(PODCAST IN ENGLISH) Menavigasikan Hidup di Swiss Lewat Bahasa dan Penemuan Jati Diri

Memperingati Hari Kartini pada 21 April ini, Ruanita Indonesia menghadirkan program audio podcast spesial berbahasa Inggris, Jibber-jabber Indonesian Women Abroad episode ke-6. Kita akan mendengarkan bagaimana perjalanan dari ruang kelas di Chiang Mai hingga ruang rapat perusahaan teknologi di Zurich, dari Hesti Aryani dalam belajar memahami dunia melalui bahasa.

Dalam podcast Jibber Jabber Indonesian Women Abroad, dari Ruanita Indonesia, Hesti berbagi kisahnya sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri, menavigasi identitas, bahasa, dan sistem yang sering kali kompleks bagi pendatang baru.

Pada usia 21 tahun, Hesti menerima kesempatan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Chiang Mai, Thailand. Tanpa banyak persiapan, bahkan tanpa penguasaan bahasa lokal, Hesti melangkah keluar dari zona nyaman. Dari situ, pintu-pintu lain terbuka, hingga akhirnya membawanya ke Swiss pada 2019, tepat sebelum pandemi. Namun, seperti banyak cerita migrasi lainnya, perjalanan ini bukan tanpa kejutan.

“Saya selalu membayangkan kalau pindah ke luar negeri, itu ke negara berbahasa Inggris,” ujarnya. “Tapi hidup punya rencana lain.”

Tiba di Swiss, Hesti dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks dari sekadar perbedaan bahasa. Negara dengan empat bahasa nasional ini menuntut lebih dari kemampuan berbahasa Inggris.

Dari mengurus asuransi, mencari tempat tinggal, hingga membuat janji dokter. Semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman. Bahkan dokumen resmi dan komunikasi administratif hampir sepenuhnya menggunakan bahasa lokal.

“Bukan cuma soal bahasa,” jelasnya. “Tapi juga memahami konteks budaya, cara komunikasi, bahkan cara berpikir yang sangat terstruktur dan sistematis.”

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah pintu masuk ke sistem Kini, Hesti bekerja sebagai profesional di perusahaan teknologi di Zurich. Perannya berada di persimpangan antara bisnis, bahasa, dan teknologi mulai dari melatih model kecerdasan buatan hingga membangun kemitraan lintas budaya.

Follow us

Menariknya, latar belakang linguistiknya justru menjadi kekuatan utama.

Ia membantu “menerjemahkan” bukan hanya bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan nuansa, yakni sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan mesin.

“Teknologi penting, tapi empati dan pemahaman manusia tetap tidak tergantikan,” tegasnya dan tanpa kunci yang tepat, akses menjadi terbatas.

Kisah Hesti adalah cerminan pengalaman berlapis yang dialami banyak perempuan Indonesia di luar negeri di mana identitas sebagai perempuan, migran, profesional, dan pembelajar bahasa saling beririsan. Ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang membangun ulang diri di lingkungan yang baru.

Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Hesti, kuncinya bukan pada seberapa siap kita saat memulai melainkan seberapa terbuka kita untuk terus belajar di sepanjang perjalanan.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Berdiplomasi Lewat Bahasa Indonesia dari Australia ke Finlandia

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.

Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.

Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.

Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.

Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.

Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.

Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.

Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.

Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.

Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.

Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?

Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?

Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami: