Dhaka, 21 April – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, diskusi daring bertajuk “Peran Perempuan pada Masa Kartini Modern: Menginspirasi Perempuan untuk Berkarya dan Berdaya” telah diselenggarakan pada Selasa (21/4/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan KBRI Dhaka, serta didukung oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dhaka. Acara dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.
Acara resmi dimoderasi oleh Pelaksana Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang memberikan salam pembuka dan menyampaikan tujuan kegiatan serta pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk diplomasi budaya.
Sambutan kehormatan disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Y.M. Ibu Listyowati. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen KBRI Dhaka dalam mendukung peran perempuan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kawasan Bangladesh dan Nepal.
Pengantar diskusi disampaikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Dhaka, Verra Fastriana, yang menyoroti kontribusi aktif DWP dalam berbagai kegiatan diplomasi budaya, khususnya yang melibatkan perempuan Indonesia di luar negeri.
Diskusi kemudian menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Maudy Noor Fadhlia, memaparkan peran perempuan dalam diplomasi budaya dari perspektif akademik, termasuk analisis kritis mengenai posisi perempuan dalam hubungan internasional.
Sementara itu, Ari Nursenja, pendiri Rumah BIPA Bandung sekaligus relawan Ruanita dan mahasiswa doktoral di Finlandia, membagikan pengalaman mengenai peran komunitas dan organisasi dalam memperkuat diplomasi berbasis perempuan.
Dari lapangan, dua relawan Ruanita turut berbagi pengalaman langsung. Risti Putri yang berdomisili di Nepal dan Eliawati di Bangladesh memaparkan praktik nyata keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial dan budaya yang berdampak pada penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan komunitas lokal.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Sahid Nurkarim. Peserta aktif mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh para narasumber, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu pemberdayaan perempuan di ranah global.
Acara ditutup dengan kesimpulan yang menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun diplomasi budaya, tidak hanya melalui institusi formal, tetapi juga melalui komunitas dan inisiatif individu. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Kartini terus hidup dalam bentuk nyata, yakni perempuan yang berdaya, berkarya, dan mampu memberikan kontribusi positif di tingkat nasional maupun internasional.
Halo, sahabat Ruanita! Saya lahir dan besar di Jawa Barat. Dari sana perjalanan saya bermula: belajar, bermimpi, dan akhirnya melangkah menembus batas geografi menuju negara-negara jauh. Sejak kecil saya selalu dekat dengan bahasa, dengan cerita rakyat Sunda, dengan nyanyian ibu, dengan pelajaran di sekolah. Tidak pernah saya sangka, bahasa yang saya pelajari dengan penuh cinta inilah yang akan menjadi jalan hidup saya.
Ketika saya menulis refleksi ini dari Helsinki, Finlandia, dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai perempuan Indonesia yang menjadikan bahasa sebagai jembatan budaya. Perjalanan ini bukan hanya soal karier, tapi juga soal identitas, akar, dan tanggung jawab.
Saya menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan bahasa, sebuah bidang yang sejak awal saya yakini akan menjadi lahan pengabdian saya. Dari kelas-kelas kecil di Sukabumi, saya melanjutkan ke kota besar, lalu akhirnya keluar negeri.
Saat ini saya sedang menjalani program PhD di University of Helsinki dalam bidang Teacher Education. Selain itu, saya juga tengah menyelesaikan International Professional Teacher Education (IPTE) di Häme University of Applied Sciences. Dua jalur studi ini menantang, tetapi sekaligus memperkaya wawasan saya sebagai seorang pendidik.
Di sisi lain, saya tetap aktif mengajar. Saat ini saya dipercaya mengajar bahasa Indonesia di University of Victoria, Kanada. Perjalanan akademik saya memang berkelindan dengan perjalanan mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang saya mulai sejak masih di Indonesia.
Banyak orang bertanya: mengapa memilih BIPA? Mengapa tidak bidang lain yang lebih “besar” atau lebih menjanjikan dari segi karier?
Bagi saya, jawabannya jelas. Saya percaya bahwa bahasa adalah pintu gerbang budaya. Dengan bahasa, kita bisa memahami cara berpikir, cara merasa, cara sebuah masyarakat menata hidup. Dengan mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing, saya tidak hanya mengajarkan kata-kata, tata bahasa, atau aturan. Saya mengajarkan sebuah identitas bangsa, membuka pintu persahabatan, dan menghadirkan diplomasi budaya.
Inspirasi itu pula yang menggerakkan saya mendirikan Rumah BIPA, sebuah komunitas belajar bahasa dan budaya Indonesia. Rumah BIPA bukan sekadar kelas, melainkan ruang perjumpaan, antara orang Indonesia dan dunia, bahasa ibu dan bahasa asing, identitas dan keterbukaan. Itu prinsip saya.
Setiap negara yang saya singgahi menghadirkan pengalaman menarik.
Di Australia, mahasiswa begitu kritis. Mereka selalu punya pertanyaan tajam, selalu ingin tahu konteks politik, sosial, dan budaya di balik setiap kata. Itu membuat saya belajar menyiapkan bukan hanya materi bahasa, tetapi juga perspektif Asia Tenggara secara luas.
Di Thailand, saya merasa ada kedekatan budaya. Banyak mahasiswa menemukan kosakata yang mirip, cara berpikir yang serupa. Pembelajaran menjadi lebih cair, penuh tawa, seolah kita bukan guru dan murid, melainkan teman yang saling bertukar bahasa.
Di Kanada, saya menghadapi tantangan terberat. Di sana, bahasa Indonesia tidak populer, kalah pamor dibanding bahasa-bahasa global seperti Inggris, Prancis, atau bahkan Mandarin. Saya harus kreatif mencari cara agar mahasiswa tertarik. Saya membuat materi interaktif, mengaitkan bahasa Indonesia dengan musik, kuliner, bahkan peluang bisnis lintas Asia.
Di Finlandia, tempat saya sekarang, saya belajar dari sistem pendidikan mereka yang luar biasa inovatif. Pendekatan individualisasi membuat saya sadar bahwa setiap mahasiswa datang dengan latar belakang berbeda, dan bahasa Indonesia bisa mereka temukan maknanya dari berbagai pintu masuk.
Di mana pun saya mengajar, ada satu momen kecil yang selalu menjadi kebahagiaan saya, yakni ketika mahasiswa mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata. Mereka menyapa saya dengan “Apa kabar, Bu?”, mereka berani mencoba menyanyikan lagu daerah, atau mereka dengan bangga membawa makanan Indonesia ke kelas. Saat itulah saya merasa bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Sebagai penutur asli bahasa Indonesia yang hidup di lingkungan multibahasa, saya justru semakin merasakan betapa berharganya bahasa ibu.
Bahasa ibu adalah akar identitas saya. Bahasa ibu adalah suara batin, doa, dan rasa yang pertama kali saya kenal. Ketika berada di negeri orang, bahasa itu berubah menjadi penanda jati diri. Bahwa saya orang Indonesia dan saya membawa sesuatu yang khas dari tanah air.
Mengajar BIPA membuat saya kerap berdiskusi dengan mahasiswa tentang konsep bahasa ibu. Mereka sering bertanya: “Apakah bahasa Indonesia juga punya dialek seperti bahasa ibu kami?” Dengan senang hati saya menjelaskan bahwa Indonesia kaya dengan ratusan bahasa daerah dan bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu. Penjelasan itu sering membuat mereka kagum, karena bagi banyak bangsa, memiliki bahasa pemersatu yang hidup di tengah keragaman adalah sesuatu yang langka.
Namun, memperkenalkan bahasa ibu juga punya tantangan. Misalnya ketika menjelaskan tingkatan tutur atau konsep kesopanan dalam bahasa Indonesia. Mengapa kita memakai “Anda” kepada orang asing, tapi “kamu” kepada teman dekat? Mengapa ada perbedaan “saya” dan “aku”? Mahasiswa sering membandingkan dengan budaya mereka. Di sinilah saya belajar bahwa bahasa bukan hanya struktur, tetapi juga nilai budaya yang harus dipahami.
Saya percaya bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya. Karena itu, dalam mengajar saya selalu mengintegrasikan keduanya. Saya membawa kuliner, musik, film, bahkan tarian ke kelas. Saya mengajak mahasiswa tidak hanya belajar kata, tapi juga merasakan jiwa bahasa lewat pengalaman budaya.
Di luar kelas, saya juga konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam keluarga dan komunitas orang Indonesia di mancanegara. Di rumah, kami berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Saya ingin anak-anak saya, meski lahir dan tumbuh di luar negeri, tetap punya ikatan dengan bahasa ibu mereka.
Bersama komunitas Indonesia di Finlandia, kami rutin mengadakan kegiatan kebahasaan: kelas BIPA, diskusi budaya, perayaan hari nasional. Semua itu adalah cara kami merawat bahasa ibu sebagai warisan untuk generasi berikutnya.
Sebagai seorang perempuan Indonesia, saya melihat peran perempuan sangat strategis dalam menjaga bahasa ibu. Perempuan sering menjadi pendidik pertama dalam keluarga. Dari ibulah, anak-anak mendengar kata-kata pertama, nyanyian, dongeng, doa, dan percakapan sehari-hari.
Oleh karena itu, saya percaya perempuan adalah garda depan pelestarian bahasa. Di manapun berada, perempuan bisa menanamkan bahasa ibu sejak dini, baik di rumah maupun dalam komunitas. Bahkan di perantauan, perempuan tetap bisa menjaga api bahasa ibu tetap menyala, lewat komunikasi sehari-hari, kegiatan bersama, atau pewarisan nilai budaya.
Salah satu pengalaman paling menyentuh bagi saya adalah ketika mahasiswa asing, pada perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, membacakan puisi dalam bahasa Indonesia. Mereka mungkin bukan penutur asli, tetapi keberanian mereka menunjukkan bahwa bahasa kita dihargai, dipelajari, dan diapresiasi lintas budaya.
Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.
Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.
Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.
Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.
Dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional ini, saya berpesan sederhana kepada seluruh perempuan Indonesia di manapun berada. Rawatlah bahasa ibu dengan bangga. Gunakan dalam keseharian. Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda. Jangan pernah ragu memperkenalkan keindahannya kepada dunia.
Bahasa adalah identitas dan kekuatan kita. Bahasa adalah warisan yang tidak bisa tergantikan. Dan perempuan, dengan perannya sebagai pendidik pertama, pengasuh, sekaligus penggerak komunitas, memiliki peran utama dalam memastikan bahasa itu tetap hidup lintas generasi.
Hari ini, di Helsinki yang dingin, saya menulis dengan hati hangat. Saya membayangkan suara ibu saya di Sukabumi yang dulu mengajarkan saya kata-kata pertama. Saya membayangkan mahasiswa saya di kelas yang tertawa mencoba mengucapkan “terima kasih” dengan lidah mereka yang masih kaku.
Di antara jarak yang begitu jauh, bahasa ibu adalah jembatan. Ia menghubungkan saya dengan masa lalu, dengan tanah air, dengan keluarga, dan dengan dunia.
Selama saya masih bisa berbicara, mengajar, dan menulis, saya akan terus merawatnya. Karena bahasa ibu bukan hanya milik saya, melainkan milik kita semua.
Penulis: Ari Nursenja, Founder RUMAH BIPA dan PhD Student di Finlandia, yang dapat dikontak via akun instagram arinursenja.
Jakarta, 6 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia menyelenggarakan forum daring bertajuk “Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental di Era Teknologi Global”, pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 16.00–18.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.
Forum ini menjadi bagian dari upaya global memperkuat kesadaran dan aksi nyata untuk menghapus berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya di ruang digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyber harassment, doxing, revenge porn, body shaming, dan berbagai kekerasan berbasis gender lainnya.
Forum Online ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Finlandia, dan dihadiri secara khusus oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operanata, yang memberikan sambutan kehormatan.
Sebagai pemantik diskusi, hadir Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia yang menyoroti meningkatnya tren kekerasan berbasis online dan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital.
Dalam sesi pengantar, Aurelia Aranti Vinton dari PPI Amerop menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud nyata kolaborasi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengadvokasi isu sosial global. Ia menekankan pentingnya literasi digital, keamanan data pribadi, dan peran perempuan dalam menciptakan komunitas daring yang aman dan saling mendukung.
Forum ini menghadirkan tiga panelis perempuan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di berbagai negara, masing-masing membagikan perspektif tentang isu perempuan di era digital.
Zakiyatul Mufidah (PhD Student di United Kingdom) mengangkat tema “Membangun Digital Sisterhood Anti Kekerasan”, dengan menyoroti pentingnya solidaritas dan aktivisme digital perempuan yang berpijak pada konsep cozy feminism, yakni sebuah bentuk perlawanan terhadap kekerasan simbolik melalui narasi yang ramah dan membangun.
Sementara itu, Fransisca Hapsari (PhD Student di Jerman) dalam paparannya berjudul “Kesehatan Mental dan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital” membahas keterkaitan antara teknologi, psikologi, dan tantangan kesehatan mental yang dihadapi perempuan akibat tekanan sosial di dunia maya.
Adapun Anggy Eka Pratiwi (PhD Student di India) melalui topik “Pentingnya Literasi Digital dan Keamanan Siber bagi Perempuan” menekankan perlunya peningkatan literasi digital dan kesadaran akan keamanan siber agar perempuan mampu melindungi diri dari berbagai risiko kekerasan serta eksploitasi daring.
Sebagai penutup sesi panel, Chatarina Pancer Istiyani dari Komnas Perempuan menyampaikan tanggapan dan seruan aksi untuk memperkuat ekosistem perlindungan perempuan di ruang digital. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan peran aktif masyarakat dalam mendorong kebijakan publik yang berpihak pada korban.
Forum ini ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya digital sisterhood, solidaritas antarperempuan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, aman, dan berkeadilan gender.
Sebagai tindak lanjut, Ruanita Indonesia akan merilis rekaman video diskusi melalui kanal resmi www.ruanita.com, serta policy brief hasil diskusi untuk memperkuat advokasi perlindungan perempuan di ruang digital.
Beroperasi di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Ruanita Indonesia adalah sebuah platform digital pengetahuan dan advokasi nirlaba. Dengan landasan manajemen nilai dan resources sharing, kami berfokus pada isu psikologi, sosial, dan budaya yang relevan dalam situasi transnasional. Melalui kolaborasi pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kampanye edukatif, kami bertekad menciptakan ruang digital yang inklusif dan mengedepankan interseksionalitas untuk semua.
Informasi lebih lanjut, dapat mengontak Ari Nursenja selaku koordinator acara melalui email: info@ruanita.com.
POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA)
Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA)
1. Executive Summary
Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas.
Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA.
2. Latar Belakang
KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif.
3. Identifikasi Masalah Utama
Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake.
Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik.
Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital.
Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban.
4. Analisis Kebijakan
KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik.
5. Rekomendasi Kebijakan
A. Untuk Komnas Perempuan:
Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO.
Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake.
Sinkronisasi kebijakan antarlembaga.
Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital.
B. Untuk KemenPPPA:
Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional.
Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
Penguatan layanan trauma-informed.
Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital.
C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA:
Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO.
Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”.
Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital.
D. Untuk Platform Digital:
Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake.
Implementasi safety by default.
Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan.
E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil:
Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO.
Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini.
6. Pesan Kunci
KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama.
7. Penutup
Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.
HELSINKI, 28 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki menyelenggarakan diskusi online bertajuk “Resiliensi Bermigrasi di Finlandia” yang dihadiri sejumlah warga Indonesia di Finlandia dan di Estonia serta berbagai warga Indonesia lainnya yang tertarik dengan tema psikologi dan budaya.
Kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi inspirasi, tantangan, serta strategi adaptasi bagi warga Indonesia yang merantau di Finlandia maupun masyarakat yang tertarik dengan isu migrasi.
Migrasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan penyesuaian sosial, budaya, dan psikologis. Bagi orang Indonesia di Finlandia, keberhasilan dalam studi, karier, maupun kehidupan sosial kerap ditentukan oleh resiliensi, strategi coping, dan pemahaman budaya lokal.
Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menghadirkan ruang reflektif dan interaktif, sekaligus memberikan inspirasi nyata dari pengalaman para perantau yang telah sukses membangun kehidupan di negeri rantau.
Acara ini dibuka oleh Dubes RI untuk Finlandia dan Estonia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari Evita Haapavaara, seorang wiraswasta asal Indonesia yang berhasil membangun usaha di Helsinki. Diskusi juga menghadirkan Desiree Luhulima, praktisi pendidikan dasar di Finlandia yang menguraikan nilai-nilai pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun resiliensi dan keterampilan sosial di lingkungan baru.
Selain itu, Yuniar Paramita Sari, peneliti di bidang migran di Hong Kong, yang memaparkan perspektif sosial dan budaya tentang tantangan migrasi yang aman dan bijak, serta pentingnya dukungan komunitas dalam proses adaptasi.
Diskusi ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Helsinki, dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta penarikan benang merah dari keseluruhan pembahasan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh dinamika kehidupan perantau di Finlandia dan Estonia.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis, inspirasi, serta memperluas jejaring komunitas yang dapat memperkuat solidaritas sesama orang Indonesia di negeri rantau. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Ruanita Indonesia diwww.ruanita.com.
Simak rekaman acara berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.
Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.
Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.
Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.
Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.
Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.
Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.
Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.
Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.
Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.
Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?
Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?
Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami: