(PODCAST RUMPITA) Dari Studi di Polandia, Kesehatan Mental, ke Peluang Karier Profesional

Diskusi Podcast bulanan RUMPITA — Rumpi Bersama Ruanita, yang dipandu oleh Anna (akun IG: @anna_knobl) kembali hadir untuk mengupas serba-serbi studi, peluang karier, serta pengalaman tinggal di luar negeri bersama para relawan Ruanita Indonesia dan informan dari berbagai bidang. Untuk episode edisi Oktober 2026 ini, RUMPITA bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, dan mengangkat cerita seorang perempuan Indonesia yang meniti studi dan karier di bidang teknologi informasi di Polandia.

Kali ini Anna ditemani oleh relawan Ruanita Indonesia di Islandia, Asti (akun IG: asti.tyas.nurhidayati). Mereka berbincang dengan Laura, seorang profesional Indonesia yang telah empat tahun menetap di Polandia dan berkarier dalam bidang operasional bisnis dan teknologi informasi.

Laura masuk sebagai mahasiswa pada tahun 2020, tepat ketika dunia dilanda pandemi COVID-19. Tantangannya pun berlapis: kuliah daring, kesulitan interaksi, kendala internet, hingga perbedaan aksen bahasa Inggris antar mahasiswa internasional.

Selain itu, perbedaan budaya turut memengaruhi proses adaptasi. Jika masyarakat Indonesia cenderung berempati dan menjaga perasaan, masyarakat Polandia jauh lebih langsung dalam berkomunikasi. Namun pengalaman itu membuka perspektif baru dan tidak sedikit membentuk kemandirian.

Tema kesehatan mental mengemuka ketika Laura mengungkap salah satu pengalaman paling personalnya: hidup jauh dari anaknya yang masih berusia empat tahun di Indonesia, tinggal sendiri di dormitori, dan menghadapi isolasi sosial akibat pandemi.

Kesedihan, rasa bersalah sebagai ibu, hingga proses memahami trauma masa lalu membuatnya akhirnya menemui psikolog untuk pertama kalinya setelah tinggal setahun di Polandia. Pengalaman itulah yang membuatnya sadar bahwa isu kesehatan mental bukan sekadar trend, namun kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan perantau.

Laura mengakui bahwa pemulihan bukan proses instan. Namun ia merasa dirinya jauh berubah dibanding empat tahun lalu, dan menemukan ruang untuk mengenal diri sendiri, membangun resiliensi, serta melepaskan narasi negatif yang melekat sejak kecil.

Isu gender dalam teknologi menjadi bagian diskusi menarik. Saat S1 di Indonesia, jumlah mahasiswa perempuan di software engineering hanya 10% dari total kelas. Berbanding terbalik, di kelas S2 di Warsaw komposisi berimbang 50:50 antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hal itu menunjukkan ekosistem yang lebih setara dalam membuka jalan bagi perempuan di bidang teknologi.

Selain itu, kelasnya sangat internasional, hanya empat mahasiswa lokal Polandia, sisanya mahasiswa asing dari Asia hingga Amerika, yang tentunya membawa ragam pola pikir dan pengalaman.

Bagi mahasiswa, peluang magang di Polandia sangat menjanjikan. Perusahaan global membuka magang berskala besar dengan standar gaji setara pekerja reguler—bukan sekadar uang transport sebagaimana lazim di Indonesia. Laura sendiri hanya membutuhkan delapan bulan sejak status magang untuk naik ke kontrak kerja permanen (full-time with unlimited contract).

Hal ini menunjukkan bahwa Polandia bukan hanya destinasi studi, tetapi juga destinasi karier yang sangat layak bagi orang Indonesia yang ingin berkarier dan tinggal di Polandia. Bagi banyak perempuan Indonesia yang bermimpi belajar atau bekerja di luar negeri, cerita ini membuka kemungkinan bahwa jalur itu tidak hanya ada, tetapi juga dapat dicapai dengan strategi dan keberanian.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal SPOTIFY berikut ini dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Pernah Jadi Korban Perundungan, Kini Aktif Serukan Social Justice

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku adalah Rufi (akun instagram @zsyasdawita), yang sedang tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi S2 di jurusan Public Policy and Good Governance. Lewat program cerita sahabat, aku ingin membagikan hasil wawancaraku dengan seorang teman asal Indonesia dalam tema Social Justice. 

Temanku yang dimaksud adalah Dyfna, bukan nama sebenarnya dan sekarang juga tinggal di Jerman. Tepatnya Dyfna sedang tinggal di Leipzig sejak satu tahun lalu. Jika kita mendengar kata “Social Justice” mungkin yang terbayang adalah para profesional dan praktisi yang bergerak di bidang hukum dan keadilan. Nah, aku ingin membawa sahabat Ruanita dalam perspektif yang berbeda, yakni bagaimana perasaan orang yang tidak mengalami “social justice” dalam hidupnya, seperti yang dialami Dyfna ini.

Dfyna pernah mengalami peristiwa tidak mengenakkan, yang memegaruhi keputusannya untuk terlibat dalam bidang keadilan sosial. Awalnya, Dyfna mengalami peristiwa ketidakadilan pada saat dia masih duduk di bangku sekolah. Dyfna menganggap hal itu terjadi karena dia berasal dari suku minoritas pada saat dia bersekolah.  Selain itu, dia memiliki warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan teman-teman sekolahnya. Akibat perasaan tidak adil dan perlakuan rasisme tersebut, Dfyna memutuskan untuk melawan ketidakadilan sosial. 

Setiap orang punya definisi yang mungkin berbeda-beda tentang keadilan sosial, termasuk Dyfna. Menurutnya, keadilan sosial adalah kondisi saat semua orang memiliki persamaan hak dan mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa adanya diskriminasi, baik itu  berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. Hal ini penting sekali karena Dyfna percaya bahwa masyarakat yang adil akan menciptakan lingkungan yang harmonis 

Tentu saja, Dyfna bukan hanya berteori saja tentang keadilan sosial, melainkan dia juga memiliki proyek atau inisiatif yang sedang dikerjakannya. Dia memiliki proyek terbaru yang berkaitan dengan program pemberdayaan di kota tempat tinggalnya saat ini. Proyek ini dikerjakannya bersama teman-teman aktivis yang punya concern yang sama, terkait bidang social justice. Proyek ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum kepada korban perundungan atau bullying, khususnya anak-anak sekolah dan remaja. Dyfna dan teman-temannya berharap proyek ini akan membantu para korban untuk bangkit dan mendapatkan keadilan yang layak.

Dalam implementasi proyek ini, tentu saja tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Dyfna dan kawan-kawan seperjuangannya. Salah satu yang terbesar yang dihadapinya adalah  adalah ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, masih terdapat kelas-kelas sosial yang menciptakan adanya ketimpangan di masyarakat, sehingga ada yang merasa diri mereka lebih superior daripada orang-orang yang berada di kelas bawah, menurut kaum superior ini. 

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Dyfna pun berupaya untuk menciptakan ruang yang ‘merata’ bagi setiap pihak, khususnya dalam edukasi dan literasi tentang keadilan sosial. Contoh konkritnya adalah melakukan kampanye-kampanye, baik secara online maupun offline, sehingga diharapkan semua orang memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pemahaman tentang keadilan sosial.

Tak hanya melakukan edukasi dan literasi saja, Dyfna merasa pentingnya peran advokasi dalam memajukan isu keadilan sosial ini agar dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Menurut Dyfna, advokasi dan pendidikan memainkan peran penting dalam memajukan isu keadilan sosial dengan memberikan informasi yang akurat dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan. Strategi yang dimainkan Dyfna adalah mengadakan lokakarya, seminar, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Sebagaimana sahabat Ruanita ketahui, praktiknya tentu tidak mudah ketika komunitas kami membantu anak-anak korban bullying yang mengalami ketidakadilan, khususnya karena rasisme. Dyfna dan komunitas bergerak untuk memotivasi dan mengedukasi mereka dengan cara-cara seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menanamkan pentingnya keadilan sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di sekolah teredukasi dan lebih aware akan hal tersebut. Dyfna dan teman-teman aktivis berharap korban-korban perundungan di sekolah bisa bangkit dan tetap semangat kembali, terutama mereka tidak malu dan minder dengan identitas mereka ataupun warna kulit mereka.

Apa yang Dyfna dan teman-teman aktivis lakukan tidak dapat terwujud sepenuhnya, apabila pemerintah tidak mendukungnya. Menurut Dyfna, pemerintah dan kebijakan publik memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan menegakkan  keadilan sosial. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil bagi semua pihak, tentunya hal tersebut mampu membantu memerangi ketidakadilan dan diskriminasi. Sebaliknya, kalau tidak ada kebijakan yang mendukung dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, pastinya itu dapat menjadi hambatan yang besar dalam penegakan keadilan sosial.

Sahabat Ruanita, satu hal yang penting untuk diketahui tentang penegakan keadilan sosial adalah interseksi keadilan sosial itu sendiri, seperti ras, gender, dan kelas sosial yang saling terkait. Interseksionalitas merupakan konsep penting dalam keadilan sosial yang saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kita paham tentang interseksionalitas,  kita bisa melihat gambaran kesenjangan yang ada secara lebih luas dan kompleks.

Dalam kehidupan digitalisasi yang berkembang seperti sekarang ini, Dyfna berpikir kita bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media sebagai kunci social movement. Ya, tentunya teknologi dan media sosial mempunyai dampak yang signifikan terhadap gerakan keadilan sosial dengan memperluas jangkauan dan mempercepat penyebaran informasi. Namun, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti misinformasi dan juga hoax yang saat ini tersebar luas di media sosial dengan mudah.

Terakhir, lewat peringatan World Day of Social Justice ini, Dyfna menyerukan bahwa kita bisa mulai terlibat dalam keadilan sosial, baik secara personal maupun institusional, yang bisa dimulai dari edukasi diri kita sendiri terlebih dahulu dan komunitas terdekatnya. Bahkan dari lingkup keluarga, Dyfna berpendapat bahwa kita bisa melakukan awareness tentang isu-isu keadilan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal. Langkah kecil seperti sukarela di organisasi sosial atau mengikuti kampanye kesadaran yang bisa berdampak besar.

Penulis: Zukrufi Syasdawita yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @zsyasdawita. Naskah berdasarkan wawancara dengan Dyfna (nama samaran) adalah mahasiswa yang sudah tinggal selama 1 tahun di Leipzig, Jerman.