Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Dian. Saya adalah perempuan Indonesia yang sudah cukup lama menetap di Turki. Kalau dihitung-hitung, perjalanan hidup saya di negeri dua benua ini sudah dimulai sejak tahun 2005. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hidup saya akan membawa saya sejauh ini.
Saya tinggal di negara yang bahasanya dulu sama sekali tidak saya kenal, menikah dengan pria lokal, dan bahkan suatu hari menjadi “penerjemah dadakan” untuk kepolisian. Semua berawal dari sebuah kisah yang sebenarnya cukup sederhana. Saya jatuh cinta dan mengikuti takdir hidup di negeri Ottoman ini.
Sebelum menikah dan pindah ke Turki, saya menjalani hubungan jarak jauh dengan lelaki Turki yang kini menjadi suami saya. Saat itu kami masih LDR, dan jujur saja, saya sama sekali tidak tertarik mempelajari bahasa Turki.
Lucunya, pada masa itu justru sedang bersemangat belajar bahasa Jepang. Saya mengikuti kursus karena punya mimpi besar. Suatu hari saya ingin melanjutkan kuliah ke Jepang. Saya membayangkan berjalan di jalanan Tokyo, melihat bunga sakura, dan merasakan langsung budaya Jepang yang sering saya lihat di televisi.
Namun, rencana manusia seringkali berbeda dengan rencana Tuhan. Alih-alih pergi ke Jepang, takdir membawa saya menikah dengan pria Turki. Pada awal April 2005, saya resmi pindah dan menjadi penduduk kota Alanya, sebuah kota indah di selatan Turki yang menghadap Laut Mediterania.
Di situlah petualangan hidup saya yang sebenarnya dimulai. Setelah tinggal di Turki, saya baru benar-benar menyadari bahwa belajar bahasa Turki adalah sebuah keharusan, terutama untuk berkomunikasi dengan keluarga suami.
Mertua saya tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Jadi satu-satunya cara agar kami bisa berbincang adalah dengan bahasa Turki. Dan saya harus belajar sendiri!
Saya tidak mengikuti kursus formal. Cara belajar saya bisa dibilang cukup sederhana, bahkan terkesan mungkin sedikit nekat. Saya belajar bahasa Turki secara otodidak, benar-benar dengan metode learning by doing. Salah satu guru terbaik saya justru adalah ibu mertua saya sendiri. Beliau sangat sabar ketika berbicara dengan saya. Kalau saya terlihat bingung, beliau akan mengulangi kalimatnya dengan lebih pelan. Kadang kami juga saling bertukar kosakata saat sedang memasak di dapur. Misalnya, beliau menyebut nama bahan makanan dalam bahasa Turki, lalu saya menyebutkannya dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, saya juga belajar dari berbagai hal kecil di sekitar:
Mengisi teka-teki silang di koran
Menonton berita dan sinetron di televisi
Mendengarkan percakapan orang lokal
Berinteraksi langsung dengan tetangga dan teman
Awalnya tentu saja tidak mudah. Saya sering salah mengucapkan kata, salah memahami maksud orang, bahkan terkadang membuat orang tertawa karena pengucapan saya yang lucu. Namun saya tidak menyerah.
Alhamdulillah, kurang dari satu tahun saya sudah mulai bisa berbicara bahasa Turki dengan cukup lancar. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya sudah bisa berkomunikasi dengan baik.
Tanpa saya sadari, kemampuan bahasa ini nantinya akan membawa saya pada pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, sebelum pindah ke Turki, saya pernah memiliki sebuah keinginan menjadi penerjemah.
Entah kenapa saya selalu merasa pekerjaan itu menarik. Bisa menjembatani komunikasi antara dua bahasa dan dua budaya terasa seperti sesuatu yang menyenangkan. Namun tentu saja saya tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menekuni profesi tersebut. Sampai suatu hari, mimpi itu tiba-tiba datang, dalam bentuk yang sangat tak terduga. Dan yang lebih lucu lagi, tanpa bayaran!
Suatu hari di tahun 2011, saya menerima telepon yang cukup mengejutkan. Saat itu saya belum bekerja penuh waktu di toko keluarga. Biasanya saya hanya datang membantu suami setiap hari Jumat. Hari itu juga kebetulan hari Jumat ketika telepon tersebut masuk. Di ujung telepon, seseorang dari kantor polisi di Alanya meminta bantuan saya untuk menjadi penerjemah.
Ternyata mereka sedang menangani kasus beberapa pekerja migran Indonesia yang tertangkap dalam razia di sebuah hotel. Para pekerja tersebut tidak bisa berbahasa Turki, sementara pihak polisi tidak memahami bahasa Indonesia. Bagaimana mereka tahu nomor telepon saya? Sebagai imigran legal tentunya data saya sudah tercatat di imigrasi. Database warga di Turki sudah nge-link antar departemen. Jadi ketika polisi mencari warga Indonesia yang ada di Alanya tinggal cari saja di database. maka muncul nama saya. Saat itu belum banyak WNI yang menetap di Alanya.
Tidak lama kemudian seorang polisi datang menjemput saya menggunakan mobil sipil. Mobilnya cukup tua, kalau boleh jujur, kondisinya agak butut. Namun, saat itu saya tidak terlalu memikirkan hal itu karena sudah cukup gugup memikirkan tugas yang akan saya lakukan. Sesampainya di kantor polisi, saya dipertemukan dengan empat perempuan asal Bali yang bekerja sebagai terapis spa. Tugas saya adalah menerjemahkan proses tanya jawab antara polisi dan mereka.
Satu per satu mereka dipanggil untuk diinterogasi. Saya duduk di antara polisi dan para pekerja tersebut, menerjemahkan setiap pertanyaan dan jawaban. Polisi bertanya dalam bahasa Turki, saya menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Kemudian jawaban mereka saya sampaikan kembali dalam bahasa Turki.
Setelah sesi tanya jawab selesai, dibuatlah berita acara pemeriksaan yang harus ditandatangani oleh masing-masing orang. Saya memastikan mereka memahami isi dokumen tersebut sebelum menandatanganinya. Ketika semua proses selesai, saya kembali diantar pulang oleh dua orang polisi, lagi-lagi menggunakan mobil sipil yang sama tuanya dengan sebelumnya.
Hari itu saya pulang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lelah, tapi juga ada rasa bangga karena bisa membantu sesama warga Indonesia di negeri orang.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, pada hari Jumat lagi, telepon serupa kembali datang. Kali ini yang menghubungi bukan kantor polisi biasa, melainkan polisi militer. Mereka kembali meminta bantuan saya sebagai penerjemah. Bedanya, kali ini saya diminta datang sendiri ke markas mereka. Alasannya cukup unik. Kalau saya dijemput menggunakan kendaraan polisi militer, katanya citranya kurang bagus. Orang-orang bisa salah paham dan mengira saya seorang penjahat yang sedang ditangkap.
Akhirnya saya diantar oleh bapak mertua ke markas polisi militer yang berada di daerah Konaklı. Sesampainya di sana, saya kembali bertemu dengan beberapa pekerja spa asal Bali yang sedang menjalani pemeriksaan. Prosesnya hampir sama seperti sebelumnya: menerjemahkan pertanyaan, menerjemahkan jawaban, lalu membantu memastikan isi dokumen dipahami sebelum ditandatangani. Meski sudah pernah melakukannya, tetap saja pengalaman itu terasa menegangkan. Namun sekali lagi, saya bersyukur bisa membantu.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin mengenal komunitas warga Indonesia di sekitar Alanya. Pada tahun 2019, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Turki membentuk sebuah Satuan Tugas Perlindungan WNI (Satgas PWNI).
Saya diberi amanah untuk membantu sebagai Satgas wilayah Alanya dan Gazipaşa. Wilayah Alanya memiliki cukup banyak WNI yang terdiri dari pelaku kawin campur seperti saya, santri, dan pekerja migran (terutama yang bekerja di sektor spa dan pariwisata). Saya merasa tidak bisa menangani semuanya, oleh karena itu saya mengajak seorang teman yang berprofesi sebagai terapis spa untuk ikut membantu mengurus komunitas pekerja migran di daerah ini. Kami saling bekerja sama untuk memastikan jika ada warga Indonesia yang membutuhkan bantuan, mereka tidak merasa sendirian.
Pengalaman terakhir saya sebagai penerjemah untuk kepolisian terjadi pada awal Januari tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya di akhir Desember, ditemukan jasad seorang wanita di Pantai Cleopatra, Alanya. Belakangan diketahui bahwa wanita tersebut adalah warga negara Indonesia. Kasus ini tentu saja membuat banyak pihak terkejut.
Dalam proses investigasi, pihak kepolisian memerlukan bantuan untuk menerjemahkan beberapa pesan WhatsApp yang ditemukan di ponsel korban. Karena teman saya sedang sibuk bekerja, tugas menerjemahkan pesan tersebut akhirnya dilimpahkan kepada saya. Seorang polisi kemudian menghubungi saya dan meminta saya datang ke kantor polisi.
Namun saat itu, saya sedang menjaga toko dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi saya mengusulkan agar proses penerjemahan dilakukan di toko saja. Polisi tersebut setuju.
Tak lama kemudian ia datang membawa beberapa lembar kertas A4 berisi cetakan percakapan WhatsApp yang perlu diterjemahkan.
“Silakan ditulis terjemahannya di sini. Kalau sudah selesai, kirim pesan ke saya,” katanya.
Saya membaca pesan-pesan tersebut dengan hati-hati lalu menuliskan terjemahannya langsung di kertas yang sama. Jumlahnya tidak banyak, mungkin hanya empat atau lima lembar. Semuanya sudah diperbesar ke ukuran A4. Jadi, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat. Setelah selesai, saya langsung mengirim pesan kepada polisi tersebut. Tidak lama kemudian ia datang kembali untuk mengambil hasil terjemahan.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menjadi penerjemah ini benar-benar tidak direncanakan.
Saya tidak pernah melamar pekerjaan sebagai penerjemah. Saya juga tidak memiliki sertifikat resmi.
Semua terjadi secara alami, hanya karena saya kebetulan bisa dua bahasa dan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Namun pengalaman-pengalaman tersebut memberikan saya banyak pelajaran. Tentang empati, membantu sesama, dan tentang bagaimana kemampuan kecil yang kita miliki ternyata bisa sangat berarti bagi orang lain.
Setelah bertahun-tahun menggunakan bahasa Turki dalam kehidupan sehari-hari, saya juga mulai membantu orang lain yang ingin belajar bahasa ini. Beberapa teman meminta saya mengajari mereka secara privat. Selain itu, saya juga pernah menerjemahkan percakapan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Turki secara online melalui platform chatting.
Beberapa tahun lalu saya bahkan menerbitkan sebuah ebook sederhana berjudul “Mari Belajar Bahasa Turki.” Ebook tersebut saya buat sebagai panduan dasar bagi siapa saja yang ingin mulai mempelajari bahasa Turki. Isinya ringan dan praktis, terutama untuk percakapan sehari-hari.
Hidup di luar negeri sering kali penuh kejutan. Dari seorang perempuan yang awalnya tidak tertarik belajar bahasa Turki, saya justru akhirnya menggunakannya dalam berbagai situasi, bahkan membantu proses hukum di kantor polisi. Bagi saya, semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang sangat berharga.
Sahabat Ruanita, saya belajar bahwa kemampuan bahasa bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga bisa menjadi jembatan yang menghubungkan banyak orang. Siapa sangka, dari belajar bahasa secara otodidak di dapur bersama ibu mertua, perjalanan itu membawa saya sampai ke ruang interogasi polisi. Semuanya bermula dari satu hal, yakni keberanian untuk mencoba.
Penulis: Dian Akbas, asal Bandung yang berdomisili di Alanya-Turki sejak tahun 2005. Dian aktif menulis blog sejak tahun 2006. Penyuka warna hitam ini mulai debutnya menulis antologi pada tahun 2009. Rentang tahun 2008-2011, Dian aktif menulis artikel di Tribun Jabar. Artikel yang Dian tulis juga beberapa tayang di Tribun Jambi dan liputanislam.com. Dia mulai melahirkan buku solo pada tahun 2013. Selain menulis buku dan blog pribadi (turkiyeandmylife.blogspot.com), Dian mengajar Bahasa Turki secara online dan menjadi kontributor di Surat Dunia (suratdunia.com). Ingin berkenalan dengan Dian, kunjungi Fb: Dian Akbas dan Ig: Dian Akbas Author.
Memperingati World Trauma Day, Ruanita Indonesia menggelar diskusi Instagram Live yang mengajak masyarakat memahami trauma dari perspektif psikologis, mendengarkan pengalaman perempuan migran, dan menyadari pentingnya rasa aman serta dukungan sosial dalam proses pemulihan.
Merantau ke negeri orang sering kali identik dengan keberanian, kesempatan baru, dan harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik cerita tentang keberhasilan dan penyesuaian diri, ada pengalaman yang tidak selalu mudah dibagikan: kesepian, kehilangan rasa aman, konflik dalam relasi, hingga luka psikologis yang tidak terlihat oleh orang lain.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Ruanita Indonesia mengangkat tema trauma dalam program diskusi Instagram Live untuk memperingati World Trauma Day pada 17 Oktober. Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia mengajak masyarakat, khususnya perempuan dan laki-laki yang menjalani kehidupan lintas negara, untuk memahami trauma secara lebih utuh dan membangun keberanian untuk membicarakan kesehatan mental.
Dipandu oleh Rufi dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Carissa Dimalouw psikoterapis yang berpraktik di Jerman, serta Dianita Pramesti, guru TK dan penyintas yang membagikan pengalaman traumatisnya ketika menjalani kehidupan di India. Diskusi tersebut mempertemukan dua sudut pandang yang saling melengkapi: pemahaman profesional mengenai trauma dan pengalaman personal seorang perempuan yang harus menghadapi berbagai kesulitan ketika hidup jauh dari lingkungan asalnya.
Dalam diskusi tersebut, Carissa menjelaskan bahwa trauma secara psikologis berkaitan dengan respons seseorang terhadap situasi yang dirasakan sangat menakutkan, terutama ketika orang tersebut merasa tidak memiliki kemampuan atau sumber daya yang cukup untuk menghadapinya. Penjelasan ini mengingatkan bahwa trauma tidak dapat dinilai hanya berdasarkan peristiwa yang dialami seseorang. Dua orang yang menghadapi situasi serupa belum tentu memberikan respons psikologis yang sama.
Pengalaman hidup, kondisi kesehatan, dukungan sosial, hubungan dengan orang lain, dan akses terhadap pertolongan dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons peristiwa yang mengancam atau menyakitkan. Karena itu, pengalaman seseorang tidak seharusnya diremehkan hanya karena orang lain menganggap peristiwa tersebut bukan sesuatu yang berat. Carissa juga mengingatkan bahwa tidak semua pengalaman menyakitkan secara otomatis memenuhi kriteria diagnosis gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Namun, hal tersebut bukan alasan untuk mengabaikan penderitaan yang dialami seseorang.
Pesan ini menjadi penting di tengah masyarakat yang terkadang masih membandingkan penderitaan dengan ungkapan seperti, “Masih banyak orang yang mengalami masalah lebih berat,” atau “Seharusnya kamu sudah bisa melupakannya.”
Bagi masyarakat migran, trauma dan tekanan psikologis tidak selalu berawal dari satu peristiwa besar. Kesulitan dapat muncul dari akumulasi pengalaman sehari-hari, terutama ketika seseorang harus beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda tanpa memiliki dukungan yang memadai. Hal ini tergambar dalam kesaksian Dianita tentang pengalamannya menjalani kehidupan di India. Ia menceritakan bahwa perbedaan budaya, ekspektasi terhadap kehidupan keluarga, dan cara berinteraksi menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.
Ketika datang ke lingkungan baru, seseorang mungkin memiliki gambaran tertentu mengenai kehidupan yang akan dijalaninya. Namun, kenyataan dapat berbeda dari harapan. Cara berkomunikasi, pola hubungan keluarga, dan kebiasaan sosial yang sebelumnya terasa akrab bisa berubah menjadi sumber kebingungan atau kekecewaan. Dalam pengalaman Dianita, persoalan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya dari mantan suami. Situasi menjadi semakin berat ketika ia berada jauh dari jaringan dukungan yang dikenalnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman migrasi tidak dapat dipisahkan dari konteks relasi, keamanan, dan kemandirian seseorang. Hidup di negara lain dapat membuat seseorang menghadapi hambatan tambahan ketika membutuhkan pertolongan, terutama jika ia belum menguasai bahasa setempat, tidak memahami hak-haknya, atau bergantung secara finansial kepada orang lain. Padahal, setiap orang memiliki pengalaman dan cara merespons yang berbeda. Mengakui rasa sakit seseorang tidak berarti harus memberikan label diagnosis. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh merupakan langkah awal untuk menunjukkan bahwa pengalaman tersebut layak diperhatikan.
Dalam diskusi tersebut, Dianita juga menggambarkan bahwa mempercayai orang lain bukanlah sesuatu yang mudah, terutama setelah mengalami berbagai pengalaman menyakitkan dan menghadapi perbedaan budaya. Pengalaman itu menunjukkan adanya dilema yang mungkin dialami penyintas: mereka membutuhkan bantuan, tetapi pada saat yang sama dapat merasa sulit untuk mempercayai orang lain. Bagi masyarakat migran, dilema tersebut bisa menjadi semakin kompleks ketika keluarga dan teman dekat berada di negara asal. Jarak geografis, perbedaan bahasa, serta keterbatasan informasi mengenai layanan bantuan dapat membuat proses mencari pertolongan terasa lebih berat.
Dalam percakapan ini, Dianita ingin mendorong pentingnya mencari orang yang paling dapat dipercaya sebagai langkah awal. Meskipun tidak mudah, menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi bagian penting dari proses menghadapi kesulitan.
Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!
Melanjutkan program kerja sama yang digagas antara Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, baru-baru ini berhasil dilaksanakan acara Hybrid yang meriah untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 (10/10). Acara tersebut diikuti hampir sekitar 100 orang di ruang daring zoom dan sekitar 30 orang di aula pertemuan UIN Ar-Raniry. Acara yang berfokus pada tema 2026 yakni mendengar suara penyintas untuk memperkuat perubahan ini telah mengundang atensi peserta tentang bagaimana berani untuk mematahkan stigma.
Setelah pembukaan resmi oleh Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, acara berlanjut dengan mendengarkan pengalaman nyata aktivis sekaligus relawan Ruanita Indonesia di Jerman, yakni Mariska Ajeng Harini. Dalam sharing tersebut, Ajeng menekankan pentingnya untuk berbagi dukungan bagi mereka yang hidup dengan gangguan mental dan bagaimana menciptakan collective care seperti yang diusung oleh Ruanita Indonesia. Selanjutnya hadir pula, Ketua Kesmenesia periode 2026-2028, Aulia Farsi yang berbagi bagaimana praktik layanan kesehatan jiwa di Jerman sesuai profesinya.
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, Ruanita Indonesia bersama Kesmenesia dan KJRI Hamburg berhasil menggelar Workshop yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026 di gedung pertemuan KJRI Hamburg, Jerman. Acara diikuti oleh sekitar 40 orang yang penuh antusias untuk berbagi dukungan psikologis dan sosial dalam mempromosikan tema kesehatan mental di tengah masyarakat Indonesia di Jerman.
Acara dibuka oleh Konjen RI untuk Hamburg, Ibu Renata Siagian dan juga diawali dengan perkenalan Kesmenesia yang diwakilkan oleh Aulia Farsi, perawat jiwa di Rumah Sakit Jiwa di Hamburg. Acara ini di bawah koordinasi relawan Ruanita Indonesia di Hamburg, Ecie Linasari yang berperan sebagai moderator dalam acara tersebut. Peserta berharap acara serupa akan terus dapat ditingkatkan agar kesadaran akan kesehatan mental semakin nyata, terutama untuk menghormati keberanian mereka dengan gangguan kesehatan mental.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Fransiska. Namun sebagai teman bercerita di ruang hangat Ruanita Indonesia, kalian boleh memanggilku Siska saja. Sejak tahun 2009 aku tinggal di Makau bersama suami dan dua anak laki-lakiku. Di sini, aku bekerja sebagai pegawai perpustakaan di sebuah sekolah internasional, sebuah pekerjaan yang membuatku selalu dekat dengan buku, pengetahuan baru, dan tentu saja, banyak pengalaman manusia yang tertuang dalam kata-kata.
Di perpustakaan itu, aku menjadi saksi betapa dunia terus berubah. Tapi ada satu fase dalam hidupku yang tidak pernah benar-benar kubayangkan hingga akhirnya terjadi: menopause. Meski banyak buku yang kubaca, pengalaman nyata tetap punya kedalaman dan kompleksitas tersendiri, dan itu adalah alasan mengapa aku memilih untuk berbagi.
Aku ingin menopause tak lagi menjadi kata yang dibisikkan pelan, apalagi menjadi lelucon. Perempuan pantas mendapat ruang bicara yang jujur, aman, dan terbuka. Karena menopause bukan sekadar berhentinya siklus bulanan, melainkan fase panjang yang mengubah tubuh, emosi, bahkan cara kita memaknai diri sebagai perempuan.
Sahabat Ruanita, pertengahan usia 40-an menjadi titik awal ketika tubuhku memberi tanda: menstruasi yang tidak teratur, rasa panas yang aneh, dan beberapa perubahan lain yang sulit kujelaskan saat itu.
Aku tumbuh sebagai perempuan Indonesia yang terbiasa menganggap menopause hanya sebagai batas usia reproduksi. Kita tahu bahwa perempuan yang “sudah tua” tidak akan haid lagi. Itu saja. Tidak ada percakapan mengenai efek emosional, fisik, atau mental.
Ketika tanda-tanda itu muncul, aku bercerita pada kedua kakakku. Mereka menjelaskan bahwa apa yang kualami adalah perimenopause. Dari mereka juga aku tahu bahwa perubahan ini tidak sekadar masalah medis, tetapi perjalanan yang panjang. Aku mulai membaca banyak informasi, bertanya, mencari jawaban. Hal yang paling penting, aku diajari untuk tidak panik.
Mengetahui apa yang terjadi dalam tubuhku memberiku rasa lega. Rasanya seperti menemukan nama untuk sesuatu yang lama kujalani dalam kebingungan.
Tinggal di luar negeri memberiku perspektif berbeda.
Di Indonesia dulu, menopause tidak pernah dibahas dalam keluarga. Tidak menjadi topik obrolan saat memasak. Tidak menjadi percakapan di ruang tamu. Jika pun dibahas, seringkali konteksnya lelucon:
“Pantesan jutek… lagi menopause.”
Sementara di Makau, terutama berkat interaksi lintas budaya di lingkungan sekolah, aku melihat bahwa menopause mulai dianggap sebagai fase alami yang layak dibicarakan. Namun aku juga menyadari bahwa perbedaan ini sebenarnya tidak hanya soal negara, tetapi juga generasi.
Orang tua kita, baik di Indonesia maupun negara lain, memegang prinsip: “Jalani saja. Tidak perlu dibicarakan.”
Menurutku, semakin ke sini, perempuan mulai lebih terbuka. Kita mengakui bahwa perubahan tubuh bukan kelemahan, bukan aib, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Dan itu adalah kemajuan yang layak dirayakan.
Meski kini aku tinggal di Makau, aku tetap membawa nilai budaya Indonesia dalam diriku, seperti: sopan santun, empati, kebiasaan berbagi pengalaman antar saudara perempuan, hingga tradisi menjaga kesehatan dengan jamu atau suplemen.
Kalau bicara tradisi khusus menopause, keluargaku tidak punya pantangan makanan atau ritual tertentu. Namun kami menyimpan tradisi yang menurutku paling berharga: berbagi cerita.
Dengan kakak dan sepupu, kami sering bertukar rekomendasi vitamin, jamu, hingga pengalaman menghadapi hot flushes dan perubahan hormon. Rasanya seperti duduk di beranda rumah, ditemani teh hangat, saling menguatkan sebagai sesama perempuan.
Aku bersyukur karena dikelilingi lingkaran pertemanan yang suportif. Kami saling bercerita tanpa takut dihakimi. Bahkan teman-temanku yang bukan orang Indonesia membuatku menyadari bahwa dukungan sosial bisa bersifat universal.
Namun bukan berarti semua berjalan mulus.
Suami, meski pengertian, tetaplah pria dengan perspektif berbeda. Menjelaskan mengapa aku tiba-tiba menangis, sulit tidur, atau tiba-tiba marah sangatlah tidak mudah. Ada masa ketika aku tertidur pulas di siang hari tetapi terjaga sepanjang malam, dan ia kebingungan melihat pola itu.
Tetapi pelan-pelan, komunikasi dan keterbukaan membantuku. Dengan gaya humor atau dengan serius, aku menjelaskan:
“Ini bukan drama. Ini hormon.”
Sedangkan dengan anak laki-lakiku, aku mengambil pendekatan lain. Aku ingin mereka belajar empati. Mereka melihat sendiri bagaimana perubahan itu mempengaruhi diriku, dan semoga kelak mereka bisa memahami pasangan mereka saat menghadapi hal yang sama.
Aku harus jujur: bagian paling berat dalam menopause bagiku bukan hanya fisik. Emosi adalah tantangan terbesar.
Perasaanku menjadi berlipat-lipat: sensitif, mudah tersinggung, gampang menangis, dan pikiranku terus berputar tanpa henti. Overthinking menjadi teman yang tak kuundang.
Semua itu terjadi bersamaan pada masa pandemi, ketika dunia dalam krisis, dan aku sendiri kehilangan banyak hal, seperti: anakku harus sekolah di luar negeri dan kami tidak bisa bertemu selama 2,5 tahun. Selain itu, aku juga mengalami kesedihan karena beberapa anggota keluarga meninggal, termasuk salah satu kakak perempuanku
Duka itu menumpuk di atas perubahan hormonal. Tubuhku menjadi sering sakit. Hatiku terasa sangat lelah.
Di masa paling gelap itu, kakak laki-lakiku memberi hadiah: latihan pernapasan Buteyko. Ia mengatakan bahwa manfaatnya tidak instan, tapi akan terasa dalam jangka panjang. Dan ia benar. Latihan itu membantu menstabilkan emosiku.
Selain itu, journaling, crafting, dan seni kertas juga menjadi penyelamat. Menata kertas-kertas kecil itu seperti menata ulang hatiku.
Menopause justru membuatku semakin menghargai identitas diriku sebagai perempuan.
Tubuh perempuan bukan hanya mampu melahirkan, tetapi juga terus berubah sepanjang hidup mulai dari pubertas, menstruasi, kehamilan, hingga menopause. Semua itu terjadi tanpa tombol jeda.
Aku menjadi lebih yakin bahwa perempuan adalah makhluk luar biasa: mampu menjalankan banyak peran di tengah perubahan fisik dan mental yang tak terlihat mata.
Aku merasa lebih dewasa, lebih bijak, lebih utuh. Menopause bukan akhir, melainkan fase baru. Dan tidak, itu bukan berarti perempuan berhenti produktif. Justru setelah melewati badai perubahan, ada kedamaian dan kebijaksanaan yang berbeda.
Secara emosional, mungkin lebih mudah.
Tinggal jauh dari tekanan sosial budaya Indonesia membuatku tidak terlalu memikirkan komentar orang lain. Rasanya melegakan tidak perlu ditebak-tebak: apakah aku gemuk karena menopause? Mengapa aku lebih cepat lelah?
Namun, aku juga menyadari bahwa tidak semua orang punya privilege itu. Banyak perempuan di Indonesia harus menghadapi stigma sosial, komentar pedas, atau minim dukungan.
Karena itu, aku ingin kisahku menjadi pintu kecil yang membuka ruang diskusi: bahwa menopause bukan bahan olok-olok.
Menurutku, ada tiga hal yang membuatku kuat yakni: Kesadaran bahwa menopause adalah alami. Lainnya, aku memiliki lingkaran pertemanan yang suportif. Terakhir, buatku keluarga yang memahami, meski tidak sempurna. Ketika aku melihat bahwa aku tidak sendirian, semuanya menjadi lebih ringan.
Sahabat Ruanita, kita perempuan kadang diminta kuat tanpa didengar. Kita diminta paham tanpa diberi ruang untuk bertanya. Tapi menopause bukan ujian yang harus dijalani dalam diam.
Karena itu, pesanku sederhana: Jangan ragu untuk berbicara.
Cari informasi. Bercerita pada teman. Berbagi pengalaman. Bahkan persiapkan diri sebelum menopause datang.
Kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak dari kejujuran kita. Mungkin ada perempuan lain yang menemukan keberanian dari cerita kita. Dan itulah arti persahabatan: menjadi pelita dalam gelap.
Menopause mengajarkanku bahwa perubahan adalah bagian dari hidup. Dan seperti buku-buku yang kuletakkan di rak perpustakaan setiap hari, setiap fase adalah bab baru. Sesuatu berakhir, tetapi selalu ada halaman berikutnya. Dan di fase ini, aku belajar mencintai diriku lebih dalam.
Bukan sebagai perempuan yang kehilangan masa suburnya, tetapi sebagai perempuan yang memasuki babak baru: lebih matang, lebih berdaya, lebih sadar, dan lebih siap untuk berbagi.
Terima kasih, Ruanita Indonesia, telah menjadi ruang aman bagi perempuan untuk bercerita. Semoga kisahku bisa menemani, menguatkan, atau sekadar membuatmu merasa: aku tidak sendirian.
Penulis: Siska, relawan Ruanita tinggal di Makau dan dapat dikontak via akun instagram siskaorrisbeding.
BANDA ACEH — Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2026, organisasi Kesmenesia berkolaborasi dengan UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta BEM Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry menggelar sebuah seminar daring internasional. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk adaptasi kontekstual terhadap tema yang diusung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2026, yaitu “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change.”
Melalui subtema “Mendengar Suara, Menguatkan Perubahan: Berbagi Pengalaman Hidup tentang Kesehatan Mental,” forum global ini menempatkan pengalaman hidup (lived experience) sebagai sumber pengetahuan dan keahlian yang krusial. Langkah ini diambil untuk membangun sistem kesehatan mental yang lebih berpusat pada manusia, berbasis hak, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat. WHO menekankan bahwa keterlibatan individu dengan pengalaman hidup tidak boleh sebatas mendengarkan kesaksian, melainkan harus diberi ruang intervensi dalam memengaruhi kebijakan, desain layanan, praktik, hingga evaluasi pelayanan kesehatan jiwa.
Semangat inklusi tersebut dinilai sangat relevan bagi masyarakat Indonesia di berbagai belahan dunia, termasuk orang Indonesia yang menetap di mancanegara. Pengalaman dalam menghadapi persoalan kesehatan mental kerap kali berbeda, dipengaruhi oleh benturan sosial, budaya, perbedaan sistem pelayanan kesehatan, tantangan migrasi, pendidikan, pekerjaan, hingga ketersediaan dukungan sosial di lingkungan sekitar.
Acara yang diinisiasi berdasarkan nota kesepakatan kerja sama antara Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini dikemas dalam konsep utama “Sharing Voices, Creating Change.” Penyelenggara menegaskan bahwa forum ini tidak berjalan sebagai seminar satu arah, melainkan sebuah ruang aman untuk saling berbagi suara melalui dialog antarperspektif yang utuh.
Sesi diskusi utama yang bertajuk “Two Voices, One Conversation: Lived Experiences in Mental Health” mempertemukan tiga sudut pandang strategis dari para pakar dan praktisi, di antaranya: Pertama, Mariska Ajeng Harini selaku Mental Health Advocate dan Relawan Ruanita Indonesia. Ia menyoroti pengalaman nyata dalam kerja-kerja advokasi komunitas, urgensi pembentukan ruang aman, pemenuhan hak suara masyarakat, serta strategi memutus rantai stigma negatif di kalangan generasi muda.
Kedua, Aulia Farsi yang merupakan seorang perawat jiwa aktif di Jerman sekaligus menjabat sebagai Ketua Kesmenesia periode 2026–2028. Aulia mengulas dinamika pelayanan kesehatan jiwa di Jerman, implementasi pendekatan person-centred care, serta pembelajaran praktis dari sistem kesehatan luar negeri yang dapat diadaptasikan ke dalam konteks sosial di Indonesia.
Melalui seminar internasional ini, para peserta diajak untuk memahami secara mendalam bahwa kesehatan mental melampaui batasan diagnosis medis semata, melainkan erat kaitannya dengan aspek kemanusiaan, aksesibilitas bantuan, dukungan sosial, dan hak partisipasi publik. Output jangka panjang yang ditargetkan dari dialog ini meliputi perluasan jejaring global, penyusunan materi edukasi kampanye digital, hingga perumusan rekomendasi taktis bagi komunitas dan organisasi lintas negara dengan tetap mengedepankan prinsip keamanan dan etika komunikasi kesehatan mental yang ketat.
Diselenggarakan secara daring oleh Ruanita Indonesia, kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.05 WIB (atau pukul 08.00–10.00 CEST untuk wilayah Jerman) melalui akses platform Zoom Meeting serta siaran langsung YouTube Live. Simak selengkapnya dalam rekaman berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita.
Di bulan Oktober, Ruanita Indonesia secara konsisten bersuara untuk kesehatan mental sejak berdiri di tahun 2021. Tahun ini lewat program video cerita sahabat spesial (CSS), Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Irlandia sebagai praktisi kesehatan mental. Dia adalah Yuki Fragariani, yang berbicara tentang pengalamannya mendampingi teman-teman perempuan dari lintas negara.
Bagi banyak orang, ruang aman sering dibayangkan sebagai sebuah tempat atau ruangan yang tenang, sudut yang nyaman, atau lokasi yang terasa melindungi. Namun bagi Yuki, ruang aman bukan sekadar ruang fisik. Ruang aman adalah pengalaman yang dirasakan, sebuah kehadiran yang memberi rasa diterima tanpa syarat, tanpa penghakiman.
Selama 15 tahun tinggal di Irlandia, Yuki menapaki perjalanan yang tidak selalu lurus. Ketertarikannya pada perilaku manusia dan psikologi sudah tumbuh sejak muda. Ia sempat menempuh berbagai profesi, mulai dari guru bahasa Jepang, penerjemah, hingga corporate trainer. Namun, perjalanan hidupnya perlahan membawanya ke satu panggilan yang lebih dalam, yakni merawat kesehatan mental sejak Pandemi COVID-19.
Langkah itu dimulai dari yoga. Setelah bertahun-tahun berlatih, pada 2017 Yuki memutuskan untuk mendalami yoga secara serius dan menjadi instruktur. Dari sanalah ia mulai memahami bahwa yoga bukan sekadar latihan fisik. Lebih dari itu, yoga menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara tubuh dan pikiran, yakni sebuah koneksi yang sering kali diabaikan.
Pengalaman selama pandemi menjadi titik balik yang semakin menguatkan arah hidupnya. Yuki menyaksikan langsung bagaimana banyak orang mengalami kecemasan, stres, dan rasa terisolasi. Di masa yang penuh ketidakpastian itu, Yuki melihat betapa pentingnya keterhubungan antara tubuh dan pikiran dalam menjaga kesehatan mental. Ia pun terdorong untuk melangkah lebih jauh, mengikuti pelatihan dan menjadi hipnoterapis, agar dapat membantu lebih banyak orang, terutama perempuan.
Dalam praktiknya, Yuki banyak mendampingi perempuan yang selama ini terbiasa menjadi penopang bagi orang lain. Mereka adalah ibu, istri, pekerja, yang memberi begitu banyak untuk keluarga dan lingkungan. Namun di balik itu, sering kali mereka lupa memberikan ruang dan kasih untuk diri sendiri. Dari situlah banyak luka bermula, seperti: perasaan lelah, tidak didukung, hingga kehilangan arah.
Mendengarkan cerita-cerita tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang profesional, Yuki dituntut untuk tetap objektif. Namun sebagai manusia, ia tidak selalu bisa sepenuhnya lepas dari emosi. Ada kalanya ia ikut merasakan kesedihan, kelelahan, bahkan beban dari cerita yang ia dengar. Namun justru di situlah empati menjadi jembatan yang menguatkan proses pendampingan.
Di Irlandia, ia juga banyak membantu perempuan, khususnya para ibu bekerja, yang menghadapi ketergantungan terhadap alkohol. Kebiasaan yang awalnya mungkin hanya pelarian kecil, perlahan menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan. Melalui pendekatan yang penuh empati, Yuki membantu mereka kembali mengenali diri, memahami luka, dan perlahan mengambil kembali kendali atas hidup mereka.
Baginya, salah satu kunci penting dalam kesehatan mental adalah self-care. Ia mengibaratkannya seperti instruksi keselamatan di pesawat: kenakan masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Sebuah pengingat sederhana, tetapi sering terlupakan. Merawat diri tidak harus rumit. Menurutnya, itu bisa melalui istirahat, menulis jurnal, atau sekadar berjalan di alam.
Namun, ada satu hal yang sering menjadi jebakan, terutama bagi perempuan: tuntutan untuk selalu kuat. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi sumber motivasi. Tetapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi tekanan yang membuat perempuan merasa tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan tidak boleh rentan. Padahal, menekan emosi justru dapat memperburuk kondisi mental.
Yuki percaya bahwa perempuan juga membutuhkan ruang untuk jujur pada perasaannya. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk pelepasan yang sehat. Begitu pula dengan meminta bantuan, yang juga berarti itu bukan kegagalan, melainkan langkah berani untuk sembuh.
Ia pernah mendampingi seorang perempuan muda yang datang dengan luka batin terkait body image. Sejak kecil, ia terbiasa menerima kritik tentang penampilan dan dibandingkan dengan saudara kandungnya. Luka itu tertanam dalam dan membentuk suara kritis di dalam dirinya. Melalui proses healing yang perlahan, dengan pendekatan inner child dan self-compassion, perempuan itu mulai belajar berdamai dengan dirinya sendiri.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, Yuki juga melihat bahaya dari apa yang sering disebut sebagai toxic positivity. Memaksa diri untuk selalu terlihat kuat dan bahagia, tanpa benar-benar memproses emosi, ibarat menutup luka dengan plester tanpa mengobatinya. Sementara penyembuhan yang nyata justru membutuhkan kejujuran, mengakui rasa sakit, menerima emosi, dan memberi ruang untuk pulih.
Ada saatnya seseorang perlu berhenti memaksakan diri untuk terus kuat. Ketika kelelahan semakin dalam, ketika emosi terasa berputar tanpa henti, atau ketika seseorang merasa semakin terisolasi, itulah tanda bahwa bantuan dibutuhkan. Dalam momen-momen seperti itu, langkah sederhana seperti berhenti sejenak dan bernapas bisa menjadi awal yang penting.
Bagi Yuki, menciptakan ruang aman dimulai dari hal paling mendasar, yakni hadir sepenuhnya, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menjaga kepercayaan. Ruang aman bukan tentang di mana seseorang berada, tetapi bagaimana seseorang merasa.
Di luar ruang praktiknya, Yuki juga menyimpan harapan yang lebih luas. Ia ingin layanan kesehatan mental semakin mudah diakses oleh siapa pun. Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa merasa lelah atau tidak berdaya bukanlah tanda kelemahan. Yuki ingin setiap orang tahu satu hal sederhana, namun sangat penting. Bahwa mereka tidak sendirian. Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah kemewahan. Kesehatan mental adalah hak setiap manusia.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Oktober 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama aku Siti Maftuhah, orang dengan disleksia yang jatuh cinta pada aksara. Aku biasa menyebut diriku sebagai “Penikmat Oksigen Gratis”. Bukan tanpa alasan, aku menyebut itu sejak masih kelas enam SD saat menemani ibu melakukan operasi di RSUD Prof. Dr. Margono Purwokerto. Di sana selalu melihat banyak pasien dengan bantuan alat pernapasan, dan sejak saat itu aku menyebutkan diri sendiri sebagai “Penikmat Oksigen Gratis” sampai saat ini. Saya seorang mahasiswa Ilmu Hukum semester 4 di Universitas Terbuka Singapura. Sekarang aku bekerja di Singapura sejak tahun 2023. Selain kerja sembari kuliah, aku juga aktif di beberapa komunitas nirlaba yang menaungi para pekerja migran di Singapura.
Pertama kali mengetahui bahwa aku disleksia, ketika aku duduk dibangku SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesia, menyita bukuku karena ketahuan menggambar di tengah pembelajaran. Lalu beliau melihat apa yang aku gambar, yaitu sebuah cerita yang aku ilustrasikan seperti komik yang sangat sederhana dengan judul “Paijo Paijan Ora Kerjo Ora Njajan” yang menceritakan tentang gadis kecil yang kesusahan membaca karena tulisannya selalu menari-nari, tapi ia harus tetap berusaha keras agar bisa mengimbangi kemampuan belajar teman-temannya. Gadis itu berusaha sangat keras untuk bisa mengikuti lomba agar bisa mendapatkan tambahan uang atau beasiswa untuk sekolahnya. Setelah beliau membacanya, kemudian menyuruhku ke ruang guru sepulang sekolah. Beliau menanyakan siapa gadis kecil yang jadi peran utama di komik tersebut, karena beliau merasa bahwa itu adalah aku, tapi beliau tidak yakin ketika membaca. Aku berusaha keras, bagaimana membuat huruf-huruf itu diam dan rapi, aku berusaha keras mendengarkan guru atau temanku yang sedang membaca berkali-kali untuk memastikan, apakah sama dengan tulisan didepanku.
Lalu untuk pertama kalinya aku didengarkan saat menjelaskan bahwa huruf-huruf yang aku baca terlihat menari, aku kesusahan membaca cepat seperti temanku, aku sering mendapatkan koreksi dari guru saat menulis, aku kesusahan menyusun kata saat berbicara. Selama ini mereka hanya menganggap aku kurang pandai dan telat bicara saat kecil. Dari situ guruku mengajakku ke salah satu klinik di kotaku. Setelah menjelaskan dan melakukan serangkaian pemeriksaan, kemudian dokter menyampaikan bahwa aku disleksia. Sebagai orang yang tinggal di kampung kecil dengan lingkungan yang tidak mendapatkan banyak informasi mengenai kesehatan dan lainnya, awalnya aku sangat takut dan mengira bahwa disleksia adalah salah satu jenis kanker. Dokter menjelaskan pelan-pelan bahwa disleksia adalah sebuah gangguan saraf yang membuat seseorang kesulitan dalam membaca , menulis, mengeja atau memahami kata-kata, dan perbedaan cara otak memproses bahasa bukan karena masalah penglihatan atau pendengaran.
Saat itu aku masih merasa asing dan takut meskipun mereka sudah memberi informasi mengenai disleksia ini dan bersedia membantu terapi. Karena guruku berkata saat itu kepada dokter “Anak ini saya kira ya tidak mengalami gangguan belajar, tapi memang anak ini cukup aktif di kelas, susah untuk diam dan fokus kalau membaca atau menjelaskan suka tidak berurutan, bahkan saya bawa ke sini karena saya tahu dari komik yang dia gambar saat pelajaran berlangsung. Tapi saya tahu ini anak sangat kreatif, berprestasi juga, tapi memang keaktifannya sering dianggap nakal dan mengganggu anak lain, dan dianggap tidak serius karena kalau menulis masih sering salah.”
Setelah itu aku melakukan terapi seperti permainan rima kata, yaitu mengucapkan kata yang berakhiran mirip untuk melatih kepekaan telinga terhadap bunyi bahasa, metode membaca bersama yang dilakukan rutin 11-15 menit per hari. Tidak mengalami kesulitan yang berarti sebenarnya, karena aku sudah terbiasa melakukannya bahkan sebelum tahu apa yang aku alami adalah disleksia. Aku memang berusaha keras sejak Sekolah Dasar karena menyadari bahwa aku lebih lambat dari teman-teman lainnya, sementara orang tuaku cukup sibuk karena aku terdiri atas lima bersaudara dan aku mempunyai dua adik yang usia mereka hanya berbeda satu tahun. Setelah adikku lahir juga, ibuku sering sakit-sakitan. Jadi kondisi yang aku alami tidak pernah terdeteksi oleh keluargaku. Selain sibuk, mereka juga tidak mendapatkan informasi yang cukup perihal ini. Mereka hanya menganggap bahwa aku terlambat bicara karena kemampuanku yang berbeda dari anak lainnya. Aku yang terlihat kurang fokus dan terlalu aktif hanya disebut sebagai kenakalan anak kecil biasa. Singkat cerita, karena beberapa faktor, seperti perundungan, kekurangan finansial keluarga, telah membuat aku berpikir sejak masih SD untuk belajar lebih keras, dengan memaksakan membaca, aku ingat sekali dulu sepulang sekolah aku tidak bermain, tapi mendengarkan radio dan mencoba menuliskan apa yang penyiar katakan, dan aku suka mencoba berakting seolah-olah aku adalah penyiar juga, sehingga itu sangat membantu belajar mandiriku.
Dulu aku juga setuju dengan anggapan banyak orang saat itu bahwa Maftuh anak yang sedikit membutuhkan perhatian lebih. Aku tidak mengingatnya dengan jelas, tapi setelah aku dewasa aku baru menyadari bahwa dulu aku mengalami perundungan di SD, terutama ketika pelajaran Agama yang menganjurkan muridnya untuk membaca atau menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an. Aku saat itu bersekolah di Madrasah Islam yang di mana lingkunganku sangat Islami, bahkan teman sekelasku sudah menamatkan atau mampu menghafal surat-surat pendek juz 30, menulis tulisan Arab, bahkan bisa berbahasa Arab untuk komunikasi di pelajaran bahasa Arab saat itu.
Yang aku ingat, karena aku berbeda dengan teman lainnya, guruku terkadang memberikan waktu tambahan untukku khususnya di pelajaran agama yang berkaitan dengan membaca. Tanpa sadar, aku sering dibandingkan dan dianggap tidak serius dalam belajar, sehingga saat itu aku selalu izin dari sekolah setiap hari Jumat dan sabtu, karena mayoritas pembelajaran agama ada di hari Jumat dan Sabtu. Aku selalu izin sakit atau apapun itu, sehingga rapotku selalu tertulis banyak hari tidak masuk sekolah, bahkan dalam catatan setiap semester atau kenaikan kelas selalu ada peringatan untuk tidak gaduh di kelas, harus rajin masuk kelas, terutama Jumat dan Sabtu, dan lain-lain. Setelah saya dewasa, saya cukup sedih melihatnya karena itu terjadi bertahun-tahun. Tapi aku tidak mengingat dengan jelas, apa langkah guru dan keluargaku saat itu sampai ini berlangsung lama.
Ketika aku dewasa, aku merasa kecewa tetapi juga aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku juga belum sempat bertanya kepada orang tua atau guru bahkan teman-temanku. Namun, aku ada keinginan untuk bertanya tentang itu, apalagi setelah sekarang aku sambil menulis ini aku mengingat lagi bagaimana aku sering menangis sendiri, melihat huruf menyambung di Al-Quran atau buku lembar kerja sekolahku. Kadang aku begitu sedih, bagaimana aku berusaha keras membaca dengan mendengarkan terlebih dahulu. Atau, bagaimana aku ketakutan setiap berangkat sekolah karena akan mengalami perundungan saat membaca.
Sebelum aku tahu bahwa aku adalah orang dengan disleksia, aku sudah merasa bahwa aku sangat berbeda dengan kemampuan lainnya. Walaupun, aku selalu menjadi anak yang cukup berprestasi sejak SD bahkan aku beberapa kali mengikuti lomba seperti Cerdas Cermat, Pidato, Menyanyi dan menjadi petugas upacara. Kondisi ini juga yang cukup membingungkan sebenarnya sampai sekarang. Karena dengan keterbatasanku saat itu, aku mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk mencoba dan aku melakukannya dalam sunyi. Aku selalu mendengarkan hal-hal yang menarik perhatianku, seperti melihat reporter, mendengarkan penyiar radio, pembawa acara traveling, orang berpidato dan membaca puisi. Namun karena aku selalu merasa lelah ketika membaca atau fokus terhadap sesuatu, terlebih dengan perundungan yang aku alami atau juga ketidaktahuan keluargaku akan kondisiku saat itu, aku sering merasa kecil dan minder.
Aku pun bingung ketika aku baru menyadari bahwa sejak kecil aku sudah peka dengan kondisi finansial keluargaku. Aku sering memikirkan tentang bagaimana membayar sekolahku ketika melihat ibuku sering masuk rumah sakit. Aku punya adik dua dan dua kakak, yang semuanya juga bersekolah. dari situ berbekal informasi, bahwa kalau berprestasi dan mengikuti lomba bisa mendapatkan beasiswa, aku jadi berusaha bagaimana caranya untuk bisa. Aku belajar sangat keras, terutama saat membolos di hari Jumat dan Sabtu, aku memanfaatkan waktu di kamar untuk belajar. Walaupun dulu aku terkenal suka membuat keributan di kelas, banyak bicara namun tidak tertata, suka sibuk dengan hal-hal yang menurut guruku mengganggu pelajaran. Di sisi lain aku cukup berprestasi, terutama di bahasa Indonesia. Aku suka pelajaran untuk merangkai cerita, membuat puisi, juga pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Aku kerap mendapatkan nilai selalu di atas 9. Ketika melihat rapotku kembali, aku memperhatikan polanya bahwa pelajaran yang nilainya rendah adalah yang berkaitan dengan membaca, menghitung, dan menghafal secara spesifik yang di mana aku tidak bisa improvisasi di dalamnya.
Setelah aku tahu bahwa yang aku alami adalah disleksia aku mulai mencari informasi “apakah orang sepertiku bisa sembuh dan punya masa depan seperti lainnya?” Berbekal internet dari komputer di perpustakaan sekolahku, aku sering mencari informasi dan motivasi dari situ. Sayangnya, aku belum berani terbuka kepada siapapun, karena aku malu dan takut bahwa itu akan dijadikan perundungan berikutnya. Jadi, aku menutupinya dengan menunjukan bahwa aku sama seperti mereka, aku belajar sangat keras untuk menyetarakan kemampuanku dengan lainnya. Bahkan sewaktu SD aku di-bully, karena tidak bisa membaca Al-Qur’an. Waktu SMP atas kerja kerasku, aku berhasil mewakili sekolahku untuk lomba membaca Al-Quran (tilawah) sampai tingkat Kabupaten. Pada intinya, semua hal yang menurutku adalah kekurangan, aku jadikan motivasi. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang.
Karena aku ingin melanjutkan mimpiku untuk sekolah lagi, aku memutuskan bekerja ke Singapura pada tahun 2023, dengan tekad untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Pada kenyataannya di Indonesia walaupun aku sudah bekerja sambil berjualan, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara aku masih punya mimpi yang belum terwujud, salah satunya adalah melanjutkan pendidikanku. Setelah lulus SMK aku memutuskan untuk berkuliah. Namun terkendala finansial, sebenarnya aku sudah berkesempatan diterima di salah satu universitas negeri di Yogyakarta dengan beasiswa, namun aku berpikir berulang kali. Meskipun aku mendapatkan beasiswa, aku memikirkan bagaimana dengan kebutuhan hidup di perantauan dan juga bagaimana dengan orang tuaku? Aku juga memikirkan, siapa yang akan membantunya? Saat itu, aku mengubur mimpiku, namun seiring berjalannya waktu dan membaiknya finansial, aku baru menyadari bahwa aku tidak mengubur mimpiku sepenuhnya. Aku masih meninggalkan sedikit celah terbuka agar mimpiku tidak benar-benar terkubur. Salah satu cara aku bisa mewujudkannya adalah pergi bekerja di Singapura untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik dan menunjang kebutuhan hidupku dan keluarga, sekaligus mempunyai tabungan untuk melanjutkan sekolah dan masa tua.
Pertama kali datang ke Singapura, rasanya sangat takut, terlebih orang tua belum mengetahui keputusan saya untuk bekerja di sana. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat sekaligus pertama kalinya pergi ke luar negeri. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, saya terus menekan tasbih digital sambil membaca istigfar tanpa henti. Hal itu membuat saya khawatir dan terus bertanya-tanya, bagaimana jika pengalaman buruk yang ia ceritakan juga terjadi kepada saya? Sesampainya di Singapura, saya melihat angka 8.000 pada tasbih digital saya. Angka itu menjadi semacam pengingat betapa besar rasa takut yang saya rasakan saat itu. Namun, ternyata kenyataannya tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Orang-orang yang saya temui justru sangat baik, terbuka, dan sangat mendukung saya. Mereka juga sabar dalam menjelaskan berbagai hal, mulai dari detail pekerjaan, dokumen, kontrak kerja, gaji, hingga fasilitas yang saya dapatkan.
Meski begitu, proses beradaptasi tetap tidak mudah. Saya masih merasa asing dengan lingkungan baru dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda. Pada malam hari, terkadang saya menangis karena merasa lelah, bingung, dan tidak tahu harus bagaimana. Untungnya, saya tidak melewati masa itu sendirian. Mereka membantu saya memahami berbagai hal dengan menjelaskannya menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Perlahan, rasa takut yang awalnya begitu besar mulai berkurang, dan saya pun mulai belajar untuk merasa nyaman dengan kehidupan baru saya di Singapura.
Soal transportasi di Singapura menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Untuk menyiasatinya, saya membuat sistem visual yang lebih terstruktur dengan mengandalkan warna jalur MRT, patokan-patokan visual, serta aplikasi Maps. Biasanya, sebelum bepergian, saya akan melakukan pengecekan dan merencanakan rute terlebih dahulu agar tidak terlalu bingung ketika berada di perjalanan. Saya lebih sering menggunakan transportasi umum ketika sedang libur, sedangkan pada hari kerja saya biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Untungnya saya berada di lingkungan yang sangat mendukung saya. Kami memang terbuka satu sama lain mengenai rencana bepergian dan ke mana saya akan pergi. Mereka memahami kesulitan yang saya alami dan selalu memastikan saya bisa sampai ke tujuan dengan aman. Sejauh ini, saya lebih sering menggunakan MRT atau taksi dan jarang menggunakan bus karena saya masih cukup kesulitan memahami rute dan pemberhentian bus. Bagi saya, MRT terasa lebih mudah karena masih ada jeda waktu untuk menunggu, melihat petunjuk, dan memastikan kembali tujuan atau stasiun berikutnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Meskipun memiliki kendala tersendiri dalam berbaur dengan aksara, aku justru menyadari bahwa dengan berdamai dengan aksara dan literasi, aku bisa menemukan cara untuk berkomunikasi dengan dunia. Aku menggunakan hambatanku sekaligus menjadikannya sebagai jalan keluar. Memang melelahkan, tetapi melalui membaca aku bisa mengenal dunia yang lebih luas, meskipun belum mampu menjangkaunya secara fisik. Sementara melalui tulisan, aku menemukan cara terbaik untuk menuturkan hal-hal yang terkadang sulit kusampaikan secara langsung. Titik baliknya terjadi ketika aku duduk di bangku SMP. Di tengah kelelahan dan kesulitanku membaca, aku memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan hampir setiap hari sepulang sekolah. Kebiasaan itu akhirnya membawaku mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan Sahabat Perpustakaan. Aku masih ingat buku pertama yang membuatku benar-benar jatuh hati pada dunia membaca adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika. Dari buku itu, aku bisa tertawa dan menikmati cerita. Saat itulah aku mulai menyadari bahwa tulisan adalah salah satu cara yang paling tepat untuk membagikan cerita.
Sejak saat itu, aku mulai termotivasi untuk membaca lebih banyak. Nilai pelajaran sejarahku juga selalu cukup baik setelah aku mendapatkan banyak informasi melalui membaca. Perlahan, aku mulai mengombinasikan kemampuan menggambarku dengan tulisan. Aku membuat komik sederhana dengan gaya dan kemampuanku saat itu. Namun, komik tersebut akhirnya disita oleh guru Bahasa Indonesia karena dianggap mengganggu proses belajarku. Justru dari peristiwa itu, aku kemudian mengetahui bahwa aku mengalami disleksia. Guru Bahasa Indonesiaku menjadi salah satu orang yang membantu aku memahami dan melewati kondisi tersebut. Beliau juga membantu mengarahkan bakatku dalam menggambar dan menulis agar bisa menjadi sebuah karya. Dari sanalah karya-karyaku mulai ditampilkan di majalah dinding sekolah. Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan aku memahami bahwa sesuatu yang selama ini kuanggap sebagai hambatan ternyata juga bisa menjadi jalan untuk menemukan kemampuan lain dalam diriku.
Ketika berada di Singapura, kecintaanku terhadap literasi kembali menemukan ruang untuk berkembang. Dulu, ketika masih sekolah, aku juga sering mencari cara lain untuk tetap bisa menikmati literasi. Kadang aku mendengarkan teman yang membaca dengan suara cukup keras, mendengarkan orang membacakan puisi, atau mengikuti acara bedah buku melalui radio. Kecepatan membacaku memang cukup pelan dan terkadang aku harus mengulang beberapa kali, terutama ketika menemukan kata-kata yang masih asing. Jika menemukan kata yang sulit atau memiliki akhiran yang serupa, aku biasanya harus berhenti, mengamatinya, lalu melafalkannya secara perlahan. Namun, justru dari kebiasaan itulah perlahan terjadi kemajuan. Semakin sering membaca, semakin banyak pula kosakata yang kukenal. Aku mulai semakin akrab dengan kata-kata yang sebelumnya terasa asing.
Sampai sekarang pun, ketika melihat huruf dan aksara, terkadang aku masih merasa seperti melihat sesuatu yang menari atau terbalik. Bedanya, karena sudah membiasakan diri membaca dan menjadi lebih familiar dengan banyak kata, aku perlahan menjadi lebih nyaman. Meski demikian, disleksia masih menjadi tantangan yang harus kuhadapi, terutama ketika aktif dalam komunitas. Aku cukup sering mendapatkan tanggapan terhadap tulisanku karena ada kata yang salah ditulis. Aku juga sering mendapatkan revisi sehingga harus lebih fokus dan memeriksa tulisan berkali-kali.
Terkadang, komentar yang kurang menyenangkan membuatku lelah bahkan tersinggung. Namun, seiring berjalannya waktu, aku belajar berdamai dengan hal tersebut. Aku belajar bahwa rasa tersinggungku bukan menjadi tanggung jawab orang lain. Kondisiku juga bukan berarti semua orang harus memakluminya. Pada akhirnya, aku tetap harus mampu membawa diri dan bersikap profesional terhadap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Sejauh ini, aku merasa mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. Aku dipercaya menjadi wakil sekretaris di komunitas AMRISING dan RUMILA, serta terlibat dalam Migrant Writers of Singapore dan menjadi bagian dari keluarga besar FPMI. Komunitas-komunitas tersebut memiliki keterkaitan erat dengan literasi dan seni. Di sanalah aku menemukan ruang untuk terus belajar. Apa yang dahulu menjadi tantangan perlahan justru menjadi rumah yang memberiku rasa aman dan ketenangan.
Di tengah kesibukan bekerja sebagai pekerja migran Indonesia, aku juga berusaha menyediakan waktu khusus untuk membaca dan berkarya. Pekerjaanku biasanya selesai sekitar pukul delapan malam. Setelah membersihkan diri dan makan malam, aku membiasakan diri untuk tidur sebelum pukul sepuluh malam agar bisa bangun lebih awal, sekitar pukul empat pagi. Pagi hari menjadi waktu yang sangat berarti bagiku. Saat sebagian orang masih terlelap, aku bisa mengerjakan berbagai aktivitas literasi dan seni. Aku mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, journaling, membuat kerajinan tangan, hingga menonton atau mendengarkan podcast. Untuk membaca, aku juga sering memanfaatkan waktu istirahat ketika bekerja, misalnya setelah makan siang atau pada sore hari sebelum mulai memasak untuk makan malam.
Bagi aku, literasi bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Literasi juga menjadi terapi sekaligus cara untuk mendokumentasikan perjalanan hidupku. Di tengah rasa terisolasi karena berada jauh dari rumah, menghadapi lingkungan yang asing, dan merasakan kerinduan kepada keluarga, tulisan menjadi salah satu cara terbaik untuk berbagi. Sementara membaca membantuku tetap terhubung dengan informasi dan dunia yang lebih luas. Sebagai seorang perantau, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu bersama keluarga berkurang, kesempatan menikmati kehidupan di kampung halaman juga banyak terlewatkan. Ada begitu banyak momen yang seharusnya bisa dijalani bersama keluarga dan dibagikan melalui cerita.
Karena itu, aktivitas literasi menjadi semacam pelarian yang sehat bagiku ketika rasa rindu dan kesepian datang. Aku bisa menuangkan kerinduanku kepada keluarga dan kampung halaman melalui rangkaian kata. Melalui tulisan, apa yang kurasakan tidak hanya tersimpan di dalam diriku, tetapi juga bisa dibaca dan dirasakan oleh orang-orang yang kucintai. Pada akhirnya, aksara yang dulu terasa begitu melelahkan justru menjadi salah satu cara bagiku untuk menemukan suara. Aku mungkin masih harus membaca lebih pelan, mengulang kata-kata tertentu, atau memeriksa tulisan berkali-kali. Namun, aku tidak lagi melihat semua itu sebagai alasan untuk menjauh dari literasi. Justru melalui proses panjang itulah aku belajar bahwa berdamai dengan sebuah keterbatasan bukan berarti berhenti menghadapinya, melainkan menemukan cara untuk tetap berjalan bersamanya.
Setelah melalui berbagai pengalaman dan bertemu banyak orang, aku mulai memahami bahwa stigma terhadap disleksia sering kali muncul karena kurangnya informasi. Dulu, aku pun pernah berpikir bahwa disleksia berarti hambatan untuk menjadi pintar atau sukses. Karena itu, sekarang aku tidak lagi terlalu tersinggung ketika ada orang yang memandang kondisiku sebagai kelemahan atau menganggap aku menggunakan disleksia untuk mendapatkan pemakluman. Aku memilih untuk terus menjalani hidup dengan tenang dan mendekatkan diri pada lingkungan yang mendukung serta membantuku bertumbuh. Aku juga tidak pernah menuntut orang lain untuk sepenuhnya memahami kondisiku. Setiap orang memiliki tantangannya masing-masing, dan bagiku, menghadapi kondisiku adalah bagian dari tanggung jawabku terhadap hidup sendiri. Tentu, sampai pada titik ini tidak mudah. Pernah ada ketakutan tentang bagaimana aku bisa memenuhi tuntutan pendidikan dan pekerjaan, terlebih aku juga memiliki buta warna parsial. Dulu, aku bahkan cenderung menutupi kondisi tersebut karena belum memiliki cukup informasi dan takut akan memengaruhi kesempatan yang kumiliki. Namun, semakin banyak informasi yang kudapatkan dan semakin banyak orang yang kutemui, aku menyadari bahwa kondisi ini tidak menentukan nilai diriku. Aku juga menemukan banyak orang dari berbagai latar belakang akademik dan profesi yang hidup dengan disleksia. Dari sana, aku semakin percaya bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan.
Menjaga kepercayaan diri juga bukan sesuatu yang selalu mudah bagiku. Dulu, kesulitan belajar bahkan membuatku sering mencari alasan untuk tidak pergi ke sekolah. Namun, aku sadar bahwa kondisi ekonomi keluargaku membuatku harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar dapat bertahan dan memiliki kesempatan yang lebih baik. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sama pentingnya dengan manusia lain. Selama aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri, tidak merugikan orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda, maka perjalananku tidak harus dibandingkan dengan siapa pun. Ini bukan tentang menjadi lebih cepat atau sama dengan orang lain, tetapi tentang bagaimana aku mampu melampaui ketakutanku sendiri.
Sebenarnya, aku tidak selalu percaya diri. Namun, setiap kali memasuki sebuah ruangan, aku berusaha menegakkan kepala. Bukan untuk menjadi lebih cepat dari orang lain, tetapi untuk mengingatkan diri bahwa aku juga berhak berada di sana. Begitu pula dengan membaca. Bagiku, membaca bukan tentang siapa yang paling cepat, berapa banyak buku yang selesai dibaca, atau apakah buku tersebut ditulis oleh orang terkenal. Membaca adalah caraku memasuki berbagai cerita dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Jika aku bisa berbicara kepada diriku sendiri ketika masih kecil dan kesulitan membaca, aku ingin mengatakan:
“Hai Maftuh, terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini dan tetap memilih dirimu sendiri. Dulu kita mungkin pernah merasa harus mengubur mimpi karena keadaan, tetapi ternyata celah kecil yang kita sisakan itu masih ada. Sekarang, mimpi-mimpi yang pernah kita tulis di diary dari kertas bekas perlahan mulai menjadi nyata. Ada yang tertulis di sertifikat penghargaan, laporan kegiatan, dan buku-buku yang bisa kita beli dari hasil kerja keras sendiri. Jadi, mari rayakan setiap pencapaian kecil. Mari berdamai dengan diri sendiri dan menikmati hidup sebahagia mungkin. Mari peluk diri kita dan kalahkan rasa takut itu. Kita berhasil melewatinya.”
Ke depan, salah satu impian yang ingin aku wujudkan adalah menyelesaikan buku yang sudah bertahun-tahun kukerjakan. Aku juga sedang membangun komunitas yang berfokus pada cerita dan perjalanan para pekerja migran dari akar rumput. Aku ingin menghadirkan cerita yang mungkin jarang terdengar. Jika selama ini banyak buku menceritakan kesuksesan dengan narasi from zero to hero atau from nothing to something, aku ingin membawa cerita yang berbeda: from nothing, still learning, and keep growing. Bagiku, semua cerita sama pentingnya dan semua kehidupan sama berharganya, siapa pun orangnya dan apa pun pekerjaannya.
Kepada sesama perempuan PMI yang mungkin sedang berjuang dengan kondisi atau keterbatasan tertentu, aku hanya ingin mengatakan: jangan menyerah. Kamu boleh lelah, kamu boleh berhenti sebentar untuk mengambil napas, tetapi jangan lupa untuk melanjutkan perjalananmu. Semoga siapa pun yang sedang mengalami hal serupa dipertemukan dengan orang-orang baik, lingkungan yang tepat, dan alasan untuk terus bertahan serta merayakan hidup. Jika suatu hari ceritaku sampai kepada kalian dan kalian membutuhkan tempat untuk berbicara, didengar, atau sekadar berbagi cerita, aku ingin menjadi salah satu orang yang bersedia mendengarkan. Aku ingin ikut merayakan perjalanan kalian. Tetaplah memilih dirimu sendiri. Apa pun yang sedang kamu lalui, semoga selalu ada alasan untuk melewatinya. Mari kita rayakan kehidupan yang mungkin hanya kita miliki sekali ini. Kalian semua hebat.
Bagiku, dukungan paling penting bagi pekerja migran dengan kebutuhan khusus bukanlah perlakuan yang membuat kami merasa berbeda, melainkan kesempatan untuk diperlakukan secara setara. Kami juga sedang belajar, bekerja, dan berproses seperti orang lain. Karena itu, pemahaman mengenai disleksia dan kondisi lainnya perlu semakin luas agar perbedaan dalam menerima dan memproses informasi tidak langsung dianggap sebagai kebodohan. Aku berharap semakin banyak orang memiliki pengetahuan dan kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya, sehingga mereka yang membutuhkan dapat memperoleh dukungan dan penanganan yang tepat. Cerita ini adalah pengalaman pribadiku dan tentu tidak mewakili semua orang dengan disleksia atau kondisi serupa. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Aku hanya berharap cerita ini bisa sampai kepada mereka yang mungkin masih takut, ragu, atau belum berani terbuka mengenai kondisi yang mereka alami.
Menulis cerita ini ternyata juga tidak mudah. Mengingat kembali berbagai peristiwa di masa lalu cukup menguras energi. Mungkin masih ada tulisan yang kurang runtut atau kesalahan kata di dalamnya. Namun, aku bersyukur pernah diberi ruang untuk berbagi. Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertahan, bertumbuh, dan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Penulis: Siti Maftuhah, pekerja migran Indonesia (PMI) dengan disleksia, relawan Ruanita Indonesia di Singapura dan dapat dihubungi via akun IG: smaftuh_r serta merupakan pecinta aksara.
Jakarta, 5 Oktober — Ruanita Indonesia bersama Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional menyelenggarakan Forum Online Hari Guru Sedunia 2026 bertema “Identitas dan Pengalaman Guru Indonesia di Sekolah Internasional di Berbagai Negara” pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Forum yang berlangsung secara daring melalui Zoom tersebut mempertemukan guru-guru Indonesia yang mengajar di berbagai negara untuk berbagi pengalaman, tantangan, strategi adaptasi, serta refleksi mengenai profesi guru dalam lingkungan pendidikan global.
Forum berlangsung selama dua jam, dari pukul 10.00 hingga 12.00 CEST atau 15.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia sekaligus guru sekolah dasar di Islandia.
Dalam pengantarnya, Ina Isnaedi dari Thailand, pendiri dan koordinator Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional, mengangkat tema “Membangun Jejaring Global Guru Indonesia”. Ia menekankan pentingnya membangun ruang bersama bagi guru Indonesia yang bekerja di luar negeri agar pengalaman dan pengetahuan mereka dapat saling dipertukarkan serta menjadi sumber pembelajaran bagi komunitas guru yang lebih luas.
Forum kemudian menghadirkan tiga pembicara yang berbagi pengalaman dari konteks pendidikan dan negara yang berbeda. Tjandra Purnama, guru sekolah dasar di Norwegia, membawakan topik “Mengakar pada Identitas, Memimpin secara Global: Pengalaman dan Refleksi Guru Indonesia di Sekolah Internasional”. Ia membahas bagaimana identitas sebagai guru Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan profesi di lingkungan pendidikan internasional, sekaligus bagaimana pengalaman lintas budaya membentuk perspektif dan kompetensi profesional seorang pendidik.
Selanjutnya, Ranto Silitonga, guru Matematika MYP/DP di Changchun, Tiongkok, membawakan topik “Menjembatani Identitas dan Profesionalisme: Perjalanan Guru Indonesia di Vietnam dan China”. Pengalamannya memperlihatkan dinamika perjalanan profesional guru Indonesia yang berkarya di lebih dari satu negara serta pentingnya kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang dibawa dari Indonesia.
Setelah itu, Rindi Danika Sari, Teacher Trainer di Kirgistan, membagikan pengalaman melalui topik “Dari Ruang Kelas ke Panggung Global: Menjaga Citra dan Membentuk Identitas Guru Indonesia di Kirgistan”. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai proses adaptasi guru Indonesia ketika berhadapan dengan lingkungan sekolah, budaya, dan karakteristik peserta didik yang berbeda dari Indonesia.
Ketiga paparan tersebut kemudian ditanggapi oleh Saga Pardede, PhD, founder Bridging Consciousness sekaligus asisten profesor bidang psikologi sosial, kesehatan, dan pendidikan di Norwegia. Dalam sesi tanggapan, pembahasan diarahkan pada bagaimana pengalaman guru di lingkungan lintas budaya dapat dipahami tidak hanya sebagai pengalaman individual, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika identitas profesional, relasi sosial, keberagaman, dan kesejahteraan guru.
Diskusi berlangsung semakin interaktif dalam sesi tanya jawab yang dipandu Asti Tyas Nurhidayati. Para peserta membahas berbagai persoalan yang dihadapi guru Indonesia di luar negeri, mulai dari proses adaptasi dengan sistem pendidikan setempat, keberagaman kebutuhan siswa, tantangan identitas profesional, hingga pentingnya dukungan dan jejaring sesama guru Indonesia.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi sejumlah kebutuhan guru Indonesia di lingkungan pendidikan internasional. Di antaranya adalah penguatan jejaring profesional lintas negara, ruang berbagi praktik baik, peningkatan kapasitas dalam menghadapi keberagaman budaya, serta perhatian terhadap aspek perlindungan dan kesejahteraan guru Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Bagi Ruanita Indonesia, forum ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Guru Sedunia 2026, tetapi juga menjadi upaya untuk mendokumentasikan pengalaman warga Indonesia yang berkarya di sektor pendidikan global. Kisah dan refleksi para pembicara diharapkan dapat menjadi pengetahuan bersama sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di antara guru-guru Indonesia di berbagai negara.
Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia dan Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional juga mendorong terbentuknya komunitas yang lebih kuat bagi guru Indonesia di luar negeri. Dokumentasi kegiatan dan hasil diskusi selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran serta referensi bagi penguatan peran guru Indonesia dalam ekosistem pendidikan internasional.
Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, berharap forum ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat solidaritas dan jejaring guru Indonesia di berbagai belahan dunia. Ia berharap semakin banyak pengalaman guru Indonesia di luar negeri yang terdokumentasi dan dibagikan, sehingga dapat menjadi sumber inspirasi, pembelajaran, sekaligus dasar untuk mendorong dukungan yang lebih baik bagi guru Indonesia dalam menjalankan profesinya di lingkungan pendidikan global.
Diskusi Podcast bulanan RUMPITA — Rumpi Bersama Ruanita, yang dipandu oleh Anna (akun IG: @anna_knobl) kembali hadir untuk mengupas serba-serbi studi, peluang karier, serta pengalaman tinggal di luar negeri bersama para relawan Ruanita Indonesia dan informan dari berbagai bidang. Untuk episode edisi Oktober 2026 ini, RUMPITA bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, dan mengangkat cerita seorang perempuan Indonesia yang meniti studi dan karier di bidang teknologi informasi di Polandia.
Kali ini Anna ditemani oleh relawan Ruanita Indonesia di Islandia, Asti (akun IG: asti.tyas.nurhidayati). Mereka berbincang dengan Laura, seorang profesional Indonesia yang telah empat tahun menetap di Polandia dan berkarier dalam bidang operasional bisnis dan teknologi informasi.
Laura masuk sebagai mahasiswa pada tahun 2020, tepat ketika dunia dilanda pandemi COVID-19. Tantangannya pun berlapis: kuliah daring, kesulitan interaksi, kendala internet, hingga perbedaan aksen bahasa Inggris antar mahasiswa internasional.
Selain itu, perbedaan budaya turut memengaruhi proses adaptasi. Jika masyarakat Indonesia cenderung berempati dan menjaga perasaan, masyarakat Polandia jauh lebih langsung dalam berkomunikasi. Namun pengalaman itu membuka perspektif baru dan tidak sedikit membentuk kemandirian.
Tema kesehatan mental mengemuka ketika Laura mengungkap salah satu pengalaman paling personalnya: hidup jauh dari anaknya yang masih berusia empat tahun di Indonesia, tinggal sendiri di dormitori, dan menghadapi isolasi sosial akibat pandemi.
Kesedihan, rasa bersalah sebagai ibu, hingga proses memahami trauma masa lalu membuatnya akhirnya menemui psikolog untuk pertama kalinya setelah tinggal setahun di Polandia. Pengalaman itulah yang membuatnya sadar bahwa isu kesehatan mental bukan sekadar trend, namun kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan perantau.
Laura mengakui bahwa pemulihan bukan proses instan. Namun ia merasa dirinya jauh berubah dibanding empat tahun lalu, dan menemukan ruang untuk mengenal diri sendiri, membangun resiliensi, serta melepaskan narasi negatif yang melekat sejak kecil.
Isu gender dalam teknologi menjadi bagian diskusi menarik. Saat S1 di Indonesia, jumlah mahasiswa perempuan di software engineering hanya 10% dari total kelas. Berbanding terbalik, di kelas S2 di Warsaw komposisi berimbang 50:50 antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hal itu menunjukkan ekosistem yang lebih setara dalam membuka jalan bagi perempuan di bidang teknologi.
Selain itu, kelasnya sangat internasional, hanya empat mahasiswa lokal Polandia, sisanya mahasiswa asing dari Asia hingga Amerika, yang tentunya membawa ragam pola pikir dan pengalaman.
Bagi mahasiswa, peluang magang di Polandia sangat menjanjikan. Perusahaan global membuka magang berskala besar dengan standar gaji setara pekerja reguler—bukan sekadar uang transport sebagaimana lazim di Indonesia. Laura sendiri hanya membutuhkan delapan bulan sejak status magang untuk naik ke kontrak kerja permanen (full-time with unlimited contract).
Hal ini menunjukkan bahwa Polandia bukan hanya destinasi studi, tetapi juga destinasi karier yang sangat layak bagi orang Indonesia yang ingin berkarier dan tinggal di Polandia. Bagi banyak perempuan Indonesia yang bermimpi belajar atau bekerja di luar negeri, cerita ini membuka kemungkinan bahwa jalur itu tidak hanya ada, tetapi juga dapat dicapai dengan strategi dan keberanian.
Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal SPOTIFY berikut ini dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.