(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.