(SIARAN BERITA) Ketika Pangan, Kesehatan Mental, dan Budaya Indonesia dalam Ruang Aman

Jakarta, 31 Oktober – Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan budaya melalui acara “Food, Mind & Belonging” yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan refleksi tentang World Mental Health Day dan World Food Day melalui perspektif pangan, kesehatan mental, identitas budaya, serta hubungan antarmanusia Diskusi ini melibatkan para relawan Ruanita Indonesia dari berbagai negara.

Mengangkat gagasan bahwa makanan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tubuh, acara ini mengajak peserta melihat bagaimana pangan dapat menjadi bagian dari pengalaman emosional, memori, identitas, dan rasa memiliki. Melalui pengalaman para pembicara yang tinggal dan berkegiatan di berbagai negara Eropa, peserta diajak memahami bahwa cara seseorang memilih, menikmati, dan mengonsumsi makanan sangat dipengaruhi oleh kebutuhan individu, kondisi kesehatan, lingkungan, budaya, serta pengalaman hidup.

Sesi pertama membahas tema bagaimana pangan dan nutrisi dari kanak-kanak hingga lansia memengaruhi kesehatan mental. Diskusi memperlihatkan bahwa kebutuhan pangan dan hubungan seseorang dengan makanan dapat berubah sepanjang kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut. Asti Tyas Nurhidayati, melalui pengalamannya di Islandia, berbagi mengenai penyediaan makanan di lingkungan sekolah yang perlu memperhatikan alergi, preferensi vegetarian, serta kondisi kesehatan tertentu pada anak.

Sementara itu, Alda Trisda berbagi pengalaman di Belgia terkait anak-anak dengan kebutuhan khusus, termasuk anak autistik yang dapat memiliki preferensi makanan sangat spesifik. Sensitivitas terhadap tekstur, aroma, rasa, maupun lingkungan sekitar dapat memengaruhi kenyamanan dan pilihan makanan mereka. Selanjutnya dari Inggris, Griska Gunara membawa perspektif mengenai layanan elder care. Dalam sistem perawatan lansia, pilihan makanan tidak hanya berkaitan dengan standar nutrisi, tetapi juga dengan otonomi, martabat, dan hak individu untuk menentukan makanan yang sesuai dengan dirinya.

Pengalaman di Norwegia yang dibagikan oleh Aini Hanafiah turut memperkaya diskusi mengenai tantangan pemenuhan kebutuhan nutrisi dalam layanan perawatan lansia, termasuk bagaimana keterbatasan anggaran dapat memengaruhi pilihan makanan.

Perspektif ilmiah dalam sesi ini diberikan oleh Nutritionist Coach Viana, yang mengajak peserta memahami hubungan antara makanan, kebutuhan nutrisi, kesehatan tubuh, serta kesejahteraan mental. Pembahasan juga menyentuh keterkaitan gut-brain axis, kebutuhan nutrisi yang berbeda pada setiap individu, serta pentingnya melihat makanan secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan satu standar yang berlaku untuk semua orang.

Pesan penting yang muncul dari sesi ini adalah: Setiap orang memiliki kebutuhan dan pengalaman yang berbeda terhadap makanan, tetapi setiap individu tetap memiliki hak yang sama untuk dihargai dan diperlakukan dengan bermartabat.

Sesi kedua menghadirkan pembahasan yang berangkat dari pengalaman masyarakat Indonesia yang mencoba mempertahankan cita rasa makanan Nusantara ketika bahan-bahan tertentu tidak mudah ditemukan di negara tempat mereka tinggal. Salah satu contoh yang dibahas adalah penggunaan kiwi sebagai alternatif bahan yang memberikan fungsi rasa asam dalam masakan seperti garang asem, ketika belimbing wuluh sulit diperoleh. Pendekatan ini dirangkum dalam gagasan:

Artinya, perubahan bahan tidak harus menghilangkan identitas dan makna dari sebuah hidangan. Adaptasi dapat dilakukan dengan memahami fungsi bahan, karakter rasa, serta konteks budaya dari makanan tersebut. Perspektif kesehatan mental diperkuat oleh Bernadia Dwiyani, Mental Health Educator di Spanyol. Bernadia mengajak peserta melihat hubungan antara makanan dan kesehatan mental dari sisi pengalaman manusia. Makanan dapat membawa kenangan, menghadirkan rasa nyaman, menjadi bagian dari ritual keluarga, sekaligus menjadi sarana membangun koneksi dengan orang lain.

Dalam konteks kehidupan di luar Indonesia, makanan khas Indonesia dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan hubungan dengan pengalaman masa lalu sekaligus membangun ruang kebersamaan di lingkungan baru. Namun, diskusi juga menekankan bahwa hubungan antara makanan dan kesehatan mental bersifat kompleks. Makanan bukan pengganti terapi atau intervensi kesehatan mental, tetapi dapat menjadi bagian dari self-care, rutinitas positif, pengalaman sensorik, dan hubungan sosial yang mendukung kesejahteraan sehari-hari.

Melalui ruang diskusi digital seperti ini, Ruanita Indonesia terus mendorong percakapan yang menghubungkan kesehatan mental, budaya, pangan, dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Selengkapnya dapat disimak di kanal YouTube kami berikut rekaman acara tersebut dan pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami:

(WARGA MENULIS) Penyesalanku

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Lawanku adalah anak dari suamiku. Ya, ternyata sudah punya anak remaja menjelang dewasa walaupun suamiku belum pernah menikah. Kejutan apalagi yang suamiku sembunyikan dariku? Mungkin karena mengenal karakter perempuan Indonesia (sebab ibunya anak itu ternyata orang Indonesia juga), yang lebih suka mendapatkan pasangan tanpa anak. Toh mereka tak pernah rutin berjumpa, suamiku tidak pernah terlibat sama sekali, karena mereka sudah memutuskan begitu barangkali, entahlah. Aku menjadi orang yang paling tidak tahu mengenai suamiku sendiri!

Ditulis oleh Alda Trisda di Belgia.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu di Belgia yang Memiliki Anak dengan Autisme

Dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April agar publik mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang Autisme, termasuk mengadvokasi anak dengan Autisme yang masih mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia mengundang Alda Trisda yang tinggal di Belgia untuk berbagi pengalaman dan perjuangannya sebagai ibu dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Alda mengakui di awal ketika anaknya didiagnosa sebagai anak dengan Autisme, dia tidak berkoordinasi dengan suami dalam mendapatkan penanganan yang tepat untuk anaknya. Alda berpesan agar orang tua yang memiliki anak dengan Autisme dapat bekerja sama antara ayah dan ibunya dalam merawat anak dengan Autisme. Alda menyebut istilahnya adalah ayah dan ibu punya level pengetahuan yang sama dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Follow us

Di Belgia sendiri, Alda menyadari bahwa pemerintahnya sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun diakui Alda, fasilitas dan sarananya tidak sebaik seperti negara-negara Eropa lainnya yang ada di sekitar Belgia.

Alda mendapatkan tunjangan finansial yang cukup baik dari Pemerintah Belgia, dalam membesarkan anak dengan Autisme, seperti menyediakan sarana belajar di rumah. Bahkan Alda mengambil kelas khusus sebagai orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autisme. Alda sering mendapatkan kunjungan dari institusi perlindungan anak berkebutuhan khusus di Belgia untuk memastikan kebutuhan yang tepat untuk anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia juga menyediakan lokasi khusus yang membantu anak dengan Autisme tumbuh secara mandiri sosial yang mulai dari usia anak di bawah 18 tahun dan mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

Alda lebih memilih untuk merawat dan membesarkan anaknya di rumah, sambil dia banyak mencari tahu bagaimana menangani anak dengan Autisme di rumah. Alda merasakan berbagai tantangan yang tak mudah sebagai ibu yang memiliki anak dengan Autisme.

Resiliensi sebagai ibu itu dirasakannya lebih sulit, dibandingkan membesarkan anak dengan Autisme. Hal terpenting ketika ada anak dengan Autisme di keluarga, adalah bagaimana kita menerima apa adanya dan kesabaran yang tinggi.

Bagaimana cara Alda dalam menyiapkan sarana belajar di rumah sehingga anak dengan Autisme dapat tumbuh mandiri? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika memiliki anak dengan Autisme? Apa saja kebijakan yang berlaku di Belgia dan negara-negara sekitarnya di Eropa terhadpa kebijakan anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autisme? Apa pesan Alda di Hari Peduli Autisme Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program-program kami ya!