekuatan,
dan diberikan kemampuan penyembuh dari Ibu Bumi

Perempuan, menahan sakit 9 sembilan bulan demi kebaikan
Mampu meredam kemarahan saat terpinggirkan
Mampu merusak saat ditindas
Menjadi si bijak kala dilupakan

Follow us



Perempuan dihadirkan dari doa Karema yang Agung
Kami kuat, karena ditatar Maria Maramis
Tak pamrih, karena ajaran Kartini

Tahun 1919, 1000 Perempuan hadir menyuarakan HAK politik Indonesia
Tapi kini, perempuan dibatasi angka 30 persen
Tapi, kami tak gentar
Karena, kami Perempuan yang dijaga Ibu Bumi, adalah yang Terbaik.

Oleh: Gracey Wakary (IG : @ndutghe)

(WARGA MENULIS) Puisi – Namaku Perempuan

Namaku Perempuan

Namaku Perempuan
Si Empu akan apa yang ada dan yang akan ada dalam diriku sendiri.

Namaku Perempuan
Si Tuan akan apa yang aku jalankan dan inginkan tanpa perkecualian.

Namaku Perempuan
Pemimpin dari setiap mimpiku yang kujadikan kenyataan.

Namaku Perempuan
Musuh besar yang tegar akan semua gagasan dan tindakan yang melawan perempuan!.

Follow us



Ibu Bumi

Ibu Bumi memberiku Rahim
Dan tak seorangpun berhak menjadi hakim!
Tugasku……………….
Membela semua keturunan Ibu Bumi
Anakku
Anakmu
Anak mereka
Anak kita semua
Anak-anak keturunan Ibu Bumi.


Yacinta Kurniasih
@yacintakurniasih (Instragram)
Yacinta Kurniasih (LinkedIn)
Yacinta Kurniasih (FB)

(WARGA MENULIS) Puisi – Mau Kapan Lagi

Mau Kapan Lagi?

Oleh: Keket Kape

Utas medsos rame dengan puan yang tinggal puing raga
Femisida menyeruak satu demi satu terkuak
Peluh dan pilu membasahi anak, ibu, bapak, dan saudara
Di meja hijau ketok palu bebas menggelegar

Sementara di kampung seberang sungai
Puan terdiam saat terima beda tunai
Meski datang lebih awal, keringat lebih mengucur
Bahkan saat haid pun susah minta libur

Di ruang-ruang kerja di kota
Kaki puan terikat tanpa bisa lari kencang
Posisi ini, itu … mustahil
Perjuangan dikalikan nol … jadi nihil

Follow us



Dalam ladang politik, puan seringkali gigit jari
Penyelenggara lima, hanya satu yang boleh terisi
Bagaimana bisa mengisi kursi
Sudah ditentukan jumlah sebelum seleksi

Ada banyak karena …
Pujian ayah yang berbeda atas prestasi yang sama
Pun mbalung sumsumnya “Surga nunut, neraka katut”
Puan hanyalah “kanca wingking” yang mesti nurut

Tidak bisa menunggu lagi …

Sebab menunggu untuk apa?
Untuk siapa?
Setiap detik dan intervalnya adalah anugerah Sang Pemberi Waktu
yang mestinya puan merekahkan senyum

*Keket KaPe adalah nama pena Chatarina Pancer Istiyani
FB: Chatarina Pancer Istiyani
IG: Chatarina Pancer Istiyani
YT: Chapaist Channel

(WARGA MENULIS) Puisi – Nyi Rambut Kasih

Nyi Rambut Kasih

Wajah penuh pesona
Setiap tanah rasanya bernyawa
Para rakyat seperti tersihir warna
Oleh rambut mengurasi yang maha asih

Follow us



Ia berkebaya menjuntai panjang
Terus mencari-cari ketenangan pada sebuah legenda
Meski kadang menjadi propaganda
Tetapi tentu yang terjadi bukan risalah semata

Kadang aku tak paham mengapa perempuan dianggap mistis
Mengapa tak pernah diberi ruang realitis?
Apakah kita hanya hidup pada dunia magis?
Atau sengaja dibiarkan guna-guna dan menangis?

Note : Nyi Rambut Kasih merupakan tokoh perempuan asal majalengka yang memiliki kemampuan ngahiyang (menghilang) ia terkenal cantik, sakti, dan berambut panjang menjuntai.

Oleh: Noviyanti (akun sosial media novii.yp)