Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Kategori: WARGA MENULIS
Warga Menulis adalah salah satu program yang mendorong partisipasi warga Indonesia untuk mendokumentasikan suara, opini, pengalamannya lewat artikel/puisi. Program ini kadang disertai Workshop Warga Menulis yang mengundang narasumber untuk meningkatkan kapasitas warga untuk menulis.
Marah! Kenong seperti sudah habis kesabaran, mengeluh tubuhnya dibentur kayu Gema monoton minta tolong, susup di bawah sadar. Kalau gini terus lama-lama aku bisa kesambet.
Rahimku dipenuhi janji kepalsuan Membesar, menyesak anyir bau nafas lelaki birahi.
Dia tak mungkin tau bagaimana menjadi bapak, kencing saja belum lurus. Apalagi aku, masa depanku petang. Bagaimana mau jadi ibu? dari sekolahpun aku ditendang.
“Cetarrrr!!” Angin yang dari tadi diam, mengumpat ditampar pecut Tubuh liuk, hilang ditelan ketidakadilan Tak ada menu lain, memang hanya beling yang bisa kumakan.
Aku perempuan ditikam takdir, menebus dosa syair jahanam rayuan setan.
Di antara riuhnya suara bising pandanganku kabur jauh tenggelam dalam diri yang asing Layaknya deru kehidupan yang selalu riuh Mengoyak gejolak isi kepalaku yang terasa penuh
Entah berapa kali aku berseru “Apakah aku masih utuh?” Jeritan batin menukik diantara hening malam yang gaduh Menerima takdir semesta dengan menggerutu “Bisakah KAU segera menjemputku?” Ucapku merayu sembari derai air menggenangi ujung kelopak mata yang sayu
Hingga aku tersadar bahwa diriku tak pernah utuh Bahkan untuk hidup yang katanya milikku Nyatanya kakiku lebam membiru dan mulutkupun membisu kaku Tidak selayaknya merpati yang kedua sayapnya terbang bebas jauh
Kata orang aku pasti mampu, ucap mereka dengan angkuh Yang pada kenyataannya aku hanya manusia yang rapuh Tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih hidupku Karena bagi mereka, aku hanya seorang Perempuan yang wajib patuh untuk mendapatkan surga Itu
jiwa puan seperti peta perang dan raganya adalah sisa lebam yang tak mungkin semula kadang cuma menuntut diam, kadang menuntut tunduk kuat, kuat, kuat, begitu orang cuma minta ia kuat;
bekas belur lebur itu kini mirip ruhnya ruh yang tak selalu bertutur itu ia tutup rapat dalam peti cekung pipinya menelan duka dalam punggung tunggal seakan malam tak pernah menagih air mata di punggungnya tertulis besar-besar : “tidak nenerima lelah”
dalam hening yang ia peluk erat ada bara menyala lirih bukan untuk melawan hanya untuk mengingat— luka melewati simbol kekalahan ia pagar gahar tanpa kelakar.
Hei, dengar! Kenalkan, aku adalah umbi jahe Aku bisa melawan parasit seperti ameba Yang diam-diam menggerogoti, perlahan membunuh tanpa diketahui Aku dijuluki umbi
Ya, umbi yang sering diremehkan Yang sering juga (dipaksa) kerja rodi Aku begitu kuat, dengan aroma khas aromatik Aku diberi nama tanaman rimpang Yang bisa kau ajak melawan Melawan ameba saja bisa Apalagi melawan oligarki
Lirik puisi: Sebuah buku Duduk nyaman di meja makan Di luar, sehelai koran Terbang terbawa senafas angin Seekor kucing Berjalan hati-hati melewati pintu kaca tanpa mencari apa-apa
Seorang istri Bernafas dalam cemas memandang suaminya Seonggok keprihatinan menunggu Setetes air mata mengalir turun mencari mulut supaya merasakan keasinannya Setelah semua berlalu Sebanyak prestasi apa yang perlu dikenal? Dan, apakah orang yang tak peduli akan perbuatannya, masih berperasaan? Mengapa, Amerika?
Nama Penulis: Matthew Eddy (dengan bantuan dari Yacinta Kurniasih)
Aku sudah mati beberapa kali,/ menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/ janji-janji tak bertuan,/ letupan api-api neraka/ ditekan sesamanya,/ disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//
Bangke!// Yang tersisa padaku adalah kehampaan/ Ketiadaan/ kosong!//
Maria, Maria!// Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/ pada palang salib bernama pelayanan,/ hutang budi?/ pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/ haus validasi?/
Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung.
dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan.
Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit
entah, apa kriterianya terlalu sulit
atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit.
Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram.
Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.
Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.
Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.
Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.
Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.
Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu,
menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu.
MELBOURNE – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2025, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia, bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne dan Komnas Perempuan Indonesia, sukses menyelenggarakan workshop online bertajuk “From Words to Power: Accelerate Action”. Tema ini sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional 2025 yang mengajak seluruh pihak untuk mempercepat aksi menuju kesetaraan gender.
Workshop Warga Menulis Puisi ini bertujuan untuk memberdayakan warga Indonesia melalui puisi sebagai sarana untuk mengatasi hambatan sistemik dalam mencapai kesetaraan gender, seperti kesenjangan upah, akses terbatas ke pendidikan, dan kurangnya representasi perempuan dalam kepemimpinan, yang sejalan dengan tema Hari Perempuan Internasional 2025.
Workshop dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dalam dua sesi, yaitu pada Sabtu, 25 Januari dan 1 Februari 2025. Pada sesi pertama, Kuncoro Giri Waseso selaku Konjen RI Melbourne menyampaikan apresiasinya terhadap partisipasi aktif warga Indonesia dalam program ini. Beliau menekankan pentingnya puisi sebagai alat advokasi dan komunikasi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat Indonesia di mancanegara.
Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang, menyoroti pentingnya kekuatan kata-kata dalam mempercepat perubahan menuju kesetaraan gender, terutama di era digital. Dalam sesi selanjutnya, Yacinta Kurniasih, dosen Monash University dan relawan Ruanita, berbagi wawasan tentang teknik menulis puisi yang efektif untuk mendukung advokasi dan inklusi.
Natasha Hartanto bertindak sebagai moderator dalam workshop ini. Hasil karya puisi peserta akan ditampilkan dalam kampanye digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2025 di platform media sosial Ruanita. Workshop ini berhasil menarik lebih dari lima puluh peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tentang Ruanita Indonesia: RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah organisasi nirlaba yang memanfaatkan platform digital untuk memberikan dukungan sosial dan berbagi praktik baik hidup di mancanegara. Sejak berdiri pada tahun 2021, Ruanita berharap bisa mendorong partisipasi dan aksi warga Indonesia untuk memanfaatkan ruang digital secara aman untuk promosi psikoedukasi dan kesetaraan gender.
Saya bernama Debora dan berprofesi sebagai guru piano. Ibu saya bernama, L S Veronica Sinaga. Ibu saya adalah ODD (=Orang Dengan Demensia) yang berusia 83 tahun dan tinggal di Indonesia. Saya merawat ibu saya secara jarak jauh. Ibu saya ditemani oleh 2 caregiver yang dibayar. Ibu saya mulai tidak mengenali saya pada tahun 2015. Secara rutin, saya melakukan komunikasi dengan ibu dan kedua orang caregiver tersebut secara jarak jauh melalui telepon atau panggilan video. Ini dilakukan hampir setiap hari dan kebanyakan dilakukan di malam hari waktu setempat.
Saya juga terapis musik di klinik. Saya kemudian menemukan cara jitu untuk berkomunikasi dengan ibu saya, yaitu dengan bermain piano. Dengan bermain piano, saya menarik perhatian ibu saya untuk terus berkomunikasi melalui telepon atau panggilan video. Sampai akhirnya, ibu saya kurang memiliki minat dan perhatian untuk berbicara melalui telepon. Karena kondisi ibu ini, bapak saya pun sudah meninggal baru-baru ini. Saya menyempatkan pulang ke Indonesia, sebisa mungkin untuk bertemu langsung dengan ibu.
Sampai saat ini, ibu saya tidak menyadari atau memahami bahwa bapak saya sudah meninggal. Kadang dia bertanya, “Suami saya kemana?” dan ada beberapa kali “bright moment”, ibu menyadari kalau bapak sudah tidak ada.
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Penyakit Alzheimer memang belum ada obatnya. Ini terjadi secara perlahan, tidak hanya menyebabkan penurunan daya ingat saja. Alzheimer juga membuat gangguan kemampuan berbicara dan perubahan perilaku. Menurut pengalaman saya, Alzheimer seperti menghancurkan keluarga. Apalagi dalam keluarga saya, ibu adalah pilar keluarga yang menyatukan keluarga. Dengan cepatnya gejala Alzheimer mengurangi ingatan dan merubah perilaku ibu saya. Efek ini juga dirasakan oleh keluarga saya. Ngobrol dengan ibu sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Beliau seperti berbicara pada orang asing atau orang yang tidak dia kenal.
Tidak mudah bagi saya untuk bekerja sama dengan kakak-adik dalam merawat ibu. Kesadaran akan penyakit Alzheimer menurut mereka, dianggap sebagai proses penuaan yang memang wajar pada lansia. Saat ini, ibu sudah semakin sulit diajak bicara. Kemampuan dia mengerti kalimat sudah sangat menurun. Kita seperti berbicara pada anak balita. Beliau hanya mampu merespon atau memahami pembicaraan dengan kalimat pendek saja.
Mengenali Alzheimer sejak dini, menerapkan perawatan, dan penanganan yang terarah untuk ODD memang tidak sempat kami laksanakan untuk ibu saya. Setelah hal ini kami terapkan, terlihat ini sangat membantu ingatan dan perilaku ibu saya.
Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023
Bagi saya, bulan Alzheimer ini bagaikan penyemangat bagi saya dan kakak saya untuk bisa terus merawat ibu saya. Ada masa-masa saya dan kakak saya sedih dengan kondisi ibu, tetapi akhirnya kami tergerak untuk mengubah mindset kami. Kami menerima kondisi ini dengan hati yang gembira, walaupun ini tidak mudah. Saya menerima kondisi ibu. Saya memperkaya diri dengan pengetahuan tentang Alzheimer, membaca buku, dan melalui berbagai organisasi, seperti Alzheimer Society, Alzheimer Indonesia, atau ALZI cabang San Francisco.
Saya bertekad memberikan kasih sayang dan cinta yang dulu saya terima dari ibu saya, walau pun saat ini ibu sering kali tidak mengenali saya. Saya percaya, dalam hati ibu ada saya. Walau pun ibu tidak mengenali saya, saya bertekad untuk selalu mengingat semua kenangan bersama ibu saya.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia 2023, kita harus menyayangi orang tua dan selalu berkomunikasi dengan mereka. Jika orang tua terdeteksi Alzheimer, persatukan keluarga untuk bersama-sama menyamakan pikiran dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Bukan saja ODD, tetapi juga suami/istri yang menjadi caregiver langsung, juga anak-anak, cucu yang jauh, dan dekat dapat bersatu merawat ODD bersama-sama.
Pada tahun 2017, saya menghadiri acara ALZI (=Alzheimer) di Jenewa, Swiss. Saat itu, kak DY menceritakan tentang ibunya yang mengalami Demensia Alzheimer. Dari situ, saya baru mengerti bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang harus mendapatkan perhatian penuh oleh keluarga. Saya kemudian tergerak untuk menjadi member dari ALZI untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di Jenewa, Swiss dan sekitarnya agar dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD).
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Sangat penting bagi kita untuk mengenali dan mengerti apa itu Alzheimer sedini mungkin. Dengan adanya pemahaman dini dan disertai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, maka kita dapat mengambil langkah-langkah pertama untuk mencegah penyakit Alzheimer itu berkembang dengan cepat.
Kita dapat belajar bagaimana sebaiknya mendampingi ODD supaya mereka merasa nyaman dan mengurangi rasa stres mereka. Begitu juga, apa saja aktivitas-aktivitas yang baik untuk diberikan kepada ODD agar dapat menstimulasi daya pikir mereka dan menjaga badan sehat. Hal ini dapat menolong untuk memperlambat perkembangan Demensia Alzheimer.
Peran anggota keluarga sebagai caregivers utama itu sangat penting. Dengan mereka mengenali Alzheimer sedini mungkin, kita bisa menciptakan suasana saling mengerti antara ODD dan caregivers.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia, mari kita semua ikut aktif membantu organisasi ALZI dalam menjalankan visi dan misinya. Kita bisa membangun komunitas lansia sehat di mana pun kita berada dan mengajak generasi muda untuk ikut terlibat aktivitas-aktivitas organisasi ALZI agar memperoleh pemahaman dini tentang penyakit Alzheimer, serta bagaimana menghadapinya. Jangan maklum dengan pikun!
Interaksi saya dengan Alzheimer Indonesia dimulai saat saya mendampingi perwakilan ALZI untuk menghadiri undangan sebagai narasumber dalam konferensi internasional di Qatar. Dalam dialog dan diskusi, saya terinspirasi oleh ketulusan dan semangat seorang DY Suharya (Founder ALZI).
Didasari motivasi ingin berbagi ilmu dan berkontribusi sebagai seorang dokter umum dan Health Educator, saya bergabung menjadi relawan ALZI sejak tahun 2018. Selama itu, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dan mengharukan terkait pendampingan dan perawatan Orang Dengan Demensia (ODD).
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Jumlah ODD diperkirakan akan terus meningkat, apalagi pasca pandemi COVID-19 lalu membuat banyak perubahan gaya hidup yang menjadi faktor risiko Demensia. Ini berarti, akan lebih banyak ODD dari yang mungkin diperkirakan. Demensia sendiri dapat disebabkan oleh beberapa kondisi gangguan dan penyakit, di mana kondisi terbanyak adalah jenis Demensia Alzheimer mencakup 60 hingga 70% kasus. Demensia Alzheimer adalah penyakit kronis neurodegeneratif yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia diatas 65 tahun.
Namun, beberapa hal dapat memungkinkan terjadi pada usia yang lebih muda bila terdapat faktor risiko dan kondisi komorbid yang memicunya terjadinya Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer berdampak tidak hanya pada orang yang mengalaminya, tetapi juga pada keluarganya.
Penurunan fungsi kognitif dan gangguan perilaku dapat muncul dan memberikan pengaruh signifikan pada yang merawat dan mendampinginya. Pengetahuan dasar perihal penyakit, gejala, dan penanganannya sangat penting dimiliki agar semakin banyak orang dapat melakukan pencegahan atau mempertahankan kondisi untuk menghindari komplikasi yang lebih buruk.
Keterampilan merawat dan mendampingi orang dengan demensia menjadi esensial bagi keluarga demi pengasuhan yang efektif dan menjaga kesehatan mental caregiver yang mendampingi.
Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023
Untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, mari bersama kita mengenali Demensia Alzheimer dan melakukan :
Pencegahan dengan pola hidup sehat, stimulasi otak, dan silaturahmi sebagai bentuk interaksi sosial.
Deteksi dini dan penanganan yang komprehensif untuk ODD.
Bersama sebagai komunitas, kita dukung ODD dan caregiver dengan kepedulian, menawarkan bantuan, atau perhatian.
Menyebarluaskan awareness ini di masyarakat demi terciptanya kualitas hidup yang lebih baik untuk ODD dan caregiver.